EFEKTIVITAS TEKNIK SOSIODRAMA UNTUK MENGURANGI PERILAKU AGRESIF PADA SISWA KELAS XII IPS SMA NEGERI 1 AMANUBAN SELATAN
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana untuk memenuhi salah satu syarat guna
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh
Seprianto Neonbanu NIM. 2001160073
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG
2024
LEMBAR PERSETUJUAN
Penelitian ini dengan judul :“ EVEKTIFITAS TEKNIK SOSIODRAMA UNTUK MENGURANGI PERILAKU AGRESIF SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 AMANUBAN SELATAN” telah memenuhi syarat dan disetujui pada tanggal,…..2024.
Diajukan Oleh
Seprianto Neonbanu NIM. 2001160073
Telah Disetujui
Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping
Putu Agus Indrawan, M.Pd I Putu Agus Apriliana, M.Pd NIP. 19890930 201803 1 001 NIP. 19940407 202203 1 007
Mengetahui
Koordinator Program Studi Bimbingan Dan Konseling
Andriani. P. Nalle, S.Psi., M.Ed (CPEP) NIP. 19830414 200812 2 004
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat mengerjakan proposal ini yang berjudul Efektivitas Teknik Sosiodrama Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan.
Proposal ini disusun untuk memenuhi serta melengkapi syarat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bimbingan dan Konseling pada Universitas Nusa Cendana.
Dalam penyusunan proposal ini penulis berusaha memberi yang sebaik mungkin namun demikian, penulis menyadari akan kemampuan dan keterbatasan pengetahuan serta pengalaman penulis. Oleh Karena Itu bimbingan dari Bapak/Ibu Penguji Sangat dibutuhkan guna memperbaiki proposal ini, karena Proposal ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan serta dukungan dari berbagai pihak.
Kupang ……….2024
Penulis
Seorianto Neonbanu 2001160073
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
DAFTAR TABEL... v
DAFTAR GAMBAR...vi
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1. Latar Belakang...1
1.2. Rumusan Masalah... 5
1.3. Tujuan Penelitian...5
1.4. Manfaat Penelitian...6
1.5. Definisi Operasional...7
BAB II KAJIAN PUSTAKA...8
2.1. Teknik Sosiodrama...8
2.1.1. Pengertian Teknik Sosiodrama...8
2.1.2. Tujuan Teknik Sosiodrama...9
2.1.3. Langkah-Langkah Teknik Sosiodrama...9
2.2. Perilaku Agresif...11
2.2.1. Pengertian Perilaku Agresif...11
2.2.2. Aspek-Aspek Perilaku Agresif...12
2.2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Agresif...13
2.2.4. Dampak Perilaku Agresif...13
2.3. Penelitian Relevan...14
2.4. Kerangka Berpikir...16
2.5. Hipotesis Penelitian...18
BAB III METODE PENELITIAN...19
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian...19
3.1.1. Lokasi Penelitian...19
3.1.2. Waktu Penelitian...19
3.2. Instrumen Penelitian dan Bahan Penelitian...19
3.2.1. Skala Perilaku Agresif...19
3.2.2. Bahan Penelitian...20
3.3. Uji Validitas Instrumen...20
3.4. Uji Reliabilitas...20
3.5. Jenis Penelitian... 21
3.6. Desain Penelitian...21
3.7. Langkah-Langkah Pemberian Treatment...22
3.8. Populasi dan Sampel Penelitian...24
3.8.1. Populasi Penelitian...24
3.8.2. Sampel Penelitian...25
3.9. Teknik Analisis Data... 25
3.10. Analisis data statistik deskriptif...25
3.10.1. Uji Hipotesis...27
3.9. Skema Alur Penelitian...29
DAFTAR PUSTAKA...30
DAFTAR TABEL
Tabel 1.Alternatif Jawaban...19
Tabel 2. Kriteria Pengujian Reliabilitas Instrumen...21
Tabel 3. Desain Penelitian...21
Tabel 4. Jumlah Populasi...24
Tabel 5. Norma Kategorisasi...26
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Kerangka Berpikir...17 Gambar 2.1 Skema Alur Penelitian...29
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Lingkungan sekolah idealnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar dan berkembang, baik secara akademik maupun sosial- emosional. Siswa di sekolah diharapkan dapat menunjukkan sikap positif, seperti menghargai sesama, menjaga kontrol diri, dan bekerja sama dengan orang lain.
Perkembangan kognitif dan emosional siswa remaja yang sehat akan mendorong kemampuan mereka untuk berpikir logis, memahami perbedaan, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih adaptif. (Anidar, 2019). Oleh karena itu, siswa SMA hendaknya memiliki keterampilan sosial yang baik, yang memungkinkan mereka untuk mengelola emosi dan menghindari perilaku agresif dalam situasi demikian. Selain itu, siswa diharapkan bisa menunjukkan sikap tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain dengan menjaga ketertiban serta menjauhi perilaku yang mengarah pada kekerasan atau intimidasi fisik. Ketika berada di sekolah, siswa l sebaiknya dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar, yang bebas dari kekerasan dan konflik, sehingga setiap individu merasa aman dan nyaman dalam mengembangkan diri secara optimal.
Namun kenyataannya di lapangan menunjukan masih terdapat peserta didik yang melakukan perilaku agresif.Seperti yang terjadi di SMA Negeri 1 Amanuban Selatan.Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan pada tanggal 2 september 2024 di SMA Negeri 1 Amanuban Selatan, perilaku agresif di kalangan siswa terlihat dalam berbagai bentuk, seperti tindakan verbal dan fisik. Siswa cenderung menggunakan kata-kata kasar dan makian, terutama dalam situasi konflik atau ketidaksetujuan.Beberapa siswa bahkan menggunakan penghinaan dengan sebutan binatang seperti "anjing" dan "babi" terhadap teman-temannya.
Selain itu, tindakan intimidasi fisik, seperti meludahi atau mengancam teman, juga ditemukan.Perilaku ini sering terjadi di luar pengawasan guru, terutama di waktu istirahat dan setelah jam pelajaran.
Perilaku agresif pada remaja sering kali muncul sebagai ekspresi emosi yang berlebihan akibat kekecewaan atau kegagalan, yang ditunjukkan melalui tindakan merusak orang lain atau benda secara sengaja, baik secara verbal maupun nonverbal (Herman, 2019). Permasalahan ini kerap dihadapi oleh remaja dan bisa menimbulkan dampak negatif, baik bagi pelaku maupun korban agresi. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap munculnya perilaku agresif di antaranya adalah kurangnya perhatian dari orang-orang terdekat, tekanan hidup yang dirasakan, dan pengaruh negatif dari media massa yang menampilkan kekerasan.
Perilaku agresif tidak hanya berpengaruh pada pelaku tetapi juga dapat berdampak serius bagi korban, yang sering kali sesama remaja.Akibat dari perilaku ini bisa berupa kerugian fisik dan psikologis, termasuk luka fisik atau trauma emosional bagi mereka yang menjadi sasaran agresi.Bagi pelaku, perilaku agresif dapat menjadi kebiasaan yang menghambat perkembangan sosial dan emosional mereka, sehingga menambah kompleksitas masalah yang mereka hadapi.Selain dampak pada hubungan sosial, perilaku agresif juga dapat menimbulkan kerugian material yang signifikan, baik untuk pelaku maupun korban.Menurut Restu dan Yusri (2018), akibat dari perilaku agresif bisa meluas hingga menimbulkan masalah kesehatan fisik, seperti luka atau cedera, serta gangguan psikologis, seperti stres atau kecemasan berlebihan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Khabib, 2019), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perilaku agresif pada siswa terbagi menjadi dua bentuk utama, yaitu agresif fisik dan verbal. Bentuk agresif fisik meliputi tindakan seperti memukul, membanting barang, dan menyentil, sementara agresif verbal mencakup ejekan dan hinaan. Faktor-faktor penyebab perilaku agresif ini melibatkan pengalaman masa kecil, perlakuan buruk orangtua, dukungan dari lingkungan, peran model, paparan kekerasan dalam media, kegagalan mencapai tujuan, dan ketidakmampuan mengendalikan amarah. Dampak dari perilaku agresif ini signifikan, mempengaruhi proses belajar dengan menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, gelisah, dan gangguan terhadap teman-teman, serta berdampak negatif pada hubungan sosial dengan teman, di mana siswa cenderung dijauhi dan tidak disenangi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK pada tanggal 2 September 2024.Guru BK mengatakan masih ada sejumlah peserta didik yang melakukan perilaku agresif, seperti peserta didik cenderung suka memaki teman, peserta didik suka mengeluarkan kata-kata binatang “anjing, babi” untuk temannya. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh salah satu siswa kelas XII IPS. Siswa tersebut mengatakan bahwa saya pernah kak dimaki dan diludahi oleh teman kelas saya karena saya tidak memberikan dia uang kak. Dia sering sekali meminta saya uang, tapi saya tidak pernah memberikannya sehingga saya sering dimaki dan bahkan sering dipanggil “anjing” oleh kakak kelas saya kak.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK dan salah satu siswa kelas XII IPS di SMA Negeri 1 Amanuban Selatan, dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif masih menjadi masalah yang signifikan di lingkungan sekolah. Perilaku agresif tersebut terlihat dari tindakan peserta didik yang cenderung memaki teman dan menggunakan kata-kata kasar, termasuk penghinaan dengan sebutan binatang seperti "anjing" atau "babi". Siswa juga melaporkan pengalaman dilecehkan secara verbal dan bahkan diludahi oleh teman sekelas karena tidak memenuhi permintaan uang. Hal ini menunjukkan adanya tekanan sosial dan perilaku intimidatif di antara siswa yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pihak sekolah.
Upaya guru Bimbingan Konseling di sekolah SMA Negeri 1 Amanuban Selatan dalam mengatasi perilaku agresif siswa yaitu hanya berfokus pada pemberian hukuman bukanlah pendekatan yang ideal atau tidak adanya pemberian layanan. Hukuman cenderung berfokus pada pencegahan perilaku negatif dengan cara represif, Hal ini dapat membuat siswa merasa terisolasi, cemas, atau tidak didukung secara emosional, sehingga siswa tidak memperbaiki perilaku secara jangka panjang.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Tamama & Susi, 2019) mengungkapkan bahwa salah satu cara yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengurangi perilaku agresi verbal siswa adalah dengan menerapkan teknik sosiodrama. Pelaksanaan teknik sosiodrama ini dilakukan dengan membentuk kelompok.Tema yang dimainkan dalam drama meliputi menghina teman, marah hobiku, pentingnya menjaga lisan dan akibat suka membantah.Dalam memerankan
drama, para siswa tidak hanya membayangkan suatu kejadian melainkan ikut merasakan kejadian itu sendiri.Setelah sesi drama selesai dilanjutkan dengan kegiatan diskusi dan Tanya jawab berkaitan dengan tema yang telah diperankan.Hal ini bertujuan untuk merubah pola pikir siswa dan lambat laun mengubah pola perilakunya. Perubahan ini terlihat saat proses pengamatan berlangsung bahwa setelah dilakukannya sosiodrama, para siswa tampak lebih berhati-hati dalam berbicara. Dari penelitian yang dilakukan oleh (Tamama & Susi, 2019) dapat disimpulkan bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku agresif siswa yaitu salah satunya dengan menggunakan teknik sosiodrama.
Teknik sosiodrama merupakan permainan peran yang ditujukan untuk memecahkan masalah sosial yang muncul dalam hubungan antar-manusia. Konflik- konflik sosial yang dilakukan sosiodrama adalah konflik-konflik yang tidak mendalam dan tidak menyangkut gangguan kepribadian (Sari, Blasius, & Eva, 2018). Sosiodrama biasanya digunakan untuk menangani masalah yang berkaitan dengan masalah sosial seperti krisis kepercayaan diri jika di hadapan kelompok, menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial dan rasa tanggung jawab serta untuk mengembangkan keterampilan tertentu (Widada, 2018).
Teknik sosiodrama merupakan teknik dramatis yang melibatkan partisipasi aktif dari peserta didik dalam memerankan peran dan memahami perspektif orang lain (Widada, 2018). Sehingga dengan menggunakan teknik sosiodrama, peserta didik dapat memerankan peran orang lain dan memahami perspektif orang lain dengan lebih baik. Dengan menggunakan teknik sosiodrama, peserta didik dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan membangun hubungan yang lebih baik.Perbedaan penelitian ini dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu pada penelitian dari (Widada, 2018) hanya berfokus pada agresif verbal, sedangkan dalam penelitian yang peneliti lakukan ini berfokus pada agresif fisik dan verbal.
Fenomena erilaku agresif siswa di lingkungan sekolah SMA Negeri 1 Amanuban Selatanmenunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk pendekatan yang lebih efektif dalam menangani konflik antar siswa. Berdasarkan berbagai laporan observasi, wawancara, dan kajian literatur, perilaku agresif ini bukan hanya muncul dalam bentuk verbal, seperti penggunaan kata-kata kasar, tetapi juga dalam
bentuk tindakan fisik. Upaya yang dilakukan selama ini melalui pemberian hukuman belum memberikan dampak jangka panjang yang signifikan dalam mengubah perilaku siswa secara positif. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang mampu mengasah empati dan pemahaman antar siswa, sehingga mereka dapat menempatkan diri dalam perspektif orang lain dan menurunkan dorongan untuk berperilaku agresif. Salah satu metode yang terbukti efektif dalam penelitian sebelumnya adalah teknik sosiodrama, yang memungkinkan siswa untuk secara langsung mengalami dan memahami dampak dari tindakan agresif melalui peran dramatis dan refleksi, maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas Teknik Sosiodrama Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah dijelaskan pada latar belakang, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.2.1. Bagaimana gambaran perilaku agresif siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan sebelum dan setelah diterapkan teknik sosiodrama?
1.2.2. Apakah teknik sosiodrama efektif untuk mengurangi perilaku agresif siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan:
1.3.1. Untuk mengetahui perilaku agresif siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan sebelum dan setelah diterapkan teknik sosiodrama.
1.3.2. Untuk mengetahui apakah teknik sosiodrama efektif untuk mengurangi perilaku agresif siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teori
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk perkemba ngan ilmu dalam bidang pendidikan bimbingan dan konseling, serta men ambah pengetahuan tentang teknik yang dapat digunakan dalam bidang bimbingan untuk mengurangi perilaku agresif siswa SMA.
1.4.2. Manfaat Praktis
1. Bagi Sekolah. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan harmonis. Dengan berkurangnya perilaku agresif siswa, suasana di sekolah diharapkan menjadi lebih aman dan nyaman bagi seluruh komunitas sekolah.
2. Bagi Guru BK. Penelitian ini memberikan wawasan praktis mengenai penggunaan teknik sosiodrama sebagai metode yang efektif untuk mengurangi perilaku agresif siswa. Guru BK dapat menerapkan hasil penelitian ini dalam program bimbingan dan konseling, sehingga dapat lebih membantu siswa dalam mengelola emosi dan perilaku mereka secara lebih positif.
3. Bagi Siswa. Siswa akan mendapatkan manfaat dari layanan teknik sosiodrama ini, karena mereka dapat belajar bagaimana mengelola emosi, meningkatkan keterampilan sosial, dan menghindari perilaku agresif. Mereka juga dapat mengembangkan empati dan keterampilan komunikasi yang lebih baik melalui proses dramatisasi konflik.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya. Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi penting bagi peneliti selanjutnya yang tertarik mengembangkan metode bimbingan lainnya atau mengeksplorasi ef ektivitas teknik sosiodrama dalam konteks perilaku siswa SMA yang berbeda.
1.5. Definisi Operasional
Teknik Sosiodrama yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu sebuah teknik pemecahan masalah yang terjadi dalam konteks sosial yang berempati dengan cara mendramakan sebuah masalah teknik sosiodrama, dalam aplikasinya melibatkan beberapa peserta didik perlu menghafalkan naskah dengan mempersiapkan diri dan sebagainya pemain hanya melihat secara garis besar dari isi skenario dan apa yang disampaikan teknik ini bertujuan agar peserta didik mendapatkan keterampilan sosial seperti berempati terhadap sesama teman kelompoknya. Prosedur pelaksanaan teknik sosiodrama ini ada tiga yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penutup.
Perilaku agresif yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu perilaku agresif yang sudah terjadi yang dilakukan oleh pelaku terhadap korban. Perilaku agresif merupakan niat seseorang untuk menyakiti orang lain dengan tindakan menyerang baik melukai fisik, mengambil hak orang lain, merusak milik orang lain, membunuh, dan juga menciptakan permusuhan terhadap orang lain tetapi tidak berulang-ulang terhadap korban yang sama yang berdampak pada bullying. Dalam penelitian ini perilaku agresif diukur melalui aspek aspek agresif verbal dan agresif fisik. Agresif verbal terdiri dari indikator berkata kasar, menghina dan membentak. Agresif fisik terdiri dari indikator bertengkar dan memukul.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Teknik Sosiodrama
2.1.1. Pengertian Teknik Sosiodrama
Sosiodrama merupakan bentuk metode untuk bimbingan dan konseling untuk memberikan peluang kepada peserta didik supaya memerankan sesuatu perilaku tindakan atau imajinasi individu seperti halnya saat diaplikasikan pada bentuk interaksi sosial pada hari-hari yang sebenarnya kepada orang-orang di lingkungannya (Widada, 2018). Sosiodrama merupakan ilmu dan seni yang berfokus pada akar dan esensi dengan korelasi pada konflik antara kelompok sehingga cara mengubahnya dengan sangat diperlukan. Sosiodrama sendiri adalah cara pencegahan dan pengobatan Marineau dalam (Sari, Blasius, & Eva, 2018).
Sosiodrama merupakan upaya membantu peserta didik/konseli lebih memahami dan mengantisipasi permasalahan sosial yang timbul dari hubungan antar manusia melalui bermain peran.Permasalahan sosial yang dapat dituntaskan melalui sosiodrama seperti pertentangan dengan teman sebaya, kesalahpahaman dalam berkomunikasi, dan lain-lain. Sosiodrama merupakan salah satu teknik dalam bimbingan kelompok yaitu role playing atau teknik bermain peran dengan cara mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan social (POBK, 2016).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosiodrama merupakan salah satu teknik dalam bimbingan kelompok yaitu role playing atau teknik bermain peran dengan cara mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memecahkannya.
2.1.2. Tujuan Teknik Sosiodrama
Tujuan teknik sosiodrama yaitu agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain (Khotimah, 2018). Tujuan sosiodrama yaitu membantu peserta didik atau konseli memperoleh pemahaman yang tepat tentang permasalahan sosial yang dialaminya dan dapat mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang efektif (POBK, 2016).
Dari tujuan sosiodrama di atas dapat disimpulkan bahwasannya tujuan sosiodrama yaitu agar peserta didik mampu menghargai dan menghayati apa yang dirasakan oleh orang lain dan membantu peserta didik atau konseli memperoleh pemahaman yang tepat tentang permasalahan sosial yang dialaminya. Oleh karena itu, sosiodrama merupakan kegiatan yang dapat sangat cocok untuk membantu peserta didik mudah dalam meningkatkan perkembangan sosialnya.
2.1.3. Langkah-Langkah Teknik Sosiodrama
Mengacu dalam (POBK, 2016) langkah-langkah dalam pelaksanaan sosiodrama secara umum adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan.
a. Identifikasi kebutuhan peserta didik/konseli, mencakup sikap dan keterampilan yang perlu dipelajari peserta didik/konseli dalam berinteraksi dengan orang lain pada kehidupan mereka sehari-hari.
b. Perumusan tujuan layanan sesuai dengan kebutuhan peserta didik/konseli.
c. Identifikasi materi berdasarkan kebutuhan dan tujuan, yang akan dikembangkan ke dalam skenario sosiodrama.
d. Pengembangan skenario sosiodrama.
e. Merencanakan strategi pelaksanaan sosiodrama.
f. Merencanakan evaluasi dan diskusi pelaksanaan sosiodrama.
2. Pelaksanaan
a. Guru bimbingan dan konseling atau konselor menginformasikan (secara klasikal) bahwa dalam permainan sosiodrama peserta didik/konseli akan berperan sebagai kelompok pemain dan observer.
b. Guru bimbingan dan konseling atau konselor membacakan garis besar cerita sosiodrama sesuai dengan skenario yang telah disiapkan, dilanjutkan dengan pembacaan rambu-rambu pemain dari setiap pemegang peran.
c. Guru bimbingan dan konseling atau konselor menentukan kelompok pemain, yang terdiri dari individu-individu yang memerankan peran- peran tertentu sesuai dengan tuntutan skenario. Penentuan pemain ini bisa melalui penawaran, didiskusikan di kelas, atau ditunjuk oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor.
d. Guru bimbingan dan konseling atau konselor menjelaskan proses permainan adegan-demi adegan seperti dalam skenario. Kelompok pemain diberi waktu sejenak untuk mempelajari skenario.
e. Guru bimbingan dan konseling atau konselor memberi penjelasan kepada kelompok observer/penonton tentang tugas yang harus mereka dilakukan dalam mengamati proses sosiodrama.
f. Guru bimbingan dan konseling atau konselor memimpin diskusi setelah pelaksanaan sosiodrama.
3. Penutup
Pada tahap ini guru bimbingan dan konseling atau konselor menyimpulkan hasil sosiodrama dan dilakukan penguatan terhadap aspek tertentu dari hasil sosiodrama sebagai upaya untuk meningkatkan perolehan belajar peserta didik/konseli dan dilanjutkan dengan evaluasi.
2.2. Perilaku Agresif
2.2.1. Pengertian Perilaku Agresif
Baron dan Byrne (Herman, 2019)perilaku agresif merupakan tingkah laku yang diarahkan kepada tujuan menyakiti makhluk hidup lain yang ingin menghindari perlakuan semacam itu. Hal tersebut menunjukkan bahwa jika individu menyakiti orang lain karena unsur ketidaksengajaan, maka perilaku tersebut bukan dikategorikan perilaku agresif. Sebagai contoh, rasa sakit akibat tindakan medis walaupun dengan sengaja dilakukan bukanlah termasuk perilaku agresif. Perilaku agresif siswa merupakan perilaku yang secara sosial terjadi pada anak-anak dan siswa usia 13 sampai 21 tahun, sehingga mereka mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang (Restu & Yusri, 2018) .
Berkowitz (Khotimah, 2018) menambahkan bahwa perilaku agresif adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang baik secara fisik maupun mental, selain itu dapat juga berupa emosi yang dapat mengarah pada perilaku agresif.Perilaku agresif adalah tingkah laku yang dijalankan oleh individu dengan maksud melukai atau mencelakakan individu lain. Misalkan anak-anak usia sekolah taman kanak-kanak bertengkar dan berkelahi untuk merebutkan permainan. Pada usia yang lebih tua, anak lebih mengarahkan perilaku agresifnya pada orang lain yang diwujudkan dalam bentuk mengejek, mencela, maupun menggoda (Amir & Heris, 2021).
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif merupakan niat seseorang untuk menyakiti orang lain dengan tindakan menyerang baik melukai fisik, mengambil hak orang lain, merusak milik orang lain, membunuh, dan juga menciptakan permusuhan terhadap orang lain.
2.2.2. Aspek-Aspek Perilaku Agresif
Ada dua macam aspek- aspek perilaku agresif menurut (Pratama &
Syahniar, 2018), yaitu:
a. Physical Aggression (Agresif fisik). Agresif fisik merupakan perilaku agresi yang dapat diobservasi (terlihat), yaitu kecenderungan individu untuk melakukan serangan secara fisik untuk mengekspresikan kemarahan atau agresif. Bentuk serangan fisik tersebut dapat berupa memukul, mendorong, menendang, mencubit dan lain sebagainya.
b. Verbal Aggression (Agresif verbal). Agresif verbal merupakan perilaku agresif yang dapat diobservasi (terlihat). Agresif verbal adalah kecenderungan untuk menyerang orang lain yang dapat merugikan dan menyakitkan kepada individu lain secara verbal, yaitu melalui kata-kata atau penolakan. Bentuk serangan verbal seperti cacian, ancaman, mengumpat, atau penolakan.
Atkinson dan Hilgard (Restu & Yusri, 2018) menjelaskan dua aspek perilaku agresif yang sering timbul pada diri individu yaitu:
a. Aspek fisik. Pada aspek ini cenderung memakai kekerasan fisik dalam meluapkan kemarahan dan emosi yang muncul dari dalam diri dan itu ditujukan kepada individu lain yang dianggap tidak menyenangkan. Aspek ini memiliki indikator yaitu memukul, meludah, menendang dan mendorong.
b. Aspek verbal, aspek ini diungkapkan oleh individu dalam bentuk tindakan atau perkataan terhadap individu lain yang dianggap tidak menyenangkan.
Bentuk perilaku yang termanifestasi dari perspektif ini adalah hinaan, umpatan-umpatan, dan perilaku yang terkesan menekan individu lain sehingga mengakibatkan kerugian psikologis pada individu yang dituju.
Aspek ini memiliki indikator yaitu mengancam, menghina, memaki dan mengumpat.
Berdasarkan penjelasan mengenai aspek perilaku agresif di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa aspek-aspek perilaku agresif terdiri dari aspek fisik dan verbal. Aspek fisik melibatkan penggunaan kekerasan fisik seperti memukul, meludah, menendang, dan mendorong, sementara aspek verbal melibatkan tindakan atau perkataan seperti hinaan, umpatan, dan perilaku menekan yang dapat menyebabkan kerugian psikologis pada individu yang dituju seperti kecemasan, depresi dan trauma.
2.2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Agresif
Kartono (Pratama & Syahniar, 2018) mengemukakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi perilaku agresif, yaitu:
a. Deindividuasi. Deindividuasi dapat mengarahkan individu kepada keleluasaan dalam melakukan agresi, sehingga agresi yang dilakukan menjadi lebih intens.
b. Kekuasaan dan Kepatuhan. Salah satu faktor penyebab perilaku agresi adalah kekuasaan dan kepatuhan. Kepatuhan merupakan bagian dari konformitas yang memiliki pengertian tekanan atau tuntutan yang membuat seseorang individu rela melakukan tindakan walaupun individu tersebut tidak menginginkannya.
c. Provokasi. Provokasi yang dilakukan oleh pelaku agresi dilihat sebagai ancaman yang harus dihadapi dengan respon agresif untuk meniadakan bahaya dari ancaman tersebut.
d. Pengaruh obat-obatan terlarang. Mengkonsumsi alkohol dalam dosis tinggi dapat meningkatkan kemungkinan respon agresif ketika seseorang diprovokasi.
2.2.4. Dampak Perilaku Agresif
Agresif yang dilakukan berturut-turut dalam jangka lama, apalagi terjadi pada anak-anak atau sejak masa kanak-kanak, dapat mempunyai dampak pada perkembangan kepribadian, misalnya Wanita yang masa kanak-kanaknya mengalami perlakuan fisik dan seksual, pada masa dewasanya 18-44 tahun akan
depresif, mempunyai harga diri yang rendah, sering menjadi depresi, sering menjadi korban kejahatan seksual, terlibat dalam penyalahgunaan obat, atau mempunyai pacar yang terlibat dalam penyalahgunaan obat. Dampak yang lainnya juga adalah dapat dijauhi dan dibenci orang lain, sedangkan dampak bagi korban tersebut bisa timbulnya cacat fisik dan psikis serta kerugian yang besar akibat perilaku agresif (Guntara & Illawati, 2020).
Selain dampak pada perkembangan pribadi, perilaku agresif yang berlanjut juga dapat berdampak pada lingkungan sosial dan hubungan interpersonal pelaku maupun korban.Anak atau remaja yang terbiasa menunjukkan perilaku agresif berisiko mengalami isolasi sosial karena teman- temannya cenderung menghindar untuk mengurangi konflik.Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang sehat dan mengembangkan keterampilan sosial yang positif, seperti empati dan komunikasi efektif. Bagi korban, dampak perilaku agresif dapat sangat merusak, mengakibatkan trauma emosional dan ketidakpercayaan terhadap orang lain. Dampak jangka panjang bagi korban mencakup kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, dan ketidakmampuan untuk membentuk hubungan yang aman.Lingkungan yang penuh dengan perilaku agresif ini pun bisa menciptakan budaya kekerasan yang sulit diubah tanpa intervensi yang tepat dari pihak sekolah atau keluarga (Restu & Yusri, 2018).
2.3. Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan adalah penelitian yang digunakan sebagai perbandingan dari menghindari manipulasi terhadap sebuah karya ilmiah dan menguatkan bahwa penelitian yang penulis lakukan benar-benar belum pernah persis diteliti oleh orang lain. Penelitian terdahulu yang relevan pernah dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh (Amir & Heris, 2021) dengan judul Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Role Playing Bagi Peserta Didik Yang Berperilaku Agresif Di SMP Yayasan Atikan Sunda Bandung. Hasil penelitian diperoleh bahwa layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing
sangat bermanfaat dan sangat berarti bagi peserta didik. Respon peserta didik sangat merasa senang sekali, menambah pengetahuan, dan melatih kepercayaan diri. Dan adanya perubahan perilaku yang didapatkan oleh peserta didik setelah mengikuti layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing ini.
Perbedaan penelitian ini dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu pada penelitian dari (Amir & Heris, 2021) ini menggunakan penelitian kualitatif yang mana data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi serta melakukan triangulasi sedangkan penelitian yang peneliti lakukan ini menggunakan penelitian kuantitif eksperimen research.
2. Penelitian yang dilakukan oleh (Taufik & Khairul, 2020) dengan judul Efektivitas Teknik Role Play dalam Membantu Mengurangi Perilaku Agresif.
Simpulan dari hasil penelitian keefektifan bimbingan kelompok dengan teknik role play adalah bahwa teknik tersebut sangat efektif untuk mengurangi perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Sunan Ampel Pagelaran. Sebelum diberikan treatment menggunakan teknik role play subjek berada pada kategori tinggi namun setelah mendapatkan treatment teknik role play sikap perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Sunan Ampel terjadi penurunan dari kategori tinggi menjadi rendah. Hasil Uji wilcoxon menunjukan bahwa sig. (2-tailed) 0,005
<0,05 artinya teknik role playing efektif untuk mengurangi perilaku agresif kelas VIII SMP SUNAN AMPEL Pagelaran. Saran untuk peneliti selanjutnya pada saat bimbingan kelompok ada beberapa siswa yang pendiam atau malu dibutuhkan keterampilan komunikasi ketika menangani siswa tersebut, topik cerita harus menarik supaya siswa merasa tidak membosankan, topik cerita yang memerankan harus lebih dari 4 orang agar sebagian yang tidak mengikuti tidak merasa jenuh dan suasana lebih ramai. Perbedaan penelitian ini dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu pada penelitian dari (Taufik &
Khairul, 2020) ini menggunakan teknik cluster sampling yaitu memilih sebuah sampel dari kelompok-kelompok unit yang kecil sedangkan pada penelitian yang peneliti lakukan ini menggunakan teknik purposive sampling yang mana sampel diambil sesuai dengan maksud dan tujuan.
3. Penelitian yang dilakukan oleh (Widada, 2018) dengan judul Efektivitas Teknik Sosiodrama Melalui Bimbingan Kelompok Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Verbal Siswa SMP. Dari hasil pengamatan, terjadi perubahan perilaku agresif verbal yang signifikan pada semua subyek penelitian. Perubahan perilaku yang tampak yaitu berkurangnya perkataan kotor dan berteriak-teriak, tidak mudah emosi terhadap teman, tidak mengejek dan menghina teman, dan mengerjakan apa yang diperintah oleh teman. Misalnya, jika tidak dipinjami pensil atau pulpen maka mereka akan meminjam ke teman yang lain atau kepada guru, memperhatikan ketika guru berbicara di depan kelas, menghapus papan tulis dengan segera, mendekati teman ketika akan berbicara, tidak meneruskan kata yang diucapkan ketika sadar bahwa kata tersebut merupakan kata-kata kotor, dan tidak mengejek teman.Perbedaan penelitian ini dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu pada penelitian dari (Widada, 2018) menggunakan layanan bimbingan kelompok dan hanya berfokus pada agresif verbal, sedangkan dalam penelitian yang peneliti lakukan ini menggunakan teknik sosiodrama dan berfokus pada agresif fisik dan verbal.
2.4. Kerangka Berpikir
Menurut (Sugiyono, 2013) kerangka pemikiran adalah sintesa yang mencerminkan keterkaitan antara variabel yang diteliti dan merupakan tuntunan untuk memecahkan masalah penelitian serta merumuskan hipotesis penelitian yang berbentuk bagan alur yang dilengkapi dengan penjelasan. (Sugiyono, 2013) juga menjelaskan secara teoritismodel konseptual variabel-variabel penelitian tentang bagaimana persatuan teori-teori yang berhubungan dengan variabel-variabel penelitian yang ingin diteliti. Maka dari itu yang menjadi kerangka berfikir dalam penelitian ini yaitu:
Kerangka berpikir mengenai teknik sosiodrama untuk mengurangi perilaku agresif siswa terdiri dari beberapa tahap penting yang dimulai dengan tahap pembentukan, di mana kelompok dibentuk dan peserta didik mulai mengenal satu sama lain. Selanjutnya, pada tahap peralihan, siswa mulai menunjukkan keterbukaan dan kesiapan untuk terlibat dalam proses bimbingan. Di tahap kegiatan, aktivitas sosiodrama dimulai dengan persiapan dan pembagian peran.
Peserta didik kemudian akan bermain peran yang berkaitan dengan agresi verbal, seperti berkata kasar, menghina, dan membentak, serta agresi fisik, seperti bertengkar, dan memukul. Setelah kegiatan bermain peran selesai, tahap pengakhiran dilakukan dengan refleksi atas pembelajaran yang diperoleh dari sosiodrama. Hasil dari layanan ini diharapkan dapat menurunkan perilaku agresif siswa, baik agresi verbal maupun fisik, di mana siswa diharapkan tidak lagi melakukan tindakan seperti berkata kasar, menghina, membentak, bertengkar, atau melakukan tindakan kasar lainnya terhadap orang lain maupun barang.
Gambar 1.1 Kerangka Berpikir Perilaku Agresif
1. Agresif verbal (berkata kasar, menghina dan membentak 2. Agresif fisik (suka
bertengkar dan memukul) Perilaku Agresif 3. Agresif verbal
(berkata kasar, menghina dan membentak 4. Agresif fisik (suka
bertengkar dan memukul)
Perilaku Agresif Menurun 1. Tidak melakukan
agresif verbal (berkata kasar, menghina dan membantak
2. Tidak melakukan agresif fisik (suka bertengkar dan memukul Teknik Sosiodrama
1. Tahap Pembentukan 2. Tahap Peralihan 3. Tahap Kegiatan
a. Persiapan dan pembagian peran b. Bermain peran
mengenai agresif verbal
c. Bermain peran mengenai agresif fisik
4. Tahap Pengakhiran
2.5. Hipotesis Penelitian
Hipotetis merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (Sugiyono, 2013). Artinya bisa ditentukan benar atau salahnya melalui pengujian atau pembuktian secara empiris.
Adapun hipotetis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Teknik Sosiodrama Efektif Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan”. Hipotetis penelitian ini sebagai berikut:
Ha :Teknik Sosiodrama Efektif Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan.
H0 :Teknik Sosiodrama Tidak Efektif Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan
BAB III
METODE PENELITIAN
1.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 1.1.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada sekolah SMA Negeri 1 Amanuban Selatan
1.1.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan kurang lebih selama 2 bulan setelah dilaksanakan seminar proposal.
1.2. Instrumen Penelitian dan Bahan Penelitian 1.1.1. Skala Perilaku Agresif
Skala perilaku agresif dalam penelitian ini berbentuk skala likert.
(Sugiyono, 2013) menyatakan bahwa skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial.
Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Penelitian ini menggunakan instrumen perilaku agresif dengan skala penilaian yaitu sangat sesuai, sesuai, tidak sesuai, sangat tidak sesuai yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 1.Alternatif Jawaban
Jenis
Pertanyaan/Pernyat aan
Alternatif Jawaban Sangat
Sesuai
Sesuai Tidak
Sesuai
Sangat Tidak Sesuai
Favorable 4 3 2 1
Unfavorable 1 2 3 4
1.1.2. Bahan Penelitian 4. RPL Bimbingan Kelompok
Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) merupakan suatu perangkat pembelajaran yang dibuat untuk menjadi acuan dalam pelaksanaan suatu layanan tersebut.
1.3. Uji Validitas Instrumen
Sebuah tes disebut valid apabila tes tersebut mampu mengukur apa yang hendak diukur. Jika instrumen dikatakan valid berarti menunjukkan alat ukur yang digunakan mendapatkan data itu valid sehingga berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2013). Untuk melakukan uji validitas peneliti menggunakan uji SPSS versi 25 dengan jenis teknik statistic dengan koefisien product moment. Kriteria validitas, setelah rhitung ditemukan kemudian dikonsultasi dengan rtabeldalam taraf signifikan 5%. Jika rhitung≥ rtabel(0,5) maka item dinyatakan valid. Namun sebaliknya apabila rhitung≤ rtabel (uji dua sisi dengan signifikan 0,5) maka instrument tersebut tidak berkorelasi signifikan terhadap skor total dan ini berarti instrumen tersebut dinyatakan tidak valid (Sugiyono, 2013).
1.4. Uji Reliabilitas
Reliabilitas sama dengan konsistensi atau keajegan. Suatu instrumen penelitian dikatakan reliabel apabila instrumen penelitian tersebut memiliki hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur. Semakin reliabel suatu tes memiliki persyaratan maka semakin yakin kita dapat menyatakan bahwa hasil tes mempunyai hasil yang sama ketika dilakukan kembali. Untuk memberi interpretasi pengujian reliabilitas instrumen, (Arikunto, 2014) mengemukakan kriteria pengujian reliabilitas instrumen yang akan digunakan peneliti sebagai taraf kriteria penentuan reliabilitas. Adapun kriterianya tertera pada tabel 2 adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Kriteria Pengujian Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas Keterangan
R11 < 0,200 Sangat Rendah
0,200 < r11 0,400 Rendah
0,400 < r11 0,700 Sedang
0,700 < r11 0,900 Tinggi
0,900 < r11 1,000 Sangat Tinggi
1.5. Jenis Penelitian
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Pre Eksperimental Design (One Group Pretest-Posttest Design). Menurut (Sugiyono, 2013) penelitian eksperimental merupakan pendekatan penelitian kuantitatif yang paling penuh, dalam arti memenuhi persyaratan untuk menguji hubungan sebab akibat. Hal ini berarti eksperimen merupakan kegiatan percobaan untuk meneliti suatu peristiwa atau gejala yang muncul pada kondisi tertentu.
1.6. Desain Penelitian
Bentuk penelitian eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre Eksperimental Design (One Group Pretest-Posttest Design) yaitu penelitian Yang tidak menggunakan kelompok kontrol serta desain penelitian ini terdapat pretest sebelum diberikan perlakuan dan postest sesudah diberikan perlakuan (Sugiyono, 2013). Adapun desain penelitianya digambarkan sebagai berikut:
Tabel 3. Desain Penelitian
Pretest Teknik Sosiodrama Postetst
O1 X O2
Untuk desain penelitian ini, peserta didik akan mengikuti pretest sebelum memulai sebelum melakukan drama melalui teknik sosiodrama dan posttest setelah selesai melakukan drama dengan teknik sosiodrama. Teknik sosiodrama iniakan
dilakukan dalam 6 pertemuan dengan mendramakan indikator dari agresif verbal dan agresif fisik. Setelah itu, peserta didik akan mengikuti posttest untuk mengukur perubahan perilaku agresif yang terjadi setelah melakukan drama dengan teknik sosiodrama.
Keterangan:
O1 :Pretest yaitu pengukuran perilaku agresif awal sebelum peserta didik diberikan perlakuan dengan teknik sosiodrama.
X : Perlakuan menggunakan teknik sosiodrama.
O2 :Posttest pengukuran akhir perilaku agresif peserta didik setelah diberikan perlakuan dengan teknik sosiodrama
1.7. Langkah-Langkah Pemberian Treatment 1. Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama ini bertujuan untuk memberikan skala perilaku agresif (pretest).Peneliti sebagai pemimpin kelompok memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan.Pemimpin kelompok menyampaikan tujuan kegiatan, yaitu pembagian skala perilaku agresif untuk melakukan penelitian. Diharapkan semua peserta dapat bekerja sama dan memahami maksud dari kegiatan serta mengisi skala perilaku agresif tersebut.
2. Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua ini dilakukan untuk mendramakan aspek agresif verbal dengan indikator berkata kasar dan menghina. Pemimpin kelompok mengawali kegiatan dengan mengucapkan salam dan berdoa, serta membangun hubungan baik dengan peserta. Setelah itu, pemimpin kelompok membagi tugas kepada anggota kelompok untuk berperan sebagai pemain.Pemimpin kelompok memberikan naskah drama tentang pentingnya menghindari kata-kata kasar dan menghina. Tujuan dari drama ini adalah untuk meningkatkan kesadaran siswa akan dampak negatif dari kata-kata kasar dan menghina terhadap orang lain. Pemimpin kelompok membacakan rambu-rambu pemain, melaksanakan sosiodrama, mendiskusikan hasil, dan menyimpulkan hasil diskusi.
3. Pertemuan Ketiga
Pertemuan ketiga ini bertujuan untuk mendramakan aspek agresif verbal dengan indikator membentak. Pemimpin kelompok mengawali kegiatan dengan salam dan berdoa, serta membangun hubungan yang baik.
Pemimpin membagi tugas kepada siswa untuk berperan dalam drama yang menyoroti perilaku membentak. Tujuan drama ini adalah untuk membantu siswa memahami konsekuensi dari perilaku membentak dan mengembangkan cara komunikasi yang lebih baik. Setelah pelaksanaan sosiodrama, dilakukan diskusi untuk merefleksikan apa yang telah dipelajari.
4. Pertemuan Keempat
Pertemuan keempat ini dilakukan untuk mendramakan aspek agresif fisik dengan indikator bertengkar. Pemimpin kelompok memulai dengan salam dan berdoa, kemudian membangun hubungan dengan peserta. Anggota kelompok dibagi peran untuk memainkan drama tentang konflik fisik, seperti bertengkar.Tujuan dari drama ini adalah untuk menunjukkan dampak negatif dari perilaku bertengkar dan pentingnya menyelesaikan konflik secara damai.Setelah pelaksanaan sosiodrama, pemimpin kelompok mendiskusikan hasilnya dan menyimpulkan.
5. Pertemuan Kelima
Pertemuan kelima ini bertujuan untuk mendramakan aspek agresif fisik dengan indikator memukul. Pemimpin kelompok mengawali kegiatan dengan salam dan berdoa, kemudian membangun hubungan baik dengan peserta. Pemimpin kelompok membagi tugas kepada anggota kelompok untuk berperan dalam drama yang menggambarkan perilaku memukul dan dampaknya.Tujuan dari drama ini adalah untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya mengontrol emosi dan mencari solusi tanpa kekerasan.
Diskusi dilakukan setelah pelaksanaan sosiodrama untuk merefleksikan pembelajaran.
6. Pertemuan Keenam
Pertemuan keenam ini dilakukan untuk membagikan skala perilaku agresif (posttest). Pemimpin kelompok menyambut anggota dengan keramahan dan keterbukaan, lalu menjelaskan kegiatan posttest. Pemimpin kelompok membagikan skala perilaku agresif kepada peserta yang telah mengikuti teknik sosiodrama. Peneliti mengucapkan terima kasih, bersalaman, berdoa, dan meninggalkan ruangan kelas.
1.8. Populasi dan Sampel Penelitian 1.1.1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek peneliti.b Menurut (Sugiyono, 2013) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian ini, populasi yang dimaksudkan adalah seluruh peserta didik kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan yang dapat dirincikan pada tabel 4 dibawah ini.
Tabel 4. Jumlah Populasi
No Kelas Jumlah
1 XII IPS 1 32
2 XII IPS 2 31
3 XII IPS 3 29
4 XII IPS 4 29
Total 121
Sumber: Operator Sekolah SMA Negeri 1 Amanuban Selatan
1.1.2. Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi penelitian (Sugiyono, 2013). Dalam penelitian ini sampel ditentukan dari hasil pretest yang mana dari hasil pretest peserta didik yang menunjukan perilaku agresiftinggiakan diambil sebagai sampel. Hal ini selaras dengan teknik sampling yang digunakan yaitu teknik purposive sampling yang mana sampel diambil sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu. Adapun kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut (1) Siswa yang skor perilaku agresif tinggi, (2) Siswa aktif SMA Negeri 1 Amanuban Selatan (3) Siswa kelas XII IPS (4) Bersedia sebagai sampel. Menurut Prayitno, (dalam Ismah, 2020) Dalam konteks bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama, jumlah anggota kelompok yang ideal berkisar antara 8 hingga 10 orang. Ukuran kelompok ini memungkinkan terjalinnya dinamika kelompok yang baik, dengan setiap anggota memiliki kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosiodrama. Sehingga jumlah sampel yang digunakan 10 orang diambil dari salah satu kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan yang memiliki skor perilaku agresif tinggi.
1.9. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan yang dilakukan setelah pencarian data dan mengolah data penelitian yang sudah didapatkan dari aktivitas responden terkumpul agar dapat dibaca dan ditafsirkan (Sugiyono, 2013). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif dan uji hipotesis Wilcoxon
1.10. Analisis data statistik deskriptif
Analisis data deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan mendeskriptif atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya (Azwar, 2017). Analisis deskriptif ini digunakan untuk memberikan gambaran perilaku agresif peserta didik sebelum dan sesudah pelaksanaan teknik sosiodrama.. Untuk menganalisis tersebut akan digunakan tabel distribusi frekuensi, perhitungan rata-rata, serta perhitungan persentase.
Deskripsi data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi nilai minimal, nilai maksimal, mean, standar deviasi, kategori jenjang dan presentase. Mean diperoleh dengan menjumlahkan seluruh nilai dan membaginya dengan jumlah individu (Azwar, 2017). Perhitungan mean dan standar deviasi dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak microsoft office 2010.
Kategorisasi jenjang ordinal bertujuan untuk menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang menurut satu kontinum berdasarkan atribut yang diukur (Azwar, 2017). Kategori atribut subjek dalam penelitian ini dibagi menjadi 5 yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Untuk menentukan kategorisasi, maka menggunakan rumus sebagai berikut:
Tabel 5. Norma Kategorisasi
Rumus Kategori
M + 1,5SD < X Sangat Tinggi
M + 0,5SD < X ≤ M + 1,5SD Tinggi
M - 0,5SD < X ≤ + 0,5SD Sedang
M - 1,5SD < X ≤ M-0,5SD Rendah
X<M-1,5SD Sangat Rendah
Sumber: (Azwar, 2017)
Keterangan:
X = Skor subjek
M = Mean (nilai rata-rata)
SD = Standard Deviation (deviasi standar)
Setelah diketahui norma penentuan kategori, maka akan dihitung dengan rumus persentase yang mengacu pada pendapat (Azwar, 2017) sebagai berikut:
P = F
N×100 % Dengan:
P = Presentasi
F = Frekuensi tiap hasil
N = Jumlah keseluruhan sampel
1.1.3. Uji Hipotesis
Teknik analisis data yang digunakan untuk uji hipotesis pada penelitian ini adalah dengan menggunakan uji wilcoxon. Uji wilcoxon merupakan salah satu uji non parametrik yang digunakan untuk menguji perbedaan dua buah data yang berpasangan (Suliyanto, 2014). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
Ha : Teknik sosiodrama efektif untuk mengurangi perilaku agresif siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan.
H0 : Teknik sosiodrama tidak efektif untuk mengurangi perilaku agresif siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan.
Uji wilcoxon dapat digunakan pada penelitian yang sampelnya sedikit.
Penggunaan uji wilcoxon dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian mengenai perilaku agresif siswa antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan teknik sosiodrama pada siswa yang menjadi subyek dalam penelitian ini.
Penggunaan Uji wilcoxon dalam penelitian ini untuk melihat apakah layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama efektif untuk mengurangi perilaku agresif siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Amanuban Selatan.
Analisis data yang dilakukan untuk menguji hipotesis pada penelitian ini menggunakan aplikasi software IBM Statistical Package for Social Sciences (SPSS)25.0 for windows dengan taraf signifikansi 0,05. Pengambilan keputusan untuk uji hipotesis Uji wilcoxon yaitu:
a. jika nilai Sig < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
b. Jika nilai Sig > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Uji Normalitas Gain menurut (Wahab et al., 2021) adalah sebuah uji yang bisa memberikan gambaran umum peningkatan skor hasil pembelajaran antara sebelum dan sesudah diterapkannya metode tersebut
Normal Gain=Skor Post Test−Skor Pre Test Skor Ideal−Skor Pre Test
Table 1 Kriteria tingkat N-gain
Rata-Rata Kriteria
g > 0,7 Tinggi
0,3 ≤ g ≤ 0,7 Sedang
0 < g < 0,3 Rendah
g ≤ 0 Gagal
1.1. Skema Alur Penelitian
Gambar 3.1 Skema Alur Penelitian Kesimpulan dan Saran Pembahasan Hasil Pengelolaan Data
Tahap Pengelolaan Data 1. Melakukan tabulasi data pada excel
2. Analisis data deskriptif, uji hipotesis (uji mann whtney)
Tahap Pelaksanaan 1. Uji coba instrument
2. Uji validitas & reliabilitas
3. Menyebarkan instrument yang sudah valid 4. Analisis data untuk menentukan sampel
5. Melakukan treatment layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama
6. Memberikan posttetst
Tahap Persiapan 1. Menyusun instrument penelitian 2. Mengurus surat ijin penelitian
3. Mengantar surat ijin penelitian ke lokasi penelitian
Gambar 2.1 Skema Alur Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Anidar, J. (2019). Teori Belajar Menurut Aliran Psikologi Kognitif serta Implikasinya Dalam Proses Belajar dan Pembelajaran. E-Tech, 07(IV), 1–12.
Wahab, A., Junaedi, J., & Azhar, M. (2021). Efektivitas Pembelajaran Statistika Pendidikan Menggunakan Uji Peningkatan N-Gain di PGMI. Jurnal Basicedu, 5(2), 1039–1045.
https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i2.845
Abdul, A. (2018). Hubungan kepercayaan diri dengan penyesuaian diri pada Remaja. Jurnal Psikologi, 5(1).
Amir, & Heris, H. (2021). Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Role Playing Bagi Peserta Didik Yang Berperilaku Agresif Di SMP Yayasan Atikan Sunda Bandung. Jurnal Fokus, 4(2), 151-159.
Andarmani. (2022). Hubungan Konsep Diri Dengan Penyesuaian Diri Siswa SMA Kelas X Semester Pertama. SKRIPSI .
Anisa, R., & Yusmansyah, Y. (2018). Meningkatkan Penyesuaian Diri di Sekolah Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Pada Siswa Kelas X. Jurnal Bimbingan Konseling, 5(3).
Anidar, J. (2019). Teori Belajar Menurut Aliran Psikologi Kognitif serta Implikasinya Dalam Proses Belajar dan Pembelajaran. E-Tech, 07(IV), 1–12
Apriliana, P. A., & Nalle, A. P. (2023). Bimbingan Konseling Belajar. Jawa Tengah: Amerta Median.
Arikunto. (2014). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Atisha, F. P., & Yarmis Syukur. (2024). Hubungan Regulasi Diri dengan Penyesuaian Diri Siswa di Sekolah. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(2), 22863-22871.
Azwar. (2017). Metode Penelitian Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bu’ulolo, & Bestari, L. (2022). Hubungan Penyesuaian Diri Dengan Prestasi Belajar Siswa Di SMP Negeri 4 Fanayama. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 2(2).
Damayanti, H., Purwanti, P., & Lestari, S. (2018). Analisis Penyesuaian Diri Ditinjau dari Tipe Kepribadian Peserta Didik Kelas X SMAN 1 Pontianak. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 6(11).
Fajar, P., & Aviani, Y. (2022). Hubungan Self-Efficacy dengan Penyesuaian Diri. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(1).
Fauzan, A., & Heru, M. (2021). Hubungan Penyesuaian Diri Terhadap Resiliensi Akademik Pada Siswa. Jurnal Bimbingan Konseling, 5(2), 258-264.
Fitri, R., & Kustanti, R. (202). Hubungan Antara Efikasi Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Akademik Pada Mahasiswa Rantau Dari Indonesia Bagian Timur Di Semarang. Jurnal Empati, 7(2).
Folastri, S., & Rangka, I. B. (2017). Prosedur Layanan Bimbingan Dan Konseling Kelompok.
Bandung: Mujahid Press.
Frsikilia, O., & Winata, H. (2018). Regulasi Diri Sebagai Determinan Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 3(1) (2656-4734), 36- 43.
Guntara, E., & Illawati, S. (2020). Pengaruh Layanan Konseling Dengan Teknik Behavior Contract Untuk Merduski Perilaku Agresif Siswa Kelas VIII SMP Negeri 8 Kota Bengkulu. Jurnal Ilmiah BK, 3(2), 117-125.
Hartini, S. (2018). Upaya Penurunan tingkat Perilaku agresif Di Madrasah Dengan Layanan Konseling Kelompok Pada Siswa Kelas VII F. Jurnal Ilmu Pendidikan, 8(1), 20-35.
Hasim, F., & Rahman, I. (2019). Hubungan Regulasi Diri dengan Prokrastinasi Akademik Siswa SMAN 6 Kota Bogor. In The Annual Conference on Islamic Education and Social Science, 1(1), 114-121.
Herman, R. (2019). Analisis Perilaku Agresif Siswa Di SMP LKIA Pontianak. Jurnal Bimbingan Konsleing, 5(2), 85-95.
Hidayat, H., & Handayani, P. G. (2018). Self Regulated Learning (Study for Students Regular and Training). Jurnal Penelitian Bimbingan Dan Konseling, 3(1).
Khabib, A. (2019). Perilaku Agresif Siswa SMP: Studi Kasus Pada 2 Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Pengadegan Purbalingga. Jurnal Studi Islam, Gender dan Anak, 14(1), 136-153.
Khotimah, H. N. (2018). Upaya Mengurangi Perilaku Agresif Melalui Sosiodrama Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 14 Yogyakarta. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 3(1), 60-78.
Marimbun, Ilyas, S., & Ulfa, N. F. (2022). Hubungan Self Manajemen Dengan Penyesuaian Diri Siswa. Jurnal Wahana Konseling, 5(1).
Muhammad, A., & Retnaningdyastuti. (2024). Regulasi Diri Siswa Kelas X SMK N 5 Semarang Dengan Tingkat Prokrastinasi Akademik. Journal Of Social Science Research, 4(1), 9719- 9728.
Muiz, G. A., Hazran, M., & Rima, I. (2018). Peran Layanan Konseling Kelompok Terhadap Perilaku Agresif Peserta Didik. Jurnal Fokus, 1(2), 174-182.
Mujirohmawati, N., & Khoirunisa, R. (2022). Hubungan Antara Regulasi Diri dalam Belajar dengan Prokrastinasi Akademik pada Siswa. Jurnal Penelitian Psikologi, 9(5), 116-124.
Ondawati. (2019). Upaya Menurunkan Perilaku Agresif Melalui Pemberian Layanan Konseling Kelompok Pada Siswa. Jurnal Penelitian Pendidikan, 6(1), 84-95.
Parida, A. (2021). Meningkatkan Penyesuaian Diri terhadap Lingkungan Sekolah melalui Layanan Bimbingan Klasikal pada Siswa Kelas 7A SMP N 7 Muaro Jambi Tahun Pelajaran 2019- 2020. Jurnal Ilmiah Dikdaya, 11(2), 307-317.
POBK. (2016). Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Sekolah Menegah Pertama. Jakarta: ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud.
Pratama, & Syahniar. (2018). Perilaku agresif siswa dari keluarga broken home. Jurnal Pendidikan, 5(4), 112-117.
Prayitno, Afdal, Ifdil, & Ardi. (2017). Layanan Bimbingan Kelompok Dan Konseling Kelompok.
Bogor: Ghalia Indonesia.
Ramdhani, D. S., Ardimen, A., & Tanjung, R. (2022). Profil Regulasi Diri Siswa dan Implikasinya terhadap Konseling Religius. Jurnal Konseling Integratif, 1(1).
Restu, & Yusri. (2018). Studi tentang Perilaku Agresif Siswa Di Sekolah. Jurnal Ilmiah Konseling, 3(2), 76-85.
Ridwan. (2014). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.
Rizqiyah. (2017). Peranan Guru Bk Dalam Membantu Penyesuaian Diri Siswa Baru. Jurnal Bimbingan Konseling dan Dakwah Islam, 14(2).
Rusdi, & Anwar. (2023). HUBUNGAN PERCAYA DIRI DENGANPENYESUAIAN DIRI SISWA KELAS VII SMP Negeri 1 Plantungan. Jurnal Bimbingan Konseling, 9(1).
Rusnila, Dharnis, & Syukur. (2021). Analisis Penyesuaian Diri Siswa di Asrama Berdasarkan Jenis Sekolah, Latar Belakang Budaya dan Tingkat Kelas. Jurnal Penelitian Konseling dan Pendidikan, 5(1).
Sarah, N., & Maya, M. (2022). Gambaran Penyesuaian Diri Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Soreang. Fokus, 5(1), 44-49.
Sari. (2017). Penggunaan Layanan Konseling Kelompok Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Pada Siswa. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, 1(1), 1-13.
Sari, V. A., Blasius, B. L., & Eva, K. S. (2018). Keefetifan Teknik Sosiodrama Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Verbal Siswa Kelas VII SMP Negeri 5 Kepanjen. Jurnal Konseling Indonesia, 2(2), 63-67.
Setiawan, A., & Suyati, T. (2023). Hubungan Kepercayaan Diri Dengan Penyesuaian Diri Siswa Putra Kelas VII SMP Al Musyaffa Kendal. Jurnal Pendidikan Bineka Tunggak Ika, 1(5).
Sudijono, A. (2013). Pengantar Statistik Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono, S. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabet.
Sungkorwardani, S., Hamzah, I. F., Aeni, N., & Wulandari, D. A. (2022). Dukungan Sosial dan Penyesuaian Diri Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Perantauan Luar Jawa di
Kabupaten Banyumas. Psimphoni, 3(2).
Suryadi, & Citra, I. (2018). Profil Penyesuaian Diri Siswa Di SMP Pembangunan Laboratorium UNP Padang. Jurnal Bimbingan Konseling, 4(1), 89-101.
Suryanto, Arifin, B., & Yurike, K. (2018). Pemberian Layanan Konseling Kelompok Untuk Menurunkan Perilaku Agresif Siswa Di Sekolah. Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi, 1(2), 35-39.
Taufik, H., & Khairul, B. (2020). Efektivitas Teknik Role Play dalam Membantu Mengurangi Perilaku Agresif. Jurnal Konseling Indonesia, 6(1), 14-20.
Triyulianis, S. T. (2019). Kontribusi Komunikasi Interpersonal Terhadap Penyesuaian Diri Siswa di SMK Negeri 10 Padang. Skirpsi .
Widada. (2018). Efektivitas Teknik Sosiodrama Melalui Bimbingan Kelompok Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Verbal Siswa Smp. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling, 1(2), 68-73.
Widiyastutik, S., Handayani, D. K., & Dewi, W. A. (2019). Efektivitas Layanan Bimbingan Kelompok Untuk Meningkatkan Penyesuaian Diri Siswa Kelas VII Terhadap Lingkungan Sekolah Di SMP YPE Semarang. Journal of Guidance and Counseling, 1(2), 28–34.
Wiwin, N., & Heris, H. (2021). Gambaran Penyesuaian Diri Siswa Kelas X IPA 3 SMA Negeri 25 Garut. Fokus, 4(1), 31-38.