BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI TERM
D. Sejarah Kemunculan Term Yahudi
1. Perpecahan Kerajaan Israel pasca wafatnya Nabi Sulaiman (awal munculnya istilah Yahudi)
Penggunaan term Yahudi dalam Alquran yang pertama muncul dengan memakai lafal Hâdû. dalam surat al-Baqarah (2): 62 berikut:
َنييذَّلٱَو ْاوُنَماَء َنييذَّلٱ َّنيإ ْاوُداَه
يبََّٰصلٱَو َٰىَرََٰصَّنلٱَو ي
احيلََٰص َليمَعَو يريخلأٱ يموَيلٱَو يَّللَّٱيب َنَماَء نَم َين
ُنَزَيَ مُه َلََو ميهيَلَع ٌفوَخ َلََو ميي بََر َدنيع مُهُرجَأ مُهَلَ ف َن و
283٦٢
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”284 (QS. al-Baqarah [2]: 62)
283 Lihat juga ayat berikut:
يبََّٰصلٱَو ْاوُداَه َنييذَّلٱَو ْاوُنَماَء َنييذَّلٱ َّنيإ َلََو ميهيَلَع ٌفوَخ َلََف احيلََٰص َليمَعَو يريخلأٱ يموَيلٱَو يَّللَّٱيب َنَماَء نَم َٰىَرََٰصَّنلٱَو َنو ُ
َنوُنَزَيَ مُه ٦٩
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang- orang Shabi’in dan orang-orang Nasrani, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian serta beramal shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”283 (QS. Al Mâidah: 69)
284 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 10
Menurut informasi yang penulis dapatkan dalam Tafsir al-Tahrîr wa al-Tanwîr karya Thahir Ibnu ‘Âsyûr, dalam menafsirkan lafal Hâdû pada ayat QS. Al-Baqarah : 62 di atas penamaan Yahudi baru dikenal setelah kematian Nabi sulaiman as. pada sekitar 975 SM. Setelah Nabi Sulaiman wafat, bangsa Israel mulai mengalami kemunduran akibat adanya perpecahan pada dua belas suku Asbâth. Saat itu, dua suku dari dua belas suku Asbâth yaitu suku Yahuda dan suku Benyamin memilih putra Nabi Sulaiman Rab’am (Rahabeam) untuk menggantikan ayahnya sebagai raja, karena dia dari keturunan suku Yahuda285. Sedangkan sepuluh suku yang lainnya memilih Yerobeam dari turunan suku Efraim bin Yusuf. Akhirnya pada masa ini kerajaan Israel terpecah menjadi dua bagian, yaitu, kerajaan Utara dan Selatan.
Kerajaan selatan diberi nama Yahuda (Judah), yang diambil dari nama moyangnya, Yahuda bin Ya’qub dengan ibukota Yerussalem dengan rajanya Rab’am (Rahabeam), pada masa inilah penamaan sebagian suku dari Banî Isrâ’îl dengan istilah Yahudi baru muncul.
Sedangkan kerajaan utara bernama Israel, beribu kota di Samaria dengan rajanya Yar’am (Yerobeam)286.
Kerajaan selatan (Yahuda) yang dipimpin oleh Rahabeam putra Nabi sulaiman beribukota di Yerussalem,
285 Menurut analisa penulis, inilah awal munculnya istilah Yahudi.
286 Thâhîr Ibnu ‘Âsyûr, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, (Tunis: Dâr al- Tunisiyah, 1984), Juz I, h. 532-533
kerajaan ini tidak diikuti kecuali oleh keturunan Yahuda dan Benyamin. sedangkan kerajaan Utara (Israil) yang dipimpin oleh Yerobeam putra Banath salah seorang anak buah nabi Sulaiman yang gagah berani dan diserahi oleh beliau kekuasaan yang berpusat di Samaria. Tatapi masyarakatnya sangat bejat dan mengaburkan ajaran agama. Mereka menyembah berhala, dan akhirnya kerajaan ini punah setelah 250 tahun287. Antara tahun 721-722 SM, Kerajaan Israel yang berpusat di Samaria mengalami kehancuran akibat diserang oleh bangsa Assyria. Seluruh negeri mereka hancurkan, ribuan orang Israel dibunuh, dan sekitar 27.290 orang penduduk Israel dari golongan atas dan menengah digiring ke dalam pembuangan. Selain itu, penduduk bangsa lain banyak yang dipindahkan ke Israel, sehingga terjadilah asimilasi keturunan maupun kepercayaan. Sejak itu, tidak ada lagi kekuasaan kerajaan Israel288.
2. Masa penyerangan Nebukadnezar
Pada tahun 606 SM (ada yang mengatakan tahun 586 SM), Kerajaan selatan (Yahuda) juga mengalami kejadian serupa dengan kerajaan Utara (Kerajaaan Israil).
Kerajaan Yahuda dihancurkan oleh raja Nebukadnezar dari Babilonia. Kota Yerussalem dihancurkan, tempat- tempat ibadah dan Tabut yang berisi Taurat dihancurkan,
287 Ahmad Syalabi, Muqâranatu al-Adyan al-Yahûdiyah, h. 54
288 Thâhîr Ibnu ‘Âsyûr, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, Juz I, h 533
ribuan orang terbunuh, selebihnya dijadikan budak.
Peristiwa ini sudah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Nabi Musa dan nabi yang diutus kala itu yakni Nabi Yeremia, jika mereka menyimpang dari Taurat mereka akan mendapatkan hukuman dari Allah289.
Setelah Yeremia menyampaikan risalah Tuhan kepada kaumnya, dan mereka telah mendengar adzab dan hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka, ternyata mereka bukannya takut atau bertaubat, mereka malah menentang Yeremia dan mendustakannya. Kemudian mereka menangkap Yeremia dan memenjarakannya.
Banyak kedurhakaan telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, seperti membunuh para nabi yang diutus kepada mereka290. Mereka melakukan pembunuhan tersebut
289 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, Terj. Dudi Rosyadi, h. 882
290 Diantaranya mereka membunuh Nabi Yesaya ketika mereka diajak kembali ke jalan Allah setelah terjadi penyimpangan- penyimpangan dan kesesatan. Nabi Yesaya juga memperingatkan mereka bahwa akan datang siksa dan adzab yang pedih dari Allah bagi siapa saja yang menentang dan mendustakan-Nya. Namun, tidak lama setelah Nabi Yesaya menyampaikan hal itu kepada mereka, ternyata mereka mencari dan memburu Yesaya untuk membunuhnya. Maka Yesaya pun melarikan diri dari mereka. Kemudian ia melihat pohon besar dihadapannya yang tiba-tiba terbelah untuknya, maka tanpa ragu-ragu Yesaya pun masuk ke dalamnya. Setan yang melihat kejadian itu segera mengambil ujung baju Yesaya dan mengeluarkannya hingga terlihat di sisi luar. Dan ketika orang Yahudi melihat ujung baju Yesaya itu, maka mereka mengambil gergaji dan membelah pohon itu, dan terbelahlah Yesaya bersama pohon tersebut. Lihat Ibnu Jarir al-Thabari,
bukan karena kesalahan atau ketidak tahuan melainkan berdasarkan pengetahuan dan kesengajaan291. Hal itu terjadi karena mereka berbuat durhaka melampaui batas292. Allah swt. berfirman:
يب َنوُرُفكَي ْاوُناَك مَُّنََّيبِ َكيلََٰذ يَّللَّٱ يتََٰيا َ
ي ييبَّنلٱ َنوُلُ تقَيَو ي قَلحٱ ييرَغيب َن
َنوُدَتعَي ْاوُناَكَّو ْاوَصَع اَيبِ َكيلََٰذ ٦١
“Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat- ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”293 (QS. al- Baqarah [2]: 61)
Sifat melampaui batas yang ditunjukkan oleh orang Yahudi sudah mendarah daging, bahkan hati mereka sudah sedemikian keras, Allah bahkan mengunci mata hati mereka karena berbagai pelanggaran yang mereka lakukan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah dalam Alquran berikut:
يب ميهيرفُكَو مُهَقََٰثيي م ميهيضقَن اَميبَف يَّللَّٱ يتََٰيا َ
قَح ييرَغيب َءاَييبنَلأٱ ُميهيلتَقَو َُّللَّٱ َعَبَط لَب ُفلُغ اَنُ بوُلُ ق مييلَوَقَو
ميهيرفُكيب اَهيَلَع لييلَق َّلَيإ َنوُنيمؤُي َلََف
ا ١٥٥
Tarikh Umam wa al-Muluk, (Beirut: Dar el Fikr, 1979 M) Juz I , h. 536-537.
291 Ibnu Katsîr, Tafsir Alquran al-‘Azhîm, h. 103
292 Muhammad Qurays Syihab, Tafsir al-Misbah, h. 205
293 Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, h. 61
“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan- keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: "Hati kami tertutup". Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.”294 (QS. al- Nisa’ [4]: 155)
Pembunuhan tanpa alasan yang benar (haq) yang dilakukan orang-orang Yahudi merupakan perbuatan sangat tercela, terlebih Nabi-nabi yang mereka bunuh tersebut berasal dari kelompok mereka sendiri yang seharusnya mereka hormati.
Selain membunuh para Nabi kaum Yahudi juga kerap melanggar aturan Tuhan Allah swt. Kaum Yahudi diberikan beberapa aturan-aturan supaya mereka tidak mengikuti hawa nafsunya, namun orang-orang Yahudi sebagaimana yang digambarkan Alquran termasuk kaum yang sering membantah perintah Tuhannya. Alquran menjelaskan bahwa akibat pelanggaran yang mereka lakukan menyebabkan mereka diberikan hukuman berupa pengharaman beberapa jenis makanan yang sebelumnya dibolehkan bagi mereka, sebagaimana firman Allah swt:
294 Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, h. 103
َنييذَّلٱ َني م ملُظيبَف ْاوُداَه
ايريثَك يَّللَّٱ يلييبَس نَع ميهي دَصيبَو مَُلَ تَّليحُأ ٍتََٰبي يَط ميهيَلَع اَنمَّرَح
١٦٠
ُهنَع ْاوُُنَّ دَقَو ْاَٰوَ بي رلٱ ُميهيذخَأَو امييلَأ ًبَاَذَع مُهنيم َنييريفََٰكليل َنَّدَتعَأَو يليطََٰبلٱيب يساَّنلٱ َلََٰومَأ ميهيلكَأَو
١٦١
“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil.
Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”295 (QS. al-Nisa’ [4]:
160-161)
Sebagian ketetapan Allah yang dilanggar oleh orang-orang Yahudi anatra lain suka memakan riba, sebagaimana tersebut dalam ayat di atas. Kesukaan pada uang dan sifat tamak mereka proyeksikan pada Allah, karena itu Allah dipandang memiliki sifat tamak karena mereka menganggap Allah tidak memberikan mereka kemurahan rezeki, yang mana kala itu sebagian diantara orang Yahudi selalu merugi setelah memusuhi Nabi Muhammad296, dan anggapan mereka yang menyatakan Allah tamak tercantum dalam Al-Qur’an berikut:
295 Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, h. 103
296 Muhammad Qurays Syihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) Jilid V, h. 177
يتَلاَقَو ُدوُهَ يلٱ ُءاَشَي َفيَك ُقيفنُي يناَتَطوُسبَم ُهاَدَي لَب ْاوُلاَق اَيبِ ْاوُنيعُلَو ميهييديَأ تَّلُغ ٌةَلوُلغَم يَّللَّٱ ُدَي
لٱَو َةَوََٰدَعلٱ ُمُهَ نيَب اَنيَقلَأَو ارفُكَو انََٰيغُط َكي بَّر نيم َكيَليإ َليزنُأ اَّم مُهني م ايريثَك َّنَدييزَيَلَو يموَي ََٰلَيإ َءاَضغَب
فُلمٱ ُّبيُيَ َلَ َُّللَّٱَو اداَسَف يضرَلأٱ يفِ َنوَعسَيَو َُّللَّٱ اَهَأَفطَأ يبرَحلي ل ارَنَّ ْاوُدَقوَأ اَمَّلُك يةَمََٰييقلٱ َنييديس
٦٤
“Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.”297 (QS. al-Maidah [5]: 64)
Orang-orang Yahudi juga terbiasa membangkang perintah-perintah Allah yang terdapat dalam kitab suci mereka kemudian mereka mebuat hukum sendiri sesuai dengan selera mereka yang bertentangan dengan tuntunan Allah swt., karena itu Alquran memposisikan mereka sebagai orang yang memutar-balikan kebenaran dengan
297 Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, h. 118
kebatilan sebagai kebenaran. Padahal kitab suci mereka (Taurat) telah menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah secara gamblang, tetapi hati mereka telah diliputi oleh kesombongan yang besar sehingga sulit menerima kebenaran. Karena begitu banyak kedurhakaan yang mereka telah lakukan maka mereka juga dihukum dengan pengharaman beberapa makanan, sebagaiamana yang tercantum dalam Alquran berikut:
َنييذَّلٱ ىَلَعَو ْاوُداَه
تَلََح اَم َّلَيإ اَمُهَموُحُش ميهيَلَع اَنمَّرَح يمَنَغلٱَو يرَقَ بلٱ َنيمَو رُفُظ ييذ َّلُك اَنمَّرَح
َيَاَوَلحٱ يوَأ اَُهُُروُهُظ َنوُقيدََٰصَل َّنَّيإَو ميهييغَبيب مُهََٰنيَزَج َكيلََٰذ مظَعيب َطَلَ تخٱ اَم وَأ
١٤٦
“Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar”298 (QS. al-An’am [6]: 146)
Maka karena kedurhakan-kedurhakaan yang telah mereka lakukan Allah swt. menepati janji-Nya menanamkan di dalam hati Nebukadnezar untuk menyerang kaum Yahudi dengan sangat keji299.
298 Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, h. 147
299 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, Terj. Dudi Rosyadi, h. 882
Saat menjalani pembuangan di Babilonia, orang- orang Yahudi dilarang menjalankan kepercayaannya sesuai dengan ajaran Nabi Musa, dan dilarang menyebut nama Allah, serta dilarang memakai bahasanya sendiri, Ibrani. Untuk menyelamatkan keturunan mereka, orang- orang Yahudi kawin dengan penduduk setempat, yang mengakibatkan asimilasi generasi dan kepercayaan.
Bahkan akhirnya, banyak keturunanYahudi tidak mengerti bahasa ibunya sendiri. Selain itu, mereka juga membuat kata sandi YHWH (Yahweh) untuk menyebut nama Tuhan, dan mengemas peribadatan dengan mencampur ajaran Musa dengan kepercayaan bahasa Babilonia (Irak) yang menyembah dewa Marduk300.
3. Masa Kekuasaan Raja Cyrus (Pembangunan Kembali Bitul Maqdis)
Setelah lama menjadi budak di Babilonia, orang- orang Yahudi baru kembali ke Palestina pada tahun 539- 509 SM. Saat itu, Babilonia telah ditaklukan oleh Persia di bawah kekuasaan raja Cyrus yang agung301 (ada yang
300 Ibnu Jarir al-Thabârî, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Juz I, h. 539
301 Ibnu Jarir menyebutkan bahwa Raja Cyrus atau Bestasyeb adalah seorang raja yang adil dan bijaksana dalam memimpin kerajaannya. Banyak sekali masyarakat, negeri, raja, dan panglimanya yang tunduk di bawah kepemimpinannya. Ia juga memeiliki kepandaian dalam membangun kota-kota, sungai- sungai, dan benteng-benteng pertahanan. Lihat Ibnu Jarir al- Thabârî ,Tarikh al-Umam wa al-Muluk , Juz I, h. 540-541
menyebut nama raja itu Besytaseb).302 Pada saat inilah dibangun kembali Baitul Maqdis . Dan pada masa ini pula peristiwa Uzair yang ditidurkan Allah selama seratus tahun dan setelah ia dibangunkan kemudian ia menulis ulang kitab Taurat karena tidak ada lagi kitab Taurat yang tersisa pasca penghancuran kota Yerussalem oleh Nebukadnezar.
Uzair adalah salah satu Nabi Banî Isrâ’îl. Ia hidup setelah zaman Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, namun sebelum zaman Nabi Zakaria dan Yahya. Tidak seorangpun yang tersisa dari Banî Isrâ’îl yang masih menghafal kitab suci Taurat selain dia, lalu Allah mengilhamkan hafalan itu kepada Uzair, lalu ia memberitahukannya kepada Banî Isrâ’îl. Oleh karena itulah orang Yahudi menyebutnya dengan sebutan “Uzair putra Allah” karena mereka mendapatkan kembali kitab suci Taurat melalui hafalannya303.
Dikarenakan alasan (tidak ada yang menghafal Kitab Taurat) itulah sejumlah ulama mengatakan, runtutan kabar yang disampaikan oleh orang yang banyak (tawatur) dalam Kitab Taurat telah terputus. Tepatnya pada masa Uzair. Tawatur ini adalah salah satu syarat dipercayanya sebuah riwayat, karena tawatur
302 Ibnu Jarir al-Thabârî, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Juz I, h. 540
303 Abdullah ibn Hasan ibn Hibatullah ibn Abdullah Ibnu Husain Ibn Asakir, Tarikh al-Dimasyqa, (Beirut: Dar el-Fikr, 1995) h. 499
mengharuskan orang yang meriwayatkannya mesti lebih dari sepuluh orang pada masanya. Klaim kaum Yahudi yang menganggap ‘Uzair adalah putra Allah merupakan suatu penyimpangan Tauhid, hal ini tercantum dalam Alquran berikut:
يتَلاَقَو ُدوُهَ يلٱ يهََٰضُي ميهيهََٰوفَيبِ مُُلَوَق َكيلََٰذ يَّللَّٱ ُنبٱ ُحييسَلمٱ ىَرََٰصَّنلٱ يتَلاَقَو يَّللَّٱ ُنبٱ ٌريَزُع َلوَق َنو ُ
َنوُكَفؤُي ََّٰنََّأ َُّللَّٱ ُمُهَلَ تََٰق ُلبَق نيم ْاوُرَفَك َنييذَّلٱ ٣٠
“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah"
dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling”304 (QS. al-Taubah [9]: 30)
Orang-orang Yahudi telah mengubah aqidah tauhid dengan keyakinann yang berbau syirik. Kendati demikian, beberapa muafssir mengatakan bahwa kenyataan paham ‘Uzair sebagai putra Allah tidak berlaku secara umum dikalangan orang Yahudi, melainkan sebatas dianut oleh Yahudi arab305.
Sebab turun ayat di atas sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Ishaq, Ibn Jarir dan Ibn Mardawaih bersumber dari Ibnu Abbas, Dalam suatu riwayat
304 Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, h. 191
305 Ibnu Jarir al-Thabarî, Jami’ al-Bayân ‘an Ta’wîl Al-Qur’anjuz X, h.
110-112
dikemukakan bahwa Salam bin Musykaram, Nu’man bin Aufa, Muhammad bin Dihyah, Syas bin Qais dan Malik bin ash-Shaif menghadap Rasulallah saw. Seraya berkata:
“Bagaimana kami bisa mengikuti tuan, padahal tuan telah meninggalkan kiblat kami dan tidak menganggap ‘Uzair sebagai putra Allah’’306. Berkenaan dengan peristiwa tersebut turunlah ayat ini, yang menegaskan bahwa ucapan Yahudi itu sama dengan ucapan kaum kafir sebelum mereka yang telah dibinasakan Allah swt”307.
Al-Thabâthaba’î menyatakan bahwa pengertian
“Uzair putra Allah” bagi kaum Yahudi, bukanlah dalam arti sebenarnya sebagaimana halnya kaum Nasrani yang mengatakan al-Masih anak Allah. Kata-kata itu hanyalah kiasan sebagai penghormatan kepada ‘Uzair yang berjasa besar dalam mengkodifikasi dan mengedit kitab Taurat setelah naskah-naskahnya hancur di saat Nebukadnezar, Raja Babilonia, menyeramg Yerussalem. Karena jasanya yang begitu besar, ia dihormati dan dianggap sebagai anak Allah. Pengertian anak Allah di sini bukan berarti anak yang memiliki unsur ketuhanan, tetapi lebih pada
306 Hadits ini bernilai Hasan; diriwayatkanoleh al-Thabarî, diriwayatkan dari Abu Kuraib dari Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Abu Muhammad dari Sa’id bin Jubair atau Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas. Semua perawi dalam sanad ini tsiqah. Lihat al-Thabarî, al-Jâmi’ al-Bayan, Juz 11 h.
409. Lihat pula Abu ‘Umar Nâdî, al-Maqbul min Asbab al- Nuzul, (Kairo: Mathba’ah al-Amânah, 1997), h. 367
307 Ahmad Musthafa al-Marâghi. Tafsir al-Marâghi, h. 169
orang yang mendapat anugerah dan dipilih Allah untuk menyelamatkan kitab Taurat dari kehancuran.308
Meskipun tidak semua orang Yahudi berpendapat demikian, namun diantara mereka ada yang menganut faham tasybih (antropomorsisme), yakni faham mempersamakan Tuhan dengan makhluk-Nya. Contoh faham tasybih di kalangan Yahudi ini dikemukakan oleh Al-Syahrastani. Menurutnya mereka mengatakan “bahwa setelah Allah selesai menciptakan langit dan bumi, kemudian Dia bertahta di singgasana-Nya dengan berbaring telentang sambil meletakan salah satu kaki-Nya di atas kaki-Nya yang lain.”309 Kendati demikian, pendapat ini pun bukan merupakan pendapat umum di kalangan orang Yahudi.
Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, ayat di atas secara gamblang menyatakan, bahwa klaim ‘Uzair sebagai anak Allah merupakan penyimpangan dari ajarann tauhid yang dibawa nabi Musa as., yang sedikit banyak menodai kemurnian aqidah tauhid.
Kemudian pada tahun 330 SM saat dipimpin pleh Darius III, Persia ditaklukan oleh Alexander Agung dari
308 Muhammad Husayn Thabathaba’î, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut; Mu’assasah al-A’lami li Mathbû’ah, 1973 M), juz X, h.
253
309 Al-Syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal, (Beirut: Dar l-Fikr, t.th) h.220
Yunani. Bangsa Yahudi pun berganti tuan. Tahun 301 SM, sebagian negeri jajahan Yunani dapat direbut Mesir, salah satunya adalah Palestina. Lalu, pada tahun 199 SM, Palestina direbut oleh Assyria dari Mesir dan menguasainya selama 50 tahun sampai tahun 142 SM.
Pada tahun inilah, bangsa Yahudi berhasil merebut kemerdekaan ditangan Assyria. Akan tetapi tidak sampai seabad, yaitu 63 SM, mereka kembali hatuh ketangan bangsa Romawi.310
Pada masa penjajahan Romawi inilah, Tuhan mengutus Nabi Isa. Ia diutus untuk mengajak Bani Isrâ’îl agar berpegang teguh pada ajaran Nabi Musa yang sudah banyak diingkari. Lalu, pada tahun 33 M, diadakan perayaan Paskah tahunandi Baitul Maqdis sebagai perayaan selamatnya Bani Isrâ’îl dari penindasan Fir’aun.
Namun, perayaan tersebut berubah menjadi pesta perniagaan yang diwarnai perjudian. Bahkan, dipintu gerbang Baitul Maqdis diberi patung garuda sebagai lambang kebesaran kekaisaran Romawi.
Hal itu membuat Isa dan pengikutnya menyerbu Baitul Maqdis. Kerusuhan itu menimbulkan kemarahan penguasa Romawi, Romawi kemudian mencoba untuk menagkap Isa dan pengikutnya. Tetapi, mereka telah menyingkir dan bersembunyi di bukit Gesmani. Saat itu, orang Yahudi menyebarkan isu bahwa Isa akan
310 M. Ali Imran, Sejarah Terlengkap Agama-Agama Di Dunia, h. 350
melakukan pemberontakan terhadap Romawi dan mengangkat dirinya sebagai Raja Yahudi. Dari sinilah awal penangkapan Isa, dan terjadilah penyaliban Isa yang kontroversional.311
َماَء يَّللَّٱ ُراَصنَأ ُنَنَ َنوُّييراَوَلحٱ َلاَق يَّللَّٱ َلَيإ ييراَصنَأ نَم َلاَق َرفُكلٱ ُمُهنيم َٰىَسييع َّسَحَأ اَّمَلَ ف اَّن
َنوُميلسُم َّنََّيبِ دَهشٱَو يَّللَّٱيب ٥٢
“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?"
Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab:
"Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 52)
Setelah Nabi ‘Isa berdakwah dan memperlihatkan hujjah dan bukti nyata dihadapa kaumYahudi, sebagian besar dari mereka tetap dalam kekufuran , kesesatan, dan keingkaran mereka. Maka Allah swt. memilih sekelompok orang dari kaum Bani Isrâ’îl yang baik untuk dijadikan sahabat dan penolong bagi Nabi ‘Isa a.s. Mereka ditugaskan untuk membantunya menyebarkan agama, memberikan masukan kepadanya dan dan melanjutkan ajarannya. Apalagi ketika kaum Yahudi berniat membunuh dan menyalib Nabi ‘Isa a.s., bahkan mereka
311 M. Ali Imran, Sejarah Terlengkap Agama-Agama Di Dunia, h. 351