• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurus dalam Pencak Silat Putra Siliwangi

tersebut merupakan jurus pencak silat gabungan dari daerah Cimande dan Cikalong. Dalam jurus tersebut, setiap gerakkan memiliki arti.

Pameungpeuk. Dimana dalam Pencak Silat Siliwangi tidak berjalan mulus, terdapat kendala dan hambatan yang dirasakan oleh anggota maupun pelatih pencak silat tersebut. Kendala merupakan keadaan yang membatasi suatu pencapaian. Dapat diketahui, bahwa kendala dari Pencak Silat Siliwangi ini adalah biaya untuk mengikuti perlombaan di luar daerah, membeli alat musik, membeli seragam dan lainnya. Semua kegiatan di daerah maupun di kota memiliki pencapain yaitu menjadi juara, mengaharumkan nama tempat tinggalnya serta dikenal oleh banyak orang. Pencak Silat Siliwangi ini juga tidak berbeda, ingin melestarikan budaya mereka.

Anak-anak di Pameungpeuk sangat antusias mengikuti pencak silat, mulai dari usia 6tahun hingga 15tahun. Di kediaman Pak Mugni setiap sore anak-anak berkumpul untuk latihan. Sayangnya, tidak ada dukungan dari instansi luar.

Tidak ada dukungan dana dari pemerintah setempat. Untuk mengikuti lomba saja sangat amat susah, padahal Pameungpeuk memiliki generasi yang semangatnya tinggi. Selain kendala yang dirasakan, hambatan juga menjadi permasalahan dalam perkembangan pencak silat putra siliwangi yang baru seumur jagung tersebut. Hambatan menjadi batu krikil dalam perjalanan putra siliwangi. Hambatan merupakan suatu keadaan yang mengahalangi keberlangsungan suatu kegiatan. Pada kegiatan latihan yang dilaksanakan, menggunakan alat musik seadanya. Kendang yang sudah tua, serta kulit kendang yang sudah tidak bagus lagi masih digunakan.

Potensi dan Prestasi

Potensi berasal dari bahasa latin yaitu potrntia yang artinya kemampuan.

Potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan39. Potensi adalah sumber yang sangat besar yang belum diketahui dan yang belum diberikan pada waktu manusia lahir di dunia ini.

Potensi adalah kemampuan yang belum dibukakan, kuasa yang tersimpan, kekuatan yang belum tersentuh, keberhasilan yang belum digunakan, karunia yang tersembunyi atau dengan kata lain potensi adalah kemampuan atau kekuatan atau daya dimana potensi dapat merupakan bawaan atau bakat dan hasil stimulus atau latihan dalam perkembangan. Potensi adalah kemampuan, kekuatan, kesanggupan, daya yang mempunyai kemungkinan dikembangkan.40

Potensi merupakan suatu bakat yang tertanam dalam diri seseorang. Dapat dilihat, bibit-bibit penerus yang sangat amat berbakat telah tumbuh di Pencak Silat Putra Siliwangi ini. Potensi ini harus disyukuri dan diperkuat dengan adanya latihan setiap malam minggu, diasah agar tersalurkan potensi-potensi dari generasi. Di mulai dari semangat yang menggebu-gebu, gertakan gerakan yang dilontarkan, ekspresi wajah yang sangat di perdalam agar suasana semakin mencekam. Semua itu ada pada anak-anak yang mengikuti pencak silat putra siliwangi. Sudah ada peminatan yang sangat besar dalam pencak silat ini, tidak hanya peminatan dan potensi kembali lagi pada dukungan pemerintah agar anak-anak ini memperoleh prestasi dari bidang non pendidikan.

Tidak hanya dilingkungan, anak-anak dari anggota pencak silat ini juga mengikuti pencak silat di sekolah mereka. Mengikuti perlombaan antar sekolah di pameungpeuk, belum meluas hingga keluar daerah. Prestasi yang didapat juga masih terbilang sedikit dikarena usia putra siliwangi yang masih seumur jagung. Selain itu mereka mengikuti event-event dalam hajat laut.

Mempertunjukkan kesenian yang sudah diperdalam sejak lama. Sehingga potensi-potensi tersebut terpendam dan kurang di kembangkan akibat sangat kurangnya dukungan dari pihak ekternal dan iternal. Pihak masyarakat dan pemerintah harus memiliki inovasi dalam mendukung potensi anak-anak dalam bidang pencak silat putra siliwangi ini seperti mengenalkannya melalui media

40 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT.

Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2008, hal. 1096.

sosial. Membuat akun instagram yang dapat diketahui hampir seluruh masyarakat indonesia menggunakan akun ini, bisa juga membuat vlog di youtube channel mengenai keseharian dalam latihan, saat lomba, dan sebagainya. Dimana bisa dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan di kaca Internasional. Dengan hal yang sederhana bisa membuat oranglain mengetahui potensi dari suatu daerah.

Prestasi adalah keberhasilan dan pencapain dari hasil kerja keras serta mendapat penghargaan dan kemenangan tersendiri. Prestasi adalah bukti usaha yang telah di capai. Prestasi juga berorientasi oleh individu melalui evaluasi menurut kriteria dari dalam maupun luar, melibatkan individu untuk berkompetensi dengan orang lain. Untuk mendukung prestasi ini harus adanya motivasi dari dalam diri dan dari orang sekitar yang berada di dekat individu tersebut. Dengan motivasi, maka individu tersebut bisa membangunkan semangatnya dalam berkompetisi dengan lawannya. Motivasinya bisa berupa dorongan serta mengingatkan anak untuk mengembangkan bakatnya dalam pencak silat, serta mendampingi anak ketika mengikuti kompetisi. Anak akan merasa senang dan bahagia ketika orangtua selalu bersamanya.

Gambar 3.6

Prestasi Pencak Silat Putra Siliwangi

Sumber: Dokumentasi Kepala Desa Pameungpeuk (2018)

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis pengamat, dapat disimpulkan bahwa Pencak Silat Putra Siliwangi memang memiliki peranan penting sebagai daya tarik bagi wisatawan terutama pada hari-hari besar serta dapat mengembangkan bakat dari anak-anak sekitar. Adanya kegiatan-kegiatan yang melibatkan pencak silat, tidak hanya itu saja pencak silat juga diterapkan didalam sekolah sebagai ekstrakurikuler. Pencak Silat juga meningkatkan rasa solidaritas yang tinggi, dimana pada hari tertentu setiap anggota mengadakan perkumpulan bersama. Sikap solidaritas ini juga dijunjung dan dirasakan oleh masyarakat Pameungpeuk dengan masyarakat lainnya yang berada disekitar Pameungpeuk. Pencak Silat Putra Siliwangi unggul dalam jurus-jurus yang digunakan. Selain jurus TGR, Putra Siliwangi juga menggunakan jurus-jurus khasnya yaitu, jurus Kedung dan Panauwan. Didalam Pencak Silat ini, juga menampilkan alat musik yang menjadi ciri khasnya. Alat musik ini dimainkan oleh para senior, namun anak kecil juga memainkan alat musik tersebut.

Pencak Silat Putra Siliwangi sudah tidak lepas dengan prestasi yang dicapai.

Berbagai perlombaan sudah turut serta, pertunjukkan juga sudah diikuti. Akan tetapi, kurangnya perhatian pemerintah setempat menjadi kendalanya.

Terutama masalah pendanaan. Akibat dana yang kurang tersalurkan menghambat Pencak Silat Putra Siliwangi untuk mengikuti lomba-lomba ke tingkat yang lebih tinggi. Membutuhkan modal yang tidak terbilang sedikit, untuk membeli seragam, alat musik, dan pendaftaran saat perlombaan. Alat musik yang digunakan juga sangat minim, ketika latihan alat musik yang digunakan sudah tidak bagus lagi. Tetapi masih digunakan, karena tidak adanya donatur yang memberikan alat musik terbaru bagi Pencak Silat Putra Siliwangi tersebut.

Daftar Pustaka

Nasional, D. P. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Indonesia, E. (1997). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Pakhi Pamungkas.

Kahmad, D. (2006). Sosiologi Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Kriswanto, E. S. (2015). Pencak Silat Sejarah dan Perkembangan Pencak Silat.

Yogyakarta: Pustaka Baru.

Kumaidah, E. (2012). Penguatan Eksistensi Bangsa Melalui Bela Diri Tradisional Pencak Silat. Semarang: Jurnal Humanika Universitas Diponegoro.

Mardotillah, M., & Zein, D. M. (2016). Silat: Identitas Budaya, Pendidikan, Seni Bela Diri, dan Pemeliharaan Kesehatan. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya.

---oOo---

Bab 4

Orientasi Siswa Kelas XII untuk Melanjutkan Ke Perguruan Tinggi: Studi Kasus Siswa Kelas XII SMAN 5 Garut

Abstrak

Tulisan ini ingin menjelaskan orientasi siswa kelas XII untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Penelitian dilakukan di SMAN 5 Garut, Desa Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Orientasi Siswa ini dipengaruhi oleh aspek sosial dan ekonomi orangtua siswa. Selain itu, program sekolah seperti study tour, bursa universitas dan bursa kerja pun memiliki andil besar dalam mengarahkan orientasi siswa kelas XII. Berdasarkan hasil temuan lapangan, terdapat sejumlah 328 siswa dan 180 siswa yang mendaftar ke Perguruan Tinggi. Data tersebut menjelaskan bahwasanya orientasi siswa kelas XII angkatan tahun 2018 untuk melanjutkan ke perguruan tinggi terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan orientasi non-akademik seperti bekerja, menikah, dll.

Kata kunci: Orientasi siswa, perguruan tinggi, pilihan rasional

Pendahuluan

Tulisan ini hendak mengkaji tentang orientasi siswa kelas XII untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di SMAN 5 Garut. Orientasi memiliki konsen penting di kalangan siswa kelas XII yang notabenenya adalah calon lulusan yang telah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk pilihan untuk melanjutkan perguruan tinggi atau bekerja dan pilihan lainnya. Orientasi masa depan adalah bagaimana seseorang merumuskan dan menyusun visi ke depan dengan membagi orientasi jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

Selain itu bahwa orientasi masa depan merupakan gambaran mengenai masa depan yang membentuk tujuan, aspirasi dan memberikan makna pribadi pada

kejadian di masa depan serta berhubungan dengan bagaimana seseorang berpikir dan bertingkah laku menuju masa depan yang digambarkan dalam proses motivation,planning, dan evaluation.41

Penulis mengambil studi kasus tentang orientasi siswa kelas XII SMAN 5 Garut karena siswa kelas XII SMAN 5 Garut memiliki latar belakang masalah dalam orientasi setelah lulus melanjutkan ke pendidikan tinggi berdasarkan berbagai pertimbangan status sosial ekonomi keluarga, prestasi dan minat dalam melanjutkan studi ke pendidikan tinggi. Sistematika dalam tulisan ini disajikan ke dalam beberapa bagian. Pertama, pendahuluan yang menjelaskan latar belakang terbentuknya orientasi siswa siswa kelas XII SMAN 5 Garut untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Selain itu menjelaskan tujuan penulisan. Kedua, profil SMAN 5 Garut yang akan menjelaskan sejarah berdirinya SMAN 5 Garut. Ketiga, data persebaran lulusan SMAN 5 Garut.

Keempat, pembahasan mengenai orientasi akademik dan non-akademik siswa SMAN 5 Garut untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Bagian ini merupakan analisa dan pembahasan.

Di dalamnya menjelaskan tentang orientasi siswa kelas XII SMAN 5 Garut yang diklasifikasi menjadi 2 jenis, yakni orientasi akademik dan non-akademik karena data di lapangan menunjukkan adanya berbagai pertimbangan meliputi status sosial ekonomi keluarga, prestasi dan minat yang kemudian mempengaruhi orientasi siswa kelas XII SMAN 5 Garut dalam melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau pun tidak. Kelima, penutup dari apa yang telah dipaparkan. Di dalamnya terdapat kesimpulan daripada penelitian ini.

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis data secara kualitatif dan melakukan reduksi data.

Data yang dikumpulkan meliputi: (1) data primer diperoleh melalui wawancara mendalam; (2) data sekunder bersumber dari buku, jurnal, tulisan ilmiah, dan dokumen atau arsip terkait topik penelitian. Data yang telah direduksi memberikan gambaran yang lebih tajam untuk menggambarkan hasil penelitian yang didapatkan dari lapangan.

Data dianalisis dengan menggunakan model interaktif. Dalam model ini dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi.

Profil Desa Pameungpeuk

Desa Pameungpeuk berada di wilayah Garut Provinsi Jawa Barat. Letaknya bersebelahan dengan empat desa lain, yakni Desa Bojong Kidul, Desa Mandala Kasih, Desa Mancagahar, dan Desa Jatimulya. Nama “Pameungpeuk” pada dasarnya bukan hanya nama sebuah desa, melainkan sebuah nama kecamatan yang di dalamnya terdiri dari delapan desa termasuk Desa Pameungpeuk itu sendiri. Desa Pameungpeuk dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang bernama Bapak Dasep. Desa ini memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang cukup luas serta tanah yang cukup subur. Terkenal dengan desa yang memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang luas, mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Selain itu, terdapat pula profesi lainnya sebagai pedagang serta pekerja kasar. Profesi-profesi ini dilakoni mayoritas penduduk selain akibat dari pemanfaatan sumber daya alam yang ada, tingkat pendidikan penduduk juga ikut mempengaruhi.

Mayoritas penduduk Desa Pameungpeuk merupakan lulusan SMA atau sederajat, tidak banyak pula yang melanjutkan ke jenjang pendidikan perguruan tinggi. Alasannya beragam. Namun, rata-rata masalah ekonomi menjadi kendala terbesar. Selain itu, akses yang cukup jauh serta adanya anggapan

“budaya kota cukup keras” menjadi alasan penduduk untuk mengurungkan niatnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Desa Pameungpeuk terletak di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Desa Pameungpeuk awalnya merupakan satu dari bagian wilayah kekuasan Pajajaran. Dulunya desa ini masih bernama Desa Negara, yang berkaitan dengan gunung Nagara yang memang tak jauh keberadaannya dari Desa Pameungpeuk. Mata pencaharian sehari-hari masyarakat pameungpeuk rata-rata adalah buruh tani. Rumah-rumah warga rata-rata sederhana, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Warga masyarakat saling menghargai satu sama lain dan saling membantu jika diantaranya ada yang kesusahan.

Desa Pameungpeuk memiliki 8000 warga dan sekitar 2500 KK. Desa Pameungpeuk dipimpin oleh Pak Dasep Rahmat, S.Pd.i yang jabatannya disini adalah kepala Desa. Pak Dasep Rahmat menjabat menjadi Kepala Desa Pameungpeuk dari tahun 2015 hingga tahun 2021. Desa Pameungpeuk mempunyai 5 dusun 15 Rukun Warga dan 15 Masjid/Mushola. Desa Pameungpeuk mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Garut Selatan dan sejarah Kolonial Belanda. Di Desa Pameungpeuk terdapat alun- alun yang merupakan salah satu ikon Kecamatan Pameungeuk.

Desa Pameungpeuk tidak memiliki kampus atau universitas, di dalamnya, hanya terdapat sekolah tingkat menengah atas dan sederajat sebagai pendidikan tertinggi di wilayah desa. Terdapat tiga Sekolah Menengah Atas dan Sederajat di desa ini, baik swasta maupun negeri. Salah satunya adalah SMAN 5 Garut yang akan menjadi lokasi penelitian dan ranah pembahasan dalam penelitian ini. Keberadaan tiga Sekolah Menengah Atas dan Sederajat ini diisi oleh total 1080 siswa. Mayoritas siswa berasal dari Desa Pameungpeuk dan empat desa

buruh kasar, banyak pula yang melanjutkan ke pendidikan TNI dan kuliah di wilayah Bandung dan Garut.

Profil SMAN 5 Garut

Gambar 4.1 Peta SMAN 5 Garut

Sumber: Google Maps (2018)

SMAN 5 Garut dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang bernama Drs.

Juanda, M., M. Pd. dengan beberapa staff jajarannya. Sekolah ini merupakan satu-satunya SMA Negeri di wilayah Pameungpeuk. Dahulu bernama SMAN 1 Pameungpeuk, namun setelah adanya kebijakan yang berisi pengambil alihan oleh pihak provinsi maka nama SMA ini berganti menjadi SMAN 5 Garut untuk mempermudah pemetaan wilayah sekolah di wilayah Garut.

Sebelumnya, SMAN 1 Pameungpeuk ini menginduk kepada SMAN Garut.

Sekolah ini aktif dalam bangunan milik sendiri dengan cukup banyak staff pengajar di dalamnya. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pun cukup banyak, seperti shalat dhuha bersama, gebyar bulan bahasa, kunjungan ke kampus-kampus pilihan, serta bursa kampus dan kerja. Selain aktif dalam kegiatan internal sekolah, para siswa-siswi pun turut serta dalam kegiatan luar

seperti salah satunya lomba bulan bahasa tingkat Provinsi Jawa Barat. Dalam lomba tersebut SMAN 5 Garut memperoleh juara 1 musikalisasi puisi.

Lulusan SMAN 5 Garut rata-rata langsung bekerja, ini akibat permasalahan ekonomi dalam keluarga. Namun, banyak pula siswa-siswi lulusan yang melanjut ke perguruan tinggi dan sekolah kedinasan. Sekolah kedinasan yang dituju biasanya adalah sekolah tinggi kemiliteran atau kepolisian, sedangkan perguruan tinggi yang dituju mayoritas adalah Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Jendral Soedirman, dan Universitas Garut. Pemilihan perguruan tinggi ini dipengaruhi oleh sosialisasi guru pengajar yang mengarahkan siswa-siswinya berdasarkan pemetaan wilayah perguruan tiggi terdekat, selain itu banyaknya alumni tahun sebelumnya yang tembus masuk ke dalam perguruan tinggi tersebut pun mempengaruhi.

Persebaran Lulusan SMA Negeri 5 Garut

Peserta didik kelas XII SMA Negeri 5 Garut memiliki orientasi sendiri dalam melanjutkan jenjang ke perguruan tinggi ataupun melanjutkan untuk bekerja.

Hal ini disebabkan karena, berbagai macam pertimbangan dalam berbagai aspek kehidupan sosial seperti aspek sosial dan aspek yang paling berpengaruh adalah aspek ekonomi. Berdasarkan data yang kami dapat di lapangan, orang tua dari peserta didik kelas XII SMA Negeri 5 Garut bermata pencaharian sebagai petani yang bertani di tanah atau sawah dari orang lain sebagian ada yang bekerja di toko baju.

Bila dipetakan lagi, alasan utama peserta didik kelas XII yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena aspek ekonomi orang tua yang tidak mampu untuk membiayai segala urusan kuliah anaknya nanti. Aspek sosial bisa dilihat dari pelajar yang telah memiliki sikap yang tidak percaya diri

pun pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk lanjut ke perguruan tinggi dan memilih untuk membantu orang tuanya untuk menjadi buruh tani.

Akan tetapi, berbeda dengan peserta didik kelas XII yang aspek ekonomi dan sosialnya mendukung dalam melanjutkan ke perguruan tinggi. Pertama, dalam aspek ekonomi orang tuanya bekerja menjadi TNI/Polri, pemilik sawah, pemilik usaha kontrakan maupun guru yang dianggap mampu dalam membiayai anaknya untuk melanjutkan kuliah ke kampus yang diinginkan.

Dalam aspek sosial, bisa dilihat bahwa bila orang tuanya mencapai jenjang pendidikan tinggi atau kuliah, maka anaknya harus seperti itu juga maka anaknya pun pada akhirnya di kuliahkan.

Berdasarkan keterangan dari guru SMAN 5 Garut, ternyata tidak sedikit dari siswa – siswi yang dalam pemilihan pendidikan tinggi atau kuliah memilih program studi atau perguruan tinggi dengan mengedepankan minat daripada peluang. Seperti kita ketahui, dalam kriteria penerimaan mahasiswa atau mahasiswi baru terdapat kriteria–kriteria yang dijadikan pedoman bagi para peserta didik kelas XII dalam menyusun strategi agar bisa diterima oleh pendidikan tinggi atau kampus yang diinginkan. Terkait motivasi bagi para pelajar yang siap melanjutkan ke perguruan tinggi terdapat beberapa upaya sekolah dan para peserta didik kelas XII dalam peningkatan minat ke perguruan tinggi. Usaha tersebut diimplementasikan dari sekolah melalui program bursa perguruan tinggi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi para pelajar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Melalui cara pengenalan dunia pendidikan di jenjang kuliah dan sosialisasi terhadap strategi apa saja cara yang dapat dilakukan agar tembus SNMPTN dan SBMPTN.

Selain itu, terdapat pula upaya meningkatkan motivasi lainnya yaitu dengan cara pengenalan status mahasiswa, pengenalan universitas berserta jurusan dan program studi dan layanan konseling intensif dari guru bimbingan konseling yang setiap pekan masuk ke setiap kelas. Selain itu, setiap tahunnya sekolah mengadakan study tour ke universitas ternama di Indonesia seperti Universitas

Gadjah Mada, Univesitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Negeri, dan Universitas Jendral Soedirman yang diperuntukan oleh peserta didik kelas XII.

Tabel 4.1

Jumlah Pelajar SMAN 5 Garut yang Diterima di Perguruan Tinggi

Jalur Masuk Perguruan Tinggi Jumlah

SNMPTN 17 pelajar

SBMPTN -

Ujian Mandiri 3 pelajar

Swasta 30 pelajar

Sumber: Analisis Peneliti (2018)

Orientasi Akademik dan Non-Akademik

Berdasarkan hasil temuan lapangan, orientasi lulusan siswa kelas XII SMAN 5 Garut terbagi ke dalam dua kategori. Pertama, siswa yang orientasinya mengarah pada akademik. Pada kategori ini, sebagian siswa kelas XII SMAN 5 Garut mengganggap akademik adalah suatu hal yang penting dan berguna bagi masa depan mereka dan pada siswa kategori ini lah mereka mempunyai orientasi untuk melajutkan ke perguruan tinggi setelah menyelesaikan studinya pada jenjang Sekolah Menengah Atas. Kedua, siswa yang orientasinya mengarah pada non-akademik. Pada kategori ini sebagian dari siswa kelas XII SMAN 5 Garut mengganggap bahwa pendidikan merupakan suatu hal yang penting, namun mereka memiliki berbagai faktor yang membuatnya tidak memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi setelah menyelesaikan studi pada jenjang Sekolah Menengah Atas.

melajutkan ke perguruan tinggi dan yang telah diterima di perguruan tinggi melalui jalur seleksi SNMPTN, SBMPTN, Ujian Mandiri, dan juga yang melanjutkan ke perguruan tinggi swasta. Sedangkan untuk kategori orientasi non-akademik siswa kelas XII dilihat dari minat mereka setelah lulus dari jenjang sekolah menengah atas, yaitu bekerja, menikah, menunda kuliah, serta masuk sekolah tinggi atau Akademik.

Gambar 4.2

Diagram Orientasi Lulusan 2017

Sumber: Analisis Peneliti (2018)

Pada angkatan tahun 2015 data yang tercatat di sekolah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN terdapat 36 orang siswa yang tersebar ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Data tersebut merupakan data yang dimiliki oleh pihak sekolah melalui Pangkalan Data Siswa dan Sekolah (PDSS) SMAN 5 Garut sedangkan di luar data tersebut, menurut informasi dari narasumber yang peneliti wawancarai bahwa sebagian dari lulusan angkatan tahun 2015 terdapat alumni yang melanjutkan ke perguruan tinggi swasta di daerah Garut dan Bandung. Selain itu, ada juga yang lebih memilih untuk mengikuti sekolah tinggi / akademik atau pun bekerja.

Berbeda dengan tahun 2015, pada lulusan angkatan tahun 2017 tercatat sebanyak 17 orang siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi melalui jalur

SNMPTN dari 139 orang siswa kelas XII yang mendaftar. Selain 17 orang siswa tersebut, terdapat 3 orang siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi negeri melalui jalur Ujian Mandiri, serta terdapat sekitar 30 orang siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi swasta di daerah Garut dan Bandung. Untuk lulusan angkatan 2017 sendiri tercatat terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), Universitas Islam Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Universitas Tanjung Pura, serta Universitas Diponegoro. Berkaca dari lulusan tahun sebelumnya, minat siswa kelas XII angkatan tahun 2018 untuk melanjutkan ke perguruan tinggi terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Ini diperkuat dari data PDSS yang menyebutkan bahwasanya 50% dari siswa angkatan 2018 yaitu sekitar 180 orang siswa dari 328 orang siswa telah mendaftar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri melalui jalur SNMPTN.

Gambar 4.3

Diagram Orientasi Siswa Kelas XII SMAN 5 Garut

Sumber: Analisis Peneliti (2018) Penutup

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting sebagai investasi kita terhadap ilmu pengetahuan untuk menjawab segala tantangan hidup dimasa depan.