LK 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi
Nama : Marlina Rudin
Unit Penempatan : SMA Negeri 6 Buru Selatan
Masalah dalam Pembelajaran
Penyebab
Masalah Kategorisasi Masalah Alternatif Solusi Kelebihan Kekurangan Mitigasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Tuliskan persoalan yang telah
diidentifikasi / ditentukan di tahap sebelumnya.
Fokuskan pada persoalan terkait pembelajaran
Tuliskanlah penajaman apa penyebab setiap masalah yang diidentifikasi .
Renungkan, apakah persoalan tersebut terkait dengan pemilihan/ penyajian materi ajar, media, metode
pembelajaran, atau yang lain.
Centang pada kolom yang sesuai.
Tuliskan 2-3 solusi yang sesuai dengan masalah dan penyebab masalah yang telah diidentifikasi. Solusi ini diperoleh dari hasil kajian literatur dan wawancara dengan sejawat / pakar
Apakah kelebihan dari setiap alternatif solusi yang dipilih
Apakah kelemahan dari setiap alternatif solusi yang dipilih
Menurut Anda, apakah kelemahan tersebut dapat diantisipasi? Jika bisa, bagaimana caranya?
materi mediametode/
strategi lainnya
1. Rendahnya motivasi belajar peserta didik
Guru belum maksimal dalam menjalankan model pembelajaran dengan
mengintegrasik an pendekatan.
Yang menjadi
√ Berdasarkan kajian literatur, solusi untuk masalah sesuai akar penyebabnya untuk diterapkan di kelas saya pada siklus dua ini agar model pembelajaran ini dapat berjalan dengan maksimal adalah:
1. Guru menggunakan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Kelebihan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Menurut
(Sanjaya 2014) adalah sebagai berikut:
Meningkatkan
Kelemahan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Menurut
(Sanjaya 2014) adalah sebagai berikut:
Memerlukan
Menurut saya kelemahan yang dapat diatasi dari model pembelajaran ini adalah:
1. Dengan perencanaan yang matang, dukungan yang
tepat, dan
penyebabnya di di pengaruhi oleh beberapa factor yaitu :
pada penerapan model PBL di sintak bagian orientasi masalah guru belum maksimal menjalankan nya karena penyajian masalah yang di sajikan melalui media gambar kurang dekat dengan kehidupan sehari-hari disekitar peserta didik sehingga peserta didik tidak
termotivasi
Guru kurang
Karena mengacu pada pembelajaran di siklus satu, penggunaan model pembelajaran ini belum berjalan secara maksimal yaitu
inovasi yang di terapkan belum sepenuhnya menjawab tujuan pembelajaran yang dibuat, karena salah satu sintaks atau langkah dari model pembelajaran inovasi seperti PBL belum terlaksana dengan baik
. Maka dari itu di siklus dua ini, diharapkan guru mampu menerapkan penerapan model pembelajaran ini secara maksimal. Sebab jika penerapan model pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal maka tujuan pembelajaran juga dapat tercapai, karena seluruh dari sintaks atau langkah-langkah dalam pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.Masalah rendahnya motivasi belajar peserta didik penyebabnya adalah pada penerapan model PBL di sintak bagian orientasi masalah guru belum maksimal menjalankan nya karena penyajian masalah yang di sajikan melalui media gambar kurang dekat dengan kehidupan sehari-hari disekitar peserta didik sehingga peserta didik tidak termotivasi. Hal ini sejalan dengan pendapat menurut (Shoimin, 2017) mengatakan PBL merupakan suatu model pembelajaran yang memungkinkan peserta
didik untuk mengasah dan
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dengan berlandaskan pada situasi
minat,
motivasi, dan aktivitas pembelajaran peserta didik.
Membantu peserta didik dalam
mentransfer pengetahuan nya untuk memahami masalah dunia nyata
Membantu peserta didik untuk
mengembang kan
pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan
Mengembang kan
kemampuan peserta didik untuk
menyesuaika n dengan pengetahuan
waktu yang panjang dibandingkan dengan model
pembelajaran yang lain.
Ketika
peserta didik tidak memiliki minat atau tidak
mempunyai kepercayaan diri bahwa masalah yang dipelajari dapat
dipecahkan, maka
mereka akan merasa
enggan untuk mencobanya.
pengembangan yang
berkelanjutan 2. Untuk mengatasi
peserta didik yang kurang percaya diri, guru perlu
memberikan apresiasi kepada peserta didik berupa pujian atas pencapaian peserta didik meskipun kecil.
Selain itu guru
juga perlu
memberikan kepercayaan penuh kepada peserta didik dengan
melibatkan mereka dalam merancang kegiatan belajar dan penilaian sehingga mereka
merasa di
percaya.
menejemen waktu sehingga rancangan pembelajara n hanya menjadi catatan tidak direalisasika n dengan maksimal.
karena manajemen waktu yang tidak baik maka manajemen waktunya tidak sesuai dengan rancangan pembelajara n
Guru harus bisa
mengemban gkan media LKPD semenarik mungkin dengan gambar yang diprint berwarna
kehidupan nyata yang nyata bagi mereka.
Selain itu masalah rendahnya motivasi belajar peserta didik penyebabnya adalah Guru belum memaksimalkan model pembelajaran PBL pada sintak mengembangkan dan menyajikan hasil karya karena guru belum bisa membimbing dengan baik. Pada siklus satu bahwa pada bagian sintak ini saya lupa atau tidak ingat untuk melaksanakannya.
Hal ini terlihat dari data yang di observasi oleh observer bahwa guru tidak melakukan semua sintak PBL dengan maksimal.
Masih ada salah satu sintak PBL yang terlewati. Hal ini sejalan dengan pendapat menurut (Ramlawati dkk. 2017:1-14) mengatakan guru harus memastikan terkait kesesuaian antara kemaksimalan penggunaan model pembelajaran PBL dengan karakteristik materi dan siswa. ini bertujuan supaya kompetensi yang diharapkan dapat tercapai dan siswa lebih termotivasi untuk belajar. Jika model pembelajaran yang diterapkan sudah sesuai dengan sintak-sintak yang ada dapat membuat suasana pembelajaran menyenangkan sehingga tujuan pembelajaran akan mudah tercapai.
masalah rendahnya motivasi belajar peserta didik penyebabnya adalah karena selama melakukan kegiatan pembelajaran diskusi kelompok, peserta didik yang
baru
agar menarik motivasi peserta didik untuk menyelesaik an
permasalah yang di hadapi
Pembelajara
n yang
dihadirkan belum kontekstual
Guru belum memaksimal kan model pembelajara n PBL pada sintak mengemban gkan dan menyajikan hasil karya guru belum bisa
membimbin g dengan baik.
Pada siklus satu bahwa pada bagian sintak ini
berkontribusi aktif dalam menyelesaikan LKPD hanya beberapa orang saja, sedangkan kebanyakan peserta didik lainnya santai dan menunjukan rasa ingin tahu yang rendah. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah guru harus bisa mengembangkan media LKPD semenarik mungkin dengan gambar yang diprint berwarna agar menarik motivasi peserta didik untuk menciptakan rasa ingin tahu dalam menyelesaikan permasalah yang di hadapi dan juga dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Penggunaan model PBL dapat membantu guru untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam proses belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan pendapat (Rosyidah, Nagara, & Supriana 2019) Menyatakan bahwa penggunaan model PBL efektif dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Menurut (Sardiman 2016) mengatakan Pentingnya motivasi belajar bagi peserta didik, terutama dalam konteks kegiatan belajar mengajar, tercermin melalui indikator-indikator motivasi belajar yang terlihat pada mereka. Indikator tersebut melibatkan tekun dalam menghadapi tugas, ketekunan mengatasi kesulitan, menunjukkan minat terhadap berbagai permasalahan, lebih menyukai bekerja secara mandiri, cepat merasa bosan dengan
saya lupa atau tidak ingat untuk melaksanak annya. Hal ini terlihat dari data yang di observasi oleh observer bahwa guru tidak
melakukan semua sintak PBL dengan maksimal.
Masih ada salah satu sintak PBL yang
terlewati.
guru tidak menjalankan model pembelajara n dengan baik
seehingga siswa kurang termotivasi untuk
tugas-tugas rutin, mampu mempertahankan pendapat, tidak mudah terpengaruh untuk melepaskan keyakinannya, serta senang mencari dan menyelesaikan permasalahan.
Motivasi belajar peserta didik yang tidak terlihat atau rendahnya motivasi selama proses pembelajaran memerlukan upaya khusus dari guru untuk menghidupkannya kembali yaitu guru harus menjalankan model pembelajaran dengan baik sehingga siswa termotivasi dalam belajar. Tindakan ini sejalan dengan pandangan Slameto (2015) yang menekankan bahwa guru memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan jalannya model pembelajaran dengan baik untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik, merangsang minat mereka, dan mempertahankannya.
Untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, guru dapat mengambil langkah dengan menerapkan model pembelajaran yang inovatif, kreatif, menarik, dan menyenangkan. Salah satu model pembelajaran yang dapat diadopsi adalah model Problem Based Learning (PBL
).
Penerapan pembelajaran menggunakan model PBL akan menghadirkan peserta didik pada tantangan masalah dunia nyata sebagai awal dari proses pembelajaran, dan
mengikuti pembelajara n.
model ini dikenal sebagai suatu metode pembelajaran inovatif yang memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif.
Pada saat pembelajaran Problem Based Learning (PBL), peserta didik menemukan sendiri konsep atau pengetahuan yang diperoleh pada saat pemecahan masalah yang diberikan pada awal pelajaran.
Permasalahan nyata yang diberikan pada awal pelajaran tersebut membuat peserta didik tertantang untuk segera memecahkan masalah, sehingga peserta didik akan menggali
pengetahuannya untuk
memecahkan masalah yang diberikan. Permasalahan nyata yang diberikan akan membuat pembelajaran lebih bermakna karena peserta didik dapat memperoleh pengetahuan atau pemahaman materi berdasarkan masalah yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Wawancara:
Kepala Sekolah: Bapak La Siudi Djumba, S.Pd
1. Memberikan motivasi kepada peserta didik agar dapat mengembangkan diri
2. Model pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan kebutuhan siswa misalnya bisa
dengan penerapan model
pembelajaran yang inovasi
Teman Sejawat: Ibu Yusni Yusuf, S.Pd
Guru bisa menggunakan model pembelajaran inovasi yang bisa merangsang siswa untuk berfikir kritis dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan kehidupan nyata yaitu model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
2. Guru menggunakan pendekatan pembelajaran Teaching at The Right Level (TaRL)
Motivasi belajar yang dimiliki peserta didik seringkali menjadi kendala dalam mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
Maka diperlukan pendekatan untuk meningkatkan motivasi belajar pada peserta didik. pendekatan TaRL (Teaching at The Right Level) dapat digunakan dalam melakukan pendekatan ke peserta didik untuk meningkatkan motivasi belajar.
Karena Teaching at the Right Level berarti memberikan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan tingkat pemahaman siswa.
Menurut
Suharyani
dkk, 2023
kelebihan dari pendekatan TaRL adalah :
1. Pembelajaran
yang Lebih
Efektif: Dengan menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan tingkat
kemampuan siswa, pembelajaran
Menurut
Suharyani
dkk, 2023
kekurangan
dari pendekatan TaRL:
1. Memerlukan Persiapan yang Lebih Matang 2. Memerlukan
Tenaga Pengajar yang Terlatih 3. Memerlukan
Sumber Daya yang Memadai 4. Memerlukan
Dukungan dan Komitmen
Menurut saya
kelemahan yang dapat diatasi dari pendekatan
pembelajaran ini adalah:
1. Pada awal proses pembelajaran,
guru perlu
melakukan asesmen awal untuk mengenali potensi,
karakteristik, kebutuhan dan perkembangan peserta didik.
Dari hasil
asesmen tersebut peserta didik kemudian akan dikelompokkan
Hal ini dilakukan dengan cara menyesuaikan konten pembelajaran, metode pengajaran, dan tingkat kesulitan tugas untuk setiap kelompok siswa berdasarkan kemampuan mereka.
Pendekatan ini mengakui pentingnya perbedaan individual di antara siswa dan menolak konsep “satu ukuran cocok untuk semua” dalam pembelajaran.
Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengetahui motivasi belajar peserta didik adalah dengan mencoba proses pemetaan awal peserta didik. Pemetaan awal bisa dilakukan dengan melihat beberapa hal berikut:
a. Melihat dari kompetensi peserta didik Salah satu kompetensi peserta didik adalah kompetensi intelektual, yang mencakup prestasi peserta didik, semangat belajar, kemampuan menangkap informasi, berfikir kritis, dll b. Melihat dari minat atau keinginan
peserta didik
Temukanlah minat peserta didik sehingga ketika para pendidik mampu membedakan dan membagi peserta didik sesuai dengan kemampuannya, motivasi peserta didik akan bertambah dan pembelajaran berdiferensiasi pun
menjadi lebih efektif karena siswa
mendapatkan materi yang relevan dan tepat untuk mereka.
2. Meningkatkan Motivasi Belajar:
Siswa merasa termotivasi untuk belajar ketika mereka merasa mampu
mengatasi tantangan
pembelajaran dan meraih kemajuan yang nyata.
3. Inklusif: Setiap siswa diberikan kesempatan yang
sama untuk
belajar, tanpa ada yang
terpinggirkan karena kesulitan belajar atau terlalu mudah.
4. Menghargai Keunikan Siswa:
Teaching at the Right Level mengakui
.
berdasarkan level tingkat capaian dan kemampuan yang serupa.
2. Guru perlu memiliki
pemahaman yang mendalam tentang tingkat kemampuan
siswa dan
metode
pengajaran yang sesuai untuk setiap kelompok.
3. Penerapan pendekatan ini memerlukan sumber daya yang memadai, terutama di sekolah dengan jumlah siswa yang besar.
4. Kesuksesan Teaching at the Right Level memerlukan dukungan dan komitmen dari semua pihak, termasuk guru, siswa, orang tua,
dan pihak
akan berjalan dengan baik dan lancer.
c. Melihat dari kebutuhan siswa
Para pendidik diharapkan mengerti akan kebutuhan peserta didiknya dalam pembelajaran, sehingga para pendidik tahu bentuk dukungan apa yang nantinya para pendidik berikan dalam pendampingan di pembelajaran yang berlangsung.Pernyataan di atas sejalan dengan pendekatan Teaching at the Right Level menurut
Suharyani dkk, 2023 mengatakan
Dengan adanya pendekatan TaRL (Teaching at The Right Level) maka pembelajaran memperhatikan kapasitas dan kebutuhan minat peserta didik. Dengan mengimplementasi pendekatan TaRL (Teaching at The Right Level), guru harus melaksanakan asesmen awal sebagai tes diagnostik peserta didik untuk mengetahui karakteristik, kebutuhan, dan potensi peserta didik sehingga guru mengetahui kemampuan dan perkembangan awalpeserta didik.
Dengan Teaching at the Right Level, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing.
Teaching at the Right Level tidak hanya berfokus pada siswa yang memiliki kesulitan belajar, tetapi juga
keberagaman kemampuan
siswa dan
menghargai keunikan masing-masing siswa.
sekolah
memperhatikan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Mereka pun perlu diberikan tantangan yang sesuai agar tidak merasa bosan atau terhenti dalam perkembangan akademis mereka.
Menurut (Ahyar dkk, 2022) mengatakan TaRL (Teaching at The Right Level) salah satu pendekatan pembelajaran dengan mengorientasikan peserta didik melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tingkatan kemampuan peserta didik yang terdiri dari tingkatan kemampuan rendah, sedang, dan tinggi bukan berdasarkan tingkatan kelas maupun usia.
Wawancara:
Kepala Sekolah: Bapak La Siudi Djumba, S.Pd
Guru bisa menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakter dan kemampuan belajar peserta didik seperti pendekatan pembelajaran Teaching at The Right Level
Teman Sejawat: Ibu Wa Ode Kiani, S.Pd
Guru perlu menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada kemampuan dan karakteristik peserta
didik.
2. Rendahnya hasil belajar peserta didik
Rendahnya rasa ingin tahu peserta didik terhadap materi pelajaran.
Yang menjadi penyebabnya di di pengaruhi oleh beberapa factor yaitu:
√ √ Berdasarkan kajian literatur, solusi untuk masalah sesuai akar penyebabnya untuk diterapkan di kelas saya pada siklus dua ini agar Rendahnya rasa ingin tahu peserta didik terhadap materi pelajaran dapat ditingkatkan dengan baik adalah:
1. Guru menggunakan pendekatan pembelajaran Teaching at The Right Level (TaRL)
Menurut Handayani dan Subakti (2021) hasil belajar merupakan proses transformasi yang didapatkan sesudah mendapatkan proses belajar. Sedangkan menurut Irawati dkk, 2021 hasil belajar diamati pada perubahan tingkah laku seperti pengetahuan, pemahaman keterampilan dan sikap yang dinyatakan dalam bentuk angka.
Rendahnya hasil belajar peserta didik terlihat saat pembelajaran berlangsung. Selama melakukan kegiatan diskusi kelompok, peserta didik yang berkontribusi aktif dalam menyelesaikan LKPD hanya beberapa orang saja, sedangkan kebanyakan peserta didik lainnya santai dan menunjukan rasa ingin tahu yang rendah. peserta didik tidak memiliki rasa ingin tahu terhadap materi pelajaran, kurangnya keberanian dalam
Menurut
Suharyani
dkk, 2023
kelebihan dari pendekatan TaRL adalah :
1. Pembelajaran
yang Lebih
Efektif: Dengan menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan tingkat
kemampuan siswa, pembelajaran menjadi lebih efektif karena siswa
mendapatkan materi yang relevan dan tepat untuk mereka.
2. Meningkatkan Motivasi Belajar:
Siswa merasa termotivasi untuk belajar ketika mereka merasa mampu
mengatasi tantangan
Menurut
Suharyani
dkk, 2023
kekurangan
dari pendekatan TaRL:
1. Memerlukan Persiapan yang Lebih Matang 2. Memerlukan
Tenaga Pengajar yang Terlatih.
3. Memerlukan Sumber Daya yang Memadai 4. Memerlukan
Dukungan dan Komitmen
Menurut saya kelemahan yang dapat diatasi dari pendekatan pembelajaran ini adalah:
Pada awal proses pembelajaran,
Guru perlu
melakukan asesmen awal untuk mengenali potensi,
karakteristik, kebutuhan dan perkembangan peserta didik.
Dari hasil
asesmen tersebut peserta didik kemudian akan dikelompokkan berdasarkan level tingkat capaian dan kemampuan yang serupa.
Guru perlu
memiliki
pemahaman yang mendalam tentang tingkat
bertanya, kurang kepercayaan diri pada hal yang diyakininya untuk menghadapi tugas yang diberikan, dan tidak berani menjawab pertanyaan, pada mata pelajaran tertentu untuk memecahkan soal-soal yang diberikan sehingga hasrat dan keinginan untuk berhasil menjadi rendah. Hal ini menyebabkan dalam proses pembelajaran, peserta didik menjadi tidak aktif dan tidak focus dalam pembelajaran, banyak diam dan cenderung menjadi pasif sehingga menyebabkan rendahnya rasa ingin tahu peserta didik terhadap materi pelajaran yang berdampak pada pengetahuan hasil belajar yang akan mereka dapatkan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut salah satunya adalah penerapan pendekatan TaRL (Teaching at Right Level).
Pendekatan TaRL adalah suatu pendekatan belajar yang mengarah pada tingkat kemampuan yang dimiliki dari peserta didik (Cahyono, 2022).
Hasil belajar merupakan keberhasilan dari proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan. Menurut Handayani dan Subakti (2021) hasil belajar merupakan proses transformasi yang didapatkan sesudah mendapatkan proses belajar. Hasil belajar diamati pada perubahan tingkah laku seperti pengetahuan, pemahaman keterampilan dan sikap yang dinyatakan dalam bentuk angka (Irawati dkk, 2021). Indikator hasil belajar menurut Benjamin (dalam Nabillah dan
pembelajaran dan meraih kemajuan yang nyata.
3. Inklusif: Setiap siswa diberikan kesempatan yang
sama untuk
belajar, tanpa ada yang
terpinggirkan karena kesulitan belajar atau terlalu mudah.
4. Menghargai Keunikan Siswa:
Teaching at the Right Level mengakui
keberagaman kemampuan
siswa dan
menghargai keunikan masing-masing siswa.
kemampuan
siswa dan
metode
pengajaran yang sesuai untuk setiap kelompok.
Penerapan pendekatan ini memerlukan sumber daya yang memadai, terutama di sekolah dengan jumlah siswa yang besar.
Kesuksesan Teaching at the Right Level memerlukan dukungan dan komitmen dari semua pihak, termasuk guru, siswa, orang tua
dan pihak
sekolah.
Abadi, 2020) adalah ranah kognitif, ranah afektif atau sikap dan ranah psikomotor.
Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik adalah dengan mencoba proses pemetaan awal peserta didik. Pemetaan awal bisa dilakukan dengan melihat beberapa hal berikut:
a. Melihat dari kompetensi peserta didik Salah satu kompetensi peserta didik adalah kompetensi intelektual, yang mencakup prestasi peserta didik, semangat belajar, kemampuan menangkap informasi, berfikir kritis, dll b. Melihat dari minat atau keinginan
peserta didik
Temukanlah minat peserta didik sehingga ketika para pendidik mampu membedakan dan membagi peserta didik sesuai dengan kemampuannya, motivasi peserta didik akan bertambah dan pembelajaran berdiferensiasi pun akan berjalan dengan baik dan lancer.
c. Melihat dari kebutuhan siswa
Para pendidik diharapkan mengerti akan kebutuhan peserta didiknya dalam pembelajaran, sehingga para pendidiktahu bentuk dukungan apa yang nantinya para pendidik berikan dalam pendampingan di pembelajaran yang berlangsung.
Pernyataan di atas sejalan dengan pendekatan Teaching at the Right Level menurut
Suharyani dkk, 2023 mengatakan
Dengan adanya pendekatan TaRL (Teaching at The Right Level) maka pembelajaran memperhatikan kapasitas dan kebutuhan minat peserta didik. Dengan mengimplementasi pendekatan TaRL (Teaching at The Right Level), guru harus melaksanakan asesmen awal sebagai tes diagnostik peserta didik untuk mengetahui karakteristik, kebutuhan, dan potensi peserta didik sehingga guru mengetahui kemampuan dan perkembangan awalpeserta didik.
Menurut Mubarokah, 2022 TaRL adalah suatu pendekatan belajar yang tidak mengarah pada tingkatan kelas, tetapi mengarah pada tingkat kemampuan dari peserta didik.Dengan Teaching at the Right Level, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing.
Teaching at the Right Level tidak hanya berfokus pada siswa yang memiliki kesulitan belajar, tetapi juga memperhatikan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Mereka pun perlu diberikan tantangan yang sesuai agar
tidak merasa bosan atau terhenti dalam perkembangan akademis mereka.
Teaching at the Right Level berarti memberikan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan tingkat pemahaman siswa.
Hal ini dilakukan dengan cara menyesuaikan konten pembelajaran, metode pengajaran, dan tingkat kesulitan tugas untuk setiap kelompok siswa berdasarkan kemampuan mereka.
Pendekatan ini mengakui pentingnya perbedaan individual di antara siswa dan menolak konsep “satu ukuran cocok untuk semua” dalam pembelajaran.
Dengan Teaching at the Right Level, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing.
Teaching at the Right Level tidak hanya berfokus pada siswa yang memiliki kesulitan belajar, tetapi juga memperhatikan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Mereka pun perlu diberikan tantangan yang sesuai agar tidak merasa bosan atau terhenti dalam perkembangan akademis mereka.
Wawancara:
Kepala Sekolah: Bapak La Siudi Djumba, S.Pd
Guru bisa menggunakan pendekatan
pembelajaran yang sesuai dengan karakter dan kemampuan belajar peserta didik seperti pendekatan pembelajaran Teaching at The Right Level
Teman Sejawat: Ibu Wa Ode Kiani, S.Pd
Guru perlu menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pembelajaran yang mengacu pada kemampuan peserta didik.
2. Guru menggunakan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Karena mengacu pada pembelajaran di siklus satu, penggunaan model pembelajaran ini belum berjalan secara maksimal. Maka dari itu di siklus dua ini, diharapkan model pembelajaran ini dapat berjalan secara maksimal. Sebab jika penerapan model pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal maka tujuan pembelajaran juga dapat tercapai, karena seluruh dari sintaks atau langkah-langkah dalam pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
Menurut Kosasih (2014), “Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang berdasarkan pada masalah-masalah yang
Kelebihan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Menurut
Sanjaya (2014) adalah sebagai berikut:
Meningkatkan minat,
motivasi, dan aktivitas pembelajaran peserta didik.
Membantu peserta didik dalam
Kelemahan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Menurut
Sanjaya (2014) adalah sebagai berikut:
Memerlukan waktu yang panjang dibandingkan dengan model
pembelajaran yang lain.
Ketika
peserta didik
Menurut saya
kelemahan yang dapat diatasi dari model pembelajaran ini adalah:
1. Dengan perencanaan yang matang, dukungan yang
tepat, dan
pengembangan yang
berkelanjutan 2. Untuk mengatasi
peserta didik yang kurang percaya diri, guru perlu
memberikan
dihadapi peserta didik terkait dengan KD yang sedang dipelajari.”
Adapun tujuan dari penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan pemecahan
masalah sekaligus
mengembangkan kemampuan mereka untuk secara aktif membangun pengetahuan sendiri.
Dengan penerapan PBL, peserta didik menjadi lebih terampil dalam memecahkan masalah,baik yang berkaitan dengan akademik maupun kehidupan sehari-hari.
Pada saat pembelajaran Problem Based Learning (PBL), peserta didik menemukan sendiri konsep atau pengetahuan yang diperoleh pada saat pemecahan masalah yang diberikan pada awal pelajaran.
Permasalahan nyata yang diberikan pada awal pelajaran tersebut membuat peserta didik tertantang untuk segera memecahkan masalah, sehingga peserta didik akan menggali
pengetahuannya untuk
memecahkan masalah yang diberikan. Permasalahan nyata yang diberikan akan membuat pembelajaran lebih bermakna karena peserta didik dapat
mentransfer pengetahuan nya untuk memahami masalah dunia nyata
Membantu peserta didik untuk
mengembang kan
pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan
Mengembang kan
kemampuan peserta didik untuk
menyesuaika n dengan pengetahuan baru
tidak memiliki minat atau tidak
mempunyai kepercayaan diri bahwa masalah yang dipelajari dapat
dipecahkan, maka
mereka akan merasa
enggan untuk mencobanya.
apresiasi kepada peserta didik berupa pujian atas pencapaian peserta didik meskipun kecil.
Selain itu guru
juga perlu
memberikan kepercayaan penuh kepada peserta didik dengan
melibatkan mereka dalam merancang kegiatan belajar dan penilaian sehingga mereka
merasa di
percaya.
memperoleh pengetahuan atau pemahaman materi berdasarkan masalah yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Wawancara:
Kepala Sekolah: Bapak La Siudi Djumba, S.Pd
Memberikan motivasi kepada peserta didik agar dapat mengembangkan diri
Model pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan kebutuhan siswa misalnya bisa dengan penerapan model pembelajaran yang inovasi
Teman Sejawat: Ibu Yusni Yusuf, S.Pd
Guru bisa menggunakan model pembelajaran inovasi yang bisa merangsang siswa untuk berfikir kritis dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan kehidupan nyata yaitu model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
DAFTAR PUSTAKA
Ahyar, dkk. (2022) Implementasi Model Pembelajaran TaRL dalam Meningkatkan Dasar Membaca Peserta Didik di Sekolah Dasar Kelas Awal.
JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan). 5 (11) 5241-5246
Cahyono, S. D. (2022). Melalui Model Teaching at Right Level (TARL) Metode Pemberian Tugas untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar
Handayani, E. S., & Subakti, H. (2021). Pengaruh Disiplin Belajar terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia. Di Jurnal Basicedu, 5(1), 151-164.
https//doi.org/10.29210/20181115
Irawati, I., Ilhamdi, M. L., & Nasruddin, N. (2021). Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar IPA. Jurnal Pijar Mipa, 16(1), 44-48 Kosasih, E. 2014. Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Yrama Widya
Marlina, M. (2019). Panduan Pelaksanaan Model Pembelajaran Berdiferensiasi di Sekolah Inklusif. Padang: FIP UNP
Mubarokah, S. (2022). Tantangan Implementasi Pendekatan TaRL (Teaching at the Right Level) dalam Literasi Dasar yang Inklusif di Madrasah Ibtida’iyah Lombok Timur. BADA’A: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 4(1), 165–179.
Nabillah, T., & Abadi, A. P. (2020). Faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa. Prosiding Sesiomadika, 2(1c).
Sanjaya, W. 2014. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: Kencana Prenada Media Sardiman, A. (2016). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo
Shoimin, A. (2017). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: ArRuzz Media
Slameto. (2015). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Suharyani., N. K. A. S., & Farida. H. A. (2023). Impementasi Pendekatan Teaching At The Right Level (TaRL) dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Numerasi Anak. Jurnal Teknologi Pendidikan. 8 (2) 470-479.
Shoimin, A. (2017). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: ArRuzz Media Slameto. (2015). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Ramlawati, Sitti R. Y dan Aunillah I. 2017. Pengaruh Model PBL (Problem Based Leaning ) terhadap Motivasi dan Hasil Belajar IPA Peserta Didik. Jurnal Sainsmat. P. 1-14.
Rosyidah, N. D., Nagara, D. T., & Supriana, E. (2019). Model Problem based learning (PBL) Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Dan Pemahaman Konsep Siswa. Seminar Nasional Pendidikan Fisika 2019 (hal. 46-49). Jember: Program Studi Pendidikan Fisika FKIP-Universitas Jember.