yaitu kegiatan pemenuhan kebutuhan akan tempat pembuangan sampah.
Berdasarkan wawancara dan observasi di lapangan, Desa Pameungpeuk belum memiliki TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah yang memadai. Warga masih memiliki kebiasaan membuag sampah sembarangan dan bahkan masih ditemukan warga yang membuang sampah di Kali yang mana dari kali tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat desa.
Adapun kegiatan kebermanfaatan pada aspek sosial ialah terdiri dari, pengolahan sampah plasti yang didaur ulang menjadi kerajinan tangan dan dirubah menjadi lebih bermanfaat dan memiliki nilai jual yang menambah penghasilan. Selanjutnya ada kegiatan pengolahan daun pandan yang diolah menjadi kerajinan tangan karena di Desa Pameungpeuk terdapat banyak tanaman pandan yang melimpah yang kemudian akan dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan agar lebih bermanfaat. Kemudian kegiatan yang terakhir yaitu pelatihan pembukuan administrasi yang diharapkan memberi bekal kepada masyarakat desa agar memiliki kemampuan dasar dalam pembukuan yang mana sangat berguna dalam dunia kerja dan pengelolaan keuangan.
Sumber: Analisis Peneliti (2018)
Penutup
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisi pengamat, dapat disimpulkan bahwa BKM memang memiliki peranan penting bagi terwujudnya realisasi progam pemerintah yaitu KOTAKU bagi masyarakat. Dimana, BKM memegang peran sebagai pihak yang mendominasi disertai dengan dasar peraturan pemerintah sebagai legitimasi. Selain itu, BKM itu sendiri sebagai agen dan masyarakat sebagai struktur yang merupakan sistem yang berkaitan layaknya dua sisi koin.
Kotaku ini memiliki progam yang bergerak dalam aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi , yang masing – masingnya memiliki kebermanfaatan tersendiri bagi masyarakat, namun tidak hanya sisi positif yang didapatkan melainkan hambatannya pun ikut dirasakan oleh masyarakat. BKM itu sendiri adalah Badan Keswadayaan Masyarakat yang menjadi wadah untuk membantu masyarakat dalam menuju perubahan yang lebih layak khususnya mengurangi tingkat pemukiman kumuh yang masih terlihat di beberapa wilayah. Maka dari itu, melalui BKM ini pemerintah mengeluarkan progam KOTAKU sebagai perwujudan terealisasinya lingkungan yang layak,nyaman, dan bersih. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pelatihan – pelatihan yang sudah direncanakan seperti pelatihan pengelolaan sampah, pembukuan menggunakan aplikasi, olahan daun pandan, pengadministrasian kegiatan, dan lain sebagainya. Selain itu juga ada pinjaman dana bergulir kepada masyarakat dalam rangka membantu masyarakat untuk lebih mandiri dalam meningkatkan ekonomi. Namun, semua itu akan terwujud dengan optimal apabila masyarakat juga memiliki tingkat kesadaran peduli yang tinggi terhadap lingkungan, ikut berpartisipasi dalam kegiatan – kegiatan yang memang sudah direncanakan, dan saling kerja sama antara pemerintah, BKM, dan sesame masyarakat agar terwujudnya lingkungan yang nyaman , layak dan tidak ada lagi pemukiman kumuh.
Adi, I. R. (2008). Pengembangan Masyarakat sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Rajawali Press.
Suharto, E. (2010). Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat.
Bandung: Refika Aditama.
---oOo----
Bab 8
Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) Dalam Kelompok Pemberdayaan Masyarakat: Studi Kasus Pada Posyandu di Desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat
Abstrak
Dana desa merupakan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten atau kota dan digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, dana desa tidak boleh digunakan asal-asalan atau untuk kegiatan yang tidak menguntungkan pengembangan desa. Dana desa harus sesuai atau selaras dengan Rencana Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDes).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alokasi dana desa dalam kelompok pemberdayaan masyarakat khususnya pada program posyandu di Desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam hal persepsi Posyandu, masyarakat, tenaga medis, dan kader posyandu terhadap eksistensi Posyandu adalah positif. Mereka menganggap penting adanya program Posyandu tersebut, tidak hanya sekedar melaksanakan program formal dan rutinitas, melainkan juga substansinya yang besar bagi peningkatan kualitas kehidupan manusia, terutama yang menyangkut masalah kesehatan. Pengaruh program Posyandu ini cukup besar yang terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Keberhasilan yang dicapai dengan adanya posyandu di Desa Pameungpeuk adalah kesehatan masyarakat yang semakin baik, KB berhasil. Suksesnya suatu program dalam hal ini program Posyandu di Desa Pameungpeuk, tergantung dari aktif atau tidak aktifnya partisipasi masyarakat untuk mensukseskan program tersebut. Dalam hal ini peran aktif masyarakat sangat penting artinya bagi kelancaran dan keberhasilan program Posyandu.
Kata kunci: Alokasi Dana Desa (ADD), Desa Pameungpeuk, Posyandu
Pendahuluan
Dalam penelitian yang dilakukan selama satu minggu di desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, kami berfokus pada Pengelolaaan Alokasi Dana Desa dalam Kelompok Pemeberdayaan Masyarakat, dalam studi ini kami lebih condong pada pemberdaayan masyarakat berupa Pos Pelayanan Keluarga
dibandingkan dengan jenis anggaran, yaitu sebesar Rp. 45.000.000,- pertahunnya. Selain itu, posyandu juga merupaakn salah satu pemberdayaan yang paling aktif di desa Pameungpeuk.
Posyandu merupakan sarana penting di masyarakat yang mendukung dalam mewujudkan penurunan angka kematian anak dan meningkatkan kesejahteraan ibu. Posyandu dicanangkan tahun 1986, jumlah posyandu di Indonesia tercatat 25.000 posyandu dan tahun 2011 terdapat 268.439 posyandu dengan jumlah kader sekitar 131.383 orang75. Jumlah Posyandu di Kecamatan Pameungpeuk sekitar 15 posyandu diantaranya adalah Posyandu Mandiri, Posyandu Bahagia, Posyandu Sawargi, Posyandu Mawar, Posyandu Melati 1, Posyandu Sayang Ibu, Posyandu Motekar, Posyandu Tawekal, Posyandu Meati II, Posyandu Melati III, Posyandu Dahlia II, serta Posyandu Buah Hati.
Namun pada kenyataannya masih banyak posyandu di desa Pameungpeuk yang belum terjamah oleh bantuan-bantuan dana seperti ADD yang sebenarnya sudah dianggarkan pemerintah kabupaten. Kurangnya dana yang tersedia untuk kegiatan Posyandu menyebabkan terbatasnya kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh tiap-tiap posyandu itu sendiri, seperti contohnya di Posyandu Melati, ketua kader seringkali harus menggunakan dana pribadi untuk melakukan kegiatan-kegiatan posyandu, seperti pemberian vitamin tambahan berupa buah. Hal ini tentu menjadi miris karena telah kita ketahui bahwa sebenarnya telah tersedia anggaran dari pusat berupa ADD. Namun mekanime yang cukup sulit terkait pencairan dana dan besaran dana yang tidak seberapa membuat beberapa kader dan ketua posyandu terpaksa menggunakan dana pribadi. Oleh karena itu, penelitian yang kami lakukan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan dana desa yang dikeluarkan pemerintah untuk kegiatan posyandu di desa Pameungpeuk, agar kita
75 Data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012
mengetahui sebenarnya permasalahan apa yang telah atau sedang terjadi terkait anggaran dana desa maupun kegiatan dan program posyandu itu sendiri.
Secara garis besar, tulisan ini dibagi menjadi beberapa bagian. Pertama, pengantar yang memberikan gambaran secara umum dari keseluruhan isi tulisan. Selain itu, di bagian ini pula dijelaskan alasan penulis memilih tema, dan apa yang menjadi daya tarik dari tema tersebut. Kedua, menjelaskan mengenai ADD dalam kelompok pemberdayaan yang terdapat di desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Ketiga, menjelaskan mengenai ADD dalam Posyandu desa Pameungpeuk yang seluruhnya berjumlah 15 unit. Keempat, menjelaskan tentang kegiatan dan program-program yang terdapat di Posyandu desa Pameungpeuk. Kelima, menjelaskan partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. Keenam, hambatan dalam pelaksanaan ADD dan pelaksanaan program-program Posyandu di desa Pameungpeuk.
Metode Penelitian
Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjelaskan permasalahan dalam kajian ini. Penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang menggunakan data berupa kalimat yang menekankan pada penggunaan diri penulis sebagai alat. Penelitian ini dilakukan oleh penulis di desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Hal ini dikarenakan Pameungpeuk merupakan salah satu desa di kabupaten Garut, Jawa Barat, yang belum memiliki fasilitas kesehatan yang memadai. Sasaran penelitian ini adalah warga desa Pameungpeuk, kader Posyandu desa Pameungpeuk, serta pejabat daerah yang mengetahui tentang ADD di desa Pameungpeuk, karena ketiga pihak tersebut merupakan aktor yang mengetahui dan memahami bagaimana pengelolaan ADD dan kegiatan serta program apa saja yang berlangsung di Posyandu desa Pameungpeuk. Sumber data pada penelitian ini berasal dari
sekunder yang didapatkan dari berbagai catatan, dokumentasi, serta data yang berada dilokasi penelitian.
Alokasi Dana Desa (ADD) Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Desa Pameungpeuk
ADD merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah terhadap keuangan desa yang berasal dari Dana Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah minimal 10%. Berdasarkan hasil rekapitulasi data yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan, Kabupaten Garut mendapatkan dana desa sebesar Rp.
124.926.980.000. Jumlah tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun, yaitu sebesar Rp. 280.444.152.000 pada tahun 2016, di tahun 2017 menjadi Rp 358.003.872.000, dan kembali meningkat pada tahun 2018 menjadi sebesar Rp.
401.196.915.000. Sesuai dengan tujuan dari pemberian ADD yaitu sebagai bantuan stimulan atau dana perangsang untuk mendorong dalam membiayai program pemerintah desa, maka sudah seharusnya ADD dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan pemberdayaan yang ditunjang dengan partisipasi swadaya gotong royong masyarakat.
Di desa Pameungpeuk, ADD yang telah diterima oleh pemerintah desa nantinya akan digunakan untuk menunjang kegiatan masyarakat pedesaan.
Desa Pameungpeuk sendiri memiliki dana desa sebesar Rp 663.913.000 dengan ADD sejumlah Rp 549.240.000, serta PADes sebesar Rp 29.500.000. Dana yang didapat dari provinsi sebesar Rp 115.000.000. Desa Pameungpeuk juga memiliki bagi hasil pajak sejumlah Rp 26.000.000. Kelompok pemberdayaan masyarakat tersebut diantaranya adalah kelompok tani dan berbagai kelompok pemberdayaan masyarakat lainnya seperti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kelompok tani, dan sebagainya. Kelompok-kelompok ini mengajak masyarakat desa Pameungpeuk agar aktif dalam meningkatkan kesejahteraan hidup mereka melalui kegiatan yang membawa dampak positif.
Tabel 8.1
Besaran Alokasi Dana Desa (ADD) Di Desa Pameungpeuk Tahun 2016
NO Jenis Anggaran Anggaran
1. Operasional RT dan RW Rp. 124.200.000
2. Staff kepala desa dan Perangkat Desa Rp. 177.840.000
3. Tunjangan BPD Rp. 16.800.000
4. Penunjang Kegiatan Posyandu Rp. 45.000.000
5. Penunjang Kegiatan Lembaga Rp. 20.000.000
6. Biaya Operasional Pemerintah Desa Rp. 21.000.000
7. Biaya Operasional BPD Rp. 5.000.000
8. Pembangunan Skala RT dan RW Rp. 158.000.000
JUMLAH Rp. 568.840.000
Sumber: Data Pemerintah Kabupaten Garut Tahun 2016 (2018)
Selain untuk melakukan pembangunan infrastruktur, penggunaan ADD juga harus diprioritaskan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas kelompok dan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat desa, terutama untuk penanggulangan kemiskinan, pendidikan, peningkatan akses atas sumber daya ekonomi, dan peningkatan mutu kesehatan. Penggunaan ADD untuk pemberdayaan masyarakat harus mampu meningkatkan kualitas proses perencanaan desa, serta mendukung kegiatan ekonomi baik yang dikembangkan oleh BUMDes maupun oleh kelompok usaha masyarakat desa lainnya, pembentukan dan peningkatan kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa.
gerakan hidup bersih dan sehat, dukungan terhadap kegiatan desa dan masyarakat pengelolaan hutan desa dan hutan kemasyarakatan, dan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat. Secara garis besar, di desa Pameungpeuk terdapat tiga kelompok pemberdayaan masyarakat yang menerima ADD dari pemerintah kabupaten Garut. Kelompok tersebut adalah Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN), Karang Taruna, serta Posyandu yang berjumlah 15 unit.
Tabel 8.2
Alokasi Dana Desa (ADD) Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Pameungpeuk
No. Nama Pemberdayaan Mayarakat
Anggaran Dana Kegiatan
1 Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN)
Rp 15.000.000,00 Pengolahan gabah, jual beli gabah, pembangunan dan pemeliharaan saluran
irigasi
2 Karang Taruna Penyuluhan bahaya narkoba,
menyelenggarakan kegiatan kepemudaan, menjadi panitia acara dan perlombaan 17
Agustus 3 Posyandu Rp 45.000.000,00 untuk 15
Posyandu Imunisasi, pemberian vitamin, penyuluhan kesehatan serta gizi ibu dan
anak, perbaikan gizi dengan memberi biscuit, penyuluhan tentang penyakit
(seperti difteri, diare, DBD, dan sebagainya)
Sumber: Data Pemerintah Kabupaten Garut Tahun 2016 (2018)
ADD tersebut biasanya tidak diserahkan pada RT atau RW setempat, melainkan diberikan langsung pada pengurus kelompok yang bersangkutan.
Hal ini bertujuan untuk menghindari pemangkasan dana secara illegal dan korupsi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab sehingga besaran ADD yang diterima tidak sesuai dengan seharusnya.
Alokasi Dana Desa (ADD) Di Posyandu Desa Pameungpeuk
Berdasarkan Data Besaran Alokasi Dana Desa (ADD Pemerintah Kabupaten Garut Tahun 2016, kelompok pemberdayaan masyarakat yaitu posyandu di desa Pameungpeuk menerima ADD sebesar Rp 45.000.000,00. Jumlah tersebut
adalah jumlah secara keseluruhan, yang mana harus dibagi lagi untuk 15 posyandu. Artinya, tiap-tiap posyandu menerima Rp 3.000.000,00. ADD ini berikan secara tidak teratur. Terkadang tiap tiga bulan sekali atau lebih dari tiga bulan, tergantung pada kebijakan pemerintah kabupaten. ADD tersebut digunakan untuk tiga hal. Pertama, Dana Operasional Program, yaitu dana yang digunakan untuk melaksanakan program-program posyandu, misalnya program Pemberian Makanan Tambahan berupa biskuit. Kedua, untuk menggaji kader dan uang ongkos bidan yang datang. Biasanya gaji kader sejumlah Rp 50.000,00 perbulan, sedangkan ongkos transportasi untuk bidan yang melakukan program berupa imunisasi biasanya berkisar antara Rp 20.000,00 hingga Rp 50.000,00. Ketiga, ADD digunakan untuk membeli dan merawat alat-alat posyandu, seperti timbangan berat badan. Biasanya alat-alat ini juga dipinjamkan oleh puskesmas kecamatan Pameungpeuk pada posyandu yang benar-benar terbelakang. Selain itu, puskesmas juga memberikan vitamin B yang biasa diberikan pada bayi dan anak-anak.
Selain dari ADD, sumber uang untuk menjalankan kegiatan posyandu juga berasal dari masyarakat itu sendiri. Contohnya seperti sisa uang penjualan raskin yang digunakan untuk membeli biskuit, bubur sumsum, bubur kacang hijau, jeruk, salak, dan sebagainya. Apabila ADD dan dana hasil penjualan raskin masih belum mencukupi untuk pelaksanaan kegiatan posyandu, maka biasanya para kader terutama ketua posyandu akan mengeluarkan dana pribadi mereka masing-masing. Hal ini mereka lakukan secara sukarela karena menganggap bahwa menjadi kader posyandu adalah sebuah pengabdian terhadap masyarakat.
Program Kegiatan Posyandu
Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan
Kesehatan Ibu dan Anak adalah suatu program yang meliputi pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencanan, bayi baru lahir, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi dan balita, remaja, dan lansia.
a. Ibu hamil
Untuk pelayanan ibu hamil tentunya fokus kepada pemeliharaan ibu hamil itu sendiri yang di dalamnya meliputi; Penimbangan berat badan dan pemberian tablet besi yang dilakukan oleh kader kesehatan. Bila ada petugas Puskesmas ditambah dengan pengukuran tekanan darah, pemeriksaan hamil bila ada tempat atau ruang periksa dan pemberian imunisasi Tetanus Toxoid. Bila ditemukan kelainan maka segera dirujuk ke Puskesmas. Bila dimungkinkan diselenggarakan kelompok ibu hamil pada hari buka Posyandu yang kegiatannya antara lain;
penyuluhan tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan, persiapan menyusui, KB dan gizi ibu hamil, perawatan payudara dan pemberian ASI, peragaan perawatan bayi baru lahir dan senam ibu hamil.
b. Ibu nifas dan menyusui
Selain terdapat pelayanan ibu hamil terdapat juga pelayanan ibu nifas dan menyusui yang meliputi; Penyuluhan kesehatan, KB, ASI, dan gizi, perawatan jalan lahir, pemberian vitamin A dan tablet besi, perawatan payudara, senam ibu nifas, lalu bila ada petugas kesehatan dan tersedia ruangan maka dapat dilakukan pemeriksaan payudara, tinggi fundus uteri, dan pemeriksaan lochea.
c. Bayi dan anak balita
Jenis pelayanan untuk bayi dan balita mencakup; penimbangan, penentuan status gizi, penyuluhan tentang kesehatan bayi dan balita, lalu jika ada petugas kesehatan dapat ditambahkan pemeriksaan kesehatan, imunisasi, dan deteksi dini tumbuh kembang, kemudian bila ditemukan adanya kelainanakan dirujuk ke Puskesmas
d. Keluarga Berencana
Pelayanan KB di Posyandu yang diselenggarakan oleh kader adalah pemberian pil dan kondom. Bila ada petugas keehatan maka dapat dilayani KB suntik dan konseling KB.
e. Imunisasi
Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan bila ada petugas kesehatan Puskesmas. Jenis pelayanan imunisasi yang diberikan yang sesuai program, baik untuk bayi, balita maupun untuk ibu hamil, yaitu : BCG, DPT, hepatitis B, campak, polio, dan tetanus toxoid.
f. Gizi
Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Bentuk pelayanannya meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan gizi, pemberian PMT, pemberian vitamin A dan pemberian sirup besi (Fe). Untuk ibu hamil dan ibu nifas diberikan tablet besi dan yodium untuk daerah endemis gondok.
Gambar 8.1
Kegiatan Penimbangan Berat Badan di Posyandu Mawar RW 04
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2018)
Partisipasi Masyarakat Desa Pameungpeuk Dalam Kegiatan Posyandu
mereka. Anggapan dan partisipasi masyarakat terhadap kegiatan dan program- program yang dijalankan oleh kelompok pemberdayaan masyarakat juga menjadi penting karena akan menentukan kemajuan dan keaktifan suatu kelompok. Semakin tinggi partisipasi dan antusiasme masyarakat, maka kelompok tersebut akan semakin maju dan berkembang lebih jauh. Dari hasil pengamatan dan penelitian di lapangan, ditemukan fakta bahwa dari 15 posyandu yang terdapat di desa Pameungpeuk, terdapat 4 posyandu yang paling mencolok, karena menjadi posyandu yang dinilai paling baik dan aktif serta posyandu paling pasif dan cukup memprihatinkan.
Tabel 8.3
Pemetaan Partisipasi Masyarakat Desa Pameungpeuk Dalam Kegiatan Posyandu
Kegiatan Penjelasan
RW 2 RW 4 RW 11 RW 14
Penyuluhan Sosialisasi
Cukup bagus, karena kader
sudah melakukan penyuluhan
Sangat bagus, karena kader
sangat aktif melakukan penyuluhan
Cukup bagus, karena 1 dari 4 RT jarang mengikuti sosialisasi
karena jauh ke posyandu
Sangat kurang, karena masyarakat
memilih berobat ke maparaji dan kader kurang solid Kesehatan
Anak
Sudah bagus, karena tidak ada
anak yang mengalami gizi
buruk
Sudah bagus, karena banyak kegiatan untuk meningkatkan kesehatan anak.
Kurang, karena ada anak yang pernah terkena gizi buruk.
Sangat kurang, karena pernah ada
kasus anak yang meninggal karena
lambatnya penanganan oleh
orang tua bayi Fasilitas Baik, karena
beberapa peralatan sudah
terpenuhi contohnya timbangan.
Baik, karena beberapa peralatan
sudah terpenuhi contohnya timbangan.
Masih kurang. Tidak terdapat fasilitas yang memadai, timbangan
seadanya.
Masih kurang.
Tidak ada bangunan dan alat-
alat.
Dana Baik, karena anggaran jarang
tersendat.
Masih kurang, karena sebagian dana berasal dari
uang pribadi
Masih kurang, kurang diperhatikan
pemerintah.
Masih kurang, karena kurang diperhatikan
kader. pemerintah.
Antusias Masih kurang, karena posyandu
jarang melakukan
kegiatan.
Sangat baik, karena kader aktif
melakukan kegiatan penyuluhan dan
posyandu.
Cukup, karena masyarakat mengikuti kegiatan di posyandu.
Sangat kurang, karena masyarakat
lebih percaya kepada maparaji (dukun beranak)
Kesehatan Ibu Hamil
Bagus, karena ibu hamil mendapatkan gizi yang cukup.
Sangat bagus, karena ibu hamil
aktif dalam kegiatan posyandu.
Bagus, karena ibu hamil aktif dalam kegiatan
posyandu.
Kurang, karena posyandu kurang
di datangi masyarakat.
Kekompakan Kader
Cukup, karena kader jarang
melakukan kegiatan posyandu.
Sangat bagus, karena salah satu kader di posyandu adalah ketua Pokja
3 dan dapat mengkoordinasi kader-kadernya.
Cukup, karena anggota kader kurang lengkap.
Kurang, karena kader tidak
kompak.
Imunisasi Bagus, karena kegiatan imunisasi berjalan lancar.
Sangat bagus, karena kegiatan imunisasi sudah rutin dilakukan.
Cukup, karena ada masyarakat RT 4 yang
tidak mengikuti imunisasi.
Kurang, karena posyandu kurang
dipercaya oleh masyarakat.
Sumber: Analisis Peneliti (2018)
Partisipasi masyarakat di 11 posyandu lainnya sudah dapat dikatakan cukup bagus karena masyarakat mulai aktif mengikuti kegiatan dan program posyandu. Para kader juga telah memiliki inisiatif dan kesadaran untuk semakin aktif mengajak masyarakat turut serta dalam kegiatan posyandu. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya beberapa kegiatan-kegiatan baru seperti penyuluhan kebersihan (sanitasi) dan pemberian buah-buahan sebagai vitamin tambahan.
dapat berjalan dengan baik. Pertama, kurangnya dana dalam kegiatan program posyandu tersebut, dimana ADD disini memiliki peran sebagai alat penunjang keberhasilan kegiatan program posyandu. Dengan adanya dana yang mencukupi, maka kegiatan program posyandu akan berjalan dengan baik, begitu pun sebaliknya. Contohnya pada kegiatan posyandu di RW 4 di desa Pameungpeuk, karena jumlah ADD yang kecil, hanya sekitar Rp 300.000,00, maka program posyandu tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Akibat keterbatasan dana, para kader seringkali terpaksa menggunakan uang pribadinya untuk digunakan pada kegiatan posyandu. Padahal, mereka sendiri sebenarnya bukanlah warga dari kalangan berada.
“Kalo dana mah turunnya nggak tentu, neng. Kadang tiga bulan sekali, kadang enam bulan sekali, malah pernah juga satu tahun itu teh nggak dapet dana sama sekali. Akhirnya kader-kader patungan supaya bisa beli biskuit, beli jeruk buat kegiatan posyandu. Sering neng, kader teh nggak digaji soalnya uangnya nggak cukup. Tapi ya ibu mah ikhlas aja.76
Kurangnya besaran ADD yang diberikan akan berdampak pada buruknya kualitas sarana dan prasarana pada kegiatan posyandu. Setelah melakukan pengamatan, ternyata masih banyak posyandu yang tidak memiliki alat-alat seperti timbangan berat badan. Bahkan di beberapa posyandu seperti posyandu RW 14 yang belum memiliki timbangan berat badan yang modern, sehingga mereka memanfaatkan karung beras sebagai timbangan untuk anak-anak. Hal ini tentu membuat daya tarik masayarakat pada kegiatan posyandu tersebut menjadi berkurang. Kedua, Fasilitas yang kurang memadai. Fasilitas yang kurang memadai ini terjadi karena kurangnya dana untuk kegiatan program posyandu ini. Hal ini membuat fasilitas-fasilitas yang terdapat di posyandu menjadi tidak memadai. Contohnya pada posyandu di RW 11 dan RW14, disana tidak terdapat bangunan khusus untuk kegiatan posyandu. Alasannya adalah karena tidak ada lahan untuk mendirikan bangunan posyandu baru.
Kegiatan posyandu hanya dilaksanakan dirumah ketua kader. Ketiga,
76 Hasil Wawancara dengan Atin Supriatin, pada tanggal 09 Februari 2018 pukul 13.30