BAB III PROYEK PEMBANGUNAN DAERAH
3.2. Pembahasan
Salah satu rekomendasi yang dihasilkan Mid Term Review (MTR) adalah redesain restrukturisasi komponen proyek yang penggabungan beberapa komponen, kegiatan proyek di bawah ini yang sebelumnya berdiri sendiri ke dalam Program Inisiatif Masyarakat setempat (IMS) sebagai berikut:
a. Replikasi Sistem Usaha Tani (SUTA);
b. Pengaduhan Ternak;
c. Usaha Ekonomi Produktif;
d. Pembangunan Prasarana Pendukung Program IMS (P4-IMS).
3.2.1. Tujuan dan Sarana Proyek a. Tujuan Proyek
- Meningkatkan pendapatan petani melalui usaha-usaha perbaikan dan pengembangan sistem usaha tani tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan usaha ekonomi produktif lainnya;
- Mengurangi kesenjangan pendapatan dan tingkat kesejahteraan melalui bantuan pembangunan kawasan pedesaan yang kurang berkembang di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah;
- Meningkatkan daya dukung pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan usaha-usaha ekonomi di antara sesama penduduk miskin di Sultra dan Sulteng.
b. Sasaran Proyek
- Terciptanya sumber pendapatan bagi penduduk miskin di desa, melalui usaha-usaha penciptaan lapangan produktif;
- Berkembangnya kegiatan ekonomi masyarakat berskala kecil dan menengah dan;
- Meningkatkan daya beli masyarakat pedesaan melalui peningkatan pendapatan.
3.2.2. Kriteria Pemilihan Desa
Desa yang ditangani adalah desa-desa yang termasuk kategori miskin, yang ditentukan oleh Tim Koordinasi Pengelolaan Program Provinsi (TKPP-Provinsi) dan Kabupaten (TKPP-Kabupaten) berdasarkan kriteria:
a. Jumlah penduduk miskin yang cukup tinggi;
b. Terdapat potensi lahan kering/basah yang dapat dikembangkan;
c. Desa-desa yang dipilih berada dalam satu kawasan;
d. Infrastruktur ekonomi desa terbatas.
3.2.3. Sasaran Penerimaan Bantuan
Sasaran penerima bantuan Program IMS adalah keluarga atau kelompok masyarakat miskin, baik laki-laki maupun
perempuan (janda atau wanita yang ditinggal suaminya merantau atau wanita yang berusaha sendiri) di desa lokasi proyek kelompok yang diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan Program adalah:
a. Kelompok penduduk atau petani miskin dan tidak cukup memiliki sumber pengadaan pangan, pembiayaan pendidikan dan kesehatan serta kebutuhan sosial ekonomi lainnya;
b. Kelompok wanita dan pemuda yang sedang menganggur dan tidak memiliki pekerjaan yang tetap;
c. Tidak sedang menjadi peserta atau penerima bantuan dari proyek lain yang sedang berjalan;
d. Satu Kepala Keluarga (KK) hanya dibenarkan ikut serta dalam satu paket kegiatan IMS pada satu tahun anggaran.
3.2.4. Karakteristik Program IMS
Karakteristik Program IMS adalah sebagai berikut:
- Usulan proposal jenis kegiatan dan jumlah dana ditentukan oleh masyarakat sendiri, dengan dukungan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan fasilitator setempat;
- Pagu dan IMS disediakan dalam bentuk Lump Sum (LS) pada tingkat kabupaten Jumlah dana yang disalurkan kepada pokmas ditetapkan atas dasar proposal kelompok/ desa;
Dana IMS disalurkan secara langsung ke tingkat desa melalui transfer ke rekening Unit Pengelola Keuangan Desa (UPKD). Selanjutnya, UPKD menyalurkan dana tersebut ke kelompok tani/ masyarakat;
- Jadwal pemrosesan dan penyaluran dana ke tingkat desa harus dijamin tepat pada waktu, sesuai dengan prosedur dan format standar;
- Seluruh pengadaan dilakukan oleh kelompok masyarakat dan tidak melalui tender (pelelangan);
- Usulan kegiatan dari masyarakat yang memanfaatkan kredit desa harus mengarah ke kemandirian usaha;
- Pengelolaan kredit yang ketat (pengawasan pengambilan) bersifat komersil (dipungut bunga yang besarnya ditetapkan berdasarkan musyawarah dengan ketentuan minimal 18 persen per tahun atau 1,5 persen per bulan dan pengurus UPKD memperoleh honorarium);
- Pembangunan prasarana desa pendukung Program IMS dapat dilakukan jika masyarakat bersedia memberikan kontribusi dalam berbagai bentuk, seperti: lahan, tanaman, tenaga kerja dan bahan-bahan lain yang dituangkan dalam perjanjian rencana pengelolaan dana pemeliharaan;
- Kegiatan pembangunan prasarana desa dilaksanakan dengan pola padat karya, dan dengan menggunakan tenaga kerja di desa setempat.
3.2.5. Alokasi Dana IMS per Desa
IMS dikelola dengan pendekatan berdasarkan kebutuhan masyarakat (demand driven). Namun, untuk mensinkronkan dengan kepentingan administrasi, maka pagu dana IMS per desa diberikan batas minimal Rp 50.000.000,- dan maksimal Rp 100.000.000,- per desa. Bagi desa-desa yang telah menyerap dana maksimum dimungkinkan untuk kembali menerima dana IMS sepanjang performa/kinerja UPKD baik dan usulan kegiatan layak didanai.
Dana IMS yang diberikan kepada desa selanjutnya akan menjadi asset masyarakat desa dan dimanfaatkan untuk kegiatan Pembangunan Prasarana Pendukung Program-Inisiatif Masyarakat Setempat (P4-IMS), Replikasi SUTA, IMS Penggaduhan Ternak, IMS Usaha Ekonomi Produktif dan P4–
IMS. Dana tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat desa yang bergabung dalam kelompok-kelompok.
3.2.6. Pemanfaatan dan Batasan Penggunaan Dana IMS a. Pemanfaatan Dana IMS
- Kredit
Dana yang digunakan untuk IMS SUTA, IMS Penggaduhan Ternak, dan IMS Ekonomi Produktif dikelola dengan sistem kredit bergulir melalui Pengelolaan Kegiatan/Keuangan Desa (UPKD).
- Non Kredit
Dana yang digunakan untuk Pembangunan Prasarana Pendukung Program IMS (P4-IMS) bersifat non kredit/hibah, dengan persyaratan masyarakat harus menunjukkan kesanggupan untuk memberikan kontribusi dan bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan pengembangan lebih lanjut.
Di samping untuk pemanfaatan tersebut di atas, dana IMS juga digunakan untuk membiayai pengeluaran administrasi dana operasionalisasi UPKD maksimum 5 persen dari jumlah kredit desa untuk tahun pertama. Untuk selanjutnya diambil dari hasil usaha UPKD yang besarnya tergantung pada hasil musyawarah desa.
b. Batasan Penggunaan Dana IMS
Dana Program IMS tidak dapat digunakan untuk kegiatan- kegiatan yang tidak bernilai ekonomi produktif antara lain:
- Membayar ganti rugi atas pemanfaatan lahan milik masyarakat desa yang bersangkutan dan ditetapkan berdasarkan musyawarah desa;
- Rehabilitasi dan pemeliharaan sarana peribadatan;
- Rehabilitasi dan pemeliharaan gapura/tugu batas desa.
3.2.7. Pendampingan Pelaksanaan Proyek a. Konsultan, bertugas:
- Memberikan bantuan teknis kepada para pelaksana proyek;
- Mengkoordinasikan dan mereview program Kabupaten untuk memastikan perencanaan yang dibuat telah sesuai dengan prosedur dan kriteria yang telah disepakati, serta dapat dilaksanakan sesuai dengan biaya yang direncanakan;
- Memberikan sarana secara umum, termasuk pembukuan laporan keuangan dan pengawasannya;
- Membantu Bappeda Kabupaten dalam penyusunan rencana tahunan kegiatan proyek;
- Mengadakan kunjungan ke desa-desa secara rutin untuk mereview dokumen keuangan.
b. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Untuk memaksimalkan pelaksanaan proyek di lapangan, masyarakat akan dibantu oleh fasilitator yang direkrut dari LSM setempat. LSM tersebut akan menempatkan Koordinator Fasilitator yang berkedudukan di provinsi dan kabupaten. Jumlah fasilitator adalah 70 orang yang membawahi 3 sampai 4 desa /kelurahan.
Adapun tugas-tugas Koordinator Fasilitator adalah sebagai berikut:
- Mengikuti pelaksanaan diseminasi dan pelatihan di provinsi;
- Membantu pelaksanaan diseminasi dan pelatihan di kabupaten;
- Melaksanakan evaluasi terhadap seluruh kelompok sasaran binaan;
- Membentuk kelompok sasaran yang memenuhi syarat/kriteria, melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA);
- Meningkatkan kegiatan dan keterkaitan jaringan kelompok sasaran dengan lembaga perekonomian lainnya di pedesaan maupun pengusaha-pengusaha di sekitarnya, melalui sinergi atau kerja sama;
- Memberikan dukungan bantuan pelatihan keterampilan, manajemen keuangan maupun manajemen teknik kepada Kelompok Sasaran yang terpilih, agar cakupan wilayah kelompok merupakan pusat ataupun simpul pengembangan agribisnis maupun agroindustri dalam arti luas;
- Mengkoordinir dan membantu pelaporan pelaksanaan proyek kepada Bappeda Provinsi maupun Kabupaten.
c. Fasilitator dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL)
Tugas–tugas dan fungsi fasilitator dan PPL pada Intinya membantu pelaksanaan Kegiatan proyek dan pembinaan di lapangan.
3.2.8. Ruang Lingkup Kegiatan Program Inisiatif Masyarakat Setempat (IMS)
a. IMS Sistem Usaha Tani (SUTA)
Ruang lingkup kegiatan yang termasuk dalam IMS Sistem Usaha Tani (SUTA) adalah sebagai berikut:
- Kegiatan lahan beririgasi intensifikasi tanaman padi sawah, penangkaran benih padi sawah; SUTA lahan kering intensifikasi tanaman palawija dan padi go-go, SUTA lahan kering terpadu berbasis kakao, jambu mente dan tanaman keras/buah-buahan lainnya; Suta lahan kering konservasi,
rehabilitasi tanaman perkebunan kakao, jambu mente, pengembangan lahan pekarangan dan kebun bibit desa;
- Kegiatan pertanian/sistem usaha tani di luar yang tertera di atas, misalnya tanaman bawang merah, lada, lombok dan sebagainya;
- Jasa pendukung usaha tani atau pengadaan input pertanian, misalnya penyediaan pupuk dan pestisida serta pengendalian hama penyakit;
- Pengolahan hasil pertanian, misalnya penggilingan, pemipilan, sortasi (pemilihan), pengepakan, pengemasan, penyimpanan, pengasapan, penjemuran, dsb;
- Tata niaga hasil pertanian, misalnya pengangkutan perlengkapan pemasaran, informasi harga, penampungan dan pemasaran hasil produksi petani dan sebagainya.
b. IMS Penggaduhan Ternak.
Setiap penggaduhan akan menerima satu ekor sapi betina, dan setiap sepuluh betina diperlukan satu ekor pejantan.
Karena itu, setiap 10 penggaduh (atau kelipatannya) yang tinggal berdekatan akan membentuk satu kelompok. Untuk pengadaan pejantan, dikredit oleh seluruh anggota kelompok secara bersama-sama, dan dipelihara secara bersama atau ketua kelompok atau salah satu anggota kelompok yang dipercaya, di mana anggota kelompok setiap saat dapat menggunakan pejantan untuk dikawinkan.
Pemelihara sapi pejantan ini berkewajiban untuk meminjamkan sapi jantan tersebut pada anggota kelompok lainnya. Anggota kelompok akan memilih/menunjuk Ketua kelompok yang akan membantu anggota kelompok dan UPKD dalam pengelolaan pinjaman/kredit gaduhan ternak sapi/kerbau.
c. IMS Usaha Ekonomi Produktif
Ruang lingkup kegiatan yang termasuk dalam Usaha Ekonomi Produktif (UEP) adalah berbagai jenis kegiatan kelompok sasaran yang dibutuhkan dan dikehendaki oleh masyarakat dan belum tertampung dalam komponen IMS lainnya, termasuk dalam lingkup kegiatan ini antara lain:
- Pertukangan, kerajinan dan industri rumah tangga (misalnya pembuatan meubel, genteng, tikar, pitate, gerabah, gula aren, kopi, minyak kelapa, kasur pengawetan ikan (asin, pengasapan);
- Perdagangan dan warung desa/kios misalnya jual beli sembako, sayur);
- Jasa (misalnya ,pengangkutan , bengkel, menjahit);
- Penggemukan ternak (sapi dan kerbau);
- Peternakan ternak kecil (kambing dan unggas);
- Kegiatan sub-sektor perikanan misalnya penangkapan ikan budidaya ikan/tambak, budidaya rumput laut).
d. Pembangunan Prasarana Pendukung Program Insiatif Masyarakat Setempat (P4-IMS)
Jenis kegiatan yang termasuk ke dalam Program IMS ini adalah sebagai berikut:
- Pembangunan prasarana jalan usaha tani yang dikelola UPKD;
- Pembangunan atau rehabilitasi prasarana dan sarana desa (selain jalan usaha tani). Kategori ini meliputi antara lain prasarana air bersih, irigasi, Jalan usaha tani, kios/los pasar, dan sarana pendukung kegiatan ekonomi produktif lainnya;
- Suatu persetujuan khusus oleh Pimpro dan Konsultan diperlukan untuk kegiatan lain seperti, rehabilitasi dan
pemeliharaan sistem sanitasi dan air bersih, pembuatan teras sederhana dan kegiatan lainnya yang dipandang sebagai kegiatan prioritas oleh masyarakat desa.
3.2.9. Jumlah Masyarakat yang Terbina & Jumlah Desa yang Terbina
Kelompok masyarakat yang terbina adalah 11.937 POKMAS dengan anggota sebanyak 94.125 KK terdiri dari 52.656 KK di Sultra dan 41.469 KK di Sulteng. Dari sejumlah anggota POKMAS yang terbina tersebut menyerap dana (dari proyek dan perguliran) sampai dengan Oktober 2003 sejumlah Rp 100.662.998.547,- dan Sultra Rp 22.474.655.395,-
Untuk Sulawesi Tengah, desa yang menjadi sasaran program SAADP berjumlah 271 desa, yang terdiri dari 44 desa di Kabupaten Donggala, 58 desa di Kabupaten Poso, 20 desa di Kabupaten Morowali, 38 desa di Kabupaten Banggai, 36 desa di Kabupaten Bangkep, 41 desa di Kabupaten Buol, serta 34 desa di Kabupaten Toli-Toli.
3.2.10. Penyusunan Proposal SAADP oleh Kelompok Masyarakat
a. Identifikasi usulan kegiatan pada kelompok masyarakat Pada tahap awal setelah kelompok-kelompok masyarakat terbentuk di desa lokasi proyek, dibantu oleh fasilitator para anggota kelompok masyarakat melaksanakan musyawarah anggota kelompok untuk mengidentifikasi kegiatan yang akan diusulkan. Di samping itu, kelompok masyarakat juga dapat menyusun prioritas awal kegiatan yang dapat dikembangkan dan memberikan nilai tambah kepada masyarakat secara luas.
b. Musyawarah desa/kelompok Desa untuk menyusun prioritas kegiatan
Kepala desa dan pengurus UPKD mengumpulkan masyarakat untuk memusyawarakan kegiatan prioritas yang dapat dikembangkan oleh masyarakat dan dapat memberikan nilai tambah kepada masyarakat secara luas.
c. Penyusunan Proposal Usulan Program SAADP-IMS - Berdasarkan identifikasi dan prioritas kegiatan yang
dilakukan oleh kelompok masyarakat di desa, maka perlu dituangkan dalam proposal dengan dibantu oleh Fasilitator dan PPL;
- Penyusunan proposal mengacu kepada Panduan Teknis Operasional Program IMS dan Buku Manual Penyusunan Proposal;
- Proposal yang sudah selesai disusun dan diserahkan kepada UPKD untuk diteliti lebih lanjut kelayakannya;
- Jadwal pemasukan proposal ke UPKD, akan ditentukan oleh UPKD yang bersangkutan, yang tentunya harus sesuai dengan jadwal waktu kegiatan pada tingkat kabupaten.
3.2.11. Penilaian/verifikasi Desa
- Kebenaran dari proposal yang diajukan antara lain: calon peminjam sesuai dengan kriteria, benar-benar membutuhkan dukungan kredit, lokasi kegiatan tidak fiktif, tidak ada anggota fiktif, bagi calon peternak belum memiliki ternak dan sebagainya;
- Masuk akal: Jumlah yang diusulkan wajar/tidak berlebihan dan sesuai kemampuan calon peminjam;
- Format benar dan sesuai petunjuk. Seluruh informasi yang disajikan jelas dan mendukung proses pengambilan keputusan;
- Calon peminjam dapat dipercaya dan diharapkan berdisiplin dalam pengambilan pinjaman kredit;
- Kebenaran dan strategi pengambilan pinjaman kredit oleh masing-masing calon peminjam;
- Kekompakan kelompok apakah anggota kelompok cenderung kompak dan bekerja sama dengan baik.
3.2.12. Desa-desa yang Berhasil
Desa-desa yang berhasil dalam program SAADP yang berbasis IMS adalah desa-desa di Kecamatan Ampana Kota di Kabupaten Poso (saat ini, setelah pemekaran, termasuk dalam Kabupaten Tojo Una-una) dengan tingkat keberhasilan sebesar 80 persen dan desa-desa di Kecamatan Bualemo di Kabupaten Banggai dengan tingkat keberhasilan 80 persen yang menyebabkan desa-desa tersebut berhasil adalah sebagai berikut:
- Kelembagaan UPKD di desa tersebut sudah menunjukkan kinerja yang baik, karena mendapat dukungan yang baik dari masyarakat setempat;
- Kepemimpinan masyarakat yang solid;
- Dukungan Pemerintah Daerah;
- Dinamika Ekonomi yang maju;
- Adanya akses.
3.2.13. Langkah-langkah untuk meningkatkan kinerja program SAADP
- Perlu dijalin kerja sama dengan pola kemitraan antara instansi pemerintah, swasta dan para petani atau peternak;
- Petani perlu dibina melalui metode penyuluhan pertanian yang disesuaikan dengan kebutuhannya agar lebih efisien (biaya murah) dan efektif (pesan mudah diterima). Petani dapat dibina melalui pendekatan kelompok yang dibarengi perorangan dengan media terproyeksi maupun lisan misalnya penyuluhan kelompok, aktivitas berkelompok, karya wisata ke kelompok yang usahanya berhasil, kunjungan usaha tani dan ternak yang berhasil;
- Jumlah dana yang diterima petani sebagai anggota POKMAS perlu dipertimbangkan untuk ditambah jumlahnya;
- Sistem perguliran dana perlu diatur sesuai dengan kemampuan anggota POKMAS baik dalam jumlah maupun waktu pengembaliannya. Dengan cara ini dapat membantu petani dalam mempercepat pengembalian dana dan tidak menjadi penghambat dalam pengelolaan usaha tani. Selain itu, perlu adanya patokan dalam bentuk aturan-aturan tertulis yang disepakati bersama mengenai sistem perguliran dana pada setiap POKMAS, karena sistem perguliran dana yang diterapkan selama ini hanya merupakan kesepakatan antara pengurus dengan anggota POKMAS dalam bentuk tidak tertulis;
- Kualitas pendamping perlu diperhatikan untuk ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam “mencerna”
konsepsi-konsepsi program SAADP, terutama melalui penataran dan pelatihan-pelatihan yang intensif dan berkelanjutan. Selain itu, pendamping yang telah ditunjuk dari berbagai dinas dan pembagian tugas sesuai bidangnya, sehingga dalam melaksanakan pembinaan kepada petani akan lebih terarah dan berkesinambungan.