Pembentukan Jaringan Pada Petani
Sumber : Analisis Peneliti (2018)
Skema 9.2 menjelaskan menurut data yang di peroleh di lapangan mengenai proses mekasisme survival yang dilakukan petani di Pameungpeuk yaitu mekanisme survival sangat bergantung pada pemerintah. Pemerintah berperani penting sebagai pihak pengakomodir petani atau membantu petani dalam membuat jaringan-jaringan dengan cara pemerintah membantu dalam proses penjualan hasil pertanian petani dan selain itu pemerintah juga berperan membantu petani dalam proses pembuatan irigasi yaitu sumur untuk mempermudah petani dalam melakukan pengairan sawahnya ketika sistim tadah hujan yang dilakukan petani tidak lagi berfungsi atau ketika musim kemarau tiba. Selain itu, pula pemerintah sering memberikan pelatihan- pelatihan kepada petani tentang cara bagaimana menghasilkanhasil panen yang berkualitas sehingga harga ketika di jual ke tengkulak lebih baik lagi sehingga bisa lebih mudah dalam mempertahankan proses pertaniannya. Kondisi itu
Pembentukan jaringan
Pemerintah
Petani Tengkulak
Dalam mekanisme survival petani di Desa Pameungpeuk, hubungan sosial sebagai cara untuk membentuk mekanisme survival dengan melalui hubungan petani dengan pemerintah. Hubungan ini terbentuk dikarenakan petani memiliki posisi yang menguntungkan terhadap pemerintah. Karena, posisi petani di perkotaan sangat penting. Berbeda dengan deskripsi James C Scott yang mengatakan petani membutuhkan bantuan dari pemerintah pemerintah Berbeda dengan pernyataan James C Scott yang mengatakan bahwa petani membutuhkan bantuan dari pemerintah, kondisi petani di Kelurahan Made menunjukkan adanya kondisi dimana pemerintah membutuhkan petani. Hal tersebut dikarenakan keberadaanpetani yang sangat penting. Sehingga petani berada pada posisi yang diuntungkan. Hubungan petani dan pemerintah tersebut menjadi hubungan sosial yang dijadikan petani sebagai mekanisme survival.
Pesta Panen Raya Di Desa Pameungpeuk Garut
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mendampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, saat menghadiri panen raya padi, di Desa Mancagahar, Kecamatan Pamengpeuk, Kabupaten Garut, Selasa, 6 Februari 2018.Dalam sambutannya, AndiAmran mengungkapkan pihaknya terus melakukan berbagai upaya dan terobosan untuk meningkatkan produksi pangan selain memberi bantuan pada para petani. “Irigasi tersier yang kita perbaiki mencapai tiga juta hektare lebih di seluruh Indonesia. Pemerintah juga membangun banyak waduk serta memberikan bantuan benih. Menurut Andi Amran, pihaknya mengucurkan dana tak kurang dari Rp 2 triliun untuk pembibitan.Hasilnya, dulu kita impor jagung 3,6 juta ton, sekarang sudah ekspor. Beras pun pada tahun ketiga kita tidak ada impor. Bawang, dulu langganan impor dari Thailand, sekarang kita sudah ekspor ke enam negara.
Cabai dulu bergejolak, sekarang sudah stabil.
Luas lahan padi yang dipanen di Kabupaten Garut, pada Februari ini, mencapai 22.972 hektare dengan produktivitas 6.9 ton per hektare. Sehingga produksi mencapai 158.506 ton gabah kering atau setara dengan 99.859 ton beras. Konsumsi beras per bulan di Kabupaten Garut, berdasarkan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa sebesar 28.266 ton beras. Dengan demikian pada Februari 2018, Kabupaten Garut surplus beras sebanyak 71.593 ton beras.Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar meminta agar rantai distribusi pangan khususnya beras harus terus dibenahi.
“Petani kita dorong terus untuk menanam dan berproduksi sebaik-baiknya. Namun belum tentu sejahtera andai kata tidak dibenahi rantai pasoknya. Belum tentu juga meringankan masyarakat kalau surplus padi tapi masyarakat membelinya dengan harga mahal.81”
Dalam pesta panen raya di Desa Pameungpeuk ini membuktikan bahwa adanya keputusan import beras ke luar negeri adalah salah, jika dilihat hasil panen dari Desa Pameungpeuk saja sudah cukup tinggi dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masayarakat. Selain itu dalam pesta panen raya juga membahas mengenai permasalahan yang dirasakan oleh para petani dan semua permasalahan petnai di respon dengan sangat baik oleh pemerintah dan bapak Andi Amran sendiri, salah satu masalah yang terpenting ialah mengenai asuransi padi ,hal ini jiuga dikemukakan oleh narasumber kita yaitu ibu lusi selaku ketua kelompok tani Desa Pameungpeuk.
“Permasalahan yang dikemukakan yaitu asusransi padi di desa pameungpeuk yaitu jika mengalami gagal panen 70%
akan di ganti rugi oleh jasindo karena pemerintah sudah membayar mahal jasindo jadi jika tidak bekerja dengan baik maka akan di cabut kerjasama dengan jasindo tersebut82.”
Masih banyak permasalahan-permasalahan yang dikemukakan oleh para petani dalam pesta panen raya seperti alat mesin pertanian yang masih kurang untuk para petani juga di sikapi dengan baik oleh para pemerintah yang datang ke pesta panen raya pada waktu itu.
Persepsi Pemuda Desa Pameungpeuk Terhadap Pekerjaan Pertanian
Secara garis besar persepsi pemuda terhadap pekerjaan pertanian dipengaruhi oleh bebrapa faktor yang mempengaruhi . Faktor yang sangat mempengaruhi persepsi atau pandangan pemuda dalam pekerjaan bertani adalah yang melekat pada individu, seperti tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, status perkawinan. Faktor yang mempengaruhi persepsi pemuda terhadap pekerjaan dalam bidang pertanian.Faktor ini melekat pada diri masing-masing. Faktor ini terdiri dari tingkat pendidikan, jenis kelamin, usia dan status pernikahan.
Pertama adalah tingkat pendididikan yang sangat mempengaruhi pemuda desa Pameuangpeuk untuk melihat atau memandang pekerjaan pertanian. Karena dengan pendidikan maka pemuda akan memperoleh pengetahuan yang lebih luas dari sebelumnya. Dengan pengetahuan tersebut maka pemuda akan mempunyai pola fikir dan cara pandangnya sendiri. Pemuda dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan berfikir untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dan tentunya mendapatkan upah yang lebih banyak pula. Dengan pendidikan dapat merubah ekonomi keluarga mereka. Sedangkan pendidikan rendah atau tidak memperoleh pendidikan sama sekali akan berfikir untuk tetap bekerja di sektor pertanian karena pada sektor ini tidak memerlukan keterampilan tertentu. Dan pemuda berfikir jika berpindah pekerjaan lain maka memerlukan keterampilan ataupun pendidikan. Pemuda yang memiliki tingkat pendidikan rendah memandang sangat kecil peluang untuk bekerja di luar sektor pertanian. pemuda yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, mereka menganggap bekerja di sektor pertanian sebagai pekerjaan yang kotor dan melelahkan. Hal ini sama seperti yang dikatakan oleh salah satu anak
informan kita ia mengemukakan bahwa tidak mau bekerja sebagai petani karena sudah lulus SMA.
“iya saya tidak mau bekerja sebagai petani karena saya sudah lulus SMA jadi saying kalua menjadi petani,sekarang saya bekerja di puskesmas daerah sini lebih enak kerjanya gak keras terus gak panas-panasan kalua jadi petani apalagi saya perempuan kan ya masih muda jadi agak malu ,kalua kerja yang lain kaya ditoko gtu saya masih mau tapi kalua petani kayanya belum mau sih 83.”
Kedua adalah Jenis Kelamin Laki-laki lebih banyak bekerja di sektor pertanian daripada perempuan. Hal ini dikarenakan perempuan beranggapan pekerjaan di sektor pertanian akan merusak penampilan serta merupakan pekerjaan yang tidak cocok dengan perempuan. Pertanian identik dengan pekerjaan keras dan menguras banyak energi serta tenaga maka akan lebih cocok jika yang melakukannya adalah laki-laki. Ditambah lagi perempuan sekarang terkenal dengan menggunakan makeup begitu juga masayarakat desa Pameungpeuk walaupun mereka bertempat tinggal di desa mereka juga sangat mengenal makeup apalagi di kalangan remaja perempuan dan ini menjadi salah satu alasan mereka tidak mau bekerja dalam bidang pertanian adalah takut makepnya luntur dan kulitnya hitam.
Ketiga adalah Usia Penduduk yang bekerja di sektor pertanian umumnya penduduk yang berusia lanjut. Pemuda dibagi menjadi dua yaitu penduduk usia muda berkisar antara 19 sampai 30 tahun. Sedangkan penduduk muda usia tua 31 sampai 40 tahun. Pemuda yang berusia muda lebih memilih bekerja di sektor lain, atau bekerja di kota untuk mencarai pengalaman. Pemuda berusia tua menganggap bahwa pekerjaan ini sudah menjadi bagian dari diri mereka dan sudah turun-temurun. Pekerjaan pertanian akan mereka lakukan kelak
terdorong untuk bekerja di luar sektor pertanian bisa ada hasil positif yang akan mereka dapatkan nantinya. Banyak dari informan yang kita wawancarai adalah penduduk yang usianya sudah lanjut usia dan mereka menganggap bahwa pekerjaan sebagai petani adalah pilihan terakhir bagi mereka yang sudah tidak berusia muda lagi, seperti yang di kemukakan oleh ibu bedah yang berusia 50 tahun dan bapak soleh yang berusia 56 tahun.
“pekerjaan sebagai petani ya pilihan terakhir kita neng karena kalo kita pergi ke kota juga gak bisa kerja apa apa karena usianya udah tua jadi ya mau gamau kita kerja didesa aja jadi petani untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari neng walaupun kadang dapet uang juga sih dari anak ibu84”
Keempat adalah Status perkawinan yang berpengaruh terhadap persepsi pemuda di sektor pertanian. Pemuda yang telah menikah maka mempunyai tanggunggan terhadap keluarganya dan harus memberikan nafkah tentunya.
Maka pilihan utamanya adalah bekerja di sektor pertanian sebagai buruh tani, penggarap sawah, penyewa, atau pemilik sawah. Walaupun bekerja sebagai petani belum juga mencukupi kebutuhan mereka tetapi mereka mempunyai pekerjaan sampingan seperti menjadi tukang bangunan ,tukang ojek dan lain sebagainnya. Sedangkan pemuda yang belum menikah dapat memilih jenis pekerjaan sesuai dengan keinginan dan kemempuan mereka tentunya.
Minat Bekerja Di Kota
Pemuda yang bekerja di sektor pertanian terlihat rendah. Ini karena mereka menganggap pekerjaan ini melelahkan. Penghasilan yang didapat dari pekerjaan ini rendah atau sedikit. Oleh karena itu, pemuda pergi ke kota dengan tujuan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Daerah perkotaan pada umunya membuka kesempatan kerja dengan upah yang lebih besar daripada daerah pedesaan sehingga menjadi daya tarik untuk memperbaiki taraf
84 Hasil Wawancara denga Ibu Bedah, pada tanggal 07 Februari 2018 Pukul 13.30
hidupnya dengan bekerja di kota. Minat yang sangat tinggi untuk bekerja dikota yang dikemukakan oleh para pemuda di Desa Pameungpek, walaupun hanya menjadi tukang kulu bangunan atau penjaga toko untuk yang perempuan hal itu sangat di minati oleh para pemuda dari desa, dibandingkan harus bekerja di desa menjadi petani di sawah dan menggarap sawah.