BAB II KAJIAN TEORITIS DAN GAMBARAN UMUM
2.7. PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
d. Rasio dosen dan mahasiswa
Rasio jumlah dosen terhadap jumlah mahasiswa semakin meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini menunjukan bahwa jumlah mahasiswa meningkat cukup besar, namun penambahan jumlah dosen masih rendah. Rasio dosen dan mahasiswa pada tahun 2015 sebesar 16,56 dan hingga tahun 2019 sebesar 24,19. Data terkait dijelaskan sebagai berikut.
Tabel 2.19. Rasio Dosen dan Mahasiswa Pendidikan Tinggi Sulawesi Tengah Tahun 2015-2019
Uraian Tahun
2015 2016 2017 2018 2019
Jumlah Dosen 4.275 4.535 3.312 3.858 3.541
Jumlah Mahasiswa 70.805 69.046 95.064 89.665 85.650
Rasio 16,56 15,23 28,70 23,24 24,19
Sumber: Kemendikbud, 2020
sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (UU Nomor 20 tahun 2003 pasal 26 ayat 5).
Ditinjau dari segi pelayanan, sasaran PLS adalah melayani anak usia pra- sekolah (0-6 tahun), anak usia sekolah dasar (7-12 tahun), usia pendidikan menengah (13-18 tahun), dan perguruan tinggi (19-24 tahun). Ditinjau dari segi sasaran khusus, sasaran PLS adalah mendidik anak terlantar, anak yatim-piatu, anak korban narkoba, WTS, anak cacat mental ataupun cacat tubuh. Ditinjau dari segi pranata adalah menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di lingkungan keluarga, pendidikan perluasan wawasan desa dan pendidikan keterampilan.
Ditinjau dari segi jenis kelamin, sasaran PLS antara lain adalah membantu masyarakat melalui program PKK, KB, perawatan bayi, peningkatan gizi keluarga, pengetahuan rumah tangga dan penjagaan lingkungan sehat. Ditinjau dari segi sistem pengajaran, sasaran PLS adalah sebagai penyelenggara dan pelaksana program kelompok, organisasi dan lembaga pendidikan; program kesenian tradisional, ataupun kesenian modern lainnya yaitu menjadi fasilitator bahkan turut serta dalam program keagamaan, seperti mengisi pengajaran di majelis taklim, di pondok pesantren dan bahkan di beberapa tempat kursus. Sasaran PLS ditinjau dari segi pelembagaan yaitu kemitraan atau bermitra dengan berbagai pihak penyelenggara program pemberdayaan masyarakat berkoordinasi dengan desa atau pelaksanaan program pembangunan.
Pendidikan luar sekolah memiliki fungsi dalam kaitan dengan pendidikan sekolah, dan dalam kaitan dengan dunia kerja serta kehidupan. Dalam kaitan dengan kegiatan pendidikan sekolah, fungsi pendidikan luar sekolah adalah sebagai subtitusi, komplemen, dan suplemen. Dalam kaitan dengan dunia kerja, pendidikan luar sekolah berfungsi sebagai kegiatan yang menjebatani seseorang masuk kedunia kerja. Sedangkan dalam kaitan dengan kehidupan, pendidikan luar sekolah berfungsi sebagai wahana untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan seseorang.
Fungsi pendidikan luar sekolah sebagai subtitusi pendidikan sekolah. Subtitusi atau pengganti disini mengandung makna bahwa
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
pendidikan luar sekolah sepenuhnya menggantikan pendidikan sekolah bagi peserta didik yang karena berbagai alasan tidak bisa menempuh pendidikan sekolah. Materi pelajaran yang dberikan adalah sama seperti yang diberikan di pendidikan sekolah. Contohnya adalah pendidikan kesetaraan, seperti Paket A setara dengan SD yang disajikan untuk anak usia 7 – 12 tahun yang tidak memiliki kesempatan masuk SD. Paket B setara dengan SLTP bagi anak usia 13 – 15 tahun, dan Paket C setara SMU bagi remaja usia SMU. Setelah peserta didik menamatkan studinya dan lulus ujian akhir, mereka memperoleh ijazah yang setara (SD, SLTP, atau SMU).
Fungsi pendidikan luar sekolah sebagai komplemen pendidikan sekolah. Komplemen berarti pelengkap. Pendidikan luar sekolah sebagai komplemen adalah pendidikan yang materinya melengkapi apa yang diperoleh di sekolah. Mengapa materi pendidikan di sekolah masih harus dilengkapi? Pertama, karena tidak semua hal yang dibutuhkan peserta didik dalam menempuh perkembangan fisik dan psikisnya dapat dituangkan dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, jalur pendidikan luar sekolah merupakan wahana paling tepat untuk mengisi kebutuhan mereka. Kedua, memang ada kegiatan-kegiatan atau pengalaman belajar tertentu yang tidak biasa diajarkan di sekolah, seperti misalnya olah raga prestasi, belajar bahasa asing di SD, dan sebagainya.
Untuk pemenuhan kebutuhan belajar seperti itu, pendidikan luar sekolah merupakan saluran yang tepat. Bentuk-bentuk pendidikan luar sekolah yang berfungsi sebagai komplemen pendidikan sekolah dapat berupa kegiatan yang dilakukan di sekolah, seperti kegiatan ekstra kulikuler (pramuka, latihan drama, seni suara). Atau kegiatan yang dilakukan di luar sekolah. Kegiatan terakhir ini dilakukan oleh lembaga- lembaga pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan masyarakat dalam bentuk berbagai kursus, kelompok belajar, dan sebagainya.
Fungsi pendidikan luar sekolah sebagai suplemen pendidikan sekolah. Pendidikan luar sekolah sebagai suplemen berarti kegiatan pendidikan yang materinya menberikan tambahan terhadap materi yang dipelajari di sekolah. Sasaran populasi pendidikan luar sekolah sebagai suplemen adalah anak-anak, remaja, pemuda, atau orang
dewasa, yang telah menyesuaikan jenjang pendidikan sekolah tertentu (SD sampai dengan perguruan tinggi). Mengapa mereka membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap tertentu sebagai tambahan pendidikan yang diperoleh di sekolah? Pertama, perkembangan ilmu dan teknologi berlangsung sangat cepat, sehingga kurikulum sekolah sering ketinggalan. Oleh karena itu, lulusan pendidikan sekolah perlu menyesuaikan pengetahuan dan keterampilannya dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang terus berkembang. Hal itu dilakukan melalui wahana pendidikan luar sekolah. Kedua, pada umumnya lulusan pendidikan sekolah belum sepenuhnya siap terjun ke dunia kerja. Maka untuk itu lulusan tersebut perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang diminta oleh dunia kerja, melalui pendidikan luar sekolah. Ketiga, proses belajar itu sendiri berlangsung seumur hidup.
Walaupun telah menamatkan pendidikan sekolah samapai jenjang tertinggi, seseorang masih perlu belajar untuk tetap menyelaraskan hidupnya dengan erkembangan dan tuntutan lingkungannya.
Fungsi pendidikan luar sekolah sebagai jembatan memasuki dunia kerja. Di atas telah disinggung bahwa pendidikan luar sekolah berfungsi sebagai suplemen bagi lulusan pendidikan sekolah memasuki dunia kerja. Pendidikan luar sekolah itu berfungsi sebagai jembatan bagi seseorang memasuki dunia kerja. Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan keaksaraannya di jalur pendidikan luar sekolah dan dia belum memiliki pekerjaan, dia memerlukan jenis pendidikan sekolah yang bisa membawanya ke dunia pekerjaan.
Fungsi pendidikan luar sekolah sebagai wahana untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan. Bertahan hidup haruslah melalui pembelajaran. Tidaklah mungkin seseorang bisa mempertahankan hidupnya tanpa belajar mempertahankan hidup. Demikian pula untuk mengembangkan mutu kehidupannya, seseorang harus melakukan proses pembelajaran. Belajar sepanjang hayat merupakan wujud pertahanan hidup dan pengembangan kehidupan. Pendidikan luar sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan dan belajar sepanjang hayat yang amat strategis untuk pengembangan kehidupan seseorang.
Dapatlah dikatakan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
Pada dasarnya, pendidikan merupakan hak yang sangat mendasar bagi manusia. Sebagai hak bagi manusia, maka pendidikan berfungsi untuk mengembangkan dan menjamin kelangsungan hidup suatu bangsa atau negara. Dalam konteks ini pendidikan berfungsi untuk pembebasan (kemerdekaan) manusia dari kebodohan, ketertinggalan, dan eksploitasi. Dengan pendidikan dapat mengembangkan kemampuan, mutu, dan martabat kehidupan suatu bangsa. Konsep inilah yang kemudian melahirkan konsep pendidikan untuk semua (education for all). Karakteristik PLS meliputi tujuan berorientasi keterampilan, waktu penyelenggaraan singkat, metote partisipatif, penggunaan sumber-sumber lokal.
PKBM merupakan tempat belajar yang dibentuk dari, oleh, dan untuk masyarakat dalam rangka usaha untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, hobi, dan bakat warga masyarakat.
PKBM bertitik tolak dari kebermaknaan dan kebermanfaatan program bagi warga belajar dengan menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada di lingkungannya. Melalui PKBM diharapkan terjadi kegiatan pembelajaran dalam masyarakat dengan memanfaatkan sarana, prasarana, dan potensi yang ada di sekitar lingkungan masyarakat, agar masyarakat memiliki kemampuan dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan tarap hidupnya. Program pembelajaran yang dapat dilaksanakan di PKBM, diantaranya Kejar Paket A, Kejar Paket B, Kejar Paket C, KBU, PAUD, Kelompok Pemuda Produktif.
Satuan pendidikan yang sejenis adalah satuan yang tidak termasuk pada luar satuan yang sudah dijelaskan di atas. Satuan lainnya di antaranya pesantren, sanggar seni, TKA/TPA.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah pendidikan yang ditujukan bagi anak usia dini (0-6 tahun) yang dilakukan pemberian berbagai rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Secara umum dari program PAUD adalah memberikan dukungan bagi kelangsungan hidup dan tumbuh kembangnya anak usia dini serta meningkatkan
pengetahuan,keterampilan dan kesadaran orang tua dan masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini.
Pendidikan keaksaraan yang dikembangkan saat ini adalah program keaksaraan fungsional yang pada dasarnya merupakan suatu pengembangan dari program keaksaraan sebelumnya.
Program keaksaraan fungsional pada dasarnya memiliki tujuan:
(a) Meningkatkan keterampilan membaca, menulis, berhitung dan juga keterampilan berbicara, berpikir, mendengar dan berbuat; (b) Memecahkan masalah kehidupan warga belajar melalui kebiasaannya dalam, menulis, berhitung dan berbuat; (c) Menemukan jalan untuk mendapatkan sumber-sumber kehidupan sehari-hari warga belajar;
(d) Meningkatkan keberanian warga masyarakat untuk berhubungan dengan lembaga yang berkaitan dengan kebutuhan belajarnya; (e) Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap pembaharuan agar dapat berpartisipasi dalam perubahan sosial, ekonomi dan kebudayaan di masyarakat; (f) meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui keterampilan dan kebudayaan di masyarakat.
Dalam menyukseskan program wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun, pendidikan kesetaraan melalui pendidikan nonformal mendapat perhatian cukup tinggi. Hal ini terjadi karena program wajar dikdas 9 tahun tidak hanya bisa ditangani melalui pendidikan formal saja. Banyak anak usia sekolah yang tidak dapat mengikuti pendidikan karena berbagai alasan, di antaranya tidak ada biaya, harus bekerja membantu orang tua. Mereka terpaksa putus sekolah baik pada tingkat SD, SLTP maupun SLTA. Program kesetaraan yang ada di masyarakat yaitu mencakup: kelompok Belajar (Kejar) Paket A, Kejar Paket B, dan Kejar Paket C. Kejar Paket A yaitu suatu upaya belajar dan bekerja secara sadar dan berencana dalam organisasi kelompok untuk meningkatkan pendidikan warga belajar, sehingga setara dengan Sekolah Dasar melalui Paket A sebagai media/bahan belajarnya.
Kelompok Belajar Paket B diselenggarakan bagi sekumpulan warga belajar untuk memperoleh pendidikan setara SMP. Program Kejar Paket B, yaitu suatu kegiatan membelajarkan warga masyarakat melalui
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
proses belajar dengan menggunakan buku Paket B sebagai sarana belajar utama, yang isinya terdiri atas pendidikan dasar umum dan pendidikan keterampilan untuk mengusahakan mata pencaharian. Sementara itu, Kejar Paket C, yaitu suatu kegiatan membelajarkan warga masyarakat melalui proses belajar yang setara dengan SMA.
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, maka berikut ini dideskripsikan capaian pendidikan luar sekolah di Provinsi Sulawesi Tengah sampai tahun 2019.
Dapat dikemukakan bahwa perkembangan lembaga pendidikan luar sekolah/pendidikan non formal di Sulawesi Tengah telah berkembang dengan sangat baik. Lembaga pendidikan masyarakat (Dikmas) seperti Pusat kegiatan belajar masyaraat (PKBM), sanggar kegiatan belajar (SKB) dan Lembaga Kursus dan pelatihan (LKP), baik yang diinisiasi oleh pemeritah maupun oleh masyarakat telah berkembang dengan baik. Bahkan untuk LKP sebagian besar dikembangkan dan diinisiasi oleh masyakarat dibandingkan oleh pemerintah. Sedangkan SKB pada umumnya dikembangkan oleh pemerintah.
Gambar 2.42. Status Lembaga Pendidikan Masyarakat di Sulawesi Tengah
Sumber: Statistika Pendidikan Kemasyarakatan (Dikmas), Kemdikbud, 2019 (diolah kembali)
Gambar 2.43. Status Kepegawaian Tenaga Pendidik Pendidikan Masyarakat di Sulawesi Tengah
Sumber: Statistika Pendidikan Kemasyarakatan (Dikmas), Kemdikbud, 2019 (diolah kembali)
Gambar di atas menunjukan bahwa jumlah tenaga pendidikan di lembaga pendidikan masyarakat pada PKBM lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan tenaga pendidik di lembaga SKB dan LKP.
Terlihat bahwa tenaga pendidik di LKP lebih banyak dan dominan bukan sebagai PNS (non PNS)
Gambar 2.44. Jumlah Pendidik PLS Berdasarkan Jenis Kelamin di Sulawesi Tengah
Sumber: Statistika Pendidikan Kemasyarakatan (Dikmas), Kemdikbud, 2019 (diolah kembali)
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
Gambar di atas menunjukan bahwa pada pendidikan masyarakat, tenaga pendidik laki laki maupun perempuan tidak jauh berbeda jumlahnya. Hal ini dapat diduga bahwa pelaksanaan pendidikan di masyaraat memang aspek perbedaan gender tidak terlalu menjadi masalah. Hal ini terlihat dari perbandingan jumlah pendidik laki-laki maupun perempuan.
Gambar 2.45. Tenaga Pendidik PNF Berdasarkan Ijazah Tertinggi di Su- lawesi Tengah
Sumber: Statistika Pendidikan Kemasyarakatan (Dikmas), Kemdikbud, 2019 (diolah kembali)
Gambar di atas menunjukan bahwa, perkembangan jumlah pendidik di lembaga pendidikan masyarakat, baik di PKBM, SKB maupun di LKP masih dominan lulusan dibawah sarjana. Hal ini mengindikasikan bahwa tenaga pendidik di pendidikan masyarakat diambil dari warga masyarakat setempat yang berminat mengabdikan sebagai tenaga pendidik secara sukarela.
Tabel 2.20. Jumlah Lembaga PLS di Sulawesi Tengah Tahun 2020
No. Nama Lembaga LKP PKBM SKB
TOTAL
N S JML N S JML N S JML
1 Kab. Banggai
Kepulauan 0 2 2 0 12 12 1 0 1 15
2 Kab. Donggala 0 5 5 0 33 33 2 0 2 40
3 Kab. Poso 0 8 8 0 8 8 1 0 1 17
4 Kab. Banggai 0 20 20 0 15 15 1 0 1 36
5 Kab. Buol 0 7 7 0 6 6 1 0 1 14
6 Kab. Tolitoli 0 5 5 0 10 10 1 0 1 16
7 Kab. Morowali 0 1 1 0 11 11 1 0 1 13
8 Kab. Parigi
Moutong 0 14 14 0 30 30 1 0 1 45
9 Kab. Tojo Una-Una 0 11 11 1 15 16 1 0 1 28
10 Kab. Sigi 0 61 61 1 24 25 1 0 1 87
11 Kab. Banggai Laut 0 3 3 0 8 8 1 0 1 12
12 Kab. Morowali
Utara 0 2 2 0 15 15 0 0 0 17
13 Kota Palu 0 66 66 0 9 9 2 0 2 77
TOTAL 0 205 205 2 196 198 14 0 14 417
Sumber: Kemdikbud, Tahun 2020
Tabel di atas menunjukan bahwa perkembangan dan kondisi lembaga pendidikan masyarakat di tiap-tiap kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah pada tahun 2020, pada lembaga PKBM, SKB dan LKP mengalami perkembangan yang menggembirakan. Inisiatif warga masyarakat dalam mengembangkan pendidikan masyarakat (PLS) berkembang dengan baik. Terlihat bahwa pemerintah sangat dominan mengembangakan dikmas melalui SKB dan PKBM sedangkan masyarakat lebih banyak mengembangkan dikmas melalui LKP dan PKBM.
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
Tabel 2.21. Kondisi Keadaan Lembaga Pendidikan Masyakarat di Sulawesi Tengah Tahun 2019
No Aspek Lembaga Dikmas PKBM SKB LKP
1 Satuan pendidikan 390 175 14 201
2 Warga belajar 23162 15786 2967 4409
3 Kepala sekolah 53 29 4 20
4 Pendidik 668 456 66 146
5 Tenaga kependidikan 14 9 2 3
6 PTK 735 494 72 169
7 Rombongan belajar 1290 671 219 400
8 Ruang kelas 623 398 39 186
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Tabel 2.22. Lembaga Pendidikan Masyarakat di Sulawesi Tengah Tahun 2019/2020
PKBM SKB LKP Lembaga Dikmas
Negeri 1 14 0 15
Swasta 174 0 201 375
Jumlah 175 14 201 390
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Tabel 2.23. Kepemilikan Lembaga Pendidikan Masyarakat di Sulawesi Tengah Tahun 2019/2020
PKBM SKB LKP
Pemda 11 13 10
Yayasan 66 0 35
Lainnya 98 1 156
Jumlah 175 14 201
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Tabel 2.24. Akreditasi Lembaga Pendididikan Kemasyarakatan di Sulawesi Tengah Tahun 2019
Lembaga Dikmas PKBM SKB LKP
Akreditasi A 4 1 0 3
Akreditasi B 23 5 1 17
Akreditasi C 33 11 0 22
Terakreditasi 7 1 0 6
Belum terakreditasi 0 0 0 0
Tidak terakreditasi 323 157 13 153
Jumlah 390 175 14 201
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Tabel di atas menunjukan bahwa masih banyak lembaga dikmas (PNF) yang tidak terakreditasi, bahkan masih dominan dari yang ada. Hal ini mengindikasikan bahwa tatakelola PNF masih belum terkelola dengan baik. Oleh karena itu, akan menjadi penting untuk dikembangkan program tata kelola lembaga PNF /PLS di Sulawesi Tengah.
Gambar 2.46. Kondisi Lembaga Pendidikan Masyarakat di Sulawesi Tengah
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
Kondisi lembaga penyelenggara PNF di Sulawesi Tengah dari tahun 2018 dan 2019 mengalami penurunan jumlah. Hal ini mengindikasikan bahwa baik PKBM maupun LKP yang dikelola oleh masyarakat masih memerlukan pembinaan dan dukungan pembinaan pengelolaan satuan pendidikan.
Gambar di bawah ini menunjukan bahwa warga belajar di lembaga PNF di Sulawesi tengah tahun 2019 menunjukan jumlah yang merata antara warga belajar laki laki dan perempuan di ketiga lembaga yakni PKBM, SKB dan LKP. Hal ini mengindikasikan bahwa minat warga masyaraat Sulawesi tengah untuk aktif dan partisipasi belajar di lembaga PNF sudah semakin membaik.
Gambar 2.47. Jumlah Warga Belajar di Lembaga Pendidikan Masyarakat di Sulawesi Tengah
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Tabel di bawah ini menunjukan bahwa sebaran peserta warga belajar pada layanan pendidikan yang dilaksanakan oleh PKBM, SKB dan LKP di Sulawesi tengah terutama pada aspek paket A, B dan C lebih banyak PKBM yang diminati warga masyarakat. Sedangkan pada LKP, lebih diminati warga untuk belajar aspek keterampilan hidup.
Tabel 2.25. Jumlah Warga Belajar di Lembaga Dikmas di Sulawesi tengah Tahun 2019
PKBM SKB LKP
Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
Paket A 439 385 824 90 68 158 0 0 0
Paket B 2461 1759 4220 334 235 569 0 0 0
Paket C
IPS 5577 4214 9791 785 662 1447 0 0 0
Paket C
IPA 37 37 74 0 0 0 0 0 0
PAUD 0 0 0 68 65 133 0 0 0
Kursus 195 320 515 31 209 240 961 3381 4342
TBM 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Life Skill 0 41 41 0 0 0 0 20 20
Keaksaraan 229 92 321 205 215 420 7 40 47
Jumlah 8938 6848 15786 1513 1454 2967 968 3341 4409
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Tabel di bawah ini menunjukan bahwa paket A sangat diminati oleh warga belajar yang tidak lulus jenjang Sekolah dasar untuk melanjutkan belajar yang difasilitasi oleh PKBM dan SKB. Kondisi ini mengindikasikan bahwa warga belajar mengikuti paket A lebih banyak di pedesaan.
Tabel 2.26. Warga Belajar Paket A di Lembaga Pendidikan Masyarakat di Sulawesi Tengah Tahun 2019
Paket A PKBM SKB
Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
< 7 tahun 0 0 0 5 7 12
7 - 12 tahun 9 15 24 40 21 61
13 - 21 tahun 197 113 310 26 10 36
> 21 tahun 233 257 490 19 30 49
Jumlah 439 385 824 90 68 158
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Tabel di bawah ini menunjukan bawa warga belajar yang ikut paket B setara SMP lebih banyak diikuti oleh warga masyarakat yang putus sekolah dan melanjutkan di lembaga PNF PKBM dan SKB yang dilaksanakan oleh pemerintah atau yayasan yang ada. Usia warga belajar lebih didominasi oleh usia di atas 13 tahun.
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
Tabel 2.27. Warga Belajar Paket B di Lembaga pendidikan Masyarakat di Sulawesi Tengah Tahun 2019
Paket B PKBM SKB
Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
< 13 tahun 5 4 9 8 3 11
13 _ 15 tahun 212 138 350 48 24 72
16 - 21 tahun 987 595 1582 115 64 179
> 21 tahun 1257 1022 2279 163 144 307
Jumlah 2461 1759 4220 334 235 569
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Tabel di bawah ini menunjukan bahwa warga belajar yang ikut paket C setara SMA lebih banyak diikuti oleh warga masyarakatyang putus sekolah di jenjang SMA karena situasi dan kondii ekonomi dan kondisi lingkungan. Penyelenggaraan yang dilakjukan oleh PKBM dan SKB sangat dirasakan manfaatnya oleh warga masyaraat untuk melanjutkan belajar dengan paket C ini.
Hal ini mengindikasikan bahwa para warga belajar ikut paket c umumnya untuk memenuhi persyaratan untuk bekerja.
Tabel 2.28. Warga Belajar Paket C di Lembaga pendidikan Masyarakat di Sulawesi Tengah Tahun 2019
Paket C PKBM SKB
Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
< 16 tahun 38 29 67 4 1 5
16 _ 18 tahun 557 472 1029 100 70 170
19 - 21 tahun 1206 907 2113 197 179 376
> 21 tahun 3813 2843 6656 484 412 896
Jumlah 5614 4251 9865 785 662 1447
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Gambar di bawah ini menunjukan bahwa pendidik di pendidikan masyarakat (PNF) di suteng tahun 2019 antar laki laki dna perempuan relative tidak jauh berbeda jumlahnya. Meskipun demikian, jumlah tenaga pendidikan PNF di PKBM jumlahnya lebih banyak daripada di SKB dan LKP.
Gambar 2.48. Jumlah Pendidik PNF di Sulawesi Tengah
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Tabel di bawah menunjukan bahwa ijasah yang dimilikim oleh pendidik di PNF di Sulteng tahun 2019 sudah didominasi oleh lulusan sarjana. Hal ini mengindikasikan bahwa secara intelektualitas pendidik di PNF sudah memadai. Bahkan semakin banyak yang sudah lulus program pascasarjana (magister).
Tabel 2.29. Ijazah Terakhir Pendidik PNF/PLS di Sulawesi Tengah Tahun 2019
PKBM SKB LKP
Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
< SM 17 20 37 1 1 2 6 30 36
Diploma 14 6 20 1 0 1 4 4 8
Sarjana 99 128 227 17 26 43 14 23 37
S2/S3 5 7 12 1 1 2 6 4 10
Lainnya 95 103 198 11 13 24 33 45 78
Jumlah 230 264 494 31 41 72 63 106 169
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Status kepegawaian pendidik di PNF di Sulawesi tenga pada Tahun 2019 terlihat di table bawah ini. Ini menujukan bahwa tenaga pendidik yayasan, non PNS dan honor masih banyak di lembaga PNF di Sulawesi tengah. Hal ini mengindikasikan bahwa tenaga pendidik di lembaga PNF atas dorongan pribadi dan pengabdian yang baik dari para pendidik.
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI TENGAH
Tabel 2.30. Status Kepegawaian Tenaga Pendidik PNF di Sulawesi Tengah Tahun 2019
Status Kepegawaian
PKBM SKB LKP
Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
PNS 31 15 46 17 13 30 5 2 7
PNS
diperbantukan 0 0 0 0 0 0 0 0 0
PNS
Dep. Agama 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Guru Tetap
Yayasan 47 67 114 0 2 2 18 26 44
Honor Daerah
Provinsi 1 0 1 0 0 0 0 0 0
Honor Daerah
Kab/Kota 21 16 37 0 2 3 2 7 9
Guru Bantu
Pusat 0 1 1 0 0 0 0 0 0
Guru Honor
Sekolah 78 113 191 9 13 22 8 21 29
Tenaga Honor
Sekolah 26 40 66 4 9 13 10 10 20
CPNS 0 0 0 0 1 1 0 0 0
Pegawai Honor Daerah Lainnya
0 0 0 0 0 0 0 0 0
Lainnya 26 12 38 0 1 1 20 40 60
Jumlah 230 264 494 31 41 72 63 106 169
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Tabel 2.31. Status Kepegawaian Tenaga Pendidik PNF di Sulawesi Tengah Tahun 2019
Status Kepegawaian
PKBM SKB LKP
Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
PNS 31 15 46 17 14 31 5 2 7
Yayasan 47 67 114 0 2 2 18 26 44
Jumlah 78 82 160 17 16 33 23 28 51
Tidak Tetap 152 182 334 14 25 39 40 78 118
Jumlah 230 264 494 31 41 72 63 106 169
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Kategori pendidik di lembaga penyelenggara PNF di Sulawesi tenagh tahun 2019 menunjukan bahwa antara pendidik perempuan dan laki laki tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa layanan yang diberikan pendidik laki laki dan perempuan di lembaga penyelenggara PNF tidak berbeda.
Tabel 2.32. Kategori Pendidik dan Tenaga Kependidikan PNF di Sulawesi Tengah Tahun 2019
Status Kepegawaian
PKBM SKB LKP
Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
Kepala Sekolah 21 8 29 3 1 4 7 13 20
Pendidik 201 255 456 27 39 66 55 91 146
Tenaga
Kependidikan 8 1 9 1 1 2 1 2 3
Jumlah 230 264 494 31 41 72 63 106 169
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020
Kelompok usia pendidik di lembaga PNF yang ada di Sulawesi tengah Tahun 2019 menunjukan bahwa pendidik umumnya pada usia produktif dan lebih banyak berusia antara 30 – 39 tahun dan 40 -49 tahun, baik di PKBM, SKB maupun di LKP. Hal ini mengindikasikan bahwa layanan yang diberikan oleh pendidik di PNF masih memebrikan peluang baik untuk terus dikembangkan lagi kea rah mutu pendidikan yang lebih baik. Meskipun demikian, memang harus disadari bahwa pendidik di PNF perlu terus didorong untuk kepangkatannya agar memiliki kompetensi dan sertifikasi yang memadai. Karena masih banyak pendidik yang belum disertifikasi baik di PKBM, SKB maupun di LKP.
Tabel 2.33. Kelompok Usia dan Tenaga Kependidikan PNF di Sulawesi Tengah Tahun 2019
Kelompok Usia
PKBM SKB LKP
Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
< 19 tahun 2 2 4 0 0 0 0 0 0
20 - 29 tahun 32 75 107 4 15 19 25 31 56
30 - 39 tahun 77 110 187 10 14 24 14 27 41
40 - 49 tahun 74 57 131 7 7 14 19 31 50
50 -59 tahun 35 18 53 10 5 15 3 14 17
> 60 tahun 10 2 12 0 0 0 2 3 5
Jumlah 230 264 494 31 41 72 63 106 169
Sumber: Statistika Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud 2019/2020