DINAMIKA KOMUNIKASI POLITIK REMAJA PADA PEMILU
B. Pandemi Covid-19 dan Tantangan Pemilu Berintegritas 1. Batasan Berkampanye
mempunyai pengetahuan umum untuk kemudian dibekali pengetahuan khusus tentang Pemilu dan Pengawasan Pemilu. Beda halnya dengan partisipasi masyarakat dalam memilih atau memberikan suara di TPS, sasarannya adalah seluruh warga negara yang sudah berumur 17 tahun atau sudah kawin.
Sama halnya dengan tingkat kehidupan ekonomi.
Masyarakat yang tingkat kehidupan ekonominya rendah, apalagi mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dengan penghasilan yang memadai, umumnya mereka menghindari untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik. Jika saja hari pemungutan suara dalam setiap hajatan Pemilu atau Pilkada, bukan hari yang diliburkan, maka banyak warga negara yang sesungguhnya mempunyai hak pilih, tapi mereka mengurungkan niatnya untuk datang memilih di TPS. Mereka menganggap bahwa datang ke TPS akan menghilangkan kesempatannya mencari nafkah pada hari itu. Hal seperti ini juga harus menjadi perhatian, ketika Bawaslu ingin menyasar warga negara dalam pengawasan Pemilu partisipatif.
B. Pandemi Covid-19 dan Tantangan Pemilu Berintegritas
KPU meminta agar metode kampanye tersebut dilakukan secara online.
Dalam Pasal 58 Peraturan KPU No.6 Tahun 2020 ditegaskan, bahwa kampanye dengan metode pertemuan terbatas dan pertemuan tatap muka dan dialog dilaksanakan dalam ruangan atau gedung tertutup, membatasi jumlah peserta yang hadir dengan memperhatikan kapasitas ruangan atau gedung tertutup yang memperhitungkan jaga jarak paling kurang 1 meter antar peserta kampanye.
Dalam Pasal itu juga ditegaskan bahwa pengaturan ruangan dan tempat duduk harus menerapkan protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian Covid-19. Kegiatan kampanye yang diselenggarakan oleh partai politik atau gabungan partai politik, pasangan calon dan/atau tim kampanye mengupayakan metode kampanye tersebut dilakukan melalui media daring.
Semua pihak, termasuk Bawaslu dan jajarannya yang mengawasi penyelenggaraan kampanye harus mematuhi protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian Covid-19. Karena itu, aktivitas pengawasan kampanye Pemilu tidak dapat dilakukan seperti biasanya. Padahal, pengawasan merupakan kegiatan mengamati, mengkaji, memeriksa, dan menilai proses penyelenggaraan Pemilu sesuai peraturan perundang-undangan.
Dengan pembatasan jarak, hasil pengawasan tidak sesempurna tingkat akurasinya jika pengawasan dilakukan dalam kondisi normal.
Sama halnya ketika pengawasan kampanye Pemilu tersebut dilakukan oleh masyarakat melalui pengawasan Pemilu partisipatif.
Dengan dalih pembatasan jumlah peserta dalam ruang pertemuan dan juga harus menerapkan protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian Covid-19, warga masyarakat yang ingin mengawasi jalannya kampanye tersebut tidak mendapat akses. Padahal, boleh jadi di tengah kegiatan kampanye tersebut terjadi berbagai bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh pasangan calon dan/atau tim kampanyenya.
2. Batasan Akses Pemilih
Ketakutan penyebaran penyakit di hari pemungutan suara pada Pemilu di masa pandemi Covid-19, secara alami menghambat kesempatan pasien yang positif terinfeksi Covid-19 – untuk memberikan suara, mengingat kebutuhan mereka untuk diisolasi.
Memang, pemilih yang sehat tetapi rentan – seperti mereka yang masuk kategori lansia – juga berisiko besar.
Sesungguhnya, mereka dapat menggunakan hak pilihnya di TPS yang berdekatan dengan rumah sakit. Selain itu, dengan persetujuan saksi dan pengawas TPS, pemilih yang menjalani isolasi dapat dilayani penggunaan hak pilihnya oleh Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian Covid-19.
Pengaturan tersebut telah diatur dalam Peraturan KPU No.6 Tahun 2020. Dalam Pasal 72 ayat (1) disebutkan, pemilih yang sedang menjalani rawat inap, isolasi mandiri dan/atau positif terinfeksi Covid-19 berdasarkan data yang diperoleh dari perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan di bidang kesehatan atau Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di wilayah setempat, dapat menggunakan hak pilihnya di TPS yang berdekatan dengan rumah sakit.
Dalam Pasal 73 ayat (1) Peraturan KPU No.6 Tahun 2020 juga disebutkan, bagi pemilih yang sedang menjalani isolasi mandiri karena Covid-19 dan dipastikan tidak dapat mendatangi TPS untuk memberikan hak pilihnya, KPPS dapat melayani hak pilihnya dengan cara mendatangi pemilih tersebut – dengan persetujuan saksi dan Panwaslu Kelurahan/Desa atau Pengawas TPS, dengan mengutamakan kerahasiaan pemilih.
Bagaimanapun juga, pasien yang positif terinfeksi Covid-19 mengalami pembatasan akses untuk dapat menggunakan hak pilihnya. Apalagi jika ada saksi pasangan calon kepala daerah yang tidak memberikan persetujuan kepada KPPS untuk mendatangi pasien yang bersangkutan, maka hilanglah kesempatan pemilih tersebut untuk menggunakan hak pilihnya. Berapapun jumlah pemilih yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya, sesungguhnya
bukanlah persoalan kecil dalam perspektif jaminan pemenuhan hak-hak dasar sipil dan politik.
3. Hambatan Transparansi
Pemilih yang menggunakan hak pilihnya pada hari pemungutan suara di masa pandemi Covid-19, berbeda jika Pemilu berlangsung di masa normal. Di masa pandemi Covid-19, selain harus menerapkan protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian Covid-19, pemilih juga harus segera meninggalkan area TPS setelah memberikan suaranya. Dengan demikian, proses pemungutan suara hingga penghitungan suara berpotensi tidak transparan, karena tidak dapat disaksikan oleh pemilih sejak TPS dibuka hingga selesainya proses penghitungan suara.
Hambatan transparansi proses pemilihan ini juga tercermin dalam Peraturan KPU No.26 Tahun 2020. Dalam Pasal 74 ayat (4) Peraturan KPU tersebut ditegaskan, pemilih yang telah selesai memberikan suara, segera meninggalkan area TPS dan tidak berkerumun di lingkungan TPS. Hambatan transparansi juga dapat dilihat dalam Pasal 75 ayat (2) huruf d, bahwa pendokumentasian hasil penghitungan suara setelah rapat penghitungan suara berakhir dengan menjaga jarak paling kurang 1 meter.
Dengan banyaknya tantangan bagi integritas Pemilu di masa pandemi Covid-19, di sinilah pentingnya Bawaslu merancang atau mendesain model pengawasan Pemilu partisipatif yang lebih realistis dan mampu beradaptasi dengan penerapan protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian Covid-19. Model ini selain diharapkan mampu menjaring kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan tertentu, juga mampu memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengidentifikasi potensi pelanggaran yang mungkin terjadi, mampu memberikan kemudahan dalam menyampaikan pesan atau informasi awal, dan informasi awal tersebut juga cepat direspon oleh Bawaslu untuk ditindaklanjuti.