Analisis Kepatuhan Wajib Pajak dalam Melaporkan Pajak Kendaraan Bermotor
Muh. Randy Nurfandy1, Zunila Mehnaz2, Tri Frida Suryati3
Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Muhammadiyah Mamuju Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepatuhan wajib pajak dalam melaporkan pajak kendaraan bermotor pada Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) Kabupaten Mamuju. Sampel yang digunakan sebanyak 99 responden dan metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, dengan melihat nilai signifikan 0,000 <
0,05 dan nilai thitung 6,047 > nilai ttabel1,66123, sehingga keputusan yang diambil H0 ditolak dan H1. Hasil uji parsial menunjukkan kesadaran wajib pajak yang paling dominan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dengan nilai koefesien paling tinggi yaitu 0,628.
Kata Kunci : Kepatuhan Wajib Pajak, Pajak Kendaraan Bermotor Abstract
The purpose of the study was to determine taxpayer compliance in reporting motor vehicle tax in the One-Stop Manunggal Administration System (SAMSAT) of Mamuju Regency. The sample used was 99.15, so in this study the sample used was 99 respondents. The analysis method used is multiple linear regression. The results showed that taxpayer awareness had a significant effect on taxpayer compliance, by looking at a significant value of 0.000 < 0.05 and a calculated value of 6.047
> a ttabel value of 1.66123, so that the decision taken by H0 was rejected and H1. The partial test results showed that the most dominant taxpayer awareness had a significant effect on taxpayer compliance with the highest coefficient value of 0.628.
Keywords : Taxpayer Compliance, Motor Vehicle Tax
Copyright (c) 2023 Tri Frida Suryati Corresponding author :
Email Address : [email protected]
PENDAHULUAN
Syarat pemungutan pajak juga sebagai landasan prinsip yang wajib ada pada tiap kegiatan pemungutan pajak. Dalam tiap kegiatan pemungutan pajak, penerapan syarat pemungutan pajak memiliki makna penting. Karena jika tidak adanya syarat pemungutan pajak, maka kegiatan pemungutannya dapat Manunggal Satu Atap (SAMSAT) Mamuju periode tahun lima tahun terakhir, dimana tahun 2017 jumlah kendaraan yang terdaftar sebanyak 20.227 unit sedangkan yang melakukan pembayaran wajib pajak sebesar 18.111 unit dengan tingkat persentase sekitar 14,46%, membayar pajak tentunnya menjadi pribadi orang yang patuh akan kewajibannya melakukan pembayaran pajak kendaraan bermotor yang dimilikinya,
Syarat pemungutan pajak juga sebagai landasan prinsip yang wajib ada pada tiap kegiatan pemungutan pajak. Dalam tiap kegiatan pemungutan pajak, penerapan syarat pemungutan pajak
memiliki makna penting. Karena jika tidak adanya syarat pemungutan pajak, maka kegiatan pemungutannya dapat menjadi bagian yang mendorong sektor pendapatan pajak untuk dijadikan sumber pendapatan daerah cepat sehingga terhindar dari denda yang akan dikenakan jika wajib pajak melakukan penundaan pembayaran pajak, masyarakat yang melakukan pembayaran wajib pajak tentunya dapat dipandang kewajibannya melakukan pembayaran pajak kendaraan bermotor yang dimilikinya, dengan demikian kewajibannya dapat diatasi dengan cepat sehingga terhindar dari denda yang akan dikenakan jika wajib pajak melakukan penundaan pembayaran pajak, masyarakat yang melakukan sekitar 20,55%, tahun 2019 jumlah kendaraan yang terdaftar sebanyak 28.021 unit sedangkan yang melakukan pembayaran wajib pajak sebesar 26.313 unit dengan tingkat persentase sekitar 21,02%, tahun 2020 jumlah kendaraan yang terdaftar sebanyak 28.882 unit sedangkan yang melakukan pembayaran wajib pajak sebesar 26.931 unit dengan tingkat persentase sekitar 21,51% dan tahun 2021 jumlah kendaraan yang terdaftar sebanyak 29.014 unit sedangkan yang melakukan pembayaran wajib pajak sebesar 28.112 unit dengan tingkat persentase sekitar 22,45%.
Kepatuhan wajib pajak dipengaruhi beberapa faktor yaitu kesadaran wajib pajak. Kesadaran WP bisa dinilai pada keinginan dan kesungguhan seseorang dalam membayarkan pajaknya pada waktu yang telah ditetapkan. Sikap sadar akan kewajiban itu sangat dibutuhkan karena dengan kesadaranya itu, maka itu akan meningkatkan keinginan seseorang untuk membayar pajak (Hardiningsih 2011, dalam Ummah, 2015). Jika kesadaran akan perpajakannya masih rendah maka hal itu bisa membuat potensi pajak tidak bisa direalisasikan.
Pengetahuan pajak yang masih kurang akan membuat seseorang memiliki sikap yang ragu dalam bertindak atau negatif sedangkan dengan pengetahuan pajak yang cukup tinggi akan membuat seseorang paham dan dapat mengambil sikap yang benar dalam bertindak atau positif.
bentuk jaminan tentang hal-hal yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang dan harus ditaati agar tidak mendapatkan sanksi. Sanksi diberikan agar seseorang akan lebih patuh dalam pembayarannya dengan tepat waktu atau dapat dikatakan pencegah agar tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku (Mardiasmo, 2019:47). Seorang wajib pajak akan melakukan pemenuhan kewajiban apabila mereka mengetahui jika sanksi pajak yang ada akan memberikan kerugian yang lebih banyak (Nugroho, 2016:42).
Sistem perpajakan tidak bisa berfungsi efektif tanpa adanya peran serta seorang wajib pajak.
Oleh karena itu yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak itu sangat penting. Sehingga kepatuhan wajib pajak menjadi sebuah point penting dalam sistem perpajakan juga dengan tingkat kepatuhan pajak yang tinggi mendorong tingkat penerimaan menjadi tinggi juga.
Menurut Roth et al. (1999) dalam Hamid (2013), kepatuhan pajak didefinisikan sebagai melaksanakan dan melaporkan seluruh hak dan kewajiban perpajakan secara benar dan diwaktu yang tepat, berdasarkan peraturan yang berlaku. Menurut Chaizi Nasucha dalam Rahayu (2010), kepatuhan Wajib Pajak dapat diidentifikasi dari kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri, kepatuhan untuk menyetorkan kembali Surat Pemberitahuan (SPT), kepatuhan dalam penghitungan dan pembayaran pajak terutang, dan kepatuhan dalam pembayaran tunggakan.
Erard dan Feinstin (1994) dalam Rahayu (2010), menggunakan teori psikologi dalam kepatuhan wajib pajak, yaitu rasa bersalah dan rasa malu, persepsi wajib pajak atas kewajaran dan keadilan beban pajak yang mereka tanggung, dan pengaruh kepuasan terhadap pelayanan pemerintah.
Menurut Harinurdin (2009) kepatuhan pajak dapat diartikan sebagai kondisi ideal wajib pajak yang memenuhi peraturan perpajakan serta melaporkan penghasilannya secara akurat dan jujur. Dari kondisi ideal tersebut, kepatuhan pajak didefinisikan sebagai suatu keadaan wajib pajak yang memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya dalam bentuk formal dan kepatuhan material.
Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2015 tentang “pajak kendaraan bermotor yaitu semua
peralatan teknik yaitu motor atau peralatan lainnya dan memiliki fungsi dalam mengubah sebuah sumber daya energi tertentu menjadi tenaga bergerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat berat dan alat besar yang dalam operasinya memakai roda dan motor yang tidak melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan”. Menurut Suadi (2017:66)
“Pajak kendaraan bermotor dipungut pajak atas kepemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor (Badan Pajak dan Retribusi Daerah). Menurut Amri (2015:37) “pajak kendaraan bermotor adalah sektor penerimaan yang memiliki pengaruh terhadap pendapatan daerah sehingga dengan mengoptimalisasikan penerimaan pajaknya maka akan meningkatkan pendapatan dalam sektor ini dengan cara meningkatkan kepatuhan”.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Kepatuhan Wajib Pajak dalam Melaporkan Pajak Kendaraan Bermotor pada Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) Kabupaten Mamuju.
METODOLOGI
Populasi yang dimasukkan kedalam penelitian merupakan jumlah keseluruhan wajib pajak kendaraan bermotor pada kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) Kabupaten Mamuju dengan jumlah 11.684 wajib pajak (Sumber data Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) Kabupaten Mamuju). Sampel yang digunakan sebanyak 99,15, sehingga dalam penelitian ini sampel yang digunakan sebanyak 99 responden. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda,
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui kevalitan setiap tanggapan responden terkait dengan penyataan pada kuesioner penelitian, uji validitas dilakukan dengan cara membandingkan angka rhitung dan angka rtabel. Jika angka rhitung lebih besar dari angka rtabel maka item pernyataan pada setiap variabel penelitian dinyatakan valid dan sebaliknya jika angka rhitung lebih kecil dari angka
rtabel maka item pernyataan pada setiap variabel penelitian dinyatakan tidak valid sesuai dengan
angka perbandingan dari rhitung dan rtabel.
Tabel 21
Hasil Uji Validitas
No Pernyataan Nilai rhitung Nilai rtabel Keterangan
1 PernyataanX1.1 0,758 0,1663 Valid
2 Pernyataan X1.2 0,621 0,1663
Valid
3 Pernyataan X1.3 0,683 0,1663
Valid
5 Pernyataan X2.1 0,779 0,1663
Valid
6 Pernyataan X2.2 0,631 0,1663
Valid 0,1663
7 Pernyataan X2.3 0,645 Valid
9 Pernyataan X3.1 0,759 0,1663
Valid
10 Pernyataan X3.2 0,555 0,1663
Valid
11 Pernyataan X3.3 0,657 0,1663
Valid
12 Pernyataan X3.4 0,369 0,1663
Valid
12 Pernyataan X3.5 0,629 0,1663
Valid
13 Pernyataan Y1.1 0,755 0,1663
Valid
14 Pernyataan Y1.2 0,554 0,1663
Valid
15 Pernyataan Y1.3 0,427 0,1663
Valid
16 Pernyataan Y1.4 0,497 0,1663
Valid Sumber : Hasil olah data SPSS versi 24.0 tahun 2021
Berdasarkan tabel 21 product moment untuk degree of freedom (df) = N - 2, dimana jumlah N (sampel) adalah 99 - 2 = 97, maka diperoleh nilai rtabel sebesar 0,1663. Adapun hasil uji validitas pada tabel 21 menunjukkan pernyataan X1.1 angka rhitung sebesar 0,758 > angka rtabel sebesar 0,1663, angka rhitung X1.2 sebesar 0,621 > angka rtabel sebesar 0,1663, angka rhitung X1.3 sebesar 0,683 > angka rtabel
sebesar 0,1663. Pernyataan X2.1 angka rhitung sebesar 0,779 > angka rtabel sebesar 0,1663, angka rhitung
X2.2 sebesar 0,631 > angka rtabel sebesar 0,1663, angka rhitung X2.3 sebesar 0,645 > angka rtabel sebesar 0,1663. Pernyataan X3.1 angka rhitung sebesar 0,759 > angka rtabel sebesar 0,1663, angka rhitung X3.2 sebesar 0,555 > angka rtabel sebesar 0,1663, angka rhitung X3.3 sebesar 0,657 > angka rtabel sebesar 0,1663, angka rhitung X3.4 sebesar 0,369 > angka rtabel sebesar 0,1663 dan angka rhitung X3.5 sebesar 0,629 >
angka rtabel sebesar 0,1663 Pernyataan Y1.1 angka rhitung sebesar 0,755 > angka rtabel sebesar 0,1663, angka rhitung Y1.2 sebesar 0,554 > angka rtabel sebesar 0,1663, angka rhitung Y1.3 sebesar 0,427 > angka rtabel sebesar 0,1663, dan angka rhitung Y1.4 sebesar 0,497 > angka rtabel sebesar 0,1663.
Uji realibilitas digunakan dengan cara membandingkan angka Cronbach Alpha dengan ketentuan nilai Cronbach Alpha ˃ 0,60, (Ghozali, 2012:37)
Tabel 22
Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Cronbach’s alpha Angka Keterangan
Kesadaran Wajib Pajak 0,754 0,60 Reliabel
Pengetahuan Wajib Pajak 0,757 0,60 Reliabel
Sanksi Wajib Pajak 0,719 0,60 Reliabel
Kepatuhan Wajib Pajak
Kendaraan Bermotor 0,674 0,60 Reliabel
Sumber : Hasil olah data SPSS versi 24.0 tahun 2021
Berdasarkan tabel 22 diperoleh nilai Cronbach’s alpha untuk variabel kesadaran wajib pajak 0,754 > 0,60, variabel pengetahuan wajib pajak 0,757 > 0,60, variabel sanksi wajib pajak 0,719 > 0,60 dan variabel kepatuhan wajib pajak 0,674 > 0,60, sehingga dapat dinyatakan bahwa semua pernyataan dari variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabel untuk dijadikan alat ukur penelitian.
Analisis Regresi Linear Berganda dilaksanakan sebelum memulai menghitung hasil anaisis regresi adapun rumus mencari angka Ftabel yaitu :
Cara mencari Ftabel Rumus Ftabel
df1 = K – 1 = 4 – 1 = 3 df2 = N – K = 99 – 4 = 95
K = jumlah semua variabel baik dependen maupun independen N = jumlah responden
Jadi, angka Ftabel = 2,70 (cara pendapatan nilai dapat dilihat pada nilai tabel Ftabel) Cara mencari angka ttabel
Rumus ttabel = N – K – 1 = 99 – 4 – 1 = 94 N = jumlah responden K = jumlah variabel X dan Y
Jadi, angka ttabel = 1,66123 (cara pendapatan nilai dapat dilihat pada tabel ttabel)
Metode regresi linear berganda dari pengolahan data persamaan regresi linear berganda menggunakan SPSS 24.0 berikut :
a. Pengujian Pengaruh Signifikan Secara Parsial (Uji t)
Hasil uji parsial dari variabel yang diamati dalam penelitian ini sebagai berikut : Tabel 23
Hasil Uji Parsial (Uji t)
Model
Unstandardized Coefficients
Standardize d Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 7.680 1.286 5.901 0.247
Kesadaran Wajib Pajak 0.628 0.623 0.613 6.047 0.000 Pengetahuan Wajib
Pajak 0.469 0.497 0.443 5.744 0.004
Sanksi Wajib Pajak 0.571 0.586 0.524 5.968 0.002 a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor
Sumber : Hasil olah data SPSS versi 24.0 tahun 2021
Berdasarkan hasil analisis statistik coeffisients kolom signifikan pada tabel 23, pengujian hipotesis masing-masing variabel secara parsial sebagai berikut
1) Hasil analisis untuk kesadaran wajib pajak (X1), diperoleh angka signifikan sebesar 0,000 dengan menggunakan batas signifikan a sebesar 0,05 atau 5% dapat diketahui bahwa angka signifikan 0,000 < 0,05 dan angka thitung 6,047 > angka ttabel 1,66123. Hal ini berarti bahwa kesadaran wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, dengan demikian H1 diterima dan Ho ditolak atau hipotesis diterima.
2) Hasil analisis untuk pengetahuan wajib pajak (X2), diperoleh angka signifikan sebesar 0,004 dengan menggunakan batas signifikan a sebesar 0,05 atau 5% dapat diketahui bahwa angka signifikan 0,004 < 0,05 dan angka thitung 5,744 > angka ttabel 1,66123. Hal ini berarti bahwa pengetahuan wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, dengan demikian H1 diterima dan Ho ditolak atau hipotesis diterima.
3) Hasil analisis untuk sanksi wajib pajak (X3), diperoleh angka signifikan sebesar 0,002 dengan menggunakan batas signifikan a sebesar 0,05 atau 5% dapat diketahui bahwa angka signifikan 0,002 < 0,05 dan angka thitung 5,968 > angka ttabel 1,66123. Hal ini berarti bahwa sanksi wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, dengan demikian H1 diterima dan Ho ditolak atau hipotesis diterima.
4) Hasil penelitian ini menunjukkan kesadaran wajib pajak yang paling dominan perpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dengan melihat nilai beta atau pengaruh 0,628 lebih besar dari nilai beta jika dibandingkan dengan nilai beta pengetahuan wajib pajak dan sanksi wajib pajak.
b. Pengujian Pengaruh Signifikan Secara Simultan (Uji F)
Pengujian variabel secara simultan merupakan bentuk analisis untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama variabel kesadaran wajib pajak, kepatuhan wajib pajak dan sanksi wajib pajak terjadap kepatuhan wajin pajak.
Tabel 24
Hasil Uji Secara Simultan (Uji F)
Model Sum of Squares df Mean
Square F Sig.
1 Regression 113.679 3 37.893 25.991 0.000 Residual 138.503 95 1.458
Total 252.182 98
Sumber : Hasil olah data SPSS versi 24.0 tahun 2021
Berdasarkan tabel 24 dapat dilihat bahwa nilai signifikan 0,000, dengan menggunakan batas signifikan a 0,05 atau (5%) dapat diketahui bahwa tingkat Signifikan 0,000 < 0,05 dan Fhitung
sebesar 25,991 > Ftabel sebesar 2,70. Dengan demikian variabel kesadaran wajib pajak, pengetahuan wajib pajak dan sanksi wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, atau H1 diterima dan Ho ditolak atau hipotesis diterima secara simultan atau bersama-sama.
c. Uji Korelasi Dan Determinasi Tabel 25
Hasil Koefisien Korelasi (R) Determinasi (R2) Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 0,671 0,451 0,433 1.383
Sumber : Hasil olah data SPSS versi 24.0 tahun 2021
Berdasarkan tabel 25 menjelaskan bahwa besarnya koefisien korelasi (R) sebesar 0,671 termasuk dalam kategori hubungan yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa korelasi antara variabel kesadaran wajib pajak, pengetahuan wajib pajak dan sanksi wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak kendaraan bermotor pada Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) Mamuju sebesar 0,671 atau 67,1%, dari hasil tersebut menunjukan masih terdapat variabel yang lain yang berpelung memiliki pengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak kendaraan bermotor di Kabupaten Mamuju sebesar 32,9% yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini
SIMPULAN
Dari hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, dengan melihat nilai signifikan 0,000 < 0,05 dan nilai thitung 6,047 > nilai ttabel 1,66123, sehingga keputusan yang diambil H0 ditolak dan H1.
2. Hasil uji parsial menunjukkan kesadaran wajib pajak yang paling dominan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dengan nilai koefesien paling tinggi yaitu 0,628.
Referensi :
Johan, (2019). Dimensi Ekonomi Perpajakan Dalam Membangun Ekonomi, Penerbit RAS Mardiasmo, (2011). Perpajakan. Edisi Revisi 2011. Yogyakarta: Penerbit Andi
Mardiasmo, (2019). Perpajakan: Konsep,Teori dan Isu. Jakarta: Prenada Medio Grup Meifari (2020). Moralitas, Budaya dan Kepatuhan Pajak, Penerbit ALFABETA.
Mendra, (2017). Dasar-dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan 1944. Bandung: PT. Eresco.
Mustafa, (2011). Konsep dan Pengantar Perpajakan. Jakarta: Penerbit Granit Pustakan.
Niemirowski, (2018). Pengaruh Persepsi Tentang Sanksi Perpajakan Dan Kesadaran Wajib Pajak Pada Kepatuhan Pelaporan Wajib Pajak Orang Pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar
Timur. Owner (Riset Dan Jurnal Akuntansi), 4(2), 603.
https://doi.org/10.33395/owner.v4i2.289
Nugroho, (2016). KUP: Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan. Jakarta: PT. Indeks.
Purnaditya & Rohman, (2015). Perpajakan Indonesia. Penerbit Alfabeta Pustaka
Riska Khairunisa (2018). Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Kendaraan Bermotor Pada UPTD Pontianak Wilayah II
Robbins dan Judge, (2018). Pengetahuan Perpajakan, Sosialisasi Perpajakan, Dan Pelayanan Fiskus Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak atas Transaksi E-Commerce. Jurnal Riset Akuntansi Kontemporer(JRAK), 9(2), 55–65
Romandana, (2012). Pemanfaatan Teknologi Informasi, Sosialisasi Pajak, Pengetahuan Perpajakan, dan Kepatuhan Pajak. Jurnal Riset Akuntansi & Perpajakan (JRAP), 2(02), 193–202.
Siti Rukhayah (2019). Analisis faktor faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak kendaraan bermotor dikantor pelayanan pajak kendaraan bermotor SAMSAT Semarang.
Torgler, (2015). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan WPOP Pelaku E-Commerce di Kota Semarang Pada Platform Online Marketplace Blibli.com. Moneter - Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, 7 (1), 113–122. https://doi.org/10.31294/moneter.7i1.7703
Tyas Pambudi Raharjo & Licke Bieattant.(2020) Pengaruh Pengetahuan Formal Wajib Pajak dan Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor.
Tyler, (2014). Perpajakan Indonesia Pedoman Perpajakan yang Lengkap Berdasarkan Undang-Undang Terbaru, Edisi 2. Mitra Wacana Media
Wardani dan Rumiyatun, (2017). Pengaruh Pengetahuan Perpajakan Dan Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi Kasus Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Karees). X(1), 21–39
Undang-Undang No. 28 Tahun 2009, Tentang Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)
Peraturan Gubernur Sulawesi Barat Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Pemungutan Pajak Progresif Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Pajak Kendaraan Bermotor Yaitu Semua Kendaraan
Beroda.
Undang-Undang No.28 tahun 2009, Tentang Yang Mengatur Sanksi Pajak Kendaraan Bermotor Terkait Pajak Serta Retribusi Daerah