Sejarah Padepokan Pancawarna
Sumber: Analisis Peneliti (2018)
Penutup
Padepokan Pancawarna yaitu padepokan yang bergerak pada bidang kesenian debus yakni kesenian warisan para leluhur pendahulu. Kesenian debus di Desa Pameungpeuk pada awalnya dilakukan untuk penyebaran agama islam. Secara turun temurun debus pun di wariskan dan saat ini Emban Sobana diamanahkan menjadi ketua Padepokan Pancawarna. Kesenian debus merupakan sinkretisme antara agmaa dan budaya karena didalamnya terdapat tradisi-tradisi leluhur dan islamisasi pada kesenian debus. Padepokan Pancawarna sampai saat ini mengalami beberapa perubahan untuk tetap eksis di zaman modern ini, tetapi adat dan tradisinya tidak ditinggalkan, karena bagaimana pun juga debus ini merupakan warisan dari leluhur pendahulu. Perubahan yang dialami mulai dari
memodifikasi trik sulap saat debus berlangsung, hingga acara-acara diluar acara adat. Kang Emban sebagai Ketua Padepokan Pancawarna terus memodifikasi debus agar tetap eksis di kalangan masyarakat.
Daftar Pustaka
Bruinesen, M. V. (1992). Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. Bandung: Mizan.
Elly M, S. (2007). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Kebudayaan, D. P. (1997). Sejarah Daerah Jawa Barat. Jakarta: Balai Pustaka.
Miles, M. (2007). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press.
Rostiyati, A. (2004). Potensi Wisata di Daerah Pameungpeuk Kabupaten Garut.
Bandung: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Sutjianingsih, S. (1995). Kota Pelabuhan Jalan Sutra. Banten: Dirjen Kebudayaan dan Sejarah Nilai-Nilai Tradisional.
Tasmuji. (2011). Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar.
Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.
Whibiksana, I. (2015). Eksistensi Seni Bela Diri Debus dalam Budaya Serang Banten.
Bandung: FISIP Universitas Pasundan.
Yunus, M. (1989). Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung Zainal, A. (2007). Anilisis Konseptual. Jakarta: Raja Grafindo.
---oOo---
Bab 3
Eksistensi Pencak Silat Sebagai Sebuah Seni Bela Diri: Studi Kasus Pencak Silat Putra Siliwangi di Desa Pameungpeuk, Garut
Abstrak
Terdapat berbagai macam bela diri (self defense) yang ada di Indonesia, salah satunya adalah pencak silat. Pencak silat berasal dari dua kata yaitu pencak dan silat. Pencak berarti gerak dasar beladiri yang terikat pada peraturan. Silat berarti gerak beladiri sempurna yang bersumber pada kerohanian. Pencak silat yang tedapat di Indonesia tidak hanya satu macam, namun terbagi dalam berbagai aliran berdasarkan daerah dan perguruan, salah satunya adalah Pencak Silat Putra Siliwangi yang terdapat di Desa Pameungpeuk, Kabupaten Garut. Pencak Silat Putra Siliwangi memiliki salah satu keunikan, yaitu gerakan pencak silat yang diiringi oleh kelompok pemain alat musik atau anggota pengiring lagu disebut juga sebagai Nayaga. Karena keunikan tersebut, Pencak Silat Putra Siliwangi tidak hanya disebut sebagai bela diri, namun seni bela diri karena di dalamnya terdapat unsur seni berupa gerakan yang selaras dengan alunan musik. Pencak Silat Putra Siliwangi masih tetap eksis di Kabupaten Garut dan sekitarnya ditengah redupnya aliran pencak silat di daerah dan perguruan yang lain. Hal tersebut yang coba dijelaskan dalam penelitian ini, yaitu eksistensi pencak silat sebagai sebuah seni bela diri.
Kata Kunci: Bela Diri, Eksistensi, Seni
Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beragam suku bangsa.
Masing-masing suku bangsa memiliki keunikan yang membedakannya dengan suku bangsa lainnya. Keunikan tersebut dapat terlihat dari adat-istiadat, kesenian, bahasa, kepercayaan, maupun kebiasaan yang dimiliki suatu suku bangsa yang dipegang teguh oleh masyarakat di tiap-tiap daerahnya.
Keanekaragaman kebudayaan tersebut menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat yang multikultural. Manusia, masyarakat, dan kebudayaan berhubungan secara dialektik. Ketiganya berdampingan dan berimpit saling
meciptakan dan meniadakan. Di satu sisi manusia menciptakan sejumlah nilai bagi masyarakat. Di sisi lain, secara bersamaan manusia secara kodrati senantiasa berhadapan dan berada dalam masyarakat. Kebudayaan yang ada dalam masyarakat merupakan nilai tertentu yang dijadikan pedoman bagi masyarakat yang mendukung kebudayaan tersebut. Oleh karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat.
Salah satu bentuk kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia adalah kesenian. Kesenian menjadi sebuah sarana untuk mengekspresikan rasa keindahan di dalam jiwa manusia. Selain sebagai hiburan di tengah masyarakat, kesenian juga memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sehingga terus dikembangkan. Setiap daerah di Indonesia memiliki kesenian yang khas, misalnya di Kabupaten Garut. Kabupaten Garut terletak di sebelah tenggara provinsi Jawa Barat. Kabupaten Garut yang secara geografis berdekatan dengan Kota Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat, merupakan daerah penyangga dan hinterland bagi pengembangan wilayah Bandung Raya. Oleh karena itu, Kabupaten Garut mempunyai kedudukan strategis dalam memasok kebutuhan warga Kota dan Kabupaten Bandung, sekaligus berperan di dalam pengendalian keseimbangan lingkungan.
Kabupaten Garut memiliki kesenian tradisional yang khas melekat di dalam masyrakatnya. Kesenian tersebut di antaranya, Dodombaan, Surak Ibra, Lais, Bangkulung, Badeng, Debus, Gesrek, Hadro, Cigawiran , Rudat, dan Pencak Silat. Pencak Silat merupakan salah satu kesenian yang berasal Jawa Barat, tepatnya dari daerah Cimanuk, Kabupaten Garut. Selain itu, pencak silat juga merupakan ciri khas etnis Sunda. Pencak silat berasal dari dua kata yaitu pencak dan silat. Pencak berarti gerak dasar beladiri yang terikat pada
dikategorikan sebagai bentuk olah raga, alat untuk bela diri, maupun kesenian yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Pencak silat, secara luas, sudah dikenal di seluruh wilayah Indonesia, bahkan mulai berkembang di negara tetangga.
Eksistensi pencak silat semakin berkembang. Semakin banyak perguruan- perguruan pencak silat yang memperkenalkan kesenian ini kepada masayarakat yang semakin modern. Salah satu perguruan pencak silat yang ingin terus melestarikan kesenian ini adalah Perguruan Pencak Silat Putra Siliwangi yang berpusat di Kabupaten Garut.
Metodologi Penelitian
Dipilihnya Pencak Silat sebagai objek penelitian karena peneliti ingin melihat bagaimana Pencak Silat di Desa Pameungpeuk dapat eksis dan bertahan sebagai sebuah budaya lokal di zaman modern saat ini. Sasaran informan kami adalah Tokoh Desa Pameungpeuk, Tokoh Pencak Silat di Desa Pameungpeuk, Pelatih Pencak Silat di Pameungpeuk, dan murid dari perguruan Pencak Silat di Pameungpeuk. Penelitian ini dilakukan di Desa Pameungpeuk, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada tanggal 5-9 Februari 2018. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan berupa: (1) data primer yang diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara mendalam; (2) data sekunder yang didapat dari profil wilayah desa, jurnal, tulisan ilmiah, dan dokumen terkait topik penelitian.
Sejarah Pencak Silat Putra Siliwangi Desa Pameungpeuk
Pencak Silat Putra Siliwangi Desa Pameungpeuk berdiri pada tahun 2017.
Perguruan tersebut masih terbilang muda karena Pencak Silat Putra Siliwangi yang ada di Desa Pameungpeuk adalah tingkat ranting. Urutan tingkatan tersebut antara lain, Pusat, Induk, lalu Ranting. Tingkat Pusat adalah tingkatan yang paling tinggi dan besar pada Perguruan Pencak Silat Putra Siliwangi.
Tingkatan ini terletak di Kota Garut. Sedangkan tingkat Induk adalah turunan
dari tingkat Pusat. Tingkat Induk terletak di Kecamatan Cikajang. Tingkat Induk membawahi tingkat Ranting yang terletak di Desa Pameungpeuk.