BAB III LANDASAN METODOLOGI KRITIK WACANA AGAMA
B. Teks dan Realitas
2. Teks dan Produksi Kebudayaan
Pertalian fenomena wahyu Islam dengan sistem budaya Arab ini sudah barang tentu hanya merupakan satu pola saja dari hubungan fungsional yang dimaksud di atas. Hubungan yang sama juga terdapat pada komponen-komponen sistem semiotis lain yang telah dijelaskan di atas.
Dengan demikian, antara tradisi dan pembaharuannya ini membentuk suatu kontinum tanpa mengingkari adanya diskontinuitas ataupun patahan paradigma di dalamnya.16
Kemampuan teks untuk membentuk dan mempengaruhi kebudayaan ini menunjukkan bahwa teks memiliki vitalitasnya sendiri di dalam merepresentasikan realitas. Pada Bab II sempat disinggung bahwa vitalitas teks ini terletak pada perwu- judannya sebagai sistem tanda di samping pada praksis wacana yang diciptakannya.
Bagi Nasr Abu Zayd sendiri, vitalitas teks ini lebih ditekankan pada aspek yang dise- butkan pertama sebagai bagian dari karakteristik linguistik teks itu sendiri. Ketika teks mengekspresikan kebudayaan melalui sistem linguistik, teks tersebut menurut Abu Zayd bukanlah pengusung budaya yang pasif ataupun salinan mekanis dari ke- budayaan. Melainkan memiliki kemampuan untuk mewujudkan budaya tadi dalam bentuk simbol dan mengkonstruksikan ulang fakta-faktanya dalam bentuk baru. Lagi pula, teks dalam perwujudannya sebagai sistem simbol ini membuka jalan bagi struk- tur budaya yang berbeda untuk berinteraksi dengan teks, yaitu dengan pembacaan dan interpretasi ulang atas teks, yang pada gilirannya akan balik mempengaruhi kebuda- yaan tersebut pada tingkatan lebih lanjut.
Menjelaskan vitalitas struktur linguistik teks ini, dan kemampuannya me- nyusun ulang sistem linguistik kebudayaannya, Abu Zayd memanfaatkan pembedaan yang terkenal dari Ferdinand de Saussure antara "langue" dan "parole". Langue ada- lah sistem kebahasaan yang bersifat kolektif dan dimiliki oleh setiap anggota masya-
16 A. Teeuw, "Nikmat Sastra Lama bagi Sastra Baru: Tentang Persambungan Sejarah dan Penciptaan Sastra", Kalam, 2 (1994), him. 75-85.
rakat; merupakan khazanah yang diacu tiap orang ketika menyusun ujarannya. Se- dangkan parole adalah ujaran individual itu sendiri, manifestasi individu dari bahasa.
Jadi, parole ini dalam hubungannya dengan langue merupakan aspek yang kongkret dan spesifik. la mewakili sistem individual—atau medium spesifik—yang terkandung dalam sistem linguistik general yang tersimpan dalam memori kolektif suatu kebuda- yaan. Namun parole dalam aspek yang individual dan kongkrit ini mampu menying- kapkan struktur sistem kebahasaan yang bersifat general tadi. Ini berarti hubungan antara langue dan parole bersifat dialektis dan sating mempengaruhi satu sama lain.17 Mengacu pada perbedaan antara langue dan parole di atas, Abu Zayd me- nandaskan bahwa setiap teks pada dasarnya merupakan parole dari sistem linguistik yang mendasarinya. Artinya, ia merupakan ungkapan spesifik atau manifestasi indi- vidual dari sistem linguistik tadi. Dalam pengertian ini teks memang merupakan ba- gian dari kebudayaan dan lahir dari kebudayaan tersebut. Tetapi dari segi lain, teks tersebut—dalam manifestasinya terhadap sistem linguistik tadi—membentuk sistem kode spesifik yang mampu mengkonstruksikan ulang unsur-unsur sistem signifikasi- nya yang semula. Di sini teks mampu menimbulkan efek perubahan pada sistem linguistiknya yang pada gilirannya berdampak pula pada sistem sosial budaya yang melandasinya.I8 Hubungan saling pengaruh antara teks dan kebudayaannya ini dapat digambarkan dalam bagan berikut.
Nasr Abu Zayd, Naqd, op. cit., him. 193.
18 Ibid, him. 193-4.
17
Teks
Sistem Sosial-Budaya
Bagan 4. Dialektika Teks dan Kebudayaan
Dari bagan di atas terlihat adanya gerak bolak-balik antara teks dan kebudayaan. Gerak 1 dapat dianggap mewakili pengejawentahan nilai-nilai budaya dalam bentuk teks sebagai salah satu sistem simbol. Sedangkan gerak 2 mewakili vitalitas teks sebagai simbol linguistik di dalam mempengaruhi dan membentuk ulang kebudayaan yang melahirkannya.
Pola di atas dimungkinkan karena keberadaan teks memang tidak terbatas pada fungsi eksternalnya semata di dalam merepresantasikan realitas, akan tetapi juga memiliki fungsi internal sebagai sistem perlambangan yang memiliki mekanisme otonom. Dengan kata lain, teks mampu memunculkan vitalitasnya sendiri, terlepas dari norma-norma eksternal yang berasal dari hubungannya dengan dunia luar teks.
Hal inilah yang membuat teks mampu melakukan dekontekstualisasi dan rekonteks- tualisasi, yaitu kemampuan membebaskan diri dari konteks semula di mana ia dipro- duksi dan lantas menciptakan sendiri lingkungan kontekstual baru bagi dirinya.19
Dalam pandangan Abu Zayd, justru vitalitas teks inilah yang menjadi kriteria untuk menentukan produktivitas dan otentisitas suatu teks. Maka teks yang
19
Aminuddin, op. cit, him. 36. Lihat juga Ignas Kleden, "Otonomi Semantik dan
1 2
cuma menyalin mentah-mentah realitas, ataupun sekedar mengulang-ulang apa yang sudah baku dalam sistem kebahasaan, teks tadi sebenarnya belum pantas memperoleh sebutan teks. la hanya menjadi saluran pasif dari langue tanpa mampu menciptakan parole sebagai ekspresi individual yang bersifat aktif dan kreatif. Abu Zayd menandaskan,
Teks yang semacam ini sebenarnya bukanlah "teks" melainkan "langue"
dari segi stabilitas dan penentangannya terhadap perkembangan. "Langue", seperti dinyatakan de Saussure, menghambat perubahan dan mempertahan- kan stabilitas karena merupakan fakta sosial. Sebaliknya, "parole"—yaitu ekspresi kebahasaan individual—memperbarui dan memperkembangkan sistem bahasa.... Dengan demikian terdapat teks yang diujarkan oleh
"langue", yaitu teks yang disebut demikian secara metaforik saja dan untuk menggampangkan. Dan ada pula teks yang sebenarnya, yaitu "parole" yang mengujarkan teks dengan menggunakan perangkat "langue".20
Berdasarkan hal ini, maka kekuatan (al-i'jdz) teks al-Qur'an bagi Abu Zayd tidak perlu dikembalikan pada status Ilahiah sumbernya. Kekuatan itu justru terletak pada keistimewaan narasi literernya yang jauh mengungguli teks-teks lain dan mampu menimbulkan dampak perubahan yang dahsyat pada kebudayaan.
Sebagai misal, sementara teks al-Qur'an menegaskan konsepsi budaya Arab tentang kemungkinan manusia berkomunikasi dengan "dunia luar", pada saat yang sama al- Qur'an telah merekonstruksikan konsepsi itu dalam bentuk yang sama sekali baru.
Pertama, teks al-Qur'an memperkenalkan gagasan tentang komunikasi yang bersifat vertikal sebagai ganti dari komunikasi horizontal dalam konsepsi budaya Arab (yaitu antarajindan penyair/dukun). Komunikasi vertikal itu melibatkan pihak pengirim,
20 Nasr Abu Zayd, An-Nass, op. cit., him.. 86.
agen, penerima dan sasaran sebagaimana tergambar dalam bagan di bawah ini. 21
Bagan 5. Komunikasi Vertikal Teks Al-Qur'an
Kedua, teks al-Qur'an mendokumentasikan konsepsi budaya Arab tentang mahkluk jin dalam bentuk narasi pengisahan (yaitu dalam QS. LXXII). Dalam narasi ini, kata ganti pertama yang mengacu pada jin segera digantikan dengan acuan lain pada narasi yang menyusulinya. Di sini jin diacu dengan kata ganti kedua dan diperbandingkan dengan manusia yang diacu dengan kata ganti ketiga, sementara acuan kata ganti pertama berubah kembali menjadi Allah. Ini menunjukkan bahwa jin tidaklah memiliki kehadiran yang otonom dalam narasi tersebut. Kehadiran jin adalah kehadiran yang dipersyaratkan, yaitu tergantung pada pengujar pertama (yaitu Allah) dan pendengar pertama (yaitu Muhammad). Ketika kehadiran jin ini kemudian menguat pada narasi berikutnya, maka yang tampil adalah jin Muslim.22 Dengan transformasi narasi ini, maka konsepsi budaya Arab yang menganggap jin sebagai sumber akses dengan "dunia luar" mengalami perombakan secara mendasar.
21
22
Nasr Abu Zayd, Maflrum, op. cit., him. 57. Bandingkanjugahlm. 139.
Ibid, him. 35.
Demikianlah, teks dengan kemampuan literernya sanggup menghasilkan perubahan pada budaya yang semula melahirkannya. Pada gilirannya, budaya yang telah berubah ini akan menentukan arah makna teks dan teks dengan maknanya yang baru ini selanjutnya akan balik mempengaruhi kebudayaan tersebut pada tingkatan lebih lanjut. Begitulah seterusnya tanpa henti.