Kata Kunci: Adaptasi, Nilai Pendidikan Agama Islam, Multikulturalisme, Kelangsungan Hidup, Kerukunan, Masyarakat Multi Etnis dan Beragama. Keharmonisan masyarakat multietnis dan agama dalam satu daerah selalu menarik untuk dibahas karena dapat memberikan solusi bagi daerah serupa yang masih berkonflik. Tesis ini bertujuan untuk menganalisis model adaptasi nilai-nilai PAI multikultural yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Miftahul Qulub untuk menciptakan kelangsungan kerukunan masyarakat multietnis dan agama di desa Polagan Pamekasan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerukunan masyarakat multietnis dan agama di desa Polagan tidak lepas dari peran Pondok Pesantren Miftahul Qulub yang telah mengadaptasi nilai-nilai pendidikan agama Islam multikultural sebagaimana Nahdlatul Ulama (NU). Pondok Pesantren. Keharmonisan masyarakat multietnis dan agama dilambangkan dengan indahnya bangunan vihara di Polagan. Di tengah keharmonisan yang muncul dalam masyarakat multietnik dan agama di Polagan, dimana masyarakatnya hidup berdampingan, meski berbeda suku dan agama.
Untuk mengkaji eksistensi dan kelangsungan kerukunan antar suku dan agama, Asrama Islam Miftahul Kulub diadaptasi dengan pendekatan budaya, simbolik, dan ekonomi. Sebab, realitas harmonisasi masyarakat multietnik dan agama Polandia tidak lepas dari peran dan fungsi asrama Islam yang hadir di tengah-tengah mereka. Asrama Islam Miftahul Qulub menjaga kerukunan dan kerukunan antar umat beragama dan multi suku sebagaimana tertuang dalam ketentuan umum Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama.
Oleh karena itu, judul penelitian ini adalah “Penyesuaian nilai-nilai pendidikan agama Islam multikultural di Pondok Pesantren Miftahul Qulub dalam menciptakan penghidupan harmonis dalam masyarakat multietnis dan agama di desa Polagan Pamekasan”.
Fokus Penelitian
Tugas dan kewajiban RT dan RW antara lain turut serta meningkatkan kondisi ketentraman, ketertiban, dan kerukunan masyarakat serta menciptakan hubungan yang harmonis antar anggota masyarakat maupun antara masyarakat dengan pemerintah daerah.22. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas lebih mendalam bagaimana pesantren beradaptasi terhadap kerukunan dalam masyarakat multietnik dan agama di Desa Polagan dengan mempertimbangkan teori sosial fungsionalisme struktural Talcott Parsons dan teori survival Bourdieu. Bagaimana proses adaptasi nilai-nilai pendidikan agama Islam multikultural di Pondok Pesantren Miftahul Qulub untuk menciptakan kelangsungan kerukunan masyarakat multietnis dan agama di Desa Polagan Pamekasan.
Bagaimana model adaptasi pendidikan agama Islam multikultural di Pondok Pesantren Miftahul Qulub untuk menciptakan kelangsungan kerukunan masyarakat multietnik dan agama di Desa Polagan Pamekasan.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Penegasan Istilah
PENUTUP
Kesimpulan
Model penyesuaian nilai multikultural pesantren Miftahul Qulub PAI merupakan model penyesuaian berdasarkan skema AGIL, karena pesantren menggunakan prinsip adaptasi, prinsip pencapaian tujuan, prinsip integrasi dan prinsip latensi. Model adaptasi Pondok Pesantren Miftahul Qulub disebut juga dengan model adaptasi toleransi karena masing-masing pihak menyadari bahwa setiap kelompok mempunyai tanggung jawabnya masing-masing. Model multikultural adaptasi nilai-nilai PAI Pondok Pesantren Miftahul Qulub disebut juga dengan model konvergensi karena adanya komunikasi timbal balik dalam keberagaman masyarakat.
Implikasi Teoritik
PAI multikultural di empat Madrasah yang dibangun dalam komunitas multietnis dan agama. 2) Menyelenggarakan kolom-kolom (pertemuan yasin tahlil) sebagai sarana membangun komunikasi sosial (Latency), (3) Perlindungan Bait Suci (Goal Attainment), (4) Pendidikan keluarga (integrasi), dan (5) tokoh agama yang patut diteladani (Latency ). ). Nilai-nilai kerukunan yang dianut oleh Pondok Pesantren Miftahul Qulub baik bagi santri maupun masyarakat adalah: Tasamuh, Taaruf, Tafahum, Taawun, Tawasuth, Tanawwu', Al-Musawat wa al-Ta'dil, Musyawarah, Al-Ukhuwwah dan Tawazun. Nilai ini memperkuat teori nilai pendidikan Islam multikultural yang telah banyak dikemukakan sebelumnya oleh banyak peneliti, seperti H.A.
Thoyyib Mas'udi berjudul Penetrasi Pendidikan Islam ke dalam Budaya dan Agama Masyarakat Desa Pulopancikan Gresik. Mohammad Suhaidi berjudul Kerukunan Masyarakat Dalam Satu Desa, Tiga Agama di Desa Pabian Kecamatan Kota Kabupaten Sumenep Madura. Kemudian disertasi ini juga memperkuat disertasi Muhamed Fahmi yang berjudul Pendidikan Multikultural Sebagai Strategi Adaptasi Pondok Pesantren Bina Insani Bali di Kawasan Minoritas Tabanan, Bali.
Penelitian disertasi ini menemukan bahwa konsep pendidikan multikultural di lokasi ini bercirikan sumber daya manusia yang beragam, baik suku maupun agama, dengan guru yang beragama Islam dan non-Muslim. Proses adaptasi dalam penelitian ini melengkapi teori fungsionalitas struktural Talcott Parsons atau yang dikenal dengan teori skema AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency), dengan paradigma fakta sosial. Kemudian juga merekonstruksi teori Pierrie Bourdieu yang menyatakan bahwa kelangsungan hidup dapat dicapai jika seseorang atau kelompok mampu mengakumulasi dan menguasai modal sosial, yang mana modal terdiri dari tiga bagian yaitu modal budaya, simbolik, dan ekonomi.
Penelitian ini memperkuat teori James Bank dengan lima dimensi pendidikan multikultural, salah satunya adalah mengkonstruksi kurikulum berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat multikultural. Kemudian penelitian ini juga memperkaya kajian tentang pesantren dan masyarakat yang telah banyak diteliti oleh para peneliti terdahulu seperti Azyumardi Azra, HM Yacub dengan kajian tentang pesantren untuk pengembangan masyarakat, dan Maskuri Bakri dengan kajian tentang pesantren dan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat. Model Adaptasi PAI Multikultural Pondok Pesantren Miftahul Qulub memperkuat teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons atau yang terkenal dengan teori skema AGIL (Adaptasi, Pencapaian tujuan, integrasi, latensi). Hasil penelitian ini adalah model adaptasi toleransi yang diperkuat Michael Walzer, 1997, dengan model komunikasi konvergensi berbasis modal sosial skema AGIL dengan role model.
Namun terdapat pola perkembangan dalam penelitian ini dimana terdapat adaptasi toleransi, komunikasi konvergensi berbasis modal sosial masyarakat. Jadi, pengembangan model adaptasi dalam penelitian ini adalah adaptasi toleransi dan konvergensi berdasarkan skema AGIL. Oleh karena itu, adaptasi yang menekankan pada bentuk-bentuk toleransi, konvergensi jangka panjang (surviving) dengan modal sosial yang meliputi budaya, ekonomi, simbolik dan politik.
Implikasi Praktis
Tesis ini juga dapat diterapkan secara praktis dalam konteks proses adaptasi yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Miftahul Qulub, sehingga proses pembelajarannya dilakukan di tengah masyarakat. Adaptasi nilai-nilai multikultural masyarakat PAI dilakukan dengan mengembangkan madrasah di sekitar Polagan, memajukan tradisi kolan, menjaga vihara, ikut mensukseskan perayaan hari raya masyarakat Tionghoa, mengadaptasi pendidikan keluarga, menggunakan modal budaya, ekonomi, simbolik dan politik sebagai kekuatan bagi keharmonisan masyarakat.. Disertasi ini juga dapat diterapkan secara praktis dalam konteks model adaptasi multikultural PAI Pondok Pesantren Miftahul Qulub yang memperkuat teori AGIL, karena materi pembelajaran disampaikan dengan cara beradaptasi dengan perilaku komunikasi masing-masing dalam keberagaman. siswa.
Keteladanan dengan teori keteladanan atau role model yang dilakukan oleh tokoh masyarakat juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap keharmonisan masyarakat. Hal ini memperkuat teori keteladanan Bandura dan relevan dengan budaya “bhuppa’-bhabhu’-ghuru-rato” (Bapak Guru adalah raja yang patut ditiru dan dihormati). Perkawinan Campuran (Model Percampuran Budaya Masyarakat Tionghoa, Arab, India, Jawa dan Madura di Kota Pamekasan)”, Jurnal Karsa, Vol.