• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR

N/A
N/A
Novi Wulansari

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR

A. Landasan Teori

Dalam landasan teori ini dibahas beberapa teori yang diberikan ahli tentang novel, hakikat struktural, psikologi sastra, konflik batin, dan kerangka berpikir.

2.1 Hakikat Karya Sastra

Sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang merupakan gabungan dari kata sas berarti mengarahkan, mengajarkan dan memberi petunjuk. Kata sastra tersebut mendapat akhiran tra yang biasanya digunakan untuk menunjukkan alat atau sarana. Sehingga, sastra berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk atau pengajaran. Sebuah kata lain yang juga diambil dari bahasa Sansekerta adalah kata pustaka yang secara luas berarti buku (Teeuw, 1984: 22-23).

Sastra merupakan suatu kegiatan kreatif dalam seni yang erat kaitannya dengan realitas kehidupan. Karya sastra muncul dengan perpaduan kenyataan dan kreatifitas pengarang. Karya sastra merupakan hasil imajinasi manusia yang mengambil kehidupan manusia sebagai sumber inspirasinya. Menurut Ratna (2005: 312), hakikat karya sastra adalah rekaan atau yang lebih sering disebut imajinasi. Imajinasi dalam karya sastra adalah imajinasi yang berdasarkan kenyataan. Hal ini sejalan dengan pendapat Endraswara (2011: 78) yang menyatakan bahwa karya sastra merupakan ekspresi kehidupan manusia yang tak lepas dari akar masyarakatnya. Karya sastra sebagai suatu potret kehidupan yang berisi tentang cerminan kehidupan nyata yang menimbulkan sifat sosial pada diri manusia. Karya sastra tercipta dari masalah di masyarakat yang menarik untuk dituangkan dalam tulisan kreatif dan imajinatif. Meskipun pada hakikatnya karya sastra adalah rekaan, karya sastra dikonstruksi atas dasar kenyataan.

Menurut pandangan Sugihastuti (2007: 81-82) karya sastra merupakan media yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan pengalamannya. Karya sastra juga dapat merefleksikan pandangan pengarang

(2)

terhadap berbagai masalah yang diamati di lingkungannya. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah sebuah karya seni yang menggambarkan realitas kehidupan yang dituangkan dalam tulisan kreatif untuk menyampaikan gagasan pengarang. Oleh karena itu, karya sastra sering dijadikan sebagai media untuk menyampaikan pengalaman orang lain maupun pengalaman pengarang sendiri.

2.2 Fungsi Karya Sastra

Karya sastra sebagai wujud gagasan pengarang yang penuh makna tentu memiliki fungsi dalam penciptaannya. Menurut Damono (dalam Alfin, 2014: 6-7) dalam masyarakat sastra memiliki beberapa fungsi sebagai berikut: (1) fungsi rekreatif, sastra memberikan hiburan yang menyenangkan bagi pembacanya; (2) fungsi didaktif, sastra mampu mendidik pembacanya karena nilai kebenaran yang ada di dalamnya; (3) fungsi estetis, sastra mampu memberikan keindahan bagi pembacanya; (4) fungsi moralitas, sastra mampu memberikan pengetahuan kepada pembacanya karena sastra mengandung moral yang tinggi; (5) fungsi religius, sastra mengandung ajaran-ajaran agama yang diteladani pembacanya. Karya sastra sangat erat kaitannya dengan realitas, sehingga memiliki fungsi untuk memperluas wawasan tentang hakikat kehidupan. Sastra berfungsi sebagai jiwa masyarakat. Sebagai hasil kebudayaan, sastra memberikan dan mendorong kesadaran dan pemahaman kepada para pembacanya atas kebudayaan yang menjadi sumber terciptanya sastra. Kebudayaan yang dikandung dalam karya sastra adalah cerminan perilaku dan konsep-konsep masyarakatnya (Takari dan Fadlin, 2018: 6). Memahami sastra pada dasarnya sama dengan memahami kebudayaan. Karya sastra memberikan pemahaman yang khas atas situasi sosial, kepercayaan, ideologi, dan harapan-harapan individu yang menghadirkan kebudayaan. Dengan demikian, karya sastra dapat dijadikan sebagai media dalam rangka melestarikan kebudayaan dalam suatu bangsa.

2.3 Novel

Secara harfiah, mulanya novel berasal dari kata novella berarti sebuah barang baru yang kecil, dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa, Abrams (dalam dalam Nurgiyantoro, 2019:11). Pengertian novella

(3)

adalah cerita pendek yang ditulis dalam bentuk prosa yang memiliki arti literal

“barang kecil”. Novel merupakan sebuah karya sastra yang panjang dan memiliki karakteristik bahwa menggambarkan kehidupan ceritanya yang kompleks dan umumnya dilakukan dengan penuh imajinasi. Novel merupakan karya fiksi yang dibangun oleh unsur-unsur pembangun, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Novel juga diartikan sebagai suatu karangan berbentuk prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku (Nurgiyantoro, 2010: 10).Sependapat dengan pernyataan diatas, Tarigan (2011: 173) mengemukakan bahwa novel adalah suatu jenis cerita dengan alur cukup panjang mengisi satu buku atau lebih yang menggarap kehidupan pria atau wanita yang bersifat imajinatif. Jadi novel adalah suatu karya sastra yang imajinatif yang mambahas tentang liku-liku kehidupan manusia dengan berbagai permasalahannya. Karya-karya novel Indonesia pertama kali berkembang pada masa penjajahan Belanda. Karya novel pun berkembang pesat pada awal abad ke-20, dimana banyak karya novel yang lahir dari pengarang-pengarang besar seperti Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjahbana dan Chiril Anwar.

Nurgiyantoro (dalam Rohmatin 2019: 3), mengemukakan bahwa novel merupakan karya yang bersifat realistis dan mengandung nilai psikologi yang mendalam, sehingga novel dapat berkembang dari sejarah, surat-surat, bentuk- bentuk nonfiksi atau dokumen-dokumen, sedangkan roman atau romansa lebih bersifat puitis. Adapun Aminuddin (2010: 66) berpendapat bahwa novel sebagai salah satu karya fiksi merupakan kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku- pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Sejalan dengan Aminudin, Esten (2000: 12) mengartikan novel sebagai pengungkapan dari pragmen kehidupan manusia (dalam jangka yang lebih panjang) dimana terjadi konfliks-konfliks yang akhirnya menyebabkan perubahan jalan hidup antara para pelakunya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa novel adalah salah satu bentuk karya sastra yang menceritakan dan melukiskan kejadian atau peristiwa kehidupan secara

(4)

kronologis yang dipaparkan seseorang pengarang melalui gerak-gerik dan perilaku tokoh-tokohnya.

2.3.1 Ciri-ciri Novel

Sebagai salah satu karya sastra, novel memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan dengan karya sastra lain, dari segi jumlah kata ataupun kalimat, novel lebih mengandung banyak kata dan kalimat, sehingga dalam proses pemaknaan relative jauh lebih mudah daripada puisi yang cenderung mengandung beragam bahasa khas dan dari segi panjang panjang cerita, novel lebih panjang daripada cerpen. Novel sebagai salah satu jenis karya satra memiliki ciri yang berbeda dibandingkan dengan karya satra lain. Berikut adalah ciri-ciri novel menurut Tarigan (2015: 174).

1. Jumlah kata lebih dari 35.000 buah;

2. Jumlah waktu rata-rata yang dipergunakan buat membaca novel yang paling

pendek diperlukan wakatu maksimal 2 jam atau 120 menit;

3. Jumlah halaman novel minimal 100 halaman;

4. Novel bergantung pada pelaku dan mungkin lebih dari satu pelaku;

5. Novel menyajikan lebih dari satu impresi,efek dan emosi;

6. Skala novel luas;

7. Seleksi pada novel luas;

8. Kelajuaan pada novel kurang cepat;

9. Unsur-unsur kepadatan dan identitas dalam novel kurang diutamakan;

Selain itu ciri-ciri novel menurut Kosasih (2014: 60) yaitu:

1. Alur lebih rumit dan lebih panjang. Ditandai oleh perubahan nasib pada diri

sang tokoh.

2. Tokohnya lebih banyak dalam berbagai karakter.

(5)

3. Latar meliputi wilayah geogerafi yang luas dan dalam waktu yang lebih lama.

4. Tema lebih kompleks,ditandai oleh dadanya tema-tema bawahan.

2.3.2 Unsur-Unsur Novel

Novel sebagai karya fiksi merupakan cerita yang menggambarkan segala yang terjadi di alam semesta yang sengaja diciptakan oleh pengarangnya. Struktur formal novel terdiri atas kata dan kalimat. Dengan demikian, novel menampilkan sebuah cerita dalam kata. Kata merupakan sarana untuk menciptakan struktur cerita dan pengucapan sastra. Bagian-bagian dan unsur unsur dalam novel saling berhubungan dan saling mendukung satu sama lain secara erat. Novel dibedakan menjadi dua unsur yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Nurgiyantoro (2010: 23) menjelaskan bahwa unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah karya sastra itu sendiri, unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra itu hadir. Unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Berikut penjelasan mengenai unsur pembangun novel suatu karya fiksi yang meliputi tema, tokoh dan penokohan, latar atau setting, dan amanat, sebagai berikut:

1) Tema

Tema merupakan suatu gagasan utama tentang suatu hal dalam membuat suatu tulisan. Menurut Nurgiyantoro (2010: 68) menjelaskan bahwa tema adalah sebagai dasar cerita atau gagasan umum dalam sebuah karya fiksi. Tema dalam sebuah karya fiksi yang sebelumnya telah ditentukan oleh pengarang untuk mengembangkan sebuah cerita. Hal ini, tema merupakan gagasan dasar sebuah karya sastra yang di dalamnya berisi tentang permasalahan yang dialami oleh manusia.

2) Tokoh dan Penokohan

Tokoh merujuk pada orang atau pelaku dalam suatu cerita, sedangkan penokohan menampilkan sifat atau watak dari suatu tokoh.

Penokohan juga dapat disebut sebagai gambaran yang jelas mengenai seorang yang ditampilkan dalam suatu cerita. Nurgiyantoro (2010: 165)

(6)

menjelaskan bahwa tokoh cerita (character) merupakan orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kulaitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakannya.

3) Latar atau Setting

Latar atau setting adalah segala keterangan atau petunjuk yang berkaitan dengan waktu, tempat, dan situasi terjadinya peristiwa dalam suatu cerita. Nurgiyantoro (2010:214) menyatakan bahwa latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam sebuah cerita tersebut.

4) Amanat

Amanat merupakan suatu pesan moral yang disampaikan oleh seorang pengarang melalui sebuah cerita. Amanat juga disebut sebagai pesan yang mendasari cerita yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada para pembaca baik secara langsung maupun tidak langsung. Setiap karya sastra khususnya novel memiliki beberapa nilai-nilai karakter yang baik dan dapat dijadikan teladan, guna membentuk karakter seseorang yang baik dan berkualitas. Karakter atau sifat tersebut biasanya terdapat pada isi atau gagasan yang terkandung dalam cerita yang penulis sampaikan kepada pembaca. Hal ini, pembaca dapat mengambil karakter atau sifat baik yang terdapat pada setiap tokoh dalam cerita. Selain itu juga untuk mengetahui kearifan lokal yaitu terdapat dalam setiap unsur pembangun novel, seperti latar atau setting cerita yang menandakan

(7)

adanya kearifan lokal pada cerita, serta tokoh atau penokohan yang identik dengan kebiasaan-kebiasaan mereka.

Adapun unsur ekstrinsik novel adalah unsur-unsur yang membangun dari luar karya sastra itu sendiri, tetapi secara tidak langsung juga mempengaruhi bangunan karya sastra tersebut. Unsur ekstrinsik terdiri atas beberapa unsur yang merupakan keadaan pribadi pengarang berupa keyakinan, sikap, ideologi, dan pandangan hidup. Unsur ekstrinsik lainnya adalah biografi pengarang, psikologi pengarang dan pembaca, keadaan lingkungan pengarang, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2018).

2.4 Pendidikan Karakter

Sebelum membahas pendidikan karakter, terlebih dahulu akan dibahas tentang karakter. Jika ditelusuri asal karakter berasal dari beberapa bahasa, yaitu bahasa Latin (kharakter, kharassein, kharax), dalam bahasa Inggris (character), bahasa Indonesia (karakter), dari bahasa Yunani (charassein) yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Pendidikan karakter terdiri atas dua suku kata berbeda yaitu “Pendidikan” dan “Karakter” yang masing-masing memiliki makna berbeda. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan pendidikan sebagai proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pembelajaran dan pelatihan.

Pendidikan karakter merupakan usaha sadar yang terdencana dalam menanamkan nilai-nilai posistif sehingga terinternalisasi dalam diri peserta didik yang mendorong dan membentuk sikap serta perilaku yang baik. Secara umum masyarakat menilai bahwa manusia yang memiliki karakter baik adalah manusia yang memiliki kepribadian yang baik, seperti jujur, suka menolong, rendah hati, dan cinta damai. Sedangkan manusia yang berkarakter buruk adalah manusia yang memiliki kepribadian tidak baik, seperti suka berbohong, curang, rakus, dan tidak menghargai orang lain. Jadi, dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan sifat alami yang ada pada diri seseorang yang bersifat unik dan berbeda dengan orang lain yang terbentuk karena pengaruhi hereditas maupun lingkungan yang diwujudkan dengan perilaku.

(8)

Pendidikan karakter tidak terfokus pada materi pembelajaran, namun pada aktivitas yang melekat, mengiringi, serta menyertainya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter tidak berbasis pada materi, melainkan pada kegiatan.Karakter dapat didefinisikan sebagai sifat seseorang, karakter, nilai- nilai, atau kualitas lain yang membedakannya dari orang lain. Berdasarkan definisi pendidikan dan karakter, maka pendidikan karakter dapat diartikan sebagai suatu proses penanaman prinsip moral dan nilai karakter melalui kegiatan pendidikan dalam rangka memperbaiki sikap dan karakter seseorang. Halomoan dan Luthfi (dalam Nursyamimi, 2023: 38) yang menegaskan pendidikan karakter merupakan upaya sadar untuk menjadi manusia yang baik dengan mengembangkan nilai-nilai pada perilaku seperti aspek kesadaran, pengetahuan dan perbuatan guna mewujudkan suatu hal yang berguna, melakukan hal baik kepada diri sendiri, alam sekitar, Tuhan, orang lain serta semesta dan kebangsaan.

Pembentukan karakter juga bisa dilakukan dengan penyampaian materi lalu diwujudkan pada dunia nyata setiap hari dengan perbuatan yang nyata.

Untuk mempertahankan perwujudan pendidikan karakter pada satuan pendidikan, teradapat delapan belas nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yang berasal dari agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional.

Samani dan Hariyanto (2018: 45) menjelaskan bahwa “pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa”.

Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi pengetahuan, kesadaran, dan tindakan kepada warga sekolah melalui metode pembiasaan, keteladanan, dan pengajaran (Kurniasih dan Sani, 2017: 7).

Di Indonesia, pendidikan karakter dilaksanakan atas pertimbangan dalam rangka mewujudkan karakter bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai karakter bangsa. Usaha untuk mewujudkan hal tersebut dibuktikan dengan adanyaPeraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Perpres ini menyebutkan bahwa

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter

(9)

peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang dilaksanakan melalui metode pembiasaan, keteladanan, dan pengajaran dengan tujuan menguatkan dan mengembangkan perilaku peserta didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter.

2.4.1 Tujuan Pendidikan Karakter

Tujuan pendidikan karakter tidak lepas dari tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan bukan hanya mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimiliki peserta didik saja, tetapi juga mengarah pada pengembangan karakter peserta didik. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter peserta didik sesuai dengan standar kompetensi lulusan setiap satuan pendidikan (Mulyasa, 2014: 9).

Pendidikan karakter di Indonesia berlandaskan pada Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 yang dilatar belakangi oleh realitas permasalahan bangsa saat ini seperti kekacauan dan nilai-nilai Pancasila yang belum dilaksanakan, pergeseran nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hilangnya kesadaran akan nilai-nilai budaya bangsa, ancaman perpecahan bangsa, dan memudarnya kemerdekaan bangsa. Pemerintah telah menetapkan pendidikan karakter sebagai salah satu program utama pembangunan nasional dalam rangka mendukung pelaksanaan cita-cita pembangunan karakter yang digariskan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 serta untuk menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi bangsa saat ini. Hal tersebut secara implisit dijelaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025, di mana pendidikan karakter dijadikan sebagai landasan untuk mencapai tujuan pembangunan nasionali, yaitu “mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia,

(10)

bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”.

(Kemendiknas, 2011).

Sejalan dengan penyelenggaraan pendidikan karakter oleh pemerintah, maka pendidikan karakter harus dikembangkan melalui pembelajaran di kelas.

Mempelajari sastra dan budaya daerah yang sesuai dengan karakteristik peserta didik merupakan salah satu metode pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.

Pembelajaran sastra dapat dijadikan sebagai media penanaman nilai-nilai pendidikan karakter. Hal ini dapat dikaitkan dengan fungsi utama sastra yang meliputi pengembangan karakter moral, menumbuhkan rasa kemanusiaan dan tanggung jawab sosial, meningkatkan kesadaran budaya, mengarahkan pikiran dan imajinasi, dan menumbuhkan ekspresi positif dan konstruktif. Mempelajari sastra yang selaras dengan pengembangan karakter peserta didik dapat membantu mereka mempelajari berbagai keterampilan, antara lain memahami hakikat manusia, mengenal nilai-nilai, mengembangkan ide-ide baru, mengolah pengetahuan sosial budaya, mengembangkan rasa dan karsa, serta menciptakan perilaku dan kepribadian yang baik dengan menumbuhkan kesadaran membaca dan menulis karya sastra. Pembelajaran yang dapat meningkatkan fungsi kogintif umum pada peserta didik dapat ditemukan pada kegiatan apresiasi sastra.

Sedangkan mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), PPK memiliki tujuan sebagai berikut,

1)membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan; 2) mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia; dan 3) merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik,

(11)

masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan PPK.

Salah satu tujuan pendidikan karakter adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan dan kinerja pendidikan di sekolah dengan membangun karakter peserta didik yang utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Pendidikan karakter merupakan strategi untuk membantu peserta didik mengidentifikasi dan menginternalisasikan nilai-nilai moral sehingga dapat berperilaku baik sebagai insan kamil. Apresiasi sastra dapat membantu peserta didik meningkatkan kecerdasan intelektual dan emosional yang meliputi sikap tangguh, inisiatif, dan optimis dalam menghadapi tantangan. Hal tersebut disebabkan karena sastra merupakan cerminan budaya masyarakat dengan segala permasalahannya. Selain melalui pembelajaran di sekolah, pendidikan karakter juga dapat disosialisasikan melalui media lain, seperti keluarga, masyarakat, pemerintah, dunia kerja, dan media elektronik/massa (Kemendiknas, 2011). Jadi peneliti menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan karakter yaitu untuk menerapkan nilai-nilai karakter yang dianggap penting dan meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter peserta didik. Hal tersebut juga dimaksudkan sebagai bekal bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan-tantangan di masa depan.

2.4.2 Fungsi Pendidikan Karakter

Menurut Kemendiknas (2011) pendidikan karakter berfungsi untuk mengembangkan potensi dasar peserta didik agar berakhlak mulia, berakal sehat, dan berperilaku baik, serta memperkuat karakter bangsa yang multikultural dan berdaya saing dalam hubungan internasional. Secara khusus Direktorat Pendidikan Tinggi mengungkapkan bahwa terdapat tiga fungsi utama pendidikan karakter, yaitu:

1. Fungsi Pembentukan dan Pengembangan Potensi Menurut falsafah hidup Pancasila, pendidikan karakter memiliki tujuan untuk

(12)

membentuk dan mengembangkan potensi manusia agar dapat berpikiran baik, berakhlak mulia, dan berperilaku baik.

2. Fungsi Perbaikan dan Penguatan Pendidikan karakter memiliki fungsi untuk mengubah karakter yang buruk menjadi positif dan juga memperkuat peran keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan potensi manusia dan mewujudkan bangsa yang berbudi luhur.

3. Fungsi Penyaring Pendidikan karakter berfungsi menyaring norma- norma budaya baik bangsa sendiri maupun bangsa lain untuk menciptakan menusia yang bermoral kuat dan menjadikan bangsa yang bermartabat.

2.4.3 Tujuan Pendidikan Karakter

Menurut (Kemendiknas, 2011) pada dasarnya tujuan pendidikan karakter adalah memperkuat serat moral bangsa sehingga cita-cita luhur Pancasila dapat tercapai. Tujuan pendidikan karakter dibuat yaitu untuk meningkatkan budaya moral peserta didik dan membekali mereka dengan keterampilan yang diperlukan untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat yang manusiawi. Semakin manusiawi maka semakin mampu seseorang untuk bertindak secara bermoral dan berkembang menjadi anggota masyarakaat yang berkontribusi. Pendidikan karakter wajib mengajarkan dan membantu peserta didik menghayati nilai-nilai kebajikan. Adapun tujuan pendidikan karakter bangsa di antaranya sebagai berikut.

1. Mengembangkan kecerdasan intelektual peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki kesadaran diri dan nilai-nilai budaya.

2. Membantu peserta didik mengembangkan sikap dan perilaku terpuji yang sejalan dengan karakter bangsa, nilai-nilai umum, dan adat istiadat.

3. Mendorong peserta didik untuk mengambil kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai warga negara di masa depan.

(13)

4. Menumbuhkan kemampuan peserta didik untuk berkembang menjadi individu yang mandiri, imajinatif, dan berpikiran terbuka.

5. Mewujudkan suasana belajar di sekolah yang aman, berhasil, jujur, dan bermasyarakat, serta berwawasan kebangsaan yang tinggi dan kuat. (Sukatin & M. Shoffa Saifillah Al-Faruq, 2021).

Sedangkan secara operasional, tujuan pendidikan karakter dalam lingkungan sekolah adalah sebagai berikut.

1. Mengembangkan dan memperkuat nilai-nilai yang dipandang penting untuk diinternalisasi guna membantu peserta didik tumbuh menjadi individu yang bermoral dan berkarakter. Tujuan ini berarti bahwa pendidikan karakter membantu peserta didik dalam mengembangkan nilai-nilai penting sehingga mereka dapat menerapkannya dalam perilaku mereka, baik di dalam maupun di luar kelas.

2. Memperbaiki perilaku peserta didik yang berlawanan dengan nilai- nilai yang ditetapkan sekolah. Artinya pendidikan karakter berusaha mengubah berbagai perilaku peserta didik yang kurang baik menjadi lebih positif.

3. Membina hubungan positif dengan keluarga dan masyarakat luas dalam menjalankan kewajiban moral bersama. Tujuan ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter di sekolah dan pendidikan berbasis keluarga tidak dapat dipisahkan. (Indrawan et al., 2020).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan kualitas kinerja dan hasil pendidikan yang tercapainya pengembangan karakter terpuji peserta didik secara utuh, sistematis, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan.

Pendidikan karakter dapat mewujudkan bangsa yang berlandaskan Pancasila dan berdaya saing, bermoral, dermawan, toleran, dan saling tolong menolong, serta dapat mewujudkan bangsa yang berjiwa nasionalis, paham ilmu pengetahuan dan teknologi, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri

(14)

mengembangkan dan memanfaatkan pengetahuannya, serta mengenal dan menerapkan nilai-nilai karakter dan akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

2.4.4 Nilai- nilai dalam Pendidikan Karakter

Secara umum, nilai-nilai karakter atau budi pekerti menggambarkan sikap dan perilaku dalam hubungan dengan Tuhan, diri sendiri, masyarakat dan alam sekitar. Mengutip dari pendapatLickona (1991), “pendidikan karakter secara psikologis harus mencakup dimensi penalaran berlandaskan moral (moral reasoning), perasaan berlandasan moral (moral behaviour). Dalam rangka memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter, ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas.

Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. Ada 18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter, yaitu sebagai berikut (Kemendiknas, 2014):

1. Religius, sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain

2. Jujur, perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi, sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin, tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

5. Kerja Keras, kegiatan yang dikerjakan secara sungguh-sungguh tanpa mengenal lelah atau berhenti sebelum target kerja tercapai dan selalu mengutamakan kepuasan hasil pada setiap kegiatan yang dilakukan.

6. Kreatif, berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

(15)

7. Mandiri, sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas

8. Demokratis, cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa ingin tahu, sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat dan didengar.

10. Semangat kebangsaan, cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air, cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Menghargai Prestasi, sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain

13. Bersahabat/ Komunikatif, sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.

14. Cinta Damai, sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.

15. Gemar membaca, kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya

16. Peduli lingkungan, Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk mmperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli social, sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggungjawab, sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri,

(16)

masyarakat, lingkungan (alam, social, dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai tersebut diperlukan untuk mendukung pembentukan keutuhan karakter pribadi peserta didik dengan saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lain serta berkembang secara dinamis. Nilai-nilai utama karakter ini harus dikembangkan sepenuhnya oleh individu dan lembaga pendidikan, baik secara kontekstual maupun universal. Melalui semua mata pelajaran yang dipelajari di sekolah, peserta didik akan diajarkan dan diimplementasikan nilai nilai karakter tersebut secara terpadu. Selain itu, nilai-nilai tersebut juga dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler serta pada program, peraturan, dan regulasi sekolah serta lingkungan sosial budaya sekolah. Melalui cara-cara tersebut, peserta didik akan dibiasakan untuk menerapkan kelima nilai utama karakter tersebut dalam tata pergaulan sosial di sekolah.

2.5 Nilai Perjuangan

Pengertian nilai menurut Bagus (Uhi, 2016: 67), nilai secara umum berarti sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Biasanya nilai digunakan untuk merujuk pada kata benda yang abstrak, yang dapat diartikan sebagai kebaikan atau keberhargaan. Nilai berasal dari bahasa Inggris yaitu value dan dalam bahasa latin yaitu valere yang berarti kuat, berlaku, berdaya dan berguna. Nilai adalah ide-ide tentang apa yang baik, benar dan adil. Pengertian nilai menurut Rokeach (Liliweri, 2014:55) adalah sebagai salah satu unsur pembentukan orientasi budaya, nilai melibatkan konsep budaya yang meganggap sesuatu itu sebagai naik atau buruk, benar atau salah, adil atau tidak adil, cantik atau jelek, bersih atau kotor, berharga atau tidak berharga, cocok atau tidak cocok dan baik atau kejam. Perjuangan merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan, yang dilakukan dengan menempuh berbagai kesulitan serta dilakukan dengan kekuatan fisik maupun mental. Menurut Alwi, dkk (2007: 478), pengertian perjuangan adalah 1) Perkelahian (merebut sesuatu); peperangan; 2)

(17)

usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya; 3) Salah satu wujud interaksi sosial, termasuk persaingan, pelanggaran, dan konflik. Perjuangan tidak terlepas dari masalah struktur sosial yang mendukungnya.

Perjuangan adalah suatu usaha yang penuh dengan kesukaran untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Istilah perjuangan juga mengandung makna aktivitas, maksudnya adalah aktivitas memperebutkan dan mengusahakan tercapainya sesuatu tujuan dengan menggunakan tenaga, pikiran dan kemauan yang keras, bahkan jika perlu dengan cara berkelahi atau bahkan berperang.

Prinsip perjuangan hidup itu berupa tindakan nyata. Sering digambarkan dengan cara melakukan suatu tindakan atau mengambil aksi untuk menghadapi atau mengubah suatu kondisi. Perjuangan akan berpihak pada seseorang atau sesuatu yang yang kita anggap penting (Joyomartono 1990: 4-5). Perjuangan tidak hanya pada konteks sebagai usaha untuk mencapai kemerdekaan secara mutlak melainkan juga usaha-usaha untuk mempertahankannya. Hal ini diungkapkan oleh Mani dalam jejak revolusi 1945 yang menyatakan adanya perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan. (Mani, 1989: 90). Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perjuangan merupakan suatu usaha seseorang dalam menghadapi atau mencapai sesuatu yang diinginkan.

Perjuangan biasanya berupa tindakan atau aksi nyata yang langsung dilakukan oleh seseorang di dalam menggapai keinginannya. Perjuangan adalah berbagai usaha yang dilakukan oleh para pejuang bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan dengan kekuatan fisik maupun mental untuk mempertahankan kemerdekaan dengan menggunakan sistem organisasi yang teratur.

Memperjuangkan sesuatu yang diinginkan tidak bisa begitu saja dicapai, tapi harus melewati suatu proses karena untuk memperjuangkan sesuatu yang dicita- citakan, diperlukan niat tulus dan jiwa pantang menyerah.

Berdasarkan pengertian nilai dan perjuangan diatas, dapat disimpulan bahwa pengertian dari nilai perjuangan adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sifat, mutu atau keadaan tertetu yang berguna bagi manusia maupun kemanusiaan yang berkaitan dengan suatu upaya yang tak kenal lelah. Nilai perjuangan dalam Sejarah Indonesia dimaksudkan untuk menggambarkan

(18)

semangat atau daya dorong untuk melawan penjajahan baik Belanda maupun Jepang dan membawa bangsa Indonesia pada kemerdekaan. Usaha perlawanan tersebut tidak hanya terbatas pada usaha untuk mencapai kemerdekaan tapi juga untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Nilai perjuangan adalah hasil jerih payah seseorang untuk menanggung pengalaman, tantangan, dan masalah hidup ini. Nilai perjuangan diakui, digali dan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Joyomartono (1990: 5), prinsip perjuangan dapat dianalisis lebih lanjut menjadi beberapa nilai yang terkandung dalam perjuangan, seperti nilai rela berkorban, nilai persatuan, nilai harga- menghargai, nilai semangat dan pantang menyerah, dan nilai kerja sama. Nilai perjuangan diantaranya adalah:

1. Nilai Rela Berkorban

Nilai pengorbanan adalah sikap dan perilaku bertindak dengan integritas dan mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Nilai pengorbanan adalah percikan jiwa atau semangat manusia yang menghadapi tantangan dari dalam dan luar. Ruh atau semangat NKRI lainnya adalah contoh ruh dan semangat yang mengandung nilai pengorbanan. Dalam hal ini, jiwa dan semangat warga negara Indonesia rela berkorban untuk memperjuangkan NKRI. Tindakan mereka didasarkan pada prinsip bahwa lebih baik mati di bumi daripada hidup sebagai mayat, atau prinsip kemerdekaan atau kematian. Pengorbanan adalah hal yang sangat diperlukan untuk berperang. Joyo Martono dkk (1990: 6) menyatakan bahwa rela berkorban sangat penting dalam peperangan. Karena tanpa pengorbanan yang tulus, Anda tidak akan pernah mencapai kesuksesan besar dalam perjuangan Anda.

2. Nilai Persatuan

Nilai persatuan sebagai kelanjutan dari nilai pengorbanan sangat menentukan dalam perjuangan hidup. Nilai kesatuan melibatkan pemahaman penyatuan pola yang berbeda yang berbeda secara keseluruhan. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Berbeda suku dengan adat yang berbeda, berbeda agama yang dianut dan berbeda bahasa yang digunakan juga

(19)

memberikan peluang mudah untuk terjadinya perbedaan. Namun, perbedaan ini dapat dihilangkan jika setiap orang memiliki rasa solidaritas yang kuat.

Sehingga dasar negara kita yang Bhinneka Tunggal Ika benar-benar dapat dijadikan pedoman bagi seluruh rakyat Indonesia untuk saling berinteraksi dan melindungi seluruh wilayah negara dan wilayah Indonesia. Nilai persatuan telah dibangun melalui sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Perkembangannya dimulai pada tahun 1908, matang pada tahun 1928, dan mencapai puncaknya pada Deklarasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus.

1945 (Joyo Martono 1990: 6). Dapat disimpulkan bahwa nilai persatuan juga termasuk sangat penting dalam nilai perjuangan. Seperti contoh bangsa Indonesia bisa merdeka karena bersatu melawan penjajah.

3. Nilai Harga-Menghargai

Joyomartono dkk. (1990: 7) menyatakan bahwa evolusi nilai menghargai yang telah berkembang sepanjang sejarah bangsa kita pada akhirnya membimbing kita semua dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Sebagaimana dengan nilai persatuan, nilai harga-menghargai sangatlah penting bagi kehidupan karena kita bisa dihargai orang itu kembali lagi pada diri kita, bila kita acuh-tak acuh kepada sesama manusia bagaimana kita bisa dihargai. Oleh karena itu timbal balik harga-menghargai perlu kita tingakatkan dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita menghargai dan berbuat baik kepada seseorang pastinya kita akan dihargai seseorang.

4. Nilai Semangat dan Pantang Menyerah

Nilai semangat dan ketekunan sangat penting saat melakukan perjuangan. Sekalipun banyak pertempuran kita gagal di tahap awal, kita harus menjaga semangat dan ketekunan kita dan memberikan yang terbaik. Dengan sikap tegas dan tantangan terus-menerus, kita pasti akan berhasil suatu saat nanti. Sikap riang adalah kunci sukses dalam perjuangan. Jika Anda gagal dalam perjalanan perjuangan ini, itu normal, dan jika Anda ingin mencoba lagi, itu bukan akhir dari cerita. Tetapi jika Anda menyerah terlalu cepat karena kegagalan ini, itu benar-benar berakhir dan kesuksesan selamanya jauh.

Oleh karena itu, dalam melakukan perjuangan dalam hidup ini kita harus

(20)

mempunyai sikap sabar, tetap semangat dan pantang menyerah. Dan dalam melakukan nilai perjuangan, nilai sabar dan semangat pantang menyerah sangat penting karena kita juga harus bisa kontrol kesabaran. Kita tarik benang merah untuk bila tidak bisa sabar pasti juga tidak disebut nilai perjuangan.

Terlebih lagi pantang menyerah, sebagai manusia haruslah jangan mudah menyerah karena perjuangan tidak kenal kata menyerah. Jadi nilai sabar dan semangat pantang menyerah harus dipenuhi sebagai syarat nilai perjuangan.

5. Nilai Kerja Sama

Nilai kerja sama inilah yang mendasari aktivitas masyarakat Indonesia yang lebih suka bekerja sama dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan semangat kekeluargaan. Semangat gotong royong ini terpancar ketika masyarakat menghadapi masalah. Komunitas pertama-tama mendiskusikan masalah ini dan kemudian bekerja sama. Pepatah Indonesia yang menggambarkan semangat gotong royong adalah, “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”. Seperti nilai-nilai perjuangan lainnya, nilai kerjasama telah tertanam dalam budaya masyarakat Indonesia. Misalnya gotong royong dan perjuangan bersama untuk kemerdekaan negara kita (Joyomartono 1990:

7).

Referensi

Dokumen terkait

Program inti plasma dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit memerlukan keseriusan baik pihak petani selaku plasma yang mendapat bantuan dalam upaya mengembangkan

Pendidikan karakter sebagai rangkaian penanaman nilai karakter kepada individu sekolah yang mencakup segmen informasi, perhatian, keinginan dan aktivitas untuk

Dalam menjalankan aktivitas pembiayaan, bank atau lembaga keuangan lain tidak terlepas dari berbagai risiko yang akan menyertainya. Untuk itu dalam proses

Menurut Arbi Kompetensi sosial adalah kemampuan dalam membina dan mengembangkan interaksi sosial baik sebagai tenaga profesional maupun anggota masyarakat. 38

Pengendalian merupakan kegiatan pengadaan sistem pelaporan yang serasi dengan struktur pelaporan keseluruhan, mengembangkan standar perilaku, mengukur hasil

1) Memilih topik bacaan yang menarik perhatian siswa seperti membaca biografi, komik, atau bacaan yang dapat mengembangkan nilai-nilai karakter siswa. 2) Memberi tugas

1) Melalui penayangan model perilaku prososial, misalnya melalui media komunikasi massa. Sebab banyak perilaku manusia yang terbentuk melalui belajar sosial terutama

Dalm pemhaman Karate-do murni yang berlndaskan Zen ia tidak dianggap sebagai sebuah bentuk pertarungan, namun didefinisikan lebih jauh sebagai sebuah bentuk