F. Mewujudkan Pilkada yang Demokratis
1. Pendahuluan
Partisipasi politik merupakan unsur terpenting negara dengan karakteristik negara demokratis. Sebagai suatu negara yang secara konstitusi telah mendasari bentuk negara dengan sistem politik demokrasi, partisipasi politik akan menjadi ciri (elemen pembeda) dengan bentuk negara otoritarian. Definisi sederhana
partisipasi politik dijelaskan oleh Barnes et al (1979), merupakan suatu bentuk tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh warga negara yang bertujuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan secara kolektif pada beberapa level sistem politik.
Partisipasi politik pada masyarakat perkotaan berbeda dengan masyarakat perdesaan yang memiliki karakteristik khusus.
Chambers (1987) dalam bukunya Pembangunan Desa, Mulai dari Belakang menyebutkan bahwa Desa identik dengan miskin, pertanian dan status pinggiran yang rendah. Sebaliknya Kota, identik dengan kaya, industrialisasi dan status yang tinggi. Hal ini tentu tidak berlaku pada semua perdesaan, terutama di desa-desa dengan kategori mandiri menurut Indeks Pembangunan Desa (IPD). Dimana sebagian telah maju dan berciri kota. Namun, sebagian besar wajah perdesaan Indonesia masih memperlihatkan karakteristik tersebut. Baik di desa dengan kategori berkembang maupun tertinggal. Menurut UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa, pada pasal 74 bahwa ada 4 aspek yang perlu dipenuhi dalam pembangunan desa yaitu kebutuhan dasar, pelayanan dasar, lingkungan dan kegiatan pemberdayaan. Menurut BPS (2019), Indeks Pembangunan Desa tahun 2018 terdiri atas 5.606 desa mandiri, 55.369 desa berkembang dan 14.461 desa tertinggal.
Untuk mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera, pembangunan menjadi hal mutlak yang harus dilakukan oleh pemerintah, mulai dari tingkat Desa hingga pemerintah pusat. Pada tingkat nasional pembukaan UUD 1945 telah menyebutkan bahwa pemerintah negara Indonesia dibentuk untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada tingkat lokal ditegaskan dalam UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa pasal 78 yang menyebutkan tujuan pembangunan desa meliputi,
kesejahteraan masyarakat, kualitas hidup dan penanggulangan kemiskinan. Berdasarkan hal tersebut maka jelaslah pemerintah yang terbentuk haruslah pemerintah yang memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya. Sebagai negara demokrasi, Indonesia membentuk pemerintahan melalui pemilihan umum yang dilaksanakan secara periodik lima tahun sekali. Untuk menghasilkan pemimpin terbaik yang menjadi representasi segala aspirasi masyarakat diperlukan partisipasi secara kolektif dari semua elemen untuk ikut serta menyumbangkan suaranya dalam pemilihan umum. Dalam proses pemilu terjadi kontrak sosial antara pemerintah dengan rakyatnya yang diwujudkan melalui partisipasi politik. Akar pemikiran filsafat partisipasi politik salah satunya adalah bersumber dari teori kontrak sosial Rosseau (1973) yang menjelaskan bahwa ikatan, interaksi hubungan antar negara dan warga negara didasarkan pada suatu kontrak sosial (social contract). Kontrak sosial inilah menjadi entry point bagi posisi hak dan kewajiban sebagai warga negara dalam bingkai partisipasi politik.
Pemilihan umum tahun 2019 adalah pemilu yang ditujukan untuk memilih presiden dan anggota legislative dari daerah, provinsi dan pusat yang berlangsung pada 514 Kabupaten Kota di 34 Provinsi di Indonesia. Hasil yang diperoleh menimbulkan pro dan kontra hingga perdebatan bahkan sempat menimbulkan fragmentasi diantara pendukung Jokowi dan Prabowo. Pemilu 2019 juga memakan banyak korban petugas pemilu yang meninggal disebabkan oleh kelelahan fisik dan batin dalam melakukan input dan rekapitulasi perhitungan suara dalam jumlah besar di seluruh Indonesia. Menurut Arif Budiman Ketua KPU RI, terdapat 894 petugas KPPS yang meninggal dunia dan 5.175 petugas mengalami sakit (Kompas, 2020). Pemilihan umum tahun 2019 mengakomodir
terpilihnya presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, 19.817 anggota DPRD, 575 anggota DPR RI dan136 anggota DPD.
Partisipasi politik di wilayah perdesaan tentunya memiliki perbedaan dengan daerah kota. Apalagi di daerah yang berada di perbatasan, bagian terluar negara Indonesia. Studi Rafael et al.
(2002) menekankan point pada perbedaan kehadiran pola partsipasi pemilih dengan latar wilayah geografis yang berbeda dan perbedaan sistem pemilihan. Temuan risetnya mengungkapkan beberapa perbandingan kehadiran pemilih di TPS dan preferensi politik pemilih serta factor sosio ekonomi yang mendeterminasi perbedaaan tingkat kehadiran pemilih. Secara geografis, wilayah penelitian ini berada dibagian terluar di perbatasan negara.
Masyarakat di wilayah perbatasan Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara memiliki mobilitas antar negara yang tinggi dalam melakukan aktivitasnya. Sebagai wilayah yang berbatasan dengan Tawau Malaysia, kehidupan masyarakat di Sebatik memiliki keunikan tersendiri dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Hal ini sejalan penelitian E.Rudiatin (2018) yang menyatakan bahwa daerah perbatasan adalah tempat pertemuan berbagai kelompok etnis yang seringkali merupakan etnik yang sama dengan budaya yang sama, tetapi memiliki warga negara yang berbeda. Di era sekarang politik telah membuat makin jelas batas antara negara. Kehidupan di perbatasan digambarkan sebagai sebuah dunia dengan dua belahan yang satu sama lain memiliki kesamaan etnik, budaya dan terjalin dalam suatu jalinan kekerabatan. Pertemuan penduduk dari berbagai ragam budaya diamati Meisanti (2012) oleh terjadinya migrasi penduduk secara besar-besaran dari berbagai daerah seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan, Jawa, Maluku bahkan Sumatera ke daerah pertanian Bombana oleh ditemukannya emas. Migrasi mengubah struktur
sosial dalam masyarakat tani. Struktur baru yang dibentuk mempengaruhi interaksi sosial yang didalamnya terdapat peran, norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Peran petani berubah menjadi penambang atau pedagang sehingga norma dan nilai juga berubah. Uang menjadi sangat dihargai. Bahkan status sosial seseorang dinilai dari berapa banyak uang yang mereka miliki. Hal yang sama berlaku di wilayah perbatasan Sebatik yang memiliki mobilitas tinggi antar negara. Akses keluar dan masuk baik penduduk maupun barang dalam aktivitas ekonomi seperti perdagangan antar negara tentu membawa dampak pada kehidupan politik, sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan ciri khas tersebut, partisipasi politik masyarakat perdesaan menjadi menarik untuk dikaji khususnya mengenai pola partisipasinya.