Undang-undang tersebut mengatur bahwa anak sah adalah anak yang dilahirkan dari perkawinan yang sah. “Bahwa anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan seorang laki-laki sebagai bapaknya yang menurut hukum dapat dibuktikan mempunyai hubungan darah berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain, termasuk a. hubungan keperdataan dengan keluarga ayahnya.” 10.
Penegasan Istilah
Majelis Ulama Indonesia (MUI)24 berpendapat bahwa perlindungan hak anak yang lahir dari hasil zina tidak dilakukan dengan menawarkan hubungan keperdataan kepada laki-laki yang menyebabkan kelahirannya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) merupakan lembaga swadaya masyarakat yang menampung para ulama, zu'ama dan cendekiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, mengembangkan dan melindungi umat Islam di seluruh Indonesia.28.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Memahami bentuk-bentuk perlindungan hukum dan hak-hak keperdataan terhadap anak akibat perzinahan dari sudut pandang peraturan perundang-undangan di Indonesia. 11 Tahun 2012 tentang Kedudukan Anak Akibat Perzinahan dan Perlakuannya Dalam Perspektif Perundang-undangan di Indonesia.
Manfaat Penelitian
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan khususnya di bidang hukum, guna memperkaya khazanah ilmu pengetahuan di Indonesia dan sekaligus menjadi referensi bagi para pelajar syariah khususnya program Ahwal Syakshiyyah dan para pelaksananya. hukum serta praktisi di bidang hukum dalam memecahkan permasalahan serupa dalam kehidupan.
Kajian Pustaka
Hal ini berbeda dengan penelitian yang akan penulis telaah, dimana penulis ingin mengetahui pandangan Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa no. 11 Tahun 2012 tentang Keadaan dan Perlakuan terhadap Anak Akibat Perzinahan serta relevansi fatwa ini dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.32. 11 Tahun 2012 tentang Kedudukan Anak Akibat Zina dan Penanganannya, (Skripsi Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2014).
Metode Penelitian
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara mengkaji seluruh peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan hukum yang sedang ditangani.36. Sumber data sekunder adalah pendapat para ulama, buku-buku pendukung lainnya, hasil-hasil penelitian yang ada, artikel-artikel di internet dan lain-lain yang berkaitan dengan penelitian ini.
Sistematika Pembahasan
- BAB I : PENDAHULUAN
- BAB II : KEDUDUKAN ANAK HASIL ZINA DAN PERLINDUNGAN HUKUM PERSPEKTIF PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI
- BAB III : MUI DAN FATWA NO. 11 TAHUN 2012 TENTANG
- BAB IV : ANALISA FATWA MUI NO. 11 TAHUN 2012 TENTANG
- BAB V : PENUTUP
Pengertian anak sah dalam hukum perkawinan dan kompilasi hukum Islam adalah anak sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. Pasal 42 menjelaskan bahwa “Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah”.
Anak Zina
Walaupun anak hasil zina dan anak hasil sedarah adalah anak luar nikah dalam artian bukan anak sah, namun jika kita bandingkan dengan Pasal 280 dan Pasal 283 KUHPerdata, terlihat bahwa anak luar nikah dan anak hasil zinah dan anak hasil sedarah adalah dua hal yang berbeda. Dengan demikian, anak haram dalam arti sempit adalah anak yang lahir dari hasil hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, tidak ada seorangpun yang kawin dengan orang lain, dan tidak ada larangan untuk mengawinkan satu sama lain, anak yang demikian dapat diakui. ayahnya (Pasal 280 KUHPerdata).
Perlindungan Hukum
Menurut Satjipto Raharjo, perlindungan hukum memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan oleh orang lain, dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati seluruh hak yang diberikan oleh undang-undang.59. Perlindungan hukum adalah perlindungan yang diberikan kepada subjek hukum sesuai dengan peraturan hukum, baik yang bersifat preventif maupun represif, baik tertulis maupun tidak tertulis, untuk menegakkan peraturan hukum.
Perlindungan Hukum terhadap Anak
Dapat juga ditambahkan pada putusan Mahkamah Agung Nomor 729 M/SIP/1975 yang menyatakan bahwa; “Kewajiban mengganti kerugian akibat perbuatan melawan hukum juga berlaku bagi otoritas pemerintah.” 68. 1 Tahun 1974 bahwa : “anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah”.
Bentuk Perlindungan Hukum dan Hak Keperdataan
Menurut UU Perkawinan, hak keperdataan anak pada prinsipnya tidak terlepas dari kekuasaan orang tua terhadap anak. Sesuai KUH Perdata, UU Perkawinan juga menjelaskan Pasal 49 tentang hilangnya kekuasaan orang tua terhadap anak. Hak-hak yang seharusnya diperoleh anak, yaitu urusan pengasuhan anak, yang diminta oleh orang tua, khususnya ayah dari anak tersebut, diatur dalam Pasal 104 yang berbunyi:
Peraturan Perundang-undangan Sebagai Sumber Hukum di Indonesia Sumber Hukum adalah segala apa saja yang menimbulkan aturan-aturan
Peraturan Perundang-undangan Sebagai Sumber Hukum di Indonesia Sumber hukum adalah segala sesuatu yang menimbulkan peraturan. Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan ketentuan hukum pidana hanya dapat dimasukkan dalam Peraturan Daerah dan Peraturan Perundang-undangan ini. Sebagai patokan, mengenai hierarki dalam suatu peraturan perundang-undangan, perlu mengadopsi pendapat Prof.
Dalam khotbah pengabdian Majelis Ulama Indonesia dirumuskan lima fungsi dan peran utama MUI, yaitu. Sebagai organisasi yang dilahirkan oleh para ulama, zu'ama dan intelektual muslim serta tumbuh dan berkembang di kalangan umat Islam, maka Majelis Ulama Indonesia merupakan sebuah gerakan kemasyarakatan. Dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia tidak ada bedanya dengan ormas-ormas lain di kalangan umat Islam yang mempunyai eksistensi.
Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012 Tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya
Dalam hal tidak ada pendapat hukum antar mazhab, penetapan fatwa didasarkan pada hasil ijtihad jama'i (bersama) dengan metode bayani, ta'lili (qiya>si, istih>sani, ilh} aqi), istis}lah}i dan shadd al-dhari>'ah. Penentuan suatu fatwa harus selalu memperhatikan kemaslahatan umum (mas}alih} 'ammah) dan maqa>s}id al-shari>'ah.126. Sedangkan yang dimaksud dengan was}iah wa>jibah adalah kebijakan ulil amri (penguasa) yang mewajibkan laki-laki yang menyebabkan lahirnya anak karena zina, untuk membuat wasiat agar anak hasil zina itu setelah di masanya kematian dia berikan harta benda.
Namakan mereka (anak angkat) dengan (membawa) nama bapa mereka; Yang demikian itu adalah lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapa-bapa mereka, (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara kamu yang seagama dan orang-orang tua kamu128. dan diharamkan bagi kamu) isteri-isteri anak lelaki kamu sendiri (menantu). Dan tidak ada seorang pun yang melakukan dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan orang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain. 129 Kemudian kamu akan kembali kepada Tuhanmu, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang kamu perselisihkan itu." (Q.S. Al-An‟a>m: 164). Dan orang yang berdosa tidak akan dapat menahannya. 130 Kemudian kamu kembali kepada Tuhanmu dan Dia memberitahu anda apa yang anda lakukan.
Hadis menjelaskan bahawa anak itu diserahkan kepada pemilik tempat tidur/suami wanita yang melahirkan (firasy), manakala penzina mesti dihukum antara lain. Kemudian Rasulullah melihat rupa kanak-kanak itu dan dia melihat persamaan yang jelas dengan "Utbah, lalu Rasulullah berkata: "Anak ini adalah saudaramu wahai "Abd ibn Zum'ah. Anak itu untuk pemilik tilam. /suami perempuan yang melahirkan (firasy) dan bagi penzina itu (dihukum) batu, dan hijab daripadanya, wahai Saudah Binti Zam‟ah.
نزا "
ألج
ىذ را
ب غم
ما
ؤيه
ىل
ا اا
مأ ىل
أ لص
ضا ِ
ي ذإ
ي ثا
لا
يأ
نزا ل
ل لا
اذل
نأ ج ي
نأ ا
ا ا را
ا لك
Li’an, sebagai bentuk pembuktian bahwa anak tersebut bukan miliknya, sehingga tidak dapat ditetapkan orang tua anak tersebut terhadap suaminya. Kedua: Jika terjadi perselisihan (kepemilikan anak) antara pemilik kasur atau suami dengan laki-laki yang berzina dengan istri atau budak perempuannya, maka anak tersebut menjadi hak pemilik kasur atau suami. Dalam keterangan yang kedua ini, jika terjadi perselisihan antara seorang laki-laki dengan laki-laki yang berzina dengan isterinya, namun dalam hal ini laki-laki itu mau mengakui anak itu sebagai anaknya, maka keturunan anak itu mengikuti dari suami ibu.
ا نزا
ا ا قحلي
سَن َنأ
ابأ
Perlindungan Hukum Perspektif Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012 tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya
137 Lihat Perkara 1 Nombor 2 Undang-undang No. 35 No. Undang-undang No. 23 Tahun 2002 untuk Perlindungan Kanak-Kanak. a) Mencukupi untuk keperluan hidup kanak-kanak; Instrumen perlindungan yang dicetuskan oleh Majelis Ulama Indonesia dalam fatwanya bertujuan untuk melindungi semua hak anak yang wajib diambil. Maka apa yang diusulkan oleh Majelis Ulama Indonesia ini bertujuan agar anak-anak zina mempunyai sah di sisi hukum.
Hak Keperdataan Anak Hasil Zina Perspektif Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012 tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya
“Anak hasil zina hanya mempunyai hubungan keturunan, warisan dan nafaqah dengan ibunya dan keluarga ibunya.” Mengenai kedudukan anak hasil zina ditinjau dari kelahirannya, Majelis Ulama Indonesia ingin menegaskan bahwa anak hasil zina tidak dapat dilimpahkan kepada laki-laki yang melahirkannya. Yakni kedudukan antara anak hasil zina dan anak hasil perkawinan siri harus dibedakan, tidak boleh bercampur dalam satu masa.
Namun yang perlu ditegaskan kembali adalah dengan adanya hal tersebut bukan berarti anak tersebut dapat mengambil hak kesulungan dari laki-laki yang melahirkannya. Pemberian harta (tirkah) melalui is}iah wa jibah bukan berarti sahnya hak kesulungan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab pihak laki-laki yang menyebabkan lahirnya anak tersebut.
Kedudukan Fatwa Majlis Ulama Indonesia
143 Nur Rohmah Oktaviani, Analisis Fatwa MUI tentang Wa>s}iah Wa>jibah Bagi Anak Zina, (Stain Ponorogo Press: 2014), 42. Fatwa MUI, jika dilihat dalam kerangka hukum nasional, maka fatwa tersebut adalah bukan merupakan kekuatan hukum yang mengikat. Oleh karena itu, mengikat atau tidaknya suatu fatwa jika dilihat dari kerangka hukum nasional, sangat bergantung pada apakah fatwa tersebut merupakan produk hukum yang dianut oleh negara atau tidak.
Analisa Terhadap Perlindungan Hukum Anak Hasil Zina Menurut Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012 Tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan
11 Tahun 2012 tentang Kedudukan Anak Akibat Zina dan Perlakuannya Mengenai kedudukan anak akibat perzinahan dan perlakuan terhadap anak tersebut yaitu. 11 Tahun 2012 tentang kedudukan anak akibat perzinahan dan perlakuannya sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Phillipus M. 11 Tahun 2012 tentang kedudukan anak akibat perzinahan dan perlakuannya mengenai kedudukan anak sebagai akibat perzinahan. akibat perzinahan dan penanganannya menjelaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mencegah terjadinya perzinahan disertai dengan penegakan hukum yang tegas dan tegas.
Kedua, anak zina mempunyai hubungan keturunan, waris dan nafaqah hanya dengan ibunya dan keluarga ibunya. Maka tepatlah jika Majelis Ulama Indonesia menganggap bahawa anak zina hanya mempunyai hubungan keturunan, waris dan nafaqah dengan ibunya dan keluarga ibunya. Analisis bentuk perlindungan undang-undang dan hak sivil anak zina menurut Fatwa MUI no.
“Hukuman sebagaimana dimaksud adalah untuk melindungi anak, bukan untuk menegaskan adanya hubungan silang antara anak tersebut dengan laki-laki yang menyebabkan kelahirannya.” Dalam hal orang tua tidak hadir atau tidak diketahui keberadaannya atau karena sebab apapun tidak dapat menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya, maka kewajiban dan tanggung jawab pada alinea pertama dapat dialihkan kepada keluarga, yang dilakukan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Sementara itu, Pasal 33 mengatur bahwa “(1) Dalam hal orang tua dan keluarga anak tidak dapat memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, maka orang perseorangan atau badan hukum dapat diangkat sebagai wali anak, yang memenuhi syarat-syarat. (2) Menjadi wali anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan penetapan pengadilan.
- Kedudukan Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012 Tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya dalam Perspektif
- Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012 Tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya dan Kaitannya dengan Putusan MK
11 Tahun 2012 tentang Kedudukan Anak Akibat Perzinahan dan Perlakuannya, semua itu hanya mungkin terjadi jika diatur dengan undang-undang. 11 Tahun 2012 tentang Kedudukan Anak Akibat Perzinahan dan Perlakuannya Mengenai kedudukan anak hasil perzinahan dan perlakuan terhadap anak tersebut dapat dijamin secara konkrit. Sementara itu, putusan Mahkamah Konstitusi justru dianggap sebagai langkah mundur dalam reformasi peradilan, bertentangan dengan syariat dan syariat Islam, serta terdapat indikasi melegalkan perzinahan.
PENUTUP
Saran