TAHUN 2019
SKRIPSI
Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Progam Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh :
Siti Atikah Apriliyah Nim: T20151219
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
November 2019
Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengajarkan amal soleh bahwa bagi mereka terdapat pahala yang besar.* (Al-Isra’:9)
* Al-Quran dan Terjemahnya, QS Al-Isra’:9
1. Sepenuhnya untuk kedua orang tuaku Bapak dan Ibu tercinta dan tersayang, dua permataku sepanjang masa ( Muhazin dan Lutfiyah ) yang telah berjuang sekuat tenaga dan diiringi dengan segala perwujudan do’a, dan usaha hasil jerih payah tanpa lelah keduanya demi memberikan yang terbaik untuk hidupku.
2. Kakakku Muhammad Fadlurrahman, Mbak iparku Bela Nabila dan Adekku tersayang Siti Nabilatus Sholehah, yang selalu memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Sahabat-sahabatku groovestar yang sangat aku sayangi, yang selalu memberikan dukungan dan motivasi serta do’a untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Teman-teman kelas A6 Dolanan angkatan 2015 senasib dan seperjuangan yang kita hadapi tak ada habisnya saling menjulang cerita, hitam putih terlalui sudah.
Ahamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah berkenan melimpahkan Rahmat-Nya kepada penulis, sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan secara mudah dan lancar.
Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Serta orang-orang yang mengikuti jejak Beliau sampai akhir zaman nanti.
Skripsi ini disusun dalam rangka untuk memenuhi salah satu persyaratan menyelesaikan program Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd). Jurusan Pendidikan Islam, Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember Tahun pelajaran 2019.
Kepada semua pihak yang membantu penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan, tidak lupa penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Soeharto, S.E., M.M. selaku Rektor IAIN Jember yang telah memfasilitasi kami selama proses kegiatan belajar-mengajar di lembaga ini.
2. Ibu Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember yang telah memberikan izin dan kesempatan untuk mengadakan penelitian.
3. Bapak Drs. H. D. Fajar Ahwa, M.Pd.I selaku kepala progam studi dan dosen pembimbing skripsi yang selalu memberikan arahan dan bimbingan, serta bersedia meluangkan waktunya demi kelancaran penulisan skripsi ini.
5. Ustadz Fausi, S.Pd.I selaku kepala MTs At-Taqwa Bondowoso yang telah menerima saya untuk melakukan penelitian ini.
6. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan semuanya yang telah berjasa dalam penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT. penulis memohon semoga skripsi ini bermanfaat serta memberikan kontribusi pengetahuan yang berharga bagi kita semua. Amin Yaa Robbal Alamin.
Jember, 10 Oktober2019 Penulis,
Siti Atikah Apriliyah
Skripsi ini membahas tentang Penerapan Pembelajaran Ilmu Tajwid melalui Kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso Tahun 2019.Sebagai kitab suci umat Islam, maka harus mampu membaca, mempelajari dan mengamalkannya. Sebelum mengamalkan isi dari al-Quran tersebut, maka harus mampu membacanya sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.Tajwid adalah mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya, dengan memberikan setiap hak-hak dan apa yang patut bagi huruf tersebut. Tajwid juga bisa disebut dengan pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca al-Quran dengan sebaik- baiknya. Tajwid penting dipelajari karena dapat memelihara bacaan al-Quran dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca. Mempelajari ilmu tajwid hukumnya Fardlu Kifayah, sedangkan membaca al-Quran dengan baik (sesuai dengan ilmu tajwid) hukumnya Fardlu ‘Ain bagi setiap pembaca al-Quran (qari’) dari umat Islam.
Dalam membaca al-Quran ilmu tajwid menjadi hal yang wajib untuk dipelajari, seiring dengan berjalannya waktu juga atas dukungan dan saran dari wali murid agar Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso menerapkan pembelajaran ilmu tajwidnya menggunakan kitab-kitab layaknya di pondok pesantren, atas hal tersebut Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso memakai kitab Hidayatus Sibyan sebagai rujukan untuk mempelajari ilmu tajwid. Dengan mempelajari ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan yang disertai dengan nadhom/dalil tajwid, diharapkan dapat memudahkan siswa untuk lebih memahaminya, yang pembelajarannya menyenagkan dan siswa tidak merasa bosan.
Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana metode pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019? 2) apa saja media pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019? 3) bagaimana penilaian pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At- Taqwa Bondowoso tahun 2019?. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan metode pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019? 2) mendeskripsikan media pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At- Taqwa Bondowoso tahun 2019? 3) mendeskripsikan penilaian pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019?.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, jenis penelitian menggunakan penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data dalam skripsi ini adalah dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dalam skripsi ini menggunakan teknik kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode atau teknik. Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan yaitu: 1) metode yang digunakan dalam pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019 adalah metode hafalan, metode ceramah, dan metode bernyanyi. 2) media yang digunakan dalam pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019 adalah media berbasis manusia, media cetak, dan media pajang. 3) penilaian yang digunakan dalam pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019 melalui penilaian tes lisan dan unjuk kerja.
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GRAFIK ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Fokus Penelitian ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. Definisi Istilah ... 9
F. Sistematika Pembahasan ... 10
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 12
A. Kajian Terdahulu ... 12
B. Kajian Teori ... 16
BAB III METODE PENELITIAN ... 42
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 42
B. Lokasi Penelitian ... 43
C. Subyek Penelitian ... 43
D. Teknik Pengumpulan Data ... 44
E. Analisis Data ... 49
F. Keabsahan Data ... 51
G. Tahap-tahap Penelitian ... 52
C. PembahasanTemuan ... 70
BAB V PENUTUP ... 78
A. Kesimpulan... 78
B. Saran ... 79
DAFTAR PUSTAKA ... 81 LAMPIRAN
Lampiran 1 Pernyataan Keaslian Tulisan Lampiran 2 Matrik Penelitian
Lampiran 3 Pedoman Penelitian Lampiran 4 Surat Izin Penelitian Lampiran 5 Jurnal Penelitian Lampiran 6 Surat Selesai Penelitian Lampiran 7 Sarana dan Prasarana Lampiran 8 Dokumentasi
Lampiran 9 Jadwal Mata Pelajaran Lampiran 10 Biodata Penulis
4.1 Daftar nama kepala MTs At-Taqwa mulai tahun 2005-2019 ... 60
4.2 Struktur kepengurusan guru MTs At-Taqwa Bondowoso ... 62
4.3 Data Pendidik danTenaga Kependidikan ... 62
4.4 Data siswa MTs At-Taqwa Bondowoso ... 63
4.5 Data hasil temuan ... 78
A. Latar Belakang
Menurut Rifqi Amin Pembelajaran adalah1 proses mental dan emosional, serta berfikir dan merasakan. Seorang pembelajar dikatakan melakukan pembelajaran apabila pikiran dan perasaannya aktif. Dalam pembelajaran peserta didik ditekan punya kesadaran, motivasi, dan kondisi yang memungkinkan untuk terjadinya interaksi antara peserta didik terhadap sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Lebih jauh peserta didik terlatih pada pembiasaan diri untuk pemecahan masalah dan mampu terbiasa pada penggunaan empati beserta logikanya
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia pada Pasal 1 Nomer 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam “Pendidikan al-Quran adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam yang bertujuan untuk memberikan pengajaran bacaan, tulisan, hafalan, dan pemahaman al-Quran”.2 Pembelajaran al-Quran pada hakikatnya adalah mengajarkan al-Quran pada anak yang merupakan suatu proses pengenalan al-Quran tahap pertama dengan tujuan agar siswa mengenal huruf sebagai tanda suara atau tanda bunyi.
Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rosul. Allah SWT mengutus beliau kepada seluruh manusia dan jin.
1 Rifqi Amin, Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum (Yogyakarta: Deepublish, 2014), 35.
2 Peraturan Menteri Agama RI, Pasal 1 No. 13 tahun 2014, tentang Pendidikan Keagamaan Islam.
Beliau memulai tugasnya untuk menuntun umat manusia kepada jalan kebahagiaan, dengan mendakwahi dan memperbaiki kebobrokan total bangsa Arab.3 Negeri tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan. Allah SWT membekali beliau dengan wahyu al-Quran, yang turun secara berangsur- angsur selama 23 tahun.
Al-Quran adalah kalam atau firman Allah SWT, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur melalui Malaikat Jibril di Gua Hiro, yang pembacaannya merupakan suatu ibadah.4 Sebagaimana dalam al-Quran surat Al-Hijr ayat 9 yang menyatakan keaslian al-Quran.
Artinya: Sesungguhnya kami (Allah bersama Jibril yang diperintah-Nya) menurunkan al-Quran, dan kami (yakni Allah dengan keterlibatan manusia) yang memeliharanya.5(QS AL-Hijr:9)
Al-Quran juga merupakan Dalil bagi kenabian Muhammad SAW, sehingga ia dijadikan sebagai tema sentral bagi ilmu kemukjizatan al-Quran.
Al-Quran merupakan wahyu Ilahi, hal itu dapat dibuktikan dengan sifat-sifat dan keistimewaan yang membedakannya degan ucapan manusia.6
Karena al-Quran juga merupakan kalam yang dibaca, maka ia dijadikan sebagai sumber bagi ilmu qira’ah, yaitu ilmu yang membahas tentang huruf-
3 Abu Ammar & Abu Fatiah Al-Adnani, Negeri-negeri Penghafal Al-Quran (Solo: Al-Wafi, 2015), 3.
4 Rusyidie Anwar, Pengantar Ulumul Qur’an dan Ulumul Hadits(Yogyakarta: IRCiSoD, 2015), 23.
5 Al-Quran dan Terjemahnya, QS Al-Hijr : 9
6 Muhammad Baqir Hakim, Ulumul Quran (Jakarata: Al-Huda, 2012),8.
huruf dan harakat-harakat yang terdapat dalam kalimat al-Quran, serta cara- cara membaca yang benar. Dan masih banyak lagi ilmu lain yang memiliki keterkaitan dengan al-Quran. 7
Menurut Zakiah Daradjat dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam.8 Dalam al-Quran terdapat banyak ajaran yang berisi prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan. Oleh karena itu pendidikan Islam harus menggunakan al-Quran sebagai sumber utama dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam. Dengan kata lain, pendidikan Islam harus berlandasan ayat-ayat al-Quran yang penafsirannya dapat dilakukan kecerdasan ijtihad disesuaikan dengan perubahan dan pembaharuan.
Tiada bacaan seperti al-Quran yang diatur tata cara membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus bacaannya, dimana tempat yang terlarang atau boleh, atau harus memulai dan berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya.9
Pengajaran membaca al-Quran tidak dapat disamakan dengan pengajaran membaca dan menulis. Karena dalam pengajaran al-Quran, anak- anak belajar huruf dan kata-kata yang tidak mereka pahami artinya, yang paling penting dalam pembelajaran membaca al-Quran adalah keterampilan membaca al-Quran dengan baik sesuai dengan kaidah yang disusun dalam ilmu tajwid.
7 Ibid.,9.
8 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam(Jakarta: PT Bumi Aksara. 2016), 20.
9 Quraish Shihab, wawasan al-Quran (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2013),4.
Sebagai kitab suci umat Islam, maka harus mampu membaca, mempelajari dan mengamalkannya. Sebelum mengamalkan isi dari al-Quran tersebut, maka harus mampu membacanya sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.
Dalam hal ini pembelajaran ilmu tajwid (keterampilan membaca al- Quran) adalah kegiatan yang penting untuk dapat memahami al-Quran. Oleh karena itu, sangatlah rasional apabila al-Quran mendapat porsi yang besar untuk dijadikan bahan pengajaran di setiap jenjang pendidikan bagi umat Islam di Indonesia. Allah telah menjelaskan di dalam al-Quran pada surah Muzzammil ayat 4 yaitu:
Artinya :”Atau lebih seperdua itu. Dan bacalah al-Quran itu dengan tartil”.10 Di dalam buku Pengantar Ulumul Quran oleh Rusyidie Anwar.11 Kita dianjurkan untuk membaca al-Quran secara perlahan yang maksudnya kita dianjurkan untuk membaca al-Quran dengan baik dan benar. Agar dapat membaca al-Quran dengan baik dan benar maka kita harus menguasai ilmu tajwid. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran ilmu tajwid dengan baik dan benar merupakan bagian yang penting bagi peserta didik untuk bisa membaca al-Quran dengan baik dan benar, dengan perkataan lain memahami ilmu tajwid dengan baik, seharusnya merupakan materi untuk masuk dalam ruang lingkup mempelajari al-Quran.
Tajwid adalah mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya, dengan memberikan setiap hak-hak dan apa yang patut bagi huruf tersebut.
10 Al-Quran dan Terjemahnya, QS Muzammil : 4.
11 Rusyidie Anwar, Pengantar Ulumul, 26.
Tajwid juga bisa disebut dengan pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca al-Quran dengan sebaik-baiknya. Tajwid penting dipelajari karena dapat memelihara bacaan al-Quran dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca. Mempelajari ilmu tajwid hukumnya Fardlu Kifayah, sedangkan membaca al-Quran dengan baik (sesuai dengan ilmu tajwid) hukumnya Fardlu ‘Ain bagi setiap pembaca al-Quran (qari’) dari umat Islam.
Adapun keutamaan ilmu tajwid dapat dijelaskan sebagai berikut:
“sesungguhnya (ilmu tajwid) adalah ilmu yang paling utama dan paling mulia, berkaitan dengan kitab yang paling mulia pula(Al-Qur’an), sedangkan menggunakan ilmu tajwid adalah wajib hukumnya bagi setiap pembaca al- Quran, maka barang siapa membaca al-Quran tanpa tajwid adalah berdosa, karena bahwasanya Allah menurunkan al-Quran dengan tajwid".12
Salah satu lembaga Madrasah yang memberi porsi besar dalam pembelajaran ilmu tajwid di daerah Bondowoso adalah Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso, Pembelajaran ilmu tajwid adalah sebuah ilmu yang ada di dalam pembelajaran al-Quran, yang mana pembelajaran al- Quran merupakan kegiatan pembelajaran yang dibentuk ekstrakuriler wajib diikuti bagi seluruh siswa Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso, yang dalam pembelajarannya lebih menekankan dalam penguasaan materi ilmu tajwid.
12 Rois Mahfud, Pelajaran Ilmu Tajwid (Depok: PT Raja Grefindo, 2017), 4.
Dalam membaca al-Quran ilmu tajwid menjadi hal yang wajib untuk dipelajari, seiring dengan berjalannya waktu juga atas dukungan dan saran dari wali murid agar Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa menerapkan pembelajaran ilmu tajwidnya menggunakan kitab-kitab layaknya di pondok pesantren, atas hal tersebut Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso memakai kitab Hidayatus Sibyan sebagai rujukan untuk mempelajari ilmu tajwid. Dengan mempelajari ilmu tajwid menggunakan kitab Hidayatus Sibyan yang disertai dengan dalil/nadhom tajwid, diharapkan dapat memudahkan siswa untuk lebih memahaminya, yang pembelajarannya menyenangkan dan siswa tidak merasa bosan di kelas.
Tujuan pertama dari lembaga Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa adalah siswa mampu membaca al-Quran dengan baik dan benar. Hal tersebut dapat dibuktikan dari pengakuan orang tua siswa dan bahkan sudah diakui oleh masyarakat bahwa siswa lulusan dari Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa mampu menguasai bacaan al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Hal tersebut menjadi salah satu hal yang menarik dari Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso, yang merupakan suatu lembaga yang mengadakan kegiatan ekstrakurikuler al-Quran khususnya untuk mendalami ilmu tajwid menggunakan kitab Hidayatus Sibyan yang mudah dipahami oleh siswa. Oleh karena itu peneliti mengangkat judul “PENERAPAN PEMBELAJARAN ILMU TAJWID
MELALUI KITAB HIDAYATUS SIBYAN DI Madrasah Tsanawiyah AT- TAQWA BONDOWOSO TAHUN 2019”
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian diatas, maka fokus penelitian dalam penelitian ini diantaranya:
1. Bagaimana penggunaan metode pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019?
2. Apa saja media pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019?
3. Bagaimana penilaian pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.13 Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan metode pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019.
13 Tim penyusun, Pedoman Penelitian Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember Press, 2018), 45.
2. Mendeskripsikan media pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019.
3. Mendeskripsikan penilaian pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019.
D. Manfaat Penelitain
Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian.14 Penelitian ini memiliki manfaat baik secara teoritis maupun manfaat praktis, sebagai berikut ini:
1. Manfaat teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan bagi pembaca maupun penulis serta menambah kemampuan siswa dalam memahami kitab sehingga dapat mempraktikannya ketika membaca al-Quran sesuai dengan yang dijelaskan dalam kitab Hidayatus Sibyan.
2. Manfaat praktis a. Bagi peneliti
Penelitian ini dapat diharapkan menambah wawasan yang lebih luas bagi peneliti serta menjadi acuan bagi peneliti-peneliti terkait pembelajaran ilmu tajwid melalui Kitab Hidayatus Sibyan.
14 Ibid.,45.
b. Bagi lembaga yang di teliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif dan tentunya akan menjadi evaluasi terhadap pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso.
c. Bagi lembaga IAIN Jember
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi tambahan dari karya ilmiah yang ada bagi penelitian yang akan dilakukan dimasa yang akan mendatang. Khususnya bagi progam studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
d. Bagi masyarakat
Hasil dari penelitian ini, nantinya diharapkan menjadi salah satu bahan informasi yang dapat menambah wawasan masyarakat luas mengenai pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan sehingga masyarakat akan lebih mengetahui bahwa pemahaman ilmu tajwid penting untuk dipelajari dari usia anak-anak sehingga bacaan al-Qurannya akan baik dan benar.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti didalam judul penelitian, tujuannya agar tidak terjadi kesalah pahaman makna istilah sebagaimana yang dimaksud oleh peneliti.
1. Pembelajaran Ilmu Tajwid
Pembelajaran ilmu tajwid di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso adalah salah satu kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler yang wajib diikuti bagi semua peserta didik di Madrasah Tsanawiyah At- Taqwa Bondowoso. Pembelajaran ilmu tajwid dilaksanakan di pagi hari pada jam 06.30 - 07.30 WIB, pada saat pembelajaran dimulai kegiatan pertama yang dilakukan adalah membaca nadhom kitab Hidayatus Sibyan bersama-sama lalu membaca al-Quran dengan tartil dan dilanjutkan sima’an al-Quran yaitu satu persatu siswa membaca al-Quran secara bergantian kemudian guru menanyakan hukum bacaan yang terdapat pada ayat yang dibaca yang disertai dengan nadhom hukum bacaannya.
Disamping guru menanyakan hukum-hukum bacaan kepada siswa, guru juga menjelaskan materi yang terkait dengan metode ceramah, dan kegiatan penutup pada pembelajaran ilmu tajwid di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso ialah dengan membaca al-Quran dengan tartil kembali.
Selain melakukan penilaian dengan tes lisan dan unjuk kerja, dilakukan pula munaqhosah atau tes uji publik yang dilaksanakan setiap tahunnya sebagai tanggung jawab siswa terhadap guru dan orang tua.
2. Kitab Hidayatus Sibyan
Kitab Hidayatus Sibyan adalah kitab yang menerangkan tentang hukum-hukum tajwid, yang mana disetiap hukum-hukum tajwid dijelaskan berdasarkan dalil/nadhomnya.
F. Sistematika Pembahasan
Sitematika penulisan untuk memberikan gambaran secara global tentang isi dari suatu bab ke bab yang lain yang dijadikan sebagai rujukan sehingga akan lebih mudah untuk menanggapi isinya.
Bab I berisi pendahuluan yang merupakan gambaran umum mengenai penelitian yang dilakukan. Dalam bab ini dijabarkan menjadi beberapa bagian dengan penjelasan, seperti: latar belakang masalah yang berisi uraian singkat tentang dilakukannya penelitian ini serta alasan pemilihan judul. Bab ini juga berisi tentang fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, dan juga sistematika pembahasan.
Bab II Kajian kepustakaan yang terdiri dari kajian terdahulu yang memuat penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dan kajian teori yang digunakan sebagai prespektif oleh peneliti. Bab ini berfungsi untuk landasan teori pada bab berikutnya guna menganalisis data yang diperoleh.
Bab III Penyajian metode penelitian yang digunakan oleh peneliti. Di dalamnya berisi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, dan terakhir adalah tahap-tahap penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti.
Bab IV Penyajian data dan analisis data yag diperoleh dalam pelaksanaan penelitian yang terdiri dari gambaran obyek penelitian, penyajian data, serta diakhiri dengan pembahasan temuan yang diperoleh di lokasi penelitian.
Bab V Berisi tentang kesimpulan, saran-saran, daftar pustaka, dan lampiran-lampiran.
A. Kajian Terdahulu
Pada bagian ini, peneliti mencantumkan berbagai macam hasil penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik peneliti yang sudah terpublikasikan atau belum terpublikasikan, (skripsi, tesis, desertasi dan sebagainya). Langkah ini dapat dilihat sampai sejauh mana orisinialitas dan posisi penelitian yang hendak dilakukan.15
Berikut ini beberapa penelitian terdahulu ang digunakan sebagai perbandingan yaitu antara lain:
1. Munawwaroh (2011) skripsi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
Dalam skripsinya yang berjudul “Urgensi Pembelajaran Tajwid Dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Mata Pelajaran Al-Quran Hadits Siswa Kelas III Di Mmadrasah Ibtidaiyah Kaliwining Rambipuji Jember Tahun 2010/2011”16. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, jenis penelitiannya menggunakan fild reaserch teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan metode observasi, interview, dokumentasi. Fokus masalah yang diteliti di skripsi ini adalah 1) bagaimana materi pembelajaran tajwid dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Mata Pelajaran Al- Quran Hadits Siswa Kelas III di Mmadrasah Ibtidaiyah Kaliwining
15 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 45.
16 Munawwaroh, “Urgensi Pembelajaran Tajwid Dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Mata Pelajaran Al-Quran Hadits Siswa Kelas Iii Di Mmadrasah Ibtidaiyah Kaliwining Rambipuji Jember Tahun 2010/2011”. IAIN Jember:2011.
Rambipuji Jember Tahun 2010/2011? 2) bagaimana metode pembelajaran tajwid dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Mata Pelajaran Al-Quran Hadits Siswa Kelas III di Mmadrasah Ibtidaiyah Kaliwining Rambipuji Jember Tahun 2010/2011? 3) bagaimana media pembelajaran tajwid dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Mata Pelajaran Al-Quran Hadits Siswa Kelas III di Mmadrasah Ibtidaiyah Kaliwining Rambipuji Jember Tahun 2010/2011?. Hasil penelitian ini adalah kemampuan membaca dan menulis al-Quran dan Hadis siswa kelas III MI Kaliwining meliputi makharijul huruf, tajwid, menulis huruf hijaiyah yaitu diterapkan melalui latihan dan pemberian tugas kepada siswa.
2. Muzainatun (2015) skripsi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
Dalam skripsinya yang berjudul “Upaya Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam Memahami Tajwid Di Madrasah Diniyah Darus Salam Wringin Bondowoso Tahun Pelajaran 2015/2016”.17
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, jenis penelitiannya menggunakan fild reaserch teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi, keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Focus masalah penelitian ini adalah 1) bagaimana perencanaan yang dilakukan guru dalam meningkatkan Kemampuan Peserta Didik dalam Memahami
17 Muzainatun, “Upaya Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam Memahami Tajwid Di Madrasah Diniyah Darus Salam Wringin Bondowoso Tahun Pelajaran 2015/2016”.
IAIN Jember:2015.
Tajwid di Madrasah Diniyah Darus Salam Wringin Bondowoso tahun Pelajaran 2015/2016? 2) bagaimana pelaksanaan yang dilakukan guru dalam meningkatkan Kemampuan Peserta Didik dalam Memahami Tajwid di Madrasah Diniyah Darus Salam Wringin Bondowoso tahun Pelajaran 2015/2016? 3) bagaimana pelaksanaan yang dilakukan guru dalam meningkatkan Kemampuan Peserta Didik dalam Memahami Tajwid di Madrasah Diniyah Darus Salam Wringin Bondowoso tahun Pelajaran 2015/2016?. Hasil penelitian ini adalah upaya guru dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami tajwid yaitu dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
3. Saikhul Mujab (2016/2017) skripsi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Dalam skripsinya yang Berjudul “Implementasi Pembelajaran Tajwid Menggunakan Kitab Risalatul Qurro’wal Huffadh Di Pondok Pesantren Tahfidh Putra Al-Ghurobaa’
Tumpangkrasak Jati Kudus Tahun 2016/2017”.18
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan jenis penelitiannya menggunakan fild reaserch, pengumpulan data menggunakan pedoman observasi, wawancara dan dokumentasi, subjek penelitian dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik serta analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan (verification).
18 Saikhul Mujab,” Implementasi Pembelajaran Tajwid Menggunakan Kitab Risalatul Qurro’wal Huffadh di pondok pesantren Tahfidh Putra Al-Ghurobaa’ Tumpangkrasak Jati Kudus Tahun 2016/2017”. STAIN Kudus:2017.
Hasil dari penelitian ini melalui observasi 1) Bacaan santri di PP Tahfidh Putra Al Ghurobaa’ ketika tartilan sudah sesuai dengan ilmu tajwid dan ghorib. 2) kemampua membaca santri mengenai bacaan ghorib saat tartilan sudah cukup baik.
Tabel 2.1
Persamaan dan Perbedaan Penelitian
No Nama, Judul, Tahun Persamaan Perbedaan
1 2 3 4
1 Munawwaroh,
“Urgensi Pembelajaran Tajwid Dalam
Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Mata Pelajaran Al-Quran Hadits Siswa Kelas III Di Madrasah Ibtidaiyah Kaliwining Rambipuji Jember Tahun 2010/2011”.
IAIN Jember:2011.
a. penelitian tentang pembelajaran tajwid.
b. Menggunakan pendekatan kualitatif.
c. Teknik pengumpulan data: observasi, wawancara, dokumentasi.
Penelitian ini fokus pada pembelajaran tajwid dalam meningkatkan kemampuan baca tulis al-Quran Hadits. Sedangkan peneliti fokus pada pembelajaran tajwid melalui kitab
Hidayatus Sibyan.
2 Muzainatun, “Upaya Guru Dalam
Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam
Memahami Tajwid Di Madrasah Diniyah Darus Salam Wringin Bondowoso Tahun Pelajaran 2015/2016”.
IAIN Jember:2015.
a. Sama-sama membahas tentang ilmu tajwid.
b. Pengumpulan data sama-sama menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi.
c. Menggunakan penelitian kualitatif.
Penelitian ini fokus dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dalam
memahami tajwid.
Sedangkan peneliti fokus pada
pembelajaran tajwid melalui kitab
Hidayatus Sibyan.
3 Saikhul Mujab,”
Implementasi
Pembelajaran Tajwid Menggunakan Kitab Risalatul Qurro’wal Huffadh di pondok pesantren Tahfidh
a. Sama-sama meningkatkan pembelajaran tajwid.
b. Pengumpulan data sama-sama
a. Penelitian terdahulu menggunakan kitab Kitab Risalatul Qurro’wal Huffadh di pondok pesantren Tahfidh Putra Al-
Putra Al-Ghurobaa’
Tumpangkrasak Jati Kudus Tahun 2016/2017”. STAIN Kudus:2017.
menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi.
c. Menggunakan penelitian kualitatif.
Ghurobaa’
Tumpangkrasak Jati Kudus Tahun 2016/2017.
b. Penelitian sekarang menggunakan kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah
Tsanawiyah At- Taqwa Bondowoso tahun 2019.
B. Kajian Teori
1. Pembelajaran Ilmu Tajwid
Teori pembelajaran menurut Sugiyono dan Hariyanto didefinisikan sebagai sebuah kegiataan guru mengajar atau membimbing siswa menuju proses pendewasaan diri. Pengertian tersebut menekankan pada proses mendewasakan yang artinya mengajar dalam bentuk menyampaikan materi (transfer of knowledge), tetapi lebih pada bagaimana menyampaikan dan mengambil nilai-nilai (transfer of vulue) dari materi yang diajarkan agar dengan bimbingan pendidik bermanfaat untuk mendewasakan siswa.19
Sedangkan menurut Degeng Pembelajaran adalah proses membelajarkan orang, yakni upaya untuk membelajarkan siswa.20 Pendidik berusaha membantu agar orang yang belajar lebih terarah, lebih lancar, lebih mudah dan lebih berhasil. Definisi pembelajaran tersebut memiliki makna bahwa dalam pembelajaran ada kegiatan memilih,
19 Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, Psikologi Pendidikan:Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran (Jokjakarta: Ar-Ruzz Media: 2014), 180.
20 http://www.google.com.digilib.unila.ac.id/15819/3 (10 Oktober 2019).
menetapkan, dan mengembangkan metode/strategi yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Bahkan kegiatan-kegiatan inilah yang sebenarnya merupakan kegiatan inti pembelajaran.
Ada beberapa teori pembelajaran dalam dunia pembelajaran diantaranya, yaitu:21
a. Teori Behaviorisme
Teori Behaviorisme adalah pembelajaran sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus dan respon atau teori belajar yang lebih mengutamakan pada perubahan tingkah laku siswa sebagai akibat adanya stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya yang bertujuan merubah tingkah laku dengan cara interaksi antara stimulus dan respon, yang dikembangkan oleh beberapa tokoh seperti, Ivan Pavlov, Edward Lee Throndike, Guthrie, Burrhus Frederic Skinner dan Hull.
b. Teori Kognitivisme
Dalam pandangan kognitivisme, belajar merupakan transformasi informasi atau ilmu pengetahuan yang ada di lingkungan kemudian disimpan dalam pikiran. Belajar terjadi ketika pengetahuan baru diperoleh atau pengetahuan yang sudah ada diubah oleh pengalaman-pengalaman.
21 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2015), 84.
c. Teori Konstruktivisme
Belajar menurut teori Konstruktivisme adalah membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong- konyong. Pengetahua bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep- konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil atau diinget.
Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan member makna melalui pengalaman nyata.
d. Teori Humanisme
Teori belajar Humanisme yaitu proses memanusiakan manusia, dimana seorang individu diharapkan dapat mengaktualisasikan diri artinya manusia dapat menggali kemampuannya sendiri untuk diterapkan dalam lingkungan.
Proses belajar humanism memusatkan perhatian pada diri peserta didik sehingga menitikberatkan kepada kebebasan individu.
Menurut analisis peneliti proses pembelajaran ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019 sesuai dengan teori Behaviorisme, yang mana dalam teori behaviorisme lebih mengutamakan adanya stimulus dan repon dan sesuai dalam pembelajaran ilmu tajwid di kegiatan baca sima’ al-Quran yaitu
guru memberikan pertanyaan kepada siswa lalu siswa menjawab pertanyaan tersebut.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Ilmu merupakan pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tersebut.22 Menurut Ashley Montagu, menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
Sedangkan tadwid sendiri Menurut arti secara bahasa berasal dari kata jawadda, yujawidu, tajwidan yang artinya adalah memperelokan atau memperindah bacaan. Sedangkan menurut istilah, suatu ilmu pengetahuan tentang tata cara membaca al-Quran dengan baik dan tertib sesuai makhrajnya, panjang pendeknya, tebal tipisnya, berdengung atau tidaknya, irama dan nadanya, serta titik komanya yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat sehingga menyebar luas dari masa ke masa.23
Tujuan mempelajari ilmu tajwid adalah memelihara bacaan al-Quran dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca. Hal yang paling penting dipelajari dalam ilmu tajwid
22 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
23 Tombak Alam, ILMU TAJWID (Jakarta: AMZAH, 2018),1.
adalah huruf-huruf hijaiyah, dalam bermacam-macam harakah (barisnya) serta dalam bermacam-macam hubungan.24
Mempelajari ilmu tajwid hukumnya Fardhu Kifayah, sedangkan membaca al-Quran dengan baik sesuai dengan ilmu tajwid hukumny Fardhu ‘Ain. Dengan demikian ketepatan pada tajwid dapat diukur dengan betul dan tidaknya pelafalan huruf-huruf al-Quran, yang berkaitan dengan tempat berhenti, panjang pendeknya bacaan huruf, dan lain sebagainya.25
Pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat belum terdapat nama- nama dalam ilmu tajwid, sebagaimana pulanama dalam ilmu nahwu, ilmu sharraf, ilmu manthiq, ilmu balaghoh, ilmu tauhid dan lain sebagainya.
Berbagai macam ilmu tersebut berasal dari ijtihad tabi’in dan tabi’ tabi’in.
Alasan ulama mengenai wajibnya mempelajari ilmu tajwid adalah sebagai berikut.26
a. Ulama ushul fiqih menetapkan hukum wajib karena Allah Ta’alaa yaitu apabila mengerjakannya mengerjakannya mendapatkan pahala dan berdosa jika meninggalkannya.
b. Dalam kaidah ushul fiqih menyebutkan bahwa membaca al-Quran tanpa ilmu tajwid akan merubah makna kata dalam al-Quran dan menimbulkan kesalahan yang fatal. Misalnya: kesalahan membaca sin
24 Sayuti Ilmu Tajwid Lengkap (Team Redaksi Penerbit: Sangkala),7.
25 Ibid,7.
26 Tombak Alam, Ilmu,2.
pendek
ُ ةَعّسلا
yang bermakna kemampuan, kemudia terbaca panjangterdengar menjadi
ُ ةَعاّسلا
bermakna kiamat.c. Imam Al-Jazariy juga berpendapat bahwa membaca al-Quran dengan ilmu tajwid adalah wajib sebagaimana diungkapkan dalam syairnya:
ُِءلااُِهِبُ هّنَِلاٌُُُُمِزَلاٌُمْتَحُِدْيِوْجَّتلاِبُ ذْخَلااَو
َُلااَزْ نَاُ هَل
ُ لَصَوُاَنْ يَلِاُ هْنِمُاَذَكَهَوٌُُُُِثَِاَُناْرقلاُِدَّوَ يَُُْلَُْن َُم
Pelajarilah ilmu tajwid karena begitulah Tuhan Kewajiban yang pasti menurut kepada Nabi
Membaca al-Quran tanpa tajwid begitu benarlah Nabi
Itu dosa dan keji menyampaikan kepada Nabi
Dengan demikian, sangat penting mempelajari ilmu tajwid, seseorang yang membaca al-Quran tanpa tajwid sama seperti orang bisu berbicara, orang sumbing bersiul ataupun ibarat sayur tanpa garam.
Dalam pembelajaran ilmu tajwid, seseorang harus pula mengetahui dimana dan bagaimana cara melafalkan huruf-huruf hijaiyah di dalam mulut, yang disebut dengan Makharijul Huruf.
Secara bahasa makharij adalah jamak dari kata makhraj yang berarti tempat keluarnya sesuatu. Secara istilah adalah tempat keluarnya huruf yang padanya berhenti suara dari sebuah lafal (pengucapan) yang
dengannya dibedakan suatu huruf dengan huruf lainnya.27 yaitu Ijmaliy yang artinya ringkas atau global. Dibagi menjadi lima macam yaitu:
tenggorokan (Hulqum)
ح - خ - ع - غ - ه - ء
, dua bibir (Syafatai)ُم - ب - و - ف
, lidah (Lisan)
ُ - ق – ُظ ُ - ط – ُض ُ – ُصُش ُ - س ُ - ُز - ُر - ُذ - ُد - ج ُ - ُث ُ - ت ُ ك
-
ُل -
ُ
ُ ن -
ي
, Pangkal hidung (Khaisyum)ُن – ُ م
, dan ronggatenggorokan (Jauf)
ُُ أ – ُُِإ – َُأ
.28Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran ilmu tajwid di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso tahun 2019 ialah pembelajaran dimana guru mengajarkan bagaimana siswa dapat mengetahui apa saja hukum bacaan ilmu tajwid dan juga mengetahui bagaimana cara melafalkan huruf demi huruf hijaiyah dengan baik dan benar sehingga siswa mampu membaca al-Quran dengan baik dan benar.
a. Metode
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran kepada peserta didik. Karena penyampaian itu berlangsung dalam interaksi edukatif, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan antara siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran.29
27 Rohmatullah dan Megah Tinambun, Praktis & Mmudah Kuasai Tajwid, (Yyogyakarta:Checlist,2019),11.
28 Tombak Alam, Ilmu Tajwid,6.
29 Hamdani, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: CV PustakaSetia, 2011), 77.
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan tertentu.30 Kemampuan metodologik merupakan kemampuan guru dalam memahami, menguasai, dan kemampuan melaksanakan sejumlah metode mengajar, sehingga proses pembelajaran dapat dikembangkan dengan baik, efektif, efisien, dan penuh makna, serta tujuan dapat dicapai.
Metode dapat disebut baik manakala sesuai dengan karakteristik siswa, sesuai dengan tujuan dan kompetensi yang ingin dicapai, dan sesuai dengan sifat materi yang akan dikemangkan dalam pembelajaran.
Selain itu dalam mengembangkan suatu proses pembelajaran sangat tidak mengkin hanya mengunakan satu metode, melainkan guru mengunakan multimetode dalam upaya membelajarkan dan mencapai tujuan yang diinginkan.31
Saiful Bahri menyampaikan dalam buku yang berjudul strategi pembelajaran bahwa dalam pelaksanaanya metode pembelajaran itu tidak selayaknya digunakan sendiri-sendiri, tetapi merupakan kombinasi antara beberapa metode mengajar, karena setiap metode tentunya mempunyai kekurangan dan membutuhkan metode lain untuk melengkapinya agar murid menjadi lebih mudah memahami bahan yang
30Hamzah, Model Pembelajaran, (jakarta: bumi aksara, 2015), 2
31Didi Supriadie dan Deni Darmawan, Komunikasi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), 135ز
disampaikan.32 Dan metode pembelajaran menurut Djamarah dalam teorinya juga menjelaskan bahwa metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru agar penggunanya bervariasi sesuai yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.33
Trianto menjelaskan perencanaan merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh pendidik tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Untuk itu, guru harus bijaksana dalam menentukan model, atau strategi yang sesuai, yang dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas menjadi kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan.34
Maka metode pembelajarannya pun mutlak perlu diperhatikan, sebab pembelajaran mesti disajikan dengan cara yang tepat agar tercapai tujuan pelajaran. Menurut Zamakhsyari Dhofier dan Nurcholish Madjid, metode pembelajaran Kitab Kuning di pesantren meliputi; metode sorogan, dan bandongan. Sedangkan Husein Muhammad menambahkan bahwa selain metode metode wetonan atau bandongan, dan metode sorogan, diterapkan juga metode diskusi (munazharah), metode evaluasi, dan metode hafalan.35
32Syaiful Bahri, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015). 98.
33 Muhammad Afandi, Evi Chamalah dan Oktarina Puspita Wardani, Model dan Metode Pembelajaran di Sekolah, (Semarang: UNISSULA PRESS, 2013), 16.
34Trianto Ibnu Badar, Mendesain pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2012)11.
35Ali Akbar, Metode Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang, (Riau, jurnal UIN SultanSyarif Kasim Riau),22.
1) Metode hafalan
Metode hafalan adalah metode pengajaran dengan mengharuskan santri membaca dan menghafalkan teks-teks kitab yang berbahasa arab secara individual, biasanya digunakan untuk teks kitab nadhom, seperti aqidat al-awam, awamil, imriti, alfiyah dan lain-lain. Dan untuk memahami maksud dari kitab itu guru menjelaskan arti kata demi kata dan baru dijelaskan maksud dari bait-bait dalam kitab nadhom. Dan untuk hafalan, biasanya digunakan istilah setor, yang mana ditentukan jumlahnya, bahkan kadang lama waktunya.
Metode hafalan adalah salah satu metode tradisional yang digunakan untuk belajar kitab kuning di pondok pesantren, teknisnya, dalam metode ini peserta didik menghafal teks atau bait bait nadhom yang terdapat dalam suatu kitab, kemudian disetorkan kepada ustadz secara periodik atau insidental tergantung petunjuk ustadznya tersebut.36
2) Metode wetonan
Wetonan adalah metode yang dilakukan dengan cara kyai/guru membaca teks-teks kitab yang berbahasa Arab, menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal, dan sekaligus menjelaskan maksud yang terkandung dalam kitab tersebut. Metode ini dilakukan dalam ranka memenuhi kompetensi kognitif santri dan memperluas referensi bagi
36Maksum, pola pembelajaran di pesantren (Jakarta: Dipekapotren Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, 2003), 100.
mereka. Memang dalam metode bandhongan, hampir tidak pernah terjadi diskusi antara kiai dan santri, tetapi metode ini tidak berdiri sendiri, melainkan diimbangi dengan metode lain yang mana para santri lebih aktif37
3) Metode sorogan
Metode pembelajaran dengan pola sorogan dilaksanakan dengan jalan santri membaca dihadapan kiyai, Dan kalau ada salahnya kesalahan itu langsung dihadapi kiai. Di pesantren besar, sorogan dilakukan oleh dua atau tiga santri yang biasa terdiri dari keluarga kiyai atau santri-santri yang diharapkan kemudian hari menjadi orang alim. Dalam metode ini santri yang pandai mengajukan sebuah kitab ke kiyai untuk dibaca dihapan kiyai.38
Metode ini, adalah metode pengajaran dengan sistem individual, prosesnya adalah santri dan biasanya yang sudah pandai, menyodorkan sebuah kitab kepada kiai untuk dibaca di depan kiai, dan kalau ada salahnya, kesalahan itu langsung dibetulkan oleh kiai.
Di pondok pesantren, metode ini dilakukan hanya oleh beberapa santri saja, yang biasanya terdiri dari keluarga kiai atau santri-santri tertentu yang sudah dekat dengan kiai atau yang sudah dianggap pandai oleh kiai dan diharapkan di kemudian hari menjadi orang alim.
37M.Dian Nafi’, Prakstis Pembelajaran pesantren, (Yokyakarta: PT.LKIS Pelangi Aksara, 2007), 49.
38Anin Nurhayati, Inovasi Kurikulum “Telaah Terhadap Pengembangan Kurikulum Pendidikan Pesantren”, (Yokyakarta: Teras, 2010),55.
Dari segi teori pendidikan, metode ini sebenarnya metode modern, karena kalau dipahami prosesnya, ada beberapa kelebihan di antaranya, antara kiyai-santri saling kenal mengenal, kiyai memperhatikan perkembangan belajar santri, dan santri juga berusaha untuk belajar aktif dan selalu mempersiapkan diri. Di samping kiyai mengetahui materi dan metode yang sesuai untuk santrinya. Dalam belajar dengan metode ini tidak ada unsur paksaan, karena timbul dari kebutuhan santri sendiri.
Selain menggunakan metode-metode tersebut guru Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso dalam penerapan ilmu tajwid melalui kitab Hidayatus Sibyan juga menggunakan metode-metode modern yang mana tujuannya agar mudah dipahami oleh siswa.
4) Metode ceramah
Metode ceramah merupakan cara mengajar yang sangat tradisional dan telah lama dijalankan didalam sejarah dunia pendidikan terutama pendidikan Islam, waktu zaman Nabi Muhammad metode ini sudah ada yakni dengan cara mengajar dengan cara berceramah.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswani Zain dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar mengatakan”metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode yang tradisional, sejak zaman dahulu metode ini telah pergunakan sebagai alat komunikasi secara lisan antara guru dengan peserta didik dalam prosess belajar
mengajar, tetapi metode ini tidak dapat ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan belajar mengajar”.39
Metode ceramah adalah suatu metode di dalam pendidikan dimana cara penyampaian materi-materi pelajaran kepada anak didik dilakukan dengan cara penerangan dan penuturan secara lisan.
Dalam metode ini peranan ustadz lebih dominan sehingga siswa lebih banyak pasif dan menerima apa yang disampaikan oleh ustadz.
5) Metode demonstrasi
Metode pembelajaran demontrasi adalah metode pembelajaran dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan atau urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.40
Metode pembelajaran demontrasi adalah metode pembelajaran yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Demonstrasi merupakan praktek yang di peragakan kepada peserta didik karena itu demontrasi dapat dibagi menjadi duat ujuan, yaitu: demontrasi proses yang digunakan untuk memahami langkah demi langkah dan demontrasi hasil untuk memperlihatkan atau memperagakan hasil dari suatu proses.
6) Metode bernyanyi
39Syaiful Bahri Djamarah, Anwari Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta,2006),90.
40Ali Mudhofir, Desain Pembelajaran Inovatif, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2017 ), 108
Metode Bernyanyi merupakan metode pembelajaran yang mengunakan syair-syair tersebut disesuaikan dengan materi-materi yang akan diajarkan oleh pendidik. Menurut beberapa ahli, bernyanyi membuat suasana belajar menjadi riang dan bergairah sehingga perkembangan anak dapat distimulasi secaralebih optimal.41
Berdasarkan uraian diatas bahwa di lembaga Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso dalam menerapkan metode pembelajaran dengan menggunakan metode klasik yaitu metode hafalan dan metode modern ceramah dan bernyanyi syair yang terdapat di kitab nadhom Hidayatus Sibyan.
b. Media
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa arab media adalah perantara (لئ اسو) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Dalam teori Gerlach & Ely mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media.42
Media pembelajaran merupakan alat yang dapat digunakan dalam penyampaian pesan-pesan penting dalam pendidikan. Media
41Muhammad Fadillah, Desain Pembelajaran PAUD, (Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012),175.
42 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2013), 3.
pembelajaran tentu akan selalu mengalami perkembangan menuju arah yang lebih baik, sejalan dengan meningkatnya kreatifitas dan karya yang selalu diciptakan manusia. Sedangkan menurut Seels dan Richey dala teorinya menjelaskan bahwa sumber belajar adalah segala sumber pendukung untuk kegiatan belajar, termasuk sistem pendukung dan materi serta lingkungan pembelajaran. Sumber belajar bukan hanya alat dan materi yang dipergunakan dalam pembelajaran, tetapi juga meliputi anggaran dan fasilitas. Sumber belajar bisa termasuk apa saja yang tersedia untuk membantu seseorang belajar.43
Dapat disimpulkan bahwa media dan sumber belajar adalah dua hal yang mempunyai sedikit persamaan dalam sebuah definisi, akan tetapi ada hal yang membedakan dalam dua hal tersebut yaitu, media adalah alat atau bahan yang dipakai oleh guru dalam menyampaikan sebuah materi pelajaran, sedangkan sumber belajar lebih tertuju pada segala sesuatu yang disampaikan oleh guru kepada siswa.
Ada beberapa macam media yang biasanya dipakai dalam proses pembelajaran. Diantaranya:
1) Media Audio
Media audio seperti radio, handphone dan semacamnya. Media ini dapat digunakan dalam pembelajaran, misalkan yang pernah terjadi pada tahun 1940-an sampai tahun 1990-an, beberapa radio di Nusantara masih kerap memutar sandiwara Brama Kumbara, tutur
43 https://www.google.com/search/jurnal.teori.sumber.belajar.chrome. Supardi, Pemanfaatan Sumber Belajar dalam Proses Pembelajaran,(FTIK: UIN Ar-Raniry Banda Aceh,2015),129.
tinular dan semacamnya. Namun hari ini, pemutaran Nusantara tersebut telah banyak diambil alih oleh media televisi.
Media audio, merupakan salah satu alat atau media pembelajaran yang dapat sering kita jumpai di sekolah-sekolah atau bahkan perguruan tinggi yang telah menerapkan pembelajaraan berbasis IT (Informasi dan Teknologi). Misalkan di SMA 2 Arjasa Jember, SMA 1 Jember, STAIN Jember dan beberapa Perguruan Tinggi lainnya.44
2) Media Visual
Media Visual dalam perkembangan teknologi mutakhir, lebih banyak menyedot perhatian daripada media audio. Sebab, media visual dapat “menyambung” antara penonton dengan yang ditonton.
Bahkan yang menonton dapa melihat secara jelas dan gamblang mengenai sesuatu, fenomina, sosok atau apapun yang sedang diliput oleh media visual, media berbentuk gambar, model, benda/alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata. Seperti tayangan tentang demonstrasi, pidato presiden dan semacamnya. 45
3) Media Audio Visual
Media audio visual adalah media yang memiliki unsur-unsur suara dan unsur gambar. Contohnya pembelajaran ini menggunakan
44 Rif’an Humaidi, Media Pembelajaran Konsep dan Implementasi (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 97.
45 Ibid.,31.
proyektor yang menampilkan suatu gambar/video yang mengeluarkan suara.46
4) Media berbasis cetakan
Media yang berbasis cetakan yang paling umum dikenal adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran lepas. Teks berbasis cetakan menuntut enam elemen yang perlu diperhatikan saat merancang, yaitu: Konsistensi, format, organisasi, daya tarik, ukuran huruf , penggunaan spasi kosong.47
5) Media Berbasis Manusia
Media berbasis manusia merupakan media tertua yang digunakan untuk mengirimkan dan mengomunikasikan pesan dan informasi. Salah satu contoh yang terkenal adalah gaya tutorial Socrates. Sistem ini terdapat menggabungkan dengan media visual lain.
Media ini bermanfaat khususnya bila tujuan kita adalah merubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran peserta didik. Misalnya, media manusia dapat mengarahkan dan mempengaruhi proses belajar melalui eksplorasi terbimbing dengan menganalisis dari waktu ke waktu apa yang terjadi pada lingkungan belajar.48
6) Media Pajang
46 Ibid.,33.
47 Azhar Arsyad, Media Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), 79.
48 Ibid.,35.
Media pajang umumnya digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi didepan kelompok kecil. Media ini meliputi papan tulis, white board, papan magnetik, papan buletin, chart dan pameran. Media pajang paling sederhana dan hampir selalu tersedia disetiap kelas adalah papan tulis.
Sesuai dengan hasil observasi di Madrasah Tsanawiyah At- Taqwa Bondowoso menggunakan media cetak yaitu kitab Hidayatus Sibyan dan al-Quran, media pajang yaitu papan tulis dan media berbasis manusia yaitu guru yang memberikan penjelasan langsung kepada siswa terkait materi ilmu tajwid.
c. Penilaian
Penilaian atau evaluasi merupakan proses penentuan sejauh mana tujuan pendidikan tercapai. Banyak definisi disampaikan oleh para ahli tetapi pada hakekatnya evaluasi selalu membuat masalah informasi tentang pelaksanaan dan keberhasilan suatu program yang selanjutnya digunakan untuk menentukan kebijakan berikutnya. Kalau kita akan mengevaluasi program pembelajaran yang telah direncanakan. Hasil evaluasi pembelajaran diharapkan dapat mendorong pendidik mengajar lebih baik dan mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik.49
Penlaian juga merupakan suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil peserta didik dalam rangka membuat
49 Moh Sahlan, Evaluasi Pembelajaran Panduan Praktis Bagi Pendidik Dan Calon Pendidik (Jember: STAIN Jember Press,2013), 3.
keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu.
Menurut Ralph Tyler dalam teorinya mengungkapkan bahwa penilaian merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pembelajaran sudah tercapai.50
Pada umumnya dalam dunia pendidikan ada dua tehnik penilaian yaitu menggunakan tes dan non tes.
1) Tes
Tes merupakan seperangkat pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang sifat atau psikologi yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar. Tes juga dapat diartikan sebagai suatu alat untuk memperoleh informasi hasil belajar peserta didik yang memerlukan jawaban benar dan salah.
a) Tes lisan
Tes lisan adalah tes yang menuntut jawaban dari peserta didik dalam bentuk bahasa lisan. Tes lisan digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi.
b) Tes unjuk kerja
Tes unjuk kerja adalah tehnik penilaian berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas peserta didik dalam melakukan sesuatu.
50 Zaenal Arifin, Evaluasi Pembelajaran,(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 2.
2) Non tes
Non tes adalah penilaian hasil belajar yang tidak menggunakan alat ukur tes. Dalam penilaian non tes ada beberapa tehnik yaitu tehnik observasi, skala sikap, angket dan wawancara.
Berdasarkan uraian tersebut, evaluasi pembelajaran adalah kegiatan mengevaluasi atau mengoreksi hal-hal yang telah terjadi atau dilakukan selama proses pembelajaran. Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso menilai dari tes lisan dan praktek dalam pembelajaran tajwid melalui Kitab Hidayatus Sibyan.
2. Kitab nadhom tajwid Hidayatus Sibyan
Kitab nadhom tajwid Hidayatus Sibyan adalah buku ajar yang dipakai di Madrasah Tsanawiyah At-Taqwa Bondowoso yang berbentuk nadhom metode praktis memahami hukum-hukum bacaan dalam al- Quran/tajwid.
Ada beberapa hukum bacaan di dalam kitab nadhom tajwid Hidayatus Sibyan, diantaranya:
a. Hukum bacaan tanwin dan nun sukun 1) Idzhar
Idzhar adalah menyuarakan huruf tanpa dengung, tanwin dan nun sukun harus dibaca idzhar apabila bertemu dengan enam huruf halqi, yaitu:
خ,ح,غ,ع,اه,ء
Contoh
: ُرْيَخُْنِمُ,َنَمَُاُْن َُم
ءاَلخُاُِْيَْغْلاَُّ ثُِِْيَْعْلاَوُُُ~ُُرءاَحُرءاَهَوُرزَْهَُىَدَلُْرِهْظُاَف
2) Idghom Bighunnah
Idghom Bighunnah adalah nun sukun atau tanwin yang bertemu dengan salah satu dari empat huruf, yaitu:
و,م,ن,ي
makadibaca ghunnah/dengung.
Contoh :
ُ لَعَّْيُُ قْرَ يُ,رسْفَ نُْنَع
Tetapi nun mati atau tanwin tidak dibaca ghunnah/dengung apabila bertemu dengan salah satu huruf yang empat dalam satu kalimat.
Contoh :
ٌُنُاَوْ نِقُ,ٌنُاَيْ ن ب
ُِبُاَناَكُُُا ذِاُ َلاُو مْنَ يِبُرةَّن غِبُْمِغْداَو اَذِبْناَفُاَيْ ن دَكُ رتَمْلِك
3) Idghom Bilaghunnah
Idghom Bilaghunnah adalah apabila nun sukun atau tanwin bertemu dengan dua huruf, yaitu: ر,ل maka dibaca jelas dan tidak dengung.51
Contoh :
ُْمِهبَِّرُْنِمُ, هْن دَلُْنِم
اَرِك ذُا مْيِمُِءاَبلاَُدْنِعُ بْلَقلاَوُُُ~ُُاَرَوُرم َلاُُِْفُِرةّن غُضلاِبُْمِغْداَو
51 Muhammad Taufik bin Muhammad Hasyim, Hidayatus Sibyan (Bondowoso),5.
4) Iqlab
Iqlab adalah apabila nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf iqlab (ب), maka nun sukun atau tanwin dibaca mim (م).
Contoh :
ُِهِدْعَ بُْنِم اَرِك ذُا ميِمُِءاَبلاَُدْنِعُ بْلَقلاَو
5) Ikhfa’
Ikhfa’ adalah apabila nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf ikhfa’ yang lima belas, yaitu:
ك,ق,ف,ظ,ط,ض,ص,ش,س,ز,ذ,د,ج,ث,ت
maka dibaca samar.Contoh
: َُمُ,َكِلَُذُا بُاَوَص ا رْو ثْن
ُِفِرْعاَفُررْشَعَُةَسْخمُاَه تَلْ جُُُُ~ُُ ِفَرْح َلااُيِقاَبَُدْنِعََُّيِْفْخَاَو
b. Hukum mim dan nun bertasydid 1) Ghunnah Musyaddadah
Ghunnah Musyaddadah adalah apabila mim (م) atau nun (ن) yang bertasydid maka wajib dibaca dengung dengan jelas.
Contoh :
َُّنِاُ,اَِّمِ
َُدهد شُا ماَذِاُِنْوُّ نلاوُِميِمْلاُ ِفُُُِ~ُُاَدَبَاُاَهْو بَجْواُْدَقٌُةَّن غو
2) Ikhfa’ Syafawi
Ikhfa’ berarti samar, sedangkan syafawi berarti bibir. Ikhfa’
Syafawi terjadi apabila ada mim sukun bertemu dengan huruf ba’
(ب). Cara membaca ikhfa’ syafawi ialah dengan suara samar antara mim (م) dan ba’ (ب). Kemudian ditahan kurang lebih dua ketukan.
Pada saat membacanya kedua bibir merapat, sehingga tidak ada udara yang keluar dari mulut.52
Contoh :
ُِللاِبُْمِصَتْعِاُ,ِهِبُْمَا
ُىَقْلَ تُِللااِبُْمِسَتْعاَُوَْنَُُُ~ُُىَفَ تْ تُُاَبلاُىَدَلُْن كْسَتُءنِاُ مْيِمْلاَو
َُفَرَّشلا
3) Idzhar Syafawi
Idzhar berarti jelas, sedangkan syafawi berarti bibir. Idzhar Syafawi terjadi apabila ada huruf mimsukun bertemu dengan huruf hijaiyah selain mim (م) dan ba’ (ب). Cara membaca idzhar syafawi ialah dengan suara yang jelas. Pada saat mengucapkan huruf mim (م), kedua bibir dirapatkan. Kejelasan pengucapan huruf mim (ب) cukup satu ketukan, tidak boleh lebih dari itu. Jika lebh dari itu dikhawatirkan menjadi bacaan ikhfa’ atau ghunnah.53
Contoh :
ميِظَعٌُبُاَذَعُْم َلََوُ,نو نِقُو يُْم ه
ءاَفْخِلإاَُيِعاَدُْرَذْحاَوُِواَوْلاَوُُ~ُُرءاَفْلاَُدْنِعُِراَهْظِلإاُىَلَعُْصِرْحاَو
52 Ibrahim dan Darsono,Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis (Solo:PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri,2009),61.
53 Ibid.,62.
4) Idghom Mitslain
Idghom Mitslain disebut juga idhom mimi adalah apabila mim sukun ber