KARYA ILMIAH AKHIR
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN “NY.F”
DENGAN PNEUMONIA DEXTRA DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT TK.II PELAMONIA
MAKASSAR
OLEH:
MAKDALENA BARLOY (NS2214901092) MARGALENA DESTI (NS2214901093)
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STELLA MARIS MAKASSAR
2023
ii
KARYA ILMIAH AKHIR
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN “NY.F”
DENGAN PNEUMONIA DEXTRA DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT TK.II PELAMONIA
MAKASSAR
OLEH:
MAKDALENA BARLOY (NS2214901092) MARGALENA DESTI (NS2214901093)
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STELLA MARIS MAKASSAR
2023
iii
iv
v
vi
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus yang Maha Esa atas Rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Pneumonia Dextra Di Ruang ICU/ICCU TK.II Pelamonia Makassar”
Tujuan dari penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini adalah sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan kuliah profesi Ners di STIK Stella Maris Makassar.
Dalam menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir ini kami menyadari bahwa kami banyak mendapatkan bantuan, pengarahan, bimbingan serta doa dan motivasi dari berbagi pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Siprianus Abdu, S.Si.,S.Kep.,Ns.,M.Kes. selaku Ketua STIK Stella Maris Makassar.
2. Fransiska Anita, Ns.,M.Kep.Sp.Kep.MB. selaku Wakil Ketua Bidang Akademik dan Kerjasama STIK Stella Maris Makassar.
3. Matilda Martha Paseno, Ns.,M.Kes selaku Wakil Ketua Bidang Administrasi, Keuangan, Sarana dan Prasarana STIK Stella Maris Makassar
4. Elmiana Bongga Linggi, Ns., M.Kes., selaku Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan STIK Stella Maris Makassar dan penguji I Karya Ilmiah Akhir.
5. Mery Sambo, Ns.,M.Kep. selaku Ketua Program Studi S1 Keperawatan dan Ners, juga sebagai Pembimbing I penyusunan Karya Ilmiah Akhir yang telah meluangkan waktu dan memberikan pengarahan serta bimbingan dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir
6. Euis Dedeh Komariah, Ns., MSN selaku pembimbing II penyusunan Karya Ilmiah Akhir yang telah meluangkan waktu dan memberikan
viii
pengarahan serta bimbingan dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir.
7. Yunita Gabriela Madu. Ns.,M.Kep selaku penguji II Karya Ilmiah Akhir.
8. Segenap dosen dan staf pegawai STIK Stella Maris Makassar yang telah membimbing, dan mendidik selama penulis mengikuti pendidikan dan memberi pengarahan selama kami menyelesaikan studi di STIK Stella Maris Makassar.
9. Direktur Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar yang telah memberikan izin dan pengarahan untuk melaksanakan studi kasus di ruang ICU/ICCU Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar.
10. Teristimewa untuk kedua orang tua kami tercinta dari Makdalena Barloy serta orang tua dari Margalena Desti terima kasih untuk selalu memberikan motivasi, nasehat, cinta, perhatian dan kasih sayang serta ketulusan doa yang tentu takkan bisa penulis balas. Dan segenap keluarga besar terima kasih atas motivasi dan nasehat yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
11. Seluruh teman-teman mahasiswa/i STIK Stella Maris Makassar yang selalu setia memberikan dukungan serta kebersamaannya selama penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini.
12. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir ini.
Akhir kata, kami berharap semoga Karya Ilmiah Akhir ini memberikan manfaat bagi pembaca. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat dan membangun dari pembaca untuk membantu penyempurnaan Karya Ilmiah Akhir.
Makassar, 14 Juni 2023
Penulis
ix DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN KARYA ILMIAH AKHIR ... iv
HALAMAN PENGESAHAN... v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan Penulisan ... 3
1. Tujuan Umum ... 3
2. Tujuan Khusus ... 3
C. Manfaat Penulisan ... 3
D. Metode Penulisan ... 4
E. Sistematika Penulisan ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Medik ... 6
1. Pengertian ... 6
2. Anatomi dan Fisiologi ... 7
3. Etiologi ... 11
4. Patofisiologi ... 13
5. Manifestasi Klinis ... 15
6. Tes Diagnostik ... 16
7. Penatalaksanaan Medis ... 17
8. Komplikasi ... 18
B. Konsep Dasar Keperawatan ... 19
1. Pengkajian ... 19
2. Diagnosis Keperawatan ... 24
3. Luaran dan Intervensi Keperawatan. ... 24
4. Discharge Planning ... 38
C. Patoflowdiagram ... 39
BAB III PENGAMATAN KASUS A. Ilustrasi Kasus ... 44
B. Pengkajian ... 44
C. Diagnosis Keperawatan (Diasnosis Primer) ... 49
D. Tindakan Keperawatan Yang Dilakukan ... 50
E. Evaluasi Hasil Tindakan ... 51
x
F. Pengkajian Sekunder ... 55
G. Pemeriksaan Penunjang ... 68
H. Diagnosis Keperawatan (Pengkajian Sekunder) ... 69
I. Analisa Data ... 70
J. Intervensi Keperawatan... 73
K. Implementasi Keperawatan ... 77
L. Evaluasi Keperawatan... 92
M. Daftar Obat ... 101
BAB IV PEMBAHASAN KASUS A. Pembahasan Asuhan Keperawatan ... 106
B. Pembahasan Penerapan Evidence Based Nursing ... 110
BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 117
B. Saran... 118 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Pengkajian Primer (B1- B6) ... 47
Tabel 3.2 Pemeriksaan Laboratorium . ... 68
Tabel 3.3 Analisa Data ... 69
Tabel 3.4 Diagnosis Keperawatan ... 71
Tabel 3.5 Intervensi Keperawatan ... 72
Tabel 3.6 Implementasi Keperawatan ... 77
Tabel 3.7 Evaluasi Keperawatan ... 92
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Bagian Paru-Paru dan Alveoli ... 7
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lembar Konsul
Lampiran 2 Daftar Riwayat Hidup.
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pneumonia merupakan penyakit menular yang tidak mengenal usia baik anak-anak maupun orang dewasa biasanya balita dan lansia sangat rentan terpapar infeksi ini. Data yang di laporkan WHO bahwa salah satu penyumbang angka kematian yang tinggi adalah infeksi saluran pernapasan termasuk didalamnya influenza serta pneumonia, pneumonia sangat sering didapati pada pasien yang melakukan rawat jalan, dan pasien rawat inap angka motalitasnya mencapai 5-15% (Maratus & Suradi, 2019).
Berdasarkan data WHO (2019) pneumonia menyebabkan 14% dari seluruh kematian anak dibawah 5 tahun dengan total kematian 740.180 jiwa. Pada kelompok usia 55-64 tahun mencapai 2,5%, pada kelompok usia 65-74 tahun sebesar 3,0% dan pada kelompok usia 75 tahun keatas mencapai 2,9%. Menurut Riskesdas 2013 dan 2018, prevalensi pengidap pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia tahun 2013 mencapai 1,6%, sedangkan pada tahun 2018 meningkat menjadi 2.0% (Riskesdas, 2018). Jadi dari tahun 2013 dan 2018 penyakit pneumonia mengalami peningkatan sebanyak 0,4% seperti yang dijelaskan pada data diatas. Selain itu, pneumonia merupakan salah satu dari 10 besar penyakit rawat inap di rumah sakit, dengan proporsi kasus 53,95% laki-laki dan 46,05% perempuan. Lalu, presentase pneumonia di Indonesia pada tahun 2018 meningkat hingga mencapai 49,45%, tahun 2019 sebanyak 49,23% dan tahun 2020 menurun hingga 39,38%, sehingga pneumonia masih menjadi salah satu penyakit yang mematikan dan memiliki angka kejadian
yang tinggi di Indonesia. Pneumonia merupakan penyakit yang memiliki tingkat crude fatality rate (CFR) yang tinggi, yaitu sekitar 7,6%. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi pneumonia pada usia lanjut mencapai 15,5%
(Kementerian Kesehatan RI, 2013). Dalam penelitian Arjanardi, tanda dan gejala yang umum terjadi pada pasien pneumonia komunitas dewasa berupa sesak napas (60,93%), batuk (54,88%), demam (48,37%) Ranny, 2016 dalam (Herlina & Abdjul, Rizka, 2020).
Dari data yang diperoleh melalui profil Kesehatan/Kota Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2015 tercatat jumlah kasus pneumonia sebanyak 42.563 jiwa penderita, dengan jumlah balita yang terkena pneumonia dengan jumlah balita yang terkena pneumonia 14.576 balita dan yang tertangani hamper seluruh jumlah balita yang terkena pneumonia dengan jumlah presentase 99,86% (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, 2021).
Pneumonia juga salah satu dari 10 kategori penyakit rawat inap yang sering terjadi di rumah sakit, dengan perbandingan kejadian kasus pada laki-laki sebesar 53,95% dan perempuan sebesar 46,05%. Penelitian tentang perbedaan karakteristik pasien pneumonia komunitas dewasa dan usia lanjut di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang mendapatkan hasil bahwa berbagai tanda dan gejala umum yang muncul pada kasus pneumonia orang dewasa meliputi sesak napas sebesar 60,93%, batuk 54,88% dan demam 48,37% (Dwi Novitasari, 2022).
Pasien yang menderita pneumonia dextra khususnya yang pertama kali terdiagnosis biasanya datang dengan keluhan sesak napas, demam, batuk berlendir disertai nyeri dada sebelah kanan.
Dampak dari penyakit ini juga bisa menjadi serius apabila tejadi keterhambatan penanganan yang berpotensi mengancam jiwa.
Penyebaran infeksi dapat terjadi dengan cepat ke seluruh tubuh
karena melalui pembuluh darah. Pasien pneumonia membutuhkan perawatan seperti asuhan keperawatan untuk mempertahankan bersihan jalan napas sehingga upaya yang dilakukan perawat dalam mempertahankan bersihan jalan napas yaitu dengan kolaborasi pemberian inhalasi yang dapat mengencerkan sputum dan memudahkan pengaluaran sekret pada saluran pernapasan yang dapat menyebabkan penyumbatan jalan napas pada pasien dengan pneumonia.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil studi kasus dan melakukan intervensi kepada pasien dengan masalah Pneumonia Dextra sebagai Karya Ilmiah Akhir yang dilakukan di ruang ICU Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar.
B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum
Memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan pneumonia di ruang ICU Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar.
2. Tujuan Khusus
a. Melaksanakan pengkajian pada pasien yang mengalami pneumonia di ruang ICU Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar.
b. Merumuskan diagnosis keperawatan pada pasien dengan pneumonia di ruang ICU Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar.
c. Menetapkan rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan pneumonia di ruang ICU Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar.
d. Melaksanakan keperawatan pada pasien dengan pneumonia di ruang ICU Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar.
e. Melaksanakan evaluasi keperawatan pada pasien dengan pneumonia di ruang ICU Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar.
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Instansi Rumah Sakit
Dapat digunakan sebagai bahan penerapan kepada perawat intensive care unit untuk melakukan pemberian asuhan kepada pasien dengan diagnosa medik pneumonia dextra.
2. Bagi Profesi Keperawatan
Diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan dan teknologi terapan bidang keperawatan pada pasien dengan pneumonia dextra serta melakukan pendokumentasian dan penyusunan karya tulis ilmiah.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber tambahan referensi bagi mahasiswa/i mengenai penerapan penanganan asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa medik pneumonia dextra.
D. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode deskripsif melalui pendekatan sebagai berikut:
1. Studi Kepustakaan
Mengambil beberapa literarture baik dari buku-buku maupun internet sebagai sumber dan acuan teori dalam penyusunan karya ilmiah akhir mengenai pneumonia dextra.
2. Studi Kasus
Dalam studi kasus penulismenggunakan pendekatan proses keperawatan yang komrehensif meliputi pengkajian keperawatan, analisa data, penentuan diagnose keperawatan,
perencanaan, implementasi dan evaluasi. Untuk mengumpulkan informasi dalam pengkajian, maka penulis melaukan:
a. Observasi
Melihat atau memonitor secara langsung keadaan pasien dan kegiatan keperawatan selama perawatan.
b. Wawancara
Melakukan wawancara dengan pasien‚ keluarga dan tim kesehatan (Perawat ruangan untuk memperoleh data yang diinginkan).
c. Diskusi
Melakukan diskusi dan konsultasi bersama pembimbing Karya Ilmiah.
E. Sistematika Penulisan
Penulisan Karya Ilmiah ini terdiri dari: Bab I membahas tentang pendahuluan (latar belakang, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan). Bab II membahas tentang tinjauan pustaka yang di uraikan menjadi 2 yaitu KDM (defenisi, anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, tes diagnostik pemeriksaan penunjang, penatalaksaan medis dan komplikasi) sedangkan KDK (pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, evaluasi, discharge planning dan patoflowdiagram).
Bab III berisi pengamatan kasus (ilustrasi kasus, pengkajian keperawatan, diagnosis keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan). Bab IV membahas tentang pembahasan kasus (pembahasan askep, pembahasan penerapan evidence based nursing) Bab V berisi tentang (simpulan dan saran).
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Medis 1. Pengertian
Pneumonia disebabkan oleh masuknya partikel kecil pada saluran napas bagian bawah. Masuknya partikel tersebut dapat menyebabkan kerusakan paru-paru karena mengandung agen penyebab infeksi yang bisa berupa bakteri (streptococcus pneumonia), virus (influenza, respiratory syncytial virus) maupun mikoplasma. Penyebab yang paling sering terjadi biasanya dikarenakan adanya infeksi bakteri streptococcus pneumonia, Legionella pneumophila atau Klebsiella (Kristanti et al., 2022).
Pneumonia merupakan infeksi pada paru ruang bersifat akut.
Penyebabnya adalah bakteri, virus, jamur, bahan kimia atau kerusakan fisik dari paru-paru, dan bisa juga disebabkan pengaruh dari penyakit lainnya (Wahyuningsih, 2021).
Pneumonia merupakan penyakit karena adanya inflamasi ataupun pembengkakan disebabkan bakteri, virus, jamur yang menyebabkan infeksi/peradangan pada saluran pernapasan dan jaringan paru (Agustyana et al., 2019).
Dari beberapa pengertian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa pneumonia adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur sehingga menyebabkan kerusakan pada paru-paru.
2. Anatomi dan Fisiologi
Gambar 2.1 Anatomi Pernapasan Manusia (Magdalena T et al., 2020).
Sistem pernapasan pada manusia dibagi menjadi beberapa bagian. Saluran pengantar udara dan hidung hingga mencapai paru-paru sendiri meliputi dua bagian, yaitu saluran pernapasan atas dan bagian bawah (Magdalena T et al., 2020).
a. Saluran pernapasan bagian bawah
Ditinjau dari fungsinya, secara umum saluran pernapasan bagian bawah terbagi menjadi dua komponen. Pertama, saluran udara kondusif atau yang sering disebut sebagai percabangan dari trakeobronkialis. Saluran ini terdiri atas trakea, bronki dan bronkioli. Kedua, satuan respiratorius terminal (kadang kala disebut dengan acini) yang merupakan saluran udara konduktif dengan fungsi utamanya sebagai penyalur (konduksi) gas masuk dan keluar dari satu respiratorius terminal merupakan tempat pertukaran gas yang sesungguhnya. Alveoli sendiri merupakan bagian dari satuan respiratorius terminal.
1) Trakea
Trakea atau batang tenggorokan memiliki panjang kira-kira 9 cm. Organ ini merentang laring sampai kira-kira dibagian atas vetebrata torakalis ke lima. Dari tempat ini, trakea bercabang menjadi dua bronkus.
2) Bronkus dan bronkiolus
Bronkus yang terbentuk dari belahan dua trakea pada tingkatan vetebrata torakalis ke lima, mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh sejenis sel yang sama.
Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari bronkus kiri, sedikit lebih tinggi dari arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat dibawah arteri yang disebut bronkus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan serta merentang dibawah arteri pulmonalis sebelum akhirnya terbela menjadi beberapa cabang menuju ke lobus atas dan bawah. Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian menjadi lobus segmentalis.
Percabangan ini merentang terus menjadi bronkus yang ukuranya semakin kecil.
3) Alveolus
Bagian dari paru yang merupakan kelompok terkecil yang disebut kantung alveolus di ujung bronkiolus. Paru-paru menghasilkan campuran lemak dan protein yang disebut dengan surfaktan paru-paru. Campuran lemak dan protein ini melapisi permukaan alveolus dan membuatnya lebih mudah untuk mengembang dan mengempis saat bernapas. Alveolus berfungsi sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Alveolus kemudian menyerap oksigen dari udara yang dibawa oleh bronkiolus dan mengalirkannya ke dalam darah. Karbondioksida yang merupakan produk limbah
dari sel-sel tubuh mengalir dari darah ke alveolus untuk dihembuskan keluar. Pertukaran gas ini terjadi melalui dinding alveolus dan kapiler yang sangat tipis.
4) Paru-paru
Paru-paru berfungsi sebagai tempat pertukaran oksigen dari udara dengan karbondioksida dari darah. Jika paru-paru terganggu fungsinya, maka kesehatan tubuh manusia bisa terpengaruh secara keseluruhan. Paru-paru kanan dan kiri mempunyai ciri yang berbeda. Paru-paru kiri orang dewasa umumnya berbobot sekitar 325-550 gram, bagian kanan memiliki berat sekitar 375-600 gram. Paru-paru kanan memiliki tiga bagian (lobus), sedangkan paru-paru bagian kiri memiliki dua bagian (lobus).
5) Toraks, Diafragma dan Pleura
Rongga thoraks berfungsi melindungi paru-paru, jantung dan pembuluh darah besar. Bagian rongga thoraks terdiri atas 12 iga costa. Pada bagian atas thoraks di daerah leher, terdapat dua otot tambahan untuk proses inspirasi, yakni skaleneus dan sternokleidomastoideus. Otot skaleneus menaikan tulang iga pertama dan kedua selama inspirasi untuk memperluas rongga dada atas dan menstabilkan dinding dada. Otot sternokleidomastoideus berfungsi untuk mengangkat sternum.
Otot parasternal, trapezius, dan pektoralis juga merupakan otot inspirasi tambahan yang berguna untuk meningkatkan kerja napas diantara iga terdapat iga interkosta. Otot interkosta eksternum adalah otot yang mengerakkan tulang iga ke atas dan depan, sehingga dapat meningkatkan diameter anteroposterio dari dinding dada.
Diafragma terletak dibawah rongga toraks. Pada keadaan relaksasi, diafragma ini berbentuk kubah. Mekanisme pengaturan otot diafragma terdapat tulang belakang di
servikal ke (C3). Oleh karena itu, jika terjadi kecelakaan pada saraf C3, maka hal ini dapat menyebabkan gangguan ventilasi. Pleura merupakan membran serosa yang menyelimuti paru. Terdapat tiga macam pleura yaitu pleura parietal yang melapisi rongga toraks dan pleura viseral yang menutupi setiap paru-paru. Di antara kedua pleura tersebut terdapat cairan pleura yang menyerupai selaput tipis yang memungkinkan kedua permukaan tersebut bergesekan satu sama lain selama respirasi, sekaligus pemisahan toraks dan paru-paru. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfer, sehingga mencegah terjadinya kolaps paru.
b. Fisiologi Sistem Pernapasan
Ada tiga golongan utama dalam proses pernapasan (Sudirman, 2021).
1) Proses Ventilasi
Ventilasi merupakan proses keluar dan masuknya udara ke dalam paru-paru serta keluarnya karbondioksida dari alveolus ke udara luar. Alveolus yang sudah mengembang tidak dapat mengempis penuh karena masih adanya udara yang tersisa di dalam alveolus yang tidak dapat dikeluarkan walaupun dengan ekspirasi kuat. Volume udara yang tersisa ini disebut dengan volume residu. Volume ini penting karena menyediakan oksigen dalam alveolus untuk dialirkan darah.
Hal yang mempengaruhi ventilasi yaitu saluran, mobilitas, dan gaya atau tenaga pada otot-otot untuk mengembang dan mengempis pernapasan
2) Proses Difusi
Proses di mana terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida pada pertemuan udara dengan darah. Tempat difusi yg ideal yaitu di membran alveolar-kapilar karena permukaannya luas dan tipis. Pertukaran gas antara alveolus dan darah terjadi
secara difusi. Tekanan parsial oksigen (PaO2) dalam alveolus lebih tinggi dari pada tekanan parsial oksigen (PaO2) dalam darah. Sebaliknya tekanan parsial karbondioksida (PCO2) darah lebih besar dari (PCO2) alveolus sehingga perpindahan gas tergantung pada luas permukaan dan ketebalan dinding alveolus. Proses transportasi gas dalam darah berupa oksigen ditransport dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransport kembali dari jaringan ke paru-paru.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pertukaran gas dari paru ke jaringan, yaitu: Cardiac output, jumlah eritrosit, exercise dan hematokrit yang akan meningkatkan viskositas dan mengakibatkan transportasi oksigen menurun.
3) Proses Perfusi
Perfusi adalah distribusi darah yang telah teroksigenasi di dalam paru untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Transport oksigen dan karbondioksida di dalam darah dan cairan tubuh ke dan dari sel. Oksigen dan karbondioksida yang beredar melalui sistem pernafasan dan sampai ke sel melalui aliran darah maka akan terjadi respirasi internal, yaitu proses pertukaran karbondioksida dengan oksigen di tingkat sel.
3. Etiologi
Etiologi pneumonia menurut nurarif & Kusuma dalam (Alfath, 2021) yaitu penyebaran infeksi terjadi melalui droplet dan sering disebabkan oleh streptococcus pneumonia, melalui selang infus oleh pseudomonas aeruginosa dan enterobacter, sekarang hal tersebut terjadi karena perubahan keadaan pasien seperti kekebalan tubuh dan penyakit kronis, polusi lingkungan, penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Setelah masuk ke paru- paru, organisme bermultiplikasi dan jika telah berhasil mengalahkan mekanisme pertahanan paru terjadilah pneumonia.
Selain diatas, penyebab terjadinya pneumonia sesuai penggolongannya yaitu:
a. Virus: Disebabkan oleh virus 17 eutrophy yang menyebar melalui transmisi droplet cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
b. Bakteri: Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram positif seperti : streptoccus pyogenesis, bakteri gram 17 eutroph seperti hemophilus influinzae, klebsiella pneumonia dan. Aeruginosa
c. Jamur : infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghiruan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung tanah serta kompos.
d. Aspirasi: Disebabkan oleh infeksi kuman, pneumonitis kimia akibat aspirasi bahan toksit, akibat aspirasi cairan insert misalnya cairan makanan atau lambung, edema paru, dan obstruksi mekanik simple oleh bahan padat.
e. Sindrom Loeffer : Infeksi cacing yang akan berengaruh pada darah, serta menimbulkan respons alergi pada kulit f. Pneumonia hipostatik : Disebabkan karena terus menerus
berada pada posisi yang sama. Gaya tarik bumi menyebabkan darah tertimbun pada bagian bawah paru- paru, dan infeksi membantu timbulnya pneumonia.
g. Usia : Usia diatas 60 tahun, infeksi pernapasan oleh virus, penyakit pernapasan kronik, (misalnya asma, sistik fibrosis), AIDS, riwayat merokok, alkoholisme, malnutrisi.
h. Terpanjan asap rokok : Terpajan asap rokok mengadung partikel seperti hidrokarbon polisiklik, karbaon monoksida, nikotin, nitrogen oksida dan akrolein yang dapat menyebabkan kerusakan opitel bersilia, menurunkan klirens mukosiliar serta menekan aktifitas fagosit dan efek
bakterisida sehingga menganggu sistem pertahanan paru- paru.
i. Tirah baring lama dapat menyebabkan kontraksi intrakosta dan diafragma tidak maksimal. Mekanisme batuk berkurang yang menyebabkan efisiensi silla berkurang sehingga terjadi penumpukan mucus yang berlebih.
j. Kepadatan tempat tinggal : Keberadaan banyak orang dalam suatu tempat tinggal akan mempercepat transmisi mikroorganisme bibit penyakit dari seseorang ke orang lain.
Selain itu rumah yang padat penghuni akan mengakibatkan kadar O2 menurun dan menyebabkan kadar CO2 meningkat sehingga kualitas udara dalam rumah menurun.
4. Patofisiologi
Pneumonia adalah peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, parasit. Pneumonia juga disebabkan oleh bahan kimia dan paparan fisik seperti suhu atau radiasi Harifianti 2019 Dalam (Novitasari, 2022).
Paru merupakan struktur kompleks yang terdiri atas kumpulan unit yang dibentuk melalui percabangan progresif jalan napan saluran napas bagian bawah yang normal adalah steril, walaupun dengan sejumlah besar mikroorganisme yang menempati orofaring dan terpajan oleh mikroorganisme dari lingkungan di dalam udara yang dihirup. Sterilitas saluran napas bagian bawah adalah hasil mekanisme penyaringan dan pembersihan yang efektif (Selam, 2019).
Seorang yang terkena pneumonia akan mengalami gangguan pada proses ventilasi yang disebabkan kerena penurunan volume paru. Untuk mengatasi gangguan ventilasi, tubuh akan berusaha melakukan kompensasi dengan meningkatkan volume tidal dan
frekuensi napas sehingga secara klinis terlihat takipnea dan dyspnea dengan tanda-tanda upaya inpirasi. Akibat penurunan ventilasi maka rasio optimal antara ventilasi perfusi tidak tercapai (ventilation perfusion mismatch). Selain itu dengan berkurangnya volume paru secara fungsional kama proses inflamasi, akan mengganggu proses difusi dan menyebabkan gangguan pertukaran gas yang dapat mengakibatkan terjadinya hipoksia atau bahkan gagal napas (Mandan, 2019).
Menurut Price dan Winson (2006, dalam Mandan, 2019).
perjalanan penyakit pneumonia dapat digambarkan dalam empat fase terjadi secara berurutan yaitu:
a) Kongesti/stadium I (4-12 jam pertama). Stadium ini mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah yang terinfeksi. Ditandai dengan peningkatan aliran darah (permiabilitas kapiler) di tempat yang terinfeksi. Ini terjadi akibat pelepasan mediator peradangan (histamine dan progtaslandin) dari sel-sel mast setelah megaktifan sel imun dan cidera jaringan. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen yang bekerjasama dengan histamine dan prostaglandin unutk melemaskan otor polos vakuler dan peningkatan permiabilitas kapiler paru dapat mengakibatkan perpindahan aksudat perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium.
b) Hepatisasi merah/ stadium II (42 jam berikutnya), disebut stadium merah karena terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai reaksi dari peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan sehingga warna paru menjadi merah.
c) Hepatitis kelabu/ stadium III (3-8 hari), ini terjadi sewaktu sel- sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada
stadium ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cidera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai direabsorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu.
d) Resolusi stadium IV (7-15 hari), eksudat mengalame bois dan reabsorbsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada struktur semula. Kuman pneumococcus difagasit oleh le dan sewaktu pemulihan berlangsung makrofag mash dalam tahap hepatisasi abu-abu dan tampak berwarna abu-abu kekuningan.
Secara perlahan, sel darah merah yang mati dan eksudat fibrin dibuang dari alveoli. Terjadi resolusi sempuma paru kembali menjadi normal tanpa kehilangan kemampuan dalam pertukaran gas.
Pada kondisi jaringan paru tidak terkompensasi dengan baik, maka pasien akan mengalami gangguan ventilasi karena adanya penurunan volume paru. Akibat penurunan ventilasi, maka rasio optimal antara ventilasi perfusi tidak tercapai (ventilation Perfusion Mismatch). Penebalan dinding dan penurunan aliran udara ke alveolus akan mengganggu proses difusi yang menyebabkan hipoksia bahkan gagal napas (Suci, 2020).
5. Manifestasi Klinis
Gejala khas dari pneumonia adalah demam, menggigil, berkeringat, batuk (baik non produktif atau produktif atau menghasilkan sputum berlendir, purulen, atau bercak darah), nyeri dada karena pleuritis, nafsu makan berkurang dan sesak. Gejala lainnya adalah pasien lebih suka berbaring pada dengan lutut yang tertekuk karena nyeri dada. perkusi redup sampai pekak menggambarkan konsolidasi atau terdapat cairan pleura, bunyi napas tambahan ronki, suara pernafasan bronkial, fremitus
melemah pleural friction rub (Maghfiro, 2021).
6. Tes Diagnostik
Menurut Misnadiarly (2008, dalam Barkah, 2019) tes diagnostik yang dapat dilakakukan pada klien penderita penyakit pneumonia adalah:
1) Pemeriksaan rontgen thorax:
Kelainan foto rontgen thorax pada pneumonia tidak selalu berhubungan dengan gambaran klinis. Kadang-kadang bercak sudah ditemukan pada gambaran radiologis sebelum timbul gejala klinis. Akan tetapi, resolusi infiltrat sering memerlukan waktu yang lebih lama setelah gejala klinis menghilang. Secara umum gambaran foto thorax terdiri dari:
a) Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskuler peribronchial cuffing, dan hiperaerasi.
b) Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram. Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris, atau terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas yang tidak tertalalu tegas, dan menyerupai lesi tumor paru, dikenal sebagai round pneumonia.
c) Bronkopneumonia, ditandai dengan gambaran difus merata pada keduaa paru, berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru, disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.
2) Laboratorium:
a) AGD (Analisa Gas Darah) ditemukan hipoksemia sedang sampai berat, pada beberapa kasus tekanan parsial karbondiaksida (PCO2) menurun dan pada stadium lanjut menunjukkan asidosis respiratorik
b) DPL (Darah Perifer Lengkap) biasanya terdapat leukositosis, LED meningkat
c) Elektrolit Na dan Cl dapat menurun.
d) Bilirubin cenderung meningkat.
e) Kultur sputum terdapat mikroorganisme penyebab didapatkan lebih dari satu jenis kuman, seperti displococcus pneumonia, staphylococcus aureus, dan haemophilus influenza, sehingga lebih muda untuk menentukan antibiotik mana yang akan diberikan agar tidak terjadi resistensi obat.
3) Sinar X
Mengidentifikasi distribusi struktural (misal: lobar, bronchial), dapat juga menyatakan abses luas/ infiltrate, empyema (stapilococcus infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bacterial), atau penyebaran/ perluasan infiltrate nodul (lebih sering virus).
Pada pneumonia mikoplasma sinar X dada mungkin lebih bersih.
7. Penatalaksanaan Medik
Menurut Musdalifah et al., (2018) penatalaksanaan penyakit pneumonia sebagai berikut:
1) Bantuan pernapasan mencakup pmberian konsentrasi terapi oksigen, intubasi endotrakea dan ventilasi mekanis
2) Pemberian terapi antibiotik dan pemberian obat lain dalam bentuk injeksi maupun inhailer
3) Terapi sportif mencakup hidrasi, antipiretik, medikasi antitusif, antihistamin atau dekogentas nasal
4) Tirah baring direkomendasikan sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda bersih
5) Terapi pemberian cairan infus, untuk menjaga keseimbangan cairan dan kecukupan nutrisi
6) Terapi etelectasis, efusi pleura, syok, dan gagal napas atau superinfeksi dilakukan jika perlu
7) Untuk kelompok yang mengalami Community Acquired Pneumonia (cap), disarankan untuk melakukan vaksinisasi pneumokous.
8. Komplikasi
Menurut Ryusuke (2017, dalam Herlina et al., 2020) bahkan dengan pengobatan, beberapa orang dengan pneumonia, terutama yang berada dalam kelompok berisiko tinggi, dapat mengalami komplikasi, di antaranya:
1) Bakteri dalam aliran darah (bakteremia)
Bakteri yang masuk ke aliran darah dari paru-paru dapat menyebarkan infeksi ke organ lain, berpotensi menyebabkan kegagalan organ.
2) Sulit bernapas
Jika pneumonia seseorang parah atau memiliki penyakit paru- paru kronis yang mendasarinya, seseorang mungkin kesulitan bernapas untuk mendapatkan cukup oksigen. Seseorang mungkin perlu dirawat di rumah sakit dan menggunakan mesin pernapasan (ventilator) agar paru-paru sembuh.
3) Penumpukan cairan di sekitar paru-paru (efusi pleura)
Pneumonia dapat menyebabkan cairan atau dahak menumpuk di ruang tipis antara lapisan jaringan yang melapisi paru-paru dan rongga dada (pleura). Jika cairan terinfeksi, mungkin diperlukan cara untuk mengeringkannya melalui chest tube atau diangkat dengan operasi.
4) Abses paru-paru
Abses terjadi jika nanah terbentuk di rongga di paru- paru. Abses biasanya diobati dengan antibiotik. Terkadang, pembedahan atau drainase dengan jarum panjang atau tabung ditempatkan ke dalam abses diperlukan untuk mengeluarkan nanah.
B. Konsep Dasar Keperawatan 1. Pengkajian
a. Pengkajian Kritis meliputi (Muttaqin, 2019).
1) B1 (Breathing)
Pemeriksaan fisik pada klien dengan pneumonia merupakan pemeriksaan fokus, berurutan pemeriksaan ini terdiri atas inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
a) Inspeksi
Bentuk dada dan gerakan pernapasan. Gerakan pernapasan simetris. Pada klien dengan pneumonia sering ditemukan peningkatan frekuensi napas cepat dan dangkal, napas cuping hidung serta adanya retraksi sternum dan intercostal space (ICS). Saat dilakukan pengkajian batuk pada klien dengan pneumonia, biasanya didapatkan batuk produktif disertai dengan adanya peningkatan produksi secret dan sekresi sputum yang purulent.
b) Palpasi
Gerakan dinding thoraks anterior atau ekskrusi pernapasan.
Pada palpasi klien dengan pneumonia, gerakan dada saat bernapas biasanya normal dan seimbang antara bagian kanan dan kiri (fremitus vokal).
c) Perkusi
Klien dengan pneumonia tanpa disertai komplikasi, biasanya didapatkan bunyi resonan atau sonor pada seluruh lapang paru. Bunyi redup perkusi pada klien dengan pneumonia didapatkan apabila bronchopneumonia menjadi suatu sarang (kunfluens).
d) Auskultasi
Pada klien dengan pneumonia, didapatkan bunyi napas melemah dan bunyi napas tambahan ronkhi pada sisi yang sakit. Penting bagi perawat pemeriksa untuk
mendokumentasikan hasil auskultasi di daerah mana didapatkan adanya ronkhi.
2) B2 (Blood)
Pada klien dengan pneumonia pengkajian yang didapat meliputi:
a) Inspeksi: Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum.
b) Palpasi: Denyut nadi perifer melemah
c) Perkusi: Batas jantung tidak mengalami pergeseran
d) Auskultasi: Tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung tambahan biasanya tidak didapatkan.
3) B3 (Brain)
Klien dengan pneumonia yang berat sering terjadi penurunan kesadaran,didapatkan sianosis perifer apabila gangguan perfusi jaringan berat. Pada pengkajian objektif, wajah klien tampak meringis, menangis, merintih, meregang, dan menggeliat.
4) B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan denganintake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria karena hal tersebut merupakan tanda awal dari syok.
5) B5 (Bowel)
Klien biasanya mengalami mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan.
6) B6 (Bone)
Kelemahan dan kelelahan fisik secara umum sering menyebabkan ketergantungan klien terhadap bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
b. Pengkajian pola Gordon meliputi: pengkajian komprehensif mencakup seluruh askep kerangka pengkajian keperawatan seperti 11 pola kesehatan fungsional (Nuryanti, 2020).
1) Pola Persepsi Dan Pemeliharaan Kesahatan
DS : persepsi pasien tentang mempertahankan kesehatannya, keluhan utama, riwayat keluhan utama, riwayat penyakit yang pernah dialami, faktor risiko dan faktor genetik.
DO : kebersihan mulut, kulit kepala, kebersihan kulit, hygiene
rongga mulut, kebersihan genetalia dan anus.
2) Pola Nutrisi dan Metabolik
DS : jenis, frekuensi dan jumlah makanan yang masuk setiap hari, jenis dan jumlah minuman, nafsu makan berlebih atau berkurang, makanan tambahan (suplemen), jenis makanan yang disukai, kesulitan pada waktu makan, mual, muntah dan kembung, ketaatan terhadap diet, rasa haus dan lapar adalah penurunan berat badan.
DO : jumlah intake dan output, pemeriksaan fisik seperti keadaan rambut, hidrasi kulit, palpebral/kunjungtiva, sclera, hidung, rongga mulut, gizi, kemampuan mengunyah, lida, pharing, kelenjar getah bening, kelenjar parotis, abdomen (inspeksi, auskultasi, perkusi, palpasi, ikterik, lesi).
3) Pola Eliminasi
DS : perubahan pola berkemih (poliuria, oliguria, anuria, disuria, noturia), rasa nyeri/terbakar, kesulitan berkemih, infeksi inkontensia, pola BAB, frekuensi, karakteristik dan warna.
DO : bentuk feses, konsistensi, warna, jumlah urin, bau dan endapan, berbusa, encer, warna kuning. Adakah penggunaan kateter, palpasi kandung kemih, nyeri ketuk ginjal, mukut uretra, anus ( peradangan, hemoroid, fistula). Pemeriksaan
diagnostic dan terapi yang berhubungan dengan pola eliminasi.
4) Pola Aktivitas dan Latihan
DS : kebiasaan sehari-hari, kegiatan olahraga, aktivitas diwaktu senggang, keluhan pada pernapasan, keluhan pada jantung seperti berdebar-debar, nyeri dada, rasa lemah badan, letih,sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
DO : postur tubuh, gaya jalan, aktivitas harian, anggota gerak yang cacat, takikardi dan takipnea pada keadaan istrahat atau beraktivitas, latergi/disorientasi, koma, penurunan ketuatan otot.
5) Pola Tidur dan Istrahat
DS : jumlah jam tidur (siang dan malam), kebiasaan sebelum tidur, suasana gelap (gelap dan terang), perasaan saat bangun tidur, gangguan tidur seperti mimpi buruk, sering bekemih, gata- gatal, nyeri, sesak napas.
DO : ekspresi wajah mengantuk, banyak menguap, palpebral, inferior berwarna gelap, latergi, terapi yang berkaitan dengan pola tidur dan istrahat.
6) Pola Persepsi Kognitif
DS : gangguan pengelihatan, rasa tidak nyaman seperti nyeri, kesemutan, gangguan terhadap daya pengelihatan lingkungan, orang dan waktu (orientasi), perubahan dalam konsentrasi/daya ingat.
DO : penggunaan alat bantu, kemampuan berbicara, orientasi/disorientasi (waktu, tempat, orang), respon non verbal, pemeriksaan fisik meliputi pengelihatan, pendengaran, penurunan rasa pada lengan dan tungkai.
7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
DS : konsep diri (identitas diri, ideal diri, harga diri, citra dan peran diri), kemampuan dalam pengambilan keputusan, pandangan pasien tentang dirinya, masalah financial yang berhubungan dengan kondisi.
DO : rentang perhatian, kontak mata, postur tubuh, pemeriksaan fisik meliputi kelainan bawaan yang nyata, abdomen, kulit dan punggung protesa.
8) Pola Peran dan Hubungan Sesama
DS : peran dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan.
Hubungan keluarga, masyarakat dan lingkungan
(konflik/perpisahan) adalah perasaan keterpisahan atau terisolir.
DO : hubungan dalam berinteraksi dengan anggota keluarga atau orang lain (kooperatif).
9) Pola Reproduksi dan Seksualitas
DS : hubungan penyakit dengan masalah seksualitas, gangguan fungsional/seksualitas, (impoten, kesulitan organisme).
DO : terapi yang berhubungan dengan pola reproduksi seksualitas.
10) Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stres
DS : mekanisme koping yang digunakan, ungkapan pasien terhadap dirinya, penyesuaian diri terhadap stres.
DO : ansietas dan peka rangsangan.
11) Pola Sistem Kepercayaan
DS : ungkapan pasien tentang kebutuhan spiritualitas yang diinginkan.
DO : alat untuk berdoa, tampak melakukan kegiatan ibadah.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat timbul pada pasien pneumonia adalah meliputi (Wahyudi, 2020):
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan (D.0001)
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas (D.0005)
c. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (D.0077)
d. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (D.0130)
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (D.0056)
f. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung (D.0008)
g. Resiko defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien (D.0032)
3. Perencanaan keperawatan
Penyusunan rencana keperawatan didasarkan pada diagnosa keperawatan menurut SLKI (2018) sebagai berikut:
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan (D.0001)
SLKI :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka bersihan jalan napas (L.01001) dapat meninggkat dengan kriteria hasil:
1) Batuk efektif menurun 2) Prduksi sputum menurun 3) Wheezing menurun 4) Dispnea menurun 5) Gelisah menurun
6) Frekuensi napas membaik
7) Pola napas membaik SIKI :
Manajemen jalan napas (I.01011) 1) Observasi
a) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) R: penurunan bunyi napas indikasi atelektasis, ronchi indikasi akumulasi sekret atau ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat
b) Monitor bunyi napas tambahan (mis. gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kering
R: penurunan bunyi napas dapat menunjukkan atelektasis ronchi, mengi menunjukkan akumulasi cairan ataupun sekret.
c) Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
R: sputum berdarah kental atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan (kavitasi) paru atau luka bronkial dan dapat memerlukan evaluasi atau intervensi lanjut.
2) Teraupetik
a) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin lift (jaw hrust jika curiga trauma servikal)
R: untuk membantu saluran pernapasan b) Posisikan semi fowler atau fowler
R: untuk membantu bernapas dan ekspansi dada serta ventilasi lapangan paru basilar
c) Berikan minum hangat
R: membantu mengencerkan dahak
d) Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
R: dapat membebaskan jalan napas dari penumpukan lendir ataupun cairan
e) Berikan oksigen jika perlu
R: untuk membantu menurunkan distres pernapasan yang disebabkan oleh hipoksemia
3) Edukasi
a) Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi
R: pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan sekret, membuatnya mudah dikeluarkan b) Ajarkan teknik batuk efektif
R: meningkatkan gerakan sekret ke jalan napas sehingga dapat membantu mengeluarkan sekresi dan mempertahankan potensi jalan napas
4) Kolaborasi
Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
R: menurunkan kekentalan sekret lingkaran ukuran lumen trakeabronkial berguna jika terjadi hipoksia pada kavitas yang luas.
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas (D.0005)
SLKI :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka pola napas (L.01004) dapat membaik dengan kriteria hasil:
1) Kapasitas vital meningkat 2) Tekanan ekspirasi meningkat 3) Tekanan inspirasi meningkat 4) Dispnea menurun
5) Penggunaan otot bantu nafas menurun 6) Pernafasan cuping hidung menurun 7) Frekuensi nafas membaik
8) Kedalaman nafas membaik
9) Ekskursi dada membaik SIKI :
Pemantauan respirasi 1) Observasi
a) Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas R: untuk mengetahui keabnormalan pernapasan pasien b) Monitor pola napasdistres pernapasan
R: distress pernapasan yang dibuktikan dengan bradipnea dan takipnea sebagai indikasi penurunan kemampuan menyediakan oksigen bagi jaringan
c) Monitor kemampuan batuk efektif
R: ketidakmampuan batuk menyebabkan bersihan jalan napas tidak tidak efektif yang dapat menimbulkan penggunaan otot aksesori pernapasan dan peningkatan kerja pernapasan
d) Monitor adanya produksi sputum
R: dengan adanya produksi sputum menandakan adanya sumbatan pada jalan napas
e) Monitor adanya sumbatan jalan napas
R: adanya sumbatan pada jalan napas dapat menghambat pertukaran oksigen dan karbondioksida f) Monitor saturasi oksigen
R: untuk mengetahuikadar oksigen dalam darah g) Monitor nilai AGD
R: menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PCO2 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih adekuat atau perubahan terapi 2) Teraupetik
a) Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien R: pemantauan yang rutin dapat meminimalkan keabnormalan status pernapasan pasien
b) Dokumentaskan hasil pemantauan
R: pendokumentasian sangat penting selain sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat dapat sebagai acuan dalam merencanakan tindakan selanjutnya 3) Edukasi
a) Jelaskan tujuan dan prsedur pemantauan
R: memberikan informasi kepada pasien dan keluarga terkait tindakan yang akan diberikan
b) Informasikan hasil pemantauan, jika, perlu
R: meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai kondisi terkait masalah kesehatannya
c. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (D.0077)
SLKI :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka tingkat nyeri (L.08066) dapat menurun dengan kriteria hasil:
a) Keluhan nyeri menurun b) Meringis menurun
c) Sikap proktektif menurun d) Gelisah menurun
e) Kesulitan tidur menurun f) Frekuensi nadi membaik g) Nafsu makan membaik h) Pola tidur membaik SIKI :
Manajemen nyeri (I.08238) 1) Observas
a) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
R: guna mengetahui keefektifan obat dan kemajuan penyembuhan
b) Identifikasi respon nyeri non verbal
R: untuk mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan 2) Terapeutik
a) Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri R: meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien
3) Edukasi
a) Jelaskan penyebab, priode dan pemicu nyeri
R: agar pasien mengetahui efek samping dan tindakan yang diberikan
b) Jelaskan strategi meredakan nyeri
R: agar pasien mampu melakukan tindakan nonfarmakologis dalam mengurangi nyeri
4) Kolaborasi
a) Kolaborasi dalam pemberian analgetik
R: analgetik berfungsi untuk mengurangi nyeri
d. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (D.0130) SLKI :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka termoregulasi (L.14134) dapat membaik dengan kriteria hasil:
a) Menggigil menurun b) Kulit merah menurun c) Suhu tubuh membaik d) Tekanan darah membaik SIKI :
Manajemen hipertermia (I.15506) 1) Observasi
a) Identifikasi penyebab hipertermia
R: dengan mengetaui penyebab dapat dengan mudah mengatasi masalah hipertermia
b) Monitor suhu tubuh
R: untuk mengetahui kenaikan suhu tubuh secara tiba-tiba dan meminimalkan dampak dari peningkatan suhu tubuh c) Monitor haluaran urine
R: untuk mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mengatur keseimbangan cairan
d) Monitor komplikasi akibat hipertermia
R: hipertermia yang tidak tertangani dapat menimbulkan berbagai komplikasi seperti kejang
2) Terapeutik
a) Sediakan lingkungan yang dingin
R: kehilangan panas dapat terjadi ketika kulit dipanjankan pada lingkungan yang dinggin
b) Longgarkan atau lepaskan pakaian
R: pakaian yang tipis dan longgar dapat membantu melancarkan penguapan
c) Berikan cairan oral
R: sebagai upaya rehidrasi untuk menggantikan cairan yang keluar
d) Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hiperhidrosis (keringat berlebih)
R: menurunkan kehilangan panas melalui evaporasi
e) Lakukan pendinginan eksternal (mis, kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, dan aksilia)
R: pada daera leher, dahi, dada, abdomen dan aksila merupakan daerah yang terdapat pembuluh darah besar.
Kompres pada daerah pembuluh darah besar dapat dengan cepat menurunkan demam karena mudah terjadi evaporasi
f) Berikan oksigen, jika perlu
R: peningkatan suhu tubuh dapat terjadi peningkatan laju metabolisme sehingga terjadi peningkatan kebutuhan oksigen
3) Edukasi
a) Anjurkan tirah baring
R: aktivitas fisik yang berlebihan dapat meningkatkan suhu tubuh
4) Kolaborasi
Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu R: mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (D.0056)
SLKI :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka toleransi aktivitas (L.05047) dapat meningkat dengan kriteria hasil:
1) Saturasi oksigen meningkat
2) Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat 3) Keluhan lelah menurun
4) Dispnea saat aktivitas menurun 5) Dispnea setelah aktivitas menurun 6) Tekanan darah membaik
7) Frekuensi nafas membaik SIKI :
Manajemen energi (I.05178) 1) Observasi
a) Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
R: mengidentifikasi pencetus terjadinya kelelahan dan rencana tindakan berikutnya yang dapat dilakukan
b) Monitor kelelahan fisik dan emosional R: untuk mengetahui koping klien c) Monitor pola dan jam tidur
R: menghindari kelelahan akibat kurang istirahat d) Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama aktivitas
R: mengetahui kemampuan dan batasan pasien terkait aktivitas yang akan dilakukan
2) Terapeutik
a) Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis.
cahaya, suara, kunjungan)
R: agar memberikan rasa aman dan nyaman kepada klien b) Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif
R: membantu meningkatkan rentang gerak klien dalam beraktivitas
c) Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan R: memberikan rasa nyaman pada klien
d) Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan
R: mengurangi resiko jatuh/sakit pada klien 3) Edukasi
a) Anjurkan tirah baring
R: istrahat yang lebih dan mengurangi aktivitas dapat memulihkan energi kembali
b) Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
R: melatih kekuatan otot dan pergerakkan pasien agar tidak terjadi kekakuan otot maupun sendi
c) Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang
R: untuk mengidentifikasi rencana tindakan selajutnya yang dapat dilakukan oleh perawat
d) Ajarkan koping untuk mengurangi kelelahan
R: memiliki kemampuan mengatasi kemampuan mengatasi masalah (coping skill) bermanfaat untuk mencegah komplikasi kesehatan yang mungkin nanti akan timbul 4) Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli tentang cara meningkatkan asupan makanan
R: pemberian gizi yang cukup dapat meningkatkan energi klien.
f. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung (D.0008)
SLKI :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka curah jantung (L.02008) dapat meningkat dengan kriteria hasil:
1) Palpitasi cukup menurun 2) Takikardi cukup menurun
3) Gambaran EKG aritmia cukup menurun SIKI :
Perawatan jantung (I.02075) 1) Obsevasi
a) Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung R: penurunan curah jantung dapat diidentifikasi melalui gejala yang muncul meliputi dyspnea, kelelahan, edema, ortopnea, dan adanya peningkatan CVP
b) Monitor tekanan darah
R: tekanan darah pada pasien dengan curah jantung perlu untuk dimonitor karna penting untuk membantu penegakan diagnostik
c) Monitor saturasi oksigen
R: mengetahui saturasi oksigen pada pasien
d) Monitor aritmia
R: mengetahui adanya kelainan irama dan frekuensi jantung pada paien
2) Terapeutik
a) Posisikan pasien semi fowler atau fowler dengan kaki ke bawah atau posisi nyaman
R: Posisi semi fowler atau fowler diberikan agar klien nyaman dan membuat sirkulasi darah berjalan dengan baik
b) Fasilitasi pasien dan keluarga untuk modifikasi gaya hidup sehat
R: Gaya hidup yang sehat dapat membantu perubahan pola hidup, sehingga pasien dapat tetap ada dalam ruang lingkup sehat jika gaya hidup diubah menjadi lebih sehat c) Berika terapi relaksasi untuk mengurangi stress, jika perlu
R: agar pasien merasa lebih rileks
d) Berikan oksigen untukmempertahankan saturasi oksigen >
94%
R: untuk memenuhi suplai oksigen pasien 3) Edukasi
a) Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi R: melatih pasien beraktivitas sesuai toleransi b) Anjurkan beraktivitas fisik secara bertahap
R: melatih pasien beraktivitas secara bertahap 4) Kolaborasi
a) Kolaborasi pemberian antiaritmia
R: Antiaritmia adalah obat yang digunakan untuk menangani kondisi aritmia atau ketika denyut jantung berdetak terlalu cepay/ terlalu lambat dan tidak teratur
g. Resiko defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrient (D.0032)
SLKI :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka status nutrisi (L.03030) dapat membaik dengan kriteria hasil:
a) Porsi makan yang di habiskan cukup membaik b) Kekuatan otot menelan cukup membaik
c) Frekuensi makan cukup membaik d) Nafsu makan cukup membaik e) Bising usus cukup membaik SIKI :
Manajemen nutrisi (I.03119) 1) Observasi
a) Identifikasi status nutrisi
R: pengkajian penting dilakukan untuk mengetahui status nutrisi klien sehingga dapat menentukan intervensi yang diberikan
b) Identifikasi makanan yang disukai
R: dengan mengetahui makanan yang disukai dapat meningkatkan kebutuhan nutrisi melalui peningkatan selera makan
c) Monitor berat badan
R: dengan mengetahui berat badan pasien dapat dengan mudah tingkat da status nutrisi pasien
2) Terapeutik
a) Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
R: kebersihan mulut dapat meningkatkan status nutrisi pada individu dengan resiko defisit nutrisi
b) Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi R: serat berfungsi untuk menyerap air kedalam usus besar sehingga memperlancar proses pencernaan
c) Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
R: sebagai sumber energy tubuh agar dapat mengoptimalkan terjadinya resiko defisit nutrisi
3) Edukasi
Anjurkan posisi duduk, jika perlu
R: melonggarkan abdomen dari penekanan diafragma bila posisi terlentang
4) Kolaborasi
Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan, jika perlu R: mengatasi atau menghilangkan rasa mual muntah atau kekambuhan.
4. Discharge Planning
Menurut Mustikasari, (2020) setelah pasien pulang, perawat perlu memberikan penjelasan mengenai tindakan apa yang harus dilakukan saat pulang, yaitu:
a. Jelaskan kepada keluarga pasien tentang pengertian, penyebab tanda dan gejala serta penanggulangan awal tentang penyakit pneumonia.
b. Berikan informasi pada pasien tentang cara-cara pengendalian infeksi penyebab pneumonia serta penatalaksanaannya.
c. Hindari merokok, polusi udara, debu yang dapat menurunkan kesehatan serta melukai selaput napas sehingga saluran napas lebih rentan dimasuki virus. Hindari asap rokok, polusi udara, dan debu karena memperlemah kondisi saluran napas.
d. Hindari pemajanan kontak infeksius
e. Tutup mulut saat batuk karena penularan pneumonia banyak berasal dari percikan batuk atau bersin pasien pneumonia.
f. Instruksikan melakukan kontrol yang sesuai dengan yang dijadwalkan. Dengan adanya kontrol ulang akan lebih mudah mengetahui perkembangan kesehatan, serta menjaga timbulnya komplikasi.
g. Anjurkan keluarga memberikan kompres hangat serta pemberian pakaian tipis apabila pasien demam, dan berikan minum hangat saat pasien batuk untuk mengencerkan secret pada saluran pernapasan.
Terpanjan asap rokok Presipitasi
Melalui inhalasi masuk ke dalam saluran
Menyebabkan kerusakan epitel bersilia
Menurunkan klirens mukosiliar serta menekan
aktifitas fagosit dan efek baterisida sehingga mengganggu pertahanan
paru-paru Tirah baring lama
Kontraksi intrakostal dan diafragma tidak maksimal
Mekanisme batuk (-) Efisiensi silia (-) Penumpukan mucus
yang berlebih Kepadatan tempat
tinggal Ventilasi berkurang
Pertukaran udara terhambat Virus, bakteri dan
mikroorganisme
Melalui inhalasi masuk kedalam saluran pernapasan atas Berkolonialisasi dan menyebabkan peradangan dan inflamasi pada saluran pernapasan atas (ISPA) tidak
tertangani Virus antigen masuk dan
berkolonisasi disaluran pernapasan bawah Predisposisi
Usia ≥ 60 tahun Pembentukan sistem
imuntutas (iimmunoglobulin A)
belum sempurna Penurunan kekebalan terhadap virus, bakteri dan mikroorganisme
pada membrane mukosa hidung
Infeksi mencapai paru-paru (alveoli)
PNEUMONIA
TG : suhu tubuh : 38,2°C SDKI : hipertermi
SLKI : termoregulasi membaik SIKI : manajemen hipertermi Merangsang sel globet
Respon inflamasi
Peningkatan aliran dan pemeabilitas kapiler Stadium I : ≤ 24 jam
kongesti
Sel mast melepaskan
mediator kimiawi Kuman melepaskan zat pirogenik
Merangsang histamine dan postatglandin
Perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang
interstitium Penimbunan cairan
Edema
Fagosit melepaskan endogenus pirogen
Masuk ke dalam aliran darah
bakteremia Masuk ke pembuluh darah otak dan menyerang lapisan
meningen dan system saraf di otak
Terjadi perubahan fungsi dan kerja
system saraf Mengeraskan paru
dan menurunkan kapasitas paru Penurunan
saturasi O2
Penurunan produksi surfaksian Peningkatan produksi mukus
Penumpukan secret di jalan napas
B1 (Breathing)
TG : sesak, batuk berlendir, bunyi suara napas tambahan ronkhi
SDKI : bersihan jalan napas tidak efektif
SLKI : bersihan jalan napas SKI : latihan batuk efektif
Penurunan kesadaran
O2 dalam darah menurun
Proses glikolisis terganggu
Produksi energy menurun
Pus terkumpul dalam ruang pleura
Peningkatan tekanan pada paru
Pembentukan jaringan perut
Paru sulit bekerja dengan baik
Jaringan paru menjadi rusak dan terluka Proses metabolisme tertanggu dan
terjadi prembesan eritrosit dan leukosit dari kapiler paru
Alveoli penuh dengan cairan leukosit dan eritrosit
Paru-paru tidak berisi O2 dan berwarna merah
Terakumulasi di seluruh daerahyang cedera dan terjadi
fagositosis sisa-sisa sel
Stadium II : hepatisasi
merah (terbentuk fibrin pada)
Sisa-sisa sel yang mati di alveoli mulai direabsobsi
Lobus tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit
Warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler tidak
mengalami kongesti
Stadium III : hepatisasi
kelabu (2-3 paru tampak coklat gelapread cell yang mati)
Penurunan produksi surfaksian
Menurunkan compliance
Menimbulkan atelektasis dan kolaps alveolit
Tekanan O2 berkurang
Penurunan O2 di dalam paru-paru
Gangguan fungsi paru pada proses disfusi dan transportasi oksigen menuju
ke jantung
Penurunan oksigen ke jantung
Hipoksia jantung
B3 (Brain) TG: Penurunan
kesadaran, peningkatan tekanan darah SDKI: Penurunan Kapasitas adaptif
intrakranial SLKI: Kapasisitas adaptif intrakranial SIKI: Pemantauan
intrakranial
B6 (Bone) TG: Bedrest total, tirah baring lama, penekanan daerah
tertentu SDKI: Resiko luka
tekan SLKI: Integritas kulit dan jaringan SIKI: Pencegahan
luka tekan