• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Pemerintahan Desa Pameungpeuk

Struktur Pemerintahan Desa Pameungpeuk

STRUKTUR PEMERINTAHAN DESA PAMEUNGPEUK KECAMATAN PAMEUNGPEUK KABUPATEN GARUT Berdasarkan : PP No.72 Tahun 2005

B P D

A.MACHMUD

Kasi Pemerintahan

DADANG ROHYAMAN

KEPALA DESA

DASEP RAHMAT,S.Pd.I

Kasi Ekbang ATANG KOMARUDIN

Kasi Kesra ANDI WIJAYA.K

SEKRETARIS

RISMAN RIDLO.R

Kaur Umum AYU RACHMAWATI Kaur Keuangan

CECEP SUPRIANTO

KADUS I TINO RISNANDI

KADUS II TONI NURATONI

KADUS III HILMAN FIRMANSYAH

RW : 01,02,03,04,09,12

RW : 05,06,07,10,11,14,15

RW : 08, 13

Keindahan alam yang ada pada Pameungpeuk ini bukan hanya ada pada pemandangan sawahnya saja, melainkan adanya gunung dan juga sungai yang melewati Desa Pameungpeuk. Jika berkendara ataupun sekedar berjalan kaki melewai jalan raya maka akan dapat terlihat Gunung berwarna hijau cerah yang terkadang tertutupi oleh kabut, Gunung tersebut dinamakan dengan Gunung Nagara. Lalu jika berjalan ke arah Desa Paas maka akan melewati Sungai yang dinamakan dengan Sungai Mandalakasih. Sungai tersebut merupakan Sungai yang banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar, mulai dari mandi hingga mengairi sawah mereka. Batu-batu besar pun semakin membuat cantik sungai tersebut, namun memang harus berhati-hati ketika sedang musim hujan karena volume air bisa naik dengan cepat.

Gambar 2.2 Sungai Gulanjeng

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)

Uniknya adalah Sungai Mandalakasih dan Gunung Nagara merupakan awal dari terbentuknya Daerah Pameungpeuk. Seperti yang diberitahukan oleh salah satu Informan kami yaitu Pak Jujun, beliau berkerja di Kantor Kecamatan Pameungpeuk sekaligus aktif sebagai seorang seniman budaya sunda yang

Nagara yang berada di Desa Bojong. Gunung tersebut masih jarang untuk disentuh leh manusia karena disakralkan oleh warga sekitar, bahkan pesawat terbang pun tidak diperbolehkan untuk melintas di atas Gunung tersebut.

“Gunung Nagara itu sakral, jika kalian tidak menjaga omongan disana maka akan celaka. Pesawat pun tidak boleh lewat di atas gunung tersebut karena jika ada yang terbang di atas gunung tersebut maka pesawat tersebut bisa terjatuh.”18

Jika dilihat sekilas memang Gunung tersebut terlihat sangat asri pertanda jarang dijamah manusia. Mitos yang ada tentang kesakralan Gunung tersebut pun membuat semakin jarangnya warga sekitar untuk memasuki Gunung tersebut. Lalu ada Sungai Cipalebuh. Sungai ini sebenarnya adalah Sungai Mandalakasih, namun dahulu dinamakan Sungai Cipalebuh. Aliran Sungai ini membentang sangat jauh, melewati berbagai desa di Pameungpeuk. Airnya pun bisa dibilang jernih dan hanya sedikit sampah yang berada di aliran Sungainya.

Pada tahun 1828 ada salah tokoh yang bernama Mbah Ibrahim. Beliau mengumpulkan para rakyat-rakyat untuk berkumpul dan meminta untuk membantunya. Dia mengatakan bahwa ia ingin membelokan Sungai Cipalebuh tersebut.

Sekitar tahun 1828 ada leluhur yang bernama Mbah Ibrahim. Dia datang membawa rahayat untuk membantunya membelokan walungan. Jadi dia meminta bantuan rakyat desa untuk membelokan aliran sungai.”19 Mbah Ibrahim bersama warga desa lain membelokan aliran Sungai bukan menggunakan tanah ataupun kayu, mereka membelokannya menggunakan batu karang. Dahulu Gunung Nagara dihimpit oleh batu karang yang besar, dan disanalah Mbah Ibrahim beserta warga yang lain mengambil batu karang yang digunakan untuk membelokan aliran sungai.

18 Hasil wawancara dengan Pak Jujun Dimyati tanggal 7 Februari 2018 pukul 11.00

19 Hasil wawancara dengan Pak Jujun Dimyati tanggal 7 Februari 2018 pukul 11.05

“Dulu sebelah kiri dan kanan dari Gunung Nagara kan batu karang. Nah Mbah Ibrahim dan para rakyat yang lain menggunakan itu untuk membelokan aliran Sungai Cipalebuh yang tadinya lurus membentang menjadi membelok.”20

Cara yang digunakan oleh Mbah Ibrahim dan para warga desa yang lain untuk membelokan aliran sungai Cipalebuh adalah dengan cara batu karang tersebut dipadatkan atau ditumpuk sehingga aliran sungai Cipalebuh tidak dapat menembus tumpukan batu tersebut dan membuat aliran sungai menjadi belok.

“Mereka menggunakan batu karang tersebut dengan cara dipadatkan atau ditumpuk sehingga aliran sungai tidak bisa lewat. Ketika aliran sungai tidak bisa lewat maka akan menjadi berbelok ke arah samping.”21

Ketika aliran Sungai Cipalebuh sudah berbelok, maka daerah yang dulunya merupakan lokasi aliran sungai menjadi kering. Daerah yang kering itulah yang menjadi Desa Pameungpeuk sekarang ini. Nama Pameungpeuk itu sendiri diambil dari kata pempeuk yang berari dipadatkan atau ditumpuk, sehingga jadilah nama Desa Pameungpeuk.

Sungai yang awalnya lurus pun dapat dibelokan dengan cara menutup saluran air dengan batu yang dipadatkan atau ditumpuk. Dalam bahasa sunda dipadatkan itu dipempeuk. Jadi nama Desa Pameungpeuk itu diambil dari kata pempeuk itu sendiri.”22

Sejarah Padepokan Pancawarna

Padepokan Pancawarna yaitu padepokan yang bererak pada bidang kesenian debus yakni kesenian warisan para leluhur pendahulu. Pengertian mengenai debus sangat bervariasi, di antaranya ada yang berpendapat bahwa istilah debus berasal dari bahasa Arab yaitu “Dabbas” yang berarti sepotong besi yang

runcing yang dianalogikan dengan jarum.23 Padepokan Pancawarna berdiri pada tahun 1973, diketuai oleh Emban Sobana atau yang akrab disapa dengan Kang Emban. Filosofi dari nama pancawarna yaitu panca itu artinya 5, warna itu artinya rupa, jadi 5 rupa yang berlandaskan pada 5 rukun islam. Kang Emban meneruskan Padepokan Pancawarna secara turun temurun. Ilmu debus yang diberikan oleh Ayahnya Kang Emban yaitu Pak Mian diwariskan kepada Kang Emban sedari umur 6 tahun. Kang Emban kini berusia 58 tahun, sehingga ilmu debusnya pun semakin matang.

Gambar 2.3

Lambang Padepokan Pancawarna

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)

Pada awalnya kesenian debus ini dibawa oleh K.H Aripudin pada tahun 1912.

Beliau merupakan ulama yang datang dari Pakistan. K.H Aripudin menyebarkan agama islam melalui dakwah yang medianya adalah kesenian debus. Cara yang dilakukan K.H Aripudin dalam menyebarkan agama islam yakni pada saat masyarakat ingin menonton pertunjukan debus, tiket masuknya dibayar dengan 2 kalimat syahadat.

23 Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, hal 277.