• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAIDH DAN NIFAS

A. Darah Haidhlto

4. Thawaf

(.er"nig;i* b U;:,uy

"Maka

campurilab

mereha

itu di

tempat yang

diperintahkan Allah

kepadamu." (QS. Al-Baqarah : 222)

Maknanya

adalah

tempat keluarnya

darah, tegasnya

jika

ia

tidak

mendatanginya pada tempat tersebut, maka ia tidak termasuk orang yang kembali kepada

Allah

dan orang-orang yang suci."206

Para ulama

telah

bersepakat bahwa suami

tidak boleh

men-

datangi isterinya

yang

telah

suci

dari haidh kecuali jika

ia telah mandi, berbeda dengan pendapat

Ibnu

Hazm.

Di

dalam masalah

ini

ada sebuah pertanyaan: Jika

isteri

adalah

Ahlil Kitab,

apakah ia dipaksa

untuk

mandi?

Jawab:

Si

isteri

harus dipaksa

untuk mandi,

dan suami

tidak

boleh mendatanginya kecuali

jika

ia sudah mandi, karena ayat

ter-

sebut

tidak

dikhususkan hanya

untuk wanita

muslimah.2oz

Beberapa hal yang boleh

dilakukan

oleh

wanitay^ng

sedang

haidh

1. Dzikir

kepada

Allah

dan membaca al-Qur-an.

Hal ini boleh dilakukan oleh

wanit

^

yang sedang

haidh

dan

junub -menurut

pendapat yang

kuat- inilah

pendapat

Imam Abu Hanifah

dan yang

masyhur dari

pendapat

Imam asy-Syafi'i

dan

Imam

Ahmad.tot

Pendapat

ini diperkuat oleh hadits Ummu 'Athiyyah 'S;-',

ia berkata:

A f4t'c/ & roir ?;

i";4 d6\'-rbK iit

/

er

o t

e2:

6. -/ o

'-',J 'Ji ';'i &

T' ) J J

K,-fl

i;,u.i k; r;';'e,Gn,;)f+i e*

't;*;

"Kami

diperintahkan

untuk

keluar pada

hari rayt,hingga kami

mengeluarkan para gadis dari pingitan dan wanita-wanita yang sedang

haidh,

mereka semua

di

belakang manusia,

bertakbir

dengan

takbir

mereka,

berdo'a

dengan

do'a

mereka, mereka mengharapkan keberkahan dan kesucian

hari

itu."2to

Dalam

hadits

ini dijelaskan

bahwa para

wanitayangsedang

haidh

bertakbir

dan

berdzikir

kepada

Allah W

.

Pendapat

ini diperkuat

oleh Rasulullah

ffi

pada saat bersabda

kepada'Aisyah Sf,:

L*i' Jtl

2oe Dinukil dari ungkapan Syaikhul Islam dalam al-Fataataaa (XXI/459).

210 HR. Al-Bukhari (no.97I), Muslim (hal. 606), dan Abu Dawud (no. 1138).

"Lakukanlah

seperti apa-y^ngdilakukan oleh orang yang me- laksanakan

haji...

."211

Sudah

maklum

bahwa orang yang

berhaji berdzikir

kepada

Allah

dan membaca

al-Qur-an,

maka

demikian pula

orang yang sedang haidh.

Ibnu Hazm

,+sa berkata dalam al-Muhallaa

[/77-78), "Mem-

baca al-Qur-an, bersujud

di

dalamnya (sujud

tilawah),

menyentuh mush-haf, dan

berdzikir

kepada

Allah

merupakan perbuatan sunnah yang pelakunya

diberikan

pahala.

Maka

barangsiapa menetapkan

hukum untuk tidak boleh melakukannya

pada beberapa kesem- patan, ia dibebani

(dituntut) untuk

mendatangkan

dalilnya."

2.

Bersujud

ketika

mendengar ayat sajdah.

Tidak

ada satu alasan pun yang melarang seorang wanita yang sedang haidh

untuk

bersujud

ketika

mendengar ayat saldah karena sujud tersebut

bukanlah

shalat dan

tidak disyari'atkan

dalam ke- adaan suci.

Diriwayatkan

dalam Shahiib al-Bukbari

(no.

4862):

A'&j

"Bahwa Nabi ffi

membaca surat

an-Najm, lalu beliau

sujud

di

dalamnya,

demikian pula seluruh kaum muslimin,

orang- orang

musyrik, jin,

dan semua manusia sujud bersamanya."

Tidak mungkin jika kita

mengatakan bahwa semuanya ada

di

dalam keadaan

berwudhu'.

Sesungguhnya sujud

tilawah

bukanlah shalat, maka tidak disyaratkan

di

dalamny^

^pa-apayang disyaratkan

di

dalam shalat.

Pendapat sepefti

inilah

yang

diungkapkan

oleh

az-Zuhri

dan Qatadah dalam Mush

annaf

'Abdirazzaq

[./

32L) .212

21r Telah disebutkan takhjrijnya.

2t2 Jaanti'Abhaamin Nisaa' Q/I74) dengan maknanya.

Bab Thaharah

l

'

t19

3. Menyentuh

musb'hafal-Qur-an.

Kami tidak

mengetahui

adxtyadalil

yang secara jelas melarang wanita yang sedang haidh

untuk menyentuh

mush-haf. 's7alaupun sebagian besar ulama berpendapar bahwa orang yang

sedanglaidh

dilarang

menyentuh

mush-haf.

Akan tetapi dalil

yang mereka ba- wakan iama sekali

tidak

cocok

untuk

dijadikan hujjah, sebagaimana yang telah kami jelaskan sebagiannya di dalam pembahasan "Sesuatu yang

tidak

mewajibkan

berwudhu'."

Ibnu Hazm

'a!{H pun berpendapat bahwa orang yang sedang

haidh

boleh menyentuh mush-haf, sebagaimana disebutkan dalam

kitab

al-Muhallaa g/ 77).

4.

Seorang suami membaca al-Qur-an sedangkan ia tengah berada

di

pangkuan isterinya yang sedang haidh.

Sebagaimana dijelaskan dalam

hadits'Aisyah

.;:G *, en* e Lir'J'01';Stl;

€9,:

ffi ttlt

ors

"Nabi ffi

membaca al-Qur-an, sedangkan kepala beliau berada

di

pangkuanku dan aku sedang haidh."2t3

5.

Menyaksikan shalat dua

hari

raya.

Hal itu tidak

mengapa, bahkan wanita yang haidh

dianjurkan untuk

keluar menyaksfuan

shalat'Id,

akan tetapi mereka menjauhi shalat.

Nabi S,

bersabda:

A\ o3U't ;z*lf, ,riJr Lftii',;t-.ilt LH-

" Hendakr ah p ara

r#::#"' r'l^{i*,;1,1)::^

yang sedang haidh keluar

d"n

^eny"ksikan

kebaikan (khutbah

:td;, d"" do'a kaum muslimin. Hendaklah

para

wanit^yang

sedang haidh menjauhi temPat shalat."21a

213 HR. Al-Bukhari (no.7549),Muslim (hal.Z+e), dan selain keduanya.

214 HR. Al-Bukhari di dalam berbagai temPat' di antaranya no.324.

.!

6.

Masuk ke dalam masjid.

Di

dalam masalah

ini

ada perdebatan panjang

di

antara para ulama, yang

tidak mungkin

dalam kesempatan

ini kami

menyebut-

kan

argumentasi

dari

setiap pendapat mereka."5

Akan tetapi

ke- simpulannya bahwa

kami

sama sekali

tidak

mendapati sebuah dalil yang shahih dan jelas yang melarang

wanita haidh untuk

masuk ke dalam masjid. Pada dasarnya hal

itu dibolehkan

hingga ditemu- kan sebuah dalil yang melarangnya.

Di

antara

dalil

yang paling kuar membolehkan hal

itu

adalah sikap Rasulullah

M, y^"gmemboleh- kan'Aisyah untuk

masuk ke dalam

Masjidil

Haram, padahal beliau dalam keadaan haidh, dan yang dilarang hanyalah melakukan thawaf, sebagaimana telah dijelaskan haditsnya berulang-ulang.

Demikian puia

seorang

wanita kulit hitam

yang menginap

di

dalam masjid dan

Nabi i5

tidak memerintahkannya

untuk

menjauhi masjid

ketika

haidh, juga

dalil-dalil

yang lainnya.

Sungguh

pun demikian, hendaklah

seseorang

memohon

pe-

runjuk

kepada

Allah

dalam masalah

ini.

7.

Suami makan dan

minum

bersama isterinya yang sedang haidh.

Diriwayatkan dari 'Aisyah W-,,ia

berkata:

"Aku

pernah

minum air ketika

aku sedang

haidh,

kemudian aku memberikannya (gelas) kepada Nabi

ffi,

beliau meletakkan

mulutnya

pada (bekas)

tempat mulutku,

dan

aku menggigit

daging dari tulangnya sedangkan aku tengah haidh, kemudian aku memberikannya kepada

Nabi #, lalu

beliau rneletakkan

mulutnya

pada

tempat

ftekas) mulutku."216

Guru kami iri

4L;

telah menjelaskannya dengan sangat luas dalam Jaami' Abkaamin Nisaa'

l/

19I-I98).

HR. Muslim (no. 300), Abu Dawud (no. 259), an-Nasa-i (I/56) dan Ibnu Majah

Bab Thaharah t21

8.

'Wanita yang sedang haidh melayani suaminya.

Seperti memandikan dan menyisirnya, diriwayatkan

&ri'Aisyah

€9,

, beliau berkata:

"uG6:6 M.\r ..ti., ;i;,Vrl*

'J ' / / /

"Aku

menyisir rambut Rasulullah

ffi d^nketika itu

aku sedang

haidh."2t7

9. Vanita

yang sedang haidh

tidur

bersama suaminya dalam seli-

mut

Diriwayatkan

dari

lJmmu

Salamah

€is,:

'+\ya;;'upi;^L2) M "4, e6 q.

, oi / I

-: . .' t

. tot,

,.- . ol /

i* r-jJf iu |Gih> ,"$ L':t|v tji:iu

.ai-ir ;U&v"GGri|e

*. -z

"Ketika aku

bersama

Nabi M, ddur di

dalam sebuah

selimut tebal tiba-tiba aku haidh, lalu aku keluar

dengan perlahan, kemudian aku mengambil pakaiany^ngbiasa aku pakai

ketika haidh. Selanjutnya beliau berkata, 'Apakah

engkau sedang

haidh?' Aku

menjawab,

'Ya,'kemudian

beliau memanggilku dan aku pun

tidur

bersamanya di dalam selimut yang teba1."218

An-Nawawi

ai,!g berkata dalam Syarh

Muslim $/594)"'Hadits

tersebut

menunjukkan

bolehnya

tidur

dan

berbaring

bersama se- orang isteri yang sedang haidh dalam satu

selimut..."

Dalam dokumen Panduan Thaharah dan Hukum Najis dalam Islam (Halaman 108-113)