1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Desa Lukun berada di wilayah Kecamatan tebing tinggi timur dan berbatasan dengan Kabupaten Kepulauan Meranti yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan sebagian sebagai peternak.
Penduduk di Desa Lukun awalnya hanya memelihara ternak 1 atau 2 ekor per rumah, kemudian pada tahun 2016 dibentuklah kelompok tani ternak untuk memudahkan komunikasi dan peningkatan produktifitas para peternak. Dua diantara kelompok tani di Desa Lukun antara lain Kelompok Tani Unggul Mandiri dan Kelompok Tani Subur Rahayu yang pada saat ini masing-masing memelihara ternak sapi mencapai 35 ekor. Pesatnya pertumbuhan sapi di Desa Lukun terjadi pada tahun 2018 dengan mendapat titipan ternak dari pemerintah 5 ekor untuk penggemukan dan menjadi 12 pada tahun 2019 dan terus berkembang hingga saat ini mencapai 35 ekor (arsip kantor desa lukun, 2019).
Seiring dengan meningkatnya populasi ternak sapi di Desa Lukun tersebut juga telah meningkatkan limbah kotoran yang dihasilkan. Pembuangan limbah kotoran ternak yang tidak ditangani secara baik telah menyebabkan pencemaran lingkungan di sekitar desa, baik pencemaran pada air, tanah dan udara. Kotoran ternak yang berupa cairan dengan sengaja dialirkan ke sungai sedangkan kotoran padat dibiarkan tertumpuk di sekitar kandang.
Timbulnya bau dan pencemaran ini terkadang memicu konflik sosial karena adanya komplain dari masyarakat setempat. Gambar 1.1. dibawah ini akan memperlihatkan kandang sapi yang kotorannya bertumpuk, dan dibiarkan tanpa diperhatikan, sehingga kotoran sapi ini mengering yang dapat memicu bau yang tidak sedap. Jika kotoran ternak sapi ini dibiarkan bertumpuk lalu dibuang ke sungai ini dapat menyebabkan pencemaran udara dan air. Jika dimanfaatkan dengan baik kotoran sapi dapat menghasilkan gas yang bisa digunakan oleh masyarakat. Dengan populasi 35 ekor sapi untuk satu kelompok tani, dengan
2
asumsi rata-rata per ekor sapi menghasilkan 10 kg kotoran padat, limbah yang dihasilkan dapat mencapai kurang lebih 350 kg per hari.
Gambar 1.1. Kandang dan Kotoran Ternak Sapi yang Menumpuk Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2019
Keberadaan limbah kotoran sapi yang melimpah tersebut tentunya merupakan potensi energi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di Desa Lukun. Berdasarkan penelitian (2019), setiap 2 ekor ternak sapi/kerbau atau 20 kg kotoran padat dapat dihasilkan ± 1 m3 biogas, dengan rata-rata 20 kg/hari kotoran sapi. Kesetaraan 1m3 biogas sama dengan 0,46 kg elpiji, 3,50 kg kayu bakar, 0,62 liter minyak tanah maka potensi energi di Desa Lukun untuk satu kelompok tani sama dengan 8 kg elpiji, 61 kg kayu bakar dan 11 liter minyak tanah atau cukup untuk digunakan 8-10 rumah tangga per hari. Dengan melihat potensi yang ada, tentunya kalau dikelola dengan baik, Desa Lukun bisa menjadi desa mandiri.
Namun masyarakat di desa Lukun saat ini masih mengunakan kompor tungku dan sebagian kecil menggunakan kompor gas elpiji. Pada penelitian pendahuluan yang dilakukan dengan mewawancarai warga di desa Lukun pengguna kompor tungku dan kompor gas, disimpulkan bahwa warga pengguna kompor tungku mengeluhkan sulitnya mencari kayu bakar karena memerlukan waktu yang lama hingga ½ hari untuk mencarinya, selain itu menyalakan kompor tungku hingga apinya benar-benar menyala juga membutuhkan waktu yang lama yaitu membutuhkan waktu 20 – 30 menit apalagi jika kayu yang digunakan basah atau lembab. Ini menunjukan pengguna kompor tungku sangatlah kurang efisien.
Sedangkan pengguna kompor gas elpiji mengeluhkan biaya yang cukup tinggi karena harga gas yang cukup mahal. Namun tabung gas elpiji didesa lukun untuk
3
saatini sangatlah terbatas, dikarnakan tidak mendapat tabung gas bersubsidi dari pemerintah.
Gambar 2.2 Kompor Tungku dan Kompor Gas
Namun minimnya pengetahuan dan latar belakang pendidikan yang relatif rendah dari para peternak sapi di Desa Lukun menjadikan kesadaran akan lingkungan menjadi kurang. Begitu juga dengan pengetahuan teknologi pengolahan limbah kotoran hewan serta manfaatnya masih sangat terbatas, maka kotoran sapi yang cukup banyak di Desa lukun belum dimanfaatkan secara optimal.
Sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi oleh Kelompok Tani Ternak di Desa Lukun Kecamatan Tebing Tinggi Timur Kabupaten Kepulauan Meranti, peneliti langsung dan mewawancarai masyarakat mengenai pemanfaatan limbah kotoran sapi, membuat reaktor biogas (alat biogas) dari kotoran sapi dan pemanfaatan produk sampingannya berupa pupuk organik. Untuk itu, peneliti dilakukan untuk membuat rancang bangun terkait dengan reaktor biogas dari kotoran sapi dan bagaimana mensosialisasikan produk biogas tersebut kepada masyarakat yang masih menggunakan kompor tungku dan mahalnya tabung gas elpiji.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Bagaimana spesifikasi desain reaktor biogas yang diinginkan oleh pengguna?
b. Bagaimana cara merancang reaktor biogas dengan biaya minim menggunakan metode Value Enginering ?
4 1.3. Tujuan Penelitian
Adapun beberapa tujuan penelitian terkait permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Untuk mengetahui spesifikasi desain reaktor biogas dari limbah ternak sapi yang sesuai dengan keinginan pengguna
b. Memberikan usulan rancangan reaktor biogas dengan biaya minim menggunakan metode Value Enginering
1.4. Manfaat Penelitian
Dengan dilakukannya penelitian Tugas Akhir ini, maka diharapkan akan bermanfaat bagi:
a. Mahasiswa
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dalam menambah dan meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan tentang metode Value Enginering dalam merancang sebuah produk, selain itu hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan referensi dalam merancang sebuah produk dan dapat memberikan saran masukan dan pembanding agar menghasilkan penelitian yang lebih baik lagi.
b. Masyarakat
Hasil penelitian dapat memberikan masukan dan menjadi bahan pemikiran yang berguna bagi para pihak terkait penerapan metode perancangan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kenyamanan bagi penguna alat biogas
1.5. Batasan Masalah
a. Penelitian ini tidak membahas perbandingan antara biogas kotoran sapi dengan yang lain.
b. Rancang bangun reaktor biogas berfokus sebagai pengganti gas LPG (Liquid Petrelium Gas).
5 1.6. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pelaksanaan penyusunan dan pemahaman laporan Tugas Akhir ini, maka perlu disusun sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisikan tentang latar belakang, perumusan masalah, pembatasan masalah, maksud dan tujuan penulisan penelitian, dan sistematika penulisan laporan.
BAB II LANDASAN TEORI
Dalam landasan teori ini dijelaskan secara singkat mengenai teori yang berhubungan dengan pemetaan dan pendistribusian.
BAB III PENGKAJIAN SISTEM
Berisikan mengenai penjelasan umum instansi diantaranya mengenai sejarah, struktur organisasi, SDM dan sarana prasarana lainnya.
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
Dalam metodologi penelitian ini dibahas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan seperti identifikasi masalah yang ada, perumusan masalah dan tujuan penelitian, pengumpulan data sampai mendapatkan hasil yang diinginkan dan data-data yang dibutuhkan
.
BAB V IMPLEMENTASI METODE DAN PEMBAHASAN
Implementasi metode dan pembahasan mencakup implementasi metode dan juga berisikan analisa terhadap hasil yang diperoleh dari pengolahan data.
6 BAB VI PENUTUP
Berisikan kesimpulan hasil terhadap penelitian yang dilakukan serta saran dan rekomendasi yang konstruktif kepada mahasiswa, Instansi ataupun komunitas lainnya yang nantinya akan membaca dan mahasiswa lainnya yang akan melaksanakan penelitian lanjutan.