• Tidak ada hasil yang ditemukan

نا

D. Pembahasan

Untuk mencari nilai , yang pertama kita cari dulu nilai df nya.

Nilai df didapat dengan cara df = N-2, pada penelitian ini N nya adalah 60, sehingga df = 60 – 2 = 58. Untuk nilai Pr (Probabilita), yaitu tingkat atau taraf signifikansi yang digunakan peneliti adalah 5%

atau 0,05. Jadi, dapat kita lihat pada gambar, bahwa untuk nilai df 58 dan signifikansi 5% (0,05), maka nilai nya yaitu 2,0017 . Sesuai dengan uraian-uraian tersebut, diperoleh bahwa atau maka diterima dan ditolak.

Sehingga didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa melalui model pembelajaran berbasis masalah dengan kemampuan pemecahan masalah matenatis siswa melalui model pembelajaran biasa. Hal ini juga dapat kita lihat dari rata-rata nilai posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol yang menunjukkan bahwa atau rata-rata nilai posttest kelas Eksperimen lebih besar daripada rata-rata nilai posttest kelas kontrol, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menurut Polya di SMA As- Saifiyah Syafi’iyah kelas XI Tahun ajaran 2021/2022.

dan untuk melihat adakah pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menurut Polya di SMA As-Saifiyah Syafi’iyah kelas XI Tahun ajaran 2021/2022 pada materi integral. Berikut pembahasan hasil penelitiannya:

1. Skor kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas kontrol yang menerapkan model pembelajaran konvensional pada pokok bahasan integral di SMA As-Saifiyah Syafi’iyah Kelas XI sebagai kelas kontrol, diperoleh nilai maksimum 56, nilai minimum 28, skor rata-rata 45,53, standard deviasi 10, dan varians 100,12. Adapun Indikator kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang paling baik adalah pada indikator mengidentifikasi masalah yaitu sebesar 70,63%, sedangkan persentase terendah terdapat pada indikator memeriksa kembali hasil yang diperoleh sebesar 24,19%.

2. Skor kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran berbasis masalah pada pokok bahasan integral di SMA As-Saifiyah Syafi’iyah Kelas XI sebagai kelas eksperimen, diperoleh nilai maksimum 80, nilai minimum 50, skor rata-rata 65,97, standard deviasi 10,95, dan varians 119,9. Adapun Indikator kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang paling baik adalah pada indikator mengidentifikasi masalah yaitu sebesar 93,75%, sedangkan presentase terendah terdapat pada indikator memeriksa kembali hasil yang diperoleh sebesar 23,94%.

3. Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan uji-t dapat dilihat bahwa

dan pada taraf signifikan 5% atau

( artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan model pembelajaran biasa. Hal ini juga dapat kita lihat dari rata-rata nilai posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol yang menunjukkan bahwa atau rata-rata nilai posttest kelas Eksperimen lebih besar daripada rata-rata nilai posttest kelas kontrol, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menurut Polya di SMA As-Saifiyah Syafi’iyah kelas XI Tahun ajaran 2021/2022.

Berdasarkan pembahasan poin 1 dan 2 didapatkan bahwa nilai rata- rata siswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi daripada nilai rata-rata siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional, yaitu . Hal ini juga sesuai dengan ketercapaian indikator kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dimana dapat dilihat bahwa pencapaian setiap indikator kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Hasil penelitian pada bagian penyajian data juga menunjukkan bahwa nilai rata-rata posttest siswa yang diajarkan dengan pembelajaran berbasis masalah dikategorikan tinggi, sedangkan yang

diajarkan dengan metode konvensional dikategorikan sedang. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi daripada kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ibnu Imam Al Ayubi, Erwanuddin, dan Martin Bernard yang diperoleh nilai rata-rata posttest kelas yang diajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah 69,42 dan nilai rata-rata siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran konvensional adalah 68,65. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis yang didapatkan kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol ( , sehingga didapat kesimpulan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada yang menggunakan model pembelajaran konvensional.60

Sesuai dengan pembahasan pada poin ke-3 didapatkan bahwa pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Siti Romlah bahwa model pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran inovatif yang memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa serta melibatkan siswa untuk

60 Ibnu Imam Al Ayubi, Erwanuddin, dan Martin Bernard, “Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMA”, Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif, Vol. 1 No. 3 (Mei 2018): 359.

memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah.

Tujuannya adalah agar siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut sekaligus agar siswa memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah. Pembelajaran berbasis masalah tidak sekedar untuk memecahkan masalah, melainkan memberikan kesempatan belajar dimana pemecahan masalah adalah fokus atau titik awal untuk belajar siswa. Siswa bekerja pada masalah untuk mengidentifikasi dan mencari pengetahuan yang mereka butuhkan untuk memodelkan masalah.

Dalam model pembelajaran ini siswa ditempatkan sebagai fokus utama dalam kegiatan pembelajaran dan siswa didorong agar lebih kreatif dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.

Permasalahan-permasalahan ini tentunya yang ada kaitannya antara materi yang diajarkan dengan kehidupan keseharian peserta didik. Di samping itu, guru sebagai fasilitator bertanggung jawab penuh dalam mengidentifikasi tujuan pembelajaran, struktur materi dan keterampilan dasar yang akan diajarkan. Kemudian membantu peserta didik memecahkan masalah dalam pelaksanaan dan penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Model pembelajaran berbasis masalah dapat menciptakan kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa yaitu dengan memberikan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa, kerja kelompok, membuat karya atau laporan dan mempresentasikannya. Dengan kegiatan tersebut menjadikan model

pembelajaran berbasis masalah disukai oleh siswa sehingga siswa lebih termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang dapat membantu dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki oleh peserta didik.61

Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khoirun Nisak, dan Adha Istiana. Berdasarkan hasil uji t dengan menggunakan paired sample test diperoleh sebesar -17,346 dengan signifikan 0,000. Karena signifikan maka dapat disimpulkan bahwa 1 diterima, artinya ada pengaruh yang signifikan model Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas X SMK Ngunut.62

Jadi dari uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menurut Polya di SMA As-Saifiyah Syafi’iyah Kelas XI Tahun Ajaran 2021/2022.

61 Siti Romlah, Juara II Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2014 (Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kerja Kependidikan Pendidikan Dasar, 2014).

62 Khoirun Nisak, dan Adha Istiana, “Pengaruh Penerapan Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa”, Jurnal Kajian Pendidikan Matematika, Vol. 3 No. 1 (2017), 94.

75 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian BAB IV maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Skor kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas kontrol yang menerapkan model pembelajaran konvensional pada pokok bahasan integral di SMA As-Saifiyah Syafi’iyah Kelas XI sebagai kelas kontrol, diperoleh nilai maksimum 56, nilai minimum 28, skor rata-rata 45,53, standard deviasi 10, dan varians 100,12. Adapun Indikator kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang paling baik adalah pada indikator mengidentifikasi masalah yaitu sebesar 70,63%, sedangkan persentase terendah terdapat pada indikator memeriksa kembali hasil yang diperoleh sebesar 24,19%. Skor kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran berbasis masalah pada pokok bahasan integral di SMA As-Saifiyah Syafi’iyah Kelas XI sebagai kelas eksperimen, diperoleh nilai maksimum 80, nilai minimum 50, skor rata-rata 65,97, standard deviasi 10,95, dan varians 119,9. Adapun Indikator kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang paling baik adalah pada indikator mengidentifikasi masalah yaitu sebesar 93,75%, sedangkan presentase terendah terdapat pada indikator memeriksa kembali hasil yang diperoleh sebesar 23,94%. Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan uji-t dapat dilihat bahwa dan pada taraf signifikan 5% atau

( artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan model pembelajaran biasa. Hal ini juga dapat kita lihat dari rata-rata nilai posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol yang menunjukkan bahwa atau rata-rata nilai posttest kelas Eksperimen lebih besar daripada rata-rata nilai posttest kelas kontrol, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menurut Polya di SMA As-Saifiyah Syafi’iyah kelas XI Tahun ajaran 2021/2022.

Dokumen terkait