Timeline permasalahan sampah di Desa Pameungpeuk
Sumber: Analisis Peneliti (2018)
Pro-kontra rencana pembuatan TPA di Desa Pameungpeuk
Rencana pembuatan TPA tidak serta merta berjalan dengan mulus. Terdapat pro-kontra yang terjadi di masyarakat dan sekiranya juga menjadi penghambat pembuatan TPA di Desa Pameungpeuk. Beberapa masyarakat yang mendukung atau pro terhadap rencana pembangunan TPA ini mengetahui bila dibangun TPA maka berdampak pada kebersihan lingkungan jangka panjang yang nantinya akan dirasakan masyarakat di Desa Pameungpeuk. Selain itu, masyarakat juga paham bahwa dengan adanya TPA kondisi kebershan lingkungan lebih terkontrol.
Pertumbuhan Penduduk Meningkat Signifikan
Permasalahan Sampah dimulai karena tidak
ada TPA
Warga RW 07 berinisiatif membuang sampah
di lahan kosong
Masyarakat Berinisiatif membuat bak
sampah
Pembangunan jembatan penghubung desa Pameungpeuk dan
Mandala kasih
Upaya perobohan
jembatan Pameungpeuk –
Mandalakasih
Berdirinya TPS di Pasar Pameungpeuk Memasukkan ke dalam proker
Rencana Pembangunan TPA dan sosialisasi ke warga
2000-an
2007
2009-2010
2011
2015
2018
Gambar 5.1 Peta Timbunan Sampah
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)
Manusia tidak dapat hidup tanpa tergantung dengan alam. Ini juga yang menjadi alasan masyarakat yang mendukung penuh rencana pembuatan TPA di Desa Pameungpeuk, karena dengan adanya TPA otomatis keseimbangan ekologi akan terjaga. Selain itu masyarakat juga merasa sudah menjadi masyarakat yang baik karena sudah mematuhi regulasi yang ada. Pro-kontra seperti 2 sisi mata uang yang berbeda. Jika ada masyarakat yang pro, tentu ada juga masyarakat yang kontra terhadap rencana pembuatan TPA. Seperti Bu Beti yang mengaku lebih nyaman membuang sampah ke sungai, karena dengan adanya TPA menurut beliau sangat mengganggu kenyamanan dari bau yang ditimbulkan oleh sampah-sampah tersebut. Selain itu, pembuatan TPA memiliki prosedur yang panjang sehingga membingungkan masyarakat. Jadi, mereka lebih memilih membuang sampah di sungai yang dirasa lebih praktis.
Tabel 5.1
Pro dan Kontra dibangunnya TPA
Pro Kontra
Dampak positif jangka panjang Terganggu kenyamanan warga Lingkungan terkontrol Rumitnya prosedur pembuatan
TPA Keseimbangan ekologi terjaga
Mematuhi regulasi yang ada
Sumber: Analisis Peneliti (2018)
Dampak Sosial dan Ekologis dari Ketiadaan TPA (Tempat Pembuangan Akhir)
• Dampak Sosiologis
Ada dua sisi dampak sosiologis dari ketiadaan TPA yaitu ada sisi positif dan negatif. Sisi positif nya adalah dengan tidak adanya TPA di Desa Pameungpeuk ini meningkatkan kesadaran sosial bagi penduduk di Desa Pameungpeuk, terutama di RT O7 dan di Pasar Pameungpeuk. Penduduk di RT 07 berinisiatif untuk membuat TPAS (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) berbentuk sebuah lubang yang digali di dekat pertanian untuk penduduk RT 07 membuang sampah. TPAS dibuat oleh penduduk RT 07 sekitar tahun 2007 pada masa jabatan ketua RT Pak Ade Safari. Pada masa jabatan beliau, bukan hanya penduduk di RT 07 saja yang membuang sampah di TPAS RT 07 namun penduduk di luar RT 07 juga membuang sampah disana dikarenakan lokasi TPAS masih terjangkau oleh penduduk diluar wilayah RT 07. Terdapat 2 lubang sampah yang dibuat oleh penduduk RT 07, kedalaman lubang yang dibuat kira-kira 2 meter dan posisi lubang sampah tersebut berada di dekat sungai irigasi dan pertanian di RT 07.
Sampah yang dibuang dilahan kemudian dibiarkan sampai menumpuk kemudian dibakar oleh penduduk setempat. Pembakaran sampah yang dilakukan penduduk RT 07 ini juga tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar, misalnya pertanian. Dampak negatif yang ditimbulkan hanya bau tidak sedap dari asap pembakaran sampah, namun penduduk sekitar pun tidak mempermasalahkan hal tersebut.
“Kalo dampak buat pertanian gak ada sih ya, semuanya lancar-lancar aja. Paling awal-awal pas dibikin lubang sampah penduduk belum bisa beradaptasi sama bau asap pas sampah tersebut dibakar, tapi sekarang udah biasa aja sih, udah terbiasa dengan bau asap bakar sampah gitu”45 Kesadaran sosial yang timbul dari penduduk Desa Pameungpeuk pun meluas bukan hanya di RT 07 saja namun di beberapa rumah diluar wilayah RT 07 juga ada yang membakar sampah di depan rumah. Beberapa penduduk berfikir bahwa lebih baik membakar sampah daripada membuang sampah di sungai, karena dengan membakar sampah tidak menimbulkan dampak negatif seperti halnya membuang sampah di sungai yang menimbulkan dampak negatif di kedepannya. Penduduk di Desa Pameungpeuk pun memilah sampah yang ingin dibakar, kebanyakan sampah yang dibakar adalah sampah kering lalu dibakar bersama dengan daun-daunan kering, sedangkan sampah non-organik beberapa di daur ulang untuk pupuk kompos, dan sampah seperti botol dari kaca dijual kembali oleh penduduk.
Gambar 5.2
Tempat Pembuangan Akhir Sementara di RT 07
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)
Selain di RT O7, penduduk juga membuat TPAS di Pasar Pameungpeuk sekitar tahun 2015, walaupun masih terbilang baru namun TPAS Pasar Pameungpeuk ini sudah menjadi cara alternatif untuk warga yang tinggal di sekitar Pasar untuk membuang sampah rumah tangganya. Namun, kurangnya dari TPAS ini adalah sampah yang sudah dikumpulkan di TPAS Pasar Pamengpeuk tidak dibakar melainkan di buang ke sungai.
“Kalo disini misalnya sampah udah numpuk ujung- ujungnya dibuang ke sungai juga sih kan kita gak ada TPA, bingung juga mau dilarikan kemana, makanya kita inisiatif dikumpulkan aja dulu daripada dibuang ke pinggir jalan kan mengganggu pemandangan, tapi beberapa sampah yang bisa diolah kembali ya kita olah kembali jadi pupuk, atau dijual lagi gitu”46
Dari ketiadaan TPA ini membangun sebuah pemikiran kesadaran sosial bagi penduduk sekitar dan mereka merealisasikannya. Permasalahan disini adalah beberapa sampah di TPAS pun juga akhirnya dibuang ke sungai dikarenakan tidak ada tempat untuk mengolah semua sampah tersebut, kesadaran sosial yang timbul ini adalah reaksi masyarakat untuk menghadapi permasalahan yang ada yaitu tidak adanya TPA. Namun, dampak sosiologis yang ditimbulkan bukan hanya dari sisi positif saja melainkan ada juga dampak negatif yang ditimbulkan, yaitu habitus membuang sampah sembarangan.
Habitus menurut Pierre Bourdieu adalah struktur mental atau struktur kognitif
46 Hasil Wawancara dengan Ibu Dede pada tanggal 7 Februari 2018 pukul 09.15
yang dengannya orang berhubungan dengan dunia sosial. Secara dialektif, habitus adalah “produk dari internalisasi struktur” dunia sosial.47 Dari ketiadaan TPA ini membentuk struktur kognitif penduduk yaitu budaya membuang sampah sembarangan.
Bagi penduduk di Desa Pameungpeuk, membuang sampah di sungai adalah hal wajar yang dilakukan sebagai bentuk reaksi terhadap permasalahan yang ada.
Dikarenakan tidak adanya TPA dan fasilitas pendukung untuk membuang sampah, sungai menjadi salah satu cara alternatif untuk membuang sampah penduduk karena sampah dapat langsung dihanyutkan. Peneliti pun juga memperhatikan memang adanya bak sampah atau tempat sampah umum yang biasanya ada di pinggir jalan tapi jarang sekali ada di desa Pameungpeuk ini.
“Kalo untuk fasilitas tempat sampah umum memang kita tidak ada, karena kan tidak ada dana yang disalurkan untuk membuat tempat sampah umum. Memang disini dari dulu orang-orang pada buang di sungai sih karena kan sampah langsung dialirkan.”
Walaupun akibat dari pembuangan sampah ke sungai ini dapat mengakibatkan beberapa hal, sebagian warga lebih menyukai membuang sampah ke sungai daripada dibuatkan TPA. Ada beberapa alasan mengapa penduduk sekitar lebih menyukai membuang sampah di sungai, dikarenakan jika membangun TPA hanya akan menimbulkan bau tidak sedap dari tumpukan sampah sehingga menganggu kenyamanan warga. Seperti yang dapat dilihat, kurangnya sosialiasi mengenai dampak jangka panjang yang akan muncul akibat dari pembuangan sampah sembarangan inilah yang membuat penduduk sekitar memiliki hebitus membuang sampah di sungai, seakan-akan sungai adalah jalan satu-satunya solusi mengenai sampah di Desa Pameungpeuk ini. Di sekitar sungai itu sendiri pun dipasang papan larangan yang berisikan “Jangan
penduduk nyatanya tidak memperdulikan hal tersebut dan tetap membuang sampah di sungai.
• Dampak Ekologis
Selain dampak sosiologis, ada dampak ekologis juga yang ditimbulkan dari ketiadaan TPA ini baik dari sisi positif maupun negatif. Dampak positifnya adalah dengan memiliki habitus membuang sampah di sungai, lingkungan sekitar pun nampak bersih. Peneliti pun melihat baik itu di sekitar pekarangan warga maupun di sekitar jalan, jarang sekali ada sampah berserakan kecuali di tempat-tempat yang memang sengaja dibuat untuk menumpuk sampah.
Mungkin orang-orang pendatang yang melihat sekilas lingkungan di Desa Pameungpeuk ini beranggapan bahwa desa ini bersih dari sampah, namun jika ditelusuri lebih jauh akan terlihat titik-titik penumpukan sampah, biasanya di sekitar sungai. Habitus yang dimiliki oleh penduduk sekitar yaitu membuang sampah di sungai membuat sampah-sampah penduduk langsung dialirkan menuju pantai Sayangheulang yang dimana hal ini juga akan merusak pemandangan di pantai tersebut.
“Aliran sungai disini kan mengalirnya nanti ke pantai namanya pantai Sayangheulang, nah sampah-sampah kemungkinan akan menuju kesana. Pantai itu juga rencana mau dibuat pariwisata kaya pantai Santolo buat para turis atau pendatang baru”48
Selain merusak estetika pariwisata yang akan dibangun, sampah yang akan mengalir ke pantai ini juga akan menyebabkan pencemaran air, udara maupun tanah. Jika pantai tersebut nantinya akan dibangun untuk pariwisata seharusnya terbebas dari sampah-sampah berserakan karena akan menimbulkan kesan negatif bagi para wisatawan yang akan berkunjung.
Pembuangan sampah sembarangan ini pun juga menyebabkan pencemaran udara yaitu yang berasal dari asap pembakaran sampah penduduk dan juga bau tidak dari timbunan sampah lama yang tidak diurus oleh penduduk setempat.
48 Hasil Wawancara dengan Pak Ade Safari, pada tanggal 7 Februari 2018 pukul 09.50
Ada beberapa titik timbunan sampah yang dibiarkan sehingga menimbulkan bau tidak sedap. Dengan kata lain, kesadaran sosial yang terbangun di Desa Pameungpeuk hanya berlaku oleh sebagian warga saja, beberapa diantaranya tenggelam oleh habitus mereka sehingga timbulah perasaan apatis akan lingkungan sekitar.
Selain menyebabkan pencemaran dan merusak estetika pariwisata, dari ketiadaan TPA ini juga mengganggu kegiatan pertanian lebih tepatnya di aliran irigasi. Beberapa penduduk membuang sampah di aliran irigasi sehingga hal tersebut membuat tanah irigasi yang seharusnya untuk bertani pun tercemar.
Tanah irigasi yang biasanya digunakan untuk bertani menanam padi pun rusak dikarenakan sampah yang menumpuk, sehingga tidak bisa digunakan untuk menanam padi. Tentunya hal ini menyebabkan kerugian terhadap petani setempat jika mengalami hal seperti ini, namun di lain sisi petani-petani ini tidak bisa langsung menyalahkan penduduk setempat yang berbuat sedemikian rupa dikarenakan lingkungan dan keadaan yang memaksa penduduk untuk melakukan perbuatan tersebut.
Dampak negatif lainnya adalah dengan membuang sampah di sungai akan menyebabkan banjir di Desa Pameungpeuk. Peneliti pun melihat beberapa papan betuliskan “Jalur Evakuasi” di tempat yang dekat dengan sungai.
Menurut penduduk di sekitar sungai, banjir di Desa Pameungpeuk bisa mencapai 2 meter sampai menutupi sebagian rumah warga.
“Disini mah kalo banjir bisa sampe atas genteng neng, soalnya kan airnya dari sungai, sungai dari laut apalagi kalo lagi pasang jadi permukaan air lebih tinggi dari biasanya, makanya kadang banjir. Tapi sampah disini bukan penyebab utama terjadinya banjir juga, tapi karena air laut juga lagi pasang”49
Walaupun sampah bukan merupakan penyebab utama terjadinya banjir, namun sampah tetaplah menimbulkan dampak negatif bagi penduduk sekitar Desa Pameungpeuk.
Penutup
Unsur sosial dan ekologi adalah kedua hal yang saling bergantung dan berhubungan satu sama lain. Kedua unsur tersebut saling membutuhkan dan saling bersinergi untuk membuat lingkungan terasa lebih nyaman. Lingkungan membutuhkan aktor-aktor sosial untuk pelestarian, perawatan begitu juga unsur sosial membutuhkan ekologi untuk keberlangsungan hidupnya. Desa Pameungpeuk merupakan perwujudan dari keterkaitan antara unsur sosial dan ekologi, sehingga jika terjadi disfungsi dari unsur sosial akan mempengaruhi unsur ekologinya. Ketidaan TPA yang terjadi di Desa Pameungpeuk ini berasal dari Pemerintah Daerah setempat yang memang tidak memfasilitasi tempat sampah di Desa ini, disebabkan juga oleh beberapa faktor mengapa perencanaan pembuatan TPA akan selalu jadi rencana dari beberapa tahun yang lalu bahkan semenjak Desa ini terbentuk. Unsur ekologi membutuhkan unsur sosial begitu juga sebaliknya. Dampak yang ditimbulkan dari ketiadaan TPA ini baik positif maupun negatif merupakan hasil sinergi dari kedua unsur tersebut, baik itu positif maupun negatif.