BAB II KAJIAN TEORITIS DAN GAMBARAN UMUM
2.8. PENDIDIKAN LUAR BIASA
Pembahasan mengenai PLB di Indonesia selalu terkait dengan pendidikan bagi peserta didik yang berkelainan, meskipun konsep luar biasa sesungguhnya tidak hanya berkenaan dengan penyandang kelainan semata, tetapi juga yang dikaruniai keunggulan. Oleh karena kekeliruan persepsi mengenai peserta didik luar biasa maka PLB menjadi identik dengan pendidikan bagi peserta didik yang menyandang cacat, dan SLB menjadi identik dengan sekolah khusus bagi peserta didik cacat atau yang menyandang ketunaan. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 1991 Tentang PLB, di Indonesia memiliki 5 jenis SLB, yaitu SLB-A untuk tunanetra, SLB-B untuk tunarungu, SLB-C untuk tunagrahita, SLB-D untuk tunadaksa, dan SLB-E untuk tunalaras.
Penambahan SLB oleh pemerintah, apalagi untuk saat ini sangat tidak mungkin, karena biayanya yang mahal jika dibandingkan dengan biaya untuk mengadakan sekolah reguler. Belum lagi kalau pendidikannya dilaksanakan dengan pola asrama, hal ini biaya untuk kelangsungan operasionalnya menjadi sangat tinggi. Sistem pendidikan segregatif (SLB) pada dasarnya sangat tidak membantu perkembangan sosial dan emosi peserta didik, sehingga tetap sulit bagi anak luar biasa yang sudah tamat dari SLB untuk dapat diterima di masyarakat. Hal ini merupakan akibat dari adanya penyederhanaan strategi pembelajaran yang tidak memperhitungkan bahwa pergaulan antar peserta didik dalam komunitasnya merupakan bentuk proses pembelajaran natural yang seharusnya tidak boleh diabaikan.
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
PLB, pendidikan khusus, dan ortopedagogik memiliki makna yang sama, yaitu pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus anak dengan kebutuhan khusus. Dalam perkembangan selanjutnya, konsep PLB tidak terbatas pada pendidikan bagi penyandang cacat tetapi juga bagi anak berkelainan pada umumnya, termasuk anak gifted and talented.
Di Indonesia sering terjadi kekacauan dalam penggunaan konsep PLB. Konsep PLB sering disalah artikan dengan konsep SLB; seolah- olah PLB identik dengan SLB. Kekacauan ini terjadi karena kekeliruan persepsi tentang pendidikan (education) yang sering dipandang identik dengan persekolahan (schooling). PLB merupakan suatu bentuk layanan pendidikan bagi peserta didik luar biasa, baik yang diselenggarakan di sekolah reguler, SLB, di dalam keluarga, maupun di luar sekolah seperti di rumah sakit, di kelompok bermain, di TK, atau di tempat penitipan anak. SLB hanya suatu sekolah khusus yang memberikan layanan PLB, yang biasanya khusus untuk jenis anak dengan kebutuhan khusus tertentu.
Kecenderungan baru PLB di Indonesia adalah pendidikan yang inklusif. Persepsi orang mengenai pendidikan inklusif bermacam- macam. Konsep pendidikan inklusif pada mulanya merupakan antitesis dari penyelenggaraan PLB yang segregatif dan eksklusif. Dalam konsep PLB, pendidikan inklusif diartikan sebagai penggabungan penyelenggaraan PLB dan pendidikan reguler dalam satu sistem pendidikan yang dipersatukan.
Dalam sistem pendidikan yang segregatif eksklusif, anak dikelompokkan ke dalam dua kategori, normal dan berkelainan.
Anak berkelainan terbagi lagi ke dalam dua kelompok kategori, yang menyandang ketunaan dan yang dikaruniai keunggulan. Sebagai konsekuensi yang dikotomis semacam itu maka anak normal masuk ke sekolah reguler sedangkan anak berkelainan yang tergolong penyandang ketunaan (tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan tunalaras) masuk ke SLB. Adapun anak berkelainan yang tergolong unggul dimasukkan ke sekolah unggul atau kelas unggulan.
Dengan adanya pergeseran paradigma pendidikan khusus, dari dominasi segregasi ke inklusif, bukan berarti SLB yang ada saat ini ditiadakan, melainkan SLB harus merubah visinya. Pertama, keluaran SLB memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan berintegrasi dengan masyarakat pada umumnya. Kedua, SLB di samping tetap melaksanakan tugas pokok dan fungsinya perlu dikembangkan menjadi pusat sumber bagi sekolah penyelenggara inklusif di sekitarnya.
Selama kurun waktu tahun 2016-2019, perkembangan pembangunan pendidikan luar biasa di Provinsi Sulawesi Tengah sangat berkembang dengan baik. Hal ini ditunjukan dengan semakin bertambahnya jumlah SLB, siswa rombongan beajaar dan jumlah ruang kelas yang disediakan.
Terlihat pada table di bawah ini bahwa setiap tahun dari aspek penambahan ruang kelas terus bertambah dan dibangun. Selain itu, jumlah SLB yang dibangun bertambah setiap tahun. Ini menunjukan kmitemen pemerintah daerah untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Sulawesi Tengah sudah baik. Namun demikian, apabila dilihat dari kondisi tenaga pendidik dan pengelolaan SLB, terlihat masih belum optimal dan masih banyak pendidik di SLB yang belum berlatar belakang pendidikan luar biasa. Akibatnya, pada proses pembelajaran yang kurang optimal.
Tabel 2.38. Capaian dan Keadaan PLB di Sulteng 2016-2019
No. Tahun
2016/2017 2017/2018 2018/2019 2019/2020
1 Sekolah 22 23 25 28
2 Siswa baru 312 328 258 304
3 Siswa 1276 1393 1376 1424
4 Mengulang 42 31 30
5 Putus sekolah - 4 14 50
6 Lulusan 22 68 71
7 Kepala Sekolah + guru 235 241 269 260
8 Tenaga kependidikan 35 44 45 43
9 Rombongan belajar 339 309 300 333
10 Ruang kelas 220 268 268 350
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
Gambar 2.49. Jumlah Sekolah Luar Biasa di Sulawesi Tengah Tahun 2016- 2020
Sumber: Statitisk PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
Gambar di atas menunjukan bahwa jumlah sekolah luar biasa di Sulawesi Tengah pada tahun 2017 sampai tahun 2019 tidak bertambah sekolah negeri, tetapi untuk sekolah swasta ada penambahan 2 sekolah pada tahun 2017 -2018. Hal ini menunjukan bahwa pasrtisipasi pihak swasta dalam membangun SLB di Sulawesi tengah sudah baik.
Pada gambar di bawah ini, terlihat bahwa jumlah siswa baru SLB di Sulawesi tengah dari tahun 2016- 2019 mengalami fl uktuatif yang cukup tinggi. Adanya fl uktuatif siswa baru SLB ini dapat diduga karena masih minimnya pemahaman orangtua terhadap anak berkebutuhan khusus untuk bersekolah. Apalagi banyak ABK yang jauh dari lokasi SLB di Sulawesi Tengah.
Gambar 2.50. Jumlah Siswa Baru SLB di Sulawesi Tengah Tahun 2016-2019
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
Gambar di bawah ini menunjukan bahwa jumlah siswa baru di jenjang sekolah dasar masih banyak dibandingkan dengan jumlah siswa SLB di jenajnagn SMP dan SM. Hal ini menunjukan bahwa anaka berkebutuhan khusus usia di bawah 12 tahun masih banyak dan sudah memasuki usia sekolah. Namun demikian, terlihat adanya fl uktuatif kepesertaan di SLB, karena diduga keengganan orangtua untuk menyekolahkan anak ke SLB yang ada. Menjadi tantangan bahwa akses ke SLB di kabuoaten dan kota di Sulawesi Tengah untuk dapat menampung anak berkebutuhan khusus yang terdata.
Gambar 2.51. Jumlah Siswa Baru PLB di Sulawesi Tengah Tahun 2016-2019
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
Gambar di bawah ini, menunjukan bahwa jumlah siswa yang bersekolah di SLB yang ada di Sulawesi tengah untuk jenjang usia SD dan SMP masih tergolong banyak. Untuk jenjang usia SD, siswa yang terdaft ar sebagai siswa SLB mengalami perkembangan dari tahun 2016 yang berjumlah 1276 orang menjadi 1424 orang siswa pada tahun 2019.
Sedangkan untuk siswa SLB usia SMP dari 940 orang pada tahun 2016 menjadi 1102 pada tahun 2017 dan 1005 pada tahun 2018 dan menurun kembali menjadi 958 orang pad tahun 2019.
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
Gambar 2.52. Jumlah Siswa PLB di Sulawesi Tengah Tahun 2016-2019
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
Pada gambar di bawah ini, menunjukan bahwa jumlah siswa SLB di Sulawesi tengah dari tahun 2016 – 2019, masih didominasi oleh SLB negeri apabila dibandingkan dengan SLB swasta. Dapat diduga bahwa kebanyakan orangtua ABK lebih menyukai mendaft arkan anaknya ke SLB negeri dibandingkan ke SLB swasta karena faktor biaya. SLB negeri yang lebih lengkap fasilitasnya dibandingkan dengan SLB swasta menjadi pertimbangan lainnya dari orangtua memilih SLB negeri.
Gambar 2.53. Jumlah Siswa SLB di Sulawesi Tengah Tahun 2016-2019
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
Tabel di bawah ini menunjukan bawa jumlah siswa berdasarkan jenis ketunaan yang terdaftar sebagai siswa di SLB di Sulawesi Tengah sudah mulai dapat terlayani dengan baik dengan lebih terfokus pada layanan untuk mendorong kemandirian siswa dalam beragam ketunaan yang diiliki. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah daerah telah memberikan upaya yang baik dalam memberikan layanan kepada anak berkebutuhan khusus di SLB yang ada di Sulawsi Tengah. Jumlah siswa yang terdaftar yang fluktuatif tiap tahunnya menunjukan bahwa aspek pendataan anak berkebutuhan khususn di Sulawesi Tengah menjadi penting untuk terus dilakukan agar dapat terdata dengan valid sehingga dapat bersekolah dengan baik di SLB.
Tabel 2.39. Jenis Ketunaan Siswa SLB di Sulawesi Tengah Tahun 2016-2019
Tahun
2016/2017 2017/2018 2018/2019 2019/2020
Tunanetra
Jumlah 52 42 58 65
Negeri 41 42 44 48
Swasta 11 14 17
Tunarungu
Jumlah 227 225 251 288
Negeri 154 204 178 202
Swasta 73 21 73 86
Tuna grahita
Jumlah 704 321 699 736
Negeri 522 249 492 490
Swasta 182 72 207 246
Tunadaksa
Jumlah 111 39 112 106
Negeri 87 34 88 77
Swasta 24 5 24 29
Autis
Jumlah 101 6 4 141
Negeri 70 6 3 84
Swasta 31 1 57
Tuna ganda
Jumlah 81 158 252 88
Negeri 66 124 200 57
Swasta 15 34 52 31
Jumlah
Jumlah 1276 791 1376 1424
Negeri 940 659 1005 958
Swasta 336 132 371 466
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
Pada gambar di bawah ini menunjukan bahwa jumlah tenaga pendidik (kepala sekolah dan guru) SLB di Provinsi Sulawesi Tengah antara guru di SLB negeri dan guru di SLB swasta, masih terjadi perbedaan jumlah yang signifi kan. Terlihat bahwa guru SLB di SLB negeri lebih banyak dari SLB swasta. Hal ini mengindikasikan bahwa perkembangan SLB swasta yang ada tiap tahunnya tidak diiringi dengan rekrutmen tenaga pendidik. Justru masih banyak guru SLB negeri yang ikut membantu menndidik di SLB swasta yang ada.
Gambar 2.54. Jumlah Kepala Sekolah dan Guru SLB di Sulawesi Tengah Tahun 2016-2019
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
Gambar di bawah ini menunjukan bahwa status Guru SLB di Sulawesi tengah tahun 2016-2019 sangat variatif, meskipun guru SLB berstatus PNS masih lebih banyak dibandingkan dengan status guru yayan maupun guru tidak tetap. Hal ini dapat diduga bahwa untyuk merekrut guru oleh yayasan atau memberikan honor bagi guru tidak tetap masih mengalami kesulitan oleh SLB swasta. Selain itu, dapat diduga masih kesulitan dirasakan oleh SLB untuk merekrut guru SLB yang tetap, karena latar belakang PLB yang minim di Sulawesi tengah.
Gambar 2.55. Status Guru SLB di Sulawesi Tengah Tahun 2016-2019
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
Gambar di bawah ini menunjukan bahwa status kepegawaian guru SLB di Sulawesi Tengah masih didominasi oleh guru Non PNS. Hal ini memang diakui bahwa untuk menjadi guru SLB berstatus PNS sangat sulit di Sulawesi tengah. Hal ini karena pola rekrutmen baru sebagai guru SLB masih terkendala dengan minat untuk mengabdi di SLB masih manim, karena umumnya guru SLB yang tersedia berasal dari wilayah Sulawesi Tengah. Sedangkan, guru SLB yang PNS umumnya sudah memiliki golongan pangkat III dan IV sudah lebih banyak. Ini artinya para guru SLB telah memiliki pengalaman mengabdi sebagai PNS yang sudah lumayan lama.
Gambar 2.56. Status Kepegawaian Pendidik SLB di Sulawesi Tengah Tahun 2016-2019
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
Gambar di bawah ini menunjukan bahwa jumlah pendidika di SLB yang ada di Sulawesi tengah baik di SLB negeri maupun swasta yang berijasah sarjana dan pascasarajan lebih banyak dibandingkan dengan guru SLB yang belum sarjana. Ini artinya kemampuan intelektual guru SLB yang ada telah memadai, meskipun belum tentu berlatar belakang pendidikan PLB. Oleh karena itu, akna lebih baik jika terus dilakukan pembinaan melalui pelatihan-pelatihan bagi guru SLB dalam proses pembelajaran di SLB terbaru agar tidak ketinggalan dalam mendorong potensi siswa di SLB.
Gambar 2.57. Pendidik SLB Berdasarkan Ijasah Tertinggi di Sulawesi Tengah Tahun 2016 - 2019
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)
Gambar di bawah ini menunjukan bahwa guru SLB di Sulawesi Tengah dari tahun 2016 – 2019 pada umumnya berada pada kategori usia produktif. Untuk guru yang berusia dibawah 3o tahun setiap tahunnya meningkat. Pada tahun 2016 guru SLB yang berusia dibawah 30 tahun berjumlah 51 orang, bertambah menjadi 64 orang pada tahun 2019.
Demikian pula guru SLB yang berusia 51-55 tahun pada tahun 2016 berjumlah 27 orang menjadi 58 orang pada tahun 2019. Dilihat dari usia, guru SLB yang berusai lebih dari 56 tahun pun semakin bertambah setiap tahun nya. Pada tahun 2016 ada 4 orang yang berusia lebih dari 56 tahun dan pada tahun 2019 terdapat 24 orang. Hal ini berimplikasi terhadap pentingnya rekrutmen baru guru SLB agar yang pension akan segera tergantikan dengan guru SLB yang baru.
Gambar 2.58. Jumlah Guru SLB Berdasarkan Usia di Sulawesi Tengah Tahun 2016-2019
Sumber: Statistik PLB Kemendikbud, 2016-2019 (diolah kembali)