• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB II.docx"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

A. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Untuk memperoleh pengertian yang objektif tentang hasil belajar, perlu dijabarkan secara jelas dari kata tersebut. Karena secara etimologi, hasil belajar terdiri dari dua kata yakni hasil dan belajar.

Menurut kamus Bahasa Indonesia, hasil berarti sesuatu yang ada (terjadi) oleh suatu kerja, berhasil sukses.1

Sementara menurut R. Gagne hasil dipandang sebagai kemampuan internal yang dimiliki seseorang setelah melakukan sesuatu.2

Istilah hasil belajar biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu pencapaian atau keberhasilan dalam tujuan yang dibutuhkan suatu rencana atau strategi. Sutratinah Tirtonegoro menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk angka, huruf atau simbol yang dapat mencerminkan hasil yang telah dicapai oleh siswa dalam periode tertentu.3

1 Hartono, Kamus Praktis Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm.53.

2 Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Grafindo, 1991), hlm.100.

3 Sumadi Suryabrata, Pskologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), hlm.232.

21

(2)

Mengenai hasil belajar ini, Howard Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, antara lain:4

1. Keterampilan dan kebiasaan 2. Pengetahuan dan pengertian 3. Sikap

Beberapa pakar menyebutkan beberapa jenis perilaku (sikap) sebagai hasil belajar, antara lain:5

Lindgren menyebutkan bahwa isi pembelajaran terdiri atas:

1. Kecakapan 2. Informasi 3. Pengertian 4. Sikap

Benyamin Bloom menyebutkan ada tiga kawasan perilaku sebagai hasil pembelajaran, yaitu:

a) Kognitif b) Afektif c) Psikomotor

R. M. Gagne mengemukakan bahwa hasil pembelajaran ialah berupa kecakapan manusiawi (human capabilities) yang meliputi:

a) Informasi verbal

4 Nana Sudjana, Op.Cit., hlm. 45

5 Mohammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Bandung : Pustaka Bani Quraisy), hlm. 17.

(3)

b) Kecakapan intelektual c) Strategi kognitif

d) Sikap

e) Kecakapan motorik

Dari pemaparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan yang terjadi akibat adanya sebuah proses pembelajaran yang mampu menghasilkan sebuah kecakapan dalam beberapa ranah yakni kognitif, afektif dan psikomotor.

Dengan demikian, hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Berhasil atau tidaknya seseorang dalam suatu proses belajar disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar, yaitu berasal dari diri orang yang belajar dan ada pula dari luar dirinya. Adapun faktor-faktor tersebut, menurut M. Dalyono, yaitu faktor internal dan faktor eksternal :6

6 M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 55.

(4)

a. Faktor internal (yang berasal dari dalam diri) 1. Kesehatan

Faktor kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Bila seorang siswa selalu tidak sehat, sakit kepala, demam, pilek, batuk dan sebagainya, maka dapat mengakibatkan tidak bergairah untuk mengikuti proses pembelajaran.

Demikian pula halnya kesehatan rohani (jiwa) kurang baik, misalnya mengalami gangguan fikiran, perasaan kecewa karena konflik dengan seseorang, orang tua atau karena sebab lainnya, hal ini dapat mengganggu atau mengurangi semangat untuk belajar. Dengan demikian, maka hasil belajar dapat tercapai apabila kondisi fisik maupun mental sehat, sehat secara lahir maupun batin.

2. Faktor intelengensi dan bakat

Intelegensi adalah kemampuan atau daya serap otak dalam memahami materi pengajaran yang diberikan. Intelengensi juga merupakan kecepatan dalam proses menerima apa yang diinformasikan, khususnya dalam sebuah dasar atau cikal bakal potensi yang dibawa sejak lahir, bakat yang mengarahkan dan membawa seseorang kepada yang ia sukai, sehingga dengan adanya bakat tersebut, maka seseorang akan lebih mudah untuk diarahkan dan dibina untuk lebih maju.

(5)

3. Faktor minat dan motivasi

Minat dan motivasi merupakan dua aspek psikis yang juga besar pengaruhnya terhadap pencapaian hasil belajar. Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan juga dari dalam (hati sanubari). Minat timbul juga karena adanya berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan bahagia. Motivasi yang berasal dari dalam diri (intrinsic), yaitu dorongan yang datang dari hati sanubari, umumnya karena kesadaran akan pentingnya sesuatu. Sedangkan motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsic), yaitu dorongan yang datang dari luar diri (lingkungan), misalnya orang tua, guru, teman-teman dan masyarakat.

4. Faktor cara belajar

Cara belajar juga mempengaruhi hasil belajar seseorang. Cara belajar juga dipengaruhi oleh kesehatan, apabila kesehatan terganggu maka akan memperoleh hasil belajar yang kurang memuaskan. Adapun teknik-teknik balajar yang harus diperhatikan, menurut M. Dalyono, antara lain : cara membaca, cara menulis, cara mencatat, cara menggarisbawahi, cara meringkas, cara membuat kesimpulan, waktu belajar, tempat belajar, fasilitas belajar dan penggunaan media belajar.7 b. Faktor eksternal (yang berasal dari luar diri)

7 M. Dalyono, Ibid. 58.

(6)

1. Keluarga

Keluarga ialah komunitas sosial terkecil yang terdiri atas ayah, ibu dan anak-anak serta famili yang menjadi penghuni. Faktor keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap pencapaian hasil belajar karena dengan adanya pengaruh orang tua dalam sebuah keluarga, maka anak-anak akan lebih disiplin dan termotivasi dalam belajar. Adapun faktor dari orang tua tersebut, antara lain : tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan orang tua, cukup atau kurang perhatian dan bimbingan orang tua pada anak, rukun atau tidaknya kedua orang tua (harmonis), tenang atau tidaknya situasi dalam rumah, semua itu turut mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak.

2. Sekolah

Sekolah juga turut mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak, seperti : kompetensi atau kualitas guru, metode mengajarnya, kurikulum yang digunakan, fasilitas atau media pembelajaran, kondisi ruangan atau kelas, jumlah murid per kelas, tata tertib, perpustakaan dan seluruh sarana maupun prasarana sekolah. Semua itu turut mempengaruhi berhasil atau tercapainya prestasi belajar anak di sekolah. Faktor sekolah merupakan faktor eksternal yang paling dominan yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.

3. Masyarakat

(7)

Situasi dan kondisi masyarakat juga menentukan pencapaian hasil belajar anak. Seperti lingkungan tempat tinggal anak adalah orang- orang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik. Hal ini tentunya akan mendorong anak untuk lebih giat belajar.

Berdasarkan pendapat di atas, faktor internal maupun eksternal mempengaruhi proses pembelajaran, khususnya dalam mencapai keberhasilan (prestasi). Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa) meliputi : cara belajar, motivasi, intelegensi dan kesehatan siswa. Faktor eksternal siswa, yaitu : sekolah (faktor eksternal yang paling dominan), keluarga dan lingkungan masyarakat tempat siswa berdomisili.

B. Pembelajaran Matematika

a. Pengertian Pembelajaran Matematika

Pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadian- kejadian ekstern yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dan dialamai siswa (Winkel, 1991). Sementara Gagne (1985), mendefinisikan pembelajaran sebagai pengaturan secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuatnya berhasil guna. Dalam pengertian lainnya, Winkel (1991), mendefinisikan pembelajaran sebagai

(8)

pengaturan dan penciptaan kondisi-kondisi ekstern sedemikian rupa, sehingga menunjang proses belajar siswa dan tidak menghambatnya.8

Sedangkan matematika sangat sulit diartikan secara akurat. Pada umumnya orang awam hanya akrab dengan satu cabang matematika elementer yang disebut aritmatika atau ilmu hitung yang secara informal didefenisikan sebagai ilmu tentang berbagai bilangan yang bisa langsung diperoleh dari bilangan-bilangan bulat 0, 1, 2, -2, …, dst, melalui beberapa operasi dasar ; tambah, kurang, kali, dan bagi.

Kata matematika ini berasal dari ‘maithema’ dalam bahasa Yunani yang berarti “sains, ilmu pengetahuan, atau belajar” juga ‘mathematikas’ yang diartikan sebagai “suka belajar”.9

Setelah matematika menjadi salah satu program pendidikan, matematika diletakkan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Saat itu pembelajaran matematika lebih ditekankan pada ilmu hitung dan cara berhitung. Untuk pertama kali yang diperkenalkan kepada siswa adalah bilangan asli membilang, kemudian penjumlahan dengan jumlah kurang dari sepuluh, pengurangan.

8 Evelina Siregar, Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Ghalia Indonesia,2010), hlm. 12. Nana Sudjana, Op.Cit., hlm. 45

9 Andi Hakim Nasution, Landasan Matematika, (Bogor: Bhratara,1982), hlm.12.

9

(9)

Matematika adalah bahasa simbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tentang pola keteraturan, ilmu tentang struktur yang terorganisasi mulai dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma, atau postulat dan akhirnya ke dalil.10

Namun, sampai sekarang di antara para ahli matematika belum ada kesepakatan yang bulat untuk memberikan jawaban defenisi tentang matematika secara baku.

Pada hakekatnya pengajaran matematika di sekolah memiliki kegunaan yang kompleks, yakni kegunaan untuk kepentingan matematika sendiri dan kegunaan dalam kehidupan sehari-hari di bidang non- matematika.

Dengan diajarkannya matematika kepada siswa di semua tingkat, maka konsep-konsep matematika dapat diberikan secara bertahap sesuai dengan tingkat penalaran dan pemahaman siswa akan senantiasa berkembang ke tingkat yang lebih logis dan kritis. Inilah yang dimaksud dengan kegunaan matematika untuk kepentingan matematika sendiri.

Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannya. Dengan demikian maka setiap upaya penyusunan kembali atau penyempurnaan kurikulum matematika sekolah perlu mempertimbangkan perkembangan-

10 Ruseffendi, E.T, Pendidikan Matematika 3 Modul 1 – 5, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993), hlm. 12.

(10)

perkembangan tersebut, pengalaman masa lalu serta kemungkinan masa depan. Dalam penyempurnaan tersebut tidak lepas dengan melihat fungsi dan tujuan pengajaran matematika khususnya dan mata pelajaran lain umumnya.

b. Fungsi dan Tujuan Pengajaran Matematika

Adapun fungsi dan tujuan itu menurut Garis-garis Besar Program Pengajaran adalah sebagai berikut :11

1) Fungsi sebagai alat

Hal ini disebabkan karena matematika dapat digunakan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dalam kehidupan.

2) Fungsi sebagai pola pikir

Matematika dapat digunakan untuk membantu memperjelas permasalahan melalui abstraksi pengarah pada objektivitas dan efektivitas yang tinggi.

3) Fungsi sebagai ilmu pengetahuan

Fungsi ini hendaknya mewarnai pengajarannya, yakni dengan menunjukkan bahwa matematika selalu mencari kebenaran yang telah diterima, bila diketemukan kebenaran baru yang menyangkal kebenaran pertama tadi.

11 Direkdikdas, Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Matematika Sekolah Dasar), (Jakarta: Depdiknas, 1994).

(11)

Levie & Lentz (dalam Azhar Arsyad), mengemukakan terdapat empat fungsi media pembelajaran menggunakan alat peraga, khususnya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, (d) fungsi kompensatoris.

a. Fungsi atensi, media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran. Seringkali pada awal pelajaran siswa tidak tertarik dengan materi pelajaran yang tidak disenangi sehingga mereka tidak memperhatikan.

b. Fungsi afektif, media dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat mengubah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi menyangkut masalah sosial.

c. Fungsi kognitif, media dapat terlihat dari temuan-temuan penelitian yang menggunakan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.

d. Fungsi kompensatoris, media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca atau mengorganisasi informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat dalam menerima dan

(12)

memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.12

Sedangkan tujuan pembelajaran matematika adalah :

1) Siswa dapat menggunakan konsep, mengenal lambang, dan istilah atau nama, serta menemukan rumus (prinsip) yang terdapat pada pokok bahasan.

2) Siswa memiliki keterampilan melakukan operasi yang terdapat pada butir satu di atas, dan mampu menggunakannya pada mata pelajaran lain atau dalam kehidupan sehari-hari.

3) Siswa dapat menggunakan konsep matematika untuk mengkomunikasikan suatu gagasan dan untuk menafsirkan suatu data atau keadaan.

4) Siswa memiliki sifat kritis, terbuka, dan konsisten, serta mulai memiliki sikap menghargai kegunaan matematika.13

Dari uraian fungsi dan tujuan pengajaran di atas, secara umum pendidikan matematika pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah memberi tekanan pada penataan nalar, pembentukan sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu

12 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 16- 17.

13 Direkdikdas, Op.Cit.

(13)

pengetahuan serta juga memberi tekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika.

c. Teori Belajar Matematika

Ada beberapa teori belajar yang popular dan cocok untuk diterapkan pada pembelajaran matematika di pendidikan dasar, di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Teori Ausubel

Teori makna (meaning theory) dari Ausubel (Brownell dan Chazal) mengemukakan pentingnya pembelajaran bermakna dalam mengajar matematika. Kebermaknaan pembelajaran akan membuat kegiatan belajar lebih menarik, lebih bermanfaat, dan lebih menantang, sehingga konsep dan prosedur matematika akan lebih mudah dipahami dan lebih tahan lama diingat oleh peserta didik. Kebermaknaan yang dimaksud dapat berupa struktur matematika yang lebih ditonjolkan untuk memudahkan pemahaman (understanding).14

b. Teori Vygetsky

Teori Vygetsky berusaha mengembangkan model konstruktivistik belajar mandiri dari Piaget menjadi belajar kelompok. Dalam membangun sendiri pengetahuannya, peserta didik dapat memperoleh pengetahuan melalui kegiatan yang beraneka ragam dengan guru sebagai fasilisator.

Kegiatan itu dapat berupa diskusi kelompok kecil, diskusi kelas, mengerjakan

14 Gatot Muhsetyo, Pembelajaran Matematika SD, (Universitas Terbuka, 2011), hlm. 1.9

(14)

tugas kelompok, tugas mengerjakan ke depan kelas 2 – 3 orang dalam waktu yang sama dan untuk soal yang sama (sebagai bahan pembicaraan atau diskusi kelas), tugas bersama membuat laporan kegiatan pengamatan dan kajian matematika dan tugas menyampaikan penjelasan atau mengkomunikasikan pendapat atau presentasi tentang suatu yang terkait dengan matematika. Dengan kegiatan yang beragam, peserta didik akan membangun pengetahuannya sendiri melalui membaca, diskusi, tanya jawab, kerja kelompok pengamatan, pencatatan, pengerjaan tanya jawab, kerja kelompok, pengamatan, pencatatan, pengerjaan dan presentasi.15

Dari beberapa teori belajar matematika di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran matematika di pendidikan dasar sangat diperlukan suatu media pengajaran matematika.

d. Bangun Datar

1. Pengertian Bangun Datar

Bangun datar merupakan bangun dua dimensi. Maksudnya adalah tidak memiliki ruang hanya sebuah bidang datar saja.

2. Macam -macam Bangun Datar

15 Ibid, hlm. 1.11

(15)

Jenis bangun datar bermacam-macam antara lain persegi, persegi panjang, segitiga, jajar genjang, segilima, layang-layang, belah ketupat, trapesium, dan lingkaran.

1) Lingkaran dan jajar genjang.

Lingkaran adalah himpunan sebuah titik pada bidang pada jarak tertentu, yang disebut pusat.

Jajar genjang adalah suatu bangun datar yang terbentuk oleh segitiga dengan bayangannya jika diputar setengah putaran pada salah satu sisi yang dimilikinya.

2) Persegi dan belah ketupat.

Persegi adalah bangun datar yang memiliki empat buah sisi sama panjang.

Belah ketupat adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh empat buah rusuk yang sama panjang, dan memiliki dua pasang sudut bukan siku-siku yang masing-masing sama besar dengan sudut dihadapannya.

3) Persegi panjang dan layang-layang.

Persegi panjang adalah bangun datar mirip bujur sangkar namun dua sisi yang berhadapan lebih pendek atau lebih panjang dari dua sisi yang lain, dua sisi yang panjang disebut panjang sedangkan yang pendek disebut lebar.

(16)

Layang-layang adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh dua pasang rusuk yang masing-masing sama panjang dan saling membentuk sudut.

4) Segitiga dan segilima.

Segitiga adalah nama suatu bentuk yang dibuat dari tiga sisi yang berupa garis lurus dan tiga sudut.

Segilima adalah bangun datar dengan lima sisi yang sama panjang.

5) Trapesium.

Trapesium adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk empat buah rusuk yang dua diantaranya yang saling sejajar namun tidak sama panjang.

3. Rumus-rumus Bangun Datar

(17)

C. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Jigsaw

Pembelajaran kooperatif jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam suatu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada orang lain dalam kelompoknya.16

Dalam teknik ini siswa dapat bekerja sama dengan siswa lainnya dan mempunyai tanggung jawab lebih dan mempunyai banyak kesempatan pula untuk mengolah informasi yang di dapat dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan bersosialisasi.

Model pembelajaran seperti ini harus dioptimalkan karena dapat meningkatkan kemampuan berkreatif siswa dan tentunya meningkatkan prestasi siswa. Disamping itu pembelajaran ini juga dapat meningkatkan komunikasi siswa karena berani menyampaikan apa yang telah ia dapat kepada kelompok lain maupun kelompok sendiri, sehingga siswa yang kurang percaya diri untuk menyampaikan bisa dilatih untuk lebih berani dengan pembelajaran model ini.

b. Tujuan Pembelajaran Model Koopertif Jigsaw

Tujuan pembelajaran model kooperatif jigsaw adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan oleh keberhasilan

16 Anita Lie, Cooperative Learning, (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia), 2008, hlm.

70.

(18)

kelompoknya.17 Sistem ini berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, dimana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Dan tujuan model pembelajaran kooperatif jigsaw itu sendiri adalah memberikan rasa tanggung jawab individu dan kelompok untuk keberhasilan bersama dan untuk saling berinteraksi dengan kelompok lain. Untuk itu, kekompakan dan kerja sama yang solid antar kelompok menentukan berhasil dan tidaknya pembelajaran tersebut karena satu sama lain akan memberikan informasi yang telah didapat dari kelompok lain.

c. Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw a. Orientasi

Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diberikan.

Membuat penekanan tentang manfaat penggunaan model pembelajaran kooperatif jigsaw dalam kegiatan belajar mengajar. Peserta didik diminta belajar konsep secara keseluruhan untuk memperoleh gambaran keseluruhan konsep (konsep ini menjadi tugas yang sebelumnya harus dibaca di rumah).

b. Pengelompokan

Misalkan dalam kelas ada 20 siswa, yang kita tahu kemampuan matematikanya dan sudah dirangking (siswa tidak perlu tahu) , kita bagi dalam 25 % (rangking 1 – 5) kelompok sangat baik, 25 % (rangking 6 – 10)

17 Slavin, Pembelajaran Kooperatif: Model Pembelajaran Tipe Jigsaw, http://www.scribd.com/doc/2011/09/21/Model-Pembelajaran-Tipe-Jigsaw

(19)

kelompok baik, 25 % (rangking 11 – 15) kelompok sedang, 25 % (rangking 16 – 20) kelompok rendah.

a) Pembentukan dan Pembinaan Kelompok Expert.

Selanjutnya kita akan membaginya menjadi 5 group (A – E) yang isi tiap groupnya hiterogen dari kelompok yang dalam kemampuan matematika, berilah indek 1 untuk siswa dalam kelompok sangat baik, indek 2 untuk kelompok baik, indek 3 untuk kelompok sedang, dan indek 4 untuk kelompok rendah. Misalkan (A1 berarti group A dari kelompok sangat baik,… A4 group A dari kelompok rendah).

Tiap group akan berisi : Group A (A1, A2, A3, A4) Group B (B1, B2, B3, B4 ) Group C (C1, C2, C3, C4) Goup D (D1, D2, D3, D4) Group E (E1, E2, E3, E4)

Tiap kelompok ini diberi konsep matematika (Bangun Datar) sesuai kemampuannya. Kelompok 1 yang terdiri dari siswa yang sang baik diberi materi yang lebih kompleks worksheet 1 (segitiga). Kelompok 2 diberi materi worksheet 2 (trapezium). Kelompok 3 diberi materi worksheet 3 (jajar genjang) dan kelompok 4 diberi materi worksheet 4 (persegi panjang). Setiap kelompok diharapkan belajar topik yang diberikan dengan baik sebelum ia

(20)

kembali ke dalam group sebagai tim ahli (expert), peran pendidik cukup penting dalam fase ini.

b) Diskusi (pemaparan) kelompok ahli dalam grup.

Expert (peserta didik ahli) dalam konsep tertentu ini kembali ke kelompok semula. Pada fase ini kelima grup (1 – 5) memiliki ahli dalam konsep-konsep tertentu (worksheet 1 – 4). Selanjutnya, pendidik mempersilahkan anggota grup untuk mempresentasikan keahliannya dalam grupnya masing-masing satu persatu. Diharapkan terjadi sharing pengetahuan antar mereka.

c) Test (penilaian)

Guru mamberikan tes tulis untuk dikerjakan oleh siswa yang memuat seluruh konsep yang didiskusikan. Pada test ini siswa tidak diperkenankan untuk bekerja sama. Jika saat belajar mereka saling bahu membahu untuk memperoleh konsep yang benar, maka pada saat penilaian ini mereka harus bekerja sendiri-sendiri, jika mungkin tempat duduknya agak dijauhkan.

d) Pengakuan kelompok.

Penilaian pembelajaran kooperatif berdasarkan skor peningkatan Individu, tidak didasarkan pada skor akhir yang diperoleh siswa, tetapi berdasarkan seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor sebelumnya.

Setiap siswa dapat memberikan konstribusi maksimum pada kelompoknya

(21)

dalam sistem skor kelompok. Siswa memperoleh skor untuk kelompoknya didasarkan pada skor kuis mereka melampaui skor dasar mereka.

d. Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw a. Keunggulan :

1. Kelompok Kecil memberikan dukungan sosial untuk belajar matematika.

2. Ruang Lingkup dipenuhi ide-ide yang bermanfaat dan menarik untuk didiskusikan.

3. Meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pemahaman pembelajaran materi untuk dirinya sendiri dan orang lain.

4. Meningkatkan kerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.

5. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan bersosialisasi untuk pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.

6. Meningkatkan kreatifitas siswa dalam berfikir kritis dan meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan suatu masalah yang di hadapi.

7. Melatih keberanian dan tanggung jawab siswa untuk mengajarkan materi yang telah ia dapat kepada anggota kelompok lain.

8. Masalah matematika cocok untuk diskusi kelompok, sebab memiliki solusi yang dapat didemonstrasikan secara objektif.

(22)

b. kelemahan:

1. Kondisi kelas yang cenderung ramai karena perpindahan siswa dari kelompok satu ke kelompok lain.

2. Dirasa sulit meyakinkan untuk berdiskusi meyampaikan materi pada teman jika tidak punya rasa percaya diri.

3. Kurang partisipasi beberapa siswa yang mungkin masih bergantung pada teman lain, biasanya terjadi dalam kelompok asal.

4. Ada siswa yang berkuasa karena merasa paling pintar di antara anggota kelompok.

5. Awal penggunaan metode ini biasanya sulit dikendalikan, biasanya butuh waktu yang cukup dan persiapan yang matang agar berjalan dengan baik.

6. Aplikasi metode ini pada kelas yang besar (lebih dari 40 siswa) sangatlah sulit. Tapi bisa diatasi dengan model “team teaching”.

Referensi

Dokumen terkait

harus dicapai, sedangkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari

Metode Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas bagian materi belajar

Dari tiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam

Cooperative Learning teknik Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada dasarnya membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 anggota tiap kelompok. Ciri khusus dari

Model pembelajaran kooperatif tipe JIgsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4–6 orang secara heterogen