Struktur Aparat Desa Pameungpeuk
Desa Pameungpeuk mempunyai beberapa lembaga Desa yang bergerak dalam berbagai bidang untuk melayani masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan wargaseperti pemerintah desa dan lembaga desa (BPD,BKM, LPM), Keagamaan (NU, Muhammadiyah, Persis, dll), kepemudaan (Karang Taruna), pemberdayaan (PKK, LKM), pertanian (Gapoktan), ekonomi (Koperasi, UPK-BKM) dan kesehatan (Posyandu). Desa ini memiliki luas 608,196 hektar. Secara administrasi Desa Pameungpeuk dibagi menjadi 3 dusun, 15 Rukun Warga (RW) dan 50 Rukun Tetangga (RT). Secara geografis batas wilayah desa Pameungpeuk yaitu sebelah utara : berbatasan dengan Desa Bojong Kidul; sebelah barat : berbatasan dengan Desa Jatimulya; sebelah selatan : berbatasan dengan Samudera Indonesia;dan sebelah timur : berbatasan dengan Desa Paas dan Mandalakasih.
Desa Pameungpeuk dapat dikatakan desa yang telah maju bila dilihat dari sisi kondisi fisik pemukiman masyarakatnya. Namun, ada beberapa Rukun Warga yang masih dikatakan kumuh. Karena beberapa RW ini memiliki akses jalan yang kurang memadai dan rumah-rumah yang tidak layak huni. Ada tiga RW yang dikatakan wilayahnya dijadikan fokus lokasi program Kota Tanpa Kumuh yaitu Rw 11, Rw 14 dan Rw 15. Karena wilayah ini dianggap sebagai kawasan kumuh bila dilihat dari beberapa aspek dan kriteria program Kota Tanpa Kumuh
Gambar 7.1
Fokus Lokasi Program KOTAKU
Sumber : Dokumen Fasilitator BKM (2018)
PNPM dan KOTAKU Desa Pameungpeuk
Sesuai dengan topik penelitian yang kami ambil, kami menemukan beberapa informasi baru dari beberapa narasumber. Salah satunya, yaitu PNPM. PNPM adalah nama yang digunakan dan lebih dikenal oleh masyarakat Desa Pameungpeuk. PNPM merupakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat , program ini dimulai sejak masa pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), PNPM dibuat untuk menanggulangi kemiskinan di Desa terutama melalui sebuah pemberdayaan masyarakat, karena hal tersebut PNPM memiliki dana dari pemerintah untuk setiap desa sebesar Rp.
48.250.000. PNPM ini memiliki 3 fokus permasalahan, pertama ekonomi, dimana hal ini dilakukan dengan memberikan sebuah modal dalam sebuah kelompok masyarakat, satu kelompok masyarakat itu terdiri dari 5 orang yang akan melakukan pinjaman dengan syarat yang telah ditetapkan. Kedua sosial, hal ini dilakukan dengan sebuah sosialisasi tentang mendaurulang sampah dan meningkatkan kreativitas masyarakat desa. Ketiga lingkungan, tapi hal ini baru sebuah perencanaan yang dibuat dan belum ada penerapannya.
Setelah masa jabatan presiden SBY berakhir dan berganti menjadi presiden Joko Widodo, hal tersebut mempengaruhi sistem pemerintahan yang telah ada, seperti PNPM yang berganti nama menjadi KOTAKU. KOTAKU adalah program nasional Kota Tanpa Kumuh dan lebih memfokuskan permasalahan pemukiman kumuh yang ada di desa. Program ini tidak mendapatkan dana sedikitpun dari pemerintah, dan dana yang digunakan selama program ini berjalan hanya berasal dari turunan dana PNPM dan memiliki program kerja yang sama tetapi karena program ini lebih spesifik permasalahan lingkungannya, maka desa terlebih dulu melakukan pendataan terhadap RT/RW yang ada disekitaran desa, yang memiliki permasalahan lingkungan seperti kurangnya tempat sampah, tidak adanya TPA, saluran air yang keruh
yaitu melakukan pelatihan pengolahan sampah, ekonomi melakukan pinjaman kepada masyarakat dan lingkungan membuat MCK, perbaikan jalan, renovasi rumah kumuh. Jadi dari hasil pengamatan dan informasi yang disampaikan informan kami, kami menentukan 3 lokasi yang menjadi fokus dari program KOTAKU, yaitu Tegal Sari (RW 11) di Dusun II, Tanjung Sari (RW 14) di Dusun II, dan Cikoneng Kolot (RW 15) di Dusun III. Ketiga lokasi tersebut memiliki permasalahan lingkungan yang paling buruk daripada kaum-kaum yang ada di Desa Pameungpeuk, dari bangunan rumah, saluran air (drainase) dan TPA yang tidak ada sama sekali.
Tabel 7.1
Perbedaan PNPM dan KOTAKU
No PNPM KOTAKU
1. Terbentuk sejak tanggal September
2006-2015 Berdiri pada Desember 2015-
sekarang 2 Fokus ekonomi dan sosial dalam ranah
meningkatkan partisipasi masyarakat khususnya masyarakat miskin dan perempuan
Meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di kawasan kumuh
3 Dana PNPM yang diperuntukan bagi desa Rp. 48.250.000
Dana berasal dari laba pinjaman bergulir saat PNPM
4 Lokasi mencakup seluruh desa Jumlah keseluruhan fokus lokasi kumuh berjumlah 3 RW
5 Dana PNPM sebesar 5,94 Triliun Modal awal secara keseluruhan berjumlah Rp. 48.250.000
6 untuk sosialisasi dan penyebaran info program melalui forum pertemuan dan memanfaatkan media di berbagai tingkat pemerintahan dan sudah terealisasi secara merata
Sosialisas program melalui forum pertemuan dan memanfaatkan media namun belum berjalan secara menyeluruh
Sumber: Analisis Peneliti (2018) Tiga Program Kota Tanpa Kumuh
Program Kota Tanpa Kumuh memiliki tiga program yang terdiri dari aspek sosial, lingkungan dan Ekonomi. Program kota tanpa kumuh dalam aspek sosial utamanya berupa sosialisasi dan pelatihan untuk memberdayakan masyarakat. Program kota tanpa kumuh dalam bidang lingkungan utamanya berlandaskan pada perbaikan infrastruktur fisik desa. Program kota tanpa kumuh dalam bidang ekonomi utamanya berupa pinjaman modal usaha bagi perkembangan warga desa. Program kota tanpa kumuh dalam bidang sosial merupakan upaya untuk menyadarkan dan memberdayakan masyarakat desa.
Dalam pengimplementasiannya program kota tanpa kumuh di bidang sosial ini berupa pelatihan dan sosialisasi. Sosialisasi yang diberikan bertujuan memberikan pemahaman warda desa Pamengpeuk terhadap masalah dan sumberdaya dimiliki desa Pamengpeuk. Pelatihan yang diberikan merupakan upaya untuk menyelesaikan masalah yang ada di Desa Pamengpeuk.
Dalam realisasinya pelatihan dan soialisasi yang telah dilakukan kota tanpa kumuh di Desa Pamengpeuk sudah berjalan dengan baik dan sesuai kebutuhan serta potensi desa. Pelatihan yang sudah dilaksanakan yaitu; pelatihan pengelolahan sampah, pelatihan pembukuan menggunakan aplikasi, pelatihan olahan daun pandan, pelatihan pengadministrasian kegiatan. Pelatihan pengelolaan sampah dipilih karena di desa Pamengpeuk masih mengalami problem dalam pembuangan, dan daur ulang sampah yang ada di desa Pamengpeuk. Pelatihan pengolahan daun pandan dipilih karena melihan potensi desa yang memiliki cukup banyak lahan yang terdapat tanaman pandan. Pelatihan administrasi dan pelatihan pmbukuan dinilai dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang terdapat di desa Pamengpeuk. Program kota tanpa kumuh dalam bidang lingkungan merupakan upaya untuk melakukan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, lingkungan dan rumah warga yang dinilai kumuh. Dalam
warga yang di nilai kurang layak yang kemudian akan dilakukan renovasi.
Dalam program sebelum kota tanpa kumuh telah memberikan hasil pembangunanMCK umum, drainase, dan perbaikan jalan.
Program kota tanpa kumuh dalam bidang ekonomi merupakan upaya memberdayakan dan mengembangkan usaha masyarakat desa Pamengpeuk dengan pinjaman modal dan berkelompok. Pinjaman modal berkelompok diberikan untuk menumbuhkan usaha informal masyarakat desa. Pijaman kelompok disini dalam sekali pinjaman kelompok terdapat lima anggota dengan tujuan modal usaha yang berbeda dan diwajibkan menyicil untuk mengembalikannya bersama. Dalam implementasinya usaha pinjaman modal bergulir ini tersendak dan terkesan tidak berjalan. Hal ini disebabkan oleh pengembalian pinjaman dari anggota tidak lancar dan bahkan tidak dikembalikan. Ada beberapa penyebab hal ini terjadi, yang pertama karena banyak penggunaan dana usaha yang diberikan tidak sesuai dengan proposal pengjuan pinjaman. Selain itu juga terdaat paradigma masyarakat bahwa dana tersebut merupakan dana hibah dari pemrintah. Selain itu tidak adanya penambahan modal baru dari pemerintah menyebabkan program ini hanya berharap pada perputaran dana awal yang sudah ada. Hal-hal tersebut yang menyebabkan program dalam bidang ekonomi tersendak.
Kebermanfaatan Program KOTAKU bagi Masyarakat Desa Pameungpeuk Keberadaan Program KOTAKU di Desa Pameungpeuk memiliki kebermanfaatan bagi masyarakat, karena memang program KOTAKU itu dicanangkan pemerintah untuk menangani permasalahan di Desa baik dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Program KOTAKU memiliki visi dan misi yang mana di dalamnya bergerak untuk membenahi infrastruktur desa, sarana prasarana dan kualitas hidup masyarakat desa. Program KOTAKU ini memiliki struktur kepengurusan yang mana anggotanya berasal dari
masyarakat desa sendiri yang memiliki kemauan dan kepedulian terhadap kualitas hidup masyarakat pedesaan.
Program KOTAKU ini memiliki 3 fokus dalam pelaksanaannya, yakni pada aspek ekonomi, lingkungan dan sosial. Pada aspek ekonomi , program ini memiliki berbagai kegiatan di antaranya ialah : menyediakan dana pinjaman yang diperuntukkan bagi masyarakat desa yang membutuhkan dana pinjaman, dana ini dikhususkan untuk masyarakat yang relatif kurang mampu dalam hal finansial, kemudian ada bantuan dana bagi masyarakat yang membutuhkan dana untuk membuka usaha lapangan pekerjaan (UMKM). Dana bantuan ini diharapkan dapat membantu masyarakat agar dapat mandiri dengan membuka usaha sendiri atau membuka lapangan pekerjaan yang diharapkan akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Desa Pameungpeuk.
Pada aspek lingkungan terdiri dari berbagai kegiatan di antaranya ialah : pembangunan jaringan jalan, hal ini memegang peranan penting karena pada kenyataannya memang di desa pameungpeuk belum memiliki jaringan jalan yang memadai. Dalam program KOTAKU ini memiliki indikator tersendiri sebagai patokan untuk menentukan daerah fokus pembenahan masalahnya dan untuk jaringan jalan ini seharusnya memenuhi indikator yaitu minimal memiliki lebar jalan kurang lebih 1 meter dan pembenahan ini yang sedang direncanakan oleh program KOTAKU. Kemudian pada kegiatan pemenuhan kebutuhan MCK juga memegang peranan yang krusial, mengingat berdasarkan observasi di lapangan memang masyarakat di Desa Pameungpeuk masing memiliki kebiasaan membuang air besar dan kecil di kali. Tentu hal tersebut bukan merupakan kebiasaan yang sehat karena dikhawatirkan akan menularkan penyakit karena rendahnya tingkat kehigienisan lingkungan.
yaitu kegiatan pemenuhan kebutuhan akan tempat pembuangan sampah.
Berdasarkan wawancara dan observasi di lapangan, Desa Pameungpeuk belum memiliki TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah yang memadai. Warga masih memiliki kebiasaan membuag sampah sembarangan dan bahkan masih ditemukan warga yang membuang sampah di Kali yang mana dari kali tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat desa.
Adapun kegiatan kebermanfaatan pada aspek sosial ialah terdiri dari, pengolahan sampah plasti yang didaur ulang menjadi kerajinan tangan dan dirubah menjadi lebih bermanfaat dan memiliki nilai jual yang menambah penghasilan. Selanjutnya ada kegiatan pengolahan daun pandan yang diolah menjadi kerajinan tangan karena di Desa Pameungpeuk terdapat banyak tanaman pandan yang melimpah yang kemudian akan dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan agar lebih bermanfaat. Kemudian kegiatan yang terakhir yaitu pelatihan pembukuan administrasi yang diharapkan memberi bekal kepada masyarakat desa agar memiliki kemampuan dasar dalam pembukuan yang mana sangat berguna dalam dunia kerja dan pengelolaan keuangan.
Sumber: Analisis Peneliti (2018)