BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 1.1. Latar Belakang
Sanitasi sebagai salah satu indikator dalam upaya mewujudkan
Sanitasi sebagai salah satu indikator dalam upaya mewujudkan TujuanTujuan Pembangunan Milenium, atau MDG masih merupakan hal yang sangat sulit Pembangunan Milenium, atau MDG masih merupakan hal yang sangat sulit dicapai
dicapai sampai sampai tahun tahun 2015.2015. Millennium Development GoalsMillennium Development Goals atau Tujuanatau Tujuan Pembangunan Millenium mencanangkan pada 2015 sebanyak 77,2% persen Pembangunan Millenium mencanangkan pada 2015 sebanyak 77,2% persen penduduk Indonesia ditargetkan telah memiliki akses air minum yang layak dan penduduk Indonesia ditargetkan telah memiliki akses air minum yang layak dan minimal 59.1 persen penduduk Indonesia di Kota dan Desa sudah memperoleh minimal 59.1 persen penduduk Indonesia di Kota dan Desa sudah memperoleh pelayanan sanitasi yang memadai (Status Millenium Development
pelayanan sanitasi yang memadai (Status Millenium Development Goal IndonesiaGoal Indonesia 2009).
2009).
Secara nasional permasalahan yang terjadi adalah cakupan Sanitasi yang Secara nasional permasalahan yang terjadi adalah cakupan Sanitasi yang belum merata dan belum menggambarkan kualitas yang sebenarnya mengenai belum merata dan belum menggambarkan kualitas yang sebenarnya mengenai fasilitas sanitasi tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya fasilitas sanitasi tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kondisi ini, antara lain disebabkan lemahnya perencanaan pembangunan kondisi ini, antara lain disebabkan lemahnya perencanaan pembangunan sanitasi, yang ditandai dengan pembangunan sanitasi tidak terpadu, salah sanitasi, yang ditandai dengan pembangunan sanitasi tidak terpadu, salah sasaran, tidak sesuai kebutuhan, dan tidak berkelanjutan, serta kurangnya sasaran, tidak sesuai kebutuhan, dan tidak berkelanjutan, serta kurangnya perhatian masyarakat pada perilaku hidup bersih dan sehat.
perhatian masyarakat pada perilaku hidup bersih dan sehat.
salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi p
salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam menunjang tingkatenting dalam menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup, kesejahteraan masyarakat karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup, kondisi lingkungan permukiman, estetika serta kenyamanan dalam kehidupan kondisi lingkungan permukiman, estetika serta kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari. Sanitasi merupakan salah satu faktor terpenting dalam mewujudkan sehari-hari. Sanitasi merupakan salah satu faktor terpenting dalam mewujudkan layanan yang terkait dengan pengentasan kemiskinan dan peningkatan layanan yang terkait dengan pengentasan kemiskinan dan peningkatan produktivitas.
produktivitas.
Namun masih sering dijumpai bahwa aspek-aspek pembangunan sanitasi yang Namun masih sering dijumpai bahwa aspek-aspek pembangunan sanitasi yang meliputi air limbah - yang tidak terpisahkan dari penyediaan air bersih - meliputi air limbah - yang tidak terpisahkan dari penyediaan air bersih - persampahan dan drainase, masih berjalan sendiri-sendiri. Meskipun masuk persampahan dan drainase, masih berjalan sendiri-sendiri. Meskipun masuk dalam sat
dalam satu bidang u bidang pembangunan pembangunan yaitu yaitu sanitasi, sanitasi, tetapi masing-masintetapi masing-masing aspekg aspek
tersebut ditangani secara terpisah sehingga banyak terjadi tumpang tindih tersebut ditangani secara terpisah sehingga banyak terjadi tumpang tindih kegiatan pembangunan bidang sanitasi oleh institusi yang berbeda beda, di sisi kegiatan pembangunan bidang sanitasi oleh institusi yang berbeda beda, di sisi lain masih banyak ditemui aspek sanitasi yang belum tertangani oleh siapapun.
lain masih banyak ditemui aspek sanitasi yang belum tertangani oleh siapapun.
Hal tersebut seringkali membingungkan masyarakat sebagai penerima manfaat Hal tersebut seringkali membingungkan masyarakat sebagai penerima manfaat sekaligus pelaku pembangunan.
sekaligus pelaku pembangunan.
Pelaksanaan pembangunan sanitasi sering berjalan secara parsial dan belum Pelaksanaan pembangunan sanitasi sering berjalan secara parsial dan belum terintegrasi dalam suatu “rencana besar” yang sifatnya integratif dan memiliki terintegrasi dalam suatu “rencana besar” yang sifatnya integratif dan memiliki sasaran secara menyeluruh serta dengan jangka waktu yang lebih panjang.
sasaran secara menyeluruh serta dengan jangka waktu yang lebih panjang.
Masing-masing institusi melaksanakan kegiatannya sesuai dengan tugas pokok Masing-masing institusi melaksanakan kegiatannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sendiri-sendiri, padahal seringkali kegiatan tersebut sebetulnya dan fungsinya sendiri-sendiri, padahal seringkali kegiatan tersebut sebetulnya dapat diintegrasikan dalam satu kegiatan yang saling bersinergi. Sementara dapat diintegrasikan dalam satu kegiatan yang saling bersinergi. Sementara masih terdapat pula institusi yang tidak memiliki tugas menangani sanitasi secara masih terdapat pula institusi yang tidak memiliki tugas menangani sanitasi secara langsung namun sangat dibutuhkan peranannya dalam mendukung langsung namun sangat dibutuhkan peranannya dalam mendukung pembangunan sanitasi.
pembangunan sanitasi.
Sejalan dengan tuntutan dan cita-cita peningkatan standar kualitas hidup Sejalan dengan tuntutan dan cita-cita peningkatan standar kualitas hidup masyarakat, dan di sisi lain tingkat pencemaran lingkungan semakin tinggi, serta masyarakat, dan di sisi lain tingkat pencemaran lingkungan semakin tinggi, serta keterbatasan daya dukung lingkungan itu sendiri sehingga dampak negatif yang keterbatasan daya dukung lingkungan itu sendiri sehingga dampak negatif yang disebabkan oleh pemanfaatan lingkungan juga masih sangat tinggi, hal ini disebabkan oleh pemanfaatan lingkungan juga masih sangat tinggi, hal ini menyebabkan sanitasi menjadi salah satu aspek pembangunan yang harus menyebabkan sanitasi menjadi salah satu aspek pembangunan yang harus diperhatikan. Sanitasi tidak bisa dianggap
diperhatikan. Sanitasi tidak bisa dianggapsebagai urusan “sepele”,sebagai urusan “sepele”,
urusan sanitasi sama pentingnya dengan urusan-urusan yang lain. Belajar dari urusan sanitasi sama pentingnya dengan urusan-urusan yang lain. Belajar dari pengalaman, penanganan sanitasi tidak dapat dilakukan secara parsial.
pengalaman, penanganan sanitasi tidak dapat dilakukan secara parsial.
Perencanaan yang tumpang tindih, tidak tepat sasaran, dan tidak berkelanjutan Perencanaan yang tumpang tindih, tidak tepat sasaran, dan tidak berkelanjutan tidak boleh terulang lagi. Sanitasi harus ditangani secara multistakeholder dan tidak boleh terulang lagi. Sanitasi harus ditangani secara multistakeholder dan komprehensif. Siapapun
komprehensif. Siapapun yang terkait dalam penyediaayang terkait dalam penyediaan layanan sanitasi di kotan layanan sanitasi di kota,, harus dilibatkan secara aktif.
harus dilibatkan secara aktif.
Pembangunan sektor sanitasi di Indonesia sudah harus merupakan upaya Pembangunan sektor sanitasi di Indonesia sudah harus merupakan upaya bersama yang terkoordinir dari semua tingkatan pemerintah, lembaga non bersama yang terkoordinir dari semua tingkatan pemerintah, lembaga non pemerintah, organisasi berbasis masyarakat, LSM dan sektor swasta. Program pemerintah, organisasi berbasis masyarakat, LSM dan sektor swasta. Program
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) adalah salah satu Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) adalah salah satu program untuk mewujudkan perencanaan dan pembangunan sanitasi yang program untuk mewujudkan perencanaan dan pembangunan sanitasi yang komprehensif. Keterlibatan lintas sektor dalam pembangunan sanitasi dilakukan komprehensif. Keterlibatan lintas sektor dalam pembangunan sanitasi dilakukan demi mewujudkan kondisi sanitasi yang lebih baik, baik dalam konteks nasional demi mewujudkan kondisi sanitasi yang lebih baik, baik dalam konteks nasional maupun internasional (dalam upaya pencapaian sasaran MDGs).
maupun internasional (dalam upaya pencapaian sasaran MDGs).
Untuk maksud tersebut maka dibentuklah kelompok kerja (Pokja) sanitasi, yang Untuk maksud tersebut maka dibentuklah kelompok kerja (Pokja) sanitasi, yang diharapkan dapat berfungsi sebagai unit koordinasi perencanaan, pelaksanaan, diharapkan dapat berfungsi sebagai unit koordinasi perencanaan, pelaksanaan, pengembangan dan pengawasan serta monitoring pembangunan sanitasi dari pengembangan dan pengawasan serta monitoring pembangunan sanitasi dari berbagai aspek. Pokja yang tidak hanya melibatkan unsur pemerintah saja berbagai aspek. Pokja yang tidak hanya melibatkan unsur pemerintah saja namun juga yang melibatkan masyarakat serta swasta, baik yang secara
namun juga yang melibatkan masyarakat serta swasta, baik yang secara langsunglangsung terlibat dalam struktur pokja maupun
terlibat dalam struktur pokja maupun sebagai mitra-mitra pendukungnya.sebagai mitra-mitra pendukungnya.
Di tingkat nasional, koordinasi kebijakan dilakukan oleh Tim Teknis Di tingkat nasional, koordinasi kebijakan dilakukan oleh Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS) yang
Pembangunan Sanitasi (TTPS) yang menyatukan 7 pemangku kepentingan utamamenyatukan 7 pemangku kepentingan utama dari lingkungan pemerintah (Badan Perencanaan Pembangunan dari lingkungan pemerintah (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kesehatan, Nasional/Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Perindustrian). Di provinsi, Pokja Provinsi dibawah Hidup dan Kementerian Perindustrian). Di provinsi, Pokja Provinsi dibawah koordinator Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) provinsi akan koordinator Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) provinsi akan menjadi titik pusat regional untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi menjadi titik pusat regional untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi sanitasi. Di level Kabupaten, Pokja yang menangani permasalahan Sanitasi sanitasi. Di level Kabupaten, Pokja yang menangani permasalahan Sanitasi dibentuk oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten sekaligus dibentuk oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten sekaligus menjadi penanggungjawab dalam mengembangkan perencanaan dan menjadi penanggungjawab dalam mengembangkan perencanaan dan pembangunan sanitasi skala kabupaten. Mereka memastikan koordinasi antar pembangunan sanitasi skala kabupaten. Mereka memastikan koordinasi antar berbagai dinas pemerintah kota dan pihak-pihak non pemerintah, menghasilkan berbagai dinas pemerintah kota dan pihak-pihak non pemerintah, menghasilkan buku putih sanitasi kota, strategi
buku putih sanitasi kota, strategi sanitasi kota (SSK) dan sanitasi kota (SSK) dan menciptakan lingkunganmenciptakan lingkungan yang mendukung untuk perencanaan sanitasi yang terkoordinir dan sedang yang mendukung untuk perencanaan sanitasi yang terkoordinir dan sedang berjalan di tingkat kabupaten.
berjalan di tingkat kabupaten.
Sebagai langkah awal Pokja akan menyusun suatu perencanaan sanitasi secara Sebagai langkah awal Pokja akan menyusun suatu perencanaan sanitasi secara lebih komprehensif, integratif, inovatif dan melibatkan masyarakat sehingga lebih komprehensif, integratif, inovatif dan melibatkan masyarakat sehingga
sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Pembangunan sanitasi tidak hanya sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Pembangunan sanitasi tidak hanya ditekankan pada pembangunan sarana fisik tetappi ada hal lain yang perlu ditekankan pada pembangunan sarana fisik tetappi ada hal lain yang perlu dilakukan agar sarana tersebut bermanfaat secara berkelanjutan. Proses dilakukan agar sarana tersebut bermanfaat secara berkelanjutan. Proses perencanaan harus
perencanaan harus dilakukan dengadilakukan dengan melihat permasn melihat permasalahan yang alahan yang muncul baikmuncul baik masalah yang terkait dengan aspek teknis maupun aspek non-teknis secara masalah yang terkait dengan aspek teknis maupun aspek non-teknis secara menyeluruh, sehingga solusinya pun akan tepat, sesuai dengan permasalahan menyeluruh, sehingga solusinya pun akan tepat, sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.
yang dihadapi.
Salah satu upaya memperbaiki kondisi sanitasi adalah dengan menyiapkan Salah satu upaya memperbaiki kondisi sanitasi adalah dengan menyiapkan sebuah perencanaan pembangunan sanitasi yang responsif dan berkelanjutan.
sebuah perencanaan pembangunan sanitasi yang responsif dan berkelanjutan.
Dalam hal ini, Pemerintah mendorong kota dan kabupaten di Indonesia untuk Dalam hal ini, Pemerintah mendorong kota dan kabupaten di Indonesia untuk menyusun Strategi Sanitasi Perkotaan atau Kabupaten (SSK) yang memiliki menyusun Strategi Sanitasi Perkotaan atau Kabupaten (SSK) yang memiliki prinsip berdasarkan data aktual, skala kabupaten/kota, disusun sendiri oleh kota prinsip berdasarkan data aktual, skala kabupaten/kota, disusun sendiri oleh kota atau kabupaten (dari, oleh, dan untuk kota atau kabupaten tersebut) dan atau kabupaten (dari, oleh, dan untuk kota atau kabupaten tersebut) dan Menggabungkan pendekatan
Menggabungkan pendekatanbottom-upbottom-updandantop-downtop-down
Untuk menghasilkan SSK yang demikian, maka kota atau kabupaten harus Untuk menghasilkan SSK yang demikian, maka kota atau kabupaten harus mampu memetakan situasi sanitasi wilayahnya. Pemetaan situasi sanitasi yang mampu memetakan situasi sanitasi wilayahnya. Pemetaan situasi sanitasi yang baik hanya bisa dibuat apabila kota atau kabupaten mampu mendapatkan baik hanya bisa dibuat apabila kota atau kabupaten mampu mendapatkan informasi lengkap, akurat, dan mutakhir tentang kondisi sanitasi, baik informasi lengkap, akurat, dan mutakhir tentang kondisi sanitasi, baik menyangkut aspek teknis mapun non teknis. Dalam konteks ini Buku Putih menyangkut aspek teknis mapun non teknis. Dalam konteks ini Buku Putih merupakan prasyarat utama dan dasar bagi penyusunan SSK.
merupakan prasyarat utama dan dasar bagi penyusunan SSK.
Buku Putih Sanitasi merupakan pemetaan situasi sanitasi kota atau kabupaten Buku Putih Sanitasi merupakan pemetaan situasi sanitasi kota atau kabupaten berdasarkan kondisi aktual. Pemetaan tersebut mencakup aspek teknis dan berdasarkan kondisi aktual. Pemetaan tersebut mencakup aspek teknis dan aspek non-teknis, yaitu aspek keuangan, kelembagaan, pemberdayaan aspek non-teknis, yaitu aspek keuangan, kelembagaan, pemberdayaan masyarakat, perilaku hidup bersih dan sehat, dan aspek-aspek lain seperti masyarakat, perilaku hidup bersih dan sehat, dan aspek-aspek lain seperti keterlibatan para pemangku kepentingan secara lebih luas. Buku Putih keterlibatan para pemangku kepentingan secara lebih luas. Buku Putih merupakan database sanitasi kota atau kabupaten yang paling lengkap, merupakan database sanitasi kota atau kabupaten yang paling lengkap,
mutakhir, aktual, dan disepakati seluruh SKPD dan pemangku kepentingan mutakhir, aktual, dan disepakati seluruh SKPD dan pemangku kepentingan terkait pembangunan sanitasi.
terkait pembangunan sanitasi.
1.2. Pengertian Dasar Sanitasi 1.2. Pengertian Dasar Sanitasi
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) secara umum sanitasi Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) secara umum sanitasi didefinisikan sebagai usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yg didefinisikan sebagai usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yg baik di bidang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat. Sedangkan baik di bidang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat. Sedangkan pengertian yang lebih teknis dari adalah upayapencegahan terjangkitnya dan pengertian yang lebih teknis dari adalah upayapencegahan terjangkitnya dan penularan penyakit melalui penyediaan saranasanitasi dasar (jamban), penularan penyakit melalui penyediaan saranasanitasi dasar (jamban), pengelolaan air limbah rumah tangga (termasuk sistem jaringan perpipaan air pengelolaan air limbah rumah tangga (termasuk sistem jaringan perpipaan air limbah), drainase dan sampah (Bappenas, 2003). Sehingga dengan definisi limbah), drainase dan sampah (Bappenas, 2003). Sehingga dengan definisi tersebut dapat dilihat 3 sektor yang terkait dengan sanitasi adalah sistem tersebut dapat dilihat 3 sektor yang terkait dengan sanitasi adalah sistem pengelolaan air limbah rumah tangga, pengelolaan persampahan dan drainase pengelolaan air limbah rumah tangga, pengelolaan persampahan dan drainase lingkungan.
lingkungan.
Pengertian dasar Penanganan Sanitasi di Kabupaten Barru adalah sebagai Pengertian dasar Penanganan Sanitasi di Kabupaten Barru adalah sebagai berikut:
berikut:
1.
1. Blackwater; limbah rumah tangga yang bersumber dari WC.Blackwater; limbah rumah tangga yang bersumber dari WC.
2.
2. Grey water; limbah rumah tangga non kakus (WC) yaitu buangan yangGrey water; limbah rumah tangga non kakus (WC) yaitu buangan yang berasal dari kamar mandi, dapur (sisa makanan) dan tempat
berasal dari kamar mandi, dapur (sisa makanan) dan tempat cuci.cuci.
3.
3. Penanganan Air Limbah Rumah Tangga yaitu pengolahan air limbah rumahPenanganan Air Limbah Rumah Tangga yaitu pengolahan air limbah rumah tangga (domestik) dengan sistem :
tangga (domestik) dengan sistem : a.
a. PengolahanPengolahan On SiteOn Site menggunakan sistem septic-tank dengan peresapanmenggunakan sistem septic-tank dengan peresapan ke tanah dalam penanganan limbah rumah tangga.
ke tanah dalam penanganan limbah rumah tangga.
b.
b. PengelolaanPengelolaan Off SiteOff Site adalah pengolahan limbah rumah tangga yangadalah pengolahan limbah rumah tangga yang dilakukan secara terpusat.
dilakukan secara terpusat.
4.
4. Penanganan persampahan atau limbah padat yaitu penanganan sampahPenanganan persampahan atau limbah padat yaitu penanganan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, baik yang berasal
yang dihasilkan oleh masyarakat, baik yang berasal dari rumah tangga, pasar,dari rumah tangga, pasar, restoran dan lain sebagainya yang
restoran dan lain sebagainya yang ditampung melalui TPS atau transfer depoditampung melalui TPS atau transfer depo ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
5.
5. Penanganan drainase kota dengan memfungsikan saluran drainase sebagaiPenanganan drainase kota dengan memfungsikan saluran drainase sebagai penggelontor air kota dan memutuskan air permukaan (mengurangi penggelontor air kota dan memutuskan air permukaan (mengurangi genangan).
genangan).
6.
6. Penyediaan air bersih adalah upaya pemerintah Kabupaten Barru untukPenyediaan air bersih adalah upaya pemerintah Kabupaten Barru untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat baik melalui jaringan PDAM menyediakan air bersih bagi masyarakat baik melalui jaringan PDAM maupun non PDAM yang bersumber dari air permukaan maupun air hujan.
maupun non PDAM yang bersumber dari air permukaan maupun air hujan.
1.3. Landasan Gerak 1.3. Landasan Gerak
Pembangunan adalah sebuah perubahan terencana dalam mewujudkan visi Pembangunan adalah sebuah perubahan terencana dalam mewujudkan visi sebuah tatanan. Perubahan terencana tersebut ditandai oleh terbukanya ruang sebuah tatanan. Perubahan terencana tersebut ditandai oleh terbukanya ruang bagi unsur-unsur penyusun tatanan untuk menyuarakan aspirasinya dan bagi unsur-unsur penyusun tatanan untuk menyuarakan aspirasinya dan menentukan pilihannya didalam berkontribusi terhadap proses pencapaian visi menentukan pilihannya didalam berkontribusi terhadap proses pencapaian visi tatanan. Agar kontribusi setiap unsur bisa efektif mempengaruhi arah dan tatanan. Agar kontribusi setiap unsur bisa efektif mempengaruhi arah dan kecepatan perubahan maka diperlukan sebuah koridor dalam bentuk dokumen kecepatan perubahan maka diperlukan sebuah koridor dalam bentuk dokumen perencanaan.
perencanaan.
Kabupaten Barru terbentuk sebagai entitas kesatuan wilayah dan pemerintahan Kabupaten Barru terbentuk sebagai entitas kesatuan wilayah dan pemerintahan yang otonom dengan mandat untuk mensejahterakan masyarakat dan yang otonom dengan mandat untuk mensejahterakan masyarakat dan berkontribusi terhadap perkembangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Republik berkontribusi terhadap perkembangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Republik Indonesia. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan sebuah perencanaan Indonesia. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan sebuah perencanaan jangka menengah sebagai arahan pembangunan tentang kondis
jangka menengah sebagai arahan pembangunan tentang kondisi lima tahun yangi lima tahun yang hendak diwujudkan dan upaya-upaya untuk mewujudkan kondisi tersebut.
hendak diwujudkan dan upaya-upaya untuk mewujudkan kondisi tersebut.
Visi pembangunan Kabupaten Barru 2010-2015 mengacu pada visi yang telah Visi pembangunan Kabupaten Barru 2010-2015 mengacu pada visi yang telah disampaikan oleh Bupati/Wakil Bupati hasil pemilihan kepala daerah tahun 2010 disampaikan oleh Bupati/Wakil Bupati hasil pemilihan kepala daerah tahun 2010 yaitu;
yaitu;
“Terwujudnya Kabupaten Barru Lebih Maju, Sejahtera, Taat
“Terwujudnya Kabupaten Barru Lebih Maju, Sejahtera, Taat AzaAza s s dandan Bermartabat yang
Bermartabat yang Bernafaskan Keagamaan” Bernafaskan Keagamaan”
Visi ini menjadi arah perjalanan pembangunan Kabupaten Barru selama tahun Visi ini menjadi arah perjalanan pembangunan Kabupaten Barru selama tahun 2010-2015 dengan penjelasan makna visi sebagai berikut :
2010-2015 dengan penjelasan makna visi sebagai berikut : 1.
1. Lebih maju adalah kondisi dimana pada tahun 2015 Kabupaten BarruLebih maju adalah kondisi dimana pada tahun 2015 Kabupaten Barru menjadi lebih baik dalam hal kualitas sumberdaya manusia yang meliputi menjadi lebih baik dalam hal kualitas sumberdaya manusia yang meliputi angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, angka melek huruf dan daya angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, angka melek huruf dan daya beli masyarakat.
beli masyarakat.
2.
2. Sejahtera Sejahtera bermakna bahwa pembangubermakna bahwa pembangunan Kabupaten Barru dilakukan untnan Kabupaten Barru dilakukan untukuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial
meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial seluruh masyarakat Barru.seluruh masyarakat Barru.
3.
3. Taat azas dimaksudkan bahwa pembangunan Kabupaten Barru yangTaat azas dimaksudkan bahwa pembangunan Kabupaten Barru yang dilakukan mengacu pada ketentuan hukum dan norma budaya/adat-istiadat dilakukan mengacu pada ketentuan hukum dan norma budaya/adat-istiadat serta kearifan lokal dalam rangka terpeliharanya kebersamaan antar serta kearifan lokal dalam rangka terpeliharanya kebersamaan antar berbagai unsur dalam tatanan daerah dan terjaminnya keberlanjutan berbagai unsur dalam tatanan daerah dan terjaminnya keberlanjutan pembangunan.
pembangunan.
4.
4. Bermartabat dimaksudkan bahwa pembangunan di Kabupaten BarruBermartabat dimaksudkan bahwa pembangunan di Kabupaten Barru dilakukan dengan berlandaskan pada semangat menuju daya saing dan dilakukan dengan berlandaskan pada semangat menuju daya saing dan kemandirian daerah.
kemandirian daerah.
5.
5. Bernafaskan Bernafaskan keagamaan keagamaan bermakna bermakna bahwa bahwa seluruh seluruh aktivitasaktivitas penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
kemasyarakatan berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
Berdasarkan visi tersebut di atas, maka misi pembangunan jangka menengah Berdasarkan visi tersebut di atas, maka misi pembangunan jangka menengah daerah yang ditetapkan sebagai berikut:
daerah yang ditetapkan sebagai berikut:
1.
1. Meningkatkan kualitas manusiaMeningkatkan kualitas manusia 2.
2. Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pembangunan untukOptimalisasi pemanfaatan sumberdaya pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat
kesejahteraan masyarakat 3.
3. Menciptakan lingkungan yang kondusifMenciptakan lingkungan yang kondusif 4.
4. Mengembangkan interkoneksitas wilayah.Mengembangkan interkoneksitas wilayah.
5.
5. Mewujudkan tata Mewujudkan tata kelola kelola yang baik dan yang baik dan bersihbersih
1.4. Maksud dan Tujuan 1.4. Maksud dan Tujuan
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Barru disusun untuk menggambarkan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Barru disusun untuk menggambarkan karakteristik dan kondisi sanitasi, serta prioritas atau arah pengembangan kota karakteristik dan kondisi sanitasi, serta prioritas atau arah pengembangan kota dan masyarakat Kabupaten Barru yang terjadi pada saat
dan masyarakat Kabupaten Barru yang terjadi pada saat ini (kondisi existing).ini (kondisi existing).
Buku Putih Sanitasi ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang jelas dan Buku Putih Sanitasi ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang jelas dan faktual mengenai kondisi dan profil sanitasi Kabupaten Barru pada saat ini.
faktual mengenai kondisi dan profil sanitasi Kabupaten Barru pada saat ini.
Pemetaan kondisi dan profil sanitasi
Pemetaan kondisi dan profil sanitasi (sanitation mapping)(sanitation mapping) dilakukan untukdilakukan untuk menetapkan zona sanitasi prioritas yang penetapannya berdasarkan urutan menetapkan zona sanitasi prioritas yang penetapannya berdasarkan urutan potensi resiko kesehatan lingkungan
potensi resiko kesehatan lingkungan (priority setting)(priority setting). Dalam Buku Putih ini,. Dalam Buku Putih ini, priority
priority settingsetting dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang tersedia, dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang tersedia, hasil studi Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan
hasil studi Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan (Environmental Health Risk(Environmental Health Risk Assessment)
Assessment) atau EHRA, dan persepsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)atau EHRA, dan persepsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Barru yang menangani secara langsung pembangunan dan Kabupaten Barru yang menangani secara langsung pembangunan dan pengelolaan sektor sanitasi di Kabupaten Barru.
pengelolaan sektor sanitasi di Kabupaten Barru.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam proses penyusunan Buku Putih ini proses penyusunan Buku Putih ini antaraantara lain adalah pembangunan kapasitas
lain adalah pembangunan kapasitas (capacity building)(capacity building) Pemerintah KabupatenPemerintah Kabupaten Barru beserta
Barru beserta stakeholder stakeholder lainnya untuk mampu mengidentifikasi, memetakan, lainnya untuk mampu mengidentifikasi, memetakan, menyusun rencana tindak dan menetapkan strategi pengembangan sanitasi menyusun rencana tindak dan menetapkan strategi pengembangan sanitasi Kabupaten. Di samping itu, pembentukan Pokja Sanitasi diharapkan dapat Kabupaten. Di samping itu, pembentukan Pokja Sanitasi diharapkan dapat menjadi embrio entitas suatu badan permanen yang akan menangani dan menjadi embrio entitas suatu badan permanen yang akan menangani dan mengelola program pembangunan dan pengembangan sanitasi di tingkat mengelola program pembangunan dan pengembangan sanitasi di tingkat Kabupaten.
Kabupaten.
Selain itu Buku Putih Sanitasi bertujuan untuk mendorong terjadinya Selain itu Buku Putih Sanitasi bertujuan untuk mendorong terjadinya perencanaan dan pembangunan sanitasi yang lebih komprehensif dengan perencanaan dan pembangunan sanitasi yang lebih komprehensif dengan memperhatikan aspek teknis dan non teknis. Buku putih sanitasi Kabupaten memperhatikan aspek teknis dan non teknis. Buku putih sanitasi Kabupaten Barru adalah data dasar tentang kondisi sanitasi kota saat ini yang akan sangat Barru adalah data dasar tentang kondisi sanitasi kota saat ini yang akan sangat berguna bagi penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kabupaten Barru dan berguna bagi penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kabupaten Barru dan pelaksanaan monitoring evaluasi program-program sanitasi.
pelaksanaan monitoring evaluasi program-program sanitasi.
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Barru merupakan dasar dan acuan dimulainya Buku Putih Sanitasi Kabupaten Barru merupakan dasar dan acuan dimulainya pekerjaan sanitasi yang lebih terintegrasi dan komprehensif karena merupakan pekerjaan sanitasi yang lebih terintegrasi dan komprehensif karena merupakan hasil kerja berbagai komponen dinas atau kelembagaan lain yang terkait dengan hasil kerja berbagai komponen dinas atau kelembagaan lain yang terkait dengan sanitasi. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Barru ini menyediakan data dasar yang sanitasi. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Barru ini menyediakan data dasar yang esensial mengenai
esensial mengenai struktur, struktur, situasi dasituasi dan kebutuhan n kebutuhan sanitasi sanitasi Kabupaten BKabupaten Barru,arru, yang nantinya menjadi panduan kebijakan Pemerintah Kabupaten Barru dalam yang nantinya menjadi panduan kebijakan Pemerintah Kabupaten Barru dalam manajemen kegiatan sanitasi.
manajemen kegiatan sanitasi.
Buku putih yang berisi
Buku putih yang berisi pemetaan situasi sanitasi kota merupakan gambaran awalpemetaan situasi sanitasi kota merupakan gambaran awal dan rencana dilakukannya zona-zona sanitasi di tingkat kota. Dengan adanya dan rencana dilakukannya zona-zona sanitasi di tingkat kota. Dengan adanya zona sanitasi akan muncul kebijakan serta prioritas dalam penanganan kegiatan zona sanitasi akan muncul kebijakan serta prioritas dalam penanganan kegiatan pengembangan strategi sanitasi skala kota yang didalamnya mencakup strategi pengembangan strategi sanitasi skala kota yang didalamnya mencakup strategi sanitasi, rencana tindak dan anggaran perbaikan maupun
sanitasi, rencana tindak dan anggaran perbaikan maupun peningkatan sanitasi dipeningkatan sanitasi di Kabupaten Barru.
Kabupaten Barru.
Pada masa mendatang strategi yang telah dirumuskan akan diterapkan dalam Pada masa mendatang strategi yang telah dirumuskan akan diterapkan dalam tahap implementasi.Kemitraan dari berbagai pihak baik masyarakat, lembaga tahap implementasi.Kemitraan dari berbagai pihak baik masyarakat, lembaga non pemerintah, kalangan akademisi maupun pihak swasta, baik di level kota non pemerintah, kalangan akademisi maupun pihak swasta, baik di level kota maupun nasional sangat diperlukan dalam fase ini.
maupun nasional sangat diperlukan dalam fase ini.
1.5. Pendekatan dan Metodologi 1.5. Pendekatan dan Metodologi
Secara umum metode di dalam penyusunan Buku Putih ini terdiri dari beberapa Secara umum metode di dalam penyusunan Buku Putih ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu :
langkah, yaitu : 1.
1. Pengumpulan Data SekunderPengumpulan Data Sekunder
Data sekunder sektor sanitasi digunakan sebagai dasar untuk membuat Data sekunder sektor sanitasi digunakan sebagai dasar untuk membuat pemetaan kondisi sanitasi secara aktual, serta memotret kebutuhan akan pemetaan kondisi sanitasi secara aktual, serta memotret kebutuhan akan layanan sanitasi yang baik, sesuai standar kebutuhan minimal pembangunan layanan sanitasi yang baik, sesuai standar kebutuhan minimal pembangunan sanitasi. Tidak hanya sekedar kompilasi, tetapi juga dilakukan proses seleksi dan sanitasi. Tidak hanya sekedar kompilasi, tetapi juga dilakukan proses seleksi dan verifikasi data. Banyak dokumen kegiatan program yang mampu memberikan verifikasi data. Banyak dokumen kegiatan program yang mampu memberikan informasi mengenai apa yang terjadi dimasa lampau yang erat kaitannya dengan informasi mengenai apa yang terjadi dimasa lampau yang erat kaitannya dengan kondisi yang terjadi pada masa kini.
kondisi yang terjadi pada masa kini.
2.
2. Pendalaman data Sekunder yang telah Pendalaman data Sekunder yang telah diperolehdiperoleh
Dari data sekunder yang telah diperoleh, maka dilakukan verifikasi lanjutan, Dari data sekunder yang telah diperoleh, maka dilakukan verifikasi lanjutan, pengecekan silang data-data yang diperoleh dan pendalaman data tersebut pengecekan silang data-data yang diperoleh dan pendalaman data tersebut dengan melaksanakan:
dengan melaksanakan:
pertemuan secara berkala dengan anggota Pokja yang dikoordinasikan oleh pertemuan secara berkala dengan anggota Pokja yang dikoordinasikan oleh Bappeda Kabupaten Barru selaku Ketua Pokja
Bappeda Kabupaten Barru selaku Ketua Pokja
meninjau tempat-tempat yang dilayani program sanitasi serta sebagian dari meninjau tempat-tempat yang dilayani program sanitasi serta sebagian dari daerah pelayanan di kawasan perkotaan dan daerah kumuh (survey dan daerah pelayanan di kawasan perkotaan dan daerah kumuh (survey dan observasi)
observasi)
diskusi yang bersifat teknis (
diskusi yang bersifat teknis ( focus group focus group discussiondiscussion) dan mendalam juga akan) dan mendalam juga akan dilakukan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam sanitasi. Diskusi untuk dilakukan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam sanitasi. Diskusi untuk memberikan gambaran yang lebih jelas terkait kondisi yang ada serta upaya- memberikan gambaran yang lebih jelas terkait kondisi yang ada serta upaya- upaya yang telah, sedang dan akan dilakukan untuk meningkatkan pelayanan upaya yang telah, sedang dan akan dilakukan untuk meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat di bidang sanitasi
pemerintah kepada masyarakat di bidang sanitasi 3.
3. Pengumpulan Data PrimerPengumpulan Data Primer
Data primer yang dikumpulkan meliputi : Data primer yang dikumpulkan meliputi : -- Studi Kelembagaan dan KeuanganStudi Kelembagaan dan Keuangan
-- Penilaian Sanitasi Berbasis Masyarakat (Penilaian Sanitasi Berbasis Masyarakat (Community-based SanitationCommunity-based Sanitation Assessment
Assessment ))
-- Studi Penyedia Layanan Sanitasi (Studi Penyedia Layanan Sanitasi (Sanitation Supply Sanitation Supply AssessmentAssessment/SSA/SSA))
-- Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan (Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan (Environmental Health RiskEnvironmental Health Risk Assessment/EH
Assessment/EHRARA))
-- Studi Komunikasi dan Pemetaan MediaStudi Komunikasi dan Pemetaan Media
Metode yang digunakan dalam penyusunan
Metode yang digunakan dalam penyusunan ini adalah studi dokumen danini adalah studi dokumen dan pengumpulan data sekunder yang ada di masing-masing SKPD
pengumpulan data sekunder yang ada di masing-masing SKPD yang terkait, danyang terkait, dan didukung dengan observasi objek yang relevan.
didukung dengan observasi objek yang relevan.
Selain itu dilakukan beberapa jenis survey yaitu survey keterlibatan sektor Selain itu dilakukan beberapa jenis survey yaitu survey keterlibatan sektor swasta, survey komunikasi dan pemetaan media, survey partisipasi masyarakat swasta, survey komunikasi dan pemetaan media, survey partisipasi masyarakat jender
jender dan dan kemiskinan kemiskinan kepada kepada beberapa beberapa responden responden baik baik kalangan kalangan SKPD,SKPD, Pengusaha, Media maupun ke masyarakat langsung dan survey Environmental Pengusaha, Media maupun ke masyarakat langsung dan survey Environmental Health Risk Assesment (EHRA) ke rumah tangga sample di
Health Risk Assesment (EHRA) ke rumah tangga sample di 54 kelurahan/desa.54 kelurahan/desa.
Analisa yang digunakan adalah analisa kualitatif dengan membandingkan data Analisa yang digunakan adalah analisa kualitatif dengan membandingkan data dan informasi yang ada dikaitkan dengan kondisi yang seharusnya atau kondisi dan informasi yang ada dikaitkan dengan kondisi yang seharusnya atau kondisi ideal untuk mengetahui seberapa jauh kesenjangan (gap) yang ada. Untuk ideal untuk mengetahui seberapa jauh kesenjangan (gap) yang ada. Untuk penentuan area dengan resiko tinggi digunakan analisa kualitatif persepsi SKPD penentuan area dengan resiko tinggi digunakan analisa kualitatif persepsi SKPD dan analisa kuantitatif hasil EHRA.
dan analisa kuantitatif hasil EHRA.
1.6. Posisi Buku Putih 1.6. Posisi Buku Putih
Buku Putih Sanitasi menyediakan data dasar yang esensial mengenai struktur, Buku Putih Sanitasi menyediakan data dasar yang esensial mengenai struktur, situasi, dan kebutuhan sanitasi Kabupaten Barru. Buku Putih Sanitasi Kabupaten situasi, dan kebutuhan sanitasi Kabupaten Barru. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Barru Tahun 2012 ini, diposisikan sebagai acuan perencanaan strategis sanitasi Barru Tahun 2012 ini, diposisikan sebagai acuan perencanaan strategis sanitasi tingkat kabupaten (SSK). Rencana pembangunan sanitasi Kabupaten Barru tingkat kabupaten (SSK). Rencana pembangunan sanitasi Kabupaten Barru dikembangkan atas dasar permasalahan yang dipaparkan dalam Buku Putih dikembangkan atas dasar permasalahan yang dipaparkan dalam Buku Putih Sanitasi.
Sanitasi.
Setiap tahun data yang ada akan dibuat “Laporan Sanitasi Tahunan” yang Setiap tahun data yang ada akan dibuat “Laporan Sanitasi Tahunan” yang merupakan gabungan antara Laporan Tahunan SKPD dan status merupakan gabungan antara Laporan Tahunan SKPD dan status program/kegiatan sanitasi. Laporan Sanitasi Tahunan menjadi Lampiran Buku program/kegiatan sanitasi. Laporan Sanitasi Tahunan menjadi Lampiran Buku Putih Sanitasi 2012 dan setelah 3 tahun, semua informasi tersebut dirangkum Putih Sanitasi 2012 dan setelah 3 tahun, semua informasi tersebut dirangkum dalam Revisi Buku Putih Sanitasi.
dalam Revisi Buku Putih Sanitasi.
1.7. Sumber data 1.7. Sumber data
Sumber data dalam penyusunan buku putih dikelompokan menjadi dua jenis Sumber data dalam penyusunan buku putih dikelompokan menjadi dua jenis yaitu:
yaitu:
1.
1. Data primerData primer; didalamnya meliputi penilaian resiko kesehatan lingkungan,; didalamnya meliputi penilaian resiko kesehatan lingkungan, penilaian sanitasi berbasis masyarakat, penilaian penyedia sarana sanitasi penilaian sanitasi berbasis masyarakat, penilaian penyedia sarana sanitasi oleh sektor swasta, penilaian keterlibatan gender dan masyarakat miskin, dan oleh sektor swasta, penilaian keterlibatan gender dan masyarakat miskin, dan peran media. Data ini diperoleh dengan cara melakukan beberapa studi peran media. Data ini diperoleh dengan cara melakukan beberapa studi terkait aspek kelembagaan, keuangan, komunikasi, keterlibatan sektor swasta, terkait aspek kelembagaan, keuangan, komunikasi, keterlibatan sektor swasta, keterlibatan masyarakat dan gender, dan studi EHRA (Environmental Health keterlibatan masyarakat dan gender, dan studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment) dimana sebagian data ini bersifat kualitatif (yang Risk Assessment) dimana sebagian data ini bersifat kualitatif (yang menyangkut persepsi) yang kemudian
menyangkut persepsi) yang kemudian dikuantifikasi.dikuantifikasi.
2.
2. Data sekunderData sekunder; data kuantitatif yang telah tersedia di setiap SKPD yang; data kuantitatif yang telah tersedia di setiap SKPD yang didalamnya meliputi aspek demografi, kepadatan penduduk, data keluarga didalamnya meliputi aspek demografi, kepadatan penduduk, data keluarga miskin, kesehatan masyarakat, arah dan kebijakan pembangunan kota, data miskin, kesehatan masyarakat, arah dan kebijakan pembangunan kota, data kelembagaan dan keuangan, dan lain-lain yang
kelembagaan dan keuangan, dan lain-lain yang sifatnya umum.sifatnya umum.
Sumber data sekunder untuk penyusunan buku putih sanitasi
Sumber data sekunder untuk penyusunan buku putih sanitasi Kabupaten Barru,Kabupaten Barru, diantaranya:
diantaranya:
Kabupaten Barru dalam Angka 2011, BPS
Kabupaten Barru dalam Angka 2011, BPS Kabupaten BarruKabupaten Barru
Rencana Pembangunan Jangka Menengah(RPJM) Kabupaten Barru , 2010- Rencana Pembangunan Jangka Menengah(RPJM) Kabupaten Barru , 2010- 2015 , Bappeda Kabupaten Barru
2015 , Bappeda Kabupaten Barru
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barru 2012 -2032, Bappeda Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Barru 2012 -2032, Bappeda Kabupaten Barru
Kabupaten Barru
Profil Kesehatan Kabupaten Barru tahun 2011, Dinas Kesehatan Kabupaten Profil Kesehatan Kabupaten Barru tahun 2011, Dinas Kesehatan Kabupaten Barru
Barru
Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) Kabupaten Barru Tahun Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) Kabupaten Barru Tahun 2010, Pemerintah Kabupaten Barru tahun 2010
2010, Pemerintah Kabupaten Barru tahun 2010
Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) Kabupaten Barru Tahun Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) Kabupaten Barru Tahun 2011, Pemerintah Kabupaten Barru tahun 2011
2011, Pemerintah Kabupaten Barru tahun 2011
Laporan Akhir Buku Putih Sanitasi Kota Pontianak, Tim Teknis Program Laporan Akhir Buku Putih Sanitasi Kota Pontianak, Tim Teknis Program Pengembangan Sanitasi Kota Pontianak tahun 2010
Pengembangan Sanitasi Kota Pontianak tahun 2010
Laporan Akhir Buku Putih Sanitasi Kabupaten Gunung Kidul, Kelompok Kerja Laporan Akhir Buku Putih Sanitasi Kabupaten Gunung Kidul, Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Gunung Kidul, tahun 2009
Sanitasi Kabupaten Gunung Kidul, tahun 2009 Peraturan Daerah No. 5
Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2008 Tentang OrTahun 2008 Tentang Organisasi dan Tataganisasi dan Tatakerja Dinaskerja Dinas Daerah Kabupaten Barru.
Daerah Kabupaten Barru.
Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Inspektorat, Badan Perencanan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Barru
Daerah Kabupaten Barru Peraturan Daera
Peraturan Daerah No. h No. 7 7 Tahun 2008 Tahun 2008 Tentang OTentang Organisasi darganisasi dan Tatakn Tatakerjaerja Kecamatan/Kelurahan pada Kabupaten Barru
Kecamatan/Kelurahan pada Kabupaten Barru
Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2010 Tentang Bangunan Gedung Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2010 Tentang Bangunan Gedung Peraturan Daerah No. 3
Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2010 Tentang IrigTahun 2010 Tentang Irigasiasi
Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Kebersihan Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Kebersihan
Peraturan Bupati 34 tahun 2008 tentang Uraian Tugas Pokok dan Fungsi SKPD Peraturan Bupati 34 tahun 2008 tentang Uraian Tugas Pokok dan Fungsi SKPD Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah, Pemerintah Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah, Pemerintah Kabupaten Barru, Tahun 2011
Kabupaten Barru, Tahun 2011
Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah, Pemerintah Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah, Pemerintah Kabupaten Barru, Tahun 2011
Kabupaten Barru, Tahun 2011
Laporan-laporan kegiatan tahunan SKPD Laporan-laporan kegiatan tahunan SKPD
Aspek-aspek data yang dikumpulkan sebagai dasar informasi dalam Buku Putih Aspek-aspek data yang dikumpulkan sebagai dasar informasi dalam Buku Putih Sanitasi Kota adalah:
Sanitasi Kota adalah:
1.
1. Umum dan Teknis:Umum dan Teknis:Diberikan daftar kebutuhan data yang perlu dikumpulkanDiberikan daftar kebutuhan data yang perlu dikumpulkan oleh anggota Pokja Sanitasi Kabupaten Barru. Data tersebut nantinya oleh anggota Pokja Sanitasi Kabupaten Barru. Data tersebut nantinya terutama dibutuhkan dalam diskusi Manajemen dan Operasi Sistem Sanitasi.
terutama dibutuhkan dalam diskusi Manajemen dan Operasi Sistem Sanitasi.
2.
2. Kebijakan Daerah dan Kelembagaan:Kebijakan Daerah dan Kelembagaan: Selain diberikan daftar kebutuhanSelain diberikan daftar kebutuhan data yang perlu dikumpulkan oleh Pokja Sanitasi Kabupaten, maka akan data yang perlu dikumpulkan oleh Pokja Sanitasi Kabupaten, maka akan dilakukan
dilakukan Focus Group DiscussionFocus Group Discussion (FGD) bersama anggota Pokja Sanitasi (FGD) bersama anggota Pokja Sanitasi Kabupaten. FGD dimaksudkan untuk membahas aspek tersebut lebih Kabupaten. FGD dimaksudkan untuk membahas aspek tersebut lebih mendalam dan bersama anggota Pokja Sanitasi Kabupaten melakukan mendalam dan bersama anggota Pokja Sanitasi Kabupaten melakukan
analisis terhadap aspek kelembagaan dan peraturan. Ini nantinya harus bisa analisis terhadap aspek kelembagaan dan peraturan. Ini nantinya harus bisa dibagi ke dalam beberapa fungsi (di antaranya fungsi perencanaan, dibagi ke dalam beberapa fungsi (di antaranya fungsi perencanaan, implementasi
implementasi – – fisik maupun non-fisik, operasi, pengawasan, serta fisik maupun non-fisik, operasi, pengawasan, serta monitoring dan evaluasi). Termasuk juga
monitoring dan evaluasi). Termasuk juga keterkaitan kerja antar SKPD dalamketerkaitan kerja antar SKPD dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut. Berdasarkan pengalaman, diskusi ini menjalankan fungsi-fungsi tersebut. Berdasarkan pengalaman, diskusi ini sebaiknya dilakukan dengan dibantu oleh tenaga ahli sebagai nara sumber sebaiknya dilakukan dengan dibantu oleh tenaga ahli sebagai nara sumber yang memahami kebijakan daerah dan kelembagaan, serta berpengalaman yang memahami kebijakan daerah dan kelembagaan, serta berpengalaman bekerja di bidang sanitasi. Data
bekerja di bidang sanitasi. Data ini dibawa pada saat diskusi Manajemen danini dibawa pada saat diskusi Manajemen dan Operasi Sistem Sanitasi.
Operasi Sistem Sanitasi.
3.
3. Keuangan:Keuangan: Pokja Sanitasi Kabupaten perlu memilah anggaran yang terkaitPokja Sanitasi Kabupaten perlu memilah anggaran yang terkait dengan sanitasi. Penting dipahami, Pokja Sanitasi Kabupaten harus memiliki dengan sanitasi. Penting dipahami, Pokja Sanitasi Kabupaten harus memiliki kesamaan pemahaman dan kesepakatan bagaimana memilah
kesamaan pemahaman dan kesepakatan bagaimana memilah data keuangandata keuangan yang terkait dengan sanitasi. Selain biaya investasi infrastruktur sanitasi, yang terkait dengan sanitasi. Selain biaya investasi infrastruktur sanitasi, perlu dicatat juga besarnya biaya
perlu dicatat juga besarnya biaya operasi dan pemeliharaan dalam beberapaoperasi dan pemeliharaan dalam beberapa tahun terakhir.
tahun terakhir.
4.
4. Peran serta swasta dalam layanan sanitasiPeran serta swasta dalam layanan sanitasi: Sebagian data diperoleh dari: Sebagian data diperoleh dari pihak swastayang memiliki kontrak kerja sama dengan Pemerintah pihak swastayang memiliki kontrak kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten ataupun informasi lain yang dimiliki oleh SKPD terkait. Pada Kabupaten ataupun informasi lain yang dimiliki oleh SKPD terkait. Pada tahap ini, proses pengumpulan data dilakukan berdasarkan informasi lisan tahap ini, proses pengumpulan data dilakukan berdasarkan informasi lisan atau tertulis
atau tertulis yang dimiliki yang dimiliki SKPD SKPD atau jika atau jika diperlukan dilakukdiperlukan dilakukan pencarianan pencarian data secara langsung di lapangan.
data secara langsung di lapangan.
5.
5. Pemberdayaan masyarakat dan jender:Pemberdayaan masyarakat dan jender: Informasi tentang pemberdayaanInformasi tentang pemberdayaan masyarakat dalam bidang sanitasi dapat diperoleh melalui institusi lokal. Isu masyarakat dalam bidang sanitasi dapat diperoleh melalui institusi lokal. Isu jender
jender sudah sudah menjadi menjadi perhatian perhatian dalam dalam program-program program-program PemerintahPemerintah Kabupaten, hanya saja kaitannya dalam
Kabupaten, hanya saja kaitannya dalam bidang sanitasi serta kedalaman daribidang sanitasi serta kedalaman dari isu tersebut masih bisa dipertanyakan lebih jauh. Tetapi informasi mengenai isu tersebut masih bisa dipertanyakan lebih jauh. Tetapi informasi mengenai isu jender tersebut umumnya sudah tersedia.
isu jender tersebut umumnya sudah tersedia.
6.
6. Komunikasi:Komunikasi: Informasi yang dibutuhkan berhubungan dengan kegiatan- Informasi yang dibutuhkan berhubungan dengan kegiatan- kegiatan dan jenis media yang digunakan oleh Pemerintah Kabupaten, kegiatan dan jenis media yang digunakan oleh Pemerintah Kabupaten,
melalui SKPD atau lembaga lainnya (misalnya PKK), untuk penyebarluasan melalui SKPD atau lembaga lainnya (misalnya PKK), untuk penyebarluasan informasi yang berhubungan dengan sanitasi.
informasi yang berhubungan dengan sanitasi.
1.8. Peraturan Perundangan 1.8. Peraturan Perundangan
Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Barru berpijak pada beberapa Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Barru berpijak pada beberapa peraturan perundang-undangan yang berlaku di tingkat nasional atau pusat, peraturan perundang-undangan yang berlaku di tingkat nasional atau pusat, propinsi maupun daerah, yang meliputi :
propinsi maupun daerah, yang meliputi :
Undang-Undang Undang-Undang 1.
1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber DayaUndang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alami Hayati dan Ekosistemnya
Alami Hayati dan Ekosistemnya 2.
2. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan RuangUndang-undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang 3.
3. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan danUndang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pengelolaan Lingkungan Hidup 4.
4. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan GedungUndang-undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung 5.
5. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya AirUndang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air 6.
6. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang JalanTentang Jalan 7.
7. Undang-Undang No 18 Tahun 2008 Undang-Undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampahtentang Pengelolaan Sampah 8.
8. Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang KesehatanUndang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan 9.
9. Undang-Undang No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan PublikUndang-Undang No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik 10.
10. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1966 Tentang HygieneUndang-Undang Nomor 2 Tahun 1966 Tentang Hygiene 11.
11. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan PemukimanPerumahan dan Pemukiman 12.
12. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya AirUndang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air 13.
13. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem PerencanaanUndang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
Pembangunan Nasional 14.
14. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.Tentang Pemerintahan Daerah.
15.
15. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan KeuanganUndang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antar Pemerintah Pusat dan Daerah.
Antar Pemerintah Pusat dan Daerah.
16.
16. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana PembangunanUndang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025
Jangka Panjang Nasional 2005-2025 17.
17. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang KesehatanTentang Kesehatan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Peraturan Pemerintah Republik Indonesia 1.
1. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 Tentang Pengaturan AirPeraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 Tentang Pengaturan Air 2.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Tentang JalanPeraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan 3.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 Tentang Perlindungan HutanPeraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 Tentang Perlindungan Hutan 4.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 Tentang SungaiPeraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 Tentang Sungai 5.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1995 Tentang Perlindungan Tanaman1995 Tentang Perlindungan Tanaman 6.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata RuangPeraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Wilayah Nasional 7.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis MengenaiPeraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Dampak Lingkungan 8.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 Tentang Kawasan Suaka AlamPeraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 Tentang Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam
dan Pelestarian Alam 9.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan KualitasPeraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
Air dan Pengendalian Pencemaran Air 10.
10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 TentangPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 Tentang Pengaturan Air.
Pengaturan Air.
11.
11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 TentangPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air
Pengendalian Pencemaran Air 12.
12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 TentangPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 Tentang Sungai.
Sungai.
13.
13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 TentangPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
14.
14. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 TentangPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.Pencemaran Air.
15.
15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 TentangPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kota.
Provinsi dan Pemerintah Daerah Kota.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Peraturan Presiden Republik Indonesia 1.
1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 TentangPeraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional (RPJM) Tahun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional (RPJM) Tahun 2004-2009
2004-2009 2.
2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2005 TentangPeraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2005 Tentang Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur
Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur 3.
3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010 TentangPeraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur
Keputusan Presiden Republik Indonesia Keputusan Presiden Republik Indonesia 1.
1. Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1989 Tentang Kawasan IndustriKeputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1989 Tentang Kawasan Industri 2.
2. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan KawasanKeputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung
Lindung 3.
3. Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1990 Tentang Penggunaan Tanah bagiKeputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1990 Tentang Penggunaan Tanah bagi kawasan Industri
kawasan Industri 4.
4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 TentangKeputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 Tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.
5.
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 Tentang Tim2001 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air.
Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air.
6.
6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2002 TentangKeputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun Perubahan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air
2001 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air
Peraturan dan Keputusan Menteri Peraturan dan Keputusan Menteri 1.
1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No: 21/PRT/2006 tentang kebijakanPeraturan Menteri Pekerjaan Umum No: 21/PRT/2006 tentang kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP)
(KSNP-SPP) 2.
2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No: 16/PRT/2008 tentang kebijakanPeraturan Menteri Pekerjaan Umum No: 16/PRT/2008 tentang kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman (KSNP-SPALP)
Permukiman (KSNP-SPALP) 3.
3. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia NomorKeputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995 tentang Program Kali Bersih.
35/MENLH/7/1995 tentang Program Kali Bersih.
4.
4. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 TahunKeputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi degan 2001 tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi degan AMDAL
AMDAL 5.
5. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 86 TahunKeputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan
dan Upaya Pemantauan Lingkungan 6.
6. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah NomorKeputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 409/KTPS/Thun 2002 tentang Pedoman Kerjasama Pemerintah dan Badan 409/KTPS/Thun 2002 tentang Pedoman Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Swasta dalam penyelenggaraan dan atau pengelolaan air
Usaha Swasta dalam penyelenggaraan dan atau pengelolaan air minumminum 7.
7. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 TahunKeputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu air Limbah Domestik.
2003 tentang Baku Mutu air Limbah Domestik.
8.
8. Keputusan Keputusan Menteri Menteri Kesehatan Kesehatan Republik Republik Indonesia Indonesia NomorNomor 1205/Menkes/Per/X/2004 tentang Pedoman Persyaratan Kesehatan 1205/Menkes/Per/X/2004 tentang Pedoman Persyaratan Kesehatan Pelayanan Sehat Pakai Air (SPA).
Pelayanan Sehat Pakai Air (SPA).
Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis 1.
1. Petunjuk Teknis Nomor KDT 616.98 Ped I judul Pedoman Teknis PenyehatanPetunjuk Teknis Nomor KDT 616.98 Ped I judul Pedoman Teknis Penyehatan Perumahan.
Perumahan.
2.
2. Petunjuk Teknis Nomor KDT 636.728 Pet. I judul Petunjuk Teknis SpesifikasiPetunjuk Teknis Nomor KDT 636.728 Pet. I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi Kompos Rumah
Kompos Rumah Tangga, Tata cTangga, Tata cara Pengelolaan Sampah Dengan Sisara Pengelolaan Sampah Dengan Sistem Daurtem Daur
Ulang Pada Lingkungan, Spesifikasi Area Penimbunan Sampah Dengan Ulang Pada Lingkungan, Spesifikasi Area Penimbunan Sampah Dengan Sistem Lahan Urug Terkendali Di
Sistem Lahan Urug Terkendali Di TPA Sampah.TPA Sampah.
3.
3. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.72 Pet B judul Petunjuk Teknis PembuatanPetunjuk Teknis Nomor KDT 363.72 Pet B judul Petunjuk Teknis Pembuatan Sumur Resapan.
Sumur Resapan.
4.
4. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis PenerapanPetunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Penerapan Pompa Hidran Dalam Penyediaan Air Bersih.
Pompa Hidran Dalam Penyediaan Air Bersih.
5.
5. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk TeknisPetunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Pengomposan Sampah Organik Skala Lingkungan.
Pengomposan Sampah Organik Skala Lingkungan.
6.
6. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis SpesifikasiPetunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi Instalasi Pengolahan Air Sistem Berpindah
Instalasi Pengolahan Air Sistem Berpindah – – pindah (Mobile) Kapasitas 0.5 pindah (Mobile) Kapasitas 0.5 Liter/detik.
Liter/detik.
7.
7. Petunjuk Teknis Nomor KDT 627.54 Pan I judul Panduan Dan PetunjukPetunjuk Teknis Nomor KDT 627.54 Pan I judul Panduan Dan Petunjuk Praktis Pengelolaan Drainase Perkotaan.
Praktis Pengelolaan Drainase Perkotaan.
8.
8. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Pedoman Teknis Tata CaraPetunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Pedoman Teknis Tata Cara Sistem Penyediaan Air Bersih
Sistem Penyediaan Air Bersih Komersil Untuk Permukiman.Komersil Untuk Permukiman.
9.
9. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Petunjuk Teknis Tata CaraPetunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Petunjuk Teknis Tata Cara Pengoperasian Dan Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Pengoperasian Dan Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga Non Kakus.
Tangga Non Kakus.
10.
10. Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis SaluranPetunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis Saluran Irigasi.
Irigasi.
11.
11. Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis MCKTeknis MCK
Peraturan Daerah Kabupaten Barru Peraturan Daerah Kabupaten Barru 1.
1. Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tatakerja DinasPeraturan Daerah No. 5 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tatakerja Dinas Daerah Kabupaten Barru.
Daerah Kabupaten Barru.
2.
2. Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata KerjaPeraturan Daerah No. 6 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Inspektorat, Badan Perencanan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Barru
Daerah Kabupaten Barru
3.
3. Peraturan Daerah No. 7 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan TatakerjaPeraturan Daerah No. 7 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tatakerja Kecamatan/Kelurahan pada Kabupaten Barru
Kecamatan/Kelurahan pada Kabupaten Barru 4.
4. Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2010 Tentang Bangunan GedungPeraturan Daerah No. 1 Tahun 2010 Tentang Bangunan Gedung 5.
5. Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan KebersihanPeraturan Daerah No. 2 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Kebersihan 6.
6. Peraturan Daerah No. Peraturan Daerah No. 3 3 Tahun 2010 TeTahun 2010 Tentang Irigasintang Irigasi 7.
7. Peraturan Daerah No. 4 Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2011 Tentang PTahun 2011 Tentang Pajak Daerahajak Daerah 8.
8. Peraturan Daerah No. 5 Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2011 Tentang PelaTahun 2011 Tentang Pelayanan Publikyanan Publik 9.
9. Peraturan Daerah No. 8 Peraturan Daerah No. 8 Tahun 2010 Tentang RetTahun 2010 Tentang Retrebusi Jasa Umumrebusi Jasa Umum 10.
10. Peraturan Daerah Nomor 14 tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan danPeraturan Daerah Nomor 14 tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Barru Tahun Anggaran 2012
Belanja Daerah Kabupaten Barru Tahun Anggaran 2012
Peraturan Bupati Barru Peraturan Bupati Barru 1.
1. Peraturan Bupati Peraturan Bupati Barru 03 tahun 2008 Barru 03 tahun 2008 tentang Kawasan Bebas tentang Kawasan Bebas SampahSampah 2.
2. Peraturan BupaPeraturan Bupati ti Barru 34 tBarru 34 tahun 2008 tahun 2008 tentang Uraian entang Uraian Tugas Pokok Tugas Pokok dandan Fungsi Bappeda
Fungsi Bappeda 3.
3. Peraturan BupaPeraturan Bupati ti Barru 20 tBarru 20 tahun 2008 tahun 2008 tentang Uraian entang Uraian Tugas Pokok Tugas Pokok dandan Fungsi Dinas Kesehatan
Fungsi Dinas Kesehatan 4.
4. Peraturan BupaPeraturan Bupati ti Barru 25 tBarru 25 tahun 2008 tahun 2008 tentang Uraian entang Uraian Tugas Pokok Tugas Pokok dandan Fungsi Dinas Pekerjaan Umum
Fungsi Dinas Pekerjaan Umum 5.
5. Peraturan BupaPeraturan Bupati ti Barru 23 tBarru 23 tahun 2008 tahun 2008 tentang Uraian entang Uraian Tugas Pokok Tugas Pokok dandan Fungsi Dinas Perhubungan dan K
Fungsi Dinas Perhubungan dan KOMINFOOMINFO 6.
6. Peraturan BupaPeraturan Bupati ti Barru 29 tBarru 29 tahun 2008 tahun 2008 tentang Uraian entang Uraian Tugas Pokok Tugas Pokok dandan Fungsi Dinas Kehutanan
Fungsi Dinas Kehutanan 7.
7. Peraturan BupaPeraturan Bupati ti Barru 32 tBarru 32 tahun 2008 tahun 2008 tentang Uraian entang Uraian Tugas Pokok Tugas Pokok dandan Fungsi Dinas Pengelola Keuangan Daerah
Fungsi Dinas Pengelola Keuangan Daerah 8.
8. Peraturan BupaPeraturan Bupati ti Barru 26 tBarru 26 tahun 2008 tahun 2008 tentang Uraian entang Uraian Tugas Pokok Tugas Pokok dandan Fungsi Dinas Koperasi ,
Fungsi Dinas Koperasi , UMKM , Perindustrian dan Perdagangan;UMKM , Perindustrian dan Perdagangan;
9.
9. Peraturan BupaPeraturan Bupati ti Barru 40 tBarru 40 tahun 2008 tahun 2008 tentang Uraian entang Uraian Tugas Pokok Tugas Pokok dandan Fungsi Kantor Lingkungan Hidup
Fungsi Kantor Lingkungan Hidup
10.
10. Peraturan BupaPeraturan Bupati ti Barru 43 tBarru 43 tahun 2008 tahun 2008 tentang Uraian entang Uraian Tugas Pokok Tugas Pokok dandan Fungsi Kantor Rumah Sakit Umum Daerah
Fungsi Kantor Rumah Sakit Umum Daerah 11.
11. Peraturan Bupati Barru Nomor 22 tahun 2011 tentang Penjabaran AnggaranPeraturan Bupati Barru Nomor 22 tahun 2011 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Barru Tahun
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Barru Tahun Anggaran 2012Anggaran 2012
BAB II BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN BARRU GAMBARAN UMUM KABUPATEN BARRU
2.1.
2.1. Geografis, Geografis, Administratif Administratif dan dan Kondisi Kondisi FisikFisik 2.1.1. Geografis
2.1.1. Geografis
Kabupaten Barru adalah salah satu kabupaten yang
Kabupaten Barru adalah salah satu kabupaten yang terletak dipesisir pantai baratterletak dipesisir pantai barat Provinsi Sulawesi Selatan dengan garis pantainya 78 Km. Secara geografis Provinsi Sulawesi Selatan dengan garis pantainya 78 Km. Secara geografis terletak diantara koordinat 4⁰5’49”
terletak diantara koordinat 4⁰5’49” -- 4⁰47’35” lintang selatan dan 119⁰35’00”4⁰47’35” lintang selatan dan 119⁰35’00” -- 119⁰49’16” bujur timur dan berada di sebelah utara Kota Makassar Ibukota 119⁰49’16” bujur timur dan berada di sebelah utara Kota Makassar Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan yang dapat ditempuh melalui perjalanan darat ± 2,5 Provinsi Sulawesi Selatan yang dapat ditempuh melalui perjalanan darat ± 2,5 jam.
jam. Adapun Adapun batas batas administrasi dan administrasi dan batas batas fisik fisik Kabupaten Kabupaten Barru adalah Barru adalah sebagaisebagai berikut :
berikut :
Sebelah Utara dengan Kota Pare-Pare dan Kabupaten Sidrap.
Sebelah Utara dengan Kota Pare-Pare dan Kabupaten Sidrap.
Sebelah Timur dengan Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Bo Sebelah Timur dengan Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Bone.ne.
Sebelah Selatan dengan Kabupaten Pangkajene Kepulauan.
Sebelah Selatan dengan Kabupaten Pangkajene Kepulauan.
Sebelah Barat dengan Selat Makassar.
Sebelah Barat dengan Selat Makassar.
Secara administratif kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.174,72 Km2 (117.472 Secara administratif kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.174,72 Km2 (117.472 Ha) sedangkan menurut peta administrasi kabupaten Barru dan peta rupa bumi Ha) sedangkan menurut peta administrasi kabupaten Barru dan peta rupa bumi tahun 1999 seluas 1.191,10 Km2. Kabupaten Barru terbagi atas 7 Kecamatan tahun 1999 seluas 1.191,10 Km2. Kabupaten Barru terbagi atas 7 Kecamatan yaitu Kecamatan Tanete Riaja, Kecamatan Tanete Rilau, Kecamatan Barru yaitu Kecamatan Tanete Riaja, Kecamatan Tanete Rilau, Kecamatan Barru (Ibukota kabupaten), Kecamatan Soppeng Riaja, Kecamatan Mallusetasi, (Ibukota kabupaten), Kecamatan Soppeng Riaja, Kecamatan Mallusetasi, Kecamatan Pujananting dan Kecamatan Ballusu dan terdiri dari
Kecamatan Pujananting dan Kecamatan Ballusu dan terdiri dari 14 Kelurahan dan14 Kelurahan dan 40 Desa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut.
40 Desa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 1. Peta Administrasi Provinsi Sulawesi Selatan Gambar 1. Peta Administrasi Provinsi Sulawesi Selatan
Gambar 2. Peta Administrasi Kabupaten Barru Gambar 2. Peta Administrasi Kabupaten Barru
Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Pembagian WilaPembagian Wilayah Adminisyah Administratif Kabupattratif Kabupaten Barruen Barru
No
No KECAMATAN KECAMATAN DESA/KELURAHANDESA/KELURAHAN LUASLUAS Km