BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Berbasis Mubādalah
1. Pengertian Mubādalah
Mubādalah adalah bahasa Arab
ة َلَداَبُم
berasal dari akar suku kata “ba-da-la” yang berarti mengganti, menggubah, dan menukar. Akar kata ini digunakan al-Qur‟an sebanyak 44 kali dalam berbagai bentuk kata dengan makna seputar itu.Sementara, kata mubādalah sendiri metupakan bentuk kesalingan (mufā‟alah) dan kerjasama antar dua pihak (musyārakah) untuk makna tersebut, yang berarti saling mengganti, saling mengubah, atau saling menukar satu sama lain.43
Dalam kamus modern lain, al-Mawrid, untuk Arab-Inggris, karya Dr. Rohi Baalbaki, kata mubādalah diartikan muqābalah bi al- mitsl. Atau menghadapkan sesuatu dengan padananya. Kemudian diterjemahkan beberapa makna: reciprocity, reciprocation, repayment, requital, paying back, returning in kind or degree.
Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “kesalingan”
(terjemahan dari mubādalah dan reciprocity) digunakan hal-hal “yang menunjukkan makna timbal balik”.44
Dalam kosmologi al-Qur‟an, manusia adalah khalifah Allah swt, di muka bumi untuk menjaga, merawat, dan melestarikan segala isinya. Amanah khalifah ini ada di pundak manusia. Laki-laki dan perempuan. Bukan salah satunya, sehingga keduanya harus bekerjasama, saling menopang, dan saling tolong-menolong untuk melakukan dan menghadirkan segala kebaikan. Demi kemakmuran bumi dan seisinya. Kesalingan ini menegaskan bahwa salah satu jenis
43 Faqihuddin Abdul Kodir. Qira‟ah Mubādalah. (Yogyakarta: IRCiSoD. 2019), 17.
44 Kodir, 30.
kelamin tidak diperkenankan melakukan kezaliman dengan mendominasi dan menghemoni yang lain. Hal ini bertentangan dengan amanah kekhalifahan yang diemban bersama. Dan akan menyulitkan tugas memakmurkan bumi jika tanpa kerja sama dan tolong- menolong.
Berikut adalah ayat-ayat yang menggunakan redaksi umum, yang menginspirasi kesalingan dan kerjasama dalam relasi manusia (QS. Al-Hujurat:13)
َل َِاَبَ قَو و ُع ُع ْمُكا َنْلَعَجَو ٰ َثْ نُأَو ٍرَكَذ ْنِم ْمُكاَنْقَلَخ َّنَِّإ ُساَّنلا اَهُّ يَأ َيَ
ْمُمَمَر ْكَأ َّنِإ ا ُفَرا َعَ تِل
ٌيِبَخ ٌميِلَع ََّللَّا َّنِإ ْمُكاَقْ تَأ َِّللَّا َدْنِع
( 33 )
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13).45 Konsep mubādalah disusun dari kepingan-kepingan puzzle yan berserakan sepanjang sejarah tradisi peradaban Islam. Diyakini gambar utuhnya ada dikeseluruhan al-Qur‟an dan hadits. Tepatnya ia ada dalam jantung ajaran Islam. Tetapi, dalam perjalanan sejarah kemanusiaan masyarakat muslim, hal utuh ini tekadang redup dan beberapa waktu juga buyar. Kepingan-kepingan ini sesungguhnya ada dalam sejarah tradisi penafsiran Islam, sehingga hanya perlu disusun ulang dan dihadirkan kembali dalam gambaran yang utuh. Sehingga bisa
45 Kementrian Agama Republik Indonesia, Alquran dan Terjemahan, (Kudus: Menara Kudus), 517.
memperkokoh gerakan pemberdayaan perempuan dan keadilan relasi laki-laki dan perempuan.46
Sehingga ajaran Islam jika dipahami dan dilihat secara utuh akan memperlihatkan peempuan adalah manusia yang harus diperlakukan manusiawi. Kalau dilihat sepotong-potong atau dalam kepingan puzzle yang terlihat maka sebaliknya.
The principle of gender equality is enshrined in the Indian Constitution in its Preamble, Fundamental Rights, Fundamental Duties and Directive Principles. The Constitution not only grants equality to women, but also empowers the State to adopt measures of positive discrimination in favour of women. The Constitution of India not only grants equality to women but also empowers the State to adopt measures of positive discrimination in favour of women for neutralizing the cumulative socio economic, education and political disadvantages faced by them.
Fundamental Rights, among others, ensure equality before the law and equal protection of law; prohibits discrimination against any citizen on grounds of religion, race, caste, sex or place of birth, and guarantee equality of opportunity to all citizens in matters relating to employment.47
Prinsip kesetaraan gender diabadikan dalam Konstitusi India dalam Pembukaan, Hak-Hak Fundamental, Tugas-tugas Fundamental dan Prinsip-Prinsip Arahannya. Konstitusi tidak hanya memberikan kesetaraan kepada perempuan, tetapi juga memberdayakan negara untuk mengambil tindakan diskriminasi positif yang berpihak pada perempuan. Konstitusi India tidak hanya memberikan kesetaraan kepada perempuan tetapi juga memberdayakan negara untuk mengadopsi tindakan diskriminasi positif yang berpihak pada perempuan untuk menetralkan kerugian sosial ekonomi, pendidikan dan
46 Faqihuddin Abdul Kodir. Qira‟ah Mubādalah, 18.
47 Chairman, Muthukumar, etc. Gender, School, Society, and Inklusive School. (India:
Bharathidasan University, 2015), 60.
politik kumulatif yang dihadapi oleh mereka. Hak Fundamental, antara lain menjamin persamaan di depan hukum dan persamaan perlindungan hukum; melarang diskriminasi terhadap setiap warga negara atas dasar agama, ras, kasta, jenis kelamin, atau tempat lahir, dan menjamin persamaan kesempatan bagi semua warga negara dalam hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan.
Konsep mubādalah sendiri lebih mudahnya diartikan sebagai kesalingan. Lalu apa yang disalingkan? Yang disalingkan adalah kemaslahatan ajaran Islam. Bagaimana antara laki-laki dan perempuan dapat hidup secara adil berasaskan kemaslahatan kedua belah pihak. Di sinilah tujuan akhir dari konsep mubādalah yang diusung oleh Faqihuddin Abdul Kodir. Tidak hanya memperkenalkan konsep mubādalah, Faqihuddin juga mengidentifikasi isu-isu yang berkembang seputar relasi laki-laki dan perempuan. Beberapa topik permasalahan yang dibahas dalam bukunya ini antara lain seputar pernikahan, poligami, waris, seks, dan beberapa topik lainnya. 48
Faqihuddin Abdul Kodir, satu dari sekian orang yang mampu melakukan hal tersebut, seperti dibuktikan dalam bukunya yang berjudul Qirâ‟ah Mubādalah Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender dalam Islam. Sebuah buku yang membahas bagaimana memahami teks- teks nash (al-Qur‟an dan Hadis) yang menyangkut relasi laki-laki dan perempuan. Bahkan tidak cukup sampai disitu saja, Faqihuddin turut
48 Taufan Anggoro, “Konsep Kesetaraan Gender dalam Islam,” Afkaruna, 2 (Juni, 2019), 140.
merumuskan konsep kesetaraan gender dalam Islam dengan sebutan mubādalah, yaitu dengan melakukan reinterpretasi terhadap ayat-ayat Qur‟an dan hadis. Konsep tersebut lahir dari adanya pandangan dikotomis antara laki-laki dan perempuan, ditambah sistem patriarki yang mengakar kuat di tengah masyarakat membuat cara pandang antara laki-laki dan perempuan semakin tidak ramah. Laki-laki diposisikan sebagai superior, sebaliknya perempuan sebagai inferior.
Topik-topik tersebut didasarkan pada problem-problem yang dihadapi ketika membaca ayat-ayat al-Qur‟an ataupun hadis secara tekstual. Adanya pembacaan yang tidak utuh terhadap dalil-dalil naqli seputar relasi lakilaki dan perempuan seringkali menimbulkan ketidakadilan. Inilah kegelisahan yang dirasakan penulis buku ini, Faqihuddin Abdul Kodir, ketika teks Qur‟an dan hadis yang seharusnya dapat menjadi sumber kemaslahatan tetapi disisi lain justru menjadi
„alat‟ menindas pihak lainnya. Hal ini dapat ditemui pada penjelasan Bab keempat dan kelima buku ini. Bagaimana contoh-contoh yang dipaparkan merupakan tema-tema penting yang seringkali menghasilkan pemahaman yang tidak adil dan tidak ramah bagi perempuan.49
Cara kerja Qirâ‟ah Mubādalah terdiri dari tiga langkah:
Pertama, menemukan dan menegaskan prinsip-prinsip ajaran Islam dari teks-teks yang bersifat universal; kedua, menemukan gagasan utama
49 Anggoro, 130.
yang terekam dalam teks-teks yang akan diinterpretasikan; dan ketiga, menurunkan gagasan yang ditemukan dari teks kepada jenis kelamin yang tidak disebutkan dalam teks. Penjelasan lebih rinci terkait langkah-langkah tersebut dijelaskan Faqihuddin pada bab ketiga dalam bukunya.
Jadi, persepektif kesalingan bekerja pertamakali sebagai cara pandang yang menghormati martabat kemanusiaan setiap orang dan menghargai jati dirinya. Pada saat yang sama, tidak perlu juga merasa rendah diri di hadapan orang lain. Perspektif kesalingan bekerja kemudian pada perilaku seorang dengan berbasis pada cara pandang tersebut. Yaitu, perilaku penghormatan, penghargaan, dan pemenuhan hak-hak dasar manusia. Ia bekerja hanya pada penyamaan hal-hal mendasar dalam relasi antarmanusia, seperti hak hidup, hak beragama, hak berpikir, hak ekonomi, hak sosial dan hak politik.