▪
Merujuk penyintas ke layanan pendukung yang relevan;▪
Melakukan semua langkah yang masuk akal untuk memastikan penduduk ter- dampak tidak menjadi korban pelanggaran, pemaksaan, atau perampasan lebih lanjut; dan▪ Mendukung upaya mandiri penduduk penyintas untuk memulihkan martabat dan hak-haknya dalam komunitas mereka dan tetap aman.
Inti dari prinsip ini adalah bahwa komunitas dan penduduk penyintas menerima bantuan yangterkoordinasi dan saling melengkapi. Lihat Komitmen 6 Standar Kemanusiaan Inti.
DR AFT
Catatan-catatan panduan
Rujukan: Kenali sistem rujukan yang sudah ada dan bantu warga terdampak kekerasan mengakses secara aman layanan yang cocok. Beberapa warga mungkin tidak mencari bantuan setelah suatu pelanggaran. Ambil langkah untuk memahami penghalang yang merintangi warga dari upaya mencari bantuan dan mengadaptasikan sistem rujukan.
Dukung penyintas kekerasan fisik atau berbasis gender mengakses layanan seper- ti layanan kesehatan, bantuan polisi, kesehatan jiwa dan dukungan psikososial serta layanan lainnya. Layanan ini harus peka terhadap jenis kelamin, usia, disabilitas, orientasi seksual dan faktor relevan lain warga. Lihat “Guidelines for Integrating Gender-based Violence Interventions in Humanitarian Action.”
Buat dan gunakan mekanisme rujukan tepat guna untuk layanan perlindungan anak yang membantu anak-anakpenyintas kekerasan, eksploitasi, pelecehan, dan pengabaian.
Aksi komunitas: Dukung aksi komunitas dan kegiatan swadaya yang membantu memulihkan perasaanyang utuh dan memperbaiki perlindungan mereka.
Dukung mekanismeresponperlindungan keluarga, komunitas danperorangan, dan kes- ehatan jiwa serta dukungan psikososial. Ini dapat termasuk menciptakan peluang-pe- luang warga dapat mendiskusikan situasi mereka, memiliki ancaman khusus terhadap perlindunganyang mana yangakan ditangani, dan mengembangkan dan melaksanakan langkah untuk menanganinya.
Bantu kelompok setempat, seperti kelompok kaum muda, kelompok perempuan atau kelompok keagamaan untuk melaksanakan upaya non-kekerasan dalam perlindungan diri, dan membantu orang-orang yang rentan.
Bilamana mungkin, pertahankan keutuhan keluarga , termasuk keluarga non-tradisional, dan bantuwarga dari satu desa untuk tinggal bersama,atau membangun jejaring dian- tara mereka untuk dapat hidup di wilayah yang sama.
Dukung mekanisme bertahan komunitas yang positif, seperti pemakaman yang sesuai secara budaya, upacara dan praktik keagamaan, dan praktik-praktik budaya dan sosial yang tidak berbahaya.
Pemantauan dan pelaporan tentang Pelanggaran yang sedang terjadi: Kenali mekanisme pelaporan pelanggaran hak asasi manusia dan ikuti prosedur dan kebijakan yang ada untuk menyampaikan informasi sensitif secara aman. Lihat Prinsip Perlin- dungan 1 dan Lampiran Standar Profesional untuk Kerja Perlindungan.
Pelanggaran yang sedang terjadi harus dipertimbangkan dan ditangani dengan mi- tra-mitra dan lembaga-lembaga khusus. Tanggung jawab utama untuk melindungi penduduk terletak pada pemerintah dan pihak berwenang yang lain. Bekerja dengan lembaga-lembaga khusus untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab hukum atau kapasitas untuk memberikan perlindungan dan mengingatkan me- reka mengenai kewajiban mereka.
Lembaga keamanan dan penegak hukum, polisi, dan militer serta pasukan perdamaian berperanpenting dalammemastikan keamanan fisik penduduk. Bila perlu dan aman melakukannya,beritahu polisi atau penegak hukum atau pelaku militer mengenai pe- langgaran hak-hak asasi manusia.
Selama konflik bersenjata, pertimbangkan untuk memantau lembaga-lembaga yang memberikan layanan dasar dan yang secara khusus dilindungi berdasarkan hukum hu-
DR AFT
maniter internasional seperti sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit, dan lapor- kan setiap serangan terhadap mereka. Lakukan upaya-upaya khusus untuk mengurangi risiko-risiko dan ancaman-ancaman penculikan atau rekrutmen paksa yang mungkin terjadi di wilayah-wilayah ini.
Mengelola informasi sensitif: Organisasi kemanusiaan harus memiliki kebijakan dan prosedur yang jelas untuk memandu staf mengenai cara merespon ketika mereka me- ngetahui atau menyaksikanpelanggaran, dan cara membuat rujukan kepada spesialis atau lembaga khusus. Kerahasiaan informasi harus dijelaskan dalam kebijakan-kebijakan itu.
Bukti seperti pernyataan saksi, profil penduduk, dan gambar yang memungkinkan orang-oranguntuk diidentifikasi mungkin sangat sensitif dan dapat membuat orang- orangmenjadi berisiko. Informasi sensitif mengenai penyalahgunaanatau pelanggaran tertentu harus dikumpulkan oleh Lembaga khusus yang dilengkapi dengan keterampi- lan yang diperlukan, sistim, kapasitas dan protokol Lihat Lampiran: Standar Profesi- onal untuk Pekerja Perlindungan.
Prinsip Perlindungan 4:
Membantu warga untuk menuntut hak-haknya
Pelaku kemanusiaan membantu komunitas terdampak menuntut hak-hak mereka melalui informasi dokumentasi serta mendukung upaya-upaya menguatkan peng- hormatan terhadap hak-hak.
Prinsip ini meliputi:
▪
Membantu warga untuk menegaskan hak-haknya dan untuk mengakses penyele- saian dari pemerintah atau sumber-sumber lain;▪
Membantu penduduk untuk mengamankan dokumentasi yang dibutuhkannya un- tuk menunjukkanhak kepemilikan atau hak atas suatu hak; dan▪
Mengadvokasikan untuk penghormatan sepenuhnya hak-hak warga dan hukum in- ternasional, berkontribusi terhadap suatu lingkungan perlindungan yang lebih kuat.Inti dari prinsip ini adalah penduduk terdampak krisis harus mengetahui hak-hak dan apa yang harus diperolehnya Lihat Komitmen 4 Standar Kemanusiaan Inti.
Catatan-catatan panduan
Informasi yang dapat diakses: Berikan pendidikan dan informasi yang memam- pukan warga memahami dan mengadvokasikan hak-hak mereka. Memberitahuwarga tentang hak-haknya, sebagai contoh terkait opsi pemulangan dan permukiman kembali.
Bekerjalah dengan organisasi khusus yang memberikan bantuan hukum untuk mengin- formasikan penduduk mengenai hak-hak mereka berdasarkan hukum dan peraturan negara.
Berikan informasi dalam bahasa yang dipahami penduduk terdampak. Gunakan ber- bagai format (misalnya tertulis, grafik atau audio) untuk membuat informasi dapat diak- ses seluas mungkin. Uji pemahaman pesandengan kelompok-kelompok beragam, per- timbangkan variasi dalam usia, gender, tingkat pendidikan dan Bahasa Ibu.
DR AFT
Dokumentasi: Penduduk umumnya mempunyai hak-hak, terlepas dari apakah mereka memiliki dokumentasi tertentu atau tidak. Namun tanpa beberapa bentuk dokumentasi, seperti sertifikat kelahiran, sertifikat perkawinan, sertifikat kematian, pasport, sertifikat tanah, atau sertifikat pendidikan, warga dapat menghadapi halangan untuk mengakses hak-hak mereka. Rujuk mereka ke lembaga yang dapat memberikan atau menggantikan dokumen-dokumen ini.
Surat resmi yang dikeluarkan oleh pihak berwewenang yang relevan jangan dicampur adukkan dengan surat yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan, seperti kartu bantuan atau kartu pendaftaran. Dokumen yang dikeluarkan pihak berwewenang tidak harus menetapkan siapa yang pantas menerima bantuan dari Lembaga kemanu- siaan.
Akses ke bantuan hukum dan sistem peradilan: Wargaberhak mencari penyele- saian hukum dan upaya lainnyadari pemerintah dan pihak berwenang lainnya ter hadap pelanggaran hak-hak mereka. Ini dapat meliputi kompensasi untuk kehilangan atau penggantian harta benda. Warga juga berhak untuk mengharapkan agar pelaku pe- langgaran dibawa ke pengadilan.
Bantu warga yang memilih penyelesaian secara hukum untuk mengakses mekanisme peradilan dengan cara yang aman. Rujukan yang tepatmemerlukan suatu pemahaman tentang lembaga-lembaga mana yang dapat memberikan bantuan hukum.
Hindari ajakan ke akses peradilan dalam situasi di mana proses peradilan mungkin menimbulkan hal-hal lebih buruk terhadap korban. Sebagai contoh pemberi layanan kesehatan dan jejaring rujukan kekerasan berbasis gender harus memahami sistem hu- kum medik nasional dan hukum yang berkaitan dengan kekerasan seksual. Informasikan penyintas mengenai setiap ketentuan wajib laporyang dapat membatasi kerahasiaan informasi yang diberikan olehpasien. Ini mungkin memengaruhi keputusan penyintas untuk melanjutkan perawatan atau pelaporan dan hal ini harus dihormati. ⊕ Lihat Stan- dar 2.3.2 Kesehatan Seksual dan Reproduktif.
Selama krisis, komunitas terdampak mungkin dapat menggunakan mekanisme-me- kanisme resolusi konflik alternatif atau informal, seperti mediasi tingkat komunitas. Bila ini ada, informasikan kepada penduduk dan jelaskan cara mereka dapat mengakses layanan-layanan.
Akses dan kepemilikan tanah dapat menjadi pertentangan besar. Dorong pihak-pihak berwenang dan komunitas untuk bekerja sama untuk menyelesaikan isu berhubungan
dengan akses atau kepemilikan tanah.
DR AFT
Lampiran
Ringkasan Standar Profesional untuk Pekerjaan Perlindungan
Dalam konflik bersenjata dan situasi kekerasan lainnya, perlindungan warga sipil yang mungkin sudah terpapar terhadap bahaya dan penderitaan menjadi kritis. Suatu respon darurat perlindunganyang tepatmemerlukan kompetensi profesional dan kepatuhan terhadap standar minimum profesional yang umumnya disepakati yang dapat diterap- kan oleh seluruh pelaku perlindungan.
Standar Profesional untuk Pekerjaan Perlindungan dibuat dalam kerangka menciptakan suatu dasar bersamabagi kerja perlindungan di kalangan pelaku kemanusiaan dan hak- hak asasi manusia serta memaksimalkan kerja yang tepat guna bagi wargaterdampak.
Mereka melengkapi Prinsip-prinsip Perlindungan.
Standar-standar ini mencerminkan pandangan bahwa warga merupakan pusat dari semua tindakan yang dilakukan atas nama mereka. Warga mempunyai suatu peran yang berarti dalam menganalisis, mengembangkan dan memantau respons perlin- dungan terhadap ancaman-ancaman dan risiko-risiko yang mereka hadapi. Selebihnya dari memperbaiki keamanan fisik warga, upaya perlindungan harus mendorong peng- hormatan terhadap hak-hak, martabat dan integritas mereka yang berisiko atau me- ngalami pelanggaran dan pelecehan.
Jenis kegiatan yang dilaksanakan pelaku kemanusiaan beragam sekali dan ini pen ting untuk semua pelaku dalam hal memadukan perlindungan ke dalam praktik mereka yang selaras dengan Prinsip-Prinsip Perlindungan. Standar Profesional terutama ditu- jukan untuk melindungi profesional dan organisasi-organisasi yang melaksanakan kerja perlindungan dalam situasi konflik bersenjata dan situasi kekerasan lainnya.
Standar professional menawarkan organisasi-organisasi suatu dasar yang kokoh se- hingga mereka dapatmeninjau dan mengembangkan kebijakan internal, pedoman dan bahan-bahan pelatihan. Standar-standar inimenawarkan suatu rujukan praktis bagi praktisi yang merancang dan melaksanakan strategi perlindungan di tingkat lapangan.
Mereka juga dapat menjadi suatu sumber inspirasi. Mereka dapat menjadi rujukan ber- guna dalam membantu pelaku dan pemangku kepentingan lain untuk memahami cara pelaku perlindungan khusus secara aman dalam melaksanakan berbagai kegiatan untuk menguatkan perlindungan orang-perorangan serta komunitas-komunitas.
Standar-standar ini tidak mengatur kerja perlindungan atau membatasi keragaman, namun lebih melengkapi prinsip-prinsip profesional lain dan mendorong pelaku per- lindungan untuk memadukan mereka ke dalam praktik-praktik, pedoman dan pela tihan- pelatihan mereka sendiri.
Standar Profesional 2018 diorganisir sebagai berikut:
1. Prinsip-prinsip tertinggi dalam kerja perlindungan.
2. Mengelola strategi-strategi perlindungan.
3. Menggambarkan arsitektur sistem perlindungan.
4. Membangun dasar hukum perlindungan.
5. Mempromosikan prinsip saling melengkapi.
DR AFT
6. Mengelola data dan informasi untuktujuan perlindungan.
7. Memastikan kapasitas profesional.
Standar meliputi suatu pandangan mengenai dampak teknologi informasi dan komu- nikasi (information and communication technology, ICT) dan berkembangnya suatu tatanan hukum menyangkut perlindungan data, dengan panduan khusus mengenai manajemen perlindungan informasi.
Dialog dan interaksi antara pelaku kemanusiaan dan hak-hak asasi manusia serta opera- si perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa dan kekuatan militer serta polisi internasional yang mendapat mandat sering perlu mengamankan hasil perlindungan. Standar Pro- fesional memberikan panduan dalam menegakkan suatu pendekatan berprinsipdalam interaksi ini.
Upaya-upaya nasional, regional dan internasional untuk menangani “ekstrimis ke- kerasan” melalui peraturan penanganan terorisme juga ditangani dalam Standar Pro- fesional, mengklarifikasikan bagaimana cara peraturan dapat berdampak pada kegia- tan-kegiatan pelaku perlindungan.
Unduh Standar Profesional untuk Kerja perlindungan dari Toko Buku Elektronik Komite Internasional Palang Merah: https://shop.icrc.org/e-books/icrc-activities-ebook.html