BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 1. m
2. m
2.1. Gambaran Umum Kota Lama Semarang 2.1.1. Kondisi Geografis Kota Semarang
Kota Semarang merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah yang juga merupakan ibukota provinsi yang sangat strategis dan memiliki pusat kota dengan mempunyai banyak tempat menarik bagi para wisatawan dan warga Kota Semarang untuk berkumpul.
Posisi keberadaan Kota Semarang ini terletak di tengah-tengah Pantai Utara Jawa tepatnya pada pelintasan Jalur Jalan Utara Pulau Jawa yang menghubungkan Kota Surabaya dan Jakarta. Wilayah Kota Semarang ini tercatat memiliki luas sebesar 373,70 km². Secara geografis terletak antara garis 6°50' dan 7°40' Lintang Selatan dan antara 109°35' dan 110°50' Bujur Timur. Di sebelah barat berbatasan langsung dengan Kabupaten Kendal, di sebelah timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan, di sebelah selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Semarang dan sebelah utara berbatasan langsung dengan Laut Jawa.
Kota Semarang merupakan sebuah pondasi pembangunan di Jawa Tengah. Memiliki letak geografis strategis yang terdiri atas empat simpul pintu gerbang yaitu koridor pantai utara, koridor selatan, koridor timur, dan koridor barat. Dengan adanya pelabuhan di Kota Semarang menjadikan Kota Semarang sangat berperan penting dalam perkembangan dan pertumbuhan Jawa Tengah, di mana dengan adanya bandar udara yang sangat memiliki potensi bagi simpul transportasi Jawa Tengah. Dengan adanya pelabuhan untuk jaringan jalur transportasi laut dan jaringan transportasi darat (jalur kereta api dan jalan raya) serta jaringan transportasi udara.
2.1.2. Letak Demografis
Secara administratif, Kota Semarang terbagi atas 16 wilayah Kecamatan dan 177 Kelurahan. Pada setiap wilayah kecamatan terdiri atas 2 kecamatan terluas dan terkecil, bagian selatan yaitu Kecamatan Mijen dengan luas wilayah sebesar 57,55 km² dan Kecamatan Gunungpati dengan luas wilayah sebesar 54,11 km² menjadi kecamatan dengan wilayah terluas berupa wilayah perbukitan yang sebagian besar wilayahnya masih memiliki potensi pertanian dan perkebunan. Sementara wilayah kecamatan dengan luas terkecil, yaitu Kecamatan Semarang Selatan yang mempunyai luas wilayah 5,93 km², dan Kecamatan Semarang Tengah yang mempunyai luas wilayah sebesar 6,14 km². Kecamatan terkecil ini merupakan daerah pusat kota yang sekaligus sebagai pusat perekonomian atau bisnis kota Semarang
sehingga sebagian besar dari wilayahnya banyak terdapat bangunan bersejarah, seperti; Kawasan Simpang Lima, Kawasan Tugu Muda, Pasar Bulu, Pasar Peterongan, Pasar Johar dan sekitarnya yang dikenal dengan “Kota Lama” Semarang.
Gambar 1.1 Peta Kota Semarang Sumber: Bappeda Kota Semarang
2.1.3. Luas Wilayah Kota Lama Semarang
Kota Semarang merupakan Ibukota Provinsi Jawa Tengah yang telah berdiri sejak tanggal 2 Mei 1547. Kota Semarang sebagai Kota Pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah, memiliki luas wilayah sebesar ±31,24 hektar atau 373,70 km2 yang berada di Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara. Merupakan satuan area yang mempunyai ciri khusus dan bentuknya menyerupai sebuah kota tersendiri. Batas Kawasan Kota Lama ialah Kali Semarang di sebelah barat, Jalan Stasiun Tawang di sebelah utara, Jalan Ronggowarsito di sebelah timur, dan Jalan Agus Salim di sebelah selatan. Sebelum tahun 1824 Kota Lama dilingkungi benteng berbetuk segi 5.
Kawasan Kota Lama termasuk kawasan dengan kepadatan tinggi. Struktur Kota Lama sebagai satuan area unik. Pola kawasan ini merupakan gabungan antara Kota Barat (Belanda) dengan lokal. Pada dasarnya pola yang terbentuk menjadi konsentrik yang menjadi pusat kegiatan dan arus pergerakan.
2.1.4. Perekonomian Daerah
Pertumbuhan ekonomi ikut andil dalam setiap dampak kehidupan, dimulai dengan dapat berdampak pada peningkatan pendapatan, yang pada akhirnya juga akan berpengaruh pada kecenderungan masyarakat yang memiliki gaya hidup konsumerisme.
Perkembangan pertumbuhan ekonomi Kota Semarang per tahun dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Sensus Penduduk dan Perhitungan Proyeksi Penduduk.
Tabel 1. Jumlah Penduduk Kota Semarang Tahun 2018-2022
Tahun Jumlah Penduduk (jiwa)
(1) (2)
2018 1.786.114
2019 1.814.110
2020 1.653.524
2021 1.656.564
2022 1.659.975
Sumber Data : Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS), Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), dan Sensus Penduduk
Secara spasial, pertumbuhan penduduk perkotaan tersebut tidak terkonsentrasi di suatu tempat tertentu, melainkan tersebar pada berbagai tempat terutama pada kawasan-kawasan perkotaan yang telah tumbuh dan berkembang. Dapat kita simpulan berdasarkan pada tabel tersebut, pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Kota Semarang mencapai angka kurang lebih 5,73%.
Tabel 2. Jumlah Penduduk Kota Semarang menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2022
Kelompok Umur
Laki-laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4)
0-4 59.101 56.283 115.384
5-9 61.895 59.196 121.061
10-14 63.815 60.517 124.332
15.19 65.937 61.897 127.834
20-24 62.965 60.391 123.356
25-29 64.097 63.745 127.842
30-34 65.280 66.154 131.434
35-39 67.209 68.102 135.311
40-44 66.353 68.052 134.405
45-49 59.709 62.734 122.443
50-54 52.471 56.542 109.113
55-59 45.089 50.074 95.163
Sumber Data : Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS), Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), dan Sensus Penduduk.
Tabel 3. Jumlah Angkatan Kerja Kota Semarang Tahun 2020-2022
Jenis Kegiatan Utama
2020 2021 2023
(1) (2) (3) (4)
Angkatan Kerja 1 023 964 1 034 794 1 075 827
Bekerja 963 076 994 091 994 091
Pengangguran Terbuka
98 001 98 718 81 736
Bukan Angkatan Kerja
441 157 455 948 440 370
Sekolah 151 538 165 797 139 678
Mengurus Rumah
Tangga 232 208 222 279 241 445
Lainnya 57 411 67 872 59 247
Jumlah 1 465 121 1 490 742 1 516 197
Sumber Data : Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS), Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), dan Sensus Penduduk
Tenaga kerja adalah penduduk yang telah memasuki usia kerja, baik yang sudah bekerja maupun aktif mencari kerja, maupun masih mau dan mampu untuk melakukan pekerjaan. Berdasarkan UU No 13.
tahun 2003, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat.
Tabel 4. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Semarang menurut Jenis Kelamin Tahun 2018-2022
Tahun Laki-laki Perempuan Kota Semarang
(1) (2) (3) (4)
2018 6,84 3,20 5,29
2019 4,12 5,07 4,54
2020 10,08 8,94 9,57
2021 10,01 8,94 9,54
2022 9,91 4,46 7,60
Sumber Data : Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS), Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), dan Sensus Penduduk
Penduduk adalah orang yang mendiami suatu wilayah.
Penduduk yang sudah memasuki usia kerja, baik yang sudah bekerja, belum bekerja, atau sedang mencari pekerjaan disebut angkatan kerja.
Jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan kesempatan kerja mengakibatkan tidak semua angkatan kerja dapat diserap oleh lapangan kerja disebut pengangguran. Menurut N. Gregory Mankiw (2006:154-155) pengangguran adalah orang yang tidak mempunyai pekerjaan, sedang mencari pekerjaan, atau sedang mempersiapkan suatu usaha baru. Sedangkan tingkat pengangguran adalah perbandingan antara jumlah pengangguran dan jumlah angkatan kerja dalam kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam bentuk persentase.
Jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan kesempatan kerja mengakibatkan tidak semua angkatan kerja dapat diserap oleh lapangan kerja. Di beberapa kasus Indonesia, banyaknya pengangguran dikarenakan angkatan kerja tidak dapat memenuhi semua kriteria atau kualifikasi yang telah ditentukan oleh dunia usaha.
Dari persentase penduduk pada tabel di atas merupakan angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan, yang mempersiapkan usaha, yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin, yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja dari sejumlah angkatan kerja yang ada.
2.1.5. Potensi Kota Lama Semarang
Kota Semarang disebut dalam perjalanan waktunya terus tumbuh dan berkembang mulai dari awal abad 20 hingga era kemerdekaan di tahun 1945 sampai dengan tahun 1950 terus hingga ke era pembangunan tahun 1970 hingga 1990-an. Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat dari Kota Semarang terjadi terutama pada kurun waktu 1980-an hingga 1998 di mana pembangunan industri properti dan kawasan perumahan baru banyak bermunculan.
Bangunan-bangunan besar dan megah juga terlihat didirikan pada periode tersebut terutama di kota-kota besar skala metropolitan,
seperti: Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar (Fahrika, A I, SE.,M.Si & Zulkifli, S.Pd.,M.Si, 2020).
Jika dilihat dari sejarah, kawasan Kota Lama Semarang merupakan cikal bakal dari pembangunan Kota Semarang. Pada awalnya kawasan Kota Lama Semarang ini dijadikan sebagai pusat pemerintahan, perkantoran, dan perdagangan. Secara umum karakter bangunan di wilayah Kota Lama Semarang mengikuti bangunan- bangunan di benua Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini dapat dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa, seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, hingga adanya ruang bawah tanah. Bangunan-bangunan peninggalan sejarah masa lalu, seperti Gereja Blenduk, Gedung Marba, Pasar Johar, Gedung Marabunta, dan masih banyak lagi. Kota Lama Semarang merupakan bentuk visualisasi kemewahan dan kemegahan arsitektur Eropa di masa lalu. Itulah sebabnya Kota Lama dijuluki sebagai Little Netherland yang berada di Indonesia dengan lokasi yang terpisah dengan lanskap mirip dengan kota-kota di Eropa dan dikelilingi kanal- kanal air yang membuat Kota Lama seperti miniatur dari Negeri Kincir Angin tersebut. Tak sedikit titik-titik di Kota Lama yang dapat dijadikan tempat wisata yang bernuansa vintage, seperti Taman Garuda, area perempatan jalan antara Jalan Garuda, Jalan Gelatik, dan Jalan Jendral Soeprapto, Gereja Blenduk, dan masih banyak lagi.
Kawasan Kota Lama tidak hanya menjadi pusat pemerintahan namun juga pusat perdagangan di Kota Semarang pada zaman penjajahan Belanda. Bangunan-bangunan gedung yang berupa bank, gudang penyimpanan, kantor, dan juga bangunan peribadatan merupakan beberapa sisa peninggalan kolonial yang sampai sekarang masih dapat dinikmati. Hampir semua bangunan sisa peninggalan penjajahan masih berdiri kokoh namun tidak terawat dengan baik. Saat ini, sudah mulai dibenahi bangunan-bangunan yang tidak terpakai dan terawat sebagai bangunan komersial berupa kafe, museum, maupun tempat-tempat pameran. Selain bangunan fisiknya, kawasan Kota Lama juga semakin tidak terawat dari sisi kebersihan lingkungan alaminya seperti Sungai Mberok yang tampak sangat kumuh dan bau bangunan liar yang berada di sekitar bantaran kali. Bangunan- bangunan yang ada di Kota Lama Semarang umumnya milik individu, hal ini menjadikan langkah untuk mengembangkan Kota Lama Semarang menjadi terhambat. Klaim atas kepemilikan lahan ini biasanya didapatkan atas sertifikat turun temurun yang sekarang bangunan-bangunan tersebut kebanyakan dijadikan sebagai gudang penyimpanan barang usaha. Kualitas lingkungan Kota Semarang yang buruk menambah masalah rumit atas pengembangan Kawasan Kota
Lama Semarang. Bencana banjir dan rob yang masih sering terjadi wilayah Semarang Utara berdampak kepada Kota Lama.
Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah dan termasuk dalam kategori kota besar di Indonesia yang memiliki ketiga aspek utama dari pengembangan kota berkelanjutan, yaitu pengembangan kota dengan mengedepankan keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan hidup, dan perlindungan cagar budaya yang ada di dalamnya. Saat ini oleh Pemerintah Pusat, Kota Semarang juga dinominasikan ke dalam 10 Kota Pusaka Nasional untuk diusulkan sebagai World Heritage ke UNESCO.
Untuk menuju warisan Kota Pusaka Dunia harus memenuhi satu atau lebih kriteria Outstanding Universal Value (OUV) yang merupakan keunggulan nilai budaya dan/atau alam yang penting dan istimewa, melampaui batas-batas nasional, dan memiliki nilai penting bagi umat manusia masa kini maupun mendatang. Kawasan Kota Lama Semarang memiliki keunikan tersendiri dalam hal pengaruh budaya Belanda yang berpadu dengan budaya Jawa pada arsitektur dan budaya masyarakat. Saat ini di dalam Grand Design Kawasan Kota Lama yang disusun oleh BAPPEDA memiliki visi yaitu menjadikan Kawasan Kota Lama Semarang sebagai tujuan wisata dunia 2020 (Dewantara, G.A.H. & Astuti, P., 2017).
Sebagai sebuah kota peninggalan kolonial yang penuh sejarah, Kota Lama dapat dijadikan sebagai obyek pariwisata yang unik dengan mengusung nilai sejarah berkembangnya Kota Semarang. Sebagian besar bangunan yang berada di Kota Semarang merupakan peninggalan sejarah masa lalu yang pantas dilestarikan. Dengan banyaknya bangunan yang memiliki ciri arsitektur Kolonial Belanda sebagai obyek wisata tentu akan menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke kawasan tersebut (Sukawi, 2008).
Konservasi kawasan bersejarah tak hanya merupakan kegiatan pelestarian cagar budaya, namun dapat juga menghasilkan benefit lain berupa menjadi sumber pendapatan masyarakat dan pemerintah daerah.
Adanya konservasi kawasan diperlukan untuk memberikan perlindungan terhadap kawasan bersejarah di Kota Semarang dari gencarnya pembangunan kota pun juga termasuk untuk mengendalikan perkembangan kawasan tersebut agar tidak hilang identitas kesejarahaan dan kebudayaannya. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya memberikan arahan dan jaminan untuk kegiatan konservasi ini.
Melihat bentuk tata Kota Semarang pada zaman sekarang, maka sebenarnya masih nampak sedikit berkumpulnya kawasan- kawasan lama di Semarang. Sebagai titik sentral adalah jembatan Kali Mberok, maka Kampung Melayu berada di sebelah utara yang terdapat jalan Layur dan Masjid Menara. Sementara Little Netherland berada di
sebelah timur yang sekarang menjadi Kawasan Kota Lama dan berjajar gedung-gedung pemerintah Belanda ke arah barat hingga ke Bundaran Tugu Muda. Sementara di sebelah barat Kali Mberok merupakan kawasan Kauman. Masyarakat Tionghoa lebih banyak berkumpul di selatan Kali Mberok yang sekarang menjadi kawasan Pecinan.
2.2. Pertumbuhan Kegiatan Ekonomi di Kota Semarang
Kehadiran pendatang membawa dampak pada konsekuensi terhadap pemenuhan kebutuhannya, baik kebutuhan akan tempat tinggal maupun kebutuhan lain yang terkait dengan kelangsungan hidup sehari-hari di Kota Semarang. Sehubungan dengan menjawab pemenuhan berbagai jenis kebutuhan pendatang yang sebagian besar adalah mahasiswa, mulailah penduduk asli melakukan berbagai usaha dari sewa kamar (kost), rental komputer, warung makan, fotokopi dan lain-lain. Keinginan masyarakat untuk turut andil dalam kegiatan penyediaan fasilitas penunjang mahasiswa telah mengakibatkan perubahan pola pikir, yaitu menganggap rumah sebagai komoditas ekonomi yang bisa dikembangkan. Dari sini mulai terjadilah perubahan ataupun penambahan fungi rumah, yang awalnya hanya berfungsi sebagai rumah tinggal kini menjadi rumah usaha. Sebagian besar rumah yang ada sudah bertambah fungsi sebagai rumah tinggal dan tempat usaha (mixed use function).
Dalam perkembangannya fungsi mixed use pada bangunan rumah juga menggambarkan status sosial-ekonomi tertentu bagi masyarakat. Berdasarkan hasil pengamatan mendalam, semakin dekat rumah penduduk dengan kampus, memiliki kecenderungan untuk merenovasi rumahnya menjadi rumah usaha, dan pemilik rumah secara otomatis dikenal sebagai pengusaha, baik itu pengusaha kost, pengusaha fotokopi, ataupun pengusaha lainnya. Catanese dan Snyder (1996) menyatakan bahwa sebuah rumah juga dinilai berdasarkan lokasi dan kualitasnya, sehingga bagi rumah-rumah yang memiliki lokasi relatif berdekatan dengan kampus dan memiliki kualitas bangunan yang baik, berarti juga memiliki nilai ekonomis yang relatif tinggi.
Pada tahun 1991-2000 (tahap II) di daerah Tembalang mulai terjadi perubahan mata pencaharian penduduk asli, yang semula sektor pertanian beralih ke sektor jasa dan perdagangan. Berubahnya mata pencaharian ini antara lain disebabkan berkurangnya lahan atau pekarangan yang menghasilkan buah-buahan maupun lahan persawahan sebagai akibat makin luasnya areal perumahan yang dibangun. Temuan penelitian menunjukkan bahwa 58% responden sudah pernah merenovasi rumah sejak awal tinggal, 30% responden melakukan renovasi dengan memperluas bangunan rumahnya.
Pada kondisi rumah tinggal dengan luas lahan relatif terbatas, rumah tinggal lebih difungsikan sebagai warung makan ataupun toko kelontong yang menyediakan bahan kebutuhan sehari-hari, baik dengan sasaran para mahasiswa maupun penduduk yang tinggal di daerah-daerah perumahan baru.
Dengan semakin banyaknva kios ataupun toko kelontong tersebut
menunjukkan kemandirian masyarakat untuk menyuplai kebutuhannya, tidak lagi tergantung pada pusat kota (Samadikun, B.P.,dkk, 2014).
Permasalahan lingkungan yang muncul pada tahap kedua (1990-2000).
selain konversi lahan pertanian menjadi lahan terbangun adalah munculnya PKL (Pedagang Kaki Lima) di bahu jalan, gangguan pada sanitasi dan kesehatan masyarakat, dan gangguan pada saluran drainase akibat sambah penduduk dan PKL. Pada tahap III (2000-2010) sektor pertanian dan perkebunan hampir sepenuhnya ditinggalkan oleh penduduk, karena mayoritas mengalami perubahan pola pikir, untuk lebih concern di sektor jasa dan perdagangan. Kondisi ini semakin dimantapkan pada tahap IV (2010-2014) dengan semakin jarangnya penduduk yang bekerja di sektor pertanian ataupun perkebunan, dan lebih memilih untuk bekerja di sektor jasa dan perdagangan karena dinilai lebih prospektif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan pokok responden sebagian besar adalah swasta. yaitu sebanyak 27%
dari total responden, peringkat selanjutnya adalah PNS/ABRI sebanyak 24%, pekerjaan lainnya (selain PNS, swasta, atau wiraswasta) sebanyak 23%, wiraswasta 14%, dan pensiunan sebanyak 12% (Samadikun, B.P., Sudibyakto, S., Setiawan, B. and Rijanta, R., 2014).
Penduduk pendatang yang terus bertambah pada periode 2000-2010 (tahap III) dan periode 2010-2014 (tahap IV), semakin mendorong penduduk asli untuk melakukan usaha sampingan. Walaupun pada awalnva. penduduk asli tidak terpikir (tidak tertarik) untuk melakukan usaha, tetapi karena permintaan pasar yang sedemikian besar dan adanya investor yang berasal dari luar membuka usaha di Kawasan Kota Lama Semarang, akhirnva penduduk asli termotivasi dan terdorong untuk membuka usaha, ikut bersaing dengan para investor dari luar. Hal ini dibuktikan dengan mayoritas responden (64%) yang membunyai usaha sampingan disamping pekerjaan pokoknya dan hanya 36% responden yang tidak melakukan usaha (Samadikun, B.P., Sudibyakto, S., Setiawan, B. and Rijanta, R., 2014).
Secara berangsur-angsur namun pasti pergeseran mata pencaharian penduduk dari sektor pertanian menjadi sektor perdagangan dan jasa dari mulai tahap II sampai dengan tahap IV, telah merubah kondisi perekonomian masyarakat menjadi lebih baik. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan kondisi finansial masyarakat Kota Lama Semarang. Sehingga menyebabkan semakin tampaknya strata sosial atau status sosial di daerah ini. Hal tersebut semakin didukung oleh bentuk rumah penduduk Kota Lama Semarang yang sebagian besar telah mengalami renovasi untuk dijadikan sebagai rumah usaha. Anderson dan Parker (Susanto, 1985) menyatakan bahwa bentuk rumah, pekerjaan (profesi), dan sumber pendapatan merupakan indikator tentang penilaian subyektif seseorang mengenai lapisan (strata) masyarakatnya. Pada dua tahap awal (1980-2000), stratifikasi sosial memang belum terlalu nampak di Kawasan Kota Lama Semarang, tetapi seiring dengan akulturasi yang semakin terbentuk dan juga peningkatan kondisi perekonomian penduduk sekitar, maka pada dua tahap akhir (2000-2014)
stratifikasi sosial semakin terlihat menonjol dalam masyarakat. Pada tahap III - IV (2000-2014) kondisi infrastruktur di Kawasan Kota Lama Semarang semakin baik seiring dengan perkembangan dan pembangunan Kota Semarang (Samadikun, B.P., dkk, 2014).
2.2.1. Sejarah dan Keberadaan Restoran di Semarang
Pada awal abad XX, kehidupan bagi banyak orang Eropa di berbagai wilayah Jawa maupun Hindia Belanda mirip dengan negara asalnya. Seperti yang digambarkan oleh Susan Blackburn, pada tahun 1920-an dan 1930-an, kehidupan orang Eropa di Batavia sangat mirip dengan negara asalnya (Blackburn, 2011:158). Hiburan orang Eropa tidak boleh dihadiri komunitas lain kecuali orang-orang Bumiputra, Cina, dan Arab yang sangat kaya. Pelampiasan hiburan bagi orang- orang Eropa maupun yang termasuk golongan-golongan di dalamnya lebih banyak didasarkan pada budaya asal Eropa.
Dalam setiap kesempatan hiburan, yang tidak bisa dilepaskan dari ritual pesta adalah tradisi untuk minum-minuman keras. Bagi mereka, minuman keras sudah menjadi minuman wajib bagi mereka, sama halnya seperti minuman teh bagi orang Timur Asing dan Bumiputra yang sudah menjadi keseharian, demikian pula minuman keras bagi orang-orang Eropa dan Amerika. Meskipun pada masing- masing golongan masyarakat juga sudah memiliki tradisi dalam minuman keras, akan tetapi ketika dihadapkan pada simbol eksklusif status sosial masyarakat, mau tidak mau selalu mengacu pada golongan status sosial yang paling tinggi.
Proses modernisasi yang terjadi akibat interaksi intensif antara orang-orang Eropa dan elit birokrasi Bumiputra mengakibatkan dominasi kebudayaan modern Barat atas kebudayaan Bumiputra yang oleh Wertheim disebut sebagai Westernisasi (Wertheim, 1999:234).
Namun, proses westernisasi sebenarnya hanya ditujukan untuk golongan elit Bumiputra dengan jalan pendidikan Barat sehingga sebagian besar arus modernisasi lebih tepatnya hanya terjadi di kalangan elit Bumiputra. Mobilitas sosial secara vertikal yang dialami masyarakat Bumiputra yang mengenyam pendidikan Barat dan menempati fungsi-fungsi tertentu dalam birokrasi pemerintah mengakibatkan terjadinya perubahan sistem kekerabatan besar dan fokus pada keluarga inti (Kartodirjdo 1990:166). Tingginya mobilitas manusia dalam kegiatan perekonomian serta tumbuhnya kebiasaan mengadakan rekreasi sebagai selingan penyegaran akibat kelelahan bekerja bagi kalangan elit memunculkan pertumbuhan jasa perhotelan maupun penginapan. Dalam gaya hidup sehari-hari, kalangan elit Eropa banyak memengaruhi elit Bumiputra berupa menu makanan, bentuk-bentuk hiburan, serta media sosialisasi. Kemampuan ekonomi elit Eropa telah memungkinkan mereka untuk memindahkan suasana
lingkungan budaya borjuasi Eropa tempat asal mereka ke dalam lingkungan baru di tanah jajahan Jawa. Maka, kemudian dibangun infrastruktur penunjang kebiasaan mereka seperti gedung kesenian, gedung bioskop, klub-klub eksklusif atau rumah bola (bilyar) serta restoran dan hotel (Riyanto 2000:196-197).
Di Semarang sendiri, untuk memenuhi selera hiburan mereka, dibangun Schouwburg et Hedele (gedung teater opera atau komedi) sebelum berubah nama menjadi gedung Marabunta. Di gedung ini sering dipentaskan komedi Stamboel. Stamboel merupakan istilah serapan dari kata Istanbul, yang merujuk pada nama kota di Turki, tempat komedi ini berkembang luas di daratan Eropa. Stamboel merupakan teater sandiwara keliling mirip sirkus di Eropa yang diadopsi di Hindia Belanda. Saking seringnya Komedi Stamboel dipentaskan di sana, maka nama jalan di depan gedung akhirnya juga dikenal dengan nama Komedistraat. Selain komedi, di sana kerap ditampilkan pula musik dan lagu-lagu dari para musisi dan penyanyi terkenal, juga beragam tarian, mulai dari tari tradisional hingga tari erotis. Marabunta mempunyai sebuah kantor di dalam gedung opera tersebut. Kapan berdirinya gedung Schouwburg sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti, kerena belum ada referensi petunjuk secara mutlak, namun beberapa ahli sejarah dan arkeologi di Kota Semarang berpendapat bahwa berdirinya Bangunan Schouwburg ini dimulai setelah pembongkaran benteng kota lama pada tahun 1824 dimana setelah pembongkaran benteng kota lama dan pengembangan jalur Jalan Pos Daendels terjadi banyak pembangunan gedung-gedung perkantoran dan pemukiman di kawasan Kota Lama Semarang. Hal ini juga diperkuat dengan peta kuno kota lama tahun 1866 dimana pada peta tersebut Gedung Schouwburg sudah berdiri di kawasan Kota Lama. Setelah Schouwburg ambruk, di tahun 1995 pihak Marabunta meminta bantuan Presiden ke-2 Republik Indonesia alias Soeharto untuk merekontruksi kembali namun tidak merubah beberapa keaslian dari gedung ini (Djawahir Muhammad: 2010).
Sumber foto : De Schouwburg aan de Komediestraat (Jalan Cendrawasih) Semarang circa 1900 – 1910) sebagai gedung
opera atau komedi
Selain gedung kesenian, pengaruh kehidupan sehari-hari menurut tata cara budaya borjuasi Eropa dalam hal kebiasaan makan dan jenis makanannya sangat terlihat jelas. Berbagai makanan dan minuman yang selaras dengan lidah orang Eropa mulai banyak beredar di perkotaan. Produk-produk makan maupun minuman yang lazim dikonsumsi orang orang Eropa kemudian dikonsumsi pula oleh kalangan elit pribumi sebagai bentuk prestise sosial. Ladang bisnis baru ini sangat menguntungkan bagi para pengusaha dengan munculnya kebiasaan makan di restoran yang menjadi simbol prestise baru di kota-kota besar. Salah satu budaya borjuasi Barat yang menjadi simbol status baru kaum elit pribumi adalah minum-minuman yang mengandung alkohol (minuman keras). Berbagai lapisan masyarakat Bumiputera telah mulai mengkonsumsi berbagai merek minuman keras yang tentu saja disesuaikan dengan derajat dan kemampuan masing- masing kelompok masyarakat. Sebagai contoh pembanding, di Batavia banyak penduduk Bumiputera yang telah bertingkah laku seperti orang Barat yaitu makan kentang dan minuman-minuman keras atau beer (Hanna 1988:183). Isu modernisasi perilaku dan gaya hidup yang dibawa oleh “bangsa penjajah” telah menjadi bagian tak terpisahkan dari prestise sosial ini, tak terkecuali dalam budaya minum minuman keras.
2.2.2. Perkembangan Restoran di Semarang
Refreshing bagi beberapa orang bisa dilakukan dengan mengunjungi cafe atau resto di mana kita bisa bersantai, menikmati suasana sambil memanjakan perut. Dewasa ini kegunaan dari resto mulai bergeser. Resto bukan hanya sebagai tempat untuk makan.
Seiring perkembangan zaman resto juga digunakan tempat rapat atau pertemuan penting. Karena itulah bisnis cafe sekarang ini sangat berkembang pesat tidak hanya di kota besar tapi juga merambah ke kota-kota kecil di sekitarnya.
Pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah terus meningkat tiap tahunnya. Jawa Tengah mengalami pertumbuhan yang cukup drastis dari tahun 2018 ke tahun 2023. Sejalan dengan itu perkembangan bisnis di bidang restoran saat ini makin meningkat dan diminati oleh masyarakat luas. Hal itu menunjukkan bahwa peluang bisnis di Jawa Tengah ini semakin besar. Hal ini mengakibatkan persaingan antar lini produk restoran mulai dari bentuk bangunan, fasilitas restoran, hingga beberapa produk makanan yang menjadi daya tarik masyarakat. Semakin ketatnya persaingan menjadi tuntutan bagi restoran untuk memberikan kesan yang unik dan kepuasan bagi konsumen. Customer experience dan service quality dapat mempengaruhi kualitas restoran. Menurut Japarianto & Nugroho (2009), bahwa produk dan jasa yang baik tidak lagi menjadi keuntungan yang kompetitif pada saat ini apabila tidak diiringi dengan adanya pemberian pengalaman yang berkualitas bagi konsumen.
Berdasarkan data-data diatas, kita dapat melihat peluang yang didapatkan dari spesialisasi restoran di Indonesia sangat menguntungkan dan berpotensi besar. Gaya hidup masyarakat yang konsumtif juga berpengaruh kepada permintaan pasar akan desain komersial sehingga dituntut agar lebih banyak dan mengikuti perkembangan jaman. Perkembangan properti pada saat ini juga semakin meningkat jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama bisnis restoran semakin menjamur di Indonesia beberapa tahun terakhir. Kebutuhan masyarakat akan jasa konsultan yang semakin banyak, dan juga pertumbuhan bisnis restoran yang semakin meningkat untuk memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, dengan kualitas kerja yang profesional dan pelayanan maksimal. Jika dilihat dari jenis makanan yang ditawarkan, resto dan cafe yang ada saat ini sangat beragam. Mulai dari masakan Indonesia, Chinese food, Western food, dan lain sebagainya. Karena semakin berkembangnya, maka bisnis restoran pun semakin dilirik dan dituntut untuk sekreatif mungkin mengembangkan restonya agar unik dan senyaman mungkin untuk menarik perhatian pengunjung.
Pada zaman sekarang, banyak sekali bermunculan restoran sebagai media tempat hiburan. dan café baru dengan interior yang menarik sehingga masyarakat tertarik untuk mengunjungi tempat- tempat tersebut. Selain itu, tingginya minat masyarakat akan produk makanan terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini mendorong terbukanya restoran-restoran baru di Kota Semarang.
Beberapa nama restoran Eropa yang ada di Semarang diantaranya
adalah Marabunta Resto & Bar, Spiegel Bar & Bistro, The Tavern, dan Bowery. Termasuk Marabunta Resto & Bar. Restoran ini membawakan makanan khas Western khususnya masakan Eropa.
Gedung restoran ini sebelumnya merupakan gedung serbaguna yang kemudian dialih fungsikan menjadi tempat makan elegan dengan berkonsep Eropa.
2.3. Fenomena Eating Out
2.3.1. Eating Out dan Sensasi Kesenangan
Kesenangan atau pleasure dalam proses mengkonsumsi biasanya diidentikkan dengan sensasi yang didapatkan dari sebuah kegiatan (Manser, 1961). Kesenangan bisa berupa private pleasure of the body, misalnya hubungan seksual, olahraga, berjemur di bawah matahari, dan konsumsi obat-obatan; atau yang kedua pleasure of the mind and the approving ego, atau yang sifatnya lebih mengarah pada kondisi mental seseorang (DeLynn, 1998). Kesenangan jenis yang pertama biasanya lebih menarik, lebih mudah didapat; tubuh tidak akan pernah berbohong apabila kesenangan ragawi tercukupi dan akan semakin sulit didapat jika seseorang semakin tua. Sedangkan jenis kesenangan kedua didapat dari proses yang mungkin saja melelahkan atau membuahkan rasa kepuasan tertunda beberapa saat. Misalnya, untuk mendapat sebuah masakan yang enak seseorang harus berlatih memasak berkali-kali sampai ia merasakan paduan bumbu dan material yang pas; untuk menyelesaikan sebuah novel seorang pengarang harus melakukan berbagai studi awal dan perenungan agar data yang diperoleh bersesuaian dengan kosakata yang pas dan alur cerita yang menarik.
Perkembangan kehidupan masyarakat perkotaan, yang menurut beberapa ahli bukan lagi pada tahap modern tapi sudah mencapai postmoderen, kesenangan biasanya dihubungkan dengan aktivitas hedonisme (Manser, 1961). Pada masyarakat perkotaan, banyak tempat dan kegiatan yang bisa dijadikan sebagai pengisi waktu luang sehabis bekerja, atau di waktu libur. Aktivitas waktu luang (leisure) pada masyarakat perkotaan muncul salah satunya sebagai dampak dari muculnya industri wisata yang mengemas bermacam aktivitas untuk konsumen. Masing-masing orang akan memperoleh sensasi kesenangan tersendiri berdasarkan aktivitas waktu luang yang dipilihnya. Semuanya tergantung kemampuan ekonomi dan pilihan aktivitas yang tersedia.
Eating out merupakan salah satu pilihan dari sekian banyak aktivitas waktu luang yang tersedia. Di dalam kegiatan eating out terdapat proses yang bisa menghasilkan sensasi kesenangan bagi orang yang melakukannya. Jenis kesenangan yang pertama dari kegiatan eating out jelas berhubungan dengan tubuh: seseorang akan senang
jika ia tidak lagi kelaparan. Jenis kesenangan kedua dari kegiatan eating out berhubungan dengan kondisi mental orang yang melakukannya. Kesenangan yang berhubungan dengan kondisi mental ini biasanya disebabkan oleh faktor-faktor di luar hal yang bersifat materi. Salah satu faktor yang bisa disebutkan adalah faktor sosial dalam kegiatan eating out. Eating out akan merupakan kegiatan sosiospasial yang melibatkan lebih dari satu orang dan di dalamnya terjadi proses sosialisasi. Biasanya, bagi kebanyakan orang, proses sosialisasi inilah yang membuat eating out menjadi menarik untuk dilakukan
Alasan kesenangan merupakan pokok masalah yang dilihat dalam penelitian ini. Kegiatan makan di restoran memberikan pengalaman tersendiri bagi pelakunya khususnya pengalaman yang berhubungan dengan kesenangan. Kesenangan dicapai oleh konsumen umumnya ketika mereka mendapatkan kepuasan dalam proses konsumsi: material masakan yang berhubungan dengan rasa dan selera, pelayanan, dan kesan spesifik yang diciptakan oleh tempat. Lebih lanjut, penelitian ini melihat adanya pengaruh tempat terhadap kepuasan pelanggan di restoran Marabunta sebagai peran produk yang disajikan, misalnya sebagai signature menu. Restoran Marabunta pun bukan restoran biasa karena disini juga menyediakan berbagai jenis makanan khas yang telah dimodifikasi dengan sedemikian rupa sehingga bisa cocok dengan lidah masyarakat lokal.
Warde dan Martens (2000: 194) dalam salah satu bagian penelitiannya menyebutkan bahwa kondisi tempat makan menjadi salah satu faktor penentu munculnya sensasi kesenangan pada konsumen. Pada satu sisi mungkin konsumen akan lebih memperhatikan rasa dan porsi makanan yang disajikan. Mereka menyebutkan beberapa termin yang digunakan respondennya untuk menggambarkan pengalaman yang didapat selama berlangsungnya sebuah kegiatan eating out: “’nice’, ‘really nice’, ‘very nice’, ‘good’,
‘enjoyable’, ‘lovely’, ‘fabulous’, ‘I loved it’, dan ‘I liked it’” (ibid:
191). Bagi sebagian orang, mungkin ukuran porsi yang disajikan menjadi masalah. Tetapi bagi sebagian lainnya porsi tidak menjadi masalah selama mereka merasa nyaman dengan kondisi tempat makan.
Beberapa responden dalam penelitian Warde dan Martens memberikan pendapat lain dalam hal sensasi kesenangan dalam kegiatan eating out. Bagi sebagian orang ini, melakukan eating out tidak lain adalah karena memang mereka merasa perlu mengisi perut.
Biasanya mereka yang melakukan eating out dengan alasan ini memilih menu makanan dengan porsi yang lebih besar dari yang biasa dimakan di rumah. Pilihan lainnya adalah mereka memilih lebih dari satu jenis makanan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memuaskan nafsu makan karena mereka jarang melakukan eating out. Alasan
lainnya adalah karena responden merasa rumah masih jauh dari posisi mereka berada sementara perut mereka sudah lapar. Hal sama dilakukan demi memuaskan nafsu makan sebelum mereka sampai di rumah (2000: 191—193). Dua alasan ini menunjukkan bahwa pemuasan nafsu dan selera makan bagi beberapa orang juga menjadi sebuah sensasi kesenangan yang didapat dari kegiatan eating out.
Faktor lain yang ikut mendukung terciptanya sensasi kesenangan pada konsumen yang senang melakukan kegiatan eating out adalah sosialisasi. Warde dan Martens menemukan bahwa bagi sebagian orang, kegiatan eating out memang sengaja dilakukan untuk menciptakan proses sosialisasi di luar kegiatan sehari hari, entah di lingkungan tempat tinggal atau lingkungan tempat kerja. Sosialisasi sebagai tujuan membuat faktor-faktor lain menjadi lebih kecil perannya dalam penciptaan sensasi kesenangan pada konsumen.
Bahkan, jika makanan yang disajikan tidak dapat memberikan kesan baik, maka sosialisasi dapat mengobatinya.
Sosialisasi yang dimaksud Warde dan Martens merupakan sebuah proses yang hanya melibatkan sedikit orang dalam sebuah eating out. Apakah mungkin dari semua meja yang ada di sebuah restoran semua orang bisa saling kenal? Mungkinkah semua orang di restoran bisa bercakap-cakap dalam waktu bersamaan? Rasanya tidak mungkin. Hal ini disebutkan dalam Ashley (2004: 147—148) mengutip pernyataan J. Finkelstein (1989) bahwa interaksi sosial dalam sebuah restoran belum tentu maksimal bagi pengunjung.
Kepulan asap rokok bisa saja menyebabkan ketidaknyamanan;
kehadiran pelayanan yang membawa buku menu bisa saja membelokkan arah pembicaraan; suara berisik pengunjung di meja sebelah bisa saja mengganggu pembicaraan. Dengan demikian, interaksi sosial dalam eating out ditentukan juga oleh kondisi tempat dan suasana pada saat-saat tertentu.
Interaksi sosial di tempat makan lain, seperti warung kopi Starbucks, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, diciptakan sedemikian rupa sebagai sebuah ciri khas masyarakat urban. Pemilik Starbucks menyebut tempatnya sebagai third place, tempat bagi orang bersosialisasi di antara aktivitas kerja dan rumah. Warung kopi dikemas senyaman mungkin sehingga membuat konsumen betah berlama-lama bersosialisasi dengan siapapun. Jika sebuah tempat mampu menyediakan rasa makanan dan minuman yang enak, dikombinasikan dengan suasana tempat yang nyaman, tentu konsumen akan mearasa puas dan mendapatkan kesenangan untuk berlama-lama.
Namun di balik itu, semakin lama konsumen di sebuah warung kopi, semakin besar pula kemungkinan warung tersebut mendapat keuntungan karena si konsumen diharapkan terus mengkonsumsi.
Penjual tetap menjadi pemenang (Sosrowidjojo, M., 2010).
Dari pemaparan di atas, paling tidak terdapat dua kategori kesenangan dalam kegiatan eating out: kesenangan yang didapat dari terpuaskannya selera makan dan kesenangan yang didapat dari perasaan nyaman akan sebuah tempat.
2.3.2. Eating out dan Gaya Hidup
Eksaminasi terhadap gaya hidup dan aktivitas waktu luang dimulai dengan pandangan yang dikemukakan Max Weber. Weber berpandangan bahwa gaya hidup dan aktivitas waktu luang yang berperan besar dalam menentukan dan membentuk posisi sosial dan identitas (Roberts, 2006: 164). Weber percaya bahwa posisi kelas tergantung pada bagaimana cara orang-orang mendapatkan uang, sedangkan status mereka membelanjakan uang tersebut. Di sini Weber jelas membedakan antara posisi kelas, sebagai bentukan faktor ekonomi, dan status, yang bisa diidentifikasi lewat derajat prestise dan penghormatan yang menempel pada gaya hidup seseorang. Sebagian besar orang saat ini menggunakan aktivitas waktu luang, dikombinasikan dengan sumber daya-sumber daya lain, untuk membangun gaya hidup yang sesuai tetapi tidak harus menunjukkan peran pekerjaan, gender, dan usia. Lebih lanjut Roberts (Roberts, 2006:
164) menyebut:
“However, it is claimed that, on the one hand, the growth of leisure means that more people have the time and money to fashion or adopt lifestyles if they so wish, and that, on the other, nowadays most of us are experiencing an unprecedented need to do so since older foundations of social identities are crumbling fast.”
“Namun, diklaim bahwa, di satu sisi, berkembangnya waktu luang berarti semakin banyak orang mempunyai waktu dan uang untuk berdandan atau menerapkan gaya hidup jika mereka menginginkannya, dan di sisi lain, saat ini sebagian besar dari kita mengalami kesulitan. kebutuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melakukan hal ini karena fondasi identitas sosial lama sedang runtuh dengan cepat.”
Aktivitas waktu luang (leisure activities) menjadi kata kunci dalam menguji konsep gaya hidup pada masyarakat saat ini. Pesatnya pertumbuhan pusat perbelanjaan di setiap kota membuat orang memiliki kebiasaan baru, khususnya kegiatan yang dilakukan di waktu luang, yaitu mengkonsumsi. Kegiatan mengkonsumsi di pusat-pusat perbelanjaan telah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang di daerah perkotaan. Setiap orang berhak memiliki pilihan gaya hidup sendiri,
entah orisinal atau meniru pada yang sudah ada, atau bahkan mengikuti sinyal-sinyal budaya yang diwakili image simulasional iklan dan etalase toko. Featherstone merangkum Weber, Sobel, dan Rojek, mengatakan bahwa istilah gaya hidup (lifestyle) dalam budaya konsumen kontemporer mengkonotasikan individualitas, ekspresi diri, serta kesadaran diri yang stilistik (2001: 197). Indikator yang bisa merujuk gaya hidup menurut Featherstone, antara lain tubuh, busana, bicara, hiburan waktu luang, pilihan makanan dan minuman, rumah, kendaraan, pilihan liburan, yang mewakili individualitas selera serta rasa gaya dari pemilik atau konsumen. Setiap orang dapat menjadi siapa saja.
Pemilihan makanan, minuman, tempat mengkonsumsi makanan, dan cara mengkonsumsi makanan tersebut bisa menjadi indikator gaya hidup bagi seseorang. Seorang konsumen dengan status sosial tertentu pasti akan enggan membeli kopi dan mengkonsumsinya di warung kopi pinggir jalan. Legitimasi status sosialnya sebagai seseorang dari kelas tertentu akan tercoreng; privilesenya akan mengalami distorsi. Ia akan lebih senang jika membeli kopi dan mengkonsumsinya di warung kopi milik perusahaan multinasional yang banyak ditemui di pusat perbelanjaan mewah. Dengan meminum segelas kopi di Starbucks ia akan merasa lebih percaya diri karena unsur lain selain nilai rasional instrumental yang dikandung oleh gelas kopi Starbucks: nilai tukar budaya. Dengan demikian, tercapai sebuah konsensus baru di kalangan masyarakat urban, jika mengkonsumsi sebuah produk tertentu, maka seseorang akan memiliki privilege khusus sebagai orang kaya, mewah, bernilai budaya tinggi, dan pastinya lebih gaya.
Studi tentang bagaimana makanan dikonsumsi, direproduksi telah dilakukan Pierre Bourdieu dalam bukunya A Social Critique of the Judgement of Taste (1979). Pilihan makanan dan bagaimana makanan itu dikonsumsi menurut Bourdieu dapat menentukan identitas kelas seseorang yang memakannya. Sebuah kelas sosial akan berusaha menggunakan kekuasaannya mempertahankan identitas kelasnya dengan lewat pemilihan jenis makanan dan bagaimana mengkonsumsi makanan tersebut. Sebuah kelas sosial akan merasa memiliki legitimasi atas sebuah makanan karena mereka menciptakan selera makanan yang menurut mereka hanya pantas dinikmati oleh anggota kelompok mereka saja. Tetapi, apa yang dilakukan Bourdieu menjadi samar dengan tumbuhnya industri budaya massa dan kemunculan pusat perbelanjaan dan mall yang menawarkan pilihan kepada siapapun yang mampu. Legitimasi atas sebuah makanan dan cara mengkonsumsinya menjadi terstandarkan dengan munculnya restoran-restoran cepat saji multinasional. Bersamaan dengan itu, eating out menjadi sebuah gaya hidup urban yang tidak terlapas dari kesenangan mengkonsumsi.
Kemunculan mall-mall dan pusat perbelanjaan sejenis sebagai sebuah kuil peribadatan baru bagi masyarakat urban memungkinkan siapapun untuk menjadi apapun yang ia mau. Dalam hal mengkonsumsi makanan, mall dan pusat perbelanjaan sejenis menyediakan ruang khusus bagi restoran, cafe, dan tempat makan sejenis di sebuah sudut atau lantai. Biasanya bagian ini disebut sebagai food corner, food court, food hall, dan lain-lain. Makanan menjadi komoditas dan dikomodifikasi yang dijajakan di lantai khusus di pusat- pusat perbelanjaan seiring dengan adanya permintaan pasar akan sesuatu yang baru. Di samping itu, variasi baru juga banyak bermunculan seiring dengan tingginya permintaan. Hal ini membuat hubungan antara budaya kelas dan konsumsi makanan menjadi tersamarkan. Bourdieu memberikan analisis bahwa permintaan akan sesuatu yang baru disebabkan oleh munculnya kelas sosial baru di masyarakat, yaitu masyarakat kelas pekerja urban (Ashley dkk., 2004:
67).
Bourdieu melakukan penelitiannya pada tahun 1960-an di Perancis. Empat puluh tahun kemudian, waktu dimana kita hidup saat ini, situasinya berubah sangat drastis. Identitas kelas sosial tertentu sepertinya susah direpresentasikan oleh budaya kelas dan konsumsi makanan. Hal ini dimungkinkan oleh apa yang disebut George Ritzer sebagai McDonaldization, yaitu “the process by which the priciples of fast-food restaurant are coming to dominate more and more sectors of American society as well as of the rest of the world” (Ritzer, 1996: 1).
McDonald’s menjadi alternatif bagi restoran-restoran lama dengan menu yang menjemukan; dan yang paling penting McDonald’s mempengaruhi cara masyarakat mengkonsumsi. Masyarakat dijejalkan oleh pilihan selera makan di tempat-tempat seperti food court pusat perbelanjaan. Pilihan sepenuhnya ada di tangan konsumen, mau memilih masakan ala Barat atau Oriental, bergaya cepat saji atau masakan rumahan; semuanya berlimpah ruah. Braudillard menyebut istilah kelimpahruahan sebagai kondisi dengan melimpahnya objek, jasa, barang barang material yang kemudian membentuk sejenis mutasi fundamental dalam ekologi kemanusiaan (Braudillard, 2004: 3).
Manusia dikelilingi oleh objek. Masyarakat sebagai konsumen mengidentifikasi diri dan kelas sosialnya dengan konsumsi barang, jasa, dan objek. Kemampuan finansial menjadi penentu bagi seseorang, di kelas sosial mana ia berhak berada. Bahkan, menurut Bourdieu, sekelompok orang yang menjadi anggota sebuah kelas sosial memang sengaja melegitimasi kelasnya lewat budaya kelas dan konsumsi.
Setiap orang berhak dan merasa perlu mendapat legitimasi atas selera dan kelas sosial yang ia sandang. Ruang publik adalah tempat terbaik untuk memperlihatkan dari kelas sosial mana seseorang berasal. Bahasa tubuh, pakaian, gaya rambut, aksesoris, wangi parfum,
paling tidak menjadi fitur klasifikasi. Lebih lanjut, jenis makanan dan cara mengkonsumsinya juga bisa menjadi alat ukur tersendiri bagi penentuan kelas sosial seseorang. Sharon Zukin dalam Barker (2000) menyebutkan bahwa telah terjadi perubahan dalam bentuk dan akses terhadap ruang publik pada masyarakat kontemporer. Kota-kota abad kesembilan belas di sebagian besar negara Barat biasanya memiliki ruang yang bisa diakses publik (lapangan, alun-laun, atau taman) sebagai tempat untuk bertemu, berjalanjalan, berbincang, dan berpartisipasi dalam budaya yang sama. Tetapi, pada masyarakat kontemporer, tempat-tempat seperti ini mulai mengalami penurunan dalam segi jumlah dan popularitas karena mulai digantikan oleh ruang baru yang lebih komersil, seperti pusat-pusat perbelanjaan dan mall.
Pengujian terhadap gaya hidup dalam kegiatan eating out memerlukan pembatasan agar tidak meluas kepada hasil yang tidak sesuai fokus. Pertama, eating out dimaknai sebagai salah satu kegiatan waktu luang yang mulai jamak ditemukan pada masyarakat perkotaan.
Eating out biasanya mudah ditemukan pada pusat-pusat perbelanjaan karena di sinilah terjadi konsentrasi massa dalam jumlah yang besar pada waktu-waktu tertentu. Selain itu, pusat-pusat perbelanjaan menyediakan tempat khusus bagi gerai makanan atau restoran.
Konsumen bebas memilih restoran mana yang akan dijadikan tempat bagi kegiatan eating out mereka. Namun demikian, tidak sedikit restoran dan gerai makan berada di luar pusat perbelanjaan. Hal inilah yang akan menjadi fokus perhatian peneliti, mengapa orang tetap tertarik datang ke restoran Marabunta.
Kedua, seperti telah dijelaskan sebelumnya, aktivitas di restoran Marabunta bisa dikategorikan sebagai eating out. Pada masyarakat perkotaan, tidak jarang kegiatan membeli makan di luar menjadi salah satu bagian dari gaya hidup. Untuk itu, perlu membedakan antara kegiatan makan di restoran biasa dengan kegiatan makan di restoran Marabunta yang telah mengalami komodifikasi.
Pembedaan ini diperlukan untuk melihat kegiatan makan di restoran Marabunta bisa dikategorikan sebagai gaya hidup atau bukan. Selain itu, nantinya pembedaan ini akan memperlihatkan kesan yang didapat dan sensasi pengalaman yang dirasakan konsumen.
2.3.3. Eating out dan Konsumerisme
Kemajuan era modern saat ini membuat manusia tidak dapat terpisahkan dari perkembangan-perkembangan teknologi.
Perkembangan teknologi seperti, informasi dan komunikasi, ekonomi, sosial dan budaya mulai tidak dapat dikendalikan. Perkembangan di era modern saat ini, menciptakan perilaku gaya hidup baru pada manusia modern. Masyarakat modern sebagai bentuk transformasi dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat yang lebih maju dan terarah dalam berbagai bidang seperti perkembangan ilmu
pengetahuan, perkembangan teknologi serta cara berpikirnya, hal ini secara tidak sadar dapat mengubah gaya hidup serta pola konsumsi manusia secara instan. Realitas kehidupan manusia modern yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu mudah untuk dilakukan dan didapatkan, khususnya seperti gaya hidup dan konsumsi sebagai akibat dari perubahan dan perkembangan zaman (Mambela, 2020).
Perkembangan arus globalisasi yang dialami masyarakat telah membawa masyarakat ke dalam perubahan yang cukup signifikan.
Terkait aspek ekonomi masyarakat, kebutuhan masyarakat tidak hanya terbatas pada sandang, pangan dan papan, melainkan kebutuhan akan fasilitas kemewahan, kenyamanan dan privilege. Sistem ekonomi pasar telah mendorong masyarakat untuk berbelanja di luar batas kebutuhan mereka, sehingga membawa masyarakat masuk ke dalam perilaku konsumerisme. Perilaku seseorang dapat ditentukan oleh kondisi sosial nya. Perilaku masyarakat yang konsumtif dapat mempengaruhi perilaku orang lain, sehingga dalam kondisi tersebut maka nilai, norma dan budaya seluruhnya telah dipertimbangkan dalam kegiatan berekonomi, baik dalam sistem produksi maupun konsumsi. Secara struktur sosial hubungan interaksi antar manusia yaitu melalui perantara suatu benda yang menunjukkan bahwa pentingnya manfaat obyek dalam kehidupan sehari-hari dengan membawa perhatian terhadap suatu barang, dan hal tersebut tidak mengabaikan suatu makna, simbol atau moral. Budaya konsumerisme yaitu salah satu bentuk budaya yang berkembang pada kehidupan masyarakat modern, khususnya pada masyarakat kota Surabaya (Susanto et al. 2018).
Melihat kehidupan modern saat ini, masyarakat perkotaan khususnya masyarakat kota Surabaya menuntut gaya hidup mereka dengan cara konsumsi yang serba instan. Kebiasaan dan gaya hidup masyarakat kota Surabaya telah berubah dalam kehidupan yang serba mewah dan berlebihan, sehingga menyebabkan pola hidup mereka lebih konsumtif. Kehidupan modern saat ini, membuat seseorang mengonsumsi makanan di luar rumah dan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan saja, melainkan dapat dijadikan sebagai gaya hidup. Oleh karena itu, masyarakat perkotaan menjadikan makan di luar rumah sebagai pilihan karena masyarakat kota tergolong masyarakat yang sibuk dengan segala aktivitasnya (Mufidah, 2012).
Penelitian ini yang menjadi fokus bahasan adalah perilaku konsumerisme masyarakat kota terhadap produk komoditi dari industri budaya, sehingga struktur sosial dalam masyarakat menjadi ikut berubah karna menyesuaikan kebutuhan tersebut. Penelitian ini menggunakan teori konsumerisme yang dikaji oleh Jean P. Baudrillard, menunjukkan bahwa masyarakat konsumsi merupakan masyarakat yang telah diorganisasi terkait konsumsi daripada produksi barang atau
jasa, sehingga masyarakat kontemporer cenderung menyamakan konsumsi pada tingkat yang lebih tinggi dengan kesuksesan dan kebahagiaan di dalam hidupnya. Masyarakat konsumsi merasa ketinggalan zaman, apabila masyarakat tidak membeli suatu komoditas yang dihasilkan dari industri budaya dan telah menjadi bagian dari identitas status pada masyarakat postmodern. Hal ini dipengaruhi oleh tekanan-tekanan kebutuhan yang terus menerus menuntut untuk gaya hidup yang mewah, dan masyarakat perkotaan selalu mendambakan hidup yang berkecukupan (Solikatun & Argyo, 2015). Konsumerisme masyarakat kota tergolong sebagai masyarakat modern yang telah mengalami perkembangan dan kemajuan karena, masyarakat modern memiliki interaksi yang intensif dengan menerima berbagai informasi melalui media elektronik, sehingga masyarakat kota yang cenderung modern mengalami perkembangan dengan berbagai perubahan yang datang pada kehidupan mereka.
Kajian teori Baudrillard mengenai masyarakat konsumsi, hal ini berguna untuk memahami perilaku konsumsi masyarakat modern terhadap makanan siap saji yang semakin menggila. Konsumerisme merupakan suatu proses pemakaian barang atau hasil produksi yang secara sadar atau tidak sadar konsumen mengonsumsi suatu barang secara terus-menerus dan berkelanjutan. Masyarakat yang mengonsumsi suatu barang secara berlebihan, maka masyarakat tersebut dapat dikatakan konsumtif dan menjadikan sebagai gaya hidup mereka.
Teori masyarakat konsumsi oleh Baudrillard menjelaskan bahwa, konsumsi diradikalkan menjadi konsumsi tanda. Baudrillard menafsirkan bahwa masyarakat konsumen tidak lagi terikat oleh suatu moralitas dan kebiasaan yang dipegangnya, melainkan masyarakat kini hidup dalam suatu kebudayaan baru, suatu kebudayaan yang melihat eksistensi diri mereka dari segi banyaknya tanda yang dikonsumsi saat ini, seperti halnya restoran siap saji yang menawarkan berbagai makanan siap saji yang enak dan menarik. Masyarakat konsumen melihat identitas diri mereka sebagai kebebasan untuk mewujudkan keinginan mereka pada barang-barang industri. Menurut Baudrillard, pola kehidupan yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup dan mengedepankan individualisme dihubungkan dengan masyarakat konsumen yang pasif dan mendasarkan identitasnya pada tanda, sehingga masyarakat kota Surabaya cenderung memiliki gaya hidup konsumerisme terhadap suatu barang baik makanan dan sebagainya.
2.4. Semarang sebagai Kota Pendidikan
Pembangunan pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu menghadapi setiap perubahan dan diharapkan dapat membentuk manusia seutuhnya yaitu beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, mandiri, bertanggungjawab dan memiliki etos kerja yang tinggi. Sasarannya adalah terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas melalui peningkatan mutu pendidikan, perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bagi semua masyarakat, tercapainya efektif dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan, serta tercukupinya sarana dan prasarana penddikan. Beberapa indikator keberhasilan pelaksanaan pendidikan dapat dilihat dari partisipasi masyarakat dalam pendidikan dan angka putus sekolah.
Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.
Pendidikan merupakan suatu faktor kebutuhan dasar untuk setiap manusia sehingga upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, karena melalui pendidikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan. Pendidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi suatu negara (daerah). Hal ini bukan saja karena pendidikan akan berpengaruh terhadap produktivitas, tetapi juga akan berpengaruh fertilitas masyarakat. Pendidikan dapat menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan dan pembangunan suatu negara.
Kawasan fungsional kota berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang Kota adalah suatu kawasan yang meliputi kawasan permukiman, perdagangan, jasa, pemerintahan, pariwisata, dan perindustrian. Kawasan pendidikan merupakan ruang di perkotaan yang mempunyai fungsi sebagai tempat menuntut ilmu yang dilengkapi dengan fasilitas fasilitas pendukung di‐ sekitarnya. Perbedaan karakteristik aktivitas pada tiap lokasi kawasan merupakan keunggulan atau keunikan apabila dibandingkan lokasi lain.
Karakteristik pada suatu kawasan juga dapat dipengaruhi oleh aksesibilitas yang ada maupun kelengkapan sarana dan prasarana lainnya yang menjadi pendukung berkembangnya aktivitas di kawasan tersebut (Nasucha dalam Kusbandari, 2001:42).
Perkembangan kawasan pendidikan dapat memberikan pengaruh terhadap daerah sekitarnya. Salah satu faktor yang menjadi pemicu munculnya berbagai jenis aktivitas yang mendukung aktivitas utama pendidikan adalah aktivitas mahasiswa dan aktivitas kampus (Wijaya, 1999:43). Sedangkan pengaruh dari keberadaan kawasan pendidikan tinggi ialah adanya berbagai jenis aktivitas seperti sektor produksi meliputi komersial/perdagangan dan jasa, serta sektor konsumsi yang meliputi aktivitas permukiman pribadi maupun sewa/kost (Kusbandari, 2001:43). Pengaruh kawasan pendidikan tinggi tersebut menjadi faktor utama perubahan aktivitas ruang kota, karena menghasilkan aktivitas baru seperti penyediaan jasa sewa kamar untuk mahasiswa yang bersifat informal (kos kosan), serta jasa pelayanan yang lain,‐ misalnya fotokopi, rental komputer, restoran dan warung warung makan‐ 2.5. Profil Informan
Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dengan pendekatan kualitatif untuk menggali bagaimana persepsi mahasiswa di Universitas Diponegoro mengenai fenomena eating out sebagai gaya hidup baru melalui proses wawancara mendalam semistruktur atau in-depth interview kepada 8 narasumber yang merupakan pengunjung dari Marabunta Resto & Bar. Kriteria untuk narasumber adalah konsumen Marabunta Resto & Bar yang merupakan mahasiswa di Universitas Diponegoro.
No Nama Pendidikan Domisili Jenis Kelamin
Usia
1. YA Universitas Diponegoro
Tegal Laki-Laki 23 tahun
2. NP Universitas Diponegoro
Depok Perempuan 22 tahun
3. MI Universitas Diponegoro
Bogor Perempuan 22 tahun
4. MTR Universitas Diponegoro
Jakarta Laki-Laki 23 tahun
5. GW Universitas
Diponegoro Pekalong
an Laki-Laki 22 tahun 6. DA Universitas
Diponegoro Semaran
g Laki-Laki 19 tahun 7. SR Universitas
Diponegoro Sragen Perempuan 22 tahun 8. AD Universitas
Diponegoro
Semaran g
Perempuan 22 tahun
Sumber: Diolah peneliti
Setelah data telah berhasil dikumpulkan oleh peneliti, teknik yang digunakan untuk menganalisis data-data tersebut menggunakan model Miles and Huberman. Adapun langkah-langkahnya yakni meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data, dan penarikan kesimpulan dari data yang telah diperoleh. Penelitian ini dilakukan di Marabunta Resto & Bar kepada 8 narasumber yang sudah terfilter sebelumnya sesuai dengan kesesuaian data yang dibutuhkan oleh peneliti. Peneliti memilih narasumber tersebut karena masing - masing memiliki segmentasi dan ciri khas sama.