BELAJAR SOSIAL (ALBERT BANDURA)
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi kepribadian Dosen Pengampu : Nuzul Ahadiayanto, S.psi., M.Si
Disusun Oleh :
1. Achmad Fikri Hidayat : 231103050010 2. Ira Maulina : 231103050008 3. Vera Ulfa Rahmatul Ula : 231103050011 4. Asroful Umam : 231103050004
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI ISLAM FAKULTAS DAKWAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER 2024
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga kita selalu memanjatkan doa kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat, rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, serta inayah-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh tutor kami untuk menulis makalah dengan topik “Perintah Menguasai Bahasa Mitra Dakwah” Tidak melebihi jangka waktu yang ditentukan. Tak lupa kita panjatkan terus doa dan salam kita kepada nabi besar kita, teladan kita, Nabi Muhammad SAW, yang syafaatnya selalu kita andalkan di hari-hari akhir, serta kepada keluarga dan para sahabatnya.
Makalah ini kami sajikan dalam bentuk penulisan yang mudah dipahami dan dimengerti. Tapi jauh dari kata sempurna, kami menyadari bahwa masih banyak keterbatasan dan kekuarangan dalam penyampaian materi di dalam makalah ini.
Karenanya kami ucapkan terimakasih kepada bapak Nuzul Ahadiayanto S.psi.,M.Si. sebagai dosen pembimbing mata kuliah Psikologi Kepribadian atas bimbingan, saran, dan rujukan dari beliau. Serta ucapan terimakasih kepada orang tua kita yang tak putus dan tak kenal lelah bekerja dan berdoa demi yang terbaik untuk anaknya. Serta terimakasih juga teman-teman sekelas, khususnya sekelompok karnanya mau bekerjasama dengan baik, dan saling membantu dalam visi terselesaikannya tugas ini.
Jember, 11 September 2024
Kelompok 10
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I...1
PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah... 1
C. Tujuan Masalah...2
BAB II...3
PEMBAHASAN...3
A. STRUKTUR KEPRIBADIAN...3
B. DINAMIKA KEPRIBADIAN...9
C. APLIKASI... 15
D. EVALUASI...19
BAB III...21
PENUTUP...21
A. KESIMPULAN...21
DAFTAR PUSTAKA... 23
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Belajar Sosial Merupakan proses di mana individu mempelajari perilaku, norma, dan nilai melalui interaksi sosial dengan orang lain. Ini melibatkan observasi, imitasi, dan pemodelan perilaku. Belajar Kognitif Menekankan peran proses mental seperti berpikir, memahami, dan mengingat dalam pembelajaran. Ini berfokus pada bagaimana informasi diproses, disimpan, dan digunakan. Albert Bandura Mengembangkan teori kognitif sosial yang menekankan bahwa pembelajaran tidak hanya terjadi melalui pengalaman langsung, tetapi juga melalui observasi terhadap orang lain. Konsep utamanya meliputi Observational Learning (Pembelajaran Observasional): Individu dapat belajar perilaku baru hanya dengan mengamati orang lain.
Self-Efficacy (Efikasi Diri): Keyakinan seseorang tentang kemampuannya untuk berhasil dalam tugas tertentu memengaruhi motivasi dan perilaku. Modeling (Pemodelan) yakni Individu belajar dengan meniru perilaku yang diamati dari model. Proses Kognitif Melibatkan pemrosesan informasi yang diperoleh melalui observasi, seperti memperhatikan, mengingat, dan memproses perilaku yang diamati. Peran Kognisi: Faktor- faktor seperti perhatian, pemahaman, dan penilaian memengaruhi bagaimana individu belajar dan mengadopsi perilaku baru. Pendidikan Pembelajaran sosial secara kognitif digunakan untuk merancang metode pengajaran yang efektif, di mana siswa belajar dengan mengamati dan meniru perilaku guru dan teman. Teori Behaviorisme: Sebelumnya, teori behaviorisme mendominasi pandangan tentang pembelajaran, dengan fokus pada penguatan dan hukuman. Bandura dan teori kognitif sosial membawa perspektif baru dengan memasukkan elemen kognitif dan sosial dalam proses pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja struktur kepribadian manusia?
2. Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika kepribadian?
3. Apa saja tahap-tahap perkembangan kepribadian?
4. Bagaimana teori dan konsep kepribadian Albert Bandura?
5. Bagaimana efektivitas dan validitas berbagai metode evaluasi kepribadian diukur.
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui dan memahami struktur kepribadian manusia.
2. Mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika kepribadian.
3. Mengetahui dan memahami tahap-tahap perkembangan kepribadian.
4. Mengetahui dan memahami teori dan konsep kepribadian Albert Bandura.
5. Mengetahui, memahami efektivitas dan validitas berbagai metode evaluasi kepribadian diukur.
BAB II PEMBAHASAN A. STRUKTUR KEPRIBADIAN
1. Sistem Self (Self System)
Tidak seperti Skinner yang teorinya tidak memiliki konstruk self, Bandura yakin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh self sebagai salah satu determinan tingkah laku tidak dapat dihilangkan tanpa membahayakan penjelasan dan kekuatan peramalan. Dengan kata lain, self diakui sebagai unsur struktur kepribadian. Saling determinis menempatkan semua hal saling berinteraksi, di mana pusat atau pemula-nya adalah sistem self.
Sistem self itu bukan unsur psikis yang mengontrol tingkah laku, tetapi mengacu ke struktur kognitif yang memberi pedoman mekanisme dan seperangkat fungsi-fungsi persepsi, evaluasi, dan pengaturan tingkah laku.
Pengaruh self tidak otomatis atau mengatur tingkah laku secara otonom, tetapi self menjadi bagian dari sistem interaksi resiprokal.
2. Regulasi Diri
Manusia mempunyai kemampuan berfikir, dan dengan kemampuan itu mereka memanipulasi lingkungan, sehingga terjadi perubahan lingkungan akibat kegiatan manusia. Balikannya dalam bentuk determinis resiprokal berarti orang dapat mengatur sebagian dari tingkahlakunya sendiri. Menurut Bandura, akan terjadi strategi reaktif dan proaktif dalam regulasi diri.
Strategi reaktif dipakai untuk mencapai tujuan, namun ketika tujuan hampir tercapai strategi proaktif menentukan tujuan baru yang lebih tinggi. Orang memotivasi dan membimbing tingkahlakunya sendiri melalui strategi proaktif, menciptakan ketidakseimbangan, agar dapat memobilisasi kemampuan dan usahanya berdasarkan antisipasi apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Ada tiga proses yang dapat dipakai untuk melakukan pengaturan diri: memanipulasi faktor eksternal, memonitor dan mengevaluasi tingkahlaku internal. Tingkahlaku manusia adalah hasil pengaruh resiprokal faktor eksternal dan faktor internal itu.
a) Faktor Eksternal dalam Regulasi Diri
Faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dengan dua cara, pertama faktor eksternal memberi standar untuk mengevaluasi tingkahlaku. Faktor lingkungan berinteraksi dengan pengaruh- pengaruh pribadi, membentuk standar evaluasi diri seseorang.
Melalui orang tua dan guru anak-anak belajar baik-buruk, tingkahlaku yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas anak kemudian mengembangkan standar yang dipakai untuk menilai prestasi diri. Kedua, faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dalam bentuk penguatan (reinforcement). Hadiah intrinsik tidak selalu memberi kepuasan, orang membutuhkan insentif yang berasal dari lingkungan eksternal. Standar tingkahlaku dan penguatan biasanya bekerja sama, ketika, orang dapat mencapai standar tingkahlaku tertentu, perlu penguatan agar tingkahlaku semacam itu menjadi pilihan untuk dilakukan lagi.
b) Faktor Internal dalam Regulasi Diri
Faktor eksternal berinteraksi dengan faktor internal dalam pengaturan diri sendiri. Bandura mengemukakan tiga bentuk terhadap pengaruh internal:
Observasi diri (self observation): dilakukan berdasarkan faktor kualitas penampilan, kuantitas penampilan, orisinalitas tingkahlaku diri, dan seterusnya. Orang harus mampu memonitor performansinya, walaupun tidak sempurna karena orang cenderung memilih beberapa aspek dan tingkahlakunya dan mengabaikan tingkahlaku lainnya.
Apa yang diobservasi seseorang tergantung kepada minat dan konsep dirinya.
Proses penilaian atau mengadili tingkah laku (judgmental process): adalah melihat kesesuaian tingkahlaku dengan standar pribadi, membandingkan tingkah laku dengan norma standar atau dengan tingkah laku orang lain. menilai
berdasarkan pentingnya suatu aktivitas, dan memberi atribusi performansi. Standar pribadi bersumber dari pengalaman mengamati model misalnya orang tua atau guru, dan menginterpretasi balikan/penguatan dari performansi diri. Berdasarkan sumber model dan performansi yang mendapat penguatan, proses kognitif menyusun ukuran- ukuran atau norma yang sifatnya sangat pribadi, karena ukuran itu tidak selalu sinkron dengan kenyataan. Standar pribadi ini jumlahnya terbatas. Sebagian besar aktivitas harus dinilai dengan membandingkannya dengan ukuran eksternal, bisa berupa norma standar perbandingan sosial, perbandingan dengan orang lain, atau perbandingan kolektif.
Orang juga menilai suatu aktivitas berdasarkan arti penting dari aktivitas itu bagi dirinya. Akhirnya, orang juga menilai seberapa besar dirinya menjadi penyebab dari suatu performansi, apakah kepada diri sendiri dapat dikenai atribusi (penyebab) tercapainya performansi, yang baik, atau sebaliknya justru dikenai atribusi terjadinya kegagalan dan performansi yang buruk.
Reaksi-diri-afektif (self response): akhirnya berdasarkan pengamatan dan 3 judgement itu, orang mengevaluasi diri sendiri positif atau negatif, dan kemudian menghadiahi atau menghukum diri sendiri. Bisa terjadi tidak muncul reaksi afektif, karena fungsi kognitif membuat keseimbangan yang mempengaruhi evaluasi positif atau negatif menjadi kurang bermakna secara individual.
3. Efikasi Diri (Self Effication)
Bagaimana orang bertingkahlaku dalam situasi tertentu tergantung kepada resiprokal antara lingkungan dengan kondisi kognitif, khususnya
faktor kognitif yang berhubungan dengan Bandura menyebut keyakinan atau harapan diri ini sebagai efikasi diri, dan harapan hasilnya disebut ekspektasi hasil.
a. Efikasi diri atau efikasi ekspektasi (self effication efficacy expectation) adalah "Persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu." Efikasi diri berhubungan dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan.
b. Ekspektasi hasil (outcome expectations): perkiraan atau estimasi diri bahwa tingkah laku yang dilakukan diri itu akan mencapai hasil tertentu.
Efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya (dapat dicapai), sedang efikasi menggambarkan penilaian kemampuan diri.
Seorang dokter akhli bedah, pasti mempunyai ekspektasi efikasi yang tinggi, bahwa dirinya mampu melaksanakan operasi tumor sesuai dengan standar profesional. Namun ekspektasi hasilnya bisa rendah, karena hasil operasi itu sangat tergantung kepada daya tahan jantung pasien, kemurnian obat antibiotik, sterilitas dan infeksi, dan sebagainya. Orang bisa memiliki ekspektasi hasil yang realistik (apa yang diharapkan sesuai dengan kenyataan hasilnya), atau sebaliknya ekspektasi hasilnya tidak realistik (mengharap terlalu tinggi dari hasil nyata yang dapat dicapai). Orang yang ekspektasi efikasinya tinggi (percaya bahwa dia dapat mengerjakan sesuai dengan tututan situasi) dan harapan hasilnya realistik (memperkirakan hasil sesuai dengan kemampuan diri), orang itu akan bekerja keras dan bertahan mengerjakan tugas sampai selesai.
4. Sumber Efikasi Diri
Perubahan tingkah laku, dalam sistem Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi efikasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan
kebisaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau kombinasi empat sumber, yakni pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment), pengalaman vikarius (vicarious experience), persuasi sosial (social persuation) dan pembangkitan emosi (Emotional/ Physiological states).
a. Pengalaman performansi
Adalah prestasi yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu.
Sebagai sumber, performansi masal alu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi (masa lalu) yang bagus meningkatkan ekspektasi efikasi, sedang kegagalan akan menurunkan efikasi. Mencapai keberhasilan akan memberi dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya:
1. Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat efikasi semakin tinggi.
2. Kerja sendiri, lebih meningkatkan efikasi dibanding kerja kelompok, dibantu orang lain.
3. Kegagalan menurunkan efikasi, kalau orang merasa sudah berusaha sebaik mungkin.
4. Kegagalan dalam suasana emosional/stress, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya optimal.
5. Kegagalan sesudah orang memiliki keyakinan efikasi yang kuat, dampaknya tidak seburuk kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang keyakinan efikasinya belum kuat.
6. Orang yang biasa berhasil, sesekali gagal tidak mempengaruhi efikasi.
b. Pengalaman Vikarius
Diperoleh melalui model sosial. Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal. Kalau figur yang diamati berbeda
dengan diri sipengamat, pengaruh vikarius tidak besar. Sebaliknya ketika mengamati kegagalan figur yang setara denga dirinya, bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.
c. Persuasi Sosial
Efikasi diri juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi sosial. Dampak dari dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari oarang lain dapat mempengaruhi efikasi diri. Kondisi itu adalah rasa percaya kepada pemberi suasi, dan sifat realistik dari apa yang persuasikan.
d. Keadaan Emosi
Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi di bidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat mengurangi elikasi diri Namun bisa terjadi, peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan elikasi diri. Perubahan tingkahlaku akan terjadi kalau sumber ekspektasi elikaunys berubah. Pengubahan self-efficacy banyak dipakai untuk memperbaiki kesulitan dan adaptası tingkah laku orang yang mengalami berbagai masalah behavioral.
5. Efikasi Diri sebagai Prediktor Tingkahlaku
Menurut Bandura, sumber pengontrol tingkahlaku adalah resiprokal antara lingkungan, tingkahlaku, dan pribadi. Efikasi diri merupakan variabel pribadi yang penting, yang kalau digabung dengan tujuan-tujuan spesila dan pemahaman mengenai prestasi, akan menjadi penentu tingkahlaku mendatang yang penting. Berbeda dengan konsep diri (Rogers) yang bersifat kesatuan umum, efikasi diri bersifat fragmental. Setiap individu mempunyai efikasi diri yang berbeda-beda pada situasi yang berbeda, tergantung kepada:
Kemampuan yang dituntut oleh situasi yang berbeda itu.
Kehadiran orang lain, khususnya saingan dalam situasi itu.
Keadaan fisiologis dan emosional; kelelahan, kecemasan, apatis, murung
Efikasi yang tinggi atau rendah, dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau tidak responsif, akan menghasilkan empat kemungkinan prediksi tingkahlaku.
6. Efikasi Kolektif (Collective Efficacy)
Keyakinan masyarakat bahwa usaha mereka secara bersama-sama dapat menghasilkan perubahan sosial tertentu, disebut efikasi kolektif Ini bukan 'jiwa kelompok tetapi lebih sebagai efikasi pribadi dari banyak orang yang bekerja bersama. Bandura berpendapat, orang berusaha mengontrol kehidupan dirinya bukan hanya melalui efikasi diri individual, tetapi juga melalui arit efikasi kolektif. Misalnya, dalam bidang kesehatan, orang memiliki efikası diri yang tinggi untuk berhenti merokok atau melakukan diet, tetapi mungkin memilki efikasi kolektif yang rendah dalam hal mengurangi polusi lingkungan, bahaya tempat kerja, dan penyakit infeksi.
Efikasi diri dan efikasi kolektif bersama-sama saling melengkapi untuk mengubah gaya hidup manusia. Efikasi kolektif timbul berkaitan dengan masalah-masalah perusakan hutan, kebijakan perdagangan internasional, perusakan ozone, kemajuan teknologi, hukum dan kejahatan, birokrasi, perang, kelaparan, bencana alam, dan sebagainya.1
B. DINAMIKA KEPRIBADIAN
Menurut Bandura, motivasi merupakan konstruk kognitif yang mempunyai dua sumber, gambaran hasil pada masa yang akan datang (yang dapat menimbulkan motivasi tingkah laku saat ini) dan harapan keberhasilan yang didasarkan pada pengalaman menetapkan dan mencapai tujuan-tujuan. Dengan kata lain, harapan mendapat reinforsemen pada masa yang akan datang memotivasi seseorang untuk bertingkah laku tertentu.
Juga, demikian menetapkan tujuan atau tingkat performansi yang diinginkan, dan kemudian mengevaluasi perfomansi dirinya, orang
1 Alwisol. (2019). Psikologi Kepribadian. Malang. Universitas Muhammadiyah Malang
termotivasi untuk bertindak pada tingkat tertentu. Anak yang lemah dalam matematik, tampak meningkat performansinya ketika mereka menetapkan dan berusaha mencapai serangkaian tujuan yang berurutan yang memungkinkan evaluasi diri segera daripada menetapkan tujuan yang jauh dan membutuhkan waktu lama mencapainya. Jadi, terus menerus mengamati, memikirkan, dan menilai tingkah laku diri, akan memberi insentif diri sehingga bertahan dalam berusaha mencapai standar yang telah ditentukan.
Bandura setuju bahwa penguatan menjadi penyebab belajar. Namun orang juga dapat belajar dengan penguat yang diwakilkan (vicarious reinforcement), penguat yang ditunda (expectation reinforcement), atau bahkan tanpa penguat (beyond reinforcement):
1. Penguatan Vikarius (vicarious reinforcement); mengamati orang lain yang mendapat penguatan, membuat orang ikut puas dan berusaha belajar gigih agar menjadi seperti orang itu.
2. Penguatan yang ditunda (expectation reinforcement): orang terus menerus berbuat tanpa mendapat penguatan, karena yakin akan mendapat penguatan yang sangat memuaskan pada masa yang akan datang.
3. Tanpa penguatan (beyond reinforcement): belajar tanpa ada reinforsemen sama sekali, mirip dengan konsep otonomi fungsional dari Allport.
Ekspektasi penguatan dapat dikembangkan dengan mengenali dampak dari tingkah laku; pengamatan terhadap praktek mengganjar dan menghukum tingkah laku orang lain yang ada di lingkungan sosial, dan mengganjar dan menghukum tingkah lakunya sendiri. Orang mengembangkan standar pribadi berdasarkan standar sosial melalui interaksinya dengan orang tua, guru, dan teman sebayanya. Orang dapat merigganjar dan menghukum tingkah laku sendiri dengan menerima diri atau mengkritik diri. Penerimaan dan kritik diri ini sangat besar perannya
dalam membimbing tingkahlaku, sehingga tingkah laku orang menjadi tetap (konsisten), tidak terus menerus berubah akibat adanya perubahan sosial.
Dalam penelitian ditemukan, anak-anak yang diganjar dan dipuji untuk pencapaian yang relatif rendah akan tumbuh dan mengembangkan self- reward yang murah dibanding anak yang standar pencapaiannya tinggi.
Begitu pula anak yang mengamati model yang diganjar pada standar pencapaian yang rendah akan menjadi orang dewasa yang murah dalam mengganjar diri sendiri dibanding anak yang mengamati model dengan standar ganjaran tinggi.
C. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN 1. Belajar Melalui Observasi
Menurut Bandura, kebanyakan belajar terjadi tanpa reinforsemen yang nyata. Dalam penelitiannya, ternyata orang dapat mempelajari respon baru dengan melihat respon orang lain, bahkan belajar tetap terjadi tanpa ikut melakukan hal yang dipelajari itu, dan model yang diamatinya juga tidak mendapat reinforsemen dari tingkahlakunya. Belajar melalui observasi jauh lebih efisien dibanding belajar melalui pengalaman langsung. Melalui observasi orang dapat memperoleh respon yang dak terhingga banyaknya, yang mungkin diikuti dengan hubungan atau penguatan.
Peniruan (Modelling)
Inti dari belajar melalui observasi adalah modeling. Peniruan atau meniru sesungguhnya tidak tepat untuk mengganti kata modeling, karena modeling bukan sekedar menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan orang model (orang lain), tetapi modeling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkahlaku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus, melibatkan proses kognitif.
Penelitian terhadap tiga kelompok anak taman kanak-kanak:
Kelompok pertama disuruh mengobservasi model orang dewasa
yang bertingkah laku agresif, fisik dan verbal, terhadap boneka karet. Kelompok kedua diminta mengobservasi model orang dewasa yang duduk tenang tanpa menaruh perhatian terhadap boneka karet didekatnya. Kelompok ketiga menjadi kelompok kontrol yang tidak ditugasi mengamati dua jenis model itu. Ketiga kelompok anak itu kemudian dibuat mengalami frustrasi ringan, dan setiap anak sendirian ditempatkan di kamar yang ada boneka karet seperti yang dipakai penelitian. Ternyata tingkah laku setiap kelompok cenderung mirip dengan tingkahlaku model yang diamatinya.
Kelompok pertama bertingkah laku lebih agresif terhadap boneka dibanding kelompok lain. Kelompok kedua sedikit lebih agresif dibanding kelompok kontrol.
Modeling Tingkahlaku Baru
Melalui modeling orang dapat memperoleh tingkahlaku baru. Ini dimungkinkan karena adanya kemampuan kognitif. Stimuli berbentuk tingkahlaku model ditransformasi menjadi gambaran mental, dan yang lebih penting lagi ditransformasi menjadi simbol verbal yang dapat diingat kembali suatu saat nanti. Ketrampilan kognitif yang bersifat simbolik ini, membuat orang dapat mentransform apa yang dipelajarinya atau menggabung-gabung apa yang diamatinya dalam berbagai situasi menjadi pola tingkahlaku baru.
2. Modeling Mengubah Tingkahlaku Lama
Di samping dampak mempelajari tingkahlaku baru, modelling mempunyai dua macam dampak terhadap tingkahlaku lama. Pertama, tingkahlaku model yang diterima secara sosial dapat memperkuat respon yang sudah dimiliki pengamat. Kedua, tingkahlaku model yang tidak diterima secara sosial dapat memperkuat atau memperlemah pengamat untuk melakukan tingkah laku yang tidak diterima secara sosial, tergantung apakah tingkah laku model itu diganjar atau dihukum. Kalau tingkah laku yang tidak dikehendaki itu justru diganjar,
pengamat cenderung meniru tingkahlaku itu, sebaliknya kalau tingkahlaku yang tidak dikehendaki itu dihukum, respon pengamat menjadi semakin lemah.
Modeling Simbolik
Dewasa ini sebagian besar modeling tingkah laku berbentuk simbolik. Film dan televisi menyajikan contoh tingkahlaku yang takterhitung yang mungkin mempengaruhi pengamatnya. Sajian itu berpotensi sebagai sumber model tingkah laku.
Modeling Kondisioning
Modeling dapat digabung dengan kondisioning klasik menjadi kondisioning klasik vikarius (vicarious classical conditioning).
Modeling semacam ini banyak dipakai untuk mempelajari respon emosional. Pengamat mengobservasi model tingkahlaku emosional yang mendapat penguatan. Muncul respon emosional yang sama di dalam diri pengamat, dan respon itu ditujukan ke obyek yang ada didekatnya (kondisioning klasik) saat dia mengamati model itu, atau yang dianggap mempunyai hubungan dengan obyek yang menjadi sasaran emosional model yang diamati. Emosi seksual yang timbul akibat menonton film cabul dilampiaskan ke obyek yang ada didekatnya saat itu (misalnya; menjadi kasus pelecehan dan perkosaan anak).2
3. Faktor-Faktor Penting dalam Belajar Melalui Observasi
Tentu saja, mengamati orang lain melakukan sesuatu tidak tidak mesti berakibat belajar, karena belajar melalui observasi memerlukan beberapa faktor atau prakondisi. Menurut Bandura, ada empat proses yang penting agar belajar melalui observasi dapat terjadi, yakni:
a) Perhatian (attention process): Sebelum meniru orang lain, perhatian harus dicurahkan ke orang itu. Perhatian ini dipengaruhi oleh asosiasi pengamat
2Alwisol. (2019). Psikologi Kepribadian. Malang. Universitas Muhammadiyah Malang
dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti periting tingkahlaku yang diamati bagi si pengamat.
b) Representasi (representation process): Tingkahlaku yang akan ditiru, harus disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara verbal tingkahlaku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latihan simbolik dalam fikiran, tanpa benar-benar melakukannya secara fisik.
c) Peniruan tingkahlaku model (behavior production process): Sesudah mengamati dengan penuh pen perhatian, dan memasukkannya ke dalam ingatan, orang lalu bertingkahlaku. Mengubah dari gambaran fikiran menjadi tingkahlaku menimbulkan kebutuhan evaluasi; "Bagaimana melakukannya?" "Apa yang harus dikerjakan?" "Apakah sudah benar?"
Berkaitan dengan kebenaran, hasil belajar melalui observasi tidak dinilai berdasarkan kemiripan respon dengan tingkahlaku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari pebelajar.
d) Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement process): Belajar melalui pengamatan menjadi efektif kalau pebelajar memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkahlaku modelnya. Observasi mungkin memudahkan orang untuk menguasai tingkahlaku tertentu, tetapi kalau motivasi untuk itu tidak ada, tidak bakal terjadi proses belajar. Imitasi lebih kuat terjadi pada tingkah laku model yang diganjar, daripada tingkah laku yang dihukum, Imitasi tetap terjadi walaupun model tidak diganjar, sepanjang pengamat melihat model mendapat ciri-ciri positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil, sehingga diyakini model umumnya akan diganjar.
Motivasi banyak ditentukan oleh kesesuaian antara karakteristik pribadi pengamat dengan karakteristik modelnya. Ciri-ciri model seperti usia, status sosial, seks, keramahan, dan kemampuan, penting dalam menentukan tingkat imitasi. Anak lebih senang meniru model seusianya daripada model dewasa.
Anak juga cenderung meniru model yang standar prestasinya dalam jangkauannya, alih-alih model yang standarnya diluar jangkauannya. Anak yang sangat dependen cenderung mengimitasi model yang dependennya lebih ringan. Imitasi juga dipengaruhi oleh interaksi antara ciri model dengan observernya. Anak cenderung mengimitasi orang tuanya yang hangat dan open (jw), gadis lebih mengimitasi ibunya.
4. Dampak Belajar
Setiap kali respon dibuat, akan diikuti dengan berbagai konsekuensi; ada yang konsekuensinya menyenangkan, ada yang tidak menyenangkan, ada yang tidak masuk kekesadaran sehingga dampaknya sangat kecil. Penguatan - baik positif maupun negatif dampaknya tidak otomatis sejalan dengan konsekuensi respon. Konsekuensi dari suatu respon mempunyai tiga fungsi:
1. Pemberi informasi: memberi informasi mengenai dampak dari tingkahlaku, informasi ini dapat disimpan untuk dipakai membimbing tingkahlaku pada masa yang akan datang.
2. Memotivasi tingkahlaku yang akan datang: Menyajikan data sehingga orang dapat membayangkan secara simbolik hasil tingkahlaku yang akan dilakukannya, dan bertingkahlaku sesuai dengan peramalan-peramalan yang dilakukannya. Dengan kata lain, tingkahlaku ditentukan atau dinmotivasi oleh masa yang akan datang, di mana pemahaman mengenal apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang itu diperoleh dari pemahaman mengenai konsekuensi suatu tingkahlaku.
3. Penguat tingkahlaku: Keberhasilan akan menjadi penguat sehingga tingkahlaku menjadi berpeluang diulangi, sebaliknya kegagalan akan membuat tingkahlaku cenderung tidak diulang.
C. APLIKASI 1) Psikopatologi
Bandura sependapat dengan Eysenck dan Wolpe bahwa terapi tingkah laku dapat efektif mengurangi reaksi kecemasan. Dia tidak percaya bahwa tekanan
emosional menjadi elemen kunci penyebab reaksi takut yang berlebihan, sehingga harus dihilangkan agar tingkahlaku dapat berubah. Menurutnya, masalah pokoknya adalah orang percaya bahwa dirinya tidak dapat menangani situasi tertentu secara efekktif. Karena itu perlu dikembangkan self-efficacy, agar terjadi perubahan tingkah laku. Konsep determinis resiprokal menganggap tingkahlaku dipelajari sebagai akibat dari interaksi antara pribadi-tingkahlaku- lingkungan, termasuk tingkahlaku yang menyimpang. Tingkahlaku patologis itu dipengaruhi oleh faktor kognitif, proses neurofisiologis, pengalaman masa lalu yang mendapat penguatan, dan nilai fasilitatif dari lingkungan.
a. Reaksi Depresi: Standar pribadi dan penetapan tujuan yang terlalu tinggi, membuat orang rentan mengalami kegagalan, dan akan berakibat orang mengalami depresi. Sesudah dalam keadaan depresi, orang cenderung menilai rendah prestasi dirinya, sehingga "keberhasilan" tetap dipandang sebagai kegagalan. Akibatnya, terjadi kesengsaraan yang kronis, merasa tidak berharga, tidak mempunyai tujuan, dan depresi yang mendalam.
Penderita depresi melakukan regulasi diri pengamatan diri, proses penilaian, reaksi diri dengan cara yang salah. Ketika mengamati diri sendiri, penderita depresi menilai salah performansinya, atau mengaburkan ingatan prestasinya yang telah lalu. Mereka meremehkan (underestimate)keberhasilannya sendiri, sebaliknya melebih-lebihkan (overestimate) kegagalan yang dilakukannya. Dalam proses penilaian, penderita depresi memasang standar yang sangat tinggi sehingga apapun pencapaian yang diperoleh dinilai sebagai kegagalan, bahkan ketika orang lain memandang dia sangat berhasil, dia tetap menghina prestasinya sendiri.
Penderita menempatkan standar dan tujuan terlalu tinggi di atas kesadaran efikasi dirinya. Ketika melakukan reaksi-diri, penderita depresi mengadili dirinya secara kasar, buruk, lebih-lebih terhadap kekurangan dirinya. rinya.
Mereka menghukum diri sendiri secara berlebihan terhadap performansi diri yang kurang baik.
b. Fobia: Perasaan takut yang sangat kuat dan mendalam, sehingga berdampak buruk terhadap kehidupan sehari-hari seseorang. Begitu mendalamnya
perasaan takut itu, sehingga obyek penyebabnya menjadi kabur, obyek itu digeneralisasikan secara salah. Bandura mengemukakan bahwa media, seperti televisi dan surat kabar tanpa sengaja menciptakan fobia. Cerita seram perkosaan, kekejaman perampok, pembunuhan berantai, meneror masyarakat sehingga mereka (yang sebagian besar tidak pernah mengalami hal itu) tetap merasa tidak aman walaupun pintu-pintu rumah telah terkunci rapat-rapat. Fobia yang dipelajari dari pengamatan lingkungan, menjadi eksis akibat efikasi diri yang rendah, orang merasa tidak mampu menangani suatu masalah yang mengancam sehingga muncul perasaan takut yang kronis.
c. Agresi: Menurut Bandura, agresi diperoleh melalui pengamatan, pengalaman langsung dengan renforsemen positif dan negatif, latihan atau perintah, dan keyakinan yang ganjil (bandingkan dengan Freud dan kawan- kawannya yang menganggap agresi adalah dorongan bawaan). Agresi yang ekstrim menjadi disfungsi atau salahsuai psikologis. Dari penelitian yang dilakukan Bandura, observasi terhadap perilaku agresi akan menghasilkan respon peniruan yang berlebih. Pengamat akan bertingkahlaku lebih agresif dibanding modelnya.
2) Psikoterapi
Sama halnya dengan respon emosi yang dapat diperoleh secara langsung atau secara vicarious, menghilangkan tingkahlaku (yang tidak dikehendaki) dapat dilakukan secara langsung atau secara vicarious pula. Penakut dapat mengubah rasa takutnya dengan melihat model yang tanpa rasa takut berinteraksi dengan hal yang ditakutkan itu.
Secara umum, terapi yang dilakukan Bandura adalah terapi kognitif- sosial.
Tujuannya untuk memperbaiki regulasi self, melalui pengubahan tingkahlaku dan mempertahankan perubahan tingkahlaku yang terjadi. Ada tiga tingkatan keefektifan suatu tritmen yakni; tingkat induksi perubahan, generalisasi, dan pemeliharaan.
a. Tingkat Induksi perubahan: tritmen dikatakan efektif kalau dapat mengubah tingkahlaku. Misalnya terapi menghilangkan takut ketinggian penderita akrofobia, sehingga dia berani naik tangga yang tinggi.
b. Tingkat Generalisasi: tritmen yang lebih tinggi, memungkinkan terjadinya generalisasi. Penderita akrofobia itu bukan hanya berani naik tangga, dia juga berani naik lift, kapal terbang, dan membersihkan kaca gedung bertingkat c. Tingkat Pemeliharaan: Sering terjadi tingkahlaku positif hasil terapi berubah kembali menjadi tingkahlaku negatif (khususnya pada tingkahlaku habit negatif, merokok, alkoholik, narkotik). Terapi mencapai tingkat efektif yang tertinggi kalau hasil induksi dan generaslisai dapat terpelihara, tidak berubah menjadi negatif.
Bandura mengusulkan tiga macam pendekatan tritmen, yakni; latihan penguasaan (desensitisasi modeling), modeling terbuka, dan modeling simbolik.
1. Latihan penguasaan (desensitisasi modeling): mengajari klien untuk menguasai tingkahlaku yang sebelumnya tidak bisa dilakukan (misalnya karena takut). Tritmen konseling dimulai dengan membantu klien mencapai relaksasi yang mendalam. Kemudian konselor meminta klien membayangkan hal yang menakutkannya secara bertahap. Misalnya, ular, dibayangkan melihat ular mainan di etalase toko. Kalau klien dapat membayangkan kejadian itu tanpa rasa takut, mereka diminta membayangkan bermain-main dengan ular mainan, kemudian melihat ular dikandang kebun binatang, kemudian menyentuh ular, sampai akhirnya menggendong ular. Ini adalah model desensitisasi sistematik yang pada paradigma behaviourisme dilakukan dengan memanfaatkan variasi penguatan. Bandura memakai desensitisasi sistematik itu dalam fikiran (karena itu teknik ini terkadang disebut: modeling kognitif) tanpa memakai penguatan yang nyata.
2. Modeling terbuka (modeling partisipan): Klien melihat model nyata, biasanya diikuti dengan klien berpartisipasi dalam kegiatan model, dibantu
oleh modelnya meniru tingkahlaku yang dikehendaki, sampai akhirnya mampu melakukan sendiri tanpa bantuan.
3. Modeling simbolik: klien melihat model dalam film, atau gambar/cerita.
Kepuasan vikarious (melihat model mendapat penguatan) mendorong klien untuk mencoba/meniru tingkahlaku modelnya.
Ketika hasilnya dibandingkan, desensitisasi modeling dan modeling simbolik relatif sama kekuatannya untuk menghilangkan rasa takut. Namun yang paling berhasil menghilangkan rasa takut adalah modeling partisipan.
3) Metodologi
Bandura banyak meneliti masalah dunia nyata dalam laboratorium, seperti masalah agresi, fobia, penyembuhan dari serangan jantung, perolehan kemampuan matematik pada anak. Tujuan pokoknya adalah untuk menyatukan kerangka konseptual yang dapat mencakup berbagai hal yang mempengaruhi perubahan tingkahlaku. Dalam setiap kegiatan, ketrampilan dan keyakinan-diri yang menjamin pemakaian kemampuan secara optimal dibutuhkan agar diri dapat berfungsi sukses.
Bandura mengembangkan microanalytic approach: riset yang mementingkan asesmen yang ditil sepanjang waktu untuk mencapai keselarasan antara persepsi diri dengan tingkah laku pada setiap tahap performansi tugas.
Teknik ini cocok untuk strategi penelitian yang melacak perubahan setiap saat, penelitian yang menganalisis proses, bukan hasil.
D. EVALUASI
Teori kognitif-sosial Bandura mengembangkan hipotesis dan riset yang paling banyak jumlahnya, dibanding teori kepribadian lainnya. Diantara ratusan penelitian yang menguji asumsi-asumsi Bandura, topik yang paling luas diteliti adalah efikasi diri dan modeling kekerasan. Ranah pendidikan dan dunia kerja memanfaatkan efikasi diri untuk meramalkan taraf sukses seseorang pada masa yang akan datang. Penelitian modeling yang paling penting dan banyak dikutip
orang adalah menguji dampak kekerasan dan agresi dalam film televisi dan film bioskop. Memang hanya 10% dari penonton film kekerasan yang terpengaruh oleh film kekerasan, di mana mereka menjadi lebih agresif dibanding kalau mereka tidak menonton film itu. Jumlah prosentase itu kalau dikalikan dengan populasi, memberi angka yang sangat besar. Belum tentu yang 10% itu menjadi
"jahat", namun paling tidak mereka mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengekspresikan agresi yang salahsuai.
Teori kognitif-sosial sering dikelompokkan ke dalam paradigma behavioristik, karena hanya membahas aspek kepribadian yang ada di permukaan, tingkah laku yang tampak. Penekanan pada tingkahlaku yang dapat diamati berakibat (observable) itu, berakibat Bandura melupakan atau mengabaikan aspek perbedaan manusia kekuatan motivasi yang disadari dan tidak disadari. Fungsi kognitif sebagai wakil nilai-nilai kemanusiaan, penentu tingkahlaku. Teori kognitif-sosial mempelajari ekspektasi, kontrol penguatan diri, kecemasan dan pertahanan, dan variabel yang terlibat dengan belajar melalui pengamatan. Namun semuanya dibiarkan dalam potongan-potongan dan tidak disatukan dalam satu sitensa yang komprehensif. Fungsi kognitif yang menjadi sentral dari variabel pribadi, tidak mendapat elaborasi yang cukup,sehingga cakupan proses kognitif bisa menjadi sangat luas semua atribut pribadi.
BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Terdapat beberapa struktur kepribadian yakni:
a. Sistem Self (Self System), Tidak seperti Skinner yang teorinya tidak memiliki konstruk self, Bandura yakin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh self sebagai salah satu determinan tingkah laku tidak dapat dihilangkan tanpa membahayakan penjelasan dan kekuatan peramalan.
b. Regulasi Diri, Manusia mempunyai kemampuan berfikir, dan dengan kemampuan itu mereka memanipulasi lingkungan, sehingga terjadi perubahan lingkungan akibat kegiatan manusia.
c. Efikasi diri atau efikasi ekspektasi (self effication efficacy expectation) adalah "Persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu."
d. Sumber Efikasi Diri, Perubahan tingkah laku, dalam sistem Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi efikasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebisaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, e. Efikasi Diri sebagai Prediktor Tingkahlaku, Menurut
Bandura, sumber pengontrol tingkahlaku adalah resiprokal antara lingkungan, tingkahlaku, dan pribadi.
2. Menurut Bandura dalam dinamika kepribadian nya, motivasi merupakan konstruk kognitif yang mempunyai dua sumber, gambaran hasil pada masa yang akan datang (yang dapat menimbulkan motivasi tingkah laku saat ini) dan harapan keberhasilan yang didasarkan pada pengalaman menetapkan dan
mencapai tujuan-tujuan. Dengan kata lain, harapan mendapat reinforsemen pada masa yang akan datang memotivasi seseorang untuk bertingkah laku tertentu. Juga, demikian menetapkan tujuan atau tingkat performansi yang diinginkan, dan kemudian mengevaluasi perfomansi dirinya, orang termotivasi untuk bertindak pada tingkat tertentu.
3. Dalam masa perkembangan kepribadian terbagi menjadi 4 yaitu:
1. Belajar Melalui Observasi, dengan melakukan peniruan atau medelling dan modelling tingkahlaku baru
2. Modeling mengubah tingkahlaku lama, dengan melakukan modeling simbolik dan modeling kondisioning
3. Faktor-faktor penting dalam belajar melalui observasi dimana menurut bandura terdapat 4 proses yang penting agar belajar melalui observasi dapat terjadi yakni dengan; perhatian, representasi, peniruan tingkahlaku model, motivasi dan penguatan.
4. Dampak Belajar
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. 2018. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
Syayidah Nur Amaliyah Alfi, dkk. 2023. “Perbandingan Konsep Perkembangan Kepribadian Erik H. Erikson dan Ibnu Khaldun.” Vol 9 No. 1 Al Murabbi.