• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KEBIJAKAN & STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN KAB. BANGKA

N/A
N/A
noishi

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II KEBIJAKAN & STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN KAB. BANGKA"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KEBIJAKAN & STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN KAB. BANGKA

2.1 Arahan Kebijakan Pembangunan & Spasial

Penyusunan Rencana Kawasan Permukiman (RKP) didasari atas amanat Undang-undang No.1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, sedangkan upaya pencapaian pemenuhan kebutuhan Lingkungan Hunian perkotaan dan perdesaan sendiri diamanatkan dalam dokumen Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016 tentang penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman. Adapun secara teknis penyusunan dokumen Rencana Kawasan Permukiman (RKP) mengacu pada Surat Edaran Ditjen Cipta Karya Nomor 39 Tahun 2020 tentang pedoman penyusunan, penetapan, dan peninjauan kembali Rencana Kawasan Permukiman (RKP) serta Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.

2.1.1 Undang – Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang

Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UU No. 26 Tahun 2007), secara berurutan mulai dari Pasal 20 sampai dengan Pasal 26, diuraikan bahwa rencana tata ruang secara berhierarki merupakan matra spasial dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Jangka Menengah. Baik rencana tata ruang dan rencana pembangunan merupakan kebijakan yang saling mengacu. Selanjutnya, berdasarkan Pasal 26 Ayat (2) menyatakan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kota.

UU No. 26 Tahun 2007 memang tidak membahas atau tidak menyinggung mengenai perumahan dan kawasan permukiman, namun pada kegiatan perumahan dan kawasan permukiman merupakan kegiatan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Sehingga dalam pelaksanaan kegiatan perumahan dan kawasan permukiman tentunya harus memperhatikan dokumen atau peraturan terkait dengan penataan ruang di daerah agar dapat mencegah ketidaksesuaian dalam hal melakukan perencanaan perumahan dan kawasan permukiman dengan Arahan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang terdapat di daerah

Perencanaan kawasan permukiman menekankan pada kesesuaian dengan tata ruang dan menempatkan keterpaduan sarana, parasana, dan utilitas umum sebagai pengikat satu kesatuan sistem perumahan dan kawasan permukiman sesuai dengan hierarkinya berdasarkan RTRW.

Termasuk didalamnya kesesuaian antara pola ruang dengan struktur ruang yang selaras dengan hierarki perumahan dan kawasan permukiman.

2.1.2 Undang – Undang No. 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

Perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas pembinaan, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan permukiman, pemeliharaan dan perbaikan, penyediaan tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat.

(2)

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 telah mengamanatkan bahwa penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman harus berpedoman pada Rencana Kawasan Permukiman (RKP). Adanya RKP akan menjamin keterpaduan sarana, prasarana dan utilitas umum dalam pembangunan perumahan dan kawasan permukiman melalui rencana keterpaduan jaringan sistem dan rencana pelayanan PSU. Pembangunan perumahan dan kawasan permukiman juga harus melihat keterpaduan dengan permukiman eksisting sekitarnya dan/atau dengan perumahan baru lain sehingga menciptakan keteraturan.

Pasal 56 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, dimana penyelenggaraan kawasan permukiman dilakukan untuk mewujudkan wilayah yang berfungsi sebagai lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan yang terencana, menyeluruh, terpadu, dan berkelanjutan sesuai dengan rencana tata ruang.

Dalam Pasal 63 dan Pasal 64 juga dijelaskan bahwa salah satu tahapan penyelenggaraan kawasan permukiman adalah perencanaan kawasan permukiman yang harus dilakukan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. Selanjutnya perencanaan kawasan permukiman tersebut menghasilkan dokumen RKP sebagai pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan dalam pembangunan kawasan permukiman. Pedoman tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan lingkungan hunian dan digunakan untuk tempat kegiatan pendukung dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka Panjang.

Selain itu, UU No.1/2011 juga mengamanatkan bahwa penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah dengan melibatkan peran masyarakat. Terkait hal ini, masing-masing stakeholder memiliki peran, tugas dan fungsi sesuai dengan kapasitasnya dalam penyelenggaraan kawasan permukiman, termasuk di dalamnya terkait penyediaan jaringan sistem dan rencana pelayanan PSU.

Gambar 2. 1 Kedudukan Dokumen RKP Dalam Undang Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman

(3)

2.1.3 Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016

Rencana Kawasan Permukiman dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman (PP No. 14 Tahun 2016) diatur dalam (Pasal 59 ayat (2), Pasal 61 ayat (1) dan Pasal 90) yang digambarkan dalam skema di bawah ini:

Gambar 2. 2 Muatan Rencana Kawasan Permukiman

Salah satu muatan Rencana Kawasan Permukiman adalah Rencana Lingkungan Hunian Perkotaan dan Perdesaan yang dilakukan melalui rencana pengembangan Lingkungan Hunian, Rencana Pembangunan Lingkungan Hunian Baru dan Rencana Pembangunan Kembali Lingkungan Hunian. Secara lebih rinci digambarkan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 2. 1 Skema Rencana Lingkungan hunian Perkotaan

RENCANA LINGKUNGAN HUNIAN PERKOTAAN

(Pasal 61 s/d Pasal 69 Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016)

Penyusunan dilakukan dengan: menentukan sebaran permukiman dan perumahan perkotaan berdasarkan RTRW kabupaten/kota, RDTR, dan/atau peraturan zonasi dan merumuskan arahan pengembangan satuan permukiman dan perumahan perkotaan berdasarkan proyeksi pertumbuhan penduduk dan karakteristik kegiatan kawasan perkotaan.

RENCANA PENGEMBANGAN LINGKUNGAN

HUNIAN PERKOTAAN RENCANA PEMBANGUNAN

LINGKUNGAN HUNIAN BARU PERKOTAAN*)

RENCANA PEMBANGUNAN KEMBALI LINGKUNGAN

HUNIAN PERKOTAAN 1. Rencana peningkatan efisiensi potensi

lingkungan hunian perkotaan dengan memperhatikan fungsi dan peranan perkotaan

1. Rencana penyediaan lokasi

permukiman 1. Rencana rehabilitasi

2. Peningkatan pelayanan Lingkungan

Hunian perkotaan 2. Rencana penyediaan

prasarana, sarana, dan utilitas umum permukiman.

2. Rencana rekonstruksi

3. Peningkatan keterpaduan prasarana, sarana, dan utilitas umum lingkungan hunian perkotaan

3. Rencana lokasi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

3. Rencana peremajaan

4. Pencegahan terhadap tumbuhnya

(4)

RENCANA LINGKUNGAN HUNIAN PERKOTAAN

(Pasal 61 s/d Pasal 69 Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016)

Penyusunan dilakukan dengan: menentukan sebaran permukiman dan perumahan perkotaan berdasarkan RTRW kabupaten/kota, RDTR, dan/atau peraturan zonasi dan merumuskan arahan pengembangan satuan permukiman dan perumahan perkotaan berdasarkan proyeksi pertumbuhan penduduk dan karakteristik kegiatan kawasan perkotaan.

RENCANA PENGEMBANGAN LINGKUNGAN

HUNIAN PERKOTAAN RENCANA PEMBANGUNAN

LINGKUNGAN HUNIAN BARU PERKOTAAN*)

RENCANA PEMBANGUNAN KEMBALI LINGKUNGAN

HUNIAN PERKOTAAN perumahan kumuh dan permukiman

kumuh

5. Pencegahan tumbuh dan berkembangnya Lingkungan Hunian yang tidak terencana dan tidak teratur

Tabel 2. 2 Skema Rencana Lingkungan hunian Perdesaan

RENCANA LINGKUNGAN HUNIAN PERDESAAN

(Pasal 61 s/d Pasal 69 Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016)

Penyusunan dilakukan dengan: menentukan sebaran permukiman dan perumahan perdesaan berdasarkan Rencana Tata Ruang dan peraturan zonasi dan merumuskan arahan pengembangan satuan permukiman dan perumahan perdesaan berdasarkan proyeksi pertumbuhan penduduk dan karakteristik kegiatan kawasan perdesaan.

RENCANA PENGEMBANGAN

LINGKUNGAN HUNIAN PERKOTAAN RENCANA PEMBANGUNAN LINGKUNGAN HUNIAN BARU

PERKOTAAN*)

RENCANA PEMBANGUNAN KEMBALI LINGKUNGAN

HUNIAN PERKOTAAN 1. Rencana peningkatan efisiensi potensi

lingkungan hunian perdesaan dengan memperhatikan fungsi dan peranan perdesaan

1. Rencana penyediaan lokasi

permukiman 1. Rencana rehabilitasi

2. Peningkatan pelayanan Lingkungan

Hunian perdesaan 2. Rencana penyediaan

prasarana, sarana, dan utilitas umum permukiman.

2. Rencana rekonstruksi

3. Peningkatan keterpaduan prasarana, sarana, dan utilitas umum lingkungan hunian perdesaan

3. Rencana lokasi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

3. Rencana peremajaan

4. Penetapan bagian lingkungan hunian perdesaan yang dibatasi dan didorong pengembangannya

5. Peningkatan kelestarian alam dan potensi sumber daya perdesaan

Pasal 81 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016 mentetapkan bahwa, pengendalian pada tahap perencanaan dilakukan untuk menjamin:

A. Pemenuhan kebutuhan perumahan dan kawasan permukiman sesuai dengan proyeksi pertumbuhan penduduk, daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta alokasi ruang yang ditetapkan dalam RTRW kabupaten/kota;

B. Kesesuaian peruntukan dan intensitas perumahan dan kawasan permukiman dengan rencana tata ruang dan peraturan zonasi; dan

C. Keterpaduan rencana penyediaan prasarana, sarana dan utilitas umum berdasarkan hierarkinya sesuai dengan struktur ruang dan standar pelayanan minimal.

(5)

Selain berkaitan dengan pola dan struktur ruang, perencanaan kawasan permukiman juga merupakan bentuk dari pengendalian dalam penyelenggaraan kawasan permukiman. Dalam Pasal 81 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016 disebutkan bahwa salah satu pengendalian perencanaan kawasan permukiman dilakukan dengan memberikan batas zonasi lingkungan hunian dan tempat kegiatan pendukung. Penetapan batas zonasi memerlukan pertimbangan terkait informasi proyeksi penduduk, jumlah dan jenis rumah untuk mengindikasikan besaran dan sebaran dari perumahan/ permukiman yang selanjutnya akan menentukan karakter Lingkungan Hunian.

2.1.4 Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2021 Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman

Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2021 Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman memperhatikan aspek keselamatan bangunan yang merupakan kemampuan struktur bangunan Rumah dihitung berdasarkan beban muatan, beban angin, dan beban gempa sesuai standar yang berlaku. Dengan melihat kebutuhan minimum luas ruang dengan cakupan 9 m2 (sembilan meter persegi) per jiwa untuk Rumah tapak dan dapat dipenuhi secara bertahap beserta ketinggian minimum langit-langit2,7 m (dua koma tujuh meter).

Dilihat dari aspek kesehatan bangunan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2021 menjelaskan bahwa Kawasan Permukiman harus memperhatikan ketentuan sistem penghawaan, sistem pencahayaan, sistem sanitasi, dan bahan bangunan yang sesuai dengan ketentuan standar dengan pemilihan lokasi Rumah yang berada diluar zona bencana dan sesuai dengan garis sempadan bangunan dan koefisien dasar bangunan. Luas lahan/kaveling efektif 60 m2 (enam puluh meter persegi) - 2OO m2 (dua ratus meter persegi) dengan lebar muka kaveling minimal 5 m (lima meter) dengan perancangan rumah yang sesuai dengan ketentuan arsitektur, struktur, mekanikal, dan elektrikal, beserta perpipaan (plumbing) bangunan Rumah. Daya tampung dan daya dukung Kawasan Permukiman adalah dalam perencanaan Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum harus tersedia pusat lingkungan yang menampung berbagai sektor kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya, dari skala terkecil hingga skala terbesar, yang ditempatkan dan ditata terintegrasi dengan pengembangan desain dan perhitungan kebutuhan Sarana dan Prasarana, serta Sarana lingkungan.

Komponen Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum Kawasan Permukiman penting untuk menjamin pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman yang teratur dan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Perencanaan Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum Kawasan Permukiman harus memberikan kemudahan bagi semua orang, termasuk yang memiliki ketidakmampuan fisik atau mental seperti para penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit tertentu atas dasar pemenuhan asas aksesibilitas yang meliputi :

A. Kemudahan, yaitu setiap orang dapat mencapai semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan, termasuk memberikan kemudahan sirkulasi bagi pejalan kaki dengan memberikan jarak terpendek antar fungsi;

B. Kegunaan, yaitu setiap orang harus dapat menggunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan;

(6)

C. Keselamatan, yaitu setiap bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan terbangun, harus memperhatikan keselamatan bagi semua orang; dan

D. Kemandirian, yaitu setiap orang harus dapat mencapai, memasuki, dan menggunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang lain.

Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2021 menjelaskan terkait dengan mitigasi tingkat risiko bencana dan keselamatan yang merupakan lokasi harus bebas dari gangguan yang ditimbulkan oleh bencana alam seperti banjir, risiko instabilitas tanah (longsor), tsunami, dan radius bahaya letusan gunung berapi. Selain dari mitigasi resiko bencana Peraturan Pemerintah ini juga menjelaskan mengenai penyediaan air minum berupa jaringan air minum yang berfungsi sebagai Prasarana pendistribusian air minum bagi penghuni lingkungan Kawasan Permukiman tapak harus memenuhi persyaratan pengoperasian yang terintegrasi dengan sistem jaringan air minum secara makro dan/atau regional dan/atau menggunakan sistem penyediaan atau pengembangan air minum setempat. Sumber air minum untuk lingkungan Kawasan Permukiman tapak diperoleh dari jaringan air minum kabupaten/kota melalui jaringan perusahaan daerah air minum atau penyediaan dan atau pengembangan sistem air minum setempat di lokasi Kawasan Permukiman. Selain dari Resiko Bencana, Prasarana, Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2021 juga membahas mengenai penyediaan Sarana yang meliputi Rumah ibadah, tempat bermain anak-anak, olahraga, dan papan penunjuk jalan umum.

2.1.5 Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Bangka 2005 – 2025

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Bangka 2005 – 2025 menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam RPJMD, karena dari setiap tahap pembangunan yang sudah direncanakan dari tahap 1 sampai dengan tahap 5 telah ditentukan skala prioritas pembangunanya. Oleh karena itu, tekanan pada skala prioritas dalam setiap tahapan berbeda- beda, tetapi semua terus berkesinambungan dari periode satu ke periode berikutnya dalam rangka mewujudkan sasaran pokok pembangunan jangka panjang yang telah disusun.

Visi RPJP Kabupaten Bangka 2005 – 2025 adalah Kabupaten Bangka sebagai Pusat Industri dan Perdagangan di Bangka Belitung yang Berwawasan Lingkungan dan didukung oleh Tata Pemerintahan yang Baik Menuju Masyarakat Maju, Adil dan Sejahtera. Visi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memacu pertumbuhan ekonomi, penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan perkapita melalui peningkatan nilai tambah (value added) dari sektor-sektor potensial (leading sectors) yang dimiliki Kabupaten Bangka selama ini berupa industri dan perdagangan yang terkait dengan perkebunan seperti lada, karet dan kelapa sawit, sub sektor perikanan darat dan laut serta sub sektor pariwisata. Pada tahap awal, upaya untuk memantapkan pengembangan sektor-sektor unggulan atau potensial ini akan menjadi prioritas untuk mampu mencapai tahapan menjadi daerah industri dan perdagangan yang mengolah dan memasarkan hasil-hasil perkebunan, perikanan, kelautan dan pariwisata.

Berdasarkan atas pertimbangan posisi Kabupaten Bangka yang berada di kawasan strategis bagi pengembangan industri dan perdagangan, Kabupaten Bangka dijadikan sebagai pusat industri dan perdagangan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kabupaten Bangka merupakan salah satu Kabupaten yang dilewati oleh Alur Lalu Lintas Kapal Internasional (ALKI). Pembukaan pelabuhan di wilayah yang dilalui oleh ALKI harus menjadi

(7)

prioritas supaya menjadi daerah untuk transit kapal-kapal tersebut. Dengan dibukanya pelabuhan-pelabuhan di daerah Belinyu dan Sungailiat diharapkan arus barang dan jasa dari dan ke wilayah Kabupaten Bangka menjadi lebih lancar.

Gambar 2. 3 Alur Lalu Lintas Kapal Internasional yang Dimiliki oleh Kabupaten Bangka

Di samping itu, arah pengembangan sektor transportasi laut dan udara di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di masa mendatang, akan semakin membuka akses daerah ini ke kawasan-kawasan lain di sekitarnya. Aksesibilitas merupakan salah satu faktor penting dan menentukan untuk menjadikan daerah ini sebagai pusat industri dan perdagangan di kawasan ini.

(8)

Gambar 2. 4 Alur Lalu Lintas Kapal Internasional yang Dimiliki oleh Kabupaten Bangka dan Provinsi Kep.

Bangka Belitung

Pembangunan di berbagai bidang akan dilaksanakan dengan upaya untuk menciptakan pelestarian lingkungan. Hal ini perlu dilakukan untuk menciptakan proses pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Perusakan lingkungan (baik fisik maupun non fisik seperti budaya, adat, kepercayaan dan sebagainya) sebagai dampak dari pembangunan itu sendiri akan diminimalisir, sehingga proses pembangunan dapat berjalan dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan fisik, adat istiadat, budaya, agama dan nilai-nilai sosial lainya di masyarakat.

Sejalan dengan hal itu, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penerapan prinsip- prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Kata Governance, dalam konteks ini dapat diartikan sebagai mekanisme pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan pengaruh sektor negara dan sektor non-pemerintah dalam suatu usaha kolektif.

Definisi ini mengasumsikan banyak aktor yang terlibat, dan tidak ada yang sangat dominan yang menentukan gerak aktor lain. Governance mengakui bahwa didalam masyarakat terdapat banyak pusat pengambilan keputusan yang bekerja pada tingkat yang berbeda.

Good governance tidak menempatkan pemerintah atau pemerintah daerah sebagai subjek. Good governance menempatkan semua pelaku pembangunan terlibat di dalamnya secara seimbang. Untuk itu, maka institusi-institusi di luar pemerintah harus diberi dan memiliki kompetensi untuk ikut membentuk, mengontrol, dan mematuhi wewenang yang dibentuk secara kolektif. Dengan kata lain, good governance hanya akan berjalan secara efektif jika pihak-pihak yang terkait memiliki keberdayaan (empowered) dalam mendukung tugas dan perannya masing-masing. Perlu disadari bersama bahwa pengembangan industri dan perdagangan yang terkait dengan sektor-sektor potensial daerah, bukanlah merupakan tahapan

(9)

akhir yang ingin dicapai kabupaten ini. Industri dan perdagangan hanyalah sebagai mesin pertumbuhan (engine of growth) yang diharapkan akan mampu menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat dan daerah.

Meningkatnya pendapatan masyarakat dan daerah secara bertahap akan mampu mendorong terciptanya transformasi sosial menuju masyarakat yang maju, adil dan sejahtera. Hal ini berarti bahwa pembangunan bukan semata-mata diukur dari kemajuan di bidang ekonomi, namun juga harus mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan yang dapat dilihat dari peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Dalam upaya untuk mencapai visi pembangunan jangka panjang Kabupaten Bangka 2005- 2025 di atas akan dilaksanakan melalui 6 (enam) misi pembangunan berikut:

A. Mengembangkan potensi ekonomi lokal secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan;

B. Meningkatkan kualitas SDM;

C. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan;

D. Mengembangkan sarana dan prasarana pendukung;

E. Menciptakan kondisi dan lingkungan investasi yang kondusif;

F. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik menuju sistem tata pemerintah yang baik (good governance)

2.1.6 Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bangka 2019 – 2023

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bangka 2019 – 2023 menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam Penyusunan dokumen Rencana Kawasan Permukiman (RKP), karena dari setiap tahap pembangunan yang sudah direncanakan dari tahap 1 sampai dengan tahap 5 telah ditentukan skala prioritas pembangunanya. Oleh karena itu, tekanan pada skala prioritas dalam setiap tahapan berbeda-beda, tetapi semua terus berkesinambungan dari periode satu ke periode berikutnya dalam rangka mewujudkan sasaran pokok pembangunan jangka menengah yang telah disusun.

Sejalan dengan hal tersebut, ada beberapa permasalahan yang muncul pada urusan pekerjaan umum dan tata ruang adalah sebagai berikut;

A. Kurang mantapnya kondisi infrastruktur jalan kabupaten dalam kondisi baik. Hal ini dapat dilihat pada tahun 2017 baru mencapai 73,18 %.

B. Belum optimalnya ketersediaan Ruang Terbuka Hijau per satuan wilayah yang baru mencapai 32,38 % pada tahun 2017.

C. Belum optimalnya ketersediaan infrastruktur jalan yang layak. Hal ini dapat dilihat dari kondisi jalan yang menjamin kendaraan dapat berjalan dengan selamat dan nyaman sebesar 48,25%, jalan yang memudahkan masyarakat perindividu melakukan perjalanan14,42%, jalan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan dalam wilayah kabupaten sebesar 62,81%.

(10)

D. Belum maksimalnya ketersediaan sistem air limbah setempat dimana pada tahun 2017 baru mencapai 66,73%, sistem air limbah skala komunitas/kawasan/kota sebesar 66,73%.

E. Pelayanan dan akses air minum yang aman melalui Sistem Penyediaan Air Minum dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi baru mencapai 87,48%.

F. Belum optimalnya fasilitasi sarana dan prasarana pengelolaan air minum melalui sistem penyediaan air minum (SPAM) untuk mengoptimalkan pelayanan ke seluruh wilayah di kecamatan dan desa di Kabupaten Bangka. Pada tahun 2017, cakupan layanan air bersih baru sebesar 72,15%.

Sedangkan jika dilihat dari urusan Perumahan dan Kawasan Permukiman terdapat beberapa permasalahan yang berhubungan dengan penyelenggaraan urusan perumahan dan kawasan permukiman adalah sebagai berikut:

A. Masih terdapatnya lingkungan permukiman kumuh sebesar 0,02%. Lingkungan pemukiman kumuh perkotaan terdapat di wilayah Kecamatan Sungailiat dan Kecamatan Belinyu. Saat ini Pemerintah Kabupaten Bangka mengimplementasikan program “KOTA KU” untuk mengatasi permasalahan lingkungan kumuh perkotaan.

B. Masih terdapatnya rumah tidak layak huni sebanyak 5% pada tahun 2017.

C. Masih terbatasnya cakupan Layanan Rumah Layak Huni yang terjangkau yang baru mencapai 58,48 % pada tahun 2017.

Kabupaten Bangka merupakan salah satu kabupaten yang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang mempunyai potensi berkembang karena posisi geografisnya yang sangat strategis. Untuk itu, perlu peningkatan dalam mendukung posisi geografis tersebut dengan pembangunan infrastruktur yang progresif agar dapat terintegrasi dengan baik semua sektor pusat pertumbuhan ekonomi, pemerintahan, perumahan dan kawasan permukiman dan pelayanan dasar masyarakat diperlukan suatu sistem jaringan penghubung antar wilayah.

Oleh karena Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bangka Tahun 2019-2023 sebagai penjabaran dari lima tahunan tahap ketiga (2016-2020) dan tahap keempat (2021-2025) RPJPD Kabupaten Bangka, maka arah pembangunan daerah merupakan kompilasi tahap ketiga dan keempat RPJPD Kabupaten Bangka. Arah pembangunan daerah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bangka Tahun 2019-2023 difokuskan pada upaya transformasi ekonomi menuju pembangunan industri klaster melalui penguatan peningkatan nilai tambah (value added) dari sektor-sektor unggulan daerah, peningkatan kualitas SDM dan pemberdayaan masyarakat.

Pada 2 (dua) tahun pertama, arah pembangunan dititikberatkan pada penguatan peningkatan nilai tambah (value added) dari sector-sektor unggulan daerah (leading sectors) dan peningkatan kawasan agropolitan secara berkelanjutan melalui usaha industri pengolahan produk dari sektor perkebunan dan perikanan melalui yang didukung secara kuat oleh sektor perdagangan dan sektor pariwisata serta sistem dan akses serta ketersediaan infrastruktur yang semakin baik. Pada 3 (tiga) tahun terakhir, arah pembangunan ditekankan pada terbangunnya transformasi ekonomi menuju pembangunan industri klaster berbasis potensi lokal dan budaya sosial lokal yang memiliki keunggulan kompetitif dan berfungsi sebagai

(11)

industri pendukung (supporting industries) dalam tataran pembangunan industri daerah dan nasional.

Memperhatikan pemikiran di atas, berbagai peluang dan tantangan yang akan muncul dan bersifat sangat mendasar harus diantisipasi adalah berkaitan peningkatan kualitas SDM, pemberdayaan masyarakat dan desa dalam upaya untuk mendukung terwujudnya paradigma pembangunan kemandirian lokal yang menempatkan faktor manusia sebagai pusat dalam proses. Pembangunan infrastruktur antar wilayah yang merata di berbagai sektor merupakan prasyarat utama dalam mendukung keberhasilan pengembangan potensi daerah dan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tabel 2. 3 Matriks RPJMD Kabupaten Bangka Tahun 2019 – 2023

Misi Tujuan Indikator

Kinerja Sasaran Indikator Kinerja Mewujudkan

pemerataan pembangunan infrastruktur antar wilayah

Meningkatkan kuantitas & kualitas infrastruktur dalam menunjang kesejahteraan masyarakat

Indeks ketimpangan infrastruktur

Meningkatnya infrastruktur ekonomi yang berkualitas

Proporsi panjang jalan & jembatan dalam kondisi baik, jaringan irigasi dalam kondisi baik, bangunan pelayanan publik berfungsi baik Meningkatnya

infrastruktur social yang berkualitas

Presentase masyarakat yang terlayani sanitasi dasar, presentase masyarakat memiliki akses air bersih, presentase masyarakat yang terlayani rumah layak huni, presentase penurunan luasan kawasan kumuh

2.1.7 Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah RTRW Kabupaten Bangka 2010 – 2030 Berdasarkan karakteristik wilayah, visi dan misi pengembangan Kabupaten Bangka serta tinjauan penataan wilayah nasional dan provinsi maka tujuan penataan ruang Kabupaten Bangka untuk 20 (dua puluh) tahun ke depan adalah mewujudkan Kabupaten Bangka sebagai pusat perdagangan dan industri yang diiringi oleh keterpaduan pemanfaatan ruang darat, laut dan udara dalam harmonisasi antara lingkungan alam dan buatan secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dalam rangkat meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Untuk menentukan proses penentuan tujuan, kebijakan dan strategi penataan ruang selanjutnya adalah menelaah kebijakan tata ruang nasional dan provinsi serta visi dan misi pengembangan Kabupaten Bangka. RKP Kabupaten Bangka merupakan arahan kebijakan dan strategi pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman kabupaten yang penyusunannya berdasarkan pada RTRW dan berguna untuk mendukung program dan kegiatan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

A. Kebijakan Penataan Ruang Kabupaten Bangka

Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Bangka meliputi kebijakan penataan ruang, struktur ruang dan pola ruang wilayah, serta pengendalian pemanfaatan ruang. Dalam rangka mengakomodasi paradigma baru perencanaan wilayah dan untuk mewujudkan rencana tata ruang yang berkelanjutan dan operasional sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007, maka kebijakan penataan ruang Kabupaten Bangka, meliputi :

(12)

1) Peningkatan akses pelayanan kawasan perkotaan Sungailiat, Belinyu, Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp) Puding Besar dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhierarki;

2) Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian;

3) Perwujudan keseimbangan, keterpaduan, dan pengendalian pemanfaatan sumber daya serta keterkaitan antar kegiatan budidaya menuju kesejahteraan rakyat;

4) Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.

B. Strategi Penataan Ruang Kabupaten Bangka

Kebijakan peningkatan akses pelayanan kawasan perkotaan Sungailiat, Belinyu, Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp) Puding Besar dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhierarki dilaksanakan melalui strategi:

1) Menjaga keterkaitan antara Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dan PKLp Kabupaten dengan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), ibukota kecamatan, kelurahan/perdesaan;

2) Mengembangkan dan mendorong pertumbuhan PKL, PKLp dan pusat pertumbuhan kecamatan;

3) Mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis sumber daya alam dan kegiatan budidaya unggulan.

Kebijakan pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian dilaksanakan melalui strategi:

1) Menetapkan dan mengembangkan kawasan strategis kabupaten;

2) Menciptakan iklim investasi yang kondusif;

3) Mengendalikan pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan strategis;

4) Meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana wilayah penunjang kegiatan ekonomi;

5) Mengendalikan pertumbuhan ruang terbangun di pantai;

6) Mendorong kegiatan industri dan perdagangan;

7) Melestarikan dan meningkatkan nilai kawasan strategis provinsi.

Kebijakan perwujudan keseimbangan, keterpaduan, dan pengendalian pemanfaatan sumber daya serta keterkaitan antar kegiatan budidaya menuju kesejahteraan rakyat dilaksanakan melalui strategi:

1) Mengelola pemanfaatan sumber daya alam secara optimal dan berkelanjutan;

2) Mengendalikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya;

3) Mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah;

4) Menjaga keterpaduan dan keharmonisan pemanfaatan ruang;

(13)

5) Mengembangkan kegiatan budidaya sektor- sektor unggulan;

6) Mengembangkan kegiatan budidaya untuk menunjang aspek sosial budaya serta ilmu pengetahuan dan teknologi;

7) Mengembangkan kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan;

8) Mengembangkan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil;

9) Menyeimbangkan ketersediaan ruang untuk kepentingan investasi masyarakat dan swasta;

10) Meningkatkan fungsi kawasan guna mendukung peningkatan perekonomian masyarakat;

11) Mengendalikan perizinan pemanfaatan ruang berskala luas.

Kebijakan pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup dilaksanakan melalui strategi:

1. Mengendalikan pengembangan kawasan budidaya sesuai kapasitas, daya dukung, dan fungsi lingkungan;

2. Mengembangkan dan melestarikan kawasan budidaya pertanian pangan dan non pangan yang berwawasan lingkungan;

3. Mengembangkan kawasan yang berfungsi lindung;

4. Mencegah dampak negatif kegiatan budidaya yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup.

C. Rencana Struktur Kabupaten Bangka

Setiap wilayah yang ada di Kabupaten Bangka memiliki potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan kegiatan sosial ekonomi yang beragam. Dalam rangka mengurangi kesenjangan perkembangan tiap wilayah, maka diperlukan adanya intervensi yang dapat memberikan fungsi dan peran yang jelas untuk setiap wilayah sesuai dengan potensi, hambatan, dan tantangannya dalam bentuk suatu rencana struktur yang mempunyai hierarki keruangan. Rencana struktur yang dikembangkan tersebut akan mengoptimalkan masing- masing wilayah sehingga tercipta pemenuhan kebutuhan antara wilayah satu terhadap wilayah yang lainnya. Apabila sistem pemenuhan kebutuhan terjadi dalam jangka panjang berarti sistem perekonomian wilayah dapat berjalan sesuai dengan harapan dan perkembangan ekonomi dapat terwujud.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor16/PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten, pengertian dari Rencana Struktur Tata Ruang adalah rencana yang menggambarkan susunan unsur-unsur pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan buatan yang digambarkan secara hierarkis dan berhubungan satu sama lain. Rencana struktur tata ruang mewujudkan hierarki pusat pelayanan wilayah meliputi sistem pusat-pusat perkotaan dan perdesaan, pusat-pusat permukiman, hirarki sarana dan prasarana, serta sistem jaringan jalan.

Rencana struktur tata ruang yang ditetapkan adalah struktur ruang yang mampu mencapai tujuan sebagai berikut:

(14)

1) Mewujudkan visi dan misi pembangunan Kabupaten Bangka;

2) Menyelaraskan antara prasaran apa dan setiap wilayah;

3) Mengoptimalkan keterbatasan ketersediaan sumberdaya yang ada, baik sumber daya manusia, alam, sumber daya binaan, dan sumber daya pembiayaan;

4) Pemecahan persoalan pengembangan wilayah;

5) Pewujudkan aspirasi masyarakat.

D. Rencana Sistem Perkotaan Kabupaten 1) Hierarki Wilayah

Dalam RTRW yang lebih makro cakupannya, yaitu RTRWN, RTRW Pulau Sumatera, dan RTRW Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, telah ditetapkan arahan atau rencana Sistem Kota-Kota, yaitu dengan penetapan fungsi pusat pelayanan sampai tingkat PKN (Pusat Kegiatan Nasional) dan PKW (Pusat Kegiatan Wilayah). Dalam Sistem Pusat Perkotaan atau Pusat Pelayanan secara nasional, telah ditetapkan adanya jenjang atau hierarki yang terdiri atas :

a. PKN (Pusat Kegiatan Nasional), yang pelayanannya mencakup beberapa provinsi.

b. PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), yang pelayanannya mencakup beberapa kabupaten;

c. PKL (Pusat Kegiatan Lokal), yang pelayanannya mencakup beberapa kecamatan.

d. PKLp (Pusat Kegiatan Lokal Promosi)

Berdasarkan hierarki tersebut di atas maka rencana system kota-kota yang terdapat di Kabupaten Bangka adalah sebagai berikut :

a. Pusat Kegiatan Lokal (PKL): Kota Sungailiat dan Kota Belinyu

b. Pusat Pelayanan Kegiatan Promosi (PKLp): Kecamatan Puding Besar

c. Pusat Pelayanan Kecamatan (PPK): Desa Petaling, Desa Riau, Desa Bakam, Desa Pemali dan Desa Batu Rusa.

Untuk lebih jelasnya mengenai rencana struktur dapat dilihat pada tabel berikut ini, Tabel 2. 4 Rencana Penetapan Fungsi Sistem Perkotaan di Kabupaten Bangka

No Fungsi Pusat Pusat Keterangan

I PKL Sungailiat

Belinyu

Ibukota Kabupaten Bangka Ibukota Kec Belinyu

ll PKLp Puding Besar Ibukota Kec Puding

III PPK Baturusa

Riau Petaling Pemali Bakam

Ibukota Kec Merawang Ibukota Kec Riau Silip Ibukota Mendo Barat Ibukota Kec Pemali Ibukota Kec Bakam

(15)

2) Pembagian Wilayah Pengembangan

Berdasarkan hasil pengkajian penentuan hierarki kota, homogenitas kawasan serta interaksi antara wilayah, maka sistem kota di Kabupaten Bangka terdiri dari tiga Wilayah P

engembangan,

a. Wilayah Pengembangan I dengan pusat pengembangannya di Kecamatan Sungailiat.

b. Wilayah Pengembangan II dengan pusat pengembangan di Kecamatan Belinyu.

c. Wilayah Pengembangan III dengan pusat pengembangan di Kecamatan Puding Besar

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.5 berikut ini : Tabel 2. 5 Arahan Sistem Perwilayahan Kabupaten Bangka WP Nama

Kota

Sistem Perwilayahan

Peran & Fungsi WP I Sungailiat Wilayah

Pengembangan

o Pusat pemerintahan

o Pusat pelayanan untuk wilayah bawahannya o Wilayah pemasaran bagi produksi hinterland o Pendorong perkembangan wilayah

o Penyedia sarana dan prasarana kota o Pusat perdagangan &jasa

o Kegiatan Wisata o Kesehatan o Pendidikan II Belinyu Wilayah

Pengembangan o Pusat pemerintahan kecamatan o Pelabuhan Laut Regional

o Kondisi eksisting yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi dengan keberadaan kawasan permukiman akan mempengaruhi munculnya aktifitas baru

o Adanya kegiatan Industri Perikanan Terpadu mendukung Kegiatan lainnya

III Puding

Besar Wilayah

Pengembangan o Pusat pemerintahan kecamatan

o Pusat kegiatan industri dengan basis utama komoditas hasil- hasil pertanian

o Wilayah pemasaran bagi produksi hinterland o Pusat pelayanan untuk wilayah bawahannya o Agropolitan

o Perkebunan

(1) WP I Sungailiat

Wilayah Pengembangan I (WP I) dengan pusat Sungailiat, mencakup daerah wilayah timur yaitu Kecamatan Pemali dan Merawang. Sebelah selatan berbatasan langsung dengan Ibukota Provinsi yakni Kota Pangkalpinang, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Puding Besar dan Mendo Barat. Wilayah Pengembangan ini apabila dibandingkan luasnya dengan kedua WP lainnya, relatif kecil. Wilayah Pengembangan ini juga dilalui oleh jalan kolektor primer yang menghubungkan Kota Pangkalpinang yang berfungsi sebagai PKW dengan Kota Sungailiat (PKL) dan Belinyu (PKL) yang di dalamnya terdapat koridor cepat tumbuh, yaitu di koridor Pangkalpinang–Sungailiat.

Sarana dan prasarana serta kegiatan yang menonjol di wilayah ini terutama yang berkaitan dengan fungsi Pangkalpinang sebagai PKW adalah pengembangan kawasan di sepanjang wilayah belakang Pangkalpinang yang meliputi Kecamatan Merawang dan Kecamatan Mendo Barat. Kawasan Kecamatan Merawang yang meliputi beberapa desa direncanakan untuk pengembangan kawasan industri di muara Sungai Batu Rusa,

(16)

pengembangan wisata dan Kota Baru Air Anyir seluas lebih kurang 1.237 Ha, pengembangan kawasan kota baru beserta sarana dan prasarana pendukungnnya di Desa Air Anyir, kawasan pengembangan pendidikan tinggi, kawasan pertanian tanaman pangan dan perkebunan di Balun Ijuk dan Jada Bahrin, serta Kawasan Agropolitan di seluruh Kecamatan Mendo Barat beserta kawasan pendukungnya seperti kawasan pertanian tanaman pangan dan perkebunan di Petaling, Kemuja, dan kawasan Pendidikan di Petaling dan Paya Benua.

Kecamatan Sungailiat direncanakan sebagai kecamatan wisata pantai andalan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di sepanjang pesisir timur, kawasan perdagangan di pusat kota, dan pembentukan pusat pertumbuhan baru. Sebagai ibukota Kabupaten dikembangkan kawasan permukiman yang memenuhi persyaratan sebagai satu wilayah ibukota. Kegiatan ekonomi yang diharapkan dapat tumbuh dan berkembang adalah berkembangnya industri polutif /perikanan tangkap di Kawasan Industri Jelitik dan kawasan peruntukan industri lainnya beserta kawasan pendukungnya, dan perikanan tambak di Kecamatan Merawang di sepanjang kawasan di luar sempadan Sungai Baturusa dan Sungai Selindung.

Wilayah Pengembangan I juga mengembangkan kawasan lindung setempat dengan lokasi dan luas sesuai kebutuhan, peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di sepanjang sungai, danau atau kolong, mata air dll. Wilayah Pengembangan I seperti transportasi darat dan laut, jaringan jalan, listrik, sistem air minum, pemakaman umum, tempat pengolahan akhir sampah, drainase, dan lain-lain kebutuhan infrastruktur kota.

(2) WP II Belinyu

Wilayah Pengembangan II (WP II) dengan pusat di Belinyu, mempunyai wilayah cakupan Kecamatan Riau Silip, walaupun hanya mencakup 2 (dua) kecamatan, namun apabila dilihat dari luas wilayahnya, wilayah ini relatif luas. Wilayah Pengembangan ini juga dilalui oleh jalan kolektor primer yang menghubungkan Kota Sungailiat-Belinyu. Sebelah utara WP ini merupakan wilayah pesisir yang dimulai dari Tanjung Merak kemudian menyusur ke arah utara menuju Tanjung Gudang Kemudian Tanjung Penyusuk kemudian menyusur ke arah barat menuju Tanjung Samak kemudian menurun ke bawah menuju Tanjung Tengkalat terus menurun menuju Tanjung Batu.

Ruang yang dapat dikembangkan untuk kegiatan Ekonomi yang berpotensi dan diharapkan dapat berkembang di masa yang akan datang diantaranya adalah :

a) Berkembangnya kawasan industri perikanan terpadu di wilayah Teluk Kelabat yang meliputi kawasan Teluk Kelabat yang berada di Kabupaten Bangka dan Bangka Barat.

b) Kawasan Perkebunan di barat dan selatan, Kawasan Perikanan tambak di utara dan selatan, kawasan tamanan pangan lahan kering di utara dan barat, kawasan pertambangan di barat dan selatan.

c) Wilayah Pengembangan II mengembangkan struktur wilayah seperti jaringan jalan, listrik, sistem air minum, pemakaman umum, tempat pengolahan akhir sampah, drainase, dan lain-lain kebutuhan infrastruktur kota.

(3) WP III Puding Besar

(17)

WP III (Wilayah Pengembangan III) dengan pusat Puding Besar, dengan wilayah cakupan Kecamatan Puding Besar, Bakam, dan Mendo Barat. Di timur berbatasan dengan Kecamatan Pemali dan Merawang, di selatan berbatasan dengan Kabupaten Bangka Tengah, di utara berbatasan dengan Kabupaten Bangka Barat, di barat berbatasan dengan Selat Bangka. Wilayah Pengembangan ini mempunyai wilayah terluas dari semua WP yang ada dan dilalui oleh jalan kolektor primer yang menghubungkan PKW Kota Pangkalpinang dengan Muntok dimulai dari ujung timur di Desa Kace Timur - Puding Besar –Desa Maras Senang yang berbatasan dengan Kabupaten Bangka Barat.

Ruang yang dikembangkan untuk kegiatan ekonomi di masa datang adalah:

a) Kawasan Perkebunan di barat dan selatan WP, kawasan tanaman pangan lahan kering yang membentang dari barat hingga timur, kawasan pertambangan di tengah dan barat daya serta kawasan wisata budaya Kota Kapur di Mendo Barat;

b) Kawasan Perdagangan dan Jasa di sepanjang perbatasan antara Desa Kace Timur dan Pangkalpinang.

E. Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah

Sistem jaringan transportasi di Kabupaten Bangka terdiri atas sistem jaringan transportasi darat dan jaringan transportasi laut. Jaringan transportasi darat di Kabupaten Bangka berupa jaringan jalan yang memiliki pola berbentuk semi curva linear, yang memusat ke arah Kota Sungailiat. Jaringan-jaringan jalan utama merupakan garis lurus yang ditarik dari arah pusat Kota Sungailiat. Bentuk tersebut menunjukan bahwa orientasi perkembangan wilayah adalah ke kota Sungailiat. Fungsi jaringan jalan tersebut selain sebagai jalan internal wilayah Kabupaten Bangka juga mempunyai fungsi regional sebagai penghubung wilayah kabupaten dengan kota-kota kecamatan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan jaringan jalan utama berstatus jalan provinsi dan jalan kabupaten yang memiliki fungsi sebagai jalan kolektor primer.

Pengembangan sistem jaringan transportasi meliputi jaringan LLAJ, ASDP, transportasi perkotaan dan tatanan ke pelabuhan. Jaringan LLAJ yang dikembangkan terdiri dari jaringan jalan dan jembatan, jaringan prasarana LLAJ, jaringan pelayanan LLAJ, jaringan jalan lokal, dan lingkungan yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten. Jaringan jembatan dikembangkan menurut fungsi jalan meliputi jembatan Sungai Selindung, Sungai Batu Rusa, Jembatan Batu Rusa II dan III, Jembatan Sungai Mendo, Sungai Jeruk dan Jembatan Sungai Perimping dan lain-lain.

(18)

Gambar 2. 5 Peta Jaringan Sarana dan Prasarana Kabupaten Bangka

Interaksi yang masih kurang adalah hubungan antara Kota Petaling sebagai ibukota Kecamatan Mendo Barat dengan kawasan di Barat Daya seperti Penagan dan Kota Kapur.

Untuk mengatasi masalah tersebut Pemerintah Kabupaten Bangka merencanakan pembangunan jalan lingkar barat untuk meningkatkan aksesibilitas melalui Kota Kapur, Labuh Air Pandan, Mendo, Kota Waringin dan Tanah Bawah.

Rencana sistem prasarana transportasi untuk Kabupaten Bangka diarahkan untuk menunjang struktur ruang yang akan dibentuk. Dalam konteks transportasi sebagai alat pemenuhan kebutuhan wilayah, maka demand pergerakan eksisting yang mengarah ke Sungailiat dari Pangkalpinang akan diarahkan melalui rencana peningkatan jalan Negara Pangkalpinang–Sungailiat serta penyediaan jaringan transportasi Lingkar Timur Kabupaten Bangka dari Pangkalpinang – Sungailiat.

Konsep transportasi seperti ini direncanakan untuk menanggulangi permasalahan transportasi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan baru serta dalam rangka memberikan dampak peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat dengan menyediakan sarana transportasi antar wilayah yang terjangkau dan dapat melayani pusat-pusat kecamatan di Kabupaten Bangka dalam rangka pembangunan perindustrian dan perdagangan yang berwawasan lingkungan.

1) Peningkatan Geometrik Jalan Kolektor Primer 1 :

a. Pangkalpinang – Sungai Liat – Simpang Lumut - Belinyu –Tj.Gudang b. Pangkalpinang – Puding Besar – Puding Gebak – (Mentok-Tj Kalian)

(19)

2) Peningkatan Geometrik Kolektor Primer 2:

a. Simpang Pasir Garam – Penagan - Tj.Tedung dan Penagan – Kota Kapur b. Simpang Lumut – Puding Gebak

c. Sungailiat – Puding Besar

3) Peningkatan Geometrik Jalan Kolektor Primer 4 : a. Rukam - Petaling;

b. Sungailiat – Bakam

c. Saing – Kota Waringin – Sungai Dua d. Penegang - Petaling

e. Sp.Matras – Matras – Jelutung f. Air Kenanga – Rebo – Sungailiat

g. Petaling – Pkl. Mendo – Labuh Air Pandan 4) Jalan Lokal dan Rencana Pembangunan Jalan Lokal:

a. Jalan Puding Besar – Balun Ijuk;

b. Rencana Jalan Desa Kimak – Dusun Limbung Kecamatan Merawang;

c. Rencana pembangunan Jalan Puding Besar – Balun Ijuk – Kec. Gerunggang – Desa Kace Timur;

d. Rencana pembangunan Jalan Mendo – Tanah Bawah;

e. Rencana pembangunan Jalan Puding Besar – Balun Ijuk;

f. Rencana pembangunan Jalan tembus yang menghubungkan Limbung dengan Kimak – Sempan terhubung dengan ruas Sungailiat – Bakam sampai dengan ruas Simpang Lumut – Puding Gebak;

g. Rencana peningkatan status Jalan Tanah Bawah – Kapuk;

h. Rencana pembangunan lingkar barat Kota Kapur – Labuh Air Pandan;

i. Rencana pembangunan lingkar barat Kota Kapur – Kota Waringin;

j. Rencana pembangunan lingkar barat Mendo – Tanah Bawah;

k. Rencana pembangunan jalan Lingkar Luar Desa Puding Besar.

Kabupaten Bangka tahun 2010 memiliki 2 (dua) terminal angkutan umum; yaitu Terminal Sungailiat dan Terminal Belinyu. Untuk mengantisipasi kebutuhan wilayah, maka Pemerintah Kabupaten Bangka merencanakan membangun terminal Sungailiat di lokasi baru, yaitu di Kecamatan Pemali dan ditingkatkan menjadi terminal tipe B.

Lokasi terminal sekarang berada di sekitar wilayah pasar (dalam kota) akan tetap dipertahankan untuk melayani kebutuhan kota Sungailiat hingga 2030. Terminal Belinyu masih tetap pada tipe C, sedangkan kecamatan-kecamatan yang lain belum diperlukan pengembangan sub terminal.

(20)

Pembangunan terminal angkutan umum yang didukung oleh keruangan lainnya akan memberikan dampak manfaat yang besar. Guna mendukung keberadaan terminal tipe B di Kota Sungailiat, maka perlu dibangun peruntukan ruang terpadu yang meliputi ruang peruntukan olahraga, ruang terbuka hijau, perdagangan barang dan jasa secara spesifik dan lainnya sehingga Kota Sungailiat memiliki kota perdagangan dan jasa yang spesifik seperti pusat perdagangan bahan bangunan, pusat perdagangan kendaraan bermotor, bengkel dan lain-lain sebagainya dengan luas seluruh kawasan ± 681,49 ha. Pembangunan pusat perdagangan ini diikuti dengan pengaturan perizinan yang melarang usaha sejenis di dalam kota. Kondisi akan berdampak baik terhadap penataan dan pemanfaatan ruang serta keteraturan dan ketertiban transportasi. Guna mendukung struktur wilayah terutama sektor transportasi, maka Kabupaten Bangka akan mengembangkan unit pengujian kendaraan bermotor di Sungailiat.

Untuk mengatasi permasalahan pergerakan yang disebabkan oleh angkutan umum, maka dilakukan penataan angkutan umum dan pengembangan terminal. Penataan ini dilakukan dengan menyusun sistem tata transportasi lokal guna melayani jaringan trayek angkutan penumpang dan jaringan lintas angkutan barang. Penataan sistem transportasi lokal diharapkan dapat berkontribusi signifikan terhadap kondisi jaringan jalan kabupaten.

Jaringan transportasi laut di Kabupaten Bangka terdiri atas pelabuhan pengumpul di Belinyu dan terminal khusus. Selain itu di Kabupaten Bangka juga mengembangkan Pelabuhan Perikanan Samudera di Kecamatan Sungailiat.

F. Rencana Pengembangan Jaringan Energi Wilayah

Rencana pengembangan jaringan energi di Kabupaten Bangka berupa rencana sistem prasarana listrik yang dirumuskan untuk meningkatkan pelayanan terhadap kebutuhan kelistrikan bagi kegiatan permukiman, produksi, jasa, dan kegiatan sosial ekonomi lainnya.

Dengan demikian pengembangan sistem prasarana listrik diarahkan untuk mendukung pengembangan struktur ruang Kabupaten Bangka. Strategi pengembangan prasarana jaringan listrik di Kabupaten Bangka sebagai berikut:

1) Memanfaatkan serta mengoptimalkan kemampuan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Merawang dan Belinyu untuk menyuplai kebutuhan listrik rumah tangga, produksi, jasa dan kegiatan sosial ekonomi lainnya di seluruh wilayah Kabupaten Bangka;

2) Mengembangkan pusat pembangkit listrik baru di Sungailiat dan Merawang;

3) Pengembangan jaringan listrik yang diprioritaskan pada penyediaan sambungan baru ke wilayah atau desa-desa yang belum teraliri listrik. Pengembangan listrik meliputi penentuan lokasi yang akan dilayani, jenis pelayanan, distribusi jaringan (tegangan menengah, distribusi dan sebagainya) serta distribusi gardu.

4) Membangun jaringan pemancang listrik untuk menjangkau daerah – daerah yang belum teraliri listrik dengan mengikuti koridor sistem jaringan jalan utama dan berhierarki sesuai dengan klasifikasi jalan serta mengarahkan pengembangan infrastruktur kelistrikan sesuai dengan pola pengembangan ruang aktifitas. Pada pusat kota dan pada jaringan – jaringan utama serta kawasan-kawasan khusus menggunakan sistem jaringan kabel listrik bawah tanah.

(21)

5) Pola jaringan kabel listrik direncanakan mengikuti pola jaringan jalan yang ada kecuali untuk jaringan tegangan tinggi dapat melintasi daerah tertentu. Sementara untuk jaringan kabel listrik tegangan menengah dan rendah direncanakan di sisi kiri jalan satu jalur dengan pipa air bersih di bawah tanah. Untuk jaringan kabel tegangan tinggi pengamanannya terhadap lingkungan yaitu 25 meter ke samping di sisi jaringan tersebut merupakan ruang jalur hijau tanpa bangunan.

G. Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi Wilayah

Rencana sistem prasarana telekomunikasi dirumuskan untuk meningkatkan kemudahan pelayanan telekomunikasi bagi investasi maupun rumah tangga. Strategi pengembangan prasarana telekomunikasi di Kabupaten Bangka sebagai berikut :

1) Pembangunan jaringan prasarana telekomunikasi yang mengikuti jaringan jalan utama dan berhierarki sesuai dengan klasifikasi jalan dengan cakupan pelayanan ke seluruh pusat pelayanan dan wilayah pengembangannya di setiap ibukota kecamatan yaitu Sungailiat, Belinyu, Puding Besar, Mendo Barat, Merawang, Riau Silip, Bakam dan Pemali.

2) Pengembangan dan peningkatan jaringan telepon umum pada kawasan pusat - pusat pelayanan umum, seperti pasar serta jalan-jalan utama di tiap-tiap pusat pelayanan dan wilayah pengembangannya.

3) Mengembangkan sistem telekomunikasi nirkabel (selular) sebagai alternatif pengganti telekomunikasi sistem kabel, melalui pembangunan BTS di seluruh wilayah Kabupaten Bangka sehingga dapat menjangkau daerah yang jauh sekalipun.

4) Pembangunan BTS memperhatikan kebutuhan lahan dan lokasi penempatan BTS.

Tower BTS direncanakan tersebar merata agar dapat digunakan dan dirasakan oleh semua masyarakat Kabupaten Bangka serta lokasinya tidak dekat dengan permukiman atau tempat kegiatan/aktifitas penduduk.

5) Membatasi pembangunan tower BTS dan menerapkan sistem penggunaan tower bersama.

H. Rencana Pengembangan Jaringan Sumber Daya Air Wilayah

Perkiraan kebutuhan air minum pada pembahasan ini diperhitungkan berdasarkan kebutuhan air perkapita, pertumbuhan dan perkembangan jumlah penduduk, pengklasifikasian jenis kebutuhan, perkembangan tingkat perekonomian dan kemampuan penyedia dalam melayani perkembangan kebutuhan air bersih dan air minum yang akan datang. Untuk menghitung kebutuhan air bersih akan digunakan standar yang dikeluarkan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah yang menyusun standar kebutuhan akan air bersih untuk masyarakat perkotaan dengan asumsi 120 lt/org/hari.

I. Rencana Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum

Kondisi eksisting pada saat ini, kecamatan yang baru terlayani PDAM adalah Kota Sungailiat, Kota Belinyu, dan Desa Baturusa Kecamatan Merawang. Cakupan pelayanan PDAM di kawasan tersebut belum sepenuhnya terlayani. Target yang dicanangkan pemerintah diharapkan 80% penduduk perkotaan dapat terlayani oleh air bersih.

(22)

Pengembangan yang dilakukan di Kabupaten Bangka adalah menjadikan seluruh kecamatan dapat terlayani oleh sistem perpipaan pada akhir tahun perencanaan.

Penyediaan air minum hingga 2030 khusus wilayah perkotaan Sungailiat, Belinyu dan Baturusa akan dilayani oleh Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kabupaten. Ibukota kecamatan lainnya akan dilayani oleh SPAM Ibu Kota Kecamatan (IKK), sedangkan di tingkat desa akan dilayani oleh SPAM Desa. Proses identifikasi, inventarisasi, perlindungan, konservasi daerah resapan, dan penggunaan secara optimal mata air sebagai sumber air bersih dengan kualitas dan kuantitas yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat, terutama untuk wilayah perdesaan direncanakan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bangka hingga 2030 di seluruh wilayah kabupaten.

Rencana utama dari sistem penyediaan air bersih di Kabupaten Bangka adalah memperbesar sistem jaringan untuk melayani daerah yang belum terlayani serta konservasi terhadap sumber air baku dan daerah resapan air. Sumber air baku untuk melayani air minum di Kabupaten Bangka direncanakan berasal dari 7 kolong yaitu :

1) Kolong Merawang

2) Kolong PLTD – Kec. Merawang 3) Kolong Pasir Merah Belinyu 4) Kolong Kenanga – Kec. Sungailiat 5) Kolong Simpur Pemali – Kec. Pemali 6) Kolong Tnol – Kec. Pemali

7) Kolong Dam I Pemali

J. Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Lingkungan

Rencana pengembangan sistem prasarana lingkungan adalah upaya bersama dalam menghadapi dampak lingkungan yang dikembangkan di lokasi yang digunakan bersama antar kecamatan dengan sistem pengelolaan yang berwawasan lingkungan. Rencana sistem prasarana lingkungan terdiri dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), sistem pengelolaan persampahan, sistem pengelolaan air limbah.

Pemerintah mengembangkan SPAM di Kabupaten Bangka berupa SPAM Kabupaten, Ibukota Kecamatan (SPAM-IKK) dan desa di pusat-pusat permukiman di seluruh wilayah dengan memanfaatkan air permukaan dan air tanah. Saat ini SPAM Kabupaten dikembangkan di PKL Sungailiat dan PKL Belinyu. SPAM IKK berada di Kecamatan Bakam, Kecamatan Pemali, Kecamatan Mendo Barat, Kecamatan Puding Besar dan Kecamatan Riau Silip, sementara SPAM desa berada di seluruh desa dan kelurahan.

Rencana pengelolaan persampahan di kawasan kota Sungailiat dilakukan dengan dua sistem pelayanan utama yaitu sistem pelayanan individu dan sistem pelayanan komunal.

Jumlah timbunan sampah yang dihasilkan di Kabupaten Bangka, yaitu sekitar Kota Sungailiat dan dengan perkembangan jumlah timbulan sampah yang relatif konstan, maka memerlukan pola komunal dan pola non komunal. Kegiatan pengangkutan sampah difokuskan pada wilayah perkotaan di Sungailiat, Batu Rusa, Belinyu dan sekitarnya. Untuk selanjutnya pengangkutan sampah akan segera dilakukan di lokasi yang membutuhkan.

(23)

K. Rencana Pola Ruang Wilayah

Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukkan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Pola ruang wilayah kabupaten merupakan gambaran pemanfaatan ruang wilayah, baik untuk pemanfaatan gambaran pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berfungsi lindung maupun budidaya. Pola ruang wilayah kabupaten merupakan penjabaran lebih rinci dari RTRW Nasional dan RTRW Provinsi.

Pola ruang yang akan dikembangkan di Kabupaten Bangka dirumuskan berdasarkan pertimbangan :

1) Arahan pola ruang berdasarkan RTRW Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

2) Analisis daya dukung pengembangan wilayah terutama daya dukung lahan untuk berbagai kegiatan budidaya dan sumber daya air.

3) Pengelolaan Kawasan Lindung berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990

4) Penetapan status hutan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan 5) Konsep struktur tata ruang yang akan diterapkan.

Didasarkan pada pertimbangan di atas, rencana pola ruang Kabupaten Bangka meliputi alokasi ruang :

1) Kawasan Lindung yang terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahnya (hutan lindung, kawasan resapan air), kawasan perlindungan setempat (sempadan sungai, sempadan pantai, kawasan sekitar danau/waduk/kolong dan RTH), kawasan suaka alam dan kawasan lindung geologi dan kawasan lindung lainnya.

2) Kawasan Budidaya yang terdiri dari kawasan permukiman/perkotaan dan kawasan pertanian (lahan basah, lahan kering dengan tanaman tahunan dan tanaman semusim), kawasan hutan produksi, kawasan industri dan kawasan pertambangan.

L. Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung

Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kele starian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Secara keseluruhan pola spasial pemanfaatan ruang kawasan lindung tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Bangka. Kawasan ini pada dasarnya merupakan kawasan yang berdasarkan analisis daya dukung mempunyai keterbatasan untuk dikembangkan karena adanya faktor-faktor limitasi yang menjadi kriteria (lereng, jenis tanah, curah hujan, ketinggian, zona kerentanan gerakan tanah).

Pengembangan kawasan lindung bertujuan untuk mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup, meningkatkan daya dukung lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem antar wilayah guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Bangka.

(24)

Rencana pengembangan kawasan lindung di Kabupaten Bangka mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang terdiri dari:

1) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, meliputi :

a) Kawasan hutan lindung, terbagi atas kawasan hutan konservasi dengan luas kurang lebih 15.619,51 Ha di hutan Gunung Maras di Kecamatan Riau Silip, Belinyu dan Bakam dan kawasan hutan lindung Kabupaten Bangka seluas lebih kurang 16.897,95 Ha yang terdiri dari HL. Bubus I Kecamatan Belinyu, HL. Bubus II di Kecamatan Belinyu, Hutan Lindung Sekah Tengkalat di Kecamatan Belinyu, HL. Sungailiat Mapur, HL. Bukit Rebo, Hutan Lindung Kota Waringin di Kecamatan Puding Besar, HL Sembulan, Hutan Lindung Pejem di Kecamatan Belinyu.

b) Kawasan resapan air, berupa perbukitan, rawa, dataran rendah dan lain-lain yang memenuhi persyaratan sebagai kawasan resapan air dengan lokasi tersebar di seluruh wilayah Kabupaten.

2) Kawasan Perlindungan Setempat, meliputi :

a) Sempadan sungai adalah sungai yang ditetapkan garis sempadan sungai sekurang- kurangnya (atau sesuai peraturan yang berlaku) mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 63 tahun 1993 dengan lokasi tersebar di seluruh kabupaten, luas lebih kurang 1.062,64 ha. Kegiatan yang diizinkan untuk pemanfaatan lahan di sempadan sungai antara lain berupa penelitian dan ilmu pengetahuan, penanaman bakau, dan pendirian bangunan untuk pengelolaan badan air / pemanfaatan air, dengan pola penatagunaan sebagai berikut:

(1) Sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.

(2) Sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.

(3) Sempadan sungai tak bertanggul di luar kawasan perkotaan sekurang-kurangnya 50 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

(4) Sempadan sungai tak bertanggul di dalam kawasan perkotaan dengan kedalaman kurang dari 3 meter. Maka sempadannya sekurang-kurangnya 10 meter; sungai dengan kedalaman antara 3 hingga 20 meter garis sempadannya sekurang-kurangnya 15 meter, sungai dengan kedalaman lebih dari 20 meter maka garis sempadannya dihitung sungai pada waktu ditetapkan.

(5) Sempadan sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut garis sempadannya ditetapkan sekurang-kurangnya 100 meter dari tepi sungai dan berfungsi sebagai jalur hijau.

b) Sempadan pantai, di Kabupaten Bangka dialokasikan maksimal 200 m dari pasang tertinggi dan penetapannya dilakukan secara proporsional sesuai analisis manfaatnya. Kawasan lindung pantai tersebar di Kecamatan Belinyu, Riau Silip,

(25)

Sungailiat, Mendo Barat, Puding Besar, Bakam dan Merawang dengan luas kurang lebih 963,43 ha.

Kebijakan pemanfaatan sempadan pantai di wilayah Kabupaten Bangka adalah sebagai berikut:

(1) Pada kawasan perkotaan dengan tinggi gelombang < 2 m lebar sempadan 30 – 75 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Kawasan ini meliputi kawasan- kawasan pariwisata dan kawasan tapak wisata.

(2) Pada kawasan perkotaan dengan tinggi gelombang > 2 m lebar sempadan 50 – 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Kriteria ini difokuskan pada kawasan yang memiliki potensi untuk pengembangan hutan mangrove.

(3) Di luar kawasan perkotaan dengan tinggi gelombang < 2 m lebar sempadan 100 – 200 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Kriteria ini difokuskan pada kawasan pantai barat dan tenggara Kabupaten yang memiliki hutan mangrove.

(4) Di luar kawasan perkotaan dengan tinggi gelombang > 2 m lebar sempadan 150 – 250 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Kriteria ini difokuskan pada kawasan pantai timur laut. Pantai barat dan tenggara yang memiliki kawasan hutan mangrove.

c) Kawasan sekitar danau/waduk/kolong, merupakan kawasan di sekitar sempadan kolong yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi kolong. Perlindungan terhadap kawasan sekitar kolong dilakukan untuk melindungi kolong dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik dengan jari-jari 50 meter di sekitar kolong. Kolong-kolong yang fungsinya sebagai sumber air minum atau sumber bahan baku air bersih. Maka jari-jari kawasan perlindungannya adalah 200 meter dari pinggir kolong. Dari sejumlah kolong yang ada di Kabupaten Bangka luas kawasan perlindungan terhadap kolong tersebut lebih kurang 136,32 ha, dengan sebaran di Kecamatan Sungailiat, Pemali, Belinyu dan Merawang.

d) Ruang Terbuka Hijau (RTH), merupakan ruang yang mempunyai beberapa fungsi.

Di antaranya adalah berfungsi ekologis, social, ekonomi, dan arsitektural, seperti taman-taman kota, sabuk hijau, jalur hijau, lapangan olahraga, pemakaman umum dan pekarangan/halaman rumah. Kabupaten Bangka mengembangkan ruang terbuka hijau di Bukit Siam Sungailiat dan tempat-tempat lainnya sesuai kebutuhan dan memenuhi kriteria yang ditentukan dengan lokasi menyebar. Penetapan ruang terbuka hijau di Kabupaten Bangka akan diatur lebih lanjut dengan surat keputusan Bupati dan direncanakan dikembangkan sampai minimal 20 % dari luas kawasan perkotaan di Kabupaten Bangka.

3) Kawasan Hutan Konservasi

Terdiri dari kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Kawasan suaka alam yang berfungsi sebagai hutan konservasi di Kabupaten Bangka berada di kawasan Gunung Maras dengan luasnya kurang lebih 15.619,51 ha dan berada di tiga kecamatan; yaitu sebagian besar di Kecamatan Riau Silip, dan sebagian kecilnya di Kecamatan Bakam, dan

Gambar

Gambar 2. 1 Kedudukan Dokumen RKP Dalam Undang Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang  Perumahan dan Kawasan Permukiman
Gambar 2. 2 Muatan Rencana Kawasan Permukiman
Tabel 2. 1 Skema Rencana Lingkungan hunian Perkotaan
Tabel 2. 2 Skema Rencana Lingkungan hunian Perdesaan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jadi pengertian dari “Penataan Permukiman Lingkungan Masjid Al - Mutaqin sebagai Wisata Religi di Kaliwungu ” adalah sebuah pusat wilayah permukiman penduduk di

MISI KE-1 : “ Meningkatkan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman yang layak huni melalui pembangunan prasarana, sarana.. dan utilitas terutama bagi masyarakat

pada ketentuan angka 5 Pasal 1 menyatakan Permukiman yaitu bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan Perumahan yang mempunyai prasarana, sarana,

Halaman | i - i aporan Akhir ini merupakan laporan tahap terakhir dalam rangka Penyusunan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman (RP3KP)

Selanjutnya yang dimaksud dengan permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana,

Arah pengembangan PKP di Provinsi Banten pada tahun 2030 sesuai RTRW, maka beberapa kota harus mulai mengembangkan permukiman di wilayah sekitarnya dan atau

Proses Penyusunan Rencana StrategisDinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Perhubungan ini berdasarkan Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 Kabupaten Wonosobo Tahun

Berdasarkan penetapan dalam rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah ditetapkan sistem pusat kegiatan Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) selain dari yang