• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Pengaruh Persepsi Pemuda Terhadap Pekerjaan

hidupnya dengan bekerja di kota. Minat yang sangat tinggi untuk bekerja dikota yang dikemukakan oleh para pemuda di Desa Pameungpek, walaupun hanya menjadi tukang kulu bangunan atau penjaga toko untuk yang perempuan hal itu sangat di minati oleh para pemuda dari desa, dibandingkan harus bekerja di desa menjadi petani di sawah dan menggarap sawah.

memiliki cara yang berbeda dalam berusaha dalam menangani hal tidak biasa tersebut. Pemilik tanah memiliki alat produksi yaitu tanah yang sewaktu-waktu bisa di gunakan sebagai barang untuk di gadai atau disewakan. Sementara lapisan buruh hanya bisa melakukan berbagai kerja tambahan untuk menanggulangi hal yang tak biasa tersebut. Petani di Desa Pameungpeuk menggunakan alternatif subsistensi dengan cara sebagian dari istri petani made ikut bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara menekuni pekerjaan mereka, selain itu sebagian anak dari petani tersebut juga bekerja dengan pekerjaan menjadi pedagang sampai dengan bekerja sebagai pegawai kantoran. Dan sebagian besar petani di situ juga mempunya pekerjaan sampingan atau pekerjaan selain menjadi petani, dengan pekerjaan mulai dari menjadi pedagang sampai ada juga yang bekerja menjadi pegawai di kantor pemerintahan.

Didalam pekerjaan apapun selalu mendapatkan hambatan, begitu juga dengan pekerjaan petani. Tetapi, hambatan itu harusnya dijadikan pemicu untuk lebih giat lagi bertani dan agar hasil pertaniannya juga semakkin meningkat. Peneliti menyarankan untuk membangun kerjasama antar petani dalam rangka meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Selainn itu pemerintah haruus lebih responsive dalam menyikapi masalah-masalah yang dihadapi oleh para petani. Organisasi pertanian didesa juga harus lebih bersinergis dalam mengayomi para petani didaerahnya. Seperti para anggota samapai ketua penyuluh petani, dengan selalu mengadakan pengawasan dan pembinaan agar pertanian didaerah dapat terus produktif dan kebutuhan hidup petani terpenuhi.

Dan juga kerjasama dari kementrian pertanian agar fasilitas pertanian dapat terpenuhi demi melangsungkan keproduktifan para petani dan megurangi presentase impor beras dari luar negeri untuk Negara.

Daftar Pustaka

Baiquni, M. (2007). Strategi Penghidupan di Masa Krisis. Yogyakarta: Ideas Media.

Burhan, B. (2001). Metode Penelitian Sosial Kualitatif dan Kuantitatif. Surabaya.

Damsar. (2011). Pengantar Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Dina, A. (2005). Persepsi Pemuda Terhadap Pekerjaan Pertanian. Bogor: Fakultas Pertanian IPB.

Tarigan, H. (2002). Orientasi Nilai Kerja Pemuda Pada Keluarga Perkebunan.

Bogor: Institus Pertanian Bogor.

---oOo---

Bab 10

Relasi Sosial Antara Petani Dalam Konflik Irigasi di Desa Pameungpeuk, Garut

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik irigasi antar petani yang terjadi di Desa Pameungpeuk. Selain itu juga untuk mendeskripsikan bagaimana relasi sosial yang terbentuk akibat adanya konflik irigasi antar petani di Desa Pameungpeuk dan solusi penyelesaian konflik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus karena peneliti melakukan pengujian secara rinci dan mendalam mengenai suatu objek atau fenomena yaitu mengenai konflik irigasi yang terjadi di Desa Pameungpeuk dan relasi sosial antar petani dalam konflik tersebut. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab terjadinya konflik irigasi di Desa Pameungpeuk yaitu faktor musim, faktor kecemburuan sosial, dan faktor kepentingan. Dalam konflik irigasi tersebut terbentuk relasi sosial antar petani, petani dengan kelompok tani, dan kelompok tani dengan pemerintah. Terdapat peran kelompok tani yang sangat besar dalam rangka penyelesaian konflik irigasi dengan melakukan berbagai pertemuan untuk mengungkapkan kendala atau masalah yang dialami para petani.

Kata Kunci: relasi sosial, kelompok tani, konflik irigasi

Pendahuluan

Pemanfaatan sumber daya air dapat dilakukan pada semua aspek kehidupan manusia baik untuk keperluan sehari hari maupun untuk usaha yang menggunakan bahan dasar air sebagai penunjangnya, termasuk usaha di bidang pertanian. Pertanian merupakan salah satu mata pencaharian pokok mayoritas masyarakat Indonesia yang tinggal di pedesaan. Sedangkan petani adalah orang yang melakukan budi daya pertanian.85 Kebutuhan akan sumber daya air bagi para petani menjadi unsur terpenting dalam menjalankan pekerjaannya sebagai seorang petani. Bagaimana bisa para petani melakukan pekerjaannya misalnya menanam padi tanpa adanya sumber daya air yang melimpah. Pada pasal 41

85 Hery Listyawati, “Konflik Pemanfaatan Sumber Daya Air untuk Irigasi di Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman”, Vol.23, No.3, (Yogyakarta, Oktober 2011), hlm. 524

UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (UUSDA) telah disebutkan bahwa pemenuhan air baku untuk pertanian dilakukan dengan pengembangan sistem irigasi. Sebagai tindak lanjut dari UUSDA, maka pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2006 tentang irigasi. Irigasi berfungsi untuk mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani yang diwujudkan melalui keberlajutan irigasi.86

Berdasarkan PP tersebut, petani mendapatkan keleluasaan untuk melakukan usaha tani yang menghasilkan keuntungan finansial yang paling tinggi. Hal ini berdampak pada ketidakpastian para petani Indonesia dalam mendapatkan sumber daya air. Ketidakpastian para petani dalam mendapatkan air menyebabkan munculnya konflik irigasi antar para petani. Konflik yaitu proses pencapaian tujuan dengan cara melemahkan pihak lawan, tanpa memperhatikan norma dan nilai yang berlaku.87 Konflik irigasi berarti proses pencapaian tujuan yaitu mendapatkan air irigasi dengan cara melemahkan pihak lawan yaitu dengan melakukan tindakan curang. Dalam arti lain konflik irigasi adalah proses mendapatkan air irigasi dengan melakukan tindakan yang melanggar norma dalam masyarakat.

Konflik irigasi terjadi karena setiap petani membutuhkan sumber daya air yang banyak, namun pada kenyatannya para petani sulit mendapatkan sumber daya air. Sulitnya mendapatkan sumber daya air disebabkan oleh minimnya jumlah saluran irigasi yang ada di lahan pertanian. Selain itu faktor musim juga mendorong terjadinya konflik irigasi antar petani. Adanya anggapan bahwa air irigasi adalah barang publik (public goods) menyebabkan masyarakat cenderung

kurang efisien dalam menggunakan air.88 Hal ini menyebabkan para petani secara bebas berusaha mendapatkan air irigasi dengan berbagai cara saat musim kemarau tiba. Konflik irigasi antar para petani telah terjadi di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di desa yang pengelolaan aliran irigasinya belum dilakukan dengan baik.

Desa Pameungpeuk merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Desa Pameungpeuk merupakan salah satu desa yang mana mata pencaharian pokok masyarakatnya adalah bertani. Lahan pertanian untuk persawahan yang ada di Desa Pameungpeuk cukup luas yaitu sekitar 252 hektar. Lahan pertanian untuk persawahan tersebut terdiri dari 3 bagian yaitu sawah irigasi teknis, sawah irigasi ½ teknis, dan sawah tadah hujan. Air irigasi yang mengaliri lahan persawahan yang ada di Desa Pameungpeuk diatur oleh Mitra Cai atau Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A). Air irigasi tersebut berasal dari PDAM Bojong Mongkong. Terdapat 2 jenis saluran irigasi yaitu saluran besar dan saluran kecil. Saluran besar yaitu saluran utama yang berada di pusat sumber air yaitu di Bojong Mongkong, sedangkan saluran kecil yaitu saluran yang mengaliri air ke sawah-sawah petani. Adapaun alur pengaliran air irigasi dari PDAM Bojong Mongkong yaitu pertama Desa Mandalakasih, kedua Desa Jatimulya, ketiga Desa Pameungpeuk, dan yang terakhir Desa Mancagahar.

Desa Pameungpeuk adalah desa ketiga yang dialiri air irigasi dari PDAM Bojong Mongkong. Saat musim kemarau tiba, para petani Desa Pameungpeuk sering kali tidak mendapatkan air karena air irigasi sudah habis ketika baru memasuki Desa Jatimulya yang dialiri air irigasi sebelum Desa Pameungpeuk.

Oleh karena itu para petani sering berkonflik dalam mendapatkan air dengan melakukan tindakan curang seperti menutup saluran irigasi milik petani

88 Benny Rachman, Effendi Pasandaran, dan Ketut Kariyasa, “Kelembagaan Irigasi dalam Perspektif Otonomi Daerah”, Jurnal Litbang Pertanian, Vol. 21, No.3, (Bogor, 2002), hlm.

109

lainnya. Faktor lain yang menyebabkan konflik irigasi tersebut adalah kecemburuan sosial dan faktor kepentingan. Dalam mengatasi kekurangan air saat musim kemarau, Mitra Cai atau P3A menentukan wilayah-wilayah yang akan dialiri air irigasi dan jadwal pergantian wilayahnya. Hal ini memunculkan kecemburuan sosial bagi para petani yang wilayahnya tidak dialiri air irigasi.

Para petani yang ada di desa Pameungpeuk terbagi ke dalam 15 kelompok tani.

Kelompok-kelompok tani tersebut memiliki nama-nama yang berbeda.

Kelompok tani dibentuk sebagai wadah perkumpulan para petani untuk menyampaikan keluhan, hambatan, dan kebutuhan petani. Selanjutnya kelompok tani menyampaikan keluhan, hambatan, dan kebutuhan petani kepada pemerintah agar diberikan bantuan. Terkait dengan konflik irigasi, kelompok tani berperan sebagai wadah untuk bermusyawarah. Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat relasi sosial antar petani, antara petani dengan kelompok tani, dan antara kelompok tani dengan pemerintah. Relasi sosial atau hubungan sosial merupakan hubungan timbal balik antar individu yang satu dengan individu yang lain dan saling mempengaruhi.

Penelitian mengenai konflik irigasi di Desa Pameungpeuk ini penting karena mengingat bahwa sebuah konflik kecil dapat menjadi konflik besar apabila tidak ada solusi secepatnya. Konflik irigasi dapat menyebabkan rusaknya relasi sosial antar petani, petani dengan kelompok tani, dan kelompok tani dengan pemerintah, serta menurunnya produktivitas hasil pertanian di Desa Pameungpeuk. Oleh karena itu laporan ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam mengenai konflik irigasi yang terjadi di Desa Pameungpeuk dan menguraikan solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi konflik irigasi tersebut. Laporan ini terbagai menjadi beberapa bagian inti, yang pertama mengenai relasi sosial di dalam pertanian agraris, kedua mengenai faktor

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui relasi sosial antar petani melihat adanya masalah irigasi dan mengetahui cara untuk menyikapinya dengan unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan butir- butir rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian studi kasus karena dalam penelitian ini peneliti melakukan pengujian secara rinci dan mendalam mengenai suatu objek atau fenomena yaitu mengenai konflik irigasi yang terjadi di Desa Pameungpeuk dan relasi sosial antar petani dalam konflik tersebut.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara mendalam. Informan dalam penelitian ini adalah 1 orang petani, 1 orang buruh tani, Ketua RW 03, Kepala dusun 03, Sekretaris desa, Koordinator Mitra Cai, dan Sekretaris Mitra Cai. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 5 Februari 2018-11 Februari 2018 di Desa Pameungpeuk, Kecamatan Pameungpeuk, Garut. Dalam penelitian ini pengumpulan data yang akan dilakukan adalah : Mencari informasi tentang konflik irigasi antar petani, relasi sosial antar petani, relasi sosial antara petani dengan kelompok tani, dan relasi sosial antara petani dengan pemerintah dan observasi dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung baik terhadap kegiatan petani atau melihat interaksi yang dilakukan oleh para petani dan kondisi saluran irigasi.

3.Teknik wawancara, peneliti melakukan wawancara langsung dan mendalam dengan informan atau subjek penelitian.

Agenda Penelitian yang akan dilakukan pada saat di lapangan adalah melakukan observasi terlebih dahulu untuk mengetahui secara langsung kondisi Desa Pameungpeuk, yang di observasi adalah pertanian. Setelah melakukan observasi, peneliti melakukan wawancara, hal ini untuk mencari informasi yang diinginkan, serta mencari dokumen berupa profil desa dan pertanian di Desa Pameungpeuk. Selanjutnya adalah menganalisis data yang diperoleh dalam bentuk laporan.

Profil Desa Pameungpeuk

Desa Pameungpeuk merupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan Pameungpeuk, Garut, Provinsi Jawa Barat. Desa Pameungpeuk berbatasan dengan Bojong Kidul di sebelah Utara, Desa Mandalakasih di sebelah Selatan, Pa’as di sebelah Timur, dan Desa Jatimulya di sebelah Barat. Desa Pameungpeuk berada di dekat kantor Kecamatan Pameungpeuk. Untuk menuju Desa Pameungpeuk kita harus melewati jalur darat selama kurang lebih tiga jam dari Garut kota. Selain itu aksesnya juga terbilang cukup sulit untuk dilalui kendaraan roda empat dan bus-bus besar atau mobil angkut. Hal ini dikarenakan jalur menuju kesana lumayan kecil dan hanya bisa dilalui dua mobil dan hanya cukup untuk dilalui satu kendaraan besar. Karena melewati perbukitan, tidak heran jika di sisi kanan dan kiri jalan terdapat jurang-jurang yang cukup landai dan jalanan juga berkelak-kelok. Maka perlu sangat kewaspadaan jika hendak berpergian ke sana. Akan tetapi sepanjang perjalanan menuju Pameungpeuk akan terlihat pemandangan yang bagus, seperti pepohonan, sawah, sungai-sungai kecil dan juga lembah-lembah.

Gambar 10.1 Peta Lokasi Pameungpeuk

Luas wilayah Desa Pameungpeuk yaitu 608,196 ha dengan jumlah penduduk 7958 jiwa yaitu 4001 penduduk laki-laki dan 3958 penduduk perempuan.

Mayoritas pekerjaan masyarakat disana adalah PNS, petani, dan buruh pabrik.

Desa Pameungpeuk merupakan daerah dataran rendah dan termasuk kedalam desa swakarya. Desa Pameungpeuk memiliki lahan persawahan yang cukup luas yaitu sekitar 252 ha. Persawahan Desa Pameungpeuk terdiri dari 227 ha sawah irigasi teknis, 20 ha sawah irigasi ½ teknis, dan 5 ha sawah tadah hujan.

Sawah yang paling luas adalah sawah Tegal Buleud.

Gambar 10.2.

Lahan Persawahan saat Musim Panen

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)

Mayoritas pertanian disana ditanami padi, walaupun tak jarang juga mereka menanami buah-buahan. Jumlah petani atau pemilik lahan di Pameungpeuk adalah 678 laki-laki dan 53 perempuan, sedangkan jumlah buruh tani yaitu terdiri dari 1058 laki-laki dan 874 perempuan. Semua lahan pertanian di Desa Pameungpeuk sudah di aliri air oleh irigasi. Sumber air utama di desa Pameungpeuk yaitu Sungai Cipeuleubeuh. Sebagaian aliran dari sungai ini akan mengalir ke sawah-sawah milik petani, sebagian lagi akan menjadi PDAM Bojong Mongkong yang akan mengaliri air ke rumah-rumah warga.

Alur aliran irigasi pertama Desa Mandalakasih, kedua Desa Jatimulya, ketiga

Desa Pameungpeuk, dan yang terakhir Desa Mancagahar. Walaupun semua desa sudah di aliri air irigasi, akan tetapi saat musim kemarau tiba daerah yang paling jauh dari aliran sungai akan mengalami kekeringan atau kesulitan dalam sistem irigasinya.

Desa Pameungpeuk berdekatan dengan objek wisata seperti pantai Sayang Heulang yang terletak di desa Mancahagar. Pantai ini langsung menghadap ke laut lepas yaitu Samudera Hindia, walaupun demikian pengungjung masih bisa berenang di tepi pantai. Selain itu terdapat pula pantai Santolo yang terletak di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Selama perjalanan menuju pantai Santolo ini akan disuguhkan dengan pemandangan savana atau padang rumput yang luas dan juga bukit-bukit yang menambah indahnya pemandangan. Desa Pameungpuk sendiri sedang mengembangkan tempat pariwisata yaitu bukit Teletubies.

Relasi Sosial di Dalam Pertanian Agraris Pemerintah Desa Sebagai Pembuatan Kebijakan

Relasi sosial yang terbentuk antara pemerintah dengan petani dapat dilihat melalui kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk para petani. Apakah setiap kebijakan tersebut selalu sesuai dengan keinginan para petani atau tidak.

Sesuai atau tidaknya kebijakan pemerintah dengan keinginan para petani menentukan apakah relasi sosial antara pemerintah dengan petani terbentuk dengan baik atau sebaliknya. Kebijakan pemerintah mengenai pertanian agraris di Desa Pameungpeuk dapat berupa pembentukan P3A atau Mitra Cai, pengeluaran anggaran untuk pembangunan irigasi, pemberian bantuan non materi seperti obat-obatan untuk membasmi hama.

membuat kebijakan yaitu membentuk Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) atau Mitra Cai sebagai kelompok yang bertugas mengatur pengaliran air irigasi dan memelihara saluran irigasi di Desa Pameungpeuk. Kebijakan pemerintah mengenai pembentukan P3A ini dimaksudkan agar para petani dapat dengan mudah mendapatkan air sehingga proses kegiatan pertanian di Desa dapat berjalan dengan baik. P3A merupakan produk kebijakan pemerintah, namun dalam penyelenggarannya pemerintah tidak ikut campur, pemerintah hanya memberikan dana untuk keperluan irigasi. Namun demikian terdapat keluhan para petani terhadap pemerintah karena pemerintah dianggap kurang responsif dalam menyikapi keperluan para petani seperti keperluan dana untuk pembangunan irigasi. Seperti yang telah dijelaskan oleh Ibu Lusi Purnama Sari selaku penyuluh kelompok tani di Desa Pameungpeuk.

“kalo misalya mau ada pembangunan kita tuh bikin proposalnya ngantri banget. Kalo bikinnya misalnya tahun 2010 nanti keluarnya baru 2015 begitu. Terus kadang kan ada dewan, jadi emang gabisa karena kita kelompok tani langsung di cairin gitu engga. Jadi harus nunggu lama, makanya kan di kelompok tani ada iuran anggota biar para petani tidak tergantung oleh pemerintah.”89

Dana yang diberikan oleh pemerintah bervariasi yaitu sekitar 15 Juta dari pemerintah Kabupaten dan 50 Juta dari pemerintah provinsi. Namun yang jadi masalahnya adalah bahwa para petani harus menunggu dalam rentan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan dana tersebut, sedangkan pembangunan irigasi merupakan keperluan mendesak yang secepatnya harus direalisasikan.

Hal ini menyebabkan munculnya kekecewaan dan ketidakpercayaan para petani tehadap pemerintah.

Selain pembangunan irigasi, para petani juga mengeluhkan hama yang ada di sawah. Hama merupakan musuh terbesar petani di sawah karena hama dapat merusak padi sehingga petani bisa gagal panen. Dalam mengatasi keluhan

89 Hasil Wawancara dengan Ibu Lusi, pada tanggal 06 Februari 2018, Pukul 15.00

petani tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa pemberian obat- obatan pembasmi hama kepada para petani. Obat-obatan tersebut tidak diberikan secara gratis kepada petani, petani harus mengeluarkan uang sebanyak Rp. 250.000 untuk mendapatkan sebotol kecil obat pembasmi hama.

Para petani mau tidak mau membeli obat tersebut walaupun sebenarnya obat tersebut kurang berkhasiat untuk menghilangkan hama. Hal inilah salah satu bentuk kekecewaan lain petani terhadap pemerintah. Pemerintah dianggap kurang serius dalam memberikan solusi karena petani harus mengeluarkan uang yang banyak untuk sebotol kecil obat hama yang tidak terlalu berkhasiat menghilangkan hama. Seperti yang telah dikatakan oleh Ibu Kokom Komariah salah satu petani di Desa Pameungpeuk.

“ah udah cape kita mah kalo nunggu pemerintah mah.

Kadang gimana ya misalnya ni petani kan butuh obat yang bisa membasmi hama, tapi pemerintah ngasih obatnya yang sama aja gitu, udah gitu harganya juga mahal, padahal mah kurang berhasil gitu buat ngilangin hama.

Tapi setiap tahun obat nya sama itu itu aja walaupun kadang namanya aja yang berbeda tapi mah isinya sama khasiatnya sama gitu. Jadi ya udah sekarang para petani ga terlalu berharap sama pemerintah soalnya kan mereka seperti tidak serius , kurang merespon keperluan petani90

Rasa kecewa dan ketidakpercayaan para petani terhadap pemerintah menyebabkan para petani enggan menyampaikan keluhannya kepada pemerintah. Para petani lebih mengandalkan kelompok-kelompok tani dengan kekuatan gotong royong dan musyawarah. Dari penjelasan di atas terlihat bahwa relasi sosial antara pemerintah dengan petani terjalin kurang baik karena adanya rasa kecewa dan tidak percaya petani terhadap pemerintah.

Mitra Cai atau P3A Sebagai Organisasi Pengelola Air Irigasi

Desa Pameungpeuk memiliki sawah yang cukup luas, yaitu sekitar 252 hektar area. Daerahnya yang dekat dengan sumber-sumber air utama disana, membuat para petani tidak begitu sulit untuk mengatur irigasi sawah mereka.

Terlebih lagi sudah ada badan khusus yang dibentuk untuk mengatur saluran irigasi ke sawah-sawah mereka. Mitra Cai juga betugas untuk menjaga saluran irigasi pertanian sehingga dapat berjalan dengan baik, mulai dari saluran utama, hingga ke saluran-saluran kecil dan berakhir di sawah-sawah petani.

Badan khusus yang bertugas untuk mengatur pembagian saluran irigasi tersebut biasa disebut oleh masyarakat desa dengan nama Mitra Cai atau Mitra Air.

Terdapat dua badan yang menangani saluran irigasi di desa Pameungpeuk, yaitu Mitra Pengairan dan Mitra Cai. Mitra Pengairan adalah badan khusus yang mengatur saluran irigasi utama. Sedangkan Mitra Cai atau Mitra Air adalah badan khusus yang mengatur cabang-cabang saluran irigasi dari sumber air utama menuju sawah-sawah milik para petani.

Gambar 10. 3 Saluran Irigasi Kecil

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)

Mitra Cai sendiri terbentuk pada tahun 2003, namun pada tahun 2011 Mitra Cai berubah nama menjadi Para Petani Pengguna Air atau yang disingkat P3A Batu Pameungpeuk. Perubahan nama ini bukanlah berasal dari inisitif warga

desa, melainkan karena persyaratan dari pemerintah yang mengharuskan mengganti nama tersebut. Walaupun demikian, masyarakat setempat masih tetap menyebut badan khusus air tersebut dengan sebutan mitra cai, karena lebih akrab dengan telinga mereka. Seperti yang diutarkan oleh Bapak Risman Rido Rahmana sebagai sekretaris di P3A.

“Kalo mitra cai mulai terbentuk pada 2003. Dulu memang mitra cai tapi sekarang berganti menjadi P3A Batu Pameugpeuk namanya, di desa Pameungpeuk.” Berubah nama itu di tahun 2011an. Namanya diganti karena kebijakan dari sananya harus diganti, itumah istilah dulu.

Tapi mah yang enakanya tetep mitra cai. Terbentuknya mitracai, jadi sekelompok petani pengguna air atau yang disebut kalo sekarang P3A perkumpulan petani pengguna air. Kalo dulu istilahnya mah mitra cai sekarang mah P3A, mitra cai sebagai kelompok masyarakat yang tugasnya untuk melihat supaya saluran pertanian bisa berjalan dengan baik. Baik dari mulai saluran irigasinya, istilahnya saluran cacing atau saluran kecilnya, sampai diterima oleh petani ke persawahan.”91

Mitra Cai merupakan suatu program yang dibentuk oleh pemerintah dalam setiap desa untuk memelihara irigasi sawah. Dalam menetapkan kebijakannya, P3A tidak memiliki peraturan yang tertulis secara lisan. Mereka hanya berpegang teguh teradap kesepakatan bersama yang sudah dibuat di awal.

Demikian juga dengan visi misinya, yaitu untuk mewujudkan ketersediaan air untuk petani dan lancarnya air untuk petani hingga ke sawah-sawah mereka.

Program-program yang dilaksanakan hampir mirip atau sesuai dengan visi misinya, yaitu untuk memelihara saluran air tersebut dan juga melakukan pengusulan pembuatan bangunan-bangunan. Bangunan tersebut seperti untuk pembagi air yang memang diperlukan oleh masyarakat petani. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Risman Rido Rahmana.