BAB IV PROYEK PEMBANGUNAN DAN
4.2. Pembahasan
4.2. Pembahasan
pembangunan Water Closet (WC) di sekitar 13.500 kepala keluarga, serta renovasi dan perbaikan peralatan sekitar 58 pusat kesehatan masyarakat;
b. Produksi dan pemasaran hasil pertanian meningkatkan pelayanan penyuluhan pertanian untuk perkebunan, mengadakan percobaan dan demonstrasi di lapangan, pembangunan/rehabilitasi dua pusat penyuluhan desa melakukan survei sistem pertanian secara rinci untuk merancang suatu program percontohan pengembangan pertanian untuk 16 Desa terpencil;
c. Prasarana desa melalui pembangunan jalan baru sepanjang 30 km, rehabilitasi sekitar 32 km jalan kabupaten dan jalan desa sepanjang 210 km termasuk jalan setapak dan tiga jembatan gantung, penguatan tebing sungai untuk mengontrol banjir. Pembangunan lima unit listrik tenaga air mikro dan rehabilitasi sistem irigasi kecil yang dikelola petani dengan luas 3.800 hektar.
4) Manajemen Proyek dan penguatan institusi
Pembentukan Project Coordination Unit (PCU) di tingkat provinsi dan Project Implementasi Unit (PIU) di tingkat kabupaten, pelatihan metode perencanaan partisipatif untuk staf yang terlibat dalam pelaksanaan proyek tersebut.
4.2.2. Badan Pelaksana 1) Tingkat Pusat
Badan pelaksana adalah Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri pada tingkat Nasional yang dibentuk suatu komite pengarah proyek (Project Steering Committee–PSC) yang bertanggung jawab pada koordinasi proyek dan pemanfaatan secara keseluruhan.
Komite ini diketahui oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas) dengan anggota Dirjen Bangda dan instansi-instansi pusat yang terkait dengan pelaksanaan proyek.
2) Tingkat Provinsi
Project Coordination Unit (PCU) terdiri atas staf dari badan perencanaan pembangunan Daerah Tingkat Satu (BAPPEDA Tingkat Satu) akan mensupervisi manajemen proyek. PCU akan menerima arahan dari suatu komite koordinasi project yang diketahui oleh Gubernur dengan anggota wakil-wakil dari berbagai instansi/Dinas teknis yang terkait dengan pelaksanaan proyek, yaitu BAPPEDA, Dinas kesehatan, Dinas Perkebunan, Pertanian dan Peternakan.
3) Tingkat Kabupaten
Implementasi lapangan sehari-hari akan menjadi tanggung jawab Project Implementasi Unit (PIU) yang didirikan di kedua Kabupaten di wilayah proyek setiap PIU akan menerima arahan dari satu komite pelaksana Kabupaten (District Executing Committee-DEC) yang diketahui BAPPEDA).
4) Tingkat Kecamatan
Di tingkat kecamatan, ada yang namanya supervisor yang turut berpartisipasi membentuk kegiatan proyek.
5) Tingkat Desa
Fasilitator direkrut dari LSM yang bertujuan mengkoordinir pelaksanaan di desa masing-masing.
Untuk membantu kegiatan pelaksanaan CSIADCP, maka dibutuhkan konsultan dengan jumlah total 408 orang/bulan (100 internasional dan 308 lokal) yang dibutuhkan. Konsultan-
konsultan ini akan diangkat melalui sebuah perusahaan konsultan internasional yang akan dipilih sesuai dengan pedoman penggu- naan konsultan yang dikeluarkan oleh ADB dan pengaturan lainnya yang dapat diterima oleh ADB. Perusahaan konsultan internasional yang akan dipilih akan mendapatkan empat sub kontrak dengan organisasi masyarakat lokal untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan lapangan yang berkaitan dengan komponen pengembangan masyarakat dan sub komponen wisata lingkungan.
4.2.3. Estimasi Biaya
Biaya total proyek diestimasikan sejumlah yang setara dengan $54,7 juta. Termasuk kontijensi fisik dan harga dengan jumlah yang setara dengan $6,8 juta. Pajak dan bea, bunga dan commitment charges selama proses konstruksi. Estimasi biaya ini
KONSULTAN
• CSIDCP
• LORE UTARA
PAKET I
• MR. JAN HOF
PAKET II
• Ir. Sylvia Sunarno – Community Development Adviser Donggala
• Mashudi Kadis – Community Development Adviser Poso
• Dr. Henny Lumeno – Buffer Zone Management Specialist
PAKET III
• Ir. Sutedjo Anggoro – Road Bridges Enggineer
• Dr. M. Sudomo – Konsultan Schistosomiasis
• Dr. Miting – Primary Health Care Specialist
• Ir. Marpaung – Irigasi
• Kusnadi – Konsultan Air Bersih
terdiri atas $ 17,3 juta biaya valuta asing dan mata uang lokal yang setara dengan $ 37,4 juta (termasuk jumlah yang setara dengan $ 2,85 juta untuk pajak dan bea). USAID akan menyediakan pembiayaan paralel dengan dana hibah (grant fund) sebesar $ 2,2 juta untuk mendampingi kontribusi sebesar $ 1 juta dari The Nature Conservancy (TNC), suatu lembaga swadaya masyarakat internasional yang aktif di wilayah proyek. Dana sebesar $ 3,2 juta akan dipergunakan untuk membiayai jasa konsultan dan kegiatan pelatihan untuk komponen pengelolaan Taman Nasional dan kawasan penyangga.
Tabel 4.1 Sumber Pembiayaan Proyek CSIADCP Lore Lindu
No Sumber
pembiayaan
Jumlah Biaya (US$
Juta)
Keterangan
1.
2.
3.
4.
Bank (ADB)/Dana Loan
USAID/TNC/Dana hibah
Dana APBD
Pemerintah Indonesia (GOI)
Masyarakat penerima biaya
32,0 3,2
14,2
4,3
60% dari total biaya
6% dari total biaya merupakan dana hibah untuk membiayai komponen pengelolaan TNLL.
26% dari total biaya termasuk untuk pajak-pajak.
8% dari total biaya dalam bentuk tenaga kerja dan kontribusi lainnya
Total 53,7 100 %
Sumber : CSIADCP Tahun 1998 4.2.4. Perencanaan
1. Kegiatan penyiapan masyarakat ditujukan untuk memberdayakan masyarakat melalui pemberian informasi- informasi, pelatihan-pelatihan, penyiapan kemampuan kelembagaan dan keterampilan masyarakat melalui
penyuluhan, pelatihan dan sosialisasi mekanisme dan cara pelaksanaan CSIADCP kepada masyarakat dan pelaksanaannya oleh PMD dengan bantuan fasilitator desa dan supervisor kecamatan.
2. Penyusunan Usulan Kegiatan
Usulan kegiatan disusun oleh masyarakat melalui wadah LKMD dan disampaikan kepada forum UDKP. Selanjutnya UDKP membahas, menilai dan memutuskan usulan yang layak untuk dibiayai melalui CSIADCP.
4.2.5. Gambaran Proyek Saat ini
Saat ini di wilayah proyek telah tersentuh berbagai komponen kegiatan misalnya komponen pengembangan masyarakat telah dilaksanakan berbagai pelatihan, demonstrasi, untuk fisik seperti pembuatan jalan dan jembatan, pembangunan gedung-gedung pusat pelayanan masyarakat, pengendalian penyakit schistosomiasis, irigasi desa, penyediaan bahan jaga peningkatan kualitas sumber daya para medis.
Realitas telah membuktikan bahwa kekayaan alam yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu, telah mengundang hasrat banyak pihak terutama komunitas masyarakat yang ada di sekitar Taman Nasional untuk memanfaatkan kawasan itu sebagai salah satu sumber nafkah.
Bahkan ada yang lebih tragis, sebab kawasan tersebut sudah dianggap sama dengan kawasan non taman yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan keinginan pribadi. Padahal, sebagai kawasan konservasi, Taman Nasional Lore Lindu harus dilindungi dari kerusakan akibat aktivitas antropogenik (aktivitas yang melibatkan manusia). Bila tidak disikapi oleh kita semua secara bijak, maka lambat atau cepat, Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) akan mengalami kondisi yang sangat
memprihatinkan. Artinya TNLL hanya tinggal sebuah nama, tetapi ekosistem dan fungsionalnya sebagai kawasan konservasi akan hilang ditelan masa. Sebagai contoh kasus perambahan- perambahan di Dongi-dongi yang mencerminkan kedangkalan pemahaman kita terhadap fungsi Taman Nasional.
Setelah tiga tahun pelaksanaan proyek terdapat suatu kegiatan yaitu Evaluasi Mid Term Review proyek CSIADCP yang semuanya akan dilaksanakan pada bulan April–Mei 2002 yang kegiatannya mencakup penilaian terhadap kinerja proyek dari berbagai komponen kegiatan baik itu fisik maupun non fisik, sebagai langkah awal telah dilakukan oleh tim evaluasi bahan untuk pelaksanaan Mid Term Review tersebut yang hasilnya bahwa kinerja proyek ini masih sangat kurang. Namun ada beberapa kegiatan yang sudah baik kegiatannya seperti kesehatan.
Dalam penilaian terhadap keberhasilan penanggulangan penyakit schistosomiasis pada tahun terjadi peningkatan pengidap penyakit, untuk itu agar intervensi penanggulangan penyakit schistosomiasis dapat berhasil, perlu ditegakkan koordinasi lintas sektoral secara tegas antara instansi yang berkepentingan dalam pembangunan fisik wilayah yang endemis penyakit schistosomiasis (terutama Dinas Kimpraswil Kabupaten dan unsur Kecamatan) dengan Dinas Kesehatan Provinsi, supaya tidak terulang skandal sosial kesehatan Dodolo dan padang Efrata. Efektivitas dan keberlanjutan metode pemberantasan schistosomiasis perlu ditinjau kembali. Program perlu dibenahi sesuai hasil tujuan tersebut. Perlu diupayakan realokasi dana untuk mendukung pemanfaatan sub komponen ini.
4.2.6. Keberhasilan dan Kegagalan Proyek 1) Keberhasilan Proyek
Economic Internal Rate of Return (EIRR) proyek adalah 17 persen dengan manfaat lingkungan dan sosial secara keseluruhan yang positif. Manfaat lingkungan termasuk peningkatan hasil perlindungan hasil hutan Taman Nasional, pariwisata, penyediaan air minum dan irigasi, produksi ikan, penyerapan karbon dan keanekaragaman hayati. Manfaat lingkungan yang dapat dikuantifikasikan sejumlah $ 50 Juta.
Manfaat yang didapat masyarakat yang menjadi sasaran adalah peningkatan pendapatan pertanian yang berkisar antara 55 sampai 122 persen. Peningkatan akses jalan raya dan jalan setapak serta penghematan transportasi yang terkait. Manfaat kesehatan dari berkurangnya schistosomiasis dan penyakit perut serta kompensasi langsung untuk kerugian ekonomis dan bantuan pembangunan lokasi baru dengan fasilitas yang lebih baik untuk penduduk Desa Katu yang akan dimukimkan kembali.
Melalui manfaat-manfaat ini, proyek ini diharapkan akan mempunyai dampak yang positif, baik terhadap penduduk miskin maupun masyarakat yang berbudaya asli.
2) Kegagalan Proyek
a. Sosialisasi proyek ini ke masyarakat masih sangat kurang sehingga banyak masyarakat belum mengetahui nama CSIADCP walaupun mereka telah menggunakan fasilitas yang telah dibangun CSIADCP.
b. Masyarakat sekarang telah terbuai oleh berbagai bantuan pemerintah dengan berbagai bentuk sehingga mereka enggan untuk berbuat sehingga banyak fasilitas yang telah diperuntukkan buat mereka apabila mengalami kerusakan dibiarkan rusak karena menunggu perbaikan
dari pemerintah, dalam hal ini kesadaran masyarakat untuk memiliki sangatlah kurang.
c. Kondisi masyarakat yang semakin peka dan vokal terhadap proses pembangunan yang dinilai kurang menguntungkan bagi masyarakat, dan munculnya gerakan dan kampanye “anti loan“. Untuk itu, transparansi dan akuntabilitas perlu ditingkatkan.
d. Dana Social Cohesion Grant (SCG) ataupun kohesi yang sekarang ini menjadi permasalahan di desa saat ini pihak PCU Bappeda Provinsi di Bangda Pusat dan berbagai dialog dengan pihak pusat. Namun hingga saat itu persetujuan dari pihak ADB (Bank Pembangunan Asia) belum ada, sehingga pencarian dana SCG belum dapat dicairkan.
4.2.7. Kegiatan yang Telah Dilaksanakan 1) BAPPEDA Provinsi Sul-Teng
a. Tujuan
- Meningkatkan kemampuan aparat dan kelembagaan Bappeda Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, dan Desa dalam Perencanaan Pembangunan;
- Menciptakan koordinasi dan keterpaduan proyek antara instansi pengelola proyek.
b. Kegiatan yang dilaksanakan.
- Pelatihan Staf Pemerintah;
- Lokakarya Penyusunan Laporan Keuangan;
- Pelatihan Monitoring dan Evaluasi;
- Pertemuan Tingkat Provinsi;
- Pertemuan Tingkat Kabupaten;
- Pertemuan Tingkat Kecamatan;
- Lokakarya ADB Review Mission;
- Penyusunan Data Dasar;
- Survei RJM;
- Study Tour Dalam Negeri/Studi Banding;
- Studi Lindu Enclave;
- Penguatan Kelembagaan;
- Pembangunan Pusat Pengunjung;
- Lokakarya Participatory Planning;
- Pelatihan Kelompok Sasaran;
- Studi Banding Wanita Pengrajin Wilayah Proyek;
- Pembuatan Peta Digital 60 Desa Lokasi Proyek;
- Survei Kegiatan Keterampilan yang tepat untuk dikembangkan di Wilayah Program;
- Studi Efektifitas Pengelolaan Taman Nasional dan Sistem Pengelolaan Zona Penyangga di 60 Desa Wilayah Program;
- Studi Banding ke TN Kerinci Seblat;
- Kegiatan Pelatihan Manajemen di Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah a. Tujuan
- Meningkatkan dan merehabilitasi fasilitas pelayanan kesehatan;
- Meningkatkan program pencegahan dan pengentasan schistosomiasis.
b. Kegiatan
- Pengadaan Perangkat Radio Komunikasi;
- Pengadaan obat-obatan;
- Rehabilitasi Lab. Schistosomiasis;
- Pembuatan Pagar dan rehab lab/mess;
- Seminar Perencanaan terpadu P2 schistosomiasis;
- Pelatihan Manajemen Skills Puskesmas;
- Pelatihan Radio Komunikasi;
- Pelatihan Participatory Skills;
- Pelatihan Tenaga Sanitasi;
- Rehabilitasi 2 Puskesmas Pembantu di Kecamatan Palolo Desa Rahmat dan Kecamatan Lore Utara Desa Sedoa - Rehabilitasi 4 Polindes di Desa Sintuvu dan KNPI
Kecamatan Palolo serta Desa Kaduwaa dan Watu Maeta di Lore Utara;
- Pembangunan 2 Gedung Pusat P2 Schistosomiasis;
- Pembangunan 2 Gedung Pusat Peternakan P2 Schistosomiasis;
- Pertemuan Lintas Sektor Pembangunan terpadu dan konservasi;
- Pelatihan KIA bagi para medis dan bidan;
- Pengadaan bahan jaga;
- Pengadaan Peralatan Laboratorium dan Puskesmas;
- Pelatihan Pengelola Obat;
- Rehabilitasi dan Pengembangan Puskesmas;
- Pembangunan Polindes Desa Wanga, Dodolo;
- Pengadaan Peralatan Puskesmas;
- Perbaikan Pustu dan Polindes;
- Pelatihan TSD;
- Pelatihan PKK Kabupaten Donggala-Kabupaten Poso;
- Pengadaan alat bantu Schistosomiasis;
- Pengadaan Bidan Kit;
- Pengadaan Peralatan Media Penyuluhan;
- Pengadaan motor Danau dan Mesin;
- Pelatihan Pemeriksaan kualitas air dengan metode H2S;
- Pertemuan Kepala-Kepala Puskesmas Wilayah CSIADCP.
3) Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Provinsi SulTeng
a. Tujuan
- Meningkatkan Penyuluhan Pertanian;
- Meningkatkan Kesejahteraan petani melalui peningkatan produksi, produktivitas, mutu, nilai, dan pendapatan.
b. Kegiatan
- Rehabilitasi BPP di Kecamatan Kulawi Desa Lawua;
- Pelatihan Petugas (PPL/MTK);
- Pelatihan Petani;
- Penyuluhan Pertanian;
- Pembangunan Pusat Penyuluhan/BPP di Desa Bahagia;
- Survei sistem Pertanian di Kecamatan Kulawi;
- Survei/sistem rotan dan agroforestry;
- Pengadaan bahan penyuluhan (Leaflet dan bahan, brosur);
- Pengadaan Peralatan Lapangan dan kantor BPP baru di Kecamatan Palolo;
- Pengadaan obat-obatan peternakan pada lokasi demonstrasi ternak di Kecamatan Lore Utara, Biromaru dan Kulawi;
- Pengadaan Peralatan peternakan di Kecamatan Lore Utara dan Biromaru.
4) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sul-Teng a. Tujuan
- Mengembangkan program wisata lingkungan yang dilaksanakan masyarakat di sekitar Taman Nasional Lore Lindu;
- Meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat yang bermukim di kawasan objek wisata yang ada.
b. Kegiatan
- Pelatihan aparat desa/kecamatan;
- Penyuluhan aparat desa/kecamatan;
- Pelatihan para Kepala desa/kecamatan;
- Pelatihan bagi tokoh masyarakat;
- Bantuan kepada masyarakat pengrajin di sekitar TNLL (Bada Kecamatan Lore Selatan, Watu Tau Kecamatan Lore Utara, Kecamatan Kulawi dan Kecamatan Palolo;
- Pengadaan Tourism Promotion (Leaflet, Shooting and documentation);
- Pengadaan Peralatan Lab. P2 Schistosomiasis;
- Pelatihan Staf aparat Desa;
- Tourism Promotion;
- Pelatihan Pemerintah.
5) BAPPEDA Kabupaten Donggala a. Tujuan
- Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan proyek melalui suatu proses yang terencana, baik vertikal, horizontal, dan diagonal.
b. Kegiatan
- Perluasan kantor PIU Bappeda Donggala;
- Rehabilitasi gedung pertemuan Kecamatan Palolo;
- Rehabilitasi Kantor Kecamatan Palolo;
- Pembangunan gedung pertemuan Kecamatan Kulawi;
- Rehabilitasi kantor Kecamatan Biromaru;
- Rehabilitasi total kantor Kecamatan Kulawi;
- Pengadaan Peralatan kantor untuk Kecamatan Kulawi - Pemagaran kantor Camat Kulawi;
- Koordinasi dan evaluasi PIU CSIADCP Donggala.
6) Dinas PMD Kabupaten Donggala a. Tujuan
- Mengajukan rencana pembangunan desa ke dalam proses perencanaan anggaran pemerintah;
- Melaksanakan penyiapan masyarakat untuk dukungan pedesaan dan pelayanan prasarana.
b. Kegiatan
- Pembangunan 1 gedung pertemuan balai latihan masyarakat di Desa Kamarora Kecamatan Palolo dan rehabilitasi atau gedung pertemuan di Desa Simoro Kecamatan Biromaru;
- Pembangunan 1 gedung pertemuan balai latihan masyarakat di Desa Gimpu Kecamatan Kulawi;
- Perbaikan ruang kantor PMD Donggala;
- Latihan terpadu Pokja LKMD Tingkat Dusun/RT;
- Latihan terpadu Peranan Wanita;
- Latihan terpadu fasilitator desa;
- P3 MD;
- Sosialisasi Profil Desa;
- Penyusunan Profil Kecamatan;
- Penelitian profil masyarakat desa;
- Pengembangan kelembagaan kecamatan;
- Dukungan operasional kecamatan;
- Dukungan operasional kabupaten;
- Latihan terpadu aparat kecamatan;
- Lokakarya perencanaan masyarakat;
- Penelitian profil potensi desa;
- Penguatan kelembagaan kecamatan dan kabupaten;
- Studi banding ke TNKS;
- Pelatihan TTG;
- Latihan Peningkatan keterampilan wanita;
- Bantuan kohesi sosial (SCG).
7) Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Donggala a. Tujuan
- Meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani dengan mengkonstruksi teknologi sistem pertanian berwawasan yang berorientasi pasar;
- Meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi kemiskinan;
- Meningkatkan dan memperbaiki produktivitas lahan dan daya dukung lahan serta lingkungannya.
b. Kegiatan
- Demonstrasi usaha tani pemupukan berimbang padi sawah.
- Perencanaan desain jalan perkebunan/jembatan Toro Kecamatan Kulawi.
- Desain Toro akses Kecamatan Kulawi;
- Pembangunan Duicker jalan plad dan talud desa Boladangko, Lonca dan Winatu;
- Pembangunan Duicker jalan rabat beton desa Sadaunta dan Puro,o;
- Pembuatan bronjong Sadaunta, Puro,o Kecamatan Kulawi;
- Pembuatan talud Sadaunta-Puro,o Kecamatan Kulawi;
- Tanah timbunan Sadaunta-Puro,o Kecamatan Kulawi;
- Organisasi and training Puro,o area;
- Pembuatan bronjong Desa Gimpu Kecamatan Kulawi;
- Pembuatan jalan Toro–Perkebunan dan pembangunan bronjong;
- Rehabilitasi jalan pembuatan duicker, pembuatan tembok talud Sadaunta–Puro,o;
8) Dinas Kimprswil Sub Dinas Cipta Karya Kabupaten Donggala
a. Tujuan
- Meningkatkan penyaluran air bersih pada desa sasaran proyek.
b. Kegiatan
- Technical survey 8 desa di Kecamatan Palolo dan 5 desa di Kecamatan Biromaru;
- Detail Engineering Design (DED) di Desa Ranteleda (Palolo) Desa Omu (Biromaru) dan Desa Sungku/Mataue (Kulawi);
- Rehabilitasi dan penambahan jaringan air bersih di desa Salua;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Mataue dan Sungku;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Pakuli;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Gimpu;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Omu;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Ranteleda;
- Rehabilitasi dan penambahan jaringan air bersih di Desa Touwa;
- Demonstrasi panca usaha tani tanaman jagung komposit;
- Demonstrasi sistem pertanian lahan kering;
- Demonstrasi usaha tani mina padi;
- Demonstrasi Tumpang sari jagung dari kacang tanah;
- Demonstrasi benih jagung (dembul);
- Demonstrasi ayam buras;
- Demonstrasi bibit unggul;
- Penanaman pagar hidup pada batas TNLL;
- Penangkaran bibit tanaman cokelat dan kopi;
- Pengembangan kebun bibit desa;
- Demonstrasi usaha tani penerapan teknologi;
- Demonstrasi pemanfaatan lahan kering;
- Pengujian pemupukan NPK pada tanaman jagung;
- Kebun bibit di Kecamatan Kulawi;
- Demonstrasi usaha tani penerapan agen hayati pada padi sawah;
- Demonstrasi sistem budi daya lorong pada lahan kering;
- Demonstrasi tanaman obat tradisional;
- Demonstrasi ternak itik;
- Pemurnian varietas padi sawah;
- Pengembangan kebun bibit di desa;
- Pengadaan pupuk;
- Pengadaan bibit buah-buahan
- Demonstrasi Pembuatan pupuk alam (bokasi);
- Demonstrasi ternak babi dan itik;
- Konservasi pembuatan rorak pada tanaman perkebunan.
9) Dinas Kimpraswil Sub Dinas Bina Marga Kabupaten Donggala
a. Tujuan
- Meningkatkan Prasarana Pedesaan.
b. Kegiatan
- Perencanaan desain dan jalan/jembatan Desa Rahmat area Kecamatan Palolo;
- Pembangunan bawah dan bangunan pelengkap jembatan Desa Toro Kecamatan Kulawi;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Watukilo;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Lawua;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Tuva/Saluki;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Bolapapu;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Tanah Harapan;
- Penyediaan sarana air bersih di Desa Boladangko;
- Pengadaan peralatan air bersih;
- Pemasangan dan pengadaan pipa Polivinile Cloride (PVC) dan GIPS Desa kamarora B;
- Pemasangan dan pengadaan pipa PVC dan GIPS Desa Sintuvu;
- Pemasangan dan pengadaan pipa PVC dan GIPS Desa Sungku;
- Pemasangan dan pengadaan pipa PVC dan Desa Tangkulowi;
- Pemasangan dan pengadaan pipa PVC dan Desa Simoro;
- Pelatihan/penyuluhan air bersih.
10) Dinas Kimpraswil Sub Dinas pengairan Kabupaten Donggala
a. Tujuan
- Meningkatkan kesadaran masyarakat dan sasaran, dalam ikut serta melestarikan TNLL;
- Meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dengan pembangunan irigasi desa dan drainase.
b. Kegiatan
- Gebalan rumput, penanaman bambu, pembuatan drainase dan perbaikan tebing di tepi DAS Sungai Miu;
- Desain dan pengawasan di Sungai Sopu Kecamatan Palolo Sungai Miu di Kecamatan Biromaru, irigasi Desa Langko, Tomado, Kecamatan Kulawi;
- Survei lokasi 12 desa/desain dan pelatihan Kecamatan Palolo, Kulawi dan Sigi Biromaru;
- Pembangunan irigasi Desa Puro,o;
- Pembangunan irigasi Desa Langko;
- Pembangunan irigasi Desa Kamarora B;
- Penguatan tebing Sungai Sopu;
- Penguatan sungai Miu dengan bronjong;
- Pembuatan tembok penahan tanah penguatan tebing Sungai Miu;
- Pembangunan irigasi Desa Tomado dan Langko;
- Perbaikan irigasi Desa Kamarora A;
- Pemasangan bronjong penanggulangan banjir sungai Meweh;
- Pemasangan bronjong penanggulangan banjir Sungai Palu;
- Pemasangan bronjong penanggulangan banjir Sungai Sopu;
- Pemasangan bronjong penanggulangan banjir Sungai Miu;
- Kajian lingkungan;
- Pengamanan bantaran Sungai Miu pembuatan tembok penahan tanah Desa Pakuli;
- Perbaikan Mercubendung, pembangunan saluran induk bronjong Desa Ranteleda;
- Pengamanan bantaran sungai kompleks SMPN Kulawi, pemasangan bronjong di SMPN Kulawi;
- Perbaikan Mercubendung penguatan saluran induk bangunan bagi sedap dan pemasangan pintu air;
- Pelatihan/penyuluhan.
11) BAPPEDA Kabupaten Donggala a. Tujuan
- Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan proyek melalui suatu proses yang terencana baik vertikal, horizontal, dan diagonal.
b. Kegiatan
- Pembangunan gedung pertemuan di Desa Wuasa Kecamatan Lore Utara;
- Perluasan ruang PIU Bappeda Kabupaten Poso;
- Rehabilitasi ruang rapat Kecamatan Lore Utara;
- Pengadaan peralatan kantor untuk kabupaten dan kecamatan;
- Rehabilitasi ruang pertemuan untuk Lore Utara;
- Kegiatan koordinasi pelaksanaan proyek.
12) Dinas PMD Kabupaten Poso a. Tujuan
- Mengajukan rencana pembangunan desa ke dalam proses perencanaan anggaran pemerintah;
- Melaksanakan penyuluhan masyarakat untuk dukungan pedesaan dan pelayanan prasarana;
- Meningkatkan kemampuan aparat pengelola dan kelembagaan serta manajemen proyek di tingkat kecamatan dan desa.
b. Kegiatan
- Pelatihan/workshop bagi kepala desa dan tokoh masyarakat;
- Pendataan profil desa yakni pembuatan peta potensi ekonomi desa;
- Pelatihan kader pendamping pembangunan desa;
- Pelatihan keterampilan wanita;
- Pelatihan TTG dan keterampilan masyarakat;
- Lokakarya tingkat desa dan kecamatan;
- Sosialisasi program Tahun 2001;
- Pelatihan kerajinan kader rotan;
- Pelatihan pembuatan batako;
- Pelatihan CDS/F;
- Pelatihan staf komputer kecamatan;
- Pelatihan kader jender;
- Pelatihan menjahit;
- Sosialisasi Social Cohesien Grant (SCG);
- Pembangunan balai pertemuan masyarakat Desa Rompo Kecamatan Lore Utara;
- Rehabilitasi/penambahan ruang kantor PMD Kabupaten Poso;
- Pelatihan masyarakat program konservasi Lore Lindu;
- Pelatihan perencanaan partisipatif.
13) Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Poso a. Tujuan
- Meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani dengan mengintroduksi teknologi sistem pertanian berwawasan lingkungan yang berorientasi pasar;
- Meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi kemiskinan;
- Meningkatkan dan memperbaiki produktivitas lahan dan daya dukung lahan serta lingkungan;
b. Kegiatan
- Pengadaan bibit unggul;
- Pengadaan alat pertanian, pupuk dan pestisida;
- Pembangunan sanggar pengamatan dan peramalan hama/penyakit tanaman;
- Pengadaan bibit ayam buras dewasa, bibit kakao, serta bahan alat peternakan;
- Pengadaan alat dan mesin pertanian;
- Pengadaan bibit jahe, kunyit, sere, dll;
- Pengadaan hand sprayer;
- Pelatihan petani.
14) Dinas Kimpraswil Sub Dinas Bina Marga Kabupaten Poso a. Tujuan
- Meningkatkan prasarana pedesaan b. Kegiatan
- Peningkatan jalan dan jembatan Betue–Doda ditangani secara fungsional sepanjang 30 km, termasuk jembatan kayu 3 buah yang panjangnya 60 meter;
- Rehabilitasi jembatan gantung Doda- Gintu;
- Lanjutan jalan Desa Maholo, Watutau, Alitupu, Wuasa, Bariri, Hanggira, Lempe, Gintu Bewa, Bomba, Kalori, jembatan gantung, Langkeka, Kageroa;
- Lanjutan jalan setapak Alitupu, Wuasa, Kalori, tepi sungai Lariang, jembatan gantung Kalori, Gintu Tuare, jalan lingkar dalam desa Kecamatan Lore Utara;
- Jembatan Bada;
- Penggantian jembatan baja konstruksi Austria sungai Torire;
- Peningkatan jalan Hanggira–Lempe dan Lempe Bariri;
- Peningkatan jalan setapak Doda-Gintu;
- Peningkatan jalan setapak Gintu-Gimpu;
- Peningkatan jalan desa Wuasa–Alitupu;
- Peningkatan jembatan Betue–2 dan Betue-3;
- Pemeliharaan Batue-Doda.
15) Dinas Kimpraswil Sub Dinas Cipta Karya Kabupaten Poso a. Tujuan
- Meningkatkan Penyaluran air bersih yang memenuhi sarat kesehatan pada masyarakat desa di sekitar TNLL.
b. Kegiatan
- Pembangunan sarana penyediaan air bersih Desa Kaduwa’a;