• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Skripsi Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jember

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Contoh Skripsi Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jember"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan Pendidikan Islam

Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Qurrata A’yunin NIM: 084 141 002

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

OKTOBER 2018

(2)
(3)
(4)

















































Artinya: Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-

orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap

mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada

siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang

diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat

petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

(5)

sayang-Mu yang telah memberikanku kekuatan, membekaliku dengan ilmu serta memperkenalkanku dengan cinta. Atas karunia serta kemudahan yang engkau berikan akhirnya skripsi yang sederhana ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam selalu terlimpahkan keapada Rasulullah SAW.

Dengan penuh rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan, dengan sepenuh hati skripsi ini saya persembahkan kepada:

1. Kedua orangtuaku ayahku Sunaryo dan ibuku masudah tercinta, yang tak pernah lelah berjuang untuk mengantarkanku sampai ke titik ini, dan tak pernah letih dalam memotivasi, mendo’akan, serta memberikan semangat yag luar biasa kepadaku. Mereka adalah pahlawan yang tidak pernah berhenti berjuang, demi mewujudkan impian dan cita-cita dengan seluruh cinta dan kasih sayang mereka, yang takkan pernah bisa penulis balas pengorbanan beliau dengan apapun.

2. Seluruh keluargaku dan kakakku tersayang Rio Maulana dan Indah Puspitasari, yang selalu memberikan motivasi dalam menggapai cita-citaku.

3. Terimakasih kepada guru-guruku, Ustadz H. Ahmad Mushollin, S.Ag., M.Pd.I, Selamet Daeroni, S.Ag, Dra. Hj. Istiaroh, M.Pd.I, Holil Bisri, S.Pd, dan Siti Aliyah, S.Pd yang telah membimbing dan mengajarkanku Ilmu

(6)

yang selalu memberi motivasi dan dukungan kepadaku.

(7)

Mengajak ke jalan Allah adalah wajib hukumnya, keberhasilan ajakannya mencerminkan prospek pengembangan Islam dimasa yang mendatang, sebab maju mundurnya agama tertelak di tangan-tangan manusia. Hal ini terbukti dari kemalasan masyarakat untuk beribadah dan enggan untuk berpartisipasi dalam mengikuti aktivitas keagamaan di masjid. Disinilah perlunya sebuah strategi dalam mengelolah aktivitas keagamaan, agar pengelolaan dan pergerakan dalam proses aktivitas keagamaan berlangsung secara efektif dan efesien.

Masjid merupakan pendidikan non formal yang berperan penting sebagai tempat, media maupun wadah yang bertujuan untuk meningkatkan syiar Islam melalui aktivitas-aktivitas keagamaan yang diselenggarakan di dalamnya. Dengan strategi pengelolaan yang dilakukan oleh takmir masjid merupakan suatu cara untuk membuat variasi suasana pendidikan Islam lebih bervariasi.

Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah: Strategi Takmir Dalam Pengelolaan Pendidikan Islam Di Masjid Baiturrahman Banyuwangi, dengan rincian permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan islam di masjid baiturrahman banyuwangi 2. Apa saja faktor pendukung strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan islam di masjid baiturrahman banyuwangi 3. apa saja faktor penghambat dan solusi strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan islam di masjid baiturrahman banyuwangi.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan islam di masjid baiturrahman banyuwangi 2. Untuk menganalisis faktor pendukung strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan islam di masjid baiturrahman banyuwangi 3. Untuk menganalisis faktor penghambat dan solusi strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan islam di masjid baiturrahman banyuwangi.

Dalam mengidentifikasi masalah tersebut, peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian field research. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, observasi partisipan, wawancara semiterstruktur, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan analisis model Miles dan Hubermen mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dan dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa strategi takmir masjid dalam pengelolaan pendidikan Islam di masjid ini adalah menyediakan makanan dan minuman ketika sholat rawatib yang berupa roti, susu, dan kopi. Dan pelayanannya itu ada 3, yaitu pelayanan spiritual, sosial, dan ekonomi. Pengelolaan masjidnya dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: 1.

Idarah (administrasi), 2. Imarah (kemakmuran), 3. Riayah (pemeliharaan). Sedangkan aktivitas keagamaannya di masjid ini dibagi menjadi 4 bagian, yaitu aktivitas harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.

(8)

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Strategi Takmir Dalam Pengelolaan Pendidikan Islam Di Masjid Baiturrahman Banyuwangi” ini dengan lancar. Sholawat serta salam tetap tercurah limpahkan kepada kekasih Allah SWT, junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah senantiasa membawa kita menuju jalan yang terang dengan berpegang teguh kepada ajaran agama yang diridhoi Allah SWT yaitu agama Islam.

Kelancaran dan kesuksesan penulisan ini diperoleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM. selaku Rektor IAIN Jember.

2. Bapak Dr. H. Abdullah, S. Ag., M.H.I. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember.

3. Bapak Khoirul Faizin, M.Ag. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan IAIN Jember.

4. Bapak Dr. Mundir, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Jember.

5. Bapak Drs. H. Mursalim, M.Ag. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIN Jember.

6. Ibu Dra. Khoiriyah, M.Pd. selaku dosen pembimbing, yang telah membimbing dan memberikan pengalaman ilmunya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Serta segenap dosen dan guru-guruku yang telah memberikan ilmu dan semangat selama ini.

7. Ustadz H. Ahmad Mushollin, S.Ag., M.Pd.I. selaku ketua II Masjid Baiturrahman Banyuwangi, yang telah mengizinkan pelaksanaan penelitian ini.

(9)

banyak ditemukan kekurangan dan kesalahan dalam penyajiannya. Untuk itu penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Amiin.

Akhirnya semoga Allah memberikan kebaikan atas amal baik yang telah Bapak/Ibu baerikan kepada penulis, Amiin Ya Robbal Alamiin.

Jember, 30 September 2018 Penulis,

Qurrata A’yunin NIM. 084141002

(10)

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR BAGAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 4

C. Tujuan Penelitian... 4

D. Manfaat Penelitian... 5

E. Definisi Istilah ... 6

F. Sistematika Pembahasan ... 7

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 9

B. Kajian Teori... 13

(11)

C. Subyek Penelitian ... 35

D. Teknik Pengumpulan Data ... 36

E. Analisis Data ... 39

F. Keabsahan Data ... 42

G. Tahap-tahap Penelitian ... 43

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA A. Gambaran Obyek Penelitian... 45

B. Penyajian dan Analisis Data ... 63

C. Pembahasan Temuan ... 80

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 87

B. Saran-saran ... 90

DAFTAR PUSTAKA ... 92 LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1. Matrik Penelitian Lampiran 2. Pedoman Penelitian Lampiran 3. Transkip Wawancara Lampiran 4. Dokumentasi

Lampiran 5. Jurnal Kegiatan Penelitian Lampiran 6. Surat Izin Penelitian Lampiran 7. Surat Selesai Penelitian Lampiran 8. Lembar Pernyataan Keaslian Lampiran 9. Biodata Penulis

(12)

2.1 Persamaan Dan Perbedaan Penelitian Terdahulu ... 11 4.1 Sarana Dan Prasarana Masjid Baiturrahman ... 52 4.2 Hasil Temuan Penelitian ... 79

(13)

4.2. Pengajian Ba’da Maghrib ... 53

4.3. Pengajian Ba’da Subuh ... 54

4.4. RA ... 55

4.5. TPQ ... 55

4.6. Madin ... 56

4.7. Sholat Jum’at ... 56

4.8. Sema’an Al-Qur’an ... 57

4.9. Pengajian Ad Dhuha ... 57

4.10. Santunan Yatim Piatu ... 58

4.11. Pengajian Hajat ... 59

4.12. Pengajian Bulan Purnama ... 59

4.13. Sholat Idhul Adha ... 60

4.14. Sholat Idhul Fitri ... 60

4.15. Maulid Nabi ... 61

4.16. Tadarus Al-Qur’an Raksasa ... 62

4.17. Pengajian Tasbih ... 62

4.18. Tahlil Akbar Dan Pengajian Bulan Berkaca ... 63

(14)

Masjid adalah sebagai tempat melaksanakan ibadah sholat bagi kaum muslimin diseluruh pelosok dunia. Seperti yang diktehui bahwa eksistensi masjid mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi agama Islam baik dalam upaya membentuk nilai-nilai pribadi maupun masyarakat yang bernafaskan Islam. Fungsi masjid yang utama adalah tempat untuk sholat secara berjama’ah. Sholat berjama’ah adalah salah satu ajaran Islam yang pokok.

Menurut Webner in Geaves, 1996 dalam buku Kajian Dakwah dan Komunikasi yang ditulis oleh Muhammad Zen, dkk, mengatakan bahwa jurnal ilmiah pesantren umat Islam juga melakukan beberapa aktivitas yang terkait dengan kewajiban keagamaan, misalnya seperti khutbah jum’at, mengkaji Al-Qur’an dan hadist, serta mempelajari pemikiran para ulama terdahulu. Lebih lanjut, bahkan umat Islam menganggap bahwa masjid adalah sebuah simbol penting bagi keberadaan mereka di suatu tempat. Dengan demikian masjid memainkan peran yang sangat penting dalam mempengaruhi kehidupan sehari-hari umat Islam.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, untuk mengoptimalkan fungsi masjid secara utuh, maka masjid harus difungsikan sebaik mungkin dalam penggunaannya. Masjid adalah tempat ibadah kaum muslimin yang memiliki peran strategis untuk kemajuan umat Islam. 1

Sejarah membuktikkan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat pendidikan, pengajian keagamaan, pendidikan militer dan

1 Muhammad Zen, dkk. Jurnal Kajian Dakwah dan Komunikasi (Jakarta: Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syari Hidayatullah Jakarta, 2007), 253.

(15)

fungsi-fungsi sosial ekonomi lainnya.2 Sebagaimana makna atau kata dari masjid itu sendiri yaitu tempat sujud, masjid selain tempat ibadah dapat pula difungsikan sebagai tempat aktivitas masyarakat Islam, baik yang berkenaan dengan sosial, ekonomi, sosial budaya serta sosial politik.3

Di zaman Rasulullah SAW, masjid mempunyai fungsi sebagai tempat peribadatan, pusat aktivitas masyarakat dan kebudayaan. dari masjid itulah Rasulullah SAW melaksanakan bimbingan Islam dan pembinaan terhadap masyarakat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 18 yang berbunyi:

















































Artinya:“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang

yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”4 (Q.S At- Taubah:

18).

Masjid dan pendidikan Islam Islam keduanya sangat erat sekali, faktor yang sulit dipisahkan satu sama lain, hubungannya saling mengisi diantaranya.

Dengan demikian, masjid yang didirikan harus berperan sebagai tempat, media maupun wadah untuk pendidikan Islam. Oleh karenanya pendidikan

2 Qurais Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1998), 462.

3 Sidi Ghazalba, Majis Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 2000), 126.

4 Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemah, (Jakarta: PT. Alhidayah, 1998), 280.

(16)

Islam dipandang sebagai suatu yang penting untuk meningkatkan syiar Islam di dalam kehidupan beragama dalam masyarakat melalui kegiatan-kegiatan keagamaan di dalam suatu tempat yang disebut masjid.

Menurut pandangan penulis, kiranya disinilah perlunya sebuah strategi dalam penyelenggaraan pendidikan Islam, agar pengelolaan dan pergerakan dalam proses pendidikan Islam berlangsung secara efektif dan efisien.

Melihat fenomena saat ini bahwa banyak faktor baik itu alamiah maupun sosial yang menjadikan masyarakat tidak ada inisiatif untuk datang ke masjid. Disinilah peran takmir masjid dalam pengelolaan pendidikan Islam semenarik mungkin agar masyarakat tergerak hatinya untuk pergi ke masjid.

Untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan pendidikan Islam tentunya perlu adanya strategi yang dilakukan oleh takmir masjid untuk menarik minat para jama’ah untuk ikut berpatisipasi dalam mengikuti pendidikan Islam yang dilaksanakan di masjid. Masjid yang dikelola dengan baik akan membuahkan hasil yang baik, sehingga perlu adanya perencanaan program kegiatan agar mampu mencapai tujuan yang diinginkan oleh takmir.

Dan berdasarkan hasil survey dilapangan, yaitu tepatnya di Masjid Baiturrahman Banyuwangi, bahwa takmir masjid memiliki strategi yang tepat dalam membangkitkan semangat para jama’ah. Takmir masjid baiturrahman mempunyai program pendidikan Islam yang dibagi menjadi 4 bagian, yaitu kegiatan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.

(17)

Dari fakta tersebut tersebut penulis akan melakukan penelitian mengenai strategi-strategi yang digunakan oleh takmir masjid Baiturrahaman Banyuwangi dalam pengelolaan pendidikan Islam yang terdapat di masjid ini.

Dengan melihat kondisi seperti itu peneliti tertarik untuk mengangkat suatu permasalahan dengan tema “Strategi Takmir Dalam Pengelolaan Pendidikan Islam Di Masjid Baiturrahman Banyuwangi”.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi?

2. Apa saja faktor pendukung strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi?

3. Apa saja faktor penghambat dan solusi strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian.5

1. Untuk mendeskripsikan strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi.

2. Untuk menganalisis faktor pendukung strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi.

5 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember, 2017), 45.

(18)

3. Untuk menganalisis faktor penghambat dan solusi strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan informasi yang mendalam, obyektif, dan berimbang mengenai strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi.

b. Sebagai sumbangan data ilmiah dalam bidang pendidikan dan disiplin ilmu lainnya yang terkait.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dalam mengembangkan kompetensi peneliti dan dapat menambah wawasan pengetahuan terkait dengan pengelolaan pendidikan Islam, serta dapat menjadi bekal untuk mengadakan penelitian berikutnya.

b. Bagi Lembaga yang Diteliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi kepengurusan Masjid sebagai acuan dan bahan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas Pendidikan Islam terutama mengenai pengelolaan pendidikan Islam di Masjid.

(19)

c. Bagi Masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi yang aktual dan dapat menambah wawasan serta kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan pendidikan Islam di Masjid.

d. Mahasiswa IAIN Jember

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi sekaligus sebagai rujukan bagi pembaca khususnya kepada mahasiswa fakultas Tarbiyah yang ingin mengembangkan kajian tentang pengelolaan pendidikan Islam di Masjid.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi, maka hal- hal yang perlu dijelaskan sebagai berikut:

1. Strategi Takmir

Strategi adalah Suatu cara yang digunakan oleh seseorang dalam suatu aktivitas yang berada dalam kurun waktu tertentu. Strategi adalah teknik yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan karena pada dasarnya dengan adanya strategi seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan.

Sedangkan takmir masjid adalah Sekumpulan orang yang mempunyai kewajiban dalam memakmurkan masjid atau biasa disebut

(20)

dengan pengurus masjid. Peran seorang takmir yaitu mengurus serta mengatur seluruh rangkaian kegiatan yang terdapat di dalam masjid serta memberikan pelayanan dalam hal fasilitas kepada jama’ah masjid.

Jadi, strategi takmir masjid adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dilakukan oleh sekumpulan orang yang mempunyai kewajiban dalam memakmurkan masjid.

2. Pengelolaan Pendidikan Islam

Pengelolaan adalah kegiatan pengendalian terhadap seluruh rangkaian kegiatan yang terdapat di dalam masjid yang diwujudkan dalam kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan serta pengawasan.

Pendidikan Islam adalah suatu sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi (dunia) maupun ukhrawi (akhirat).

3. Masjid

Masjid merupakan rumah Allah yang dibangun sebagai sarana umat Islam untuk mengingat, mensyukuri, dan menyembah Allah Swt. Dan juga dijadikan sebagai tempat melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti tempat bermusyawarah, pernikahan, dan lain sebagainya.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup. Yang bertujuan untuk mengetahui secara umum dari seluruh pembahasan yang ada.

Berikut ini akan dikemukakan gambaran secara umum pembahasan skripsi ini.

(21)

Bab satu, berisi Pendahuluan, pada bab ini dibahas mengenai latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan metode penelitian serta sistematika pembahasan.

Bab dua, berisi Kajian Kepustakaan, pada bab ini berisi kajian pustaka pada bagian ini berisi tentang kajian ringkasan kajian terdahulu yang memiliki relavansi dengan penelitian yang akan dilakukan pada saat ini serta memuat kajian teori.

Bab tiga, metode penelitian dalam bab ini membahas tentang metode yang digunakan peneliti meliputi: pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, keabsahan data yang terakhir tahap-tahap penelitian.

Bab empat, hasil penelitian pada bagian ini berisi tentang data atau hasil penelitian, yang meliputi: latar belakang objek penelitian, penyajian data, analisis dan pembahasan temuan.

Bab lima, berisi penutup yang menjelaskan kesimpulan penelitian yang dilengkapi dengan saran-saran dari peneliti atau penulis dan diakhiri dengan penutup.

(22)

sehingga dapat mendukung pembahasan dan pemecahan permasalahan secara tuntas.6

A. Penelitian Terdahulu

Berdasarkan tinjauan terhadap hasil penelitian terdahulu, ada beberapa hasil penelitian yang penulis anggap mempunyai relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan, antara lain:

1. Skripsi yang disusun oleh Novita Anggraini, 2015, dengan judul skripsi Implementasi Pendidikan Karakter Siswa Melalui Kegiatan Keagamaan Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Gumelar Balung Jember Tahun Pelajaran 2014/2015, oleh mahasiswa IAIN Jember. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Keabsahan data menggunakan triangulasi data meliputi triangulasi sumber dan triangulasi metode. Kesimpulannya: 1) Implementasi pendidikan keimanan dan ketaqwaan siswa terhadap Tuhan Yang Maha Esa melalui kegiatan keagamaan di MI Muhammadiyah Gumelar adalah kegiatan keagamaan rutin meliputi ibadah sholat berjama’ah dan tadarus, kegiatan keagamaan tahunan meliputi hari-hari besar Islam: isra’ mi’raj, maulid nabi, pondok ramadhan. 2) Implementasi pendidikan kepedulian terhadap

6 Moh. Kasiran, Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: UIN Maliki Press, 2008), 103.

(23)

kemanusiaan dan lingkungan melalui kegiatan keagamaan siswa di MI Muhammadiyah Gumelar adalah adanya sholat jum’at bersih dan rasa peduli dengan memelihara lingkungan. 3) Implementasi pendidikan kebangsaan melalui kegiatan keagamaan di MI Muhammadiyah Gumelar adalah kegiatan upacara bendera pada hari senin pagi. Dengan penanaman rasa peduli, hormat, penghargaan yang tinggi terhadap bahasa yang digunakan dalam sehari-hari.

2. Skripsi yang disusun oleh Siti Munirotul himmah, 2015. Mahasiswa IAIN Jember dengan judul skripsi, “Implementasi Kegiatan Keagamaan Sholat Jum’at Dalam Pembentukan Karakter Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri Jember 2014/2015“. Tujuan penelitian ini adalah 1). Untuk mendeskripsikan Implementasi Kegiatan Keagamaan Sholat Jum’at dalam Pembentukan Religius Siswa. 2). Untuk mendeskripsikan Implementasi Kegiatan Keagamaan Sholat Jum’at dalam Pembentukan Karakter Siswa.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) dalam pembentukan karakter religius siswa meliputi: penentuan bilal dan muadzin sholat jum’at, penentuan khotib dan imam sholat jum’at, dan pemberian tugas resume khutbah sholat jum’at. (2) pembentukan karakter kedisiplinan siswa diwujudkan dalam bentuk kedisiplinan waktu dan kontrol diri dalam menjalankan segala peraturan sekolah.

3. Skripsi yang disusun oleh Ahmad Nur Faqih, 2016. Adalah mahasiswa IAIN Jember, yang berjudul “Motivasi Geng Motor Jacco Pada Pendidikan islam Sebagai Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama

(24)

Islam Di Balung Jember”. Fokus penelitian ini yaitu 1) Motivasi akan rasa cinta geng motor jacco pada pendidikan islam sebagai implementasi nilai- nilai pendidikan agama Islam di Balung Jember tahun 2016. 2) Motivasi aktualisasi diri selaku motivasi geng motor Jacco pada pendidikan islam sebagai implementasi nilai-nilai pendidikan agama Islam di Balung Jember tahun 2016. Adapun teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentssi. Dalam penelitiannya yaitu motivasi akan rasa cinta yang datang dari kesadaran diri para anggota geng motor Jacco melalui kegiatan keagamaan ini melahirkan rasa solidaritas antar anggota dan hubungan yang baik dan harmonis terhadap masyarakat dalam menjaga eksistensi para anggota di masyarakat maupun geng motor jacco sendiri. Yaitu didalamnya terjalin ukhwah Islamiyah yang merupakan implementasi dari nilai-nilai pendidikan agama Islam.

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti Judul Penelitian Persamaan Perbedaan

1 2 3 4 5

1. Novita Anggraini,

(2015)

“Implementasi Pendidikan Karakter Siswa Melalui Kegiatan

Keagamaan Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Gumelar Balung Jember Tahun

Pelajaran 2014/2015.”

a. Meneliti pendidikan Islam

b. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif c. Menggunakan

teknik

pengumpulan data: observasi, wawancara dan dokumentasi

a. Penelitian terdahulu menggunakan keabsahan data triangulasi sumber dan metode, sedangkan penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi

(25)

teknik b. Penelitian

terdahulu lebih memfokuskan pada

penanaman rasa peduli dan hormat di sekolah 2. Siti Munirotul

himmah (2015)

“Implementasi Kegiatan Keagamaan Sholat Jum’at

Dalam Pembentukan Karakter Siswa

Sekolah Menengah Atas

Negeri Jember 2014/2015.“

a. Meneliti pendidikan Islam

b. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif

a. Peneltian terdahulu lebih memfokuskan pada

pendidikan karakter siswa, sedangkan penelitian ini lebih

memfokuskan pada strategi pengelolaan pendidikan Islam 3. Ahmad Nur

Faqih (2016)

“Motivasi Geng Motor Jacco Pada

Pendidikan islam Sebagai Implementasi

Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Di Balung Jember”.

a. Meneilti pendidikan Islam

b. Menggunakan teknik

pengumpulan data: observasi, wawancara, dan dokumentasi

a. Penelitian terdahulu lebih memfokuskan pada motivasi akan rasa cinta geng motor jacco, sedangkan pada

penelitian ini lebih

memfokuskan pada strategi dalam pengelolaan pendidikan Islamnya

(26)

B. Kajian Teori

Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam melakukan penelitian. Pembahasan teori secara lebih luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.

1. Pengertian Strategi Takmir a. Strategi

Istilah Strategi dalam bahasa Yunani yitu Strategos yang berarti komandan militer. Konteks awalnya dugunakan dalam dunia militer, yaitu membuat rencana dalam menaklukkan musuh. Saat ini berbagai macam definisi strategi dapat ditinjau dari segi politik, ekonomi, perusahaan, dan organisasi.7

Menurut Alfred Chandler merupakan penetapan sasaran dan tujuan jangka panjang suatu perusahaan atau organisasi dan alokasi sumber daya untuk mencapai tujuan.8

Sedangkan strategi sendiri diartikan juga sebagai suatu rencana kegiatan yang menyeluruh yang disusun secara sistematis dan bersifat umum, digunakan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, harus dirahasiakan dan tidak semua orang dapat mengetahuinya.9

Dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan, strategi dalam lingkup organisasi merupakan sebuah proses perencanaan, penetapan

7 Senja Nilasari, Manajemen Strategi itu Gampang, (Jakarta: Dunia Cerdas, 2014), 2.

8 Ismail Solihin, Manajemen Strategik, (Bandung: Penerbit Erlangga, 2012), 25.

9 Ilham Sofyan, Teknik Penyusunan Manajemen Strategi Pemerintah dan Usaha, (Yogyakarta:

Graha Ilmu, 2015), 3.

(27)

tujuan, serta penetuan sasaran kegiatan dalam jangka waktu yang juga ditentukan untuk mencapai segala sesuatu yang diharapkan oleh organisasi.

b. Takmir atau Pengurus Masjid

Takmir atau pengurus masjid adalah sekumpulan orang yang mempunyai kewajiban memakmurkan masjid. Takmir masjid sebenarnya telah bermakna pengurus masjid. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S At- Taubah: 18

















































Artinya:“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang

yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”10 (Q.S At- Taubah: 18).

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan para takmir dalam melaksanakan tugas ketakmirannya yaitu:

1) Masjid Sebagai Tempat Ibadah

Sebagai tempat ibadah umat Islam, bangunan masjid haruslah memungkinkan seorang melaksanakan ibadah (mahdah) dengan tenang. Sarana yang menunjang kearah itu haruslah diwujudkan

10 Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemah, (Jakarta: PT. Alhidayah, 1998), 280.

(28)

sedemikian rupa. Memang pada awalnya sebuah masjid hanyalah suatu tempat yang dinyatakan sebagai tempat ibadah.

Dengan itu maka berfungsilah masjdi dengan segala konsekuensinya. Sebagai tempat ibadah, maka masjid harus memberi nuansa kekhusukan disamping kesucian dan kebersihan lingkungan merupakan sesuatu yang mutlak harus diupayakan.

2) Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Umat

Mengacu pada prinsip ajaran Islam tentang keterpaduan antara ibadah mahdah dengan ibadah sosial (ijtimaiyah), maka haruslah memancarkan cahaya yang menyinari lingkngan dan jama’ahnya. Dari aktivitas spiritual yang dilakukan di dalam masjid, para jama’ah haruslah mampu membawa substansi ajaran Islam keluar melewati batas dinding masjid dan memasuki wilayah-wilayah kemasyarakatan.

Oleh sebab itu, setiap kegiatan yang dilakukan di dalam masjid haruslah berimplikasi kemanfaatan dalam kehidupan masyarakat.

Bahkan setiap persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, kalau mungkin dapat diselesaikan berdasarkan nilai-nilai yang berkembang di dalam masjid.

3) Organisasi Takmir Masjid

Upaya memakmurkan masjid dapat dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang. Organisasi takmir masjid dapat dibuat untuk usaha-

(29)

usaha tersebut di atas struktur organisasinya paling tidak terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara serta bagian-bagian yang diperlukan.

Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi Idarah atau kegiatan administrasi, Imarah atau kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada pembinaan jama’ah serta Ri’ayah, yaitu kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan fisik (sarana dan prasarana).

4) Menuju Kebersihan Iman

Takmir masjid sebagai penanggung jawab kegiatan masjid harus berusaha mengarahkan jama’ahnya mencapai kebersihan iman (tauhid), yakni kemantapan akidah jama’ah di dalam meyakini Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan muhammad sebagai Nabinya.

5) Menjaga Kerukunan Dan Memperbanyak Amal Sholeh

Takmir masjid disamping mengarahkan jama’ahnya agar memiliki akidah yang kuat, juga berkewajiban mendorong jam’ahnya agar senantiasa menjaga kerukunan diantara warga masyarakat.

Prinsip mengakui adanya perbedaan faham dan menghargai pemikiran dan pemahaman antar yang satu dengan yang lain haruslah tetap dijunjung tinggi. Suasana kerukunan haruslah diciptakan sedemikian rupa sehingga masalah-masalah perbedaan faham tidak harus menjadi hambatan di dalam kehidupan tertentu.

Meskipun kadang tidak dapat memuaskan bagi semua pihak, namun upaya yang baik dilakukan adalah menjadikan dialog atau

(30)

musyawarah sebagai jalan untuk mengambil keputusan-keputusan.

Iklim keterbukaan dan saling mengerti di antara jama’ah akan membuahkan kemajuan-kemajuan di tengah-tengah masyarakat.

Hidup rukun adalah salah satu bentuk amal sholeh, disamping masih sangat banyak lagi amal-amal kebaikan yang dapat dilakukan.

Jangan lupa lakukan kreatifitas amal kebaikan itu dengan mendasarkan keimanan kepada Allah dan tidak mengharapkan yang lain kecuali ridho-Nya semata. Pada sisi ini banyak sekali kegiatan- kegiatan yang dapat dilakukan.

6) Fungsi dan Peran Takmir

Keberadaan takmir masjid akan sangat menentukan di dalam membawa jamaahnya kepada kehidupan yang lebih baik.

Berfungsinya masjid sebagai tempat ibadah dan pusat pembinaan imat sangat ditentukan oleh kreatiitas dan keikhlasan takmir masjid dalam memenuhi amanahnya. Siapapun yang lebih dipercaya memegang amanah ini haruslah berani mempetanggung-jawabkan seluruh hasil karyanya, baik dihadapan Allah maupun dihadapan jama’ahnya sendiri.

Kemajuan masyarakat karena keimannya yang mantap disertai amal sholeh akan banyak dipengaruhi oleh kreatifitas takmir masjid dalam mengelolah kegiatan. Oleh karena itu, tanggung jawab takmir masjid di sini dapat dikatakan amat berat namun sangatlah mulia.

(31)

Takmir masjid harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, menjauhi sifat-sifat takabur dan riya’. Tidak pernah membanggakan diri dan besar kepala karena aktivitas dan kegiatannya yang semarak. Takmir masjid harus rela berkorban demi kemaslahatan jama’ahnya. Apabila takmir masjid dapat berhasil di dalam pengelolah masjidnya, maka insya Allah balasan Allah akan segera dijumpai.

2. Pengertian Pengelolaan Pendidikan Islam a. Pengertian Pengelolaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengelolaan adalah mengendalikan, menyelenggarakan, mengurus dan menjalankan suatu kegiatan. Sedangkan, menurut Prajudi, dalam buku Pengelolaan Pendapatan dan Anggaran Daerah mengatakan bahwa pengelolaan adalah pengendalian dan pemanfataan semua faktor sumber daya yang menurut suatu perencanaan diperlukan untuk penyelesaian suatu tujuan kerja tertentu.11 Pengelolaan disini dibagi menjadi menjadi 3, diantaranya yaitu:

1) Pengelolaan Masjid yang Berupa Sarana, Pra-Sarana dan Fasilitas Masjid

Semua sarana pra-sarana dan fasilitas masjid harus dikelola dengan baik dan tepat prnggunaannya., karena hal itu merupakan bagian dari amanat umat. Di samping itu semua pra-sarana dan fasilitas yang ada hendaknya dikembangkan sedemikian rupa.

11 Raharjo Adisasmita, Pengelolaan Pendapatan dan Anggaran Daerah. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), 123.

(32)

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melaksanakan pengembangan pra-sarana dan fasilitas masjid, diantaranya sebagai berikut:

a) Menambahkan jumlah pra-sarana dan fasilitas masjid yang masih kurang.

b) Memperbaiki lahan atau ruangan.

c) Memperbaiki pra-sarana dan fasilitas masjid yang masih dapat digunakan.

d) Mengganti pra-sarana dan fasilitas yang sudah rusak.

e) Menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan SDM untuk meningkatkan kualitas pengurus dan pengelolaan masjid.

f) Melakukan penelitian sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan dalam rangka pegembangan masjid.

g) Bekerja sama dengan pihak terkait dalam rangka menembangkan seluruh sarana pra-sarana fasilitas.12

2) Pengelolaan dan Pengembangan Pendidikan Islam

Pengurus masjid saat ini sangat baik dalam mengelola dan mengembangkan pendidikan islam. Para pendahulu kita banyak yang bijak dalam mengelolah potensi umat. Saat ini pun tidak sedikit pengelola potensi umat yang menyamai kualitasnya. Khususnya yang berkiprah melalui kegiatan-kegiatan dalam rangka memakmurkan masjid.

12 Eman Suherman, Manajemen Masjid kiat sukses meningkatkan kualitas SDM melalui optimalisasi kegiatan umat berbasis pendidikan berkualitas unggul. (Bandung: Alfabeta, 2012), 62.

(33)

Tiga hal yang mendasari pengelolaan dan pengembangan agar lebih efisien dan efektif yaitu rapat pengurus, pengajian, dan kaderisasi. Sesungguhnya dapat dirangkum dalam satu kegiatan yaitu pengajian rutin.

Adapun pengajian rutin yang diadakan oleh pengurus masjid dalam memakmurkan masjid dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:

a) Pengajian rutin pengurus masjid b) Majlis ta’lim untuk umum c) Pengajian anak-anak

d) Pengajian rutin para jama’ah13

3) Pengelolaan dan Pengembangan Keuangan Masjid

Untuk pengembangan keuangan masjid sebaiknya dilakukan hal-hal sebagai berikut:

a) Melakukan usaha-usaha produktif yang sesuai dengan syariat b) Budidaya umat

c) Mengembangkan kerja sama melalui silaturahmi antar pengurus dan antar umat jama’ah masjid

b. Pengertian Pendidikan Islam 1. Pengertian Pendidikan Islam

Di dalam UU No. 2/2019 tentang sistem pendidikan nasional

“pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik

13 Eman Suherman, Manajemen Masjid..., 136.

(34)

melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang”.14

Pendidikan Islam menurut bahasa berasal dari kata al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib. Sedangkan menurut istilah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam, sehingga dengan mudah dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran Islam.

Pendidikan Islam memiliki fungsi dan tujuan, yaitu bahwa fungsi dari pendidikan Islam itu adalah menyediakan segala fasilitas yang dapat memungkinkan tugas-tugas pendidikan Islam tersebut tercapai dan berjalan dengan lancar. Sedangkan, tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri yaitu standar usaha yang dapat ditentukan, serta mengarahkan usaha yang akan dilalui dan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lainnya. Di samping itu, tujuannya dapat membatasi ruang gerak uasaha, agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan, dan yang terpenting lagi lagi adalah dapat memberi penilaian atau evaluasi pada usaha-usaha pendidikan yang terdapat di dalam masjid.15

2. Bentuk-Bentuk Pendidikan Islam a) Sholat lima waktu:

Ibadah memiliki hukum wajib dilaksanakan sehari lima kali yakni isya’, subuh, dhuhur, ashar, dan maghrib. Sholat

14 Undang-Undang Ri No. 2 Tahun 1989, Sistem Pendidikan Nasional Beserta Peraturan Pelaksanaannya. (Semarang: Media Wiyata, 1990), 2.

15 Abdul Mujub, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Prenada Media, 2006), 10.

(35)

dilaksanakan sebagai wujud pengabdian sebagai hamba Allah swt yang memang diciptakan tidak lain hanya untuk menyembah Allah swt.

b) Pengajian

Pengajian kata dasarnya adalah kaji yang berarti telaah, pelajari, analisa, selidik, dan teliti.16 Dari pengertian ini, pengajian sama halnya dengan pengajran yang merupakan sebuah proses untuk mempelajari. Begitu juga dengan pengajian yakni suatu proses untuk mengkaji.

c) Istighosah

Kata istighotsah (ﺔﺘﺛﺎﻐﺘﺳا) berasal dari al-ghouts (تﻮﻐﻟا) yang berarti pertolongan.P11F17P Jadi istighotsah adalah suatu do’a yang dipanjatkan kepada Allah SWT untuk memohon pertolongan dalam menghadapi gejolak kehidupan di dunia atau memohon keselamatan, kesejahteraan, ketentraman, dan keindahan di dunia dan mohon kebaikan di akhirat.P12F18

d) Diba’iyah

Diba’iyah merupakan kegiatan yang sering dilakukan masyarakat yang beragama Islam. Kegiatan dalam Diba’iyah ini adalah sholawat kepada nabi. Banyak sekali syair-syair yang syahdu dalam diba’. Kegiatan ini selain digunakan untuk

16 Pius A. Partantob Dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer. (Surabaya: Arloka, 1994), 294.

17 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1990), 303.

18 Moh. Saifullah Al Aziz, Terjemah Manaqib(Kisah Kehidupan) Syaikh Abdul Qodir Jailani, (Surabaya: Terbit Terang), 108.

(36)

bershalawat atas Nabi agar mendapatkan syafa’atNya juga dapat mempererat tali silaturahim, menambah cinta kepada Rasulullah, sehingga mampu menambah keimanan dan ketaqwaan yang menjalankan.

c. Pengertian Masjid 1. Pengertian Masjid

Masjid berarti tempat untuk berusjud. Secara terminologis diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan shalat. Masjid sering disebut Baitullah (rumah Allah), yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah. Dilihat dari segi harfiah Masjid berarti “tempat sembahyang”, yaitu berasal dari bahasa Arab yang berarti “sujudan”, fiil madinya sajada (ia sudah sujud) Fiilsajada diberi awalan ma, sehingga terjadilah isim makan. Isim makan ini menyebabkan perubahan bentuk sajada menjadi masjidu, masjid.19

Tetapi kalau berbicara tentang gedung yang diistilahkan dengan masjid addin Islam pengertian “tempat sembahyang” saja tidaklah seluruhnya benar. Karena Allah menjadikan seluruh jagad ini masjid, tempat sujud, tempat sembahyang.

Sujud ataupun sholat tidaklah terikat tempat. Artinya seluruh bumi adalah tempat sujud kepada Tuhan, tempat untuk meluhurkan

19 Sidt Gazalba, Masjid: Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam. (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1994), 30.

(37)

dan menghamba kepada Allah. Sujud dalam pengertian lahir bersifat gerak jasmani, sujud dalam pengertian batin berarti pengabdian.

Masjid adalah perangkat masyarakat yang pertama didirikan oleh Rasulullah Saw begitu beliau sampai di Madinah setelah menempuh perjalanan hijrah. Bangunannya sangat sederhana, jauh dari cukup apabila temptanya mewah. Di tempat tersebut, Rasulullah menerima banyak ayat Al-Qur’an yang kemudian dicatat, dihafal, difahami, dan diamalkan di bawah bimbingan beliau. Di tempat pula Rasulullah saw bertemu dengan para sahabat merundingkan langkah- langkah pembinaan, mulai dari masalah pribadi, keluarga, sampai kemasyarakat, mulai dari soal agama sampai ke soal kesejahteraan hidup bermasyarakat.

Dari sana dimulai gerakan pendidikan dan penerangan, disana digelar dan ditegakkan peradilan, bahkan disana pula dibicarakan perjanjian dengan tetangga non-muslim. Itulah fungsi masjid sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw,20 yang memang sejalan dengan namanya yaitu tempat sujud atau berbakti kepada Allah yaitu pusat kegiatan jama’ah muslim dalam menata dan menatap masa depan hidupnya baik yang berjangka pendek (dunia) maupun yang berjangka panjang (akhirat).

20 M. Zaini Dahlan dalam Supardi & Teuku Amiruddin, Manajemen Masjid dan Pembangunan Masyarakat: Optimalisasi Peran dan Fungsi Masjid, (Yogyakarta: UII Press, 2001), 22.

(38)

2. Fungsi Masjid

Masjid di zaman Rasulullah saw mempunyai banyak fungsi.

Itulah sebabnya Rasulullah saw membangun masjid terlebih dahulu.

Masjid menjadi simbol persatuan umat Islam. Selama sekitar 700 tahun sejak Nabi mendirikan masjid pertama, fungsi masjid masih kokoh dan original sebagai pusat peribadatan dan peradaban yang mencerdaskan dan mensejahterakan umat manusia.

Lewat masjid Rasulullah membangun kultur budaya masyarakat baru yang lebih dinamis dan progresif. Masjid adalah rumah Allah yang dibangun atas dasar ketaqwaan kepada-Nya. Oleh karena itu, membangun masjid harus diawali dengan niat yang tulus, ikhlas, mengharap ridha Allah semata, sehingga masjid yang dibangun mampu memberikan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan, rasa aman kepada para jama’ah dan lingkungannya.

Beberapa fungsi dan peran masjid dibagi menjadi enam bagian yaitu:

a) Sebagai Tempat Beribadah

Sesuai dengan namanya masjid adalah tempat sujud, maka fungsi utamanya adalah sebagai tempat ibadah shalat.

Sebagaimana diketahui bahwa makna ibadah di dalam Islam adalah luas menyangkut segala aktivitas kehidupan yang ditujukan untuk memperoleh ridho Allah, maka fungsi masjid disamping sebagai tempat shalat juga sebagai tempat beribadah secara luas sesuai dengan ajaran Islam.

(39)

b) Sebagai Tempat Menuntut Ilmu

Masjid sebagai tempat untuk belajar mengajar, khususnya ilm agama meupakan fardhu ain bagi umat Islam. Disamping itu juga ilmu-ilmu lain, baik ilmu alam, sosial, humaniora, keterampilan dan sebagainya dapat diajarkan di masjid.

c) Sebagai Tempat Pembinaan Jama’ah

Dengan adanya umat Islam, di sekitarnya, masjid berperan dalam mengkoordinasi mereka yang berguna untuk menyatukan potensi dan kepemimpinan umat. Selanjutnya umat yang terkoordinir secara rapi dalam organisasi takmir masjid dibina keimanan, ketaqwaan, ukhwah imaniyah dan dakwah Islamiyah. Sehingga masjid menjadi basis umat Islam yang kokoh.

d) Sebagai Pusat Dakwah Dan Kebudayaan Islam

Masjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu berdenyut untuk menyebarluaskan dakwah Islamiyah dan budaya Islami. Di masjid pila direncanakan, diorganisasi, dikaji, dilaksanakan dan dikembangkan dakwah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu masjid, berperan sebagai pusat aktivitas dakwah dan kebudayaan.

e) Sebagai Pusat Kaderisasi Umat

Sebagai tempat pembinaan umat jama’ah dan kepemimpinan umat, masjid memerlukan aktivis yang berjuang

(40)

menegakkan Islam secara itiqamah dan berkesinambungan. Patah tumbuh hilang berganti. Karena itu pembinaan kader perlu dipersiapkan dan dipusatkan di masjid sejak mereka masih kecil sampai dewasa. Di antaranya dengan Taman Pendidikan Al- Qur’an, remaja masjid maupun takmir masjid beserta kegiatannya.

3. Pemeliharaan Masjid

Masjid harus diperhatikan pemeliharaannya agar berfungsi dengan baik, adapun langkah-langkah pemeliharaan masjid sebagai berikut:

a) Memelihara bangunan dan fisik masjid mencakup berbagai sisi, diantaranya:

1) Memelihara keindahan masjid, baik dari sisi artistik atau keindahan dan kenyamanan masjid bagi para jama’ah. Juga dengan memperhatikan segala hal yang mengganngu keindahan masjid, baik interior atau eksterior.21

2) Memelihara lingkungan masjid, lingkungan masjid yang dimaksud adalah daerah yang masih dalam wilayah masjid, seperti halaman depan dan belakang, taman-taman, serta jalan menuju masjid juga perlu diperhatikan. Sebaiknya daerah disekitar masjid dibersihkan dan dibebaskan dari keramaian yang mengganggu khusyuknya pelaksanaan ibadah.

21 Mustafa, Budiman. Manajemen Masjid, (Solo: Ziyat Visi Media, 2008), 133.

(41)

3) Memelihara suasana masjid, menciptakan suasana tenang dengan meminimalisir segala gangguan, menciptakan suasana tertib bagai jama’ah yang hadir didalam masjid, termasuk tertib shaf (barisan shalat) dan tertib dalam penempatan barang, juga mengatur tempat khusus untuk jama’ah perempuan, baik diri maupun barang yang masuk ke masjid.

4) Memelihara ketertiban masjid, dilakukan dengan menegakkan tata tertib yang berlaku didalam masjid atau etika yang seharusnya diikuti oleh setiap jama’ah seperti dilarang berbicara dan mengobrol tanpa memperhatikan batasan syar’i.

5) Memelihara masjid diwaktu malam adalah bentuk penjagaan terhadap kehormatan dan seluruh harta kekayaan masjid dari tindak kriminal dan pelecehan. Sebab, dimungkinkan akan ada orang yang tidak bertanggung jawab, yaitu mencemarkan masjid dengan tindakan yang tidak terpuji.22

b) Pemeliharaan keindahan bangunan masjid, diantaranya:

1) Masjid adalah rumah Allah. Sebagai tempat ibadah, sudah sepatutnya umat Islam membangun masjid itu dengan baik, megah dan indah; sehingga jama’ah yang masuk kedalamnya merasa nyaman dan damai serta dapat melaksanakan ibadah dengan khusyuk. Bila masjidnya buruk, rusak, dan kotor, orang- orang yang beribadah akan merasa jijik dan enggan serta

22 Mustafa, Budiman. Manajemen Masjid..., 133.

(42)

pelsanaan ibadahnya terganggu dan tidak khusyuk. Sungguh mengagumkan bila dilihat masjid yang baik, megah dan indah.

Terpesona melihat masjid yang besar dengan keanggunan yang menakjubkan. Hampir tak ada masjid yang tidak dibangun dengan baik, megah, dan indah, apalagi pada masa sekarang ini.

Berkat kamajuan dibidang seni arsitektur, bangunan masjid di Indonesia tidak kalah memukau dibanding dengan masjid yang lain diberbagai belahan bumi.

2) Membangun masjid tempaknya tidak perlu terlalu susah.

Siapapun dapat melaksanakan asalkan dia mempunyai kamauan dan sumber daya yang memadai. Bagian yang sulit adalah memliharanya agar masjid itu tetapk baik, terawat dan indah.

Masalah pemeliharaan ini merupakan kelemahan dan kekurangan kita. Berapa banyak masjid yang dibangun dengan baik, tetapi kini masjid-masjid itu telah rusak dan kotor akibat kurang dipelihara. Tempat-tempat yang penting untuk dipelihara kebersihan dan keindahannya seperti laintai, tikar shalat, dan WC.23

Disamping itu, didalam pemeliharaan keindahan masjid sesuai keputusan dirjen bimas Islam No. DJ.II/802 Tahun 2014 yang dibagi menjadi 3 bagian yaitu imarah, idarah, dan ri’ayah.

23 Nana Rukmana, Masjid Dan Dakwah, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2002), 155.

(43)

a) Imarah (kemakmuran masjid) 1) Jumlah jama’ah rata-rata

Untuk sholat subuh jama’ahnya kurang lebih 400an jama’ah, Zhuhur kurang lebih 240an jama’ah, Ashar kurang lebih 300an jama’ah, Maghrib kurang lebih 300an jama’ah, dan Isya’ : kurang lebih 500an jama’ah

2) Kegiatan pengajian atau majelis taklim

Kegiatan pengajian itu bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, dan juga anak-anak. Pengajian ini diikuti oleh dikalangan jama’ah.

3) Imam rawatib

(a) Memiliki tempat tinggal yang dekat dengan masjid (b) Adanya jaminan bagi kebutuhan hidupnya dan keluarga (c) Memiliki kemampuan untum memimpin umat atau jama’ah (d) Memiliki keamampuan untuk menjadi khatib jum’at atau

mengisi taklim bila ustadz yang telah dijdwalkan berhalangan hadir

4) Jama’ah masjid

(a) Memiliki tempat tinggal yang dekat dengan masjid (b) Adanya jaminan kebutuhan hidupnya dan keluarganya (c) Dapat menggantikan imam jika diperlukan

(d) Menjaga waktu-waktu sholat fardhu

(44)

(e) Menjaga kebersihan dan keindahan masjid serta fasilitas lainnya

b) Idarah (administrasi masjid)

1) Memiliki struktur organisasi dan susunan pengurus masjid dalam masa 3 tahunan yang sedang berjalan berikut tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota.

2) Memiliki pembukuan kegiatan administrasi yang meliputi:

(a) Surat menyurat (surat masuk dan surat keluar) (b) Inventaris kekayaan masjid

(c) Keuangan (pemasukan dan pengeluaran)

(d) Informasi/penerangan/pengumuman bagi jama’ah dan umat (e) Kegiatan dakwah

3) Pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia dalam keorganisasian atau kepengurusan.

c) Ri’ayah (Pemeliharaan masjid) 1) Fisik luar masjid

Memelihara lingkungan masjid seperti daerah sekitar halaman, taman-taman atau jalan menuju kesana. Kemudian memelihara fisik masjid dibagian luarnya dapat juga dengan menyediakan tempat tinggal untuk penuntut ilmu, menyediakan perpustakaan dan ruang baca, menampilkan buletin dan papan informasi, menyediakan lapangan olahraga, menyediakan gedung serba guna, menyediakan kantor pengurus harian dan ruang

(45)

bimbingan konseling keagamaan, membangun lembaga pendidikan dan latihan, membangun klinik kesehatan masjid, membangun koperasi (lembaga pemberdayaan ekonomi umat), membentuk lembaga amil zakat, infak, sedekah dan wakaf (LAZIS).24

2) Fisik dalam masjid

Pemeliharaan fisik dalam masjid dengan adanya ketersediaan perangkat-perangkat utama yang dibutuhkan oleh layaknya sebuah masjid. Perangkat-perangkat tersebut diantaranya: mihrab, mimbar, kubah atau menara azan, rak Al- Qur’an atau buku, rak sendal atau sepatu, tempat khusus wanita, tempat wudhu dan bersuci, perangkat lampu atau penerangan, perangkat sound system atau pengeras suara, pendingin ruangan atau kipas angin, karpet atau tikar dan kebersihan, petugas- petugas kebersihan masjid dan bangunan pelengkap.

Apabila kebersihan dan keindahan masjid dapat dijaga dengan baik, itu berarti umat Islam benar-benar bertanggung jawab terhadap rumah Allah. Baik dalam membangunnya, maupun dalam memeliharanya. Masjid yang terjaga kebersihan dan keindahannya akan berpengaruh besar kepada orang-orang yang mealkukan ibadah ditempat itu dan kepada orang lain yang hanya lewat disekitar masjid. Mereka yang beribadah didalamnya

24 Mustafa, Budiman. Manajemen Masjid..., 156.

(46)

akan memperoleh ketenangan dan kekhusyukan. Mereka yang hanya “ menonton” akan kagum dan tertarik. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan keindahan masjid yaitu:

(a) Pengecatan dan memilih warna cat (b) Waktu dan pelaksanaan

(c) Mengatur penerangan masjid (d) Memelihara kebersihan25

25 Nana Rukmana, Masjid dan Dakwah..., 158.

(47)

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Metode penelitian kualitatif didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.26

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu suatu jenis penelitian yang menekankan pada penalaran yang berdasarkan tekstual dan kontekstual, sebab dalam penelitian ini nantinya akan menghasilkan kata-kata tertulis bukan berupa angka-angka. Sedangkan pendekatan deskriptif yaitu data yang terkumpul berupa kata-kata, gambar, bukan angka. Data yang diperoleh berupa transkip interview, catatan lapangan, foto, dokumentasi pribadi dan lain-lain.

Penelitian kualitatif deskriptif adalah suatu jenis penelitian untuk menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati serta diinterpretasikan secara tepat.

Seuai dengan penelitian deskriptif, maka penelitian yang dilakukan ini berusaha untuk mendeskripsikan tentang Strategi Takmir Dalam Pengelolaan Pendidikan Islam Di Masjid Baiturrahman Banyuwangi.

Sedangkan jenis penelitiannya menggunakan jenis penelitian lapangan (field research). Penelitian field research yaitu peneliti berangkat ke lapangan

26 Lexy J Meolong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 6.

(48)

untuk mengadakan pengamatan tentang fenomena terkait dengan fokus penelitian, sehingga dapat menghayati langsung keadaan yang sebenarnya sehingga dapat pula memberi makna dalam konteks yang sebenarnya.

B. Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian yang dilakukan oleh peneliti ialah di jalan.

Jendral. Sudirman No.137 Banyuwangi. Sesuai dengan judul di atas, karena masjid ini merupakan masjid yang sangat strategis untuk digunakan penelitian dan juga di dalam masjid ini jama’ahnya sangat penuh terutama pada saat sholat maghrib dan subuh serta kegiatan pendidikan Islamnya yang bervariasi dan juga rutin dilaksanakan baik itu harian, mingguan bulanan, dan tahunan.

Kelebihan yang lain adalah di masjid baiturrahman ini mendatangkan muballig tingkat nasional dan jama’ahnya yang datang pun mencapai kurang lebih 7000 orang.

C. Subyek Penelitian

Pada bagian ini dilaporkan jenis data dan sumber. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang ingin diperoleh, siapa yang hendak dijadikan informan atau subjek penelitian, bagaimana data akan dicari dan dijaring sehingga validitasnya dapat dijamin.27

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik purposive sampling, yang merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.28 Pemilihan sampel purposive ini dilakukan untuk menjaring sebanyak mungkin informan dari berbagai macam sumber dan juga

27 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmia. (Jember: IAIN Jember, 2017), 47.

28 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2014), 300.

(49)

menggali informasi yang akan menjadi dasar rancangan dan teori yang muncul.29 Berdasarkan uraian diatas makna yang dijadikan subjek penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Takmir Masjid Baiturrahman Banyuwangi 2. Remaja Masjid Baiturrahman Banyuwangi 3. Jama’ah Masjid Baiturrahman Banyuwangi 4. Ustadz TPQ Baiturrahman Banyuwangi D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik atau metode yang digunakan untuk mengumpulkan berbagai macam data yang diperlukan sebagai berikut:

1. Observasi (Pengamatan)

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi selama 1 bulan lebih, mulai 1 Agustus sampai dengan 14 September 2018. Pada metode observasi, peneliti mengumpulkan data dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis terhadap objek yang diteliti dalam jangka waktu tertentu.

Strategi observasi ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai:

a) Letak geografis dan kondisi fisik Masjid Baiturrahman Banyuwangi, tujuannya untuk mengetahui letak keberadaan Masjid Baiturrahman Banyuwangi ini.

29 Lexi J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2005), 165.

(50)

b) Situasi dan kondisi Masjid Baiturrahman Banyuwangi, tujuannya agar peneliti mengetahui keadaan Masjid Baiturrahman Banyuwangi.

c) Pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi, tujuannya untuk mengetahui bagaimana strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam Masjid Baiturrahman Banyuwangi.

d) Kendala-kendala dalam pengelolaan pendidikan Islam Masjid Baiturrahman Banyuwangi

Pada penelitian ini menggunakan metode observasi berarti menggunakan mata dan telinga sebagai jendela untuk merekam sebagai pengambilan data yang dengan cara pemungutan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki.30

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan observasi partisipan, yaitu dimana dalam penelitian ini peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh narasumber dan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaannya, tetapi belum sepenuhnya lengkap.

2. Wawancara

Wawancara suatu penelitian yang bertujuan mengumpulkan keterangan tentang kehidupan manusia dalam suatu masyarakat.31 Wawancara merupakan percakapan antara dua atau lebih untuk tujuan tertentu yakni memperoleh atau memberikan informasi dari satu pihak kepada pihak lain sehingga konsep-konsep dan pemikiran serta gagasan dapat diungkapkan.

30 Suwanto, Dasar-dasar Metodologi Penelitian (Jakarta: Rosda Karya 2008), 41

31 Burhan Bungin, Metode Peneltian Kualitatif (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), 100.

(51)

Pada dasarnya wawancara dilakukan terhadap informan yang mengetahui informasi dan data yang diperlukan dalam penelitian.

Wawancara dilakukan secara semi struktur terutama dilakukan kepada takmir masjid Baiturrahman Banyuwangi untuk memperoleh data yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan Islam yang dilakukan di masjid tersebut.

Selain itu wawancara juga digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai profil, visi, misi, problematika dan data-data lain tentang masjid Baiturrahman Banyuwangi yang menjadi bahan utama untuk dianalisis.

Esterberg dalam Sugiono mengemukakan beberapa macam wawancara, yaitu wawancara terstruktur, semistruktur, dan tidak terstruktur.32

Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan semi struktur dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya.33 Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan.

Adapun data yang diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara ini adalah:

a) Strategi Takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi.

32 Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Bandung: Alfabeta, 2016), 317.

33 Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Bandung: Alfabeta, 2016), 318.

(52)

b) Faktor pendukung pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi.

c) Faktor penghambat dan solusi pengelolaan pendidikan Islam di Masjid Baiturrahman Banyuwangi.

3. Dokumentasi

Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi adalah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen. Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan penelitian seperti:

a) Deskripsi Masjid Baiturrahman Banyuwangi

b) Visi, Misi dan Tujuan berdirinya Masjid Baiturrahman Banyuwangi c) Struktur Organisasi Masjid Baiturrahman Banyuwangi

d) Program Masjid dalam pengelolaan pendidikan Islam Masjid Baiturrahman Banyuwangi

E. Analisis Data

Untuk menganalisis data dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, peneliti akan menggunakan model analisis data yang dikembangkan oleh Miles and Huberman, analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. Dalam model analisis yang dikembangkan oleh Miles and Huberman ini terdapat empat langkah analisis data, yaitu data collection, data reduction, data display, dan conclution drawing verivication.

(53)

1. Pengumpulan Data (Data Collection)

Pada analisis model pertama dilakukan adalah pengumpulan hasil wawancara, hasil observasi, dan berbagai dokumen berdasarkan kategorisasi yang sesuai dengan masalah penelitian yang kemudian dikembangkan penajaman data melalui pencarian data selanjutnya.

2. Reduksi Data (Data Reduction)

Langkah pertama adalah data reduction (reduksi data). Reduksi data adalah proses mengolah data dari lapangan dengan memilah dan memilih, menyederhanakan data dengan merangkum hal yang penting sesuai dengan fokus penelitian.

Data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan. Pada langkah awal ini yang dilakukan adalah merangkum, memilih, memfokuskan pada hal-hal yang pokok, dan membuang hal yang tidak perlu dari data-data yang diperoleh dari lapangan.

Langkah ini berlangsung selama proses penelitian, yaitu mulai dari awal hingga akhir laporan penelitian tersusun.

3. Penyajian Data (Data Display)

Langkah yang kedua adalah data display (penyajian data), setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dalam penyajian data, laporan yang sudah direduksi dilihat kembali secara

(54)

keseluruhan, sehingga dapat tergambar dan dapat dilakukan penggalian data kembali apabila dipandang perlu untuk mendalami permasalahannya.34

Data yang disajikan peneliti adalah dari pengumpulan data yang kemudian dipilih, data yang digunakan adalah data yang berkaitan dengan masalah penelitian. Dalam hal ini adalah informasi yang berupa “strategi takmir dalam pengelolaan pendidikan Islam di masjid baiturrahman banyuwangi “.

4. Penarikan Kesimpulan ( Conclution Drawing Verivication)

Langkah ketiga adalah conclution drawing verivication adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Pada bagian ini peneliti akan mencari makna dari data yang sudah terkumpul dan dikelompokkan sebelumnya, kemudian peneliti menarik kesimpulan pada setiap kelompok tersebut untuk kemudian dicocokkan dengan teori yang ada.

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskriptif atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang- remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal (sebab akibat), hipotesis atau teori.

Berikut langkah yang dilakukan oleh peneliti dalam menganalisa data:

a. Mengumpulkan beberapa data yang diperlukan, data tersebut diperoleh dari lapangan

34 Ibid., 337-345.

(55)

b. Memilah dan memilih data kemudian mengambil data yang diperlukan serta membuang data yang tidak diperlukan

c. Mengorganisasikannya sesuai dengan jenisnya d. Merangkum data-data yang telah diorganisasikan

e. Menyajikan data dengan uraian singkat yang berbentuk teks naratif f. Menyimpulkan data yang telah disajikan dan melakukan veryfikasi

selama penelitian berlangsung F. Keabsahan Data

Keabsahan data merupakan konsep yang menunjukkan kesahihan dan keadaan data dalam suatu penelitian. Untuk menguji keabsahan data yang diperoleh, peneliti menggunakan trianggulasi, trianggulasi adalah teknik yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.35 Teknik-teknik trianggulasi yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan adalah trianggulasi sumber dan teknik. Karena berdasarkan jenis penelitiannya yaitu penelitian kualitatif, langkah yang dilakukan peneliti adalah dengan membandingkan mengecek baik informasi yang telah diperoleh dengan sumber lainnya. Dalam penelitian ini, menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hal ini dapat dicapai dengan jalan sebagai berikut:

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

2. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

35 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2014), 241.

(56)

3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.

4. Membandingkan keadaaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang lain.

5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumentasi yang berkaitan.

6. Membandingkan waktu wawancara dengan narasumber.36 G. Tahap-Tahap Penelitian

Dalam penelitian ini ada beberapa tahapan yaitu tahapan sebelum lapangan, pelaksanaan lapangan, analisis data dan penulisan laporan.37

Tahap-tahap penelitian yang dilalui oleh peneliti dalam proses penelitian adalah sebagai ber

Gambar

Gambar 4.1. Ibadah Sholat Rawatib  b)  Pengajian Ba’da Maghrib
Gambar 4.3. Pengajian Ba’da Subuh  d)  Pendidikan (TPQ, RA, Dan Madin)
Gambar 4.4. RA
Gambar 4.6. Madin  2.  Aktivitas Mingguan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Karena pengejawantahan diri manusia adalah hasil rentangan antara sumber daya insani dan aktualisasi itu (diri). dalam PMA Nomor 16 tahun 2010 tentang pengelolaan

Bertolak dari adanya kasus-kasus di lapangan serta upaya menaikkan mutu/kualitas program pendidikan, fihak sekolah harus berupaya memaksimalkan pendayagunaan sumber daya yang ada di

 Pembelajaran dibagi menjadi kelompok kelompok kecil  Setiap santri menyetor hafalan baru ata mengulangi halafan dengan disimak ustad/ah  Materi Tahsin dalam memperbaiki bacaan

mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam sekalipun.16 Jadi yang dimaksud dengan Implementasi Strategi Pembelajaran Afektif dalam Membentuk Akhlak Siswa di SMP

2 Syarifatul Imama Pendidikan Karakter Gemar Membaca melalui Ekstarkulikul er Jurnalistik Studi Kasus di Madrasah Aliyah Raudhotul Muta’allimin Simbar Tampo Cluring Banyuwangi

Ia mengatakan: “selain menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi kami juga memakai sistem hafalan mbak, setiap anak wajib menghafal nadhom beserta materi ilmu tajwid dalam

Perkembangan seperti ini merupakan refleksi dari mekarnya peranan pemasaran dalam persaingan ekonomi dan meningkatnya permintaan akan jasa-jasa pemasaran.11 Pemasaran adalah suatu

Manfaat KUBE Batik Meru Tujuan dari pemberdayaan dapat berbeda sesuai dengan bidangnya masing-masing seperti bidang ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan politik.117 Pemberdayaan