Pembelajaran Sosial Emosional 02.01.3-T2-4a Ruang Kolaborasi (LK 2.5)
Alfathannia Kinanti Andini Noviyanti Endang Suhartami
Fitri Nuraini Noviya Intan Sayidatul Latifah Syam
PPG Prajabatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2023/2024
1. Anda dapat mencatat hal penting yang muncul di pikiran Anda pertama kali saat menonton atau teringat pada film “Laskar Pelangi”.
a. Kesadaran diri
Kesadaran diri anak-anak di SD Muhammadiyah yang telah menemukan minat dan bakat. Contoh yang terdapat dalam film tersebut yaitu Lintang yang memiliki bakat berhitung dengan cepat, sehingga mampu mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kecamatan dan akhirnya menjadi juara. Namun, keterbatasan biaya dan keadaan membuat Lintang tidak dapat melanjutkan sekolah dan dia menerima keadaannya dengan lapang dada untuk menafkahi adik-adiknya. Sedangkan Ikal menemukan minatnya untuk tetap melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi dengan mendapatkan beasiswa di negara impiannya sewaktu kecil.
b. Mindfulness
Guru mengajak anak-anak untuk menerima keadaan sekolah yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana. Guru selalu mengajak peserta didik untuk tetap semangat belajar walaupun keadaannya berbeda dengan sekolah lain.
Walaupun dengan keadaan tersebut peserta didik dan guru selalu menikmati setiap proses belajar yang dilakukan hingga membawa nama baik sekolah menang di lomba cerdas cermat.
c. Critical inquiry
Kemampuan berpikir kritis yang terdapat pada film tersebut salah satunya yaitu saat sekolah mengalami kendala dana untuk mengikuti karnaval. Salah satu anak yang bernama Mahar dapat menemukan solusi untuk mengikuti karnaval 17 Agustus. Mahar terinspirasi menampilkan tarian dari suku Asmat dengan memodifikasi gerakan dan kostum yang berasal dari alam dan berhasil mendapatkan kejuaraan. Kemampuan berpikir kritis yang dimiliki Mahar dapat mengantarkan sekolahnya menjuarai karnaval 17 Agustus.
d. Empathy
Guru dan anak-anak memiliki rasa empati terhadap musibah yang dihadapi oleh Lintang. Anak-anak dan Bu Muslimah merasa sedih dengan musibah duka yang dialami oleh Lintang. Bu Muslimah dan anak-anak menangis tersedu-sedu dan Ikal mengejar Lintang yang telah berpamitan pulang menggunakan sepeda.
2. Bila Anda sudah menonton film tersebut, apa yang bisa Anda pelajari dari film tersebut (Laskar Pelangi) berhubungan dengan guru yang menjadi agen perubahan?
Pelajaran yang dapat diambil dari film Laskar Pelangi berhubungan dengan guru yang menjadi agen perubahan yaitu :
a. Guru sebagai agen perubahan sudah seyogyanya untuk membantu, memotivasi, dan membangun kepercayaan diri peserta didik agar memiliki mimpi yang besar dan menggapai mimpi maupun cita-cita.
b. Meskipun fasilitas terbatas, tetapi semangat dan optimis untuk membelajarkan peserta didik dan meraih prestasi akademik tidak pernah luntur. Film ini menunjukkan bagaimana kesetiaan, pengabdian, dan integritas seorang guru terhadap profesinya.
c. Guru sebagai agen perubahan sebaiknya memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik untuk bermimpi besar dan berpandangan luas.
d. Guru yang menghadirkan pengalaman bermakna bagi peserta didik di lingkungan kelas dan sekolah.
3. Anda bisa menonton alternatif film lain berhubungan dengan guru sebagai agen perubahan, seperti:
- Dead Poet Society - Sokola Rimba
Kami memilih alternatif film “Sokola Rimba”. Dalam film tersebut, Butet Manurung dapat digambarkan sebagai agen perubahan yang gigih dan berani dalam mengambil tantangan yang beresiko terhadap karir, waktu serta kesehatannya dalam memberikan Pendidikan kepada anak-anak dalam di pedalaman hutan Jambi. Berikut adalah beberapa hal yang menunjukkan bagaimana butet manurung menjadi agen perubahan di dalam film tersebut:
a. Berani memasuki daerah terpencil.
Butet Manurung berani memasuki daerah terpencil dan berbahaya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak suku Rimba. Dia mempertaruhkan keselamatannya untuk mereka dan menyebarluaskan pendidikan ke daerah yang terpencil.
b. Tidak takut menghadapi tantangan.
Butet Manurung terus berjuang dan tidak menyerah ketika menghadapi berbagai tantangan, seperti medan yang sulit dijangkau, kurangnya dukungan dari masyarakat setempat, hingga tantangan dalam mengajarkan anak-anak yang berbeda bahasa dan budaya. Dia mencari solusi kreatif untuk mengatasi masalah ini, seperti menggunakan bahasa tubuh untuk mengajarkan matematika dan mengenalkan anak-anak pada budaya Indonesia melalui lagu dan tarian.
c. Memotivasi dan menginspirasi anak-anak.
d. Butet Manurung mampu memotivasi dan menginspirasi anak-anak suku Rimba untuk belajar dan mencapai cita-citanya. Dia memberikan contoh dan membuka pikiran anak-anak tentang berbagai peluang yang ada di luar pedalaman hutan, sehingga mereka dapat bermimpi dan meraih impian mereka.
e. Menjadi agen perubahan lingkungan.
Butet Manurung membantu anak-anak suku dalam memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di hutan dan hidup secara sederhana dan tidak merusak lingkungan, sehingga dapat menjadi contoh bagi kita untuk menjaga lingkungan hidup.
4. Apa yang bisa Anda pelajari dari kejadian/film tersebut dan apa hubungannya dengan pembelajaran sosial emosional?
Film Sokola Rimba dapat dihubungkan dengan pembelajaran sosial emosional.
Berikut beberapa keterampilan sosial emosional yang terlihat dalam film tersebut : a. Emphaty: Dalam film itu banyak adegan dari kisah ibu guru Butet dimana
dia tidak hanya mengajarkan membaca, menulis dan berhitung, tetapi juga bersikap,menghargai, dan nilai-nilai dalam kehidupan, tak segan bu guru Butet menggunakan nada tinggi untuk anak- anak yang tidak mendengarkan, namun tidak marah. Bahkan guru belajar dari siswanya.
b. Mindfullness: Tergambar juga dalam film ini bagaimana ibu guru Butet sabar mengajari anak-anak rimba yang lambat belajar, baik siang maupun tengah malam. Banyak cara mereka belajar, sambil berjalan-jalan, sambil bercerita dan lainnya. Guru tidak memaksakan metode mengajar tertentu atau materi tertentu, tapi menyesuaikan kebutuhan siswa.
c. Compassion: Film ini mengajarkan kepada kita bahwa anak-anak rimba yang berada di pedalaman hutan serta tidak terhubung dengan duniar luar/dunia modern dapat memberikan dampak yang positif bagi sekitarnya dan tempat tinggalnya melalui rasa kasih sayang terhadap sesama,
kepedulian terhadap orang lain, membantu dengan ikhlas ketika ada seseorang yang membutuhkan bantuan, sikap jujur yang dijunjung tinggi dan juga kepedulian terhadap lingkungan tempat tinggalnya agar tetap asri dan tidak terjadi kerusakan lingkungan.
d. Critical Inquiry: Pada film ini tergambarkan dengan jelas, bagaimana tantangan yang dihadapi ketika ingin mengajarkan membaca, menulis dan berhitung kepada anak-anak rimba. Pada hal dasar tersebut sangat sulit untuk dilakukan, berbagai tantangan serta penolakan dari orang tua anak- anak tersebut tidak membuat guru Butet menyerah, bahkan semakin tertarik dan berusaha mencari solusi agar proses belajar ini dapat berjalan.
Dengan kegigihan guru Butet untuk mengajar anak-anak rimba, mendapati hasil yang baik dimana anak-anak suku rimba sudah bisa membaca, menulis, berhitung. Hal itu tergambar pada salah satu anak-anak rimba yang akhirnya dapat membaca surat perjanjian dari para penebang kayu/pembalakan liar dan mengerti isi dari surat tersebut serta menolaknya sehingga dapat menyelamatkan hutan tempat mereka tinggal.
Kesimpulan dari film ‘Sokola Rimba” yang dapat kami simpulkan yaitu:
1. Sebagai seorang pendidik harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi mengenai karakter pada peserta didik yang berbeda-beda.
2. Sebagai seorang pendidik bisa memposisikan sebagai teladan yang baik bagi peserta didik dalam hal kemauan untuk belajar secara rajin dan giat.
3. Seorang pendidik diharuskan mampu untuk memberikan motivasi kepada peserta didik untuk dapat menumbuhkan minat dalam belajar.
4. Seorang guru diharuskan memiliki keterampilan yang baik dalam menentukan metode/model/strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi serta karakteristik peserta didik agar nantinya ketika melaksanakan pembelajaran dapat menjadi kegiatan pembelajaran yang bermakna, mudah dipahami peserta didik serta kegiatan yang dilakukan memberikan rasa yang menyenangkan, aman, nyaman sehingga peserta didik akan terdorong motivasinya untuk terus belajar.