DAFTAR SIMBOL
2.1 Viskositas
2.1.1. Pengertian Viskositas
Viskositas merupakan ukuran kekentalan yang menyatakan besar kecilnya gesekan dlam fluida. Semkain besar viskositas fluida, semakin sulit suatu benda bergerak dalam fluida tersebut beberapa ayat dalam Al-Qur‟an menyebutkan adanya suatu ukuran dalam setiap penciptaan. “Ukuran-ukuran ini membuat system keseimbangan dan keteraturan dalam kehidupan dan alam semesta‟‟. Diantaranya adalah surat Al-Hijr ayat 21.
Viskositas adalah ukuran yang menyatakan kekentalan suatu cairan atau fluida. Kekentalan merupakan sifat cairan yang berhubungan erat dengan hambatan untuk mengalir. Beberapa cairan ada yang mengalir dengan cepat, sedangkan lainnya mengalir secara lambat. Cairan yang mengalir cepat contohnya seperti air, alkohol, dan bensin karena memiliki nilai viskositas kecil.
Sedangkan cairan yang mengalir lambat seperti gliserin, minyak asto dan madu karena mempunyai nilai viskositas yang besar. Jadi viskositas tidak lain menentukan kecepatan mengalirnya cairan.
Viskositas cairan yang bersifat Newtonian tidak berubah dengan adanya perubahan gaya gesekan antar permukaan cairan dengan dinding. Cairan newtonian biasanya merupakan cairan murni secara kimiawi dan homogen secara fisikawi. Contohnya adalah larutan gula, air, minyak, sirup, gelatin, dan susu (Ningrum dan Toifur, 2019).
secara Umum, pada setiap aliran, lapisan-lapisan berpindah pada kecepatan yang berbeda-dan viskositas fluida meningkat dari tekanan geser antara lapisan yang secara pasti melawan setiap gaya yang diberikan. Cairan mempunyai gaya gesek yang lebih besar untuk mengalir daripada gas. Sehingga cairan mempuyai koefisien viskositas yang lebih besar dari pada gas. Viskositas gas bertambah
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 4 dengan naiknya temperatur. Koefisien gas pada tekanan tidak terlalu besar, tidak tergantung tekanan, tetapi untuk cairan naik dengan naiknya tegangan. Viskositas (kekentalan) dapat diartikan sebagai suatu gesekan di cairan zat cair. Kekentalan itulah maka diperlukan gaya untuk menggerakkan suatu permukaan untuk melampaui suatu permukaan lainnya, jika diantaranya ada larutan baik cairan maupun gas mempunyai kekentalan air lebih besar daripada gas, sehingga zat cair dikatakan lebih kental daripada gas.
Viskositas (kekentalan) cairan akan menimbulkan gesekan antar bagian atau lapisan cairan yang bergerak satu terhadap yang lain.
Hambatan atau gesekan yang terjadi ditimbulkan oleh gaya kohesi di dalam zat cair. Viskositas gas ditimbulkan oleh peristiwa tumbukan yang terjadi antar molekul – molekul gas (Rana, 2018).
Viskositas menentukan kemudahan suatu molekul bergerak karena adanya gesekan antar lapisan material. Semakin besar viskositas maka aliran akan semakin lambat. Besarnya viskositas dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti temperatur, gaya tarik antar molekul dan ukuran serta jumlah molekul terlarut. Fluida baik zat cair maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki tingkat kekentalan yang berbeda.
Pada zat cair, viskositas disebabkan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis). Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh tumbukan antara molekul. Viskositas dapat dinyatakan sebagai tahanan aliaran fluida yang merupakan gesekan antara molekul – molekul cairan satu dengan yang lain. Suatu jenis cairan yang mudah mengalir, dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah, dan begitupun sebaliknya bahan-bahan yang sulit mengalir dapat dikatakan memiliki viskositas yang tinggi (Sugarda dkk., 2019).
Sains dan teknologi menjadi dua hal penting pada abad 21 ini.
Sains yang terdiri dari fisika, kimia dan biologi merupakan landasan penting dalam pembangunan. Fisika adalah ilmu yang mempelajari atau mengkaji benda yang ada di alam, gejala,
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 5 kejadian-kejadian alam serta interaksi dari benda-benda di alam tersebut secara fisik dan mencoba merumuskannya secara matematis sehingga dapat di mengerti secara pasti oleh manusia untuk kemanfaatan umat manusia lebih lanjut. Salah satu cabang ilmu fisika yang dipelajari di universitas adalah fluida (Departemen Pendidikan Nasional, 2003).
Fluida memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena manusia meminum, menghirup bahkan berenang di dalam fluida. Viskositas merupakan salah satu materi fluida statis yang dipelajari saat perkuliahan fisika dasar. Viskositas merupakan gesekan yang terjadi diantara lapisan-lapisan yang bersebelahan di dalam fluida.Viskositas pada gas diakibatkan oleh tumbukan antar molekul gas sedangkan viskositas pada zat cair terjadi akibat adanya gaya-gaya kohesi antar molekul zat cair (Damayanti dkk., 2018).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi viskositas fluida salah satunya adalah suhu. Viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas akan turun dan begitu pula sebaliknya. suhu berhubungan erat dengan viskositas dimana semakin tinggi suhu maka semakin kecil nilai viskositas dalam penelitian (Damayanti dkk., 2018).
Sebelumnya telah diketahui pengaruh suhu terhadap viskositas sirup dan susu kental manis berkurang dengan cepat seiring dengan kenaikan suhu. Namun pengaruh suhu terhadap viskositas masih jarang dibahas dalam pembelajaran. Salah satu contoh fluida yang dapat digunakan untuk menjelaskan materi viskositas adalah minyak goreng.
Minyak goreng merupakan salah satu contoh fluida yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat khususnya sehari-hari sehingga sangat diharapkan dapat membuat mahasiswa lebih mudah memahami materi viskositas. Minyak goreng merupakan bahan pangan dengan komposisi utama trigliserida yang berasal dari bahan nabati kecuali kelapa sawit dan kelapa biasa, dengan atau yang tanpa perubahan kimiawi, termasuk hidrogenasi, pendinginan dan telah melalui proses rafinasi atau pemurnian bahan pangan yang
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 6 digunakan untuk menggoreng. Minyak goreng banyak dimanfatkan oleh masyarakat karena minyak goreng mampu menghantarkan panas, memberikan cita rasa (gurih), tekstur (renyah), warna (coklat), dan mampu meningkatkan nilai gizi (Damayanti dkk., 2018).
Kualitas minyak goreng dapat diketahui salah satunya dengan melakukan perubahan viskositas minyak goreng sebelum dan sesudah digunakan untuk memasak. Proses pemanasan pada minyak goreng saat memasak dapat menurunkan viskositas minyak goreng tersebut. Semakin tinggi penurunan viskositas minyak goreng menunjukkan bahwa kualitas minyak goreng tersebut tidak cukup baik (Regina dkk., 2018).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Lubis kinerja praktikum siswa dengan menggunakan buku petunjuk praktikum fisika berbasis laboratorium virtual dinyatakan baik karena dengan menggunakan buku petunjuk praktikum siswa akan lebih mudah dalam melaksanakan praktikum secara virtual dan dengan adanya ini pula siswa dapat melaksanakan kegiatan praktikum, Hal tersebut menunjukkan bahwa buku petunjuk praktikum membantu siswa dalam melaksanakan kegiatan praktikum. Namun, bahan ajar materi viskositas terhadap pengaruh suhu berbasis kontekstual untuk siswa masih jarang ditemui. Oleh sebab itu peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai pengaruh suhu terhadap viskositas minyak goreng. Data yang didapatkan dari hasil penelitian digunakan untuk menyusun rancangan bahan ajar petunjuk praktikum mengenai pengaruh suhu terhadap viskositas sehingga diharapkan mahasiswa dapat lebih mudah memahami materi viskositas (Lubis, 2018).
Pada percobaan yang dilakukan, aliran dua fasa cairan - gas mengalir pada sistem perpipaan horizontal dan vertikal. Viskositas dari fluida yang dialirkan menjadi parameter yang penting karena datanya diperlukan untuk mengukur seberapa gas yang perlu dialirkan dalam transfer fluida. Jika salah perhitungan (terlalu kecil atau terlalu tinggi tekanannya), maka pipa yang digunakan bisa mengalami korosi, ataupun fluktuasi tekanan dari cairannya tidak bisa diperkirakan. Hal ini
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 7 berbahaya dalam pengoperasian sistem perpipaan di dalam industri migas. Karena itu, dilakukan riset yang lebih lanjut untuk memperdalam kajian mengenai pengaruh viskositas dan gradien tekanan di dalam aliran dua fase cairan – gas searah (Rana, 2018).
2.1.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Viskositas
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas adalah sebagai berikut:
a. Tekanan
Viskositas cairan naik dengan naiknya tekanan, sedangkan viskositas gas tidak dipengaruhi oleh tekanan.
b. Temperatur
Viskositas akan turun dengan naiknya suhu, sedangkan viskositas gas naik dengan naiknya suhu. Pemanasan zat cair menyebabkan molekul-molekulnya memperoleh energi. Molekul-molekul cairan bergerak sehingga gaya antar molekul melemah. Dengan demikian viskositas cairan akan turun dengan kenaikan temperatur.
c. Kehadiran zat lain
Penambahan gula tebu meningkatkan viskositas air.Adanya bahan tambahan seperti bahan suspensi menaikan viskositas air.
Pada minyak ataupun gliserin adanya penambahan air akan menyebabkan visositas akan turun karena minyak maupun gliserin akan semakin encer, waktu alirnya semakin cepat.
d. Ukuran dan berat molekul
Viskositas naik dengan naiknya berat molekul. Misalnya laju aliran alkohol cepat, larutan minyak laju alirannya lambat dan kekentalannya tinggi serta laju aliran lambat sehingga viskositas juga tinggi.
e. Ikatan Rangkap
Viskositas akan naik jika ikatan rangkap semakin banyak.
f. Kekuatan antar molekul
Viskositas air naik dengan adanya ikatan hidrogen, Viskositas CPO dengan gugus OH pada trigliseridanya yang naik pada keadaannya Yang sama Suatu jenis cairan yang mudah mengalir dapat
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 8 dikatakan memiliki viskositas yang rendah, dan sebaliknya bahan- bahan yang sulit mengalir dikatakan memiliki viskositas yang tinggi.
Pada hukum aliran viskositas, Newton menyatakan hubungan antara gaya-gaya mekanika dari suatu aliran viskos yang sebagai geseran dalam (viskositas) kekentalan adalah konstan sehubungan dengan adanya gesekan. Hubungan tersebut berlaku untuk fluida Newtonian, dimana perbandingan antara tegangan geser (s) dengan kecepatan geser (g) nya konstan. Parameter inilah yang disebut dengan viskositas.
Aliran viskos dapat digambarkan dengan dua buah bidang sejajar yang dilapisi fluida tipis diantara kedua bidang tersebut. Suatu bidang permukaan bawah yang tetap dibatasi oleh lapisan fluida setebal h, sejajar dengan suatu bidang permukaan atas yang bergerak seluas A. Jika bidang bagian atas itu ringan, yang berarti tidak memberikan beban pada lapisan fluida dibawahnya, maka tidak ada gaya tekan yang bekerja pada lapisan fluida.
Suatu gaya F dikenakan pada bidang bagian atas yang menyebabkan bergeraknya bidang atas dengan kecepatan konstan v, maka fluida dibawahnya akan membentuk suatu lapisan – lapisan yang saling bergeseran. Setiap lapisan tersebut akan memberikan tegangan geser (s) sebesar F/A yang seragam dengan kecepatan lapisan fluida yang paling atas sebesar v dan kecepatan lapisan fluida paling bawah sama dengan nol, maka kecepatan geser (g) pada lapisan fluida di suatu tempat pada jarak y dari bidang tetap dengan tidak adanya tekanan fluida (Ningrum dan Toifur, 2019).
Lapisan-lapisan gas atau zat cair yang mengalir saling berdesakan karena itu terdapat gaya gesek yang bersifat menahan aliran yang besarnya tergantung dari kekentalan zat cair. Gaya gesek tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus.
2.1.4 Teori Dasar Viskositas
Viskositas disebabkan oleh pertukaran momentum molekuler di antara lapisan-lapisan fluida, efek ini terlihat sebagai tegangan tangensial atau tegangan geser yang terjadi di antara lapisan yang
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 9 bergerak. Akibat adanya gradien kecepatan, akan menyebabkan lapisan fluida yang lebih dekat pada plat yang bergerak, dan akan diperoleh kecepatan yang lebih besar dari lapisan yang lebih jauh.
Sebuah benda yang bergerak dalam fluida yang punya viskositas lebih tinggi mengalami gaya gesek viskositas yang lebih besar dari pada jika benda tersebut bergerak di dalam fluida yang viskositasnya lebih rendah.
a. Hukum Stokes
Viskositas (kekentalan) berasal dari perkataan Viscous Suatu bahan apabila dipanaskan sebelum menjadi cair terlebih dulu menjadi viscous yaitu menjadi lunak dan dapat mengalir pelan-pelan. Viskositas dapat dianggap sebagai gerakan di bagian dalam (internal) suatu fluida Jika sebuah benda berbentuk bola dijatuhkan ke dalam fluida kental, misalnya kelereng dijatuhkan ke dalam kolam renang yang airnya cukup dalam, nampak mula-mula kelereng bergerak dipercepat. Beberapa saat setelah menempuh jarak cukup jauh, kelereng bergerak dengan kecepatan konstan (bergerak lurus beraturan). Ini berarti bahwa di samping gaya berat dan gaya apung zat cair masih ada gaya lain yang bekerja pada kelereng tersebut. Gaya ketiga ini adalah gaya gesekan kekentalan suatu fluida (Nuklir dan batan, 2018).
b. Hukum Newton
Viskositas selalu dikaitkan dengan kekentalan suatu fluida, memang tidak salah, tetapi viskositas ternyata memiliki makna yang lebih dari sekedar kekentalan suatu cairan. Untuk lebih memahami tentang viskositas, marilah kita lihat bagaimana hukum Newton bercerita tentang viskositas fluida.
Adapun jenis cairan dibedakan menjadi dua tipe, yaitu cairan dan non newtonian.
1. Cairan Newtonian
Cairan newtonian adalah cairan yg viskositasnya tidak berubah dengan berubahnya gaya irisan, ini adalah aliran kental (viscous) sejati. Contohnya : Air, minyak, sirup, gelatin, dan
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 10 lain-lain. Shear rate atau gaya pemisah viskositas berbanding lurus dengan shear stresss secara proporsional dan viskositasnya merupakan slope atau kemiringan kurva hubungan antara shear rate dan shear stress. Viskositas tidak akan tergantung pada shear rate dalam kisaran aliran laminar (aliran streamline dalam suatu fluida). Cairan Newtonian ada 2 jenis yaitu, yang viskositasnya tinggi disebut “Viscous” dan yang viskositasnya rendah disebut “Mobile” (Abidin dan Wagiani, 2020).
Cairan ini memiliki viskositas yang tidak terpengaruh dengan perubahan gaya irisan. Hal ini menunjukkan aliran kental atau viscous. Misalnya adalah minyak, air, gelatin, sirup dan lain
sebagainya. Gaya pemisah viskositas akan berbanding lurus dengan shear stress.
Viskositasnya sendiri merupakan kemiringan kurva yang menunjukkan bahwasannya hubungan shear stress dengan gaya pemisah. Viskositas tidak bergantung terhadap gaya pemisah pada aliran laminar. Cairan newtonian juga terbagi menjadi dua bagian, yaitu ada yang viskositasnya rendah (mobile) dan tinggi (viscous).
Cairan sensitif geser lebih cair tinggi laju geser atau celah antara zat dan dinding bejana, sebagai suatu peraturan, tidak terlalu mempengaruhi parameter ini dan dapat diabaikan.
Tingkat regangan diketahui untuk semua bahan dan merupakan nilai tabel. Namun, dalam beberapa kasus, ini dapat berubah.
Misalnya, jika cairan merupakan emulsi yang diterapkan pada film fotografi, bahkan ketidaksempurnaan kecil pun dapat menyebabkan pewarnaan dan produk akhir tidak akan memiliki kualitas yang diinginkan.
Dalam fluida Newtonian, viskositas tidak bergantung pada laju geser. Namun, untuk beberapa di antaranya, viskositas berubah seiring waktu. Ini memanifestasikan dirinya dalam perubahan tekanan di tangki atau pipa. Cairan semacam itu
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 11 disebut dilatant atau thixotropic. Untuk fluida laten, tegangan geser selalu meningkat, karena viskositasnya dan kenaikan laju gesernya saling terkait. Untuk cairan thixotropic, parameter ini dapat berubah secara kacau. Tingkat regangan tidak dapat meningkat dengan cepat dengan penurunan viskositas. Oleh karena itu, kecepatan pergerakan partikel materi dapat bertambah, berkurang atau tetap sama. Itu semua tergantung pada jenis cairannya. Namun laju deformasi cenderung menurun. Itu artinya Kebanyakan cairan (air, senyawa organik dengan berat molekul rendah, larutan sejati, logam cair dan garamnya) memiliki indeks viskositas yang hanya bergantung pada sifat cairan dan suhu. Cairan semacam itu disebut newtonian dan gaya gesekan internal yang timbul di dalamnya mematuhi aturan hukum Newton (Egziabher dan Edwards, 2017).
2. Cairan Non-Newtonian
Cairan non newtonian yaitu cairan yang viskositasnya berubah dengan adanya perubahan gaya yang irisan dan dipengaruhi oleh kecepatan tidak linear.
Fluida non-newtonian adalah fluida dengan gradien kecepatan yang mempengaruhi koefisien kekentalan. Kurva tegangannya tidak linier sehingga tidak memenuhi kriteria hukum gerak Newton dalam linierisasi. Penerapan gaya pada fluida non-Newtonian menghasilkan viskositas tanpa konstanta.
Cairan Newtonian (dinamai demikian untuk menghormati Isaac Newton) adalah fluida kental yang mematuhi hukum gesekan kental Newton dalam alirannya, yaitu tegangan geser dan gradien kecepatan
dalam fluida semacam itu bergantung secara linier. Rasio aspek antara nilai-nilai ini dikenal sebagai viskositas. Dari definisi tersebut, secara khusus, dapat disimpulkan bahwa fluida Newtonian terus mengalir, bahkan jika gaya luarnya sangat kecil, asalkan tidak benar-benar nol.
Untuk fluida Newtonian, viskositas, menurut definisi, hanya
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 12 bergantung pada suhu dan tekanan (dan juga pada komposisi kimianya, jika fluida tidak murni), dan tidak bergantung pada gaya yang bekerja padanya. Cairan Newtonian yang khas adalah air.
c. Hukum Archimedes
Hukum Archimedes mempelajari tentang gaya ke atas yang dialami oleh benda apabila berada dalam fluida. Benda-benda yang dimasukkan pada fluida seakan-akan mempunyai berat yang lebih kecil daripada saat berada di luar fluida. Misalnya, batu terasa lebih ringan ketika berada di dalam air dibandingkan ketika berada di udara. Berat di dalam air sesungguhnya berat, tetapi air melakukan gaya yang arahnya ke atas. Hal ini menyebabkan berat batu akan menjadi berkurang, sehingga batu terasa lebih ringan.
Pada saat kita berjalan atau berlari di dalam air, kita tentunya akan merasakan bahwa langkah kita lebih berat dibandingkan jika kitamelangkah di tempat biasa. Gejala ini disebabkan adanya tekanan dari zat cair. Pengamatan ini memunculkan sebuah hukum yang dikenal Hukum , yaitu :
“Jika sebuah benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka benda tersebut akan mendapat gaya yang disebut gaya apung (gaya ke atas) sebesar berat zat cair yang dipindahkannya.”
Biografi Archimedes (287-212 SM) - Archimedes adalah ilmuwan terbesar sebelum Newton. Ia adalah ahli matematika Yunani (terutama geometri), ahli fisika (terutama mekanika, statika dan hidrostatika), ahli optika, ahli astronomi, warga negara Sisillia, pengarang dan penemu. Ia bereksperimental karena mendasarkan penemuannya pada eksperimen.
Semua kebenaran dari penemuannya Archimedes telah membuktikan eksperimen yang luar biasa (Egziabher dan Edwards, 2017).
Archimedes telah menemukan hukum tuas (pengungkit) dan katrol (Derek), hukum Archimedes, ulir Archimedes, spiral Archimedes, kaca pembakar, pelempar batu karang, model orbit
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 13 bintang, mengukur lingkaran cara menghitung jumlah pasir di seluruh angkasa dan mencatumkannya dalam bilangan. Ia mengarang 20 jilid buku, antara lain berjudul tentang elips dan silinder, cara mengukur lingkaran, penghitung pasir, tentang benda terapung, cara membuat elips, tentang pusat gaya berat dan sebagainya. Saat Archimedes berendam dalam bak mandinya, dia melihat bahwa air dalam bak mandinya tertumpah keluar sebanding dengan besar tubuhnya.
Archimedes menyadari bahwa efek ini dapat digunakan untuk menghitung volume dan isi dari mahkota tersebut. Dengan membagi berat mahkota dengan volume air yang dipindahkan, kerapatan dan berat jenis dari mahkota bisa diperoleh. Berat Jenis mahkota akan lebih rendah daripada berat jenis emas murni apabila pembuat mahkota tersebut berlaku curang dan menambahkan perak ataupun logam dengan berat jenis yang lebih rendah. Setiba di rumah, Archimedes menimbang emas murni seberat mahkota raja. Emas murni lalu dimasukkan kedalam baskom yang penuh air. Air yang meluap ditampung dan ditimbangnya. Kemudian ia mencelupkan mahkota ke baskom kedua yang juga penuh air. Baskom pertama dan kedua sama besarnya. Ternyata air yang meluap dari baskom kedua lebih banyak dari pada air yang meluap dari baskom pertama.
Dari kejadian ini Archimedes tahu, bahwa mahkota raja tidak terbuat dari emas murni (Journa dkk., 2021).
Akibat adanya gaya apung, berat benda dalam zat cair akan berkurang. Benda yang diangkat dalam zat cair akan lebih ringan dibandingkan diangkat di darat. Jadi, telah jelas bahwa berat benda seakan berkurang bila benda dimasukkan ke dalam air. Hal itu karena adanya gaya ke atas yang ditimbulkan oleh air dan diterima benda. Dengan demikian maka resultan gaya antara gaya berat dengan gaya ke atas merupakan berat benda dalam air. Selanjutnya berat disebut dengan berat semu yaitu berat benda tidak sebenarnya karena benda berada dalam zat cair.
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN VISKOSITAS LARUTAN PADA BERBAGAI KADAR 14 d. Hukum Pascal
Apabila kita memompa sebuah ban sepeda, ternyata ban akan menggelembung secara merata. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan yang kita berikan melalui pompa akan diteruskan secara merata ke dalam fluida (gas) di dalam ban. Selain tekanan oleh beratnya sendiri, pada suatu zat cair (fluida) yang berada di dalam ruang tertutup dapat diberikan tekanan oleh gaya luar. Jika tekanan udara luar pada permukaan zat cair berubah, maka tekanan pada setiap titik di dalam zat cair akan mendapat tambahan tekanan dalam jumlah yang sama. Peristiwa ini pertama kali dinyatakan oleh seorang ilmuwan Prancis bernama Blaise Pascal (1623 – 1662) dan disebut Hukum Pascal. Jadi, dalam Hukum Pascal dinyatakan berikut ini.
“Tekanan yang diberikan pada zat cair dalam ruang tertutup akan diteruskan ke segala arah dengan sama besar”.
2.2 Metode Pengukuran Viskositas