K.H Aripudin mewariskan ilmu debus ini kepada Ayahnya Kang Emban yaitu Pak Mian. Setelah Pak Mian menguasai ilmu debus, tiba-tiba K.H Aripudin menghilang dan tidak ada kabar sampai saat ini. Mulai dari situlah Pak Mian mengamalkan ilmu debus dan mewariskan pada yang masih sehubungan darah, terutama anaknya. Pak Mian mewariskan ilmu debus sepenuhnya pada Kang Emban. Pada tahun 1991 Pak Mian meninggal dunia dan secara tidak langsung Padepokan Pancawarna dipegang oleh Kang Emban sampai saat ini.
Namun setelah Ayahnya Kang Emban meninggal, Kang Emban dalam meneruskan Padepokan Pancawarna ini ragu akan pengucapan lafaz bismillah.
Lafaz bismillah pengucapannya yaitu “Bismilah ni rakhman ni rakhim”, lalu Kang Emban menemui tokoh ulama MUI pada saat itu yaitu K.H. Hamami.
Sampai saat ini Padepokan Pancawarna dilanjutkan oleh Kang Emban. Seiring dengan perkembangan zaman kesenian debus di Padepokan Pancawarna mengalami modifikasi. Modifikasi yang dilakukan oleh Kang Emban yaitu debus tidak selalu menampilkan pertunjukan dengan menyayat-nyayat tubuh dengan golok, tetapi saat ini dimodifikasi oleh Kang Emban seperti trik sulap.
Berikut ini hasil wawancara yang dilakukan oleh Kang Emban:
“Saya tu mikir kan gimana caranya debus ini tetep eksis dizaman yang modern ini. Saya tu ngeliat kayaknya orang- orang kalo liat demian tu yang pesulap tampil di tv itu loh kok orang-orang lebih antusias gitu. Yaudah saya modifikasi aja debus sama trik-trik sulap. Contohnya ya kayak saya mainin tali, saya ditarik pake tali tapi dalam hitungan detik saya bisa lepas. Lalu juga seperti saya di masukan kedalam ruangan sempit yang ada benda-benda tajamnya tiba-tiba saya menghilang dan ada di antara penonton”.24
Berdasarkan wawancara tersebut, dapat dilihat bahwa Kang Emban berusaha untuk mempertahankan kesenian debus di era modern ini. Dengan memodifikasi debus ini dengan trik sulap membuat penonton lebih antusias
24 Hasil wawancara dengan Kang Emban Sobana tanggal 8 Februari 2018 pukul 13.00
dalam melihat pertunjukan debus ini. Kang Emban pun sampai saat ini terus mencari cara agar eksistensi debus terus bertahan di era modern ini. Kang Emban tidak meninggalkan tradisi-tradisi debus hanya saja memberikan inovasi-inovasi baru sesuai perkembangan zaman agar lebih menarik lagi.
Padepokan Pancawarna pun kini sudah jarang muncul di acara-acara adat seperti pernikahan dan khitanan. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Pameungpeuk saat acara pernikahan lebih sering menggunakan organ musik daripada debus untuk acara hiburannya. Saat ini debus lebih sering ditampilkan pada saat menyambut kedatangan tamu kehormatan seperti bupati, gubernur dan stakeholder pemerintah yang sedang berkunjung ke Desa Pameungpeuk.
“Sekarang tu debus udah jarang kalo acara nikahan mah, keseringan acara-acara nyambut pemerintahan yang dateng tea atuh. Belum lama ini Pancawarna tampil di Unpad neng, padjajaran tea yang ada di Bandung. Nyambut hari jadi Unpad yang ke-51. Seneng rasanya dari sekian banyak debus di garut yang dipilih Pancawarna ini.”.25
Padepokan Pancawarna sampai saat ini mengalami beberapa perubahan untuk tetap eksis di zaman modern ini, tetapi adat dan tradisinya tidak ditinggalkan, karena bagaimana pun juga debus ini merupakan warisan dari leluhur pendahulu. Perubahan yang dialami mulai dari memodifikasi trik sulap saat debus berlangsung, hingga acara-acara diluar acara adat. Kang Emban sebagai Ketua Padepokan Pancawarna terus memodifikasi debus agar tetap eksis di kalangan masyarakat.
Islamisasi Seni Debus
Saat belum masuknya Agama Islam di Pameungpeuk, masyarakat masih menganut sistem kepercayaan leluhur. Mereka masih percaya dan berdoa
Islam, beliau hijrah dari Palestina dan hingga akhirnya sampai di Garut untuk menyebarkan Agama Islam. Karena memang di pameungpeuk sendiri debus bukan disebarkan oleh orang sunda, oleh karena itu penamaan debus menggunakan bahasa arab, bukan bahasa sunda. Debus sendiri berarti
“Dabhas” yang berarti sepotong besi yang runcing dan dianalogikan dengan jarum. Ada juga yang berpendapat istilah debus berasal dari kata benda yaitu
“Al Madad”, yaitu besi runcing seperti paku besar
“Dulu kan disini bisa dibilang masih bar-bar ya sebelum agama islam masuk. Lalu Pada tahun 1992 ada orang Palestina yang bernama Kyai Haji Aripudin. Beliau datang dari Palestina ke sini untuk menyebarkan agama islam.”26 Beliau menggunakan cara yang cukup menarik untuk menarik perhatian warga pada saat itu. seperti kita tahu Wali Songo menyebarkan agama islam di Jawa dengan menggunakan media kesenian wayang dan syair. Sama halnya dengan Wali Songo, Kyai Haji Aripudin pun menyebarkan Agama Islam dengan media kesenian daerah yaitu debus.
“Kalo Wali Songo kan menggunakan wayang ya untuk menyebarkan islam. Nah kalau Kyai Haji Aripudin menyebarkan islam dengan cara lewat Kesenian Debus.
Dengan cara itu masyarakat sekitar menjadi lebih tertarik dan ingin mempelajari lebih jauh tentang islam.”27
Kyai Haji Aripudin menyebarkan Agama Islam lewat media Debus dengan cara, setiap orang yang akan menonton Debus maka ‘tiket’ yang harus dibayar adalah dengan menyebut dua kalimat syahadat. Jika sudah mengucapkan dua kalimat syahadat maka orang tersebut boleh memasuki tempat dimana kesenian debus akan dipertontonkan. Seperti yang kita ketahui syarat untuk menjadi muslim adalah dengan membaca dua kalimat syahadat, dan ketika sudah membaca kalimat syahadat orang tersebut sudah menjadi muslim.
Karena debus tersebut dipertontokan diruangan tertutup maka masyarakat
26 Hasil wawancara dengan Kang Emban Sobana tanggal 8 Februari 2018 pukul 14.00
27 Hasil wawancara dengan Kang Emban Sobana tanggal 8 Februari 2018 pukul 14.20
tidak akan melihat debus jika tidak masuk, dan Kyai Haji Aripudin memanfaatkan itu sebagai metode untuk penyebaran Agama Islam di Pameungpeuk.
”Cara yang dilakukan oleh beliau adalah, jika ada yang mau menonton debus maka syarat atau tiketnya adalah dengan membaca dua kalimat syahadat. Jika sudah membaca dua kalimat syahadat tersebut maka orang tersebut diperbolehkan untuk menonton. Nah itu juga salah satu alasan mengapa debus dilakukan di tempat tertutup, agar orang tidak dapat sembarangan menonton, yang ingin menonton harus membaca dua kalimat syahadat dulu baru boleh masuk ke area pertuntukan debus.” 28
Jika dipikirkan lebih dalam, pertunjukan debus yang dilakukan di dalam tempat tertutup juga berfungsi menarik perhatian warga karena penasaran dengan pertunjukan yang terjadi di dalam. Karena bila dilakukan di ngan cara ceramatempat terbuka orang dapat menonton dan tidak akan menimbulkan rasa penasaran. Dari rasa penasaran itu lah warga banyak yang berminat untuk menonton debus dan akhirnya menjadi muslim. Kyai Haji Aripudin pun bukan hanya sekedar membuat masyarakat Pameungpeuk masuk Islam tanpa memberikan pengetahuan tentang Islam lebih jauh. Beliau juga melakukan kegiatan dakwah dengan cara ceramah sebelum pertunjukan Debus berlangsung. Dari situ lah beliau memberikan pengetahuan lebih dalam tentang Islam secara publik. Setelah ceramah selesai baru lah pertunjukan Debus dipertunjukan sebagai hiburan.
“Untuk membuat masyarakat pameungpeuk mengerti lebih dalam tentang agama islam. Kyai Haji Aripudin berdakwah dengan cara ceramah di hadapan para penonton debus sebeleum pertunjukan berlangsung. Beliau memberi pengetahuan tentang islam pada saat ceramah sehingga masyarakat pameungpeuk dapat menjadi muslim yang lebih baik, bukan hanya sekedar muslim. Setelah ceramah
barulah pertunjukan debus dilaksanakan. Bisa dibilang debus itu sebagai hiburan lah.”29
Dalam pertunjukan debus menggunakan berbagai alat musik seperti terbang, kendang, dan lain-lain. alat musik tersebut digunakan agar pertunjukan debus semakin menarik karena jika tidak ada musik membuat pertunjukan debus menjadi kurang menarik. selain itu, dengan adanya musik masyarakat yang lewat pun menjadi penasaran dengan suara musik tersebut dan menjadi semakin penasaran untuk menonton. Kyai Haji Aripudin pun menggunakan nyanyian sebagai media untuk penyebaran dan memperdalam pengetahuan masyarakat pameungpeuk tentang agama islam. Saat pertunjukan debus bukan hanya musik seperti terbang, kendang, dan lain-lain saja yang dimainkan, tetapi ada juga syair. Namun ini bukanlah syair biasa, isi syairnya adalah sholawat.
Ketika debus berlangsung akan ada seseorang yang mensyairkan sholawat dengan diiringi alat musik tersebut.
“Kan saat debus itu diiringi musik, nah selain alat musik kendang, terbang dan yang lain diiringi juga pake syair.
Tapi ini bukan syair biasa, syairnya itu pake sholawat. Jadi sholawat diiringi dengan alat musik tersebut. Kalau begini kan bisa juga sebagai media untuk mempelajari islam lebih dalam untuk masyarakat pameungpeuk yang saat itu baru menjadi seorang muslim.”30
Pernyataan tersebut pun diperkuat oleh salah satu anggota debus dibagian alat musik yang juga masih ada hubungan keluarga dengan Kang Emban, yaitu Kang Ujang. Dia mengatakan bahwa dalam permainan debus memang diiringi dengan musik, bukan hanya permainan debus saja. Dengan diiringi musik pun penonton yang diluar akan semakin penasaran dengan pertunjukan debus yang sedang dilakukan.
“Benar itu kata Kang Emban, saya juga kan salah satu anggota debus yang suka bantu-bantu saat pertunjukan.
Memang di debus itu bukan cuma memperlihatkan debus
29 Hasil wawancara dengan Kang Emban Sobana tanggal 8 Februari 2018 pukul 14.30
30 Hasil wawancara dengan Kang Emban Sobana tanggal 8 Februari 2018 pukul 14.35
saja tapi juga menggunakan alat musik. Contohnya saya sendiri, saya memainkan alat musik terbang. Tapi kalau ketika bermain alat musik saya disuruh untuk menunjukan debus, ya saya langsung tampil.”31
Mempelajari ilmu debus bukanlah hal yang mudah karena banyak rangkaian syarat yang harus dilakukan, salah satu syarat wajib yang harus dilakukan adalah puasa. Namun bukan hanya 1 kali puasa, terdapat beberapa tahapan puasa hingga seseorang dapat menguasai ilmu debus. Mulai dari puasa untuk mendapatkan ilmu kebal dari pukulan, hinga puasa untuk mendapatkan ilmu untuk kebal dari senjata tajam. Dalam hal ini, Kyai Haji Aripudin mengubah puasa masyarakat sunda yang awalnya menggunakan bahasa sunda menjadi bahasa arab. Seperti niat dan bacaan selama puasa yang awalnya menggunakan bahasa sunda, diubah menjadi bahasa arab. Dari sini pun dapat terlihat juga bahwa terjadi islamisasi pada seni debus.
Namun setelah beberapa lama menyebarkan Agama Islam di Pameungpeuk melalui kesenian Debus, Kyai Haji Aripudin hilang begitu saja tanpa diketahui oleh warga sekitar. Kang Emban mengatakan bahwa mungkin saja Kyai Haji Aripudin pergi melanjutkan perjalanannya untuk menyebarkan Agama Islam.
“Beberapa waktu setelah setelah beliau menyebarkan dan memberikan pengetahuan kepada warga tentang Islam, beliau hilang. Sepertinya dia melanjutkan perjalanan untuk menyebarkan Agama Islam ke tempat lain. oleh karena itu disini tidak ada makam beliau.”32
Penyempurnaan pengaruh Islam pada seni debus pun bukan hanya terjadi pada era Kyai Haji Aripudin saja, tetapi juga pada era Kang Emban, informan kami.
Pada awalnya dalam ritual untuk mempelajari debus kalimat awalnya menggunakan kalimat ‘Bismila Ni Rakman Ni Rakim’, sehingga Kang Emban menjadi bingung maksud dari kalimat tersebut. Dia mengatakan bahwa dia
Setelah Kang Emban bertanya perihal Bismila Ni Rakman Ni Rakim kepada Kyai Haji Hamami, beliau mengatakan untuk lebih baik mengganti kalimat tersebut menjadi Bismillahirrahmanirrahim. Penyempurnaan kalimat bismillah tersebut terjadi pada tahun 1996.
Struktur Keanggotaan Padepokan Debus Pancawarna
Kesenian Debus di Pameungpeuk ini beranggotakan sekitar 40 orang, yang diketuai oleh Pak Emban Sobana sebagai Ketuanya, yang memiliki anggota inti sebanyak 9 orang inti, dan 30 lainnya hanya belajar mengenai kesenian debus, tetapi ada juga beberapa yang di jadikan sebagai pemain cadangan.
Gambar 2.4
Pendiri Padepokan Pancawarna
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)
Emban sobana merupakan pendiri padepokan Pancawarna yang ada di Desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Ia bekerja sebagai satpam di Plaza, Pak Emban ini sangat tamatan dari sebuah sekolah menengah atas di Pameungpeuk. Pak Emban tertarik dengan kesenian debus ini sejak dia masih kecil, ketika ia melihat ayahnya melakukan atraksi debus, ia sangat tertarik dan ingin mencoba atraksi debus tersebut. Tetapi ia hanya di perkenalkan ilmu dasar dari kesenian debus. Ketika ia sudah berusia 25 tahun ia mulai di berikan ilmu kekebalan untuk melakukan atraksi debus., tetapi sebelum ia di berikan
ilmu tersebut ia harus melakukan beberapa persyaratan untuk mendapatkan ilmu tersebut. seperti Puasa Mutih, Puasa Ngepel, Puasa Patigenih.
Puasa Mutih ini dilakukan selama tiga hari tanpa berkomunikasi dengan orang lain puasa mutih ini dilakukan dengan hanya memakan nasi putih saja tanpa lauk pauk ketika sahur dan berbuka, selanjutnya ada Puasa Ngepel dilakukan selama 7 hari berturut-turut tanpa berkomunikasi dengan orang lain dan juga hanya makan segenggam nasi putih ketika sahur dan berbuka, yang terakhir ada Puasa Patigenih ini dilakukan selama 40 hari berturut-turut tanpa berkomunikasi dengan orang lain. Setelah semua proses puasa telah terpenuhi calon anggota debus ini akan dimandikan di sungai Gulanjeng pada malam hari sekitar pukul 19:00 mengadakan tasyakuran atas berhasilnya semua syarat yang telah di lewati dengan mengadakan makan-makan bersama warga sekitar atau bahasa sundanya ”ngariung”.