• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Mewujudkan Pilkada yang Demokratis

4. Pembahasan

dideterminasi oleh etnik, ideologi politik, jaringan sosial dan jaringan ekonomi yang ada di wilayah perbatasan.

Berdasarkan teori pola partisipasi politik Milbrath & Goel (1977) yaitu kategori Gladiator (8%), di lokasi penelitian diisi oleh elit partai yang jumlahnya sedikit dimana elit ini mencalonkan wakil rakyat pada Pemilu 2019. Golongan Gladiator (elit) mengetahui keberadaan partai politik termasuk fungsi dan tugasnya. Meski demikian, dalam praksisnya pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut secara normative diabaikan. Hasil temuan memperlihatkan bagaimana elit partai membentuk tim pemenangan untuk mengajak masyarakat ke TPS memilih calon dari partai tertentu. Tim pemenangan ini bukan anggota partai tetapi lebih bersifat volunteer memperjuangkan terpilihnya calon dari partai tertentu di Pemilu 2019. Dalam membentuk tim pemenangan volunteer ini, Gladiator (elit partai) tidak melaksanakan peraturan untuk mendaftarkan tim tersebut secara resmi di KPU Nunukan.

Tim pemenangan ini oleh elit partai dibentuk dengan tugas khusus yaitu mengadvokasi masyarakat ke TPS dan mencoblos calon yang disokong oleh tim pemenangan. Semestinya elit partai melalui timnya memberikan pendidikan politik dan sosialisasi politik kepada masyarakat, tetapi yang terjadi justru mengadvokasi masyarakat untuk ke TPS dengan cara politik transaksional (membagikan uang). Tim pemenangan ini bahkan dikenal sebagai

“tim uang” di masyarakat perdesaan Sebatik. Hasil wawancara menunjukkan tidak ada calon yang maju tanpa timnya membagikan uang. Jumlah uang yang dibagikan bervariasi dari Rp. 50.000 hingga Rp. 100.000 perorang. Di lokasi penelitian juga terdapat sistem paket, yaitu tim pemenangan membagikan uang dalam jumlah lebih besar Rp. 100.000 hingga Rp. 300.000 kepada masyarakat untuk memilih paket yang sudah ditentukan. Paket berisi kolaborasi caleg DPRD Kabupaten, caleg DPRD Provinsi,

caleg DPR RI, caleg DPD yang bekerjasama untuk terpilih bersama. Kombinasi didasarkan pada kesamaan karakteristik politik, sosial dan ekonomi (ideologi partai, etnik, jaringan kekerabatan dan jaringan ekonomi).

Golongan kedua dari teori pola partisipasi politik Milbrath

& Goel (1977) yaitu kategori Spectator (76%) adalah golongan terbanyak dan merupakan pengikut dari Gladiator (elit).

Masyarakat dengan kategori spectator ini adalah mereka yang diadvokasi oleh elit untuk datang ke TPS memilih calon tertentu.

Advokasi dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.

Secara tidak langsung biasanya melalui media kampanye seperti baliho dan media sosial. Sedangkan secara langsung dilakukan oleh tim pemenangan (tim uang) dengan melakukan pendekatan pribadi dan melalui forum-forum pertemuan yang diselenggarakan secara khusus. Pertemuan tersebut sekurang-kurangnya menyajikan makanan/minuman sebagaimana adat Bugis dimana setiap berkumpul selalu diikuti dengan acara makan dan minum bersama.

Biasanya terdapat uang ganti rugi untuk waktu produktif yang hilang karena menghadiri forum. Sikap spectator adalah menerima uang yang diberikan oleh elit dengan sadar. Tindakan ini menghasilkan perilaku politik non demokratis dalam masyarakat perdesaan Sebatik.

Golongan Apathetics (16%) dari teori pola partisipasi politik Milbrath & Goel (1977) di tunjukkan oleh mereka yang paham tugas dan fungsi partai politik dengan baik sehingga ketika melihat elit parpol (Gladiator) melakukan politik transaksional, golongan ini mengambil sikap untuk tidak berpartisipasi dalam pemilu 2019. Dalam pengakuannya saat wawancara, mereka tidak yakin para calon terpilih kelak akan melaksanakan janji politiknya

sebab akan lebih mengutamakan pengembalian modal yang habis Ketika berkampanye.

Meski pendidikan politik dan sosialisasi politik sebagai bagian dari tugas Parpol tidak dilaksanakan oleh elit Parpol (Gladiator) yang melakukan politik transaksional, yang menarik adalah ketika hari pemilu tiba, masyarakat memiliki beragam perilaku. Hasil penelitian menunjukkan ada empat kategori masyarakat di perdesaan Sebatik pada saat Pemilu 2019. Pertama masyarakat yang setuju dengan Pemilu, bersedia datang ke TPS dan memilih sesuai dengan hati nurani. Kebanyakan adalah Spectators yang mengaku menerima semua pemberian dari calon manapun sebagai sumbangan terhadap rakyat, namun akan memilih calon yang dianggapnya terbaik, terutama jika terdapat hubungan kekerabatan ataupun hubungan kerjasama dengan calon. Kedua, mereka yang setuju dengan Pemilu dan ke TPS untuk memilih sesuai anjuran teman yang dipercaya. Para Spectators ini tidak begitu mengenal calon sehingga memilih mengikuti pilihan teman yang dipercayainya ataupun calon yang memberikan uang kepadanya. Ketiga, setuju dengan Pemilu tetapi tidak datang dan tidak ikut memilih oleh adanya kesibukan lain yang lebih penting.

Spectators atau Aphatetics di kategori ini adalah mereka yang sadar Pemilu tetapi tidak bersedia mengorbankan waktunya untuk ke TPS. Kategori keempat ini adalah Aphatetics yang kecewa terhadap sistem politik lokal yang sarat politik uang, sehingga kehilangan kepercayaan terhadap calon-calon yang ada dan menunjukkannya dengan menolak hadir di TPS. Spectators dan Aphatetics dapat bertukar peran dalam praksisnya, sekalipun secara empirik hasil penelitian ini banyak menemukan sikap apatisme masyarakat yang disebabkan oleh lemahnya fungsi dan peran partai politik secara ideal, namun tidak berarti mereka benar-benar abai. Sikap ini terlihat dari dukungan yang diberikan Spectators dan Aphatetics

kepada keluarganya untuk tetap menggunakan hak pilihnya di TPS meski ia sendiri tidak ke TPS.

Pemilu 2019 juga dilaksanakan untuk memilih presiden dan wakil presiden Indonesia. Dalam kontestasi ini, tidak banyak riak pada masyarakat perdesaan Sebatik atas pasangan Jokowi dan pasangan Prabowo sebagaimana yang terjadi di daerah lain. Hal ini disebabkan masyarakat tidak melihat keuntungan langsung yang diperoleh dari siapapun calon presiden terpilih. Mereka akan memilih calon presiden tergantung dari pendekatan parpol pendukung kepada masyarakat. Media seperti TV yang banyak memberikan informasi di perkotaan atau daerah lain pada saat itu siarannya masih belum diterima oleh sebagian masyarakat Sebatik.

Hal ini diungkapkan informan yang mengaku hanya menangkap siaran dari Malaysia. Apabila tidak ada advokasi dari petugas parpol maka masyarakat cenderung memilih Jokowi dibandingkan Prabowo. Hal ini karena Jokowi dalam periode pertamanya telah datang berkunjung di wilayah perbatasan dengan Tawau dan melakukan pembangunan di sana. Ini terbukti dari kemenangan mutlak 100% TPS di Sebatik dimenangkan pasangan Jokowi Ma‟ruf Amin dan 70,04% di tingkat provinsi Kalimantan Utara.

Pola partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan anggota DPD pada masyarakat perdesaan Sebatik dideterminasi oleh kesamaan etnik di masyarakat. Hasil wawancara menungkapkan bahwa umumnya masyarakat memberikan suara kepada dua anggota DPD yang lolos ke Senayan yaitu Hasan Basri dan Asni Hafid. Hasan Basri menjadi pilihan masyarakat disebabkan oleh kharismanya sebagai tokoh masyarakat Bugis yang mendominasi masyarakat. Apalagi Hasan Basri menggunakan songkok adat Bugis dalam fotonya di Baliho dan surat suara yang merupakan simbol bagi masyarakat Bugis untuk mendukungnya. Sedangkan

Asni Hafid, putri dari Abdul Hafid Ahmad (mantan Bupati Nunukan dua periode 2001-2010) dan Rahma Leppa Hafid (Ketua DPRD Nunukan 2019-2024) terpilih oleh kharisma kedua orangtuanya yang merupakan tokoh masyarakat Bugis di Kalimantan Utara. Baik Hasan Basri maupun Asni Hafid keduanya dikenal oleh masyarakat Sebatik sehingga memperoleh banyak suara di wilayah ini.

5. Penutup