• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam dokumen prosiding wnpg xi bidang 3 (Halaman 59-62)

BAB 3 BAB 3

E. STRATEGI KE DEPAN

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional maupun daerah hingga perseorangan secara merata di seluruh wilayah Indonesia (UU No.18 Tahun 2012).

Keamanan pangan merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi (UU No.18 Tahun 2012). Penyelenggaraan keamanan pangan dilakukan melalui aspek sanitasi pangan, pengaturan terhadap bahan tambahan pangan, produk pangan rekayasa genetik, iradiasi pangan, kemasan pangan, pemberian jaminan keamanan pangan dan mutu pangan, serta jaminan produk halal bagi yang dipersyaratkan.

1.2 Permasalahan

Adanya kemajuan teknologi dan entry barrier yang semakin tipis dalam perdagangan internasional, membuat produk-produk tersebut dapat menyebar ke berbagai negara dengan jaringan distribusi yang sangat luas dan mampu menjangkau seluruh strata masyarakat dalam waktu yang amat singkat. Konsumsi masyarakat terhadap berbagai macam produk terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat termasuk pola konsumsinya. Sementara itu, pengetahuan masyarakat masih belum memadai untuk dapat memilih dan menggunakan produk secara tepat, benar dan aman. Di lain pihak iklan dan promosi secara gencar mendorong konsumen untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan seringkali tidak rasional. Maka dari itu, peran pemerintah sangat diperlukan agar konsumen mendapatkan pangan yang aman untuk dikonsumsi.

* Disampaikan pada kegiatan Focos Group Discussion (FGD) I Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI Bidang 3 Peningkatan Penjaminan Keamanan dan Mutu Pangan, 8 Maret 2018 di Gedung 2 BPPT - Jakarta

Di sisi lain, dengan adanya perkembangan teknologi, era globalisasi dan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN, pelaku usaha Indonesia juga dituntut harus mampu bersaing, utamanya pasar di Indonesia. Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), termasuk UMKM di bidang pangan, merupakan barometer perekonomian nasional Indonesia. Oleh karena itu daya saing pelaku usaha pangan Indonesia, terutama UMKM, juga harus ditingkatkan, terutama untuk penerapan Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan.

Dalam rangka penyelenggaraan keamanan pangan, perlu adanya proses pengendalian keamanan yang mampu memastikan bahwa seluruh rangkaian proses sudah sesuai dengan ketentuan, dan produk yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi. Proses pengendalian keamanan pangan pada rantai pangan tidak sederhana. Upaya penyelenggaraan keamanan pangan dilakukan dengan 3 hal, yaitu dengan melakukan pengendalian proses mulai dari ladang hingga sampai ke tangan konsumen, bekerja sama dengan berbagai instansi dalam rangka penyelenggaraan keamanan pangan dan memberikan pemahaman bersama bahwa diperlukan tanggung jawab keseluruhan komponen yang berperan dalam proses pengadaan pangan.

UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah menyatakan bahwa penyelenggaraan urusannya pemerintah pusat di daerah dibantu oleh pemerintah daerah termasuk pada bidang kesehatan. Kesehatan menurut pasal 12 ayat 1, merupakan salah satu dari 6 urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Pembagian urusan pemerintahan bidang kesehatan terkait sediaan farmasi, alat kesehatan serta makanan dan minuman adalah sebagai berikut:

Pemerintah Pusat Daerah Kabupaten/Kota

Pengawasan pre-market obat, obat tradisional, kosmetika, alat kesehatan, PKRT dan makanan minuman

Penerbitan izin produksi makanan dan minuman pada industri rumah tangga

Pengawasan post-market obat, obat tradisional, kosmetika, alat kesehatan, PKRT dan makanan minuman

Pengawasan post-market produk makanan dan minuman pada industri rumah tangga

Berdasarkan pasal 12 ayat 2, pangan adalah salah satu dari 18 urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar. Pembagian urusan pemerintah bidang pangan terkait keamanan pangan adalah sebagai berikut:

Pemerintah pusat Daerah Provinsi Daerah Kab/Kota Pengawasan keamanan

pangan segar distribusi lintas negara dan distribusi daerah provinsi

Pengawasan

keamanan pangan segar distribusi lintas daerah kabupaten/kota

Pengawasan keamanan pangan segar

Keamanan pangan dalam kebijakan pembangunan kesehatan di Indonesia sesuai dengan UU No.17 tahun 2007 tentang RPJPN tahun 2005-2025 yang menyatakan bahwa pembangunan dan perbaikan gizi lintas sektor di sepanjang

rantai pangan untuk gizi yang cukup, seimbang serta terjamin keamanannya. Hal ini sesuai dengan Perpres No. 2 tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019, mengenai arahan kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan No:9 yaitu meningkatkan pengawasan obat dan makanan.

Penyelenggaraan keamanan pangan di Indonesia dilakukan melalui peningkatan/penguatan:

1. Pengawasan berbasis risiko 2. SDM pengawas

3. Kemitraan dengan pemangku kepentingan 4. Kemandirian masyarakat dan pelaku usaha 5. Kapasitas dan inovasi pelaku usaha 6. Kapasitas dan kapabilitas pengujian

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional menetapkan lima prioritas nasional dalam rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah (PKP) tahun 2019. Prioritas Nasional (PN) tersebut sebagai berikut:

1. Pembangunan Manusia melalui Pengurangan Kemiskinan dan Peningkatan Pelayanan Dasar;

2. Pengurangan Kesenjangan Antarwilayah melalui Penguatan Konektivitas dan Kemaritiman;

3. Peningkatan Nilai Tambah Ekonomi melalui Pertanian, Industri, dan Jasa Produktif;

4. Pemantapan Ketahanan Energi, Pangan dan Sumber Daya Air;

5. Stabilitas Keamanan Nasional dan Kesuksesan Pemilihan Umum.

Prioritas Nasional (PN) No.1 memiliki beberapa program prioritas, salah satunya adalah peningkatan pelayanan kesehatan dan gizi masyarakat dengan kegiatan prioritas sebagai berikut:

1. Peningkatan kesehatan ibu, anak, keluarga berencana, dan kesehatan reproduksi

Kegiatan ini memiliki proyek prioritas sebagai berikut:

a. Penurunan kematian ibu dan anak di fasyankes

b. Peningkatan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi c. Imunisasi dasar lengkap

2. Percepatan penurunan Stunting

Kegiatan ini memiliki proyek prioritas sebagai berikut:

a. Peningkatan pendidikan gizi b. Penguatan surveilans gizi c. Pemberian suplementasi gizi

d. Penyediaan akses air bersih dan sanitasi layak

3. Penguatan “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat” dan pengendalian penyakit Kegiatan ini memiliki proyek prioritas sebagai berikut:

a. Peningkatan kualitas lingkungan sehat b. Peningkatan konsumsi pangan sehat c. Peningkatan aktivitas fisik

d. Pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular e. Pencegahan dan pengendalian penyakit menular

4. Peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan Kegiatan ini memiliki proyek prioritas sebagai berikut:

a. Penyediaan fasilitas kesehatan dasar dan rujukan berkualitas b. Pemenuhan dan pemerataan SDM Kesehatan

c. Penyediaan dan peningkatan mutu farmasi dan alat kesehatan 5. Peningkatan efektivitas pengawasan obat dan makanan

Kegiatan ini memiliki proyek prioritas sebagai berikut:

a. Penguatan pengawasan obat dan makanan b. Penegakan hukum pengawasan obat dan makanan

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Keadaan tubuh penderita ditandai dengan keadaan tubuh yang pendek dan sangat pendek. Permasalahan ini harus ditangani dengan sigap oleh pemerintah, mengingat banyak anak-anak di berbagai daerah di Indonesia yang mengalami status gizi buruk.

Badan POM sebagai instansi yang memiliki tanggung jawab dibidang pengawasan obat dan makanan sangat terkait dengan isu-isu kebijakan terkait pangan dan gizi. BPOM melaksanakan pengawasan pangan full spectrum yang komprehensif dan sistematik, mulai dari standardisasi, evaluasi pre-market, hingga pengawasan post-market dengan cara pengambilan sampel dan pengujian laboratorium produk obat dan makanan yang beredar, inspeksi cara produksi dan distribusi dalam rangka pengawasan implementasi Cara Produksi dan Cara Distribusi yang baik, pengawasan iklan dan penandaan, serta investigasi awal dan penyidikan berbagai kasus tindak pidana bidang obat dan makanan yang disertai dengan upaya penegakan hukum dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam dokumen prosiding wnpg xi bidang 3 (Halaman 59-62)