ANALISIS PENDAPATAN RUMAH TANGGA PADA HUTAN RAKYAT DI LINGKUNGAN BARUGAE KELURAHAN MARIO PULANA
KECAMATAN CAMBA KABUPATEN MAROS
SURYANI SULAEMAN 105950057415
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
ANALISIS PENDAPATAN RUMAH TANGGA PADA HUTAN RAKYAT DI LINGKUNGAN BARUGAE KELURAHAN MARIO PULANA
KECAMATAN CAMBA KABUPATEN MAROS
SURYANI SULAEMAN 105950057415
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan Strata Satu (S-1)
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
ANALISIS PENDAPATAN RUMAH TANGGA PADA HUTAN RAKYAT DI LINGKUNGAN BARUGAE KELURAHAN MARIO PULANA KECAMATAN CAMBA KABUPATEN MAROS
Adalah benar merupakan hasil karya sendiri yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari Penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustka di bagian akhir skripsi.
Makassar, Desember 2019
Suryani Sulaeman 105 9500 574 15
Hak Cipta milik Universitas Muhammadiyah Makassar, Tahun 2019
@ Hak Cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Universitas Muhammadiyah Makassar
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk laporan apa pun tanpa izin Universitas Muhammadiyah Makassar
ABSTRAK
SURYANI SULAEMAN (105950057415). Analisis Pendapatan Rumah Tangga Pada Hutan Rakyat Di Lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba Kabupaten Maros. Dibawah bimbingan Husnah Latifah dan Muthmainnah.
Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan di mulai dari bulan Agustus 2019 sampai bulan Oktober 2019. Adapun lokasi penelitian di Hutan Rakyat Lingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapatan rumah tangga pada hutan rakyat di Lingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros. Pengambilan responden dilakukan dengan cara sensus, yaitu responden yang diambil merupakan populasi penelitian. Populasi penelitian yaitu semua masyarakat yang tinggal di Lingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros dengan jumlah populasi yaitu 349. Sampel responden sebanyak 30 orang yang termasuk kelompok tani di Lingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros. Berdasarkan hasil penelitian Analisis Pendapatan Rumah Tangga Pada Hutan Rakyat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba yaitu dari tanaman kehutanan sebesar Rp. 406.973.328/
Tahun dan rata-rata Rp. 13.565.778/ Tahun. Pendapatan dari tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) sebesar Rp. 202.837.000/ Tahun dan rata-rata Rp.
8.451.542/ Tahun. Pendapatan dari tanaman pertanian sebesar Rp. 563.270.000/
Tahun dengan rata-rata Rp.20.861.852/ Tahun. Jadi Total Pendapatan Rumah Tangga Pada Hutan Rakyat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba sebesar Rp.1.173.080.328/ Tahun dengan rata-rata Rp.
42.881.172/ Tahun.
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan rasa syukur yang sebesar-besarnya kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan Taufik-Nya jugalah sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Pendapatan Rumah Tangga Pada Hutan Rakyat di Lingkungan
Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba Kabupaten Maros ” dapat diselesaikan. Skripsi ini merupakan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Kehutanan.pada Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga terkhusus buat orang tuaku tercita terutama Ibunda-ku Maryati dan Ayahanda-ku Sulaeman tercinta atas segala bimbingan, kasih sayang yang tulus, jasa dan pengorbanannya sepanjang masa hingga skripsi ini bisa saya kerjakan dengan baik, penghargaan, simpuh, dan sujud serta doa semoga Allah SWT memberinya umur panjang, kesehatan dan selalu dalam lindungannya, dan kepada seluruh keluarga yang yang senantiasa memberikan motivasi serta arahan-arahan.
Kepada dosen pembimbing Ibunda Dr.Ir.Husnah Latifah,S.Hut.,M.Si.,IPM selaku pembimbing I dan Ibunda Muthmainnah, S.Hut.,M.Hut selaku pembimbing II yang dengan tulus membimbing penulis, melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan yang amat berharga sejak dari awal sampai selesainya skripsi ini. Gagasan-gagasan beliau merupakan kenikmatan intelktual yang tak ternilai
harganya. Teiring Doa semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa menggolongkan upaya-upaya beliau sebagai amal kebaikan.
Selanjutnya pada kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan Penghargaan dan Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya terutama kepada:
1. Ibunda Dr.Ir.Irma Sribianti,S.Hut.,M.P.,IPM selaku penguji I dan Ayahanda Dr.Ir.Sultan, S.Hut.,M.P.,IPM selaku penguji II, yang telah melakukan koreksi dan masukan-masukan yang sangat berharga.
2. Ayahanda H. Burhanuddin, S.Pi.,M.P selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Ibunda Dr.Ir.Irma Sribianti,S.Hut.,M.P.,IPM selaku penguji I dan Ayahanda Dr.Ir.Sultan, S.Hut.,M.P.,IPM selaku penguji II, yang telah melakukan koreksi dan masukan-masukan yang sangat berharga.
4. Segenap Dosen dan staf tata usaha Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah memberikan ilmu selama dibangku kuliah dan pengetahuan sebagai bekal untuk melaksanakan magang.
5. Terima kasih kepada pemerintah Kabupaten Maros dan seluruh warga Lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba Kabupaten Maros yang telah bersedia bekerja sama dan memberikan izin penelitian kepada penulis.
6. Terima kasih kepada kakak-kakak saya yang tercinta Sudirman, Usman, Maryam, Jumrah, dan Ismail yang senantiasa membantu dan memotivasi untuk
7. Kepada sahabat-sahabatku Yunita, Fitri Yanti, Ida Nurma, Salsabillah, Rika Suhardi, Wilda Abbas dan semuanya tanpa terkecuali terimakasih atas bantuan dan kebersamaanya selama ini.
8. Teman-teman seperjuangan Kehutanan 2015 yang tidak bisa disebutkan satu- persatu terima kasih atas kebersamaannya yang telah terjalin dengan indah selama ini.
Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis berharap. Semoga skripsi ini bermanfaat dan atas bantuan serta bimbingan semua pihak senantiasa mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Subhanahuwataala. Amin Ya Rabbal Alamin.
Makassar, Desember 2019
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PENGESAHAN... ii
HALAMAN KOMISI PENGUJI... iii
PERYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... iv
HAK CIPTA ... v
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI... xi
DAFTAR TABEL... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 3
1.3. Tujuan Penelitian... 3
1.4. Manfaat Penelitian... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hutan Rakyat... 4
2.2. Peran Hutan Rakyat... 6
2.3. Karakteristik Hutan Rakyat ... 7
2.4. Manfaat Hutan Rakyat ... 9
2.5. Pendapatan ... 9
III. METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat ... 12
3.2. Prosedur ... 12
3.3. Analisis Data ... 13
3.4. Defenisi Operasional... 14
IV. KEADAAN UMUM LOKASI 4.1. Letak Geografis dan Topografi ... 16
4.2. Kependudukan ... 16
4.3. Pendidikan... 17
4.4. Pertanian ... 17
4.5. Kesehatan ... 18
4.6. Transportasi dan Komunikasi ... 18
4.7. Perekonomian ... 19
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Identitas Responden ... 20
5.2. Jenis Tanaman Yang Ditanam Pada Hutan Rakyat ... 24
5.3. Pendapatan Rumah Tangga dari Tanaman Kehutanan ... 25
5.4. Penerimaan dari Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Spesies)/ Tahun ... 28
5.5. Pengeluaran untuk Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Spesies)/ Tahun ... 30
5.6. Pendapatan Rumah Tangga dari Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Spesies)/... 32
5.7. Penerimaan dari Tanaman Pertanian/ Tahun ... 35
5.8. Pengeluaran untuk Tanaman Pertanian/ Tahun ... 37
5.9. Pendapatan Rumah Tangga dari Tanaman Pertanian/ Tahun ... 39
5.10. Nilai Total Pendapatan Rumah Tangga dari Hutan rakyat ... 41 VI. PENUTUP
6.2. Saran ... 44 DAFTAR PUSTAKA ... 45 LAMPIRAN ... 47
DAFTAR TABEL
No Teks Halaman
1. Klasifikasi Umur Responden di Lingkungan Barugae Kelurahan
Mario Pulana Kecamatan Camba... 20
2. Tingkat Pendidikan Responden ... 21
3. Jumlah Tanggungan Keluarga ... 22
4. Luas Lahan Responden ... 23
5. Pendapatan dari Tanaman Kehutanan... 26
6. Penerimaan dari Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species)/ Tahun... 29
7. Pengeluaran untuk Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species)/ Tahun 31 8. Pendapatan dari Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species)/ Tahun ... 33
9. Penerimaan dari Tanaman Pertanian/ Tahun ... 36
10. Pengeluaran untuk Tanaman Pertanian/ Tahun ... 38
11. Pendapatan Dari Tanaman Pertanian/ Tahun... 40
12. Nilai Total Pendapatan Rumah Tangga Pada Hutan Rakyat di Lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba ... 42
DAFTAR GAMBAR
No Teks Halaman
1. Kerangka Pikir ... 11
2. Wawancara Dengan Anggota Kelompok Tani ... 77
3. Wawancara Dengan Anggota Kelompok Tani ... 77
4. Wawancara Dengan Anggota Kelompok Tani ... 78
5. Wawancara Dengan Anggota Kelompok Tani ... 78
6. Tanaman dalam Hutan Rakyat... 79
7. Tanaman dalam Hutan Rakyat... 79
8. Tanaman dalam Hutan Rakyat... 80
9. Tanaman dalam Hutan Rakyat... 80
10. Tanaman dalam Hutan Rakyat... 81
11. Tanaman dalam Hutan Rakyat... 81
12. Tanaman dalam Hutan Rakyat... 82
13. Tanaman dalam Hutan Rakyat ... 82
DAFTAR LAMPIRAN
No Teks Halaman
1. Kuisioner Penelitian... 47
2. Identitas Responden ... 49
3. Luas Lahan dan Jenis Tumbuhan di Hutan Rakyat ... 50
4. Tanaman Kehutanan ... 51
5. Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Spesies) / Tahun ... 54
6. Tanaman Pertanian... 64
7. Dokumentasi ... 77
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hutan sebagai bagian dari sumber daya alam nasional memiliki arti dan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, pembangunan dan lingkungan hidup. Hutan memiliki berbagai aspek manfaat bagi kehidupan berupa manfaat langsung yang dirasakan dan manfaat yang tidak langsung.
Manfaat hutan diperoleh bila manfaat dan fungsi hutan terjamin eksistensinya sehingga dapat berfungsi secara optimal. Fungsi-fungsi ekologi, ekonomi dan sosial dari hutan akan memberikan peranan nyata apabila pengelola sumber daya alam berupa hutan seiring dengan upaya pelestarian guna mewujudkan pembangunan nasional berkelanjutan (Zain, 1998).
Berdasarkan statusnya, hutan terdiri dari dua jenis, yaitu hutan negara dan hutan hak. Hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak milik dan lazim disebut hutan rakyat. Hutan rakyat merupakan salah satu model pengelolaan sumber daya alam yang berdasarkan inisiatif masyarakat. Yang mana hutan rakyat ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat, ditunjukan untuk menghasilkan kayu atau komoditas ikutannya yang secara ekonomis bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari adanya hutan rakyat tradisional yang di usahakan masyarakat sendiri tanpa campur tangan pemerintah (swadaya murni), baik berupa tanaman satu jenis (hutan rakyat mini), maupun dengan pola tanaman campuran (agroforestri)
Pembangunan hutan rakyat yang bernilai ekonomi, memerlukan suatu usaha pembudidayaan dan pengembangan tanaman guna mendapatkan pertumbuhan dan produksi yang optimal. Hutan Rakyat adalah hutan yang cukup potensial untuk menunjang kehidupan sehari-hari masyarakat maupun sebagai komoditi perdagangan. Luas hutan rakyat di Kabupaten Maros adalah 9.299 ha dengan rata-rata luas pemilikan petani 1,87 ha (62,54 % dari total lahan yang dikuasai). Hutan rakyat tersebut tersebar di dalam kawasan hutan yaitu 7.001 ha dan di luar kawasan hutan yaitu seluas 2.298 ha (Dinas Kehutanan Kabupaten Maros, 2002, Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan, 2005) dan luas hutan rakyat di Kecamatan Camba 6.457 ha (Wikipedia, 2011).
Manfaat hutan rakyat yang berupa manfaat finansial berupa peningkatan pendapatan masyarakat dan retribusi baik dari hasil hutan kayu maupun non kayu akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan juga pembangunan daerah. Pendapatan daerah pada hutan rakyat ini selain kayu dapat juga berupa jasa lainnya dalam kaitannya dengan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat (Purwanto et al., 2004).
Beberapa penelitian tentang pendapatan rumah tangga pada hutan rakyat diantaranya telah dilakukan oleh Suci Dian Firani (2011) yang meneliti tentang Analisis Pendapatan Rumah Tangga Petani Hutan Rakyat menyimpulkan bahwa pendapatan rumah tangga dari hutan rakyat sebesar 52,29 %. Tingginya pendapatan rumah tangga dari hutan rakyat menunjukkan bahwa masyarakat Desa Pedasari, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat masih sangat bergantung kepada hutan. Penelitian ini juga dilakukan oleh Lalis Yuliana Sultika
(2010) yang meneliti tentang Analisis Pendapatan Dan Persepsi Masyarakat Terhadap Hutan Rakyat menyimpulkan bahwa Pendapatan total petani dari kegiatan pengelolaan hutan rakyat adalah Rp.475.687.000/tahun dengan rata-rata Rp 7.928.117/tahun/petani.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian tentang “Analisis Pendapatan Rumah Tangga Pada Hutan Rakyat Di Lingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros”sangat perlu untuk dikaji.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah berapa pendapatan rumah tangga pada hutan rakyat diLingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapatan rumah tangga pada hutan rakyat di Lingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini yaitu dapat menambah pengetahuan, meningkatkan wawasan, memperoleh pengalaman dan dapat juga digunakan sebagai bahan informasi dan referensi bagi peneliti, masyarakat, serta peneliti berikutnya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hutan Rakyat
Menurut Undang-undang Pokok Kehutanan (UUPK) No.5 Tahun 1967, hutan berdasarkan kepemilikannya dibagi menjadi hutan negara dan hutan milik.
Hutan negara merupakan hutan dan kawasan hutan yang tumbuh di atas tanah dan tidak dibebani dengan hak milik, sedangkan hutan milik adalah hutan yang tumbuh di atas tanah dan dibebani dengan hak milik dan lazim disebut hutan rakyat serta dapat dimiliki oleh petani secara perorangan maupun bersama-sama dengan orang lain atau badan hukum. Menurut Undang-undang No. 41 tahun 1999, pengertian hutan rakyat ini hanya disebutkan sebagai hutan hak, yang membedakannya dengan hutan negara.
Hutan rakyat merupakan hutan yang dimiliki oleh masyarakat yang dinyatakan oleh kepemilikan lahan, karenanya hutan rakyat disebut juga disebut hutan milik ( Hardjanto, 1990). Secara formal ditegaskan bahwa hutan rakyat adalah hutan yang dibangun diatas tanah milik.Pengertian seperti itu kurang mempertimbangkan kemungkinan adanya hutan di atas tanah milik yang tidak dikelola oleh rakyat, melainkan oleh perusahaan swasta. Penekanan pada kata
”rakyat” kiranya lebih ditujukan kepada pengelola yaitu ”rakyat” kebanyakan,
bukan pada status pemilikan tanahnya. Apabila istilah hutan rakyat yang berlaku saat ini akan tetap dipertahankan maka diperlukan penegasan kebijakan yang menutup peluang perusahaan swasta menguasai tanah milik tersebut untuk mengusahakan hutan. Namun, tidak menutup kemungkinan rakyat pemilik tanah
Balai Informasi Pertanian (1982), membagi bentuk hutan rakyat berdasarkan jenis tanaman menjadi tiga, yaitu :
a. Hutan rakyat murni, yaitu hutan rakyat yang hanya terdiri dari satu jenis tanaman pohon berkayu yang ditanam dan diusahakan secara homogeny atau monokultur.
b. Hutan rakyat campuran, yaitu hutan rakyat yang terdiri dari berbagai jenis pohon–pohonan yang ditanam secara campuran.
c. Hutan rakyat agroforestri, yaitu hutan yang memiliki bentuk usaha kombinasi kehutanan dengan cabang usaha tani lainnya, seperti perkebunan, pertanian tanaman pangan, peternakan dan lain-lain secara terpadu.
Menurut Jaffar (1993), sasaran pembangunan hutan rakyat adalah lahan milik dengan kriteria :
a. Areal kritis dengan keadaan lapangan berjurang dan bertebing yang mempunyai kelerengan lebih dari 30%.
b. Areal kritis yang telah diterlantarkan atau tidak digarap lagi sebagai lahan pertanian tanaman pangan semusim.
c. Areal kritis yang karena pertimbangan-pertimbangan khusus seperti untuk perlindungan mata air dan bangunan pengairan perlu dijadikan areal tertutup dengan tanaman tahunan.
d. Lahan milik rakyat yang karena pertimbangan ekonomi lebih menguntungkan bila dijadikan hutan rakyat daripada untuk tanaman
2.2. Peran Hutan Rakyat
Hutan rakyat memberikan manfaat sebagai berikut (Pusat Penyuluhan Kehutanan, 1996) :
a. Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
b. Pemanfaatan secara maksimal dan lestari lahan yang tidak produktif dan mengelolanya menjadi lahan yang subur.
c. Peningkatan produksi kayu bakar dan penyediaan kayu perkakas, bahanbangunan dan alat rumah tangga.
d. Penyedia bahan baku industri seperti kertas, korek api, dan lain-lain.
e. Menciptakan lapangan kerja bagi penduduk pedesaan.
f. Mempercepat rehabilitasi lahan kritis.
Djajapertjuanda (2003) menyatakan bahwa hutan rakyat adalah hutan, sama halnya seperti hutan-hutan lainnya yang tanamannya terdiri atas pohon sebagai jenis utamanya, maka peranannya puntidak banyak berbeda, yaitu :
a. Ekonomi, untuk memproduksi kayu dan meningkatkan industri kecil sebagai upaya untuk meningkatkan peranan jaringan ekonomi rakyat.
b. Sosial, dalam membuka lapangan kerja.
c. Ekologi, sebagai penyangga kehidupan masyarakat dalam mengatur tata air, mencegah bencana banjir, erosi dan sebagai prasarana untuk memelihara kualitas lingkungan hidup (penyerap CO2dan produsen O2).
d. Estetika, berupa keindahan alam.
e. Sumber, merupakan sumberdaya alam untuk ilmu pengetahuan, antara lain Ilmu Biologi, Ilmu Lingkungan, dan lain-lain.
Menurut Simon (1995), hutan rakyat akan memperluas kesempatan kerjabagi penduduk yang bertempat tinggal di sekitar dan di dalam hutan.
Pembangunan hutan rakyat akan melibatkan seluruh penduduk disekitarnya, sehingga akan memperoleh kesempatan untuk memanfaatkan waktunya secara maksimal.
2.3. Karakteristik Hutan Rakyat
Karakteristik hutan rakyat menurut Winarno (2008) yaitu:
a. Luas lahan rata-rata yang dikuasai sempit.
b. Pada umumnya petani berlahan sempit menanam kayu-kayuan dengan tanaman lainnya dengan pola tumpangsari, campuran agroforestri, sedangkan petani berlahan luas yang komersil memungkinkan pengembangan hutan rakyat dengan sistem monokultur.
c. Tenaga kerja yang digunakan berasal dari dalam keluarga.
d. Skala usaha kecil.
e. Kontinuitas dan mutu kayu kurang terjamin.
f. Beragamnya jenis tanaman dengan daur yang tidak menentu.
g. Kayu dalam hutan rakyat tidak diposisikan sebagai andalan pendapatan rumah tangga, tetapi dilihat sebagai “tabungan” yang segera dapat dijual pada saat dibutuhkan.
h. Teknik silvikultur sederhana dan memungkinkan pengembangan dengan biaya rendah, meskipun hasilnya kurang optimal. Namun, kontinuitas hasil dalam horizon waktu dan penyebaran resiko menjadi pilihan petani.
i. Keputusan pemanfaatan lahan untuk hutan rakyat seringkali merupakan pilihan terakhir apabila pilihan lainnya tidak memungkinkan.
j. Kayu tidak memberikan hasil cepat, bukan merupakan komoditi konsumsi sehari-hari, membutuhkan waktu lama sehingga pendapatan dari kayu rakyat merupakan pendapatan sampingan dalam pendapatan rumah tangga.
k. Usaha hutan rakyat merupakan usaha yang tidak pernah besar tetapi tidak pernah mati.
l. Instansi dan organisasi yang terlibat dalam pengelolaan hutan rakyat cukup banyak tetapi tidak ada satupun yang bertanggung jawab penuh atas kelangsungan hutan rakyat.
m. Perundangan, kebijakan, tata nilai, tata prilaku dan sebagainya belum optimal mendukung pengembangan hutan rakyat.
Keberagaman karakteristik tersebut dapat lebih memperkaya kemajuan hutan rakyat. Dengan mengkaji karakter-karakter tersebut di atas, selanjutnya dapat disimpulkan bahwa hutan rakyat di Pulau Jawa mempunyai karakteristik yang berbeda baik dari segi budidaya maupun status kepemilikannya dibandingkan dengan di luar Pulau Jawa. Budidaya dan manajemen pengelolaan hutan rakyat di Pulau Jawa relatif lebih intensif dan lebih baik dibandingkan dengan di luar Pulau Jawa. Di samping itu juga status kepemilikan lahan dengan tata batas yang lebih jelas serta luas lahan yang sangat sempit dan kondisi-kondisi lain, seperti pasar, informasi, dan aksesibilitas yang relatif lebih baik (Darusman, 2006).
2.4. Manfaat Hutan Rakyat
Manfaat pembangunan hutan rakyat menurut Dirjen RRL (1995) adalah:
a. Memperbaiki penutupan tanah sehingga akan mencegah erosi percikan.
b. Memperbaiki peresapan air ke dalam tanah.
c. Mempengaruhi iklim mikro, perbaikan lingkungan, dan perlindungan sumberair.
d. Meningkatkan produktivitas lahan dengan berbagai hasil dari tanaman hutan rakyat berupa kayu-kayuan.
e. Meningkatkan pendapatan masyarakat.
f. Memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan kayu dan kebutuhankayu rakyat.
Walaupun hutan rakyat mempunyai potensi dan peranan yang cukup besar,namun hutan rakyat di Pulau Jawa pada umumya hanya sedikit yang memenuhiluasan minimal sesuai dengan definisi hutan, di mana luas minimal harus 0, 25 ha. Hal tersebut disebabkan karena rata-rata pemilikan lahan di Pulau Jawa sangat sempit. Dengan sempitnya pemilikan lahan setiap keluarga ini mendorong pemiliknya untuk memanfaatkan seoptimal mungkin (Hardjanto, 2000).
2.5. Pendapatan
Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan yang diperoleh dari usaha dengan biaya yang dikeluarkan untuk usaha tersebut (Suharjo dan Patong, 1973). Sementara itu dari pengertian ekonomi, pendapatan berhubungan dengan
uang, barang , dan jasa yang diterima atau diperoleh selama periode tertentu, seperti bulan atau tahun (Olsen and Kennedy, 1978 dalam Soerwiatmoko, 1988).
Pendapatan yang diperoleh dari suatu proses produksi tergantung dari a. Jumlah barang yang dihasilkan tiap jenis dan kualita.
b. Harga satuan dari tiap jenis dan kualita
Besarnya pendapatan sama dengan jumlah barang yang dihasilkan dikalikandengan harga satuan barang tersebut. Analisis pendapatan bertujuan untuk menggambarkan kedaan sekarang suatu kegiatan usaha dan dapat menggambarkan keadaan dimasa dating, selain itu juga dapat untuk mengukur keberhasilan usaha.
Suatu usaha dapat dikatakan sukses bila situasi pendapatannya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Cukup untuk membayar semua pembelian sarana produksi, termasuk biaya angkutan dan biaya administrasi yang mungkin melekat pada pembelian tersebut
b. Cukup untuk membayar bunga modal yang ditanamkan, termasuk pembayaran sewa tanah dan pembayaran depresiasi
c. Cukup untuk membayar upah tenaga kerja yang dibayar atau bentuk- bentuk upah lainnya untuk tenaga kerja yang tidak diupah (Soeharjo, 1973).
2.6. Kerangka Pikir
Hutan rakyat di Lingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros diharapkan dapat meningkatkan pendapatan rumah
tangga dari hasil hutan rakyat. Pendapatan hasil yang dimaksud adalah pendapatan hasil dari tanaman kehutanan, tanaman pertanian, dan tanaman MPTS sehingga dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga. Berikut adalah kerangka pikir penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Pikir Hutan Rakyat
Rumah Tangga
Penerimaan Pengeluaran
Pendapatan Rumah Tangga
III. METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Lingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros. Penelitian ini berlangsung kurang lebih 2 (dua) bulan dimulai pada Agustus–Oktober 2019.
3.2. Prosedur
3.2.1. Metode Pengambilan Responden
Pengambilan responden dilakukan dengan cara sensus, yaitu responden yang diambil merupakan populasi penelitian. Populasi penelitian yaitu semua masyarakat yang tinggal diLingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros dengan jumlah populasi yaitu 349. Sampel responden sebanyak 30 orang yang termasuk kelompok tani diLingkungan Barugae, Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros.
3.2.2. Jenis Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan datasekunder, sebagai berikut :
a. Data Primer, yang terdiri dari :
1. Data karakteristik responden meliputi nama, pendidikan, umur, dan jumlah tanggungan keluarga.
2. Informasi lahan, yaitu luas kepemilikan lahan
3. Data pengeluaran rumah tangga, yaitu jumlah pengeluaran dan sumber- sumber pengeluaran dari hutan rakyat.
4. Data penerimaan rumah tangga, yaitu jumlah penerimaan dan sumber- sumber pendapatan dari hutan rakyat.
b. Data sekunder, yang terdiri dari:
1. Data kondisi umum lokasi penelitian meliputi letak, luas areal, kondisi fisik areal lingkungan, dan kondisisosial ekonomi masyarakat.
2. Data keadaan umum penduduk meliputi pendidikan, agama dan kebudayaan, dan jumlah penduduk.
3.2.3. Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagaiberikut :
a. Studi literatur untuk menambah kelengkapan data yang diperoleh dengan cara mempelajari, mengutip buku dan laporan yang berkaitan dengan penelitian ini.
b. Wawancara menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) dengan responden yang berkaitan dan instansi yang terkait.
c. Pengumpulan data-data statistik yang turut membantu dalam penelitian.
3.3. Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif yang digunakan adalah analisis pengeluaran dan pendapatan dengan menggunakan rumus:
a. Penerimaan TR = P x Q
TR : Total Revenue {penerimaan total (Rp)}
P : Price (harga)
Q : Quantity {jumlah barang (kg)}
b. Pengeluaran TC = TFC + TVC
Keterangan:
TC : Total Cost (total biaya)
TFC : Total Fixed Cost (total biaya tetap) TVC : Total Variabel Cost (total biaya variabel) c. Pendapatan
I = TR–TC
Keterangan:
I : Income (pendapatan)
TR : Total Revenue {penerimaan total (Rp)}
TC : Total Cost (total biaya) 3.4. Defenisi Operasional
Batasan-batasan operasional yang digunakan dalam penelitian ini mencakup beberapa istilah:
1. Responden adalah pihak-pihak yang dijadikan sebagai sampel dalam sebuah penelitian.
2. Pendapatan merupakan sumber penghasilan seseorang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup dan penghidupan seseorang secara langsung maupun tidak langsung.
3. Rumah tangga adalah sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik dan biasanya tinggal bersama dan makan satu dapur, atau sesorang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan serta mengurus keperluan sendiri.
4. Analisis adalah aktivitas yang terdiri dari serangkaian kegiatan seperti, menguraikan, membedakan, memilih sesuatu untuk dikelompokkan kembali menurut kriteria tertentu.
5. Hutan rakyat merupakan hutan yang dimiliki oleh masyarakat yang dinyatakan oleh kepemilikan lahan, karenanya hutan rakyat disebut juga disebut hutan milik.
IV. KEADAAN UMUM LOKASI
4.1. Letak Geografis dan Topografi
Keadaan geografi kelurahan Mario Pulana merupakan daerah dataran tinggi dan mempunyai topografi lembah dan berbukit dengan ketinggian 320-720 mdpl dengan luas sekitar 16,70 km2. Jarak Kelurahan Mario Pulana dengan ibu kota Kecamatan Camba 5 km dan 64 km dari ibu kota Kabupaten Maros, dengan batas-batas sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Mallawa b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Cempaniga
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sawaru dan Desa Benteng d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Patanyamang
4.2. Kependudukan
Penduduk Kelurahan Mario Pulana Tahun 2018 sebanyak 1.273 jiwa. yaitu laki-laki sebanyak 631 jiwa dan perempuan 642 jiwa. Rasio jenis kelamin (Sex Ratio) sekitar 97,1. Jumlah rumah tangga sebanyak 335 dengan kepadatan penduduk sebesar 75,1 jiwa/km2, mayoritas warganya berasal dari Suku/Etnis Bugis-Makassar dan memeluk Agama Islam dengan fasilitas ibadah 3 Masjid dan langgar/surau/musallah 2 buah .
Struktur umur penduduk Kelurahan Mario Pulana baik laki-laki maupun perempuan terbanyak tersebar mulai pada kelompok umur antara 0-4 tahun sampai dengan 50-54 dan pada kelompok umur 55-59 mulai menurun.
4.3. Pendidikan
Jumlah fasilitas/sarana pendidikan yang ada di Kelurahan Mario Pulana yaitu Sekolah Taman Kanak - Kanak sebanyak 1 buah, Sekolah Dasar Negeri dan Inpres sebanyak 1 buah, Sekolah Menegah Atas Negeri 1 buah sedangkan sekolah Menengah Pertama berada di ibu kota Kecamatan camba.
Pada umumnya penduduk usia sekolah yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dalam hal ini Perguruan Tinggi/ Universitas mereka melanjutkan ke Kota Makassar atau ke kecamatan lain di Kabupaten Maros yaitu Kecamatan Mandai serta Kecamatan Turikale. Karena keberadaan Perguruan Tinggi/Universitas di Kecamatan Camba belum tersedia kecuali Universitas Terbuka.
4.4. Pertanian
Sektor pertanian di Kelurahan Mario Pulana tahun 2017, khususnya padi sawah masih menjadi mata pencaharian utama bagi penduduk di Kelurahan Mario Pulana. Dari luas Kelurahan Mario Pulana seluas 16,70 Km2 terdiri dari lahan sawah dan lahan bukan sawah. Lahan sawah yang diusahakan untuk berpengairan Non Teknis seluas 154 Ha, lahan sawah tadah hujan seluas 20 ha, selebihnya lahan bukan sawah yang terdiri dari Ladang /Tegal 7 ha, perkebunan 59 ha, hutan rakyat 660 ha lainnya 24 ha.
Selain lahan yang diusahakan untuk pertanian terdapat 49 ha digunakan sebagai perumahan/pemukiman, 2 ha industri/ kantor/ pertokoan, 5 ha lainnya.
Dilihat dari jumlah populasi ternak besar di Kelurahan Mario Pulana Tahun 2017
untuk ternak yang diusahakan, antara lain ; 499 ekor Sapi, dan 2 ekor dan untuk Ternak Unggas seperti Ayam Buras sebanyak 11.973 ekor, Ayam Ras 3.000 ekor.
4.5. Kesehatan
Jumlah sarana kesehatan yang ada di Kelurahan Mario Pulana terdapat 1 unit Poskesdes dan 2 unit Posyandu dengan bidan 1 orang dan dukun bayi yang menangani proses kelahiran sebanyak 1 orang.
4.6. Transportasi dan Komunikasi
Jalan merupakan instalasi alat vital suatu wilayah dimana dengan tersedianya sarana transportasi merupakan alat penunjang dalam melakukan aktivitas kegiatan. Tersedianya jalur jalan yang baik dapat memudahkan mobilitas penduduk dan memperbesar arus barang dan jasa antar daerah. Jalan utama yang menuju ke Kelurahan Mario Pulana yang juga merupakan jalur Trans Sulawesi yaitu menuju ke Kabupaten Bone dan Propinsi Sulawesi Tenggara yaitu melalui penyeberangan pelabuhan Bajoe semuanya sudah diaspal. Jenis Alat transportasi yang dimiliki dan digunakan oleh masyarakat adalah transportasi darat kendaraan roda empat dan roda dua/roda tiga.
Adanya kemajuan dibidang teknologi informasi dan komunikasi seperti TV, Radio, Telepon dan HP, yang tumbuh dan berkembang sampai ke tingkat pedesaaan, hampir semua masyarakat bisa menikmati informasi langsung melalui siaran TV dan radio serta bisa berkomunikasi melalui telepon dan telepon genggam/Hand Phone. Dengan adanya Kantor Pos Pe bantu memudahkan penduduk yang berada di Kelurahan Mario Pulana dan sekitarnya
Listrik merupakan sarana yang sangat penting dalam berbagai kehidupan untuk melakukan kegiatan masyarakat. Rumah tangga yang ada di Kelurahan Mari Pulana hanya 223 rumah tangga adalah pengguna listrik PLN, beberapa rumah tangga diantaranya tanpa meterán, Pengguna listrik Non - PLN sebanyak 13 rumah tangga, dan masih ada rumah tangga belum menggunakan listrik yaitu sebanyak 59 rumah tangga.
4.7. Perekonomian
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 terdapat 7 lapangan/
sektor usaha yang menjadi pekerjaan utama penduduk Kelurahan Mario Pulana yang berumur 10 tahun ke atas. Pertanian padi merupakan sektor utama, kemudian disusul sektor perkebunan, perdagangan, jasa pendidikan, jasa kemasyarakatan, pemerintahan dan perorangan.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Identitas Responden
Identitas responden merupakan gambaran kondisi atau keadaan serta status responden. Identitas responden meliputi umur, tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga.
5.1.1. Umur
Umur responden yang diwawancarai berkisar 33-83 tahun, dari 30 responden yang termasuk dalam kelompok tani. Umur sangat mempengaruhi kualitas pekerjaan karena semakin bertambahnya umur maka kemampuan untuk bekerja semakin berkurang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Klasifikasi Umur Responden di Lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba
No Kelompok Umur Jumlah Responden
(Kepala Keluarga) Persentase (%) 1
2 3 4 5 6
33-41 42-50 51-59 60-68 69-77 78-86
7 4 7 8 3 1
23,33 13,33 23,33 26,67 10,00 3,33
Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
Pada Tabel 1, diketahui bahwa dari 30 responden yang berumur 33-41 tahun sebanyak 7 orang (23,33%), umur 42-50 tahun sebanyak 4 orang (13,33%), umur 51-59 tahun sebanyak 7 orang (23,33 %), umur 60-68 tahun sebanyak 8 orang (26,67 %), umur 69-77 tahun sebanyak 3 orang (10,00 %), dan umur 78-86 tahun sebanyak 1 orang (3,33 %). Dari hasil data tersebut dapat diketahui bahwa umur pekerja yang paling banyak berada di umur 60-68 tahun sebanyak 8 orang
tentang pengelolaan Hutan Rakyat agar pendapatan semakin meningkat sedangkan pekerja yang paling sedikit berada pada umur 78-86 tahun sebanyak 1 orang (3,33 %), di karenakan umur mereka sudah tua dan kekuatan fisik juga sudah lemah. Kekuatan fisik seseorang untuk melakukan aktivitas sangat erat kaitannya dengan umur karena bila umur seseorang telah tua, maka semakin menurun kekuatan fisiknya sehingga produktivitasnya menurun dan pendapatan juga ikut turun.
5.1.2. Pendidikan
Pendidikan sangat penting dimiliki oleh seseorang, dengan pendidikan dapat mempengaruhi pola pikir seseorang dalam meningkatkan suatu usaha terutama pemanfaatan tanaman dalam Hutan Rakyat sehingga dapat mengoptimalkan pendapatan dari Hutan Rakyat. Adapun tingkat pendidikan responden di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba dapat dilihat pada Tabel 2
Tabel 2. Tingkat Pendidikan Responden
No Tingkat Pendidikan Jumlah Responden
(Kepala Keluarga) Persentase (%) 1
2 3 4 5
SD SMP SMA D3 S1
20 2 5 1 2
66,67 6,67 16,66
3,33 6,67
Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
Pada Tabel 2 diketahui bahwa dari 30 responden di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba tingkat pendidikan yang paling banyak adalah tingkat SD sebanyak 20 orang (66,67 %), hal ini disebabkan karena
pengolaan Hutan Rakyat tanpa perlu melanjutkan pendidikan dan tingkat pendidikan yang paling sedikit adalah tingkat D3 sebanyak 1 orang (3,33 %), hal ini terjadi karena masyarakat melihat generasi sebelumnya dapat bertahan hidup dan mampu mengelolah Hutan Rakyat tanpa pendidikan yang tinggi dan untuk tingkat SMP sebanyak 2 orang (6,67 %), SMA sebanyak 5 orang (16,66 %) serta S1 sebanyak 2 orang (6,67 %). Jika masyarakat paham akan pentingnya pendidikan maka pengetahuan tentang pengelolaan tanaman semakin baik dan pendapatan juga dapat di maksimalkan.
5.1.3. Tanggungan Keluarga
Tanggungan keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri dari istri, dan anak, serta orang lain yang turut serta dalam keluarga atau hidup dalam satu rumah dan makan bersama yang menjadi tanggungan kepala keluarga.
Jumlah tanggungan keluarga juga dapat mempengaruhi besarnya biaya yang dikeluarkan, tentunya juga dapat mempengaruhi suatu responden untuk terus bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Apabila jumlah tanggungan semakin banyak, maka biaya yang dikeluarkan semakin banyak pula.
Adapun jumlah tanggungan keluarga di Lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah Tanggungan Keluarga Responden No Tanggungan Keluarga Jumlah Responden
(Kepala Keluarga) Persentase (%) 1
2 3
Tidak Ada 1-3 4-6
1 25 4
3,33 83,33 13,33
Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
Pada Tabel 3 diketahui bahwa jumlah responden yang memiliki tanggungan keluarga 1-3 orang sebanyak 25 KK (83,33 %) dan 4-6 sebanyak 4 KK (13,33%) serta 1 (3,33 %) responden yang tidak memiliki tanggungan keluarga. Sehingga dapat diketahui bahwa responden yang memiliki jumlah tanggungan keluarga paling banyak yaitu 1-3 orang. Hal ini dapat disimpulkan ada banyak responden yang memiliki tanggungan keluarga yang tidak besar sehingga tentunya akan dapat mempengaruhi tingkat biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
5.1.4. Luas Lahan
Luas lahan yang dimiliki oleh responden di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba yaitu dari 0,50 ha – 2 ha dan penduduknya berprofesi sebagai petani di Hutan Rakyat. Lahan tersebut dikelola oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Luas Lahan Responden
No Luas Lahan (ha) Jumlah Responden
(Kepala Keluarga) Persentase (%) 1
2
0,50–1 1,50–2
17 13
56,67 43,33
Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
Pada Tabel 4 diketahui bahwa jumlah responden yang memiliki luas lahan 0,50 ha–1 ha sebanyak 17 KK (56,67 %) dan luas lahan 1,50 ha –2 ha sebanyak 13 KK (43,33 %). Luas lahan juga sangat berpengaruh dalam pendapatan karena semakin luas lahan maka semakin luas pula tempat untuk menanam tanaman
5.2. Jenis Tanaman Yang Ditanam Pada Hutan Rakyat
Jenis tanaman yang ditanam pada hutan rakyat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba yaitu jenis tanaman kehutanan, tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species), dan tanaman pertanian. Tanaman kehutanan terdiri dari Jati Lokal (Tectona grandis), dan Jati Putih (Gmelina arborea). Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) terdiri dari Kemiri (Aleurites moluccanus), Kelapa (Cocos nucifera), dan Kacang Mete (Anacardium occidentale). Tanaman pertanian terdiri dari Jagung (Zea mays), Jahe (Zingiber officinale), Merica (Piper nigrum), Kacang Gude (Cajanus cajan), dan Kakao (Theobroma cacao).
Masyarakat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana untuk tanaman kehutanan lebih memilih menanam Jati Lokal (Tectona grandis) dan Jati Putih (Gmelina arborea). Hal ini disebabkan karena bibit tanaman didapat dari instansi kehutanan dan hasil cabutan dari dalam hutan yang kemudian ditanam dan dibiarkan tumbuh secara alami selain itu masyarakat biasanya juga membuat rumah dan perabotan dari Jati. Walaupun tingkat pertumbuhan Jati Lokal (Tectona grandis) lambat dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dipanen tetapi masyarakat tetap memanfaatkan kayunya.
Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) terdiri dari Kemiri (Aleurites moluccanus), Kelapa (Cocos nucifera), dan Kacang Mete (Anacardium occidentale) dan beberapa tanaman pertanian diantaranya Jagung (Zea mays), Jahe (Zingiber officinale), Merica (Piper nigrum), Kacang Gude (Cajanus cajan) dan Kakao (Theobroma cacao). Tanaman-tanaman tersebut ditanam oleh
masyarakat karena memiliki nilai jual yang tinggi dan perawatannya tergolong mudah serta tidak memerlukan modal yang banyak.
5.3. Pendapatan Rumah Tangga dari Tanaman Kehutanan
Pendapatan rumah tangga dari tanaman kehutanan pada Hutan Rakyat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba yaitu dari penjualan kayu Jati Lokal (Tectona grandis) dan Jati Putih (Gmelina arborea).
Pendapatan diperoleh dari penerimaan dikurangi pengeluaran. Namun masyarakat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba tidak memiliki pengeluaran untuk tanaman kehutanan karena bibit tanaman kehutanan didapat dari instansi kehutanan dan hasil cabutan dari dalam hutan yang kemudian ditanam dan dibiarkan tumbuh secara alami. Sedangkan untuk pemanena, sistem yang biasa dilakukan yaitu sistem tebang pilih dan tebang habis yang dimana pohon yang disepakati oleh pembeli dan penjual untuk ditebang dan semua biaya ditanggung oleh pembeli dengan harga Jati lokal (Tectona grandis) Rp.400.000/
pohon dan Jati putih (Gmelina arborea) Rp.200.000/ pohon. Adapun pendapatan rumah tangga dari tanaman kehutanan pada Hutan Rakyat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Pendapatan dari Tanaman Kehutanan
No. KK
Hasil Hutan Rakyat
Jumlah Pendapatan (Rp/ Tahun) Jati Lokal
(Tectona grandis) (Rp/Tahun)
Jati Putih (Gmelina arborea)
(Rp/Tahun)
1 9.333.333 - 9.333.333
2 16.000.000 3.200.000 19.200.000
3 5.333.333 - 5.333.333
4 14.666.667 - 14.666.667
5 25.333.333 1.800.000 27.133.333
6 12.000.000 1.520.000 13.520.000
7 9.333.333 - 9.333.333
8 14.133.333 2.600.000 16.733.333
9 1.066.666 - 1.066.666
10 10.133.333 - 10.133.333
11 2.666.667 - 2.666.667
12 13.333.333 6.000.000 19.333.333
13 12.133.333 - 12.133.333
14 5.333.333 - 5.333.333
15 24.000.000 - 24.000.000
16 5.333.333 - 5.333.333
17 17.600.000 8.000.000 25.600.000
18 12.000.000 - 12.000.000
19 14.400.000 3.120.000 17.520.000
20 21.333.333 1.600.000 22.933.333
21 24.000.000 - 24.000.000
22 6.666.667 - 6.666.667
23 4.533.333 - 4.533.333
24 8.266.666 - 8.266.666
25 15.466.666 - 15.466.666
26 4.000.000 - 4.000.000
27 16.533.333 4.200.000 20.733.333
28 16.000.000 - 16.000.000
29 13.333.333 10.000.000 23.333.333
30 10.666.667 - 10.666.667
Total (Rp) 364.933.328 42.040.000 406.973.328
Rata-rata (Rp) 12.164.444 4.204.000 13.565.778
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
Pada Tabel 5 diketahui bahwa rumah tangga di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba lebih dominan menanam Jati Lokal (Tectona grandis) daripada Jati Putih (Gmelina arborea) karena mereka lebih dulu mengenal Jati Lokal (Tectona grandis). Jati Lokal (Tectona grandis) dikenal dengan sifat awet dan kuat jika digunakan untuk keperluan rumah dan memiliki nilai jual yang tinggi.
Hasil wawancara yang saya lakukan mengenai tanaman kehutanan yang
biasaji apa’ jati pute’ dimunripi tui engka, jati biasa lebih akejje toppi koo
dikebbuki bola, asuli toppa koo dibaluki, laku toppi na jati pute apaa jati pute kurang tau elo melliki (yang saya tanam hanya Jati Lokal karena Jati Putih dibelakang baru ada, Jati Lokal lebih kuat juga jika dibikin rumah, dijual harganya juga mahal, lebih laku dari Jati Putih karena Jatih Putih sedikit orang yang mau beli).”
Sejak abad ke-9, tanaman Jati (Tectona grandis) yang merupakan tanaman tropika dan subtropika telah dikenal sebagai pohon yang memiliki kayu kualitas tinggi dan bernilai jual tinggi. Jati (Tectona grandis) digolongkan sebagai kayu mewah (fancy wood) dan memiliki kelas awet tinggi yang tahan terhadap gangguan rayap serta jamur dan mampu bertahan sampai 500 tahun (Suryana, Y.
2001).
Pendapatan Jati Lokal (Tectona grandis) berasal dari 30 rumah tangga (responden) sebesar Rp.364.933.328/ Tahun dengan rata-rata Rp. 12.164.444/
Tahun. Pendapatan terbesar yaitu H.Hantang (No.KK 5) sebesar Rp.25.333.333/
Tahun dan terkecil yaitu Mansur (No.KK 9) sebesar Rp. 1.066.666/ Tahun.
Pendapatan H.Hantang lebih besar dari Mansur dikarenakan jumlah tanaman yang dimiliki H.Hantang yaitu 950 pohon dan Mansur hanya 40 pohon.
Pendapatan Jati Putih (Gmelina arborea) berasal dari 10 rumah tangga (responden) yang memiliki Jati Putih (Gmelina arborea) dengan jumlah responden 30 rumah tangga dengan total pendapatan Rp.42.040.000/ Tahun dengan rata-rata Rp. 4.204.000/ Tahun. Pedapatan terbesar yaitu Rahman (No.KK
Rp. 1.520.000/ Tahun. Pendapatan Rahman lebih besar dari H.Tambo karena jumlah tanaman yang dimiliki Rahman yaitu 250 pohon dan H.Tambo 38 pohon.
Adapun total pendapatan rumah tangga dari 30 responden yaitu Rp.
406.973.328/ Tahun dengan rata-rata Rp. 13.565.778/ Tahun. Pendapaatan terbesar yaitu H.Hantang (No.KK 5) Rp. 27.133.333/ Tahun dan pendapatan terkecil yaitu Mansur (No.KK 9) sebesar Rp. 1.066.666/ Tahun. Pendapatan H.Hantang lebih besar dari Mansur karena tanaman yang dimiliki H.Hantang yaitu 950 pohon Jati Lokal (Tectona grandis), 45 pohon Jati Putih (Gmelina arborea) dan Mansur hanya menanam Jati Lokal (Tectona grandis) yaitu 40 pohon.
5.4. Penerimaan dari Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species)/ Tahun Penerimaan rumah tangga dari tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) pada Hutan Rakyat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba yaitu dari Buah Kemiri (Aleurites moluccanus) dengan harga Rp.30.000/kg, tempurung Kemiri dengan harga Rp.15.000/ karung, Kelapa (Cocos nucifera) dengan harga Rp.1.500/ buah, Kacang Mete mentah (Anacardium occidentale) dengan harga Rp.5.000/ kg. Adapun penerimaan rumah tangga dari tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) pada Hutan Rakyat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Penerimaan dari Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species)/ Tahun
No.
KK
Penerimaan Hutan Rakyat
Jumlah Penerimaan (Rp/ Tahun) Buah Kemiri
(Aleurites moluccanus) (Rp)
Tempurung Kemiri
(Rp)
Kelapa (Cocos nucifera)
(Rp)
Kacang Mete (Anacardium occidentale) (Rp)
1 - - - - -
2 4.050.000 - - - 4.050.000
3 18.900.000 90.000 - - 18.990.000
4 5.100.000 - - 50.000 5.150.000
5 10.650.000 60.000 - - 10.710.000
6 7.500.000 45.000 - - 7.545.000
7 6.300.000 - - - 6.300.000
8 - - - - -
9 9.000.000 75.000 - - 9.075.000
10 4.500.000 - - - 4.500.000
11 15.000.000 90.000 750.000 - 15.840.000
12 4.500.000 - - - 4.500.000
13 - - - - -
14 - - - - -
15 3.000.000 - - - 3.000.000
16 2.250.000 - - - 2.250.000
17 16.500.000 90.000 - - 16.590.000
18 9.000.000 - - - 9.000.000
19 13.800.000 75.000 - - 13.875.000
20 6.000.000 - - - 6.000.000
21 27.000.000 135.000 3.000.000 - 30.135.000
22 15.000.000 60.000 - - 15.060.000
23 - - - - -
24 5.100.000 - - - 5.100.000
25 6.600.000 - - - 6.600.000
26 3.150.000 - 315.000 - 3.465.000
27 - - 900.000 - 900.000
28 - - 525.000 - 525.000
29 - - - - -
30 6.900.000 - 405.000 - 7.305.000
Total
(Rp) 199.800.000 720.000 5.895.000 50.000 206.465.000
Rata-rata
(Rp) 9.081.818 80.000 982.500 50.000 8.602.708
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
Pada Tabel 6 diketahui bahwa penerimaan rumah tangga dari Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba lebih dominan berasal dari Buah Kemiri (Aleurites moluccanus) yang bersumber dari 22 rumah tangga dari 30 responden ( rumah tangga) karena Kemiri (Aleurites moluccanus) dapat menghasilkan setiap tahunnya tanpa perlu perawatan. Total penerimaan sebesar Rp.199.800.000/
Tahun dengan rata-rata Rp.9.081.818/ Tahun. Penerimaan terbesar yaitu
Usman (No.KK 16) sebesar Rp. 2.250.000/ Tahun. Penerimaan A.Muh.Nasri lebih besar dari Usman karena, A.Muh.Nasri memiliki 120 pohon Kemiri (Aleurites moluccanus) dengan hasil 900 kg/ Tahun. Dan Usman hanya memiliki 15 pohon Kemiri (Aleurites moluccanus) dengan hasil 75 kg/ Tahun.
Penerimaan masyarakat paling sedikit berasal dari Kacang Mete (Anacardium occidentale) dengan total penerimaan Rp.50.000/ Tahun dikarenakan nilai jual Kacang Mete mentah (Anacardium occidentale) hanya Rp.5.000/ kg. Kacang Mete (Anacardium occidentale) hanya ditanam oleh 1 rumah tangga yaitu Rahman S dari 30 responden (rumah tangga) dengan penerimaan Rp.50.000/ Tahun. Pembudidayaan Kacang Mete (Anacardium occidentale) sangat sedikit dikarenakan memiliki nilai jual yang rendah.
Adapun total penerimaan sebesar Rp. 206.465.000/ Tahun dengan rata-rata Rp. 8.602.708/ Tahun yang berasal dari 24 rumah tangga dari 30 responden (rumah tangga) dengan penerimaan terbesar yaitu A.Muh Nasri (No.KK 21) sebesar Rp. 30.135.000/ Tahun dan terkecil yaitu Cemmang (No.KK 28) sebesar Rp. 525.000/ Tahun. Penerimaan A.Muh Nasri lebih besar karena berasal dari Buah Kemiri (Aleurites moluccanus) dengan hasil 900 kg/ Tahun, tempurung Kemiri 9 karung/ Tahun, Kelapa (Cocos nucifera) 2000 buah/ Tahun, dan Cemmang hanya berasal dari hasil penjualan Kelapa (Cocos nucifera) 350 buah/
Tahun.
5.5. Pengeluaran untuk Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species)/ Tahun Pengeluaran rumah tangga untuk tanaman MPTS (Multi Purpose Tree
rumah tangga untuk tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) pada Hutan Rakyat di Lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Pengeluaran untuk Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species)/ Tahun
No.
KK
Pengeluaran Hutan Rakyat
Jumlah Pengeluaran (RP/ Tahun) Buah Kemiri
(Aleurites moluccanus)
(Rp)
Tempurung Kemiri (Rp)
Kelapa (Cocos nucifera)
(Rp)
Kacang Mete (Anacardium occidentale) (Rp)
1 - - - - -
2 77.500 - - - 77.500
3 250.000 18.000 - - 268.000
4 9.000 - - - 9.000
5 30.000 12.000 - - 42.000
6 22.500 9.000 - - 31.500
7 17.500 - - - 17.500
8 - - - - -
9 35.000 12.500 - - 47.500
10 12.500 - - - 12.500
11 168.000 12.000 - - 180.000
12 22.500 - - - 22.500
13 - - - - -
14 - - - - -
15 15.000 - - - 15.000
16 17.500 - - - 17.500
17 24.000 12.000 - - 36.000
18 30.000 - - - 30.000
19 202.500 15.000 - - 217.500
20 22.500 - - - 22.500
21 820.000 27.000 500.000 - 1.347.000
22 237.500 12.000 - - 249.500
23 - - - - -
24 20.000 - - - 20.000
25 30.000 - - - 30.000
26 15.000 - - - 15.000
27 - - 300.000 - 300.000
28 - - 200.000 - 200.000
29 - - - - -
30 180.000 - 240.000 - 420.000
Total
(Rp) 2.258.500 129.500 1.240.000 - 3.628.000
Rata- rata (Rp)
102.659 14.389 310.000 - 151.167
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
Pada Tabel 7 dapat diketahui bahwa pengeluaran terbesar adalah untuk tanaman Kemiri (Aleurites moluccanus) karena masyarakat lebih dominan menanam Kemiri (Aleurites moluccanus). Total pengeluaran sebesar
yaitu A.Muh Nasri (No.KK 21) sebesar Rp. 820.000/ Tahun dan terkecil yaitu Rahman S (No.KK 4) sebesar Rp.9.000/ Tahun. Pengeluaran A.Muh Nasri lebih besar karena memerlukan karung 15 lembar, pengupas kemiri 10 buah, terpal 3 lembar, jasa pemungut 2 orang dan Rahman S hanya memerlukan karung 3 lembar.
Pengeluaran terkecil adalah untuk tanaman Kacang Mete (Anacardium occidentale) karena tidak memerlukan perawatan dan yang menanam Kacang Mete (Anacardium occidentale) hanya 1 rumah tangga dari 30 responden (rumah tangga) yaitu Rahman S (No.KK 4).
Adapun total pengeluaran rumah tangga untuk tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) Rp. 3.628.000/ Tahun dan rata-rata Rp. 151.167/ Tahun.
Pengeluaran terbesar yaitu A.Muh Nasri (No.KK 21) sebesar Rp. 1.347.000/
Tahun dan terkecil yaitu Rahman S (No.KK 4) sebesar Rp.9.000/ Tahun.
Pengeluaran A.Muh Nasri lebih besar karena pengeluaran untuk Kemiri (Aleurites moluccanus) (pengupas kemiri 10 buah, karung 15 lembar, terpal 3 lembar, dan jasa pemungut 2 orang), tempurung kemiri (karung 9 lembar) serta Kelapa (Cocos nucifera) (pemanjat kelapa 1 orang) dan Rahman S hanya mengeluarkan biaya untuk Kemiri (Aleurites moluccanus) (karung 3 lembar).
5.6. Pendapatan Rumah Tangga dari Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species)/ Tahun
Pendapatan rumah tangga dari tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) pada Hutan Rakyat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana
Purpose Tree Species) pada Hutan Rakyat di lingkungan Barugae Kelurahan Mario Pulana Kecamatan Camba dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Pendapatan dari Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species)/ Tahun
No.KK Penerimaan
(Rp/ Tahun)
Pengeluaran (Rp/ Tahun)
Pendapatan (Rp/ Tahun)
1 - - -
2 4.050.000 77.500 3.972.500
3 18.990.000 268.000 18.722.000
4 5.150.000 9.000 5.141.000
5 10.710.000 42.000 10.668.000
6 7.545.000 31.500 7.513.500
7 6.300.000 17.500 6.282.500
8 - - -
9 9.075.000 47.500 9.027.500
10 4.500.000 12.500 4.487.500
11 15.840.000 180.000 15.660.000
12 4.500.000 22.500 4.477.500
13 - - -
14 - - -
15 3.000.000 15.000 2.985.000
16 2.250.000 17.500 2.232.500
17 16.590.000 36.000 16.554.000
18 9.000.000 30.000 8.970.000
19 13.875.000 217.500 13.657.500
20 6.000.000 22.500 5.977.500
21 30.135.000 1.347.000 28.788.000
22 15.060.000 249.500 14.810.500
23 - - -
24 5.100.000 20.000 5.080.000
25 6.600.000 30.000 6.570.000
26 3.465.000 15.000 3.450.000
27 900.000 300.000 600.000
28 525.000 200.000 325.000
29 - - -
30 7.305.000 420.000 6.885.000
Total (Rp/ Tahun) 206.465.000 3.628.000 202.837.000
Rata-rata (Rp/
Tahun) 8.602.708 151.167 8.451.542
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
Pada Tabel 8 diketahui bahwa total penerimaan sebesar Rp. 206.465.000/
Tahun dengan rata-rata Rp. 8.602.708/ Tahun yang berasal dari 24 rumah tangga dari 30 responden (rumah tangga) dengan penerimaan terbesar yaitu A.Muh Nasri (No.KK 21) sebesar Rp. 30.135.000/ Tahun dan terkecil yaitu Cemmang (No.KK 28) sebesar Rp. 525.000/ Tahun. Penerimaan A.Muh Nasri lebih besar karena