B. Kajian Teori
1. Pembelajaran Berbasis Masalah
The Nonequivalent Posttest Only Control Group Design dan peneliti melakukan penelitian di SMA As-Saifiyah Syafi’iyah.
Arends berpendapat bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa mengerjakan sebuah permasalahan yang autentik dengan tujuan untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan ketetampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.18
Jones, Rasmussen, and Moffit berpendapat bahwa pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemmapuan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah dan keterampilan intelektualnya. Selain itu, dalam Problem Based Learning guru juga membangun sikap positif terhadap mata pelajaran khususnya matematika. Dengan demikian, pembelajaran matematika dengan pendekatan pembelajaran Berbasis Masalah dapat mengatasi permasalahan pembelajaran matematika.19
Siti Romlah juga menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran inovatif yang memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa serta melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah. Tujuannya adalah agar siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut sekaligus agar siswa memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah. Pembelajaran Islamiyah Urung Pane Kecamatan Setia Janji Kabupaten Asahan T.P. 2017-2018” (Skripsi, Universitas Islam Negri Sumatera Utara, 2018), 17.
18 Lumbantombing, Pengaruh, 18.
19 Milisri, Pengaruh, 10.
berbasis masalah tidak sekedar untuk memecahkan masalah, melainkan memberikan kesempatan belajar dimana pemecahan masalah adalah fokus atau titik awal untuk belajar siswa. Siswa bekerja pada masalah untuk mengidentifikasi dan mencari pengetahuan yang mereka butuhkan untuk memodelkan masalah.20
Selain itu, Hanafiah & Suhana juga berpendapat bahwa Problem Based Learning adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah nyata sebagai konteks sehingga siswa dapat belajar berpikir kritis dalam melakukan pemecahan masalah yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang esensial dari materi yang diajarkan. Menurut Dewey pengetahuan yang dipelajari siswa seharusnya bukan informasi yang banyak terdapat di buku pelajaran, tetapi pengetahuan menjadi berguna (useful) dan hidup (alive) ketika diterapkan dan dikembangkan sebagai solusi untuk beberapa masalah.21
Adapun tujuan pembelajaran berbasis masalah diantaranya yaitu:22 1. Membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan
berpikirnya, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual 2. Belajar tentang berbagai peran dari orang dewasa melalui
keikutsertaan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi
20 Siti Romlah, Juara II Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2014 (Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kerja Kependidikan Pendidikan Dasar, 2014).
21 Ibnu Imam Al Ayubi, Erwanuddin, dan Martin Bernard, “Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMA”, Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif 1, no. 3 (Mei 2018): 356.
22 Lumbantombing, Pengaruh, 18.
3. Menjadi pembelajaran otonom dan mandiri
Hal yang menjadi fokus utama dalam pembelajaran berbasis masalah adalah masalah yang dipecahkan. Sebagai suatu model pembelajaran yang melibatkan masalah dalam kehidupan nyata, model pembelajaran ini menjadi suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang bagaimana cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran. Pada model pembelajaran ini, Siswa dituntut untuk melakukan pemecahan masalah-masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya. Pengalaman ini diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada bagaimana dia membelajarkan diri.23 b. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Arends menyatakan bahwa ada 5 fase (tahap) yang perlu dilakukan untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis masalah dalam proses pembelajaran. Secara singkat kelima fase pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut24
Tabel 2.2
Fase Pembelajaran Berbasis Masalah
Fase Aktivitas Guru
Fase 1: Mengorientasikan siswa pada masalah
Menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik yang diperlukan, memotivasi siswa untuk terlibat aktif pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
23 Lumbantombing, Pengaruh.
24 Zulfa Ubaidillah, “Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa” (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017), 9.
Fase Aktivitas Guru Fase 2: Mengorganisasikan
siswa untuk belajar
Membantu siswa dalam membatasi dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi.
Fase 3: Membimbing penyelidikan
individu/kelompok
Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, dan mencari untuk penjelasan dan pemecahan.
Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video dan model, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Fase 5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Membantu siswa melakukan refleksi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang digunakan selama berlangsungnya pemecahan masalah.
Sumber: Ngalimun.25
c. Desain Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Berdasarkan teori diatas, maka desain pembelajaran berbasis masalah yang digunakan dalam penelitian diuraikan sebagai berikut:26
Tabel 2.3
Desain Pembelajaran Berbasis Masalah Tahapan
Pembelajaran Berbasis Masalah
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Mengorientasikan
siswa pada masalah
Meminta siswa
mengungkap kembali tentang pemahaman mereka yang berkaitan dengan masalah
Mengajukan pertanyaan untuk mengetahui dan menggali pengetahuan awal siswa yang berkaitan dengan masalah
Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru
Mengingat dan mengungkapkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa terkait masalah
Mengorganisasikan Membagi siswa Membentuk kelompok
25 Ngalimun, Strategi dan Model Pembelajaran (Yogyakarta: Aswaja Presindo, 2013), 96.
26 Ubaidillah, Pengaruh, 10.
Tahapan Pembelajaran Berbasis Masalah
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
siswa untuk belajar kedalam beberapa kelompok dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi
Menumbuhkan motivasi agar semua siswa aktif terlibat dalam diskusi
Berdiskusi dengan teman didalam kelompoknya masing- masing
Membimbing penyelidikan individu/kelompok
Membantu siswa dalam memahami masalah
Membantu siswa mengumpulkan
informasi dari berbagai sumber
Mengajukan pertanyaan kepada siswa agar mereka berpikir tentang masalah dan informasi yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan masalah
Menanyakan hal-hal yang kurang dipahami
Menuliskan hasil diskusi
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Membantu siswa dalam menuliskan kesimpulan dan pembahasan
Meminta kelompok untuk
mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas
Mempresentasikan hasil diskusi
Melakukan diskusi kelas atau Tanya jawab
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Membantu siswa mengkaji ulang proses dan hasil pemecahan masalah
Memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang belum jelas
Mencermati penjelasan guru
Bertanya hal yang kurang dipahami
Sumber: Ngalimun.27
27 Ngalimun, Strategi, 96.
d. Teori Yang Mendasari Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Model-model pembelajaran disusun dan dikembangkan berdasarkan berbagai prinsip dan teori pengetahuan. Adapun beberapa teori yang mendasari pembelajaran berbasis masalah diantaranya sebagai berikut:
1) Teori belajar bermakna David Ausubel
Psikologi pendidikan yang diterapkan oleh Ausubel adalah bekerja untuk mencari hukum belajar yang bermakna.
Ausubel membedakan antara belajar bermakna (meaningfull learning) dengan belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna merupakan proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan pengertian yang sudah dimiliki oleh seseorang yang sedang berada dalam tahap belajar. Belajar menghafal diperlukan jika seseorang memperoleh informasi baru dalam pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan yang telah diketahuinya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kaitan pembelajaran bermakna David Ausubel dengan pembelajaran berbasis masalah adalah dalam hal menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya, dimana untuk pemecahan masalah dari pembelajaran berbasis masalah membutuhkan pengetahuan awal sehingga siswa dapat
melakukan proses berpikir dan mengembangkan keterampilannya dalam hal pemecahan masalah.28
2) Teori belajar Vigotsky
Perkembangan intelektual seseorang terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang serta ketika individu berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu berusaha mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya untuk kemudian membangun pengertian baru. Vigotsky yakin bahwa terjadinya interaksi sosial dengan teman lain dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Kaitan dengan pembelajaran berbasis masalah adalah dalam hal mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa melalui kegiatan belajar dalam interaksi sosial dengan teman lain.29
3) Teori belajar Jerome S. Bruner
Teori belajar Jerome S. Bruner merupakan teori yang melandasi model pembelajaran berbasis masalah. Bruner menganggap bahwa dalam belajar meliputi tiga proses kognitif yaitu, memperoleh informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Dalam teori
28 Dian Handayani, “Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa di Kelas VIII MTs S. Al-Washliyah Tahun Ajaran 2016/2017” (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2017), 25.
29 Lumbantombing, Pengaruh, 22.
belajarnya, Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan dan kesimpulan tertentu. Teori belajar Bruner ini dikenal dengan teori penemuan (Discovery learning). Dalam teori penemuan ini, bruner membedakan menjadi tiga tahap diantaranya yaitu:
a) Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru
b) Tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan kedalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain.
c) Tahap evaluasi, yaitu tahap untuk mengetahui apakah hasil transformasi yang terletak pada tahap kedua benar atau tidak.
Bruner beranggapan bahwa belajar penemuan sesuai pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya akan memberikan hasil yang paling baik, berusaha sendiri dalam mencari pemecahan masalah serta didukung oleh pengetahuan yang menyertainya, serta menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Bruner menginstruksikan pembelajaran berlangsung secara optimal dimana dalam pembelajaran ini siswa berperan aktif dan mandiri dalam menyelesaikan pemecahan masalah dan memberikan hasil yang
lebih baik dengan pengetahuan dan keterampilan dalam struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.30
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengajari siswa agar memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan pemecahan masalah matematika yang diawali dengan penyajian suatu masalah yang nyata dan kompleks. Adapun Fase atau tahapan dalam pembelajaran berbasis masalah diantaranya yaitu mengorientasikan siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individu/kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.