نا
B. Penyajian Data
6. Meningkatkan jiwa kompetitif dalam berbagai bidang.
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi integral, sehingga diperoleh skor sebagai berikut:
Tabel 4.2
Skor Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas Kontrol
No. Nama Nilai Tes No. Nama Nilai Tes
1 AS 42 16 SR 50
2 AWS 28 17 KR 28
3 AH 56 18 LS 42
4 AI 42 19 LU 56
5 AIL 28 20 MH 47
6 ANS 47 21 MR 47
7 ASY 42 22 MU 28
8 AB 47 23 NNH 56
9 AR 47 24 SU 50
10 AS 50 25 NDS 56
11 DSC 50 26 NZ 56
12 FJ 56 27 RO 56
13 FLB 50 28 SA 28
14 HA 28 29 SF 50
15 IS 56 30 SUB 47
Total Nilai 1366
Tabel 4.3
Statistik Deskriptif Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas Kontrol
Statistik Deskriptif Nilai
Maksimum ( 56
Minimum ( 28
Rata-rata (Mean) 45,53
Varians ( 100,12
Simpangan Baku (s) 10,006 10
Sesuai dengan data yang didapatkan dari hasil posttest kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di kelas kontrol dan data distribusi frekuensi dapat diuraikan sebagai berikut: Nilai rata-rata hitung ( ̅ = 45,53; Standar deviasi = 10; Nilai maksimum = 56; Nilai minimum = 28; dan Rentangan nilai (range)
= 28. Dari nilai rata-rata yang didapat siswa kelas kontrol, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa terletak pada kategori sedang.
2. Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas Eksperimen
Setelah Peneliti menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dalam tahap belajar mengajar, peneliti melaksanakan posttest untuk melihat skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada materi integral, sehingga diperoleh skor pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.4
Skor Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas Eksperimen
No. Nama Nilai Tes No. Nama Nilai Tes
1 AI 70 16 MIH 50
2 AT 80 17 MNR 50
3 DR 70 18 MJF 50
4 EN 59 19 MKA 50
5 FS 70 20 RS 80
6 IA 59 21 SH 70
7 ISP 70 22 SPA 73
8 KHO 59 23 SFR 70
9 MUS 50 24 SN 59
10 NHS 80 25 SR 73
11 NFA 70 26 WW 80
12 NS 70 27 YAR 80
13 NSI 80 28 MZ 59
14 NAP 80 29 SA 59
15 PA 50 30 ZH 59
Total Nilai 1979
Tabel 4.5
Statistik Deskriptif Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas Eksperimen
Statistik Deskriptif Nilai
Maksimum ( 80
Statistik Deskriptif Nilai
Minimum ( 50
Rata-rata (Mean) 65,97 66
Varians ( 119,9
Simpangan Baku (s) 10,95
Sesuai dengan data yang didapatkan dari hasil posttest kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di kelas eksperimen dan data distribusi frekuensi dapat diuraikan seperti berikut: Nilai rata-rata hitung ( ̅ = 66; Standar deviasi = 10,95;
Nilai maksimum = 80; Nilai minimum = 50; dan Rentangan nilai (range) = 30. Berdasarkan nilai rata-rata yang didapat kelas eksperimen, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas eksperimen terletak pada kategori tinggi.
3. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Tiap Indikator Peneliti menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada kelas dengan pembelajaran berbasis masalah dan pada kelas dengan pembelajaran konvensional dari setiap indikatornya, yaitu mengidentifikasi masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah sesuai rencana pada langkah kedua dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh. Setelah perbandingan berdasarkan statistic deskriptif, berikut adalah perbandingan indikator kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Tabel 4.6
Ketercapain Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
No Indikator Skor Ideal
Eksperimen Kontrol
Skor Siswa
̅ % Skor
Siswa
̅ %
1 Mengidentifikasi masalah
16 450 15 93,75 340 11,33 70,63 2 Merencanakan
Penyelesaian
16 371 12,37 77,31 241 8,03 50,19 3 Menyelesaikan
masalah sesuai rencana pada langkah kedua
16 339 11,3 70,63 196 6,53 40,81
4 Memeriksa kembali hasil yang diperoleh
16 115 3,83 23,94 116 3,87 24,19
Total 64 1275 42,5 66,41 893 29,7 46,41 Pencapaian indikator kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah dilakukannya posttest terlihat bahwa pencapaian setiap indikator kelas eksperimen lebih besar dibanding kelas kontrol. Pada indikator mengidentifikasi masalah persentase ketercapaian indikator kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol yaitu 93,75%, sedangkan pada kelas kontrol sebesar 70,63%. Pada kelas eksperimen pencapaian pada indikator merencanakan penyelesaian diperoleh persentase 77,31% dan pada kelas kontrol didapatkan persentase sebesar 50,19%. Pada indikator menyelesaikan masalah sesuai rencana pada langkah kedua didapatkan persentase 70,63%, pada kelas eksperimen dan 40,81% pada kelas kontrol.
Sedangkan pada indikator memeriksa kembali hasil yang diperoleh merupakan indikator kemampuan pemecahan masalah matematis
dengan persentase paling rendah, dimana diperoleh 23,94% pada kelas eksperimen dan 24,19% pada kelas kontrol.
C. Analisis dan Pengujian Hipotesis 1. Uji Prasyarat Analisis
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah suatu data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini merupakan uji prasyarat sebelum dilakukan pengujian hipotesis. Model regresi dikatakan normal jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Disini data yang akan di uji yaitu hasil nilai Posttest kelas kontrol dan Posttest kelas eksperimen 1) Uji Normalitas Nilai Posttest Kelas Kontrol
Dari perhitungan menggunakan program IBM SPSS Statistic 22 pada lampiran didapatkan hasil sebagai berikut
Gambar 4.1
Uji Normalitas Nilai Posttest Kelas Kontrol
Sesuai dengan gambar didapatkan Normal P-Plot Off Post Test Kontrol bahwa data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa data berdistribusi normal. Oleh karena itu, asumsi atau persyaratan normalitas dalam model regresi dikatakan sudah terpenuhi.
2) Uji Normalitas Nilai Posttest Kelas Eksperimen
Dari perhitungan menggunakan program IBM SPSS Statistic 22 pada lampiran didapatkan hasil berikut:
Gambar 4.2
Uji Normalitas Nilai Posttest Kelas Eksperimen
Sesuai dengan gambar didapatkan Normal P-Plot Off Post Test Eksperimen bahwa data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa data berdistribusi normal. Oleh
karena itu, asumsi atau persyaratan normalitas dalam model regresi dikatakan sudah terpenuhi.
b. Uji Homogenitas
Uji prasyarat yang dilakukan pada tahap selanjutnya adalah uji homogenitas terhadap kedua kelompok. Dari perhitungan menggunakan program IBM SPSS Statistic 22 dapat dilihat output dari uji tersebut sebagai berikut:
Tabel 4.7 Uji Homogenitas
Levene's Test for Equality of Variances
F Sig.
Hasil Belajar Equal variances assumed 1.452 .233 Equal variances not assumed
Hasil uji homogenitas pada taraf signifikasi menunjukkan data nilai hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas PBL dan kelas biasa adalah homogen. Hal ini dapat dilihat bahwa nilai signifikasi lebih besar daripada harga , artinya diterima dan ditolak atau varians kedua kelompok sama atau homogen.
2. Pengujian Hipotesis
Pada tahap sebelumnya sudah dilakukan uji normalitas yang mana dari uji tersebut diketahui bahwa sampel kelas eksperimen dan sampel kelas kontrol berdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen, maka dilksanakan uji hipotesis. Dalam penelitian ini uji hipotesis dilaksnakan dengan uji t yaitu membandingkan rata-rata
hasil posttest kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menurut Polya di SMA As- Saifiyah Syafi’iyah Kelas XI Tahun Ajaran 2021/2022.
Adapun hasil uji hipotesis dengan uji t dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 diperoleh output SPSS sebagai berikut:
Tabel 4.8 Output SPSS
Levene's Test for
Equality of Variances t-test for Equality of Means
F Sig. T Df
Mean Difference
Std. Error Difference Hasil
Belajar
Equal variances
assumed 1.452 .233 7.545 58 20.433 2.708
Equal variances
not assumed 7.545 57.535 20.433 2.708
Sesuai dengan hasil uji pada tabel output SPSS diatas didapatkan bahwa hasil uji hipotesis taraf signifikasi 0,05 diperoleh
. Untuk Nilai didapat dari gambar dibawah ini:
Gambar 4.3 Nilai T tabel
Untuk mencari nilai , yang pertama kita cari dulu nilai df nya.
Nilai df didapat dengan cara df = N-2, pada penelitian ini N nya adalah 60, sehingga df = 60 – 2 = 58. Untuk nilai Pr (Probabilita), yaitu tingkat atau taraf signifikansi yang digunakan peneliti adalah 5%
atau 0,05. Jadi, dapat kita lihat pada gambar, bahwa untuk nilai df 58 dan signifikansi 5% (0,05), maka nilai nya yaitu 2,0017 . Sesuai dengan uraian-uraian tersebut, diperoleh bahwa atau maka diterima dan ditolak.
Sehingga didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa melalui model pembelajaran berbasis masalah dengan kemampuan pemecahan masalah matenatis siswa melalui model pembelajaran biasa. Hal ini juga dapat kita lihat dari rata-rata nilai posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol yang menunjukkan bahwa atau rata-rata nilai posttest kelas Eksperimen lebih besar daripada rata-rata nilai posttest kelas kontrol, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menurut Polya di SMA As- Saifiyah Syafi’iyah kelas XI Tahun ajaran 2021/2022.