• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penyebab Terhambatnya Pembangunan TPA

Winahyu, D., Hartoyo, S., & Syaukat, Y. (2014). Strategi Pengelolaan Sampah pada Tempat Pembuangan Akhir Bantargebang, Bekasi . Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah, 65-89.

---oOo---

Bab 6

Dilema Ruang Publik: Studi Kasus di Alun-alun Pameungpeuk, Garut

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dilema ruang publik pedesaan yaitu Alun-Alun desa Pameungpeuk sebagai icon desa Pameungpeuk, kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut bagian Selatan. Alun-alun merupakan ruang publik dimana merupakan tempat berinteraksinya atau merupakan pusat dari kegiatan masyarakat. Alun-alun merupakan wujud respon pemerintah daerah terhadap terpenuhinya kebutuhan ruang terbuka publik di pustat kota. Alun-alun Pameungpeuk banyak digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari kegiatan keagamaan, kegiatan politik praktis, kegiatan budaya, maupun kegiatan nasional atau pemerintahan.

Namun, disisi lain, alun-alun Pameungpeuk dahulu juga banyak dilasahgunakan penggunaannya oleh segelintir oknum untuk melakukan kegiatan-kegiatan menyimpang seperti narkoba, tawuran, dan lain sebagainya.

Keberadaan alun-alun Pameungpeuk yang demikian ini menjadi sebuah dilema ruang publik di pedasaan khususnya desa Pameungpeuk itu sendiri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan melakukan teknik wawancara langsung kepada informan dan membaca letaratur yang berkaitan dengan penelitian ini.

Kata Kunci: Alun-alun, Dilema ruang publik, Ruang Publik

Pendahuluan

Alun-alun merupakan suatu fasilitas publik yang berada di pusat kota yang berfungsi sebagai ruang terbuka, sebagai identitas, dan landmark sebuah kota.

Sebuah kota yang memiliki identitas kota seperti alun-alun merupakan suatu kota yang memiliki tujuan masa depan dan kenangan masa lalunya yang menjadi suatu kisah sejarah kota dan yang terpenting dengan adanya identitas kota, akan membentuk citra kota yang terbentuk seiringnya waktu yang

namun demikian karena merupakan fasilitas umum jadi sangat rentan terjadi permasalahan yang dapat mengurangi manfaatnya sebagai ruang sosial50. Keberadaan alun-alun dapat ditemui dalam perkembangan kota-kota berlatar belakang Kerajaan di Pulau Jawa dan dapat berkembang seiring dengan perkembangan fungsi yang terjadi di masyarakat setempat.

Pada umumnya alun-alun memiliki manfaat sebagai ruang publik yang sering digunakan untuk kegiatan formal, seperti upacara peringatan hari nasional, kegiatan sosial, ekonomi, dan apresiasi budaya. Di alun-alun juga biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan aktivitas berolahraga, bermain, dan kegiatan formal pemerintah51. Dengan demikian, seharusnya keberadaan alun-alun menjadi suatu hal yang penting dalam upaya membentuk karakter kawasan pusat kota agar kondisinya menjadi nyaman dan selalu menjadi tempat yang bermanfaat bagi masyarakat, sehingga selalu dikunjungi oleh banyak orang atau masyarakat.

Proses perkembangan kota sampai dewasa ini menempatkan keberadaan alun- alun sebagai ruang terbuka kota atau ruang publik yang sering dijadikan sebagai makna simbolik tersendiri. Rupanya perubahan yang terjadi di dalam sebuah Alun-alun terkait dengan fungsinya yang pada awalnya sebagai ruang privat sebuah keraton dan pada saat ini berkembang menjadi ruang publik kota, tidak terlepas dari adanya sejarah yang panjang dari perkembangan sebuah Keraton itu sendiri dalam menjadi sebuah kota yang mejemuk saat ini. Salah satu contoh Alun-alun di salah satu daerah Jawa tepatnya di Garut yakni Alun-alun Pameungpeuk Garut juga memiliki banyak kisah sejarah yang melatarbelakanginya hingga saat ini juga menjadi suatu ruang publik. Pada jaman dahulu Alun-alun Pameungpeuk sebagai tempat administratif semasa

50 Hilman, Yusuf Adam. 2015. Revitalisasi Konsep Alun-alun Sebagai Ruang Publik. Jurnal Aristo Vol.4 Januari 2015.

51 Darmawan, Edy. 2003. Teori dan Kajian Ruang Publik Kota. Semarang: Universitas Diponegoro. Hlm 75

Hindia Belanda dan menjadi basis latihan tentara Jepang semasa 1942-1945.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa saksi sejarah rupanya masih melekat dengan fungsi keberadaan alun-alun saat ini.

Dewasa ini, pusat kepemerintahan mengikuti peraturan perundang-undangan Negara Republik Indonesia. Dahulu, pusat pemerintahan dimasa colonial penjajahan Belanda adalah Kewadanan atau kekuasaan. Kewadanaan ini adalah wilayah administrasi kepemerintahan yang berada di bawah kabupaten dan diatas kecamatan berlaku pada masa Hindia-Belanda. Sekarang, kewadanaan ini menjadi kantor camat Pamempeuk. Tidak jauh dari kewadanaan atau pusat pemerintahan kecamatan pamempeuk terdapat alun- alun. Alun-alun pamempeuk sendiri mempunyai banyak kisah sejarah dari jaman kolonial belanda. Alun-alun pamempeuk selain tempat administrative semasa Hindia-Belanda, lokasi ini juga menjadi basis latihan tentara Jepang semasa 1942-1945. Dahulu alun-alun pamempeuk dan kewadanaan ini menjadi pusat berkumpulnya masyarakat yang berada di sekitaran wilayah kecamatan pamempeuk.

Dengan berkembangnya zaman, alun-alun dan kewadanaan ini beralih fungsi yang tadinya pusat berkumpulnya masyarakat sekitar pamempeuk menjadi kantor administrasi kecamatan pamempeuk. Dengan kondisi seperti ini terjadi pemaknaan yang berbeda pada jaman dahulu dan sekarang dan lantas bagaimana pengaruh dalam perbedaan pemaknaan alun-alun yang terjadi di Pameungpeuk Garut terhadap karakter kawasan tersebut dan masyarakat.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan analisis data yang bertumpu pada analisis kualitatif model interaktif yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan.

konteks historis Alun-alun Pameungpek unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan butir-butir rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, maka digunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yaitu dengan mencari pengaruh yang ditimbulkan oleh makna simbolik Alun-alun Pameungpek sebagai ruang public bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang diambil melalui wawancara, observasi dan artikel-artikel yang terkait dengan penelitian. Yang menjadi sasaran pada penelitian ini adalah camat Desa Pameungpek, staf adminitrasi di pemerintahan Pameungpek, tokoh masyarakat Desa Pameungpek ,serta lima masyarakat disekitar alun-alun.. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan penelitian ini 4 hari dimulai dari tanggal 5 februari 2018. Penelitian ini bertempat di Desa Pameungpek Kabupaten Garut. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah :

1. Yaitu mencari informasi historis dari Alun-alun Pameungpek . Data langsung dari tokoh masyarakat dan masyakarat sekitar .

2. Observasi, peneliti melakukan pengamatan secara langsung baik terhadap makna simbolik alun-alun Pameungpek sebagai ruang publik bagi masyarakat.

3. Teknik wawancara, peneliti menggunakan wawancara langsung dengan informan atau subjek peneliti yaitu camat Desa Pameungpek, staf adminitrasi di pemerintahan Pameungpek, tokoh masyarakat Desa Pameungpek ,serta lima masyarakat disekitar alun-alun.

Agenda Penelitian yang akan dilakukan pada saat di lapangan adalah melakukan observasi terlebih dahulu untuk mengetahui langsung kondisi desa Pameungpek, yang di observasi adalah tempat dan suasana alun-alun Desa Pameungpek, awal mula dan sejarah didirikan Alun-alun Desa Pameungpek, dan melihat makna simbolik alun-alun sebagai ruang public bagi masyarakat.

Setelah melakukan observasi, peneliti melakukan wawancara, hal ini untuk mengetahui secara langsung data yang sedang dicari serta mencari dokumen.

Selanjutnya adalah menganalisis data yang diperoleh dalam bentuk laporan.

Sejarah Alun-alun Pameungpeuk

Desa Pameungpeuk terletak di kecamatan Pameungpeuk kabupaten Garut provinsi Jawa Barat. Desa Pameungpeuk awalnya merupakan satu dari bagian wilayah kekuasan Pajajaran. Dulunya desa ini masih bernama Desa Negara, yang berkaitan dengan gunung Nagara yang memang tak jauh keberadaannya dari Desa Pameungpeuk. Mata pencaharian sehari-hari masyarakat pameungpeuk rata-rata adalah buruh tani. Rumah-rumah warga rata-rata sederhana, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Warga masyarakat saling menghargai satu sama lain dan saling membantu jika diantaranya ada yang kesusahan.

“Dulu desa ini namanya bukan desa pameungpeuk, dulu desa ini namanya negara karena ada gunung dekat sini namanya Nagara.52’’

Desa Pameungpeuk memiliki 8000 warga dan sekitar 2500 KK. Desa Pameungpeuk dipimpin oleh Pak Dasep Rahmat, S.Pd.i yang jabatannya disini adalah kepala Desa. Pak Dasep Rahmat menjabat menjadi Kepala Desa Pameungpeuk dari tahun 2015 hingga tahun 2021. Desa Pameungpeuk mempunyai 5 dusun 15 Rukun Warga dan 15 Masjid/Mushola.

“kami mempunyai warga 8000 warga, 2500 KK, 5 dusun,15 RW dan 15 masjid/mushola.53

Desa Pameungpeuk mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Garut Selatan dan sejarah Kolonial Belanda. Di Desa Pameungpeuk terdapat alun-alun yang merupakan salah satu ikon Kecamatan Pameungeuk.

Bertepatan dengan Alun-Alun, disampingnya terdapat Masjid Agung Pameungpeuk dan di seberangnya ada Kantor Kecamatan Pameungpeuk.

Alun-Alun, Masjid Agung dan Kantor Kecamatan Pameungpeuk memiliki

“kalo di seberang Alun-Alun ada kantor kecamatan Pameungpeuk dan disebelahnya ada masjid agung Pameungpeuk54

Sebelum masuknya masa Hindia Belanda, alun-alun digunakan oleh masyarakat sekitar untuk tempat berkumpul jika ada acara-acara penting di Pameungpeuk. Di samping Alun-Alun tardapat masjid, masjid dahulunya tidak seperti sekarang yang luas dan megah. Dahulu hanya masjid sederhana yang dipakai untuk ibadah umat muslim di Pameungpeuk, karena tempat ibadah umat muslim di Pameungpeuk tidak terlalu banyak seperti sekarang. Masjid Agung Pameungpeuk pada sekarang sudah mengalami perubahan dan mengalami renovasi. Renovasi Masjid Agung Pameungpeuk sendiri dananya oleh warga Pameungpeuk dengan cara sukarela menyumbang.

“masjid di dekat alun-alun itu dulu sangat sederhana, tidak seperti sekarang, perubahan-perubahan terjadi pada masjid seperti adanya pagar dan semakin luas karena adanya sumbangan sukarela atau amal dari warga masyarakat Pameungpeuk.55

Sementara itu, di seberang Alun-Alun Pameungpeuk terdapat kantor kecamatan Pameungpeuk. Kantor Kecamatan Pameungpeuk dahulunya ada kewedanaan. Kewedanaan merupakan wilayah administrasi kepemerintahan yang berada dibawah kabupaten dan diatas kecamatan yang berlaku pada masa jaman Hindia Belanda. Kewedanaan sendiri berfungsi untuk menyampaikan info ke kabupaten dan ke kecamatan, dari kabupaten tidak langsung ke kecamatan, melainkan ke kewedanaan terlebih dahulu. Setelah jaman Hindia Belanda, sistem kewedanaan ini sudah mulai dihapuskan.

“dahulu kantor camat digunakan untuk kewedanaan.

Kewedanaan itu posisinya ada di tengah-tengah antara kabupaten dan kecamatan. Kewedanaan hanya

54 Hasil wawancara dengan Pak Dasep Rahmat, 6 Februari 2018 pukul 08:15

55 Hasil wawancara dengan KH. Hasyim Bashari, 5 februari 2018 pukul 09.00

menyampaikan informasi dari atas yaitu kabupaten ke bawah yaitu kecamatan56.”

Alun-alun pameungpeuk dahulunya merupakan tanah kosong yang dimiliki oleh keluarga besar Alm. Pak Engkan dan KH. Hamami. Pak Engkan dan KH.

Hamami merupakan teman seperjalanan dalam melakukan penyebaran Islam di Pameungpeuk. Mereka berdua membuat tanah kosong ini untuk kepentingan warga nya itu sendiri. dahulu memang tanah kosong belum ada apa-apa. Tanah kosong ini dijadikan alun-alun karena bertepatan dengan pusat kepemerintahan Pameungpeuk dan keberadaban Islam di Pameungpeuk karena di samping nya terdapat masjid agung Pameungpeuk.

“dulu almahrum pak engkan dan almarhum bapak saya yang mempunyai lahan alun-alun pameungpeuk beserta masjid disampingnya. Dahulu tanah itu kosong tidak ada apa-apa, tidak ada bangunan juga hanya tanah aja.57 Pada masa Hindia Belanda, selain menjadi pusat administrative Alun-Alun Pameungpeuk juga dijadikan tempat berkumpulnya dan latihan para perajurit Jepang untuk mempersiapkan genjatan senjata. Para perajurit Jepang ini setiap latihan di Alun-Alun Pameungpeuk karena letaknya sangat strategis dan memiliki tanah lapang yang luas.

“sebelum merdeka, alun-alun dijadikan tempat berkumpul dan latihan bagi perajurit tentara Jepang untuk persiapan genjatan senjata, itu sekitar tahun 1942-194558

Setelah merdeka, Alun-Alun Pameungpeuk mulai diperhatikan oleh pemerintah daerah. Pada awalnya tanah milik Alm. Pak Engkan, setelah merdeka tanah Alun-Alun Pameungpeuk dihibahkan kepada pemerintah atas izin dari Alm. Pak Engkan dan Pemuka agama di Pameungpeuk. Pemerintah Daerah mulai merenovasi Alun-Alun Pameungpeuk agar lebih baik dan terawat. Pada tahun 90an pemerintah mulai membuat pagar untuk membatasi

area alun-alun dan menebang satu pohon beringim, hal ini untuk membuat kenyamanan bagi masyarakat sekitar yang akan menggunakan Alun-Alun Pameungpeuk. Setiap kantor kepala desa di kecamatan Pameungpeuk dikenakan biaya perbulannya untuk keperluan perawatan dan kebersihan di Alun-Alun Pameungpeuk.

“Alm. Pak Engkan menghibahkan tanah alun-alun kepada pemerintah daerah. Dan mulai sejak itu alun-alun perlahan mulai di renovasi agar keliatan bersih dan terawat, itu dimulai pada tahun 90an. Ditambah lagi dengan membangun pagar-pagar pembatas dari alun-alun ke jalan.

Setiap desa yang ada di kecamatan pameungpeuk diwajibkan iuran biaya perawatan dan kebersihan di alun- alun pameungpeuk59.”

Perubahan Fungsi Alun-Alun Pameungpeuk dari Kegiatan Keagamaan sampai Politik Praktis

Alun-alun merupakan ruang public sebagai taman di kawasan pusat kota yang sering digunakan untuk kegiatan formal. Alun-alun merupakan area umum yang menjadi pusat keramaian suatu kota atau kabupaten. Karakter kawasan dapat dibentuk oleh kualitas ruang public, kualitas ruang public berkaitan erat dengan kegunaan beberapa faktor terhadap kebutuhan dan persepsi masyarakat. Oleh karena ini, maka pembentukan suatu karakter kawasan kota harus diikuti dengan peningkatan kualitas ruang public kotanya. Kualitas ruang public meliputi: faktor pencapaian, kenyamanan, fasilitas, pencitraan, sosial budaya, dan pengelolaan. Disisi lain kualitas ruang public terdiri dari:

responsive (tanggap), dengan mempertimbangkan kepentingan pengguna, democratic (demokratis) dengan melindungi hak pengguna, dan meaningful (bermakna) dengan adanya ikatan emosional antara ruang dengan kehidupan penggunanya.

59Hasil wawancara Dasep Rahmat, 5 Februari 2018, Pukul 09.20

Keberadaan alun-alun kota sebagai ruang public di Desa Pameungpeuk masih belum dapat mewadahi aktivitas pengguna, sehingga terdapat beberapa pemanfaatan alun-alun yang tidak sesuai fungsinya. Pada dasarnya alun alun mempunyai fungsi sebagai pelayanan kebutuhan sosial masyarakat kota dan memberikan pengetahuan kepada pengunjungnya. Pemanfaatan ruang terbuka publik oleh masyarakat sebagai tempat untuk bersantai, bermain, olahraga sore dan berjalan-jalan serta membaca. Namun seiring berjalannya waktu fungsi alun-alun mulai bergeser secara perlahan. Perubahan yang terjadi pada fungsi alun-alun memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi keagamaan, fungsi sosial, fungsi ekonomi, dan fungsi politik.

Fungsi Keagamaan

Fungsi keagaman di Alun-Alun Pameungpeuk pada awalnya digunakan untuk Maulid Nabi, Tablig Akbar, dan Sholat Jumat. Namun, saat ini dengan perkembangan zaman untuk fungsi keagamaan sudah sangat menurun. Banyak masyarakat yang lebih merespon dengan acara lainnya. Namun bukan berarti kegiataan agama sudah tidak pernah dilakukan. Acara keagamaan tetap masih dilakukan hanya saja lebih sering untuk kegiatan yang lain.

“dulu itu setiap Maulid Nabi, Tablig Akbar, dan Sholat Jumat masih sering digunakan alun-alunnya untuk kegiatan agama. Namun, seiring berjalannya waktu juga semakin menurun penggunaan alun-alun dalam kegiatan agama60

Fungsi Sosial

Fungsi sosial sebagai ruang public mampu menyediakan ruang bagi interaksi dan pembelajaran sosial pada segala usia, dan meningkatkan serta mendorong kehidupan berkomunitas. Ruang publik sebagai salah satu elemen kota dapat memberikan karakter tersendiri, dan pada umumnya memiliki fungsi interaksi

memberikan pelayanan terhadap masyarakat, sebagai contoh adanya pelayanan kesehatan jika adanya virus yang sedang banyak menyerang.

Namun saat ini pada fungsi sosial alun-alun hanya digunakan untuk acara hiburan. Hiburan juga bukan seperti yang dulu, hiburan yang diadakan saat ini yaitu Orkes Dangdut. Pada pelayanan kesehatan masyarakat juga sudah tidak dilakukan di alun-alun. Seperti sekarang ini sedang tren vaksin difteri, vaksin ini tidak dilakukan di alun-alun melainkan dilakukan di puskesmas.

“untuk kegiatan sosial dulu itu diadakan Orkes Melayu guna meningkatkan interaksi antar warga di desa. Namun, sekarang Orkes Melayu sudah tergantikan dengan adanya Orkes Dangdut. Bahkan untuk pelayanan kesehatan juga sudah tidak di alun-alun, melainkan dilakukan di puskesmas61

Gambar 6.1

Kegiatan Bermain di Alun-Alun

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)

Pada fungsi sosial tidak hanya terjadi pergeseran fungsi, namun penggunaan alun-alun bertambah. Fungsi sosial yang bertambah yaitu kegiatan sekolah untuk mata pelajaran olahraga sering menggunakan alun-alun, dan latihan pramuka. Namun untuk kegiatan pribadi sampai saat ini masih tidak

61 Hasil wawancara dengan Pak Hendra, pada tanggal 07 februari 2018 pukul 08.00

diperbolehkan oleh pemerintah karena pada dasarnya alun-alun untuk kepentingan umum bukan untuk kepentingan pribadi. Kegiatan pribadi yang tidak diperbolehkan oleh pemerintah sebagai contoh pernikahan, syukuran, khitanan. Pemerintah yang dimaksudkan saat ini adalah Bapak Camat yang bernama Drs. H. Hendra Siswara Gumilang MM. Selain alasan alun-alun untuk kepentingan umum, Pak Hendra juga memiliki alasan mengapa alun- alun tidak diperbolehkan untuk kepentingan pribadi karena Pak Hendra ingin menjaga kebersihan alun-alun dan juga menjaga aturan bahwa alun-alun sebagai ruang publik.

“ sekarang alun-alun sering digunakan anak sekolah untuk latihan pramuka, latihan kegiatan olahraga. Tapi, untuk kegiatan pribadi sampai saat ini masih tidak diperbolehkan, sebagai contoh acara pernikahan. Alasan saya juga tidak memberi izin kepada masyarakat yang ingin menggunakan alun-alun karena saya menjaga kebersihan alun-alun dan juga menjaga aturan bahwa alun-alun sebagai ruang publik62

Fungsi Ekonomi

Fungsi ekonomi di Alun-Alun Pameungpeuk hanya terjadi pergeseran sedikit.

Kegiatan ekonomi yang terjadi di alun-alun adanya tukang jualan disekitaran alun-alun sebagai contoh es goyobot, gorengan, mie ayam dan bakso, selain itu pada saat bulan puasa setiap harinya ada yang berjualan takjil. Namun saat ini untuk penjualan takjil sudah menurun karena mengingat dengan perkembangan zaman meningkatnya tindak kriminalitas sehingga banyak penjual yang takut untuk berjualan menjelang malam hari. Tidak hanya yang berjualan takjil, penjual es goyobot, gorengan, mie ayam dan bakso juga hanya berjualan sampai pukul 15.30 paling lama pukul 16.00 karena mereka juga takut untuk berjual malam hari disekitar alun-alun. Jadi untuk menjaga kenyamanan dan

takut karena kebanyakan yang menjadi pelaku kriminalitas bukan penduduk asli Desa Pemeungpeuk melainkan dari daerah luar sehinggal para penjual juga tidak mau mencari masalah lebih baik jaga aman.

Fungsi Budaya

Fungsi budaya di Alun-Alun Pameungpeuk hanya memperingati hari lahir Pameungpeuk dan memperingati HUT Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Hal ini menjadi budaya karena setiap tahunnya tidak pernah absen untuk memperingatinya. Dalam acara memperingati hari lahir Pameungpeuk dan HUT RI biasanya diadakan perlombaan, upacara, dan syukuran.

Perlombaan yang diadakan biasanya antar desa. Jenis perlombaan biasanya seperti futsal, balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, lari, dll. Kegiatan ini juga dimanfaatkan oleh pemerintah untuk meningkatkan keakraban dan kekompakan antar individu, serta meningkatkan interaksi.

Gambar 6.2 Acara adat di Alun-Alun

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)

“alun-alun juga digunakan untuk memperingati hari lahir Pameungpeuk dan 17 Agustus untuk memperingati hari

lahirnya bangsa Indonesia yang diisi dengan kegiatan perlombaan antar desa63

Namun dalam kegiatan ini, pemerintah tetap tidak mengabaikan kebersihan alun-alun. Setiap selesai kegiatan, pemerintah selalu mengingatkan kepada petugas kebersihan untuk segera membersihkan alun-alun dari sampah. Dalam proses kegiatan, pemerintah juga sudah menghimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan dan keamanan agar dalam kegiatan upacara, perlombaan dan syukuran tetap merasa nyaman.

Fungsi Politik

Fungsi Politik di Alun-Alun Pameungpeuk pada awalnya digunakan untuk menyambut menteri, upacara, dan pilkades. Namun dengan berkembangnya zaman, alun-alun sempat digunakan untuk pilkada tetapi tidak lama. Alun-alun tidak digunakan untuk pilkada karena saat ini yang berhubungan dengan politik sangat sensitif. Karena sebagai pemerintah kita harus netral tidak boleh menonjolkan salah satu partai atau mendominankan seseorang untuk kepentingan politik. Sensitive yang dimaksudkan sebagai contoh jika ada mobil yang parker dikantor camat dan mobil tersebut ada sticker atau logo khusus mengenai partai lalu orang tersebut berbincang dengan pak camat. Maka, akan timbul pikiran negatif dan omongan tidak enak tentang pak camat bahwa pak camat memiliki hubungan khusus dengan partai atau orang tersebut. Jadi, untuk kegiatan pilkada sudah tidak diperbolehkan oleh pak camat supaya tidak adanya pikiran serta ucapan yang negatif muncul dari masyarakat. Namun, untuk kegiatan politik yang lainnya masih tetap berjalan sampai saat ini.

“Untuk kegiatan politik biasanya digunakan untuk kampanye, upacara, pilkades, dan penyambutan menteri.

Namun, saat ini untuk kegiatan politik sangat sensitif, apalagi jika sudah berbau dengan partai yang mengunjungi

Gambar 6.3

Upacara Kenegaraan di Alun-Alun

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018) Perizinan Penggunaan Alun-Alun

Alun-alun sebagai ruang publik memiliki fungsi atau kegunaan untuk kegiatan- kegiatan kemasyarakatan maupun pemerintahan. Dalam penggunaannya, terdapat beberapa tahap atau prosedur yang harus dilaksanakan guna untuk mendapat perizinan penggunaan alun-alun itu sendiri. Pemerintah Desa Pameungpeuk selaku pemegang kuasa atas penggunaan alun-alun memberikan syarat atau prosedur untuk dapat menggunakan alun-alun. Hal tersebut tentunya dilakukan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan alun-alun untuk kegiatan yang diadakan secara tidak sah atau tanpa perizinan.

Pertama, pihak yang ingin menggunakan alun-alun harus membuat surat permohonan penggunaan alun-alun. Surat tesebut berisikan permohonan acara kegiatan yang didalamnya tertulis rincian kegiatan serta jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan. Selain itu juga pemohon harus menyertai surat keterangan izin keramaian yang didapat/diperoleh dari pihak kepolisian. Keseluruhan dokumen tersebut diserahkan ke kantor kecamatan yang kemudian diterima oleh staff bidang pelayanan umum. Setelah surat diterima oleh pihak kecamatan, pemohon tinggal menunggu persetujuan dari pak camat untuk dapat menggunakan alun-alun tersebut. Namun, selain membuat surat