• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika Sosial Pendidikan di Desa Pameungpeuk - sipeg unj

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Dinamika Sosial Pendidikan di Desa Pameungpeuk - sipeg unj"

Copied!
231
0
0

Teks penuh

Pondok Pesantren Mardliyah merupakan salah satu Pondok Pesantren tertua yang ada di Kota Garut, khususnya di Kecamatan Pameungpeuk. Dengan menjabat beberapa jabatan di lembaga keagamaan Desa Pameungpeuk, kontribusi Kyai Hasan Basyari terhadap kehidupan masyarakat Desa Pameungpeuk semakin besar.

Tabel 1.1  Regenerasi KH.Hamami ke KH.Hasan Basyari .................. 9  Tabel 2.1  Data Statistik Desa Pameungpeuk ....................................
Tabel 1.1 Regenerasi KH.Hamami ke KH.Hasan Basyari .................. 9 Tabel 2.1 Data Statistik Desa Pameungpeuk ....................................

Relasi Kyai, Kharisma, dan Masyarakat

Padepokan Pancawarna juga mengalami Islamisasi karena pada awalnya kesenian debus ini bertujuan untuk menyebarkan agama Islam. Kesenian debus berkembang di Pamengpeuk dan pada tahun 1996 lahirlah kesendirian Debus Pancawarna yang dipimpin oleh Emban Sobana.

Struktur Pemerintahan Desa Pameungpeuk

Nah, Mbah Ibrahim dan warga lainnya memanfaatkannya untuk mengalihkan aliran Sungai Cipalebuh yang dulunya memanjang lurus hingga melengkung. 20. Batu-batu itu mereka manfaatkan dengan cara dipadatkan atau ditumpuk agar sungai tidak bisa lewat.

Gambar 2.2  Sungai Gulanjeng
Gambar 2.2 Sungai Gulanjeng

Sejarah Terbentuknya Debus dan Pesta Laut

Pada tahun 1991, Pak Mian meninggal dunia dan secara tidak langsung Padepokan Pancawarna dipegang oleh Kang Emban hingga saat ini. Kang Emban mengatakan, kemungkinan Kyai Haji Aripudin sedang melakukan perjalanan menyebarkan Islam.

Struktur dan Profil Keanggotaan Debus

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dilema ruang publik pedesaan yaitu Alun-Alun Kota Pameungpeuk sebagai ikon Desa Pameungpeuk Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut Selatan. Keberadaan Alun-Alun Pameungpeuk menjadi dilema ruang publik di desa, khususnya Desa Pameungpeuk itu sendiri. Setiap desa di Kecamatan Pameungpeuk wajib membayar biaya pemeliharaan dan pembersihan di alun-alun Pameungpeuk59.”

Keberadaan alun-alun kota sebagai ruang publik di Desa Pameungpeuk masih belum mampu menampung aktivitas penggunanya, sehingga ada beberapa pemanfaatan alun-alun yang tidak sesuai dengan fungsinya. Fungsi politik di Lapangan Pameungpeuk awalnya digunakan untuk menyambut menteri, upacara, dan pemilihan desa. Alun-alun sebagai ruang publik mempunyai fungsi atau kegunaan untuk kegiatan masyarakat dan pemerintahan.

Pemerintah Desa Pameungpeuk selaku pemegang kewenangan pemanfaatan alun-alun menetapkan syarat-syarat atau tata cara pemanfaatan alun-alun. Selain itu, kegiatan yang berlangsung di alun-alun juga merupakan kegiatan yang tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Berdasarkan informasi, kejahatan yang terjadi di Lapangan Pameungpeuk tampaknya ada kaitannya dengan sejarah keberadaan alun-alun tersebut.

Sehingga aktivitas warga desa Pameungpeuk khususnya di alun-alun Pameungpeuk bisa lebih nyaman, aman dan dimanfaatkan untuk kegiatan atau acara yang bermanfaat.

Gambar 4.1   Peta SMAN 5 Garut
Gambar 4.1 Peta SMAN 5 Garut

Hambatan Kesenian Debus

Sejarah Terbentuknya Pancawarna

Eksistensi Pencak Silat Sebagai Seni Bela Diri: Studi Kasus Pencak Silat Putra Siliwangi di Desa Pameungpeuk Garut. Fakultas ini masih tergolong muda karena Pencak Silat Putra Siliwangi di Desa Pameungpeuk berada pada tingkat cabang.

Sejarah Pencak Silat di Desa Pameungpeuk

Hingga saat ini, anggota Pencak Silat Putra Siliwangi berjumlah sekitar 40 orang, baik anggota aktif maupun tidak aktif. Sebenarnya jam terbang mereka tidak banyak, hal ini dikarenakan Pencak Silat Putra Siliwangi sudah lama tidak berdiri.

Program Kegiatan Pencak Silat Putra Siliwangi

Alat musik yang digunakan di Putra Siliwangi adalah gendang, terompet, kempul atau gong dan kulan. Beberapa alat musik tersebut telah dimiliki anggota sejak menjadi anggota pencak silat Medali Pusaka. Terompet penca merupakan salah satu alat musik tiup yang berasal dari Jawa Barat dan sering digunakan untuk mengiringi pencak silat.

Beragam alat musik tradisional jika dimainkan secara bersama-sama akan tercipta musik atau nyanyian yang dapat dinikmati sebagai pengiring tarian Putra Siliwangi atau adu pencak silat. Namun karena keterbatasan dana, alat musik yang dimiliki hanya sedikit, biasanya hanya rekaman musik yang sudah dimainkan pada alat musik saja yang digunakan untuk latihan. Kecacatan tersebut menjadi kendala bagi Putra Siliwangi untuk berkembang, sehingga saat ini anak-anak yang ingin belajar memainkan alat musik terus berlatih untuk nantinya menggantikan anggota nayaga yang sudah dewasa.

Jurus dalam Pencak Silat Putra Siliwangi

Orientasi Siswa Kelas XII Melanjutkan Pendidikan Tinggi: Studi Kasus Siswa Kelas XII SMAN 5 Garut. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji orientasi siswa Kelas XII untuk melanjutkan pendidikan tinggi di SMAN 5 Garut. Pertama, pendahuluan yang menjelaskan latar belakang terbentuknya orientasi siswa kelas XII di SMAN 5 Garut untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Keempat, diskusi mengenai orientasi akademik dan non akademik siswa SMAN 5 Garut untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun berbeda dengan siswa kelas XII yang aspek ekonomi dan sosialnya mendukung mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Renungkan lulusan tahun sebelumnya, minat kelas

Timeline Permasalahan Sampah di Desa Pameungpeuk

Warga RT 07 berinisiatif membuat TPAS (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) berupa lubang galian di dekat lahan pertanian untuk warga RT 07 membuang sampah. Bagi warga di Desa Pameungpeuk, membuang sampah ke sungai merupakan hal yang lumrah dilakukan sebagai respon terhadap permasalahan yang ada. Dampak positifnya adalah dengan membiasakan membuang sampah ke sungai maka lingkungan sekitar akan terlihat bersih.

Kebiasaan warga sekitar yang membuang sampah ke sungai menyebabkan sampah masyarakat langsung mengalir ke pantai Sayangheulang sehingga juga merusak pemandangan pantai. Sebagian warga membuang sampah ke saluran irigasi sehingga mencemari lahan irigasi yang seharusnya digunakan untuk pertanian. Dampak negatif lainnya adalah membuang sampah ke sungai akan menyebabkan banjir di desa Pameungpeuk.

Gambar 5.1  Peta Timbunan Sampah
Gambar 5.1 Peta Timbunan Sampah

Faktor Penyebab Terhambatnya Pembangunan TPA

Pak Engkan, setelah kemerdekaan, tanah Lapangan Pameungpeuk diberikan kepada pemerintah atas persetujuan almarhum. Fungsi keagamaan di Lapangan Pameungpeuk awalnya digunakan untuk acara Maulid Nabi, Tablig Akbar, dan Sholat Jumat. Misalnya saja ruang publik di suatu kawasan yang berada di kawasan Garut, Jawa Barat, tepatnya di Lapangan Pameungpeuk Garut.

Gambar 6.2  Acara adat di Alun-Alun
Gambar 6.2 Acara adat di Alun-Alun

Struktur Aparat Desa Pameungpeuk

Desa Pameungpeuk dapat dikatakan desa maju jika melihat kondisi fisik pemukiman masyarakatnya. KOTAKU merupakan program nasional Kota Bebas Kumuh dan lebih fokus pada permasalahan permukiman kumuh di pedesaan. Program kota bebas kumuh di bidang sosial merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pemberdayaan masyarakat pedesaan.

Manfaat program KOTAKU bagi masyarakat desa Pameungpeuk Adanya program KOTAKU di desa Pameungpeuk mempunyai manfaat bagi masyarakat, karena program KOTAKU dicanangkan oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan yang ada di desa dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. . . Aspek lingkungan terdiri dari berbagai kegiatan antara lain: membangun jaringan jalan, hal ini memegang peranan penting karena pada kenyataannya Desa Pameungpeuk belum mempunyai jaringan jalan yang sesuai. Berdasarkan wawancara dan observasi lapangan, Desa Pameungpeuk belum memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang layak.

Kebermanfaatan KOTAKU

Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) pada Kelompok Pemberdayaan Masyarakat: Studi Kasus pada Posyandu di Desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alokasi dana desa pada kelompok pemberdayaan masyarakat khususnya pada program posyandu di Desa Pameungpeuk Garut, Jawa Barat. Oleh karena itu penelitian yang kami lakukan bertujuan untuk mengetahui bagaimana dana desa dikelola oleh pemerintah untuk kegiatan posyandu di desa Pameungpeuk sehingga dapat kita manfaatkan.

Kedua, menjelaskan tentang ADD pada kelompok pemberdayaan di desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Secara umum di Desa Pameungpeuk terdapat tiga kelompok pemberdayaan masyarakat penerima ADD dari Pemerintah Kabupaten Garut. Berdasarkan data besaran Alokasi Dana Desa (ADD dari Pemerintah Kabupaten Garut tahun 2016), kelompok pemberdayaan masyarakat yaitu posyandu di desa Pameungpeuk memperoleh ADD sebesar Rp.

Posisi Alokasi Dana Desa (ADD) dan Posyandu di

Buruh tani yang hanya bergantung pada pekerjaan dari pemilik lahan tentu tidak mempunyai pendapatan yang tinggi, warga mencari pekerjaan paruh waktu untuk mendapatkan penghasilan tambahan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Petani di Desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, terbagi dalam 3 kelas/tingkatan petani, yaitu pemilik lahan, petani penggarap, dan buruh tani. Dari grafik persentase di atas dapat disimpulkan bahwa 90% buruh tani berlatar belakang pendidikan sekolah dasar (SD) dan sangat sedikit petani yang berlatar belakang pendidikan sekolah menengah (SMA), baik pemilik lahan, petani bagi hasil maupun buruh tani. .

Jika melihat kondisi kehidupan petani pemilik, penggarap dan buruh tani, terdapat perbedaan besar dalam hal bangunan dan kondisi rumah yang mereka miliki. Dimana kondisi kehidupan pemilik tanah lebih baik dan mewah dibandingkan dengan rumah warga koperasi dan buruh tani. Pada musim panen, para buruh tani tidak melakukan pekerjaan sampingan karena merasa penghasilannya mencukupi untuk kehidupan sehari-hari.

Gambar 9.1   Peta Desa Pameungpeuk
Gambar 9.1 Peta Desa Pameungpeuk

Sumber Penghasilan Petani Padi Sawah Desa

Penjelasan mekanisme kelangsungan hidup petani, upaya membandingkan kondisi di lapangan dengan konsep teori James C Scott. Gambar 9.1 di atas menjelaskan bahwa petani melakukan proses mekanisme kelangsungan hidup dengan membentuk jaringan hubungan sosial antar petani, misalnya petani dengan tengkulak, petani dengan pemerintah, dan hubungan dengan petani lain untuk menunjang kelangsungan proses usahatani. Dan pemerintah membutuhkan peran petani untuk menghasilkan pendapatan daerah. Penjelasan mekanisme kelangsungan hidup petani dengan metode pembentukan jaringan, teori, kebiasaan pola makan. Jika diterapkan pada petani, hubungan tersebut akan berjalan lancar bila ada faktor pemerintah.

Negara berperan sebagai promotor berkembangnya hubungan sosial petani, namun dalam kondisi lapangan, peran negara dalam pembentukan jaringan sosial bukanlah sebagai promotor, melainkan pencipta terbentuknya jaringan sosial, hal ini penjelasannya sesuai dengan skema dibawah ini.

Mekanisme Survival Menurut James C Scott

Sementara itu, masyarakat yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan akan mempertimbangkan untuk tetap bekerja di sektor pertanian, karena sektor ini tidak memerlukan keterampilan khusus. Kaum muda dengan tingkat pendidikan rendah melihat sangat sedikit peluang untuk bekerja di luar sektor pertanian. Sebab, perempuan beranggapan bahwa bekerja di sektor pertanian akan merusak penampilan dan merupakan pekerjaan yang tidak cocok bagi perempuan.

Generasi muda lebih memilih bekerja di sektor lain, atau bekerja di kota untuk mendapatkan pengalaman. Oleh karena itu, pilihan yang paling utama adalah bekerja di sektor pertanian sebagai buruh tani, penggarap sawah, penggarap atau pemilik sawah. Minat bekerja di kota yang sangat tinggi diungkapkan oleh para pemuda di Desa Pameungpek, walaupun hanya sebagai kuli bangunan atau penjaga toko bagi perempuan, namun sangat digemari di kalangan pemuda desa, dibandingkan dengan yang ada di desa tersebut. bekerja di kota sebagai petani di sawah dan bercocok tanam di sawah.

Faktor Pengaruh Persepsi Pemuda Terhadap Pekerjaan

Bagaimana petani bisa menjalankan pekerjaannya, misalnya menanam padi, tanpa sumber air yang melimpah? Konflik irigasi terjadi karena setiap petani membutuhkan banyak sumber air, namun pada kenyataannya petani sulit mendapatkan sumber air. Konflik irigasi antar petani banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di desa-desa yang pengelolaan aliran irigasinya belum dilakukan dengan baik.

Kelompok tani dibentuk sebagai wadah perkumpulan petani untuk menyampaikan keluhan, kendala dan kebutuhan petani. Hubungan sosial yang tercipta antara pemerintah dan petani dapat dilihat melalui kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah untuk para petani. Sedangkan Mitra Cai atau Mitra Air merupakan badan khusus yang mengelola cabang-cabang saluran irigasi dari sumber utama air hingga ke sawah para petani.

Gambar 10.1  Peta Lokasi Pameungpeuk
Gambar 10.1 Peta Lokasi Pameungpeuk

Struktur Organisasi P3A Batu Pameungpeuk

Pola Relasi Sosial dalam Kelompok Tani

Pola Konflik Irigasi Petani

Konflik Petani dan Resolusinya

Referensi

Dokumen terkait