• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksplorasi Alternatif Solusi

N/A
N/A
Winda Maharani

Academic year: 2023

Membagikan "Eksplorasi Alternatif Solusi"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PPG DALJAB: Angkatan 1 Tahun 2023

LK. 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi

No.

Masalah terpilih yang akan diselesaika

n

Akar Penyebab

masalah Eksplorasi alternatif solusi Analisis alternatif

solusi 1 Rendahnya

motivasi belajar siswa kelas V SDN 1 Negeri Jemanten pada

pembelajara n tematik tema 9 Benda- Benda di Sekitar Kita Muatan IPA materi Zat Tunggal dan Campuran

Guru belum menggunaka n media dan model

pembelajaran yang dapat menarik minat belajar siswa

Kajian Literatur PBL

Model pembelajaran diartikan sebagai bentuk pembelajaran yang didasarkan pada langkah-langkah pembelajaran yang sistematis

sehingga dapat membantu peserta didik untuk belajar aktif. Demikian, dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik itu sendiri. Guru

lazimnya mengetahui dan menguasai jenis model pembelajaran, sehingga dapat menerapkannya dalam pembelajaran. Dengan penggunaan model pembelajaran yang tepat dalam setiap

pembelajaran nantinya diharapkan menghasilkan proses belajar yang menyenangkan dan meningkatkan hasil belajar pada setiap peserta didik. Mutiani (2020:56)

Menurut Syafi’i (2017:3) Tahap pembelajaran PBL sesuai dengan pandangan konstruktivisme, bahwa pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa melalui pengalaman nyata. Pembelajaran PBL pada hakikatnya dapat memacu siswa belajar dan memperoleh informasi secara mandiri dalam pencarian informasi dan penyelidikan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disajikan dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi perubahan lingkungan pada siswa kelas IV SD 1 Ngemplak Undaan Kudus Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014.

Menurut Sanjaya dalam Tyas (2017:4) kelebihan Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:

1. Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan

kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, memotivasi internal untuk belajar,

dan dapat

mengembangkan

hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok;

2. Dengan Problem Based Learning (PBL)

akan terjadi

pembelajaran bermakna.

(2)

n

Langkah-langkah pembelajaran PBL adalah sebagai berikut:

a.Mengorientasi peserta didik pada masalah; Tahap ini untuk memfokuskan peserta didik mengamati masalah yang menjadi objek pembelajaran.

b.Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran; Pengorganisasian pembelajaran merupakan satu kegiatan dimana peserta didik menyampaikan berbagai pertanyaan (atau menanya) terhadap masalah yang dikaji.

c.Membimbing penyelidikan mandiri dan kelompok; Pada tahap ini peserta didik melakukan percobaan untuk memperoleh data dalam rangka menjawab atau menyelesaikan masalah yang dikaji.

d.Mengembangkan dan menyajikan hasil karya; Peserta didik mengasosiasi data yang ditemukan dari percobaan dengan berbagai data lain dari berbagai sumber.

e.Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah; Setelah peserta didik mendapat jawaban terhadap masalah yang ada, selanjutnya dianalisis dan dievaluasi. Mutiani (2020:59)

Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah : MAKIYAH,S.Pd Tanggal : 24 Mei 2023 / 09.00

1. Model pembelajaran inovatif berbasis masalah dapat dilaksanakan dan lebih bagus dibandingkan dengan ceramah.

2. Tambahkan penggunaan media tentang IPA sehingga dapat menarik minat peserta didik.

Hasil Wawancara dengan Rekan Sejawat : SUGIARTI, S.Pd Tanggal : 24 Mei 2023 / 10.45

1. Gunakan sumber belajar yang bervariasi untuk pelajaran IPA.

3. Membuat siswa menjadi mandiri dan bebas;

4. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan baru.

Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu model pembelajaran yang juga memiliki beberapa kelemahan.

Menurut Sanjaya dalam Tyas (2017:5), kelemahan Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:

1. Jika siswa tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan,mak a siswa akan merasa enggan untuk mencoba;

(3)

n

2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran inovatif dengan orientasi berpikir tingkat tinggi.

Kesimpulan

Model pembelajaran PBL sesuai dan dapat dilaksanakan untuk mengatasi masalah ketuntasan belajar peserta didik.

Kajian Literatur PJBL

Pembelajaran IPA di sekolah dasar mengacu pada kurikulum IPA yang menegaskan bahwa dalam pembelajaran IPA harus menekankan pada penguasaan kompetensi yang diperoleh melalui serangkaian proses ilmiah. Proses pembelajaran IPA yang diharapkan adalah sikap ilmiah siswa, pengembangan keterampilan proses, pemahaman sebuah konsep. Pembelajaran IPA tidak sebatas pada kegiatan menghafalkan materi, tetapi juga menekankan pada pemahaman konsep yang kemudian bermuara pada aplikasi dalam kehidupan nyata.

Pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengubah pendekatan lama (pembelajaran yang berpusat pada guru) ke arah pendekatan baru (proses pembelajaran yang berpusat pada siswa) telah banyak dilakukan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang potensial dan efektif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA adalah pendekatan Project Based Learning (PjBL). Warsito dkk (2021:2)

Menurut Paramita dkk (2019:7)

Tujuan pembelajaran IPA di SD yaitu untuk mengembangkan

2. Perlu ditunjang oleh buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam kegiatan pembelajaran;

3. Pembelajaran model Problem Based Learning (PBL)

membutuhkan

waktu yang

lama;

Kelebihan model pembelajaran project based learning menurut Sani dalam Paramita dkk (2019:7) yaitu:

1. Lebih menciptakan suasana belajar aktif,

menyenangkan, dan memberikan kesempatan

belajar bagi peserta didik secara mandiri

(4)

n

kemampuan peserta didik dalam memahamai konsep IPA dan membekali peserta didik dengan keterampilan proses yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah dalam

kehidupan, serta menghargai alam dengan cara memelihara, menjaga dan melestarikan alam yang merupakan ciptaan

Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu dibutuhkan model

pembelajaran yang mendukung salah satunya yaitu model pembelajaran project based learning.

Langkah pembelajaran project-based learning sebagai berikut;

a. Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek.

Tahap ini sebagai langkah awal agar peserta didik mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang ada.

b. Mendesain perencanaan proyek.

Sebagai langkah nyata menjawab pertanyaan yang ada, disusunlah suatu perencanaan proyek bisa melalui percobaan.

c. Menyusun jadwal sebagai langkah nyata dari sebuah proyek.

Penjadwalan sangat penting agar proyek dikerjakan sesuai dengan waktu yang tersedia dan sesuai dengan target.

d. Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek.

Guru memonitoring terhadap pelaksanaan dan perkembangan proyek. Peserta didik mengevaluasi proyek yang sedang dikerjakan.

e. Menguji hasil.

Fakta dan data percobaan atau penelitian dihubungkan dengan berbagai data lain dari berbagai sumber.

f. Mengevaluasi kegiatan/pengalaman.

Tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi kegiatan sebagai acuan perbaikan untuk tugas proyek pada mata pelajaran yang sama atau mata pelajaran lain. Mutiani (2020:60)

maupun kelompok, 2. Mengembangkan

potensi yang dimilikinya dengan memecahkan masalah, 3. Memberikan

pengalaman

kepada peserta

didik dalam

mengorganisasika

n proyek,

mengalokasikan

waktu, dan

mengelola sumber daya, seperti peralatan dan

bahan untuk

menyelesaikan tugas, dan 4. Melibatkan

peserta didik untuk belajar mengumpulkan informasi dan menerapkan

pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan di

(5)

n

Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah : MAKIYAH,S.Pd Tanggal : 24 Mei 2023 / 09.00

1. Model pembelajaran PjBL dapat dilaksanakan dan lebih bagus dibandingkan dengan ceramah. Akan Tetapi membutuhkan banyak waktu.

Hasil Wawancara dengan Rekan Sejawat : SUGIARTI, S.Pd Tanggal : 24 Mei 2023 / 10.45

1. Pembelajaran berbasis proyek sangat baik, namun dalam pelaksanaannya tergolong agak rumit.

Kesimpulan

Model pembelajaran PjBL tergolong sesuai dan dapat dilaksanakan untuk mengatasi masalah ketuntasan belajar pada mata pelajaran muatan IPA meskipun agak rumit dadn menyita waktu.

Kajian Literatur Discovery Learning

Model Discovery Learning memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari tahu tentang suatu permasalahan dan menemukan

dunia nyata.

Kelemahan model pembelajaran project based learning menurut Sani dalam Paramita dkk (2019:7) yaitu:

1. Membutuhkan banyak waktu untuk

memecahkan

masalah dan

menghasilkan produk,

2. Membutuhkan pendidik yang terampil dan mau belajar,

3. Membutuhkan fasilitas,

peralatan,

(6)

n

solusinya berdasarkan kepada hasil pengolahan informasi yang dicari dan dikumpulkannya sendiri, sehingga peserta didik memiliki pengetahuan baru yang dapat digunakannya dalam memecahkan persoalan yang relevan. Mutiani (2020:57)

Metode Discovery adalah sebuah metode dalam pembelajaran. yaitu metode yang dapat membuat siswa mampu dalam mengasimilasi suatu konsep atau prinsip. melibatkan proses berfikir dari siswa untuk

menemukan sebuah pengetahuan . M, Rukli, & Baharullah dalam Marlini (3:2022).

Menurut Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016, bahwa untuk

memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar matapelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian, seperti;

model discovery ataupun inquiry learning. Guna mendorong

kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka dianjurkan menggunakan

pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis

pemecahan masalah, misalkan dengan menggunakan model project based learning. Mutiani (2020:57)

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model Discovery learning dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas 4 SD Negeri 2 Gunungtumpeng. Kemampuan berpikir kritis siswa dan ketuntasan hasil belajar siswa yang melampaui KKM (70) meningkat dari siklus I ke siklus II. Dengan demikian, model pembelajaran Discovery learning dapat dijadikan alternatif model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran di seklah dasar. Selain itu, dengan

penerapan model Discovery learning siswa dapat mengembangkan

Kelebihan dari metode discovery yaitu membangkitkan motivasi belajar siswa. Siswa lebih bergairah

dalam belajar karena melibatkan siswa untuk melakukan kegiatan fisik berupa ikut melaksanakan proses

penemuan

pengetahuan. Rasa percaya diri siswa

(7)

n

kemampuan berpikir kritisnya dalam menghadapi berbagai permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Safitri dan Mediatati (2021:7)

Langkah-langkah metode discovery antara lain : 1) menilai kebutuhan dan minat siswa,

2) menyiapkan suatu situasi yang mengandung suatu masalah yang akan dipecahkan,

3) mengecek pengertian siswa terhadap masalah yang digunakan, 4) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan data, 5) memberikan

kesempatan kepada siswa untuk melanjutkan pengalaman belajarnya,

6) memberi jawaban dengan cepat dan tepat bila ditanya,

7) memimpin analisisnya sendiri melalui percakapan dan eksplorasi, 8) merangsang interaksi antara siswa dengan siswa,

9) mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupun pertanyaan tingkat sederhana,

10) bersikap membantu jawaban siswa, 11) memberikan pujian

Buaton et al. dalam Marlini (4:2022).

Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah : MAKIYAH,S.Pd Tanggal : 24 Mei 2023 / 09.00

1. Model pembelajaran inovatif Discovery Learning dapat

dilaksanakan dengan dukungan fasilitas dan sumber belajar yang dimiliki oleh sekolah.

Hasil Wawancara dengan Rekan Sejawat :

akan semakin meningkat karena melakukan sendiri penemuan. Metode discovery ini juga membantu

mengembangkan kreatifitas siswa melalui serangkaian keterampilan proses.

Sehingga umumnya pembelajaran yang melibatkan

keterampilan proses akan lebih lama tahan dalam ingatan siswa (Lieung, 2019).

Kebaikan-kebaikan yang terdapat dalam penggunaan metode discovery adalah mengutamakan siswa dalam pembelajaran.

Sehingga guru tidak lagi menjadi sunber belajar satu-satunya bagi siswa dan siswapun

dapat

mengembangkan pembelajaran sesuai dengan potensi yang

(8)

n

1. Discovery Learning sangat bagus untuk melatih berpikir kritis peserta didik.

Kesimpulan

Model pembelajaran Discovery Learning sesuai dan dapat

dilaksanakan untuk mengatasi masalah ketuntasan dan miskonsepsi peserta didik pada pelajaran muatan IPA.

dimilikinya.

Panjaitan,

Simarmata,Sipayung,

& Silaban dalam Marlini (4:2022).

Disamping kebaikan, metode discovery memiliki kekurangan atau kelemahan antara lain:

perubahan

cara belajar siswa membutuhkan waktu yang lama dalam menyesuaikannya.

Siswa akan kesulitan jika guru

kurang memiliki kemampuan dalam pembimbingan menggunakan alat dan bahan

pembelajaran untuk melakukan

penemuan. Di samping itu metode discovery yang memberikan

kebebasan kepada siswa untuk

menemukan tidak

(9)

n

akan menjamin siswa belajar dengan tekun.

Guru harus

membimbing dengan baik pada

kegiatan menemukan pada siswa. metode ini menuntut

perubahan cara belajar yang selama ini berlangsung secara tradisional atau guru menjadi sumber belajar satu- satunya menjadi suatu pembelajaran yang

mengharuskan siswa aktif dalam

pembelajaran.

Metode ini

kemungkinan akan sulit diterapkan dalam kelas yang jumlah siswanya besar, tetapi tergantung pada kebijaksanaan guru sebagai

pengelola pembelajaran dikalas untuk

(10)

n

meminimalisir berbagai macam kelemahan- kelemahan dari penggunaan metode tersebut

Yontri dalam Marlini (2022:4).

(11)

n

Rendahnya Guru kurang KAJIAN LITERATUR PBL :

(12)

n Pemahaman Siswa pada mata

pelajaran Matematika Materi Volume kubus dan Balok Kelas V SDN 1 Negeri Jemanten

menggunaka n media pembelajaran yang sesuai

Belajar akan lebih bermakna jika siswa dapat terlibat langsung dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dengan siswa terlibat langsung dalam memecahkan masalah, diharapkan siswa dapat memahami pembelajaran secara lebih menyeluruh dan mendalam.

Untuk itu guru perlu menciptakan suasana belajar yang mendukung.

Salah satu caranya dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran sangat beragam, salah satunya model Problem Based Learning (PBL). Model pembelajaran PBL merupakan pembelajaran yang berbasis masalah, aktivitas pembelajarannya diarahkan untuk menyelesaikan masalah.

Santosa dkk (2022:1)

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan langkah- langkah sebagai berikut

(a) Orientasi siswa pada masalah (b) Mengorganisasi siswa untuk belajar

(c) Membimbing pengalaman individu/kelompok (d) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

(e) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah : MAKIYAH,S.Pd Tanggal : 24 Mei 2023 / 09.00

1. Model pembelajaran inovatif berbasis masalah dapat dilaksanakan dan lebih bagus dibandingkan dengan ceramah.

2. Tambahkan penggunaan media tentang IPA sehingga dapat menarik minat peserta didik.

Menurut Sanjaya dalam Tyas (2017:4) kelebihan Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut: a) Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, memotivasi internal untuk belajar,

dan dapat

mengembangkan

hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok;

b) dengan Problem Based Learning (PBL)

akan terjadi

pembelajaran bermakna.

Siswa belajar

memecahkan suatu masalah maka siswa

akan menerapkan

pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan; c) membuat siswa menjadi pebelajar yang mandiri dan bebas;

(13)

n

Hasil Wawancara dengan Rekan Sejawat : SUGIARTI, S.Pd Tanggal : 24 Mei 2023 / 10.45

1. Gunakan sumber belajar yang bervariasi untuk pelajaran MTK.

2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran inovatif dengan orientasi berpikir tingkat tinggi.

Kesimpulan

Model pembelajaran PBL sesuai dan dapat dilaksanakan untuk mengatasi masalah ketuntasan belajar peserta didik.

d) pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang meraka lakukan, juga dapat mendorong

untuk melakukan

evaluasi sendiri baik terhadap hasil belajar maupun proses belajar Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu model pembelajaran yang juga memiliki beberapa kelemahan.

Menurut Sanjaya dalam

Tyas (2017:5),

kelemahan Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:

a) jika siswa tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan,maka siswa akan merasa enggan untuk mencoba; b) perlu ditunjang oleh buku yang

dapat dijadikan

(14)

n

KAJIAN LITERATUR PJBL :

Pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) merupakan pendekatan pembelajaran yang

terintegrasi dari berbagai disiplin ilmu yaitu sains, teknologi, teknik, seni dan matematika(Nurhikmayati 2019). Maksud pembelajaran STEAM adalah untuk mengembangkan dan mengaktifkan potensi dan kreativitas anak(Amran et al. 2021).

Pembelajaran STEAM memberikan kesempatan pada peserta didik untuk melakukan proses pembelajaran desain secara langsung dan menghasilkan produk dengan kemampuan kreativitas dan pemecahan masalah dengan baik. Kreativitas siswa perlu ditumbuhkan sejak dini dengan sebaik-baiknya. Model project based learning dikembangkan oleh John Dewey, yang melibatkan

pemahaman dalam

kegiatan pembelajaran;

c) pembelajaran model Problem Based Learning (PBL) membutuhkan waktu yang lama; d) tidak semua mata pelajaran matematika dapat diterapkan model ini.

Kelebihan model

pembelajaran project based learning menurut Sani dalam Paramita dkk (2019:7) yaitu:

1) Lebih menciptakan suasana belajar aktif, menyenangkan,

dan memberikan

kesempatan belajar bagi peserta didik secara

mandiri maupun

kelompok,

2) Mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan memecahkan

(15)

n

semua siswa dalam kegiatan pembelajaran untuk menyelesaikan masalah secara individu atau kelompok.(Dywan et al. 2020).

Model Project-Based learning merupakan salah dari berbagai model pendekatan belajar yang dipadukan dengan STEAM, karena dalam pelaksanaanya model ProjectBased learning harus sesuai dengan kaidah Sains yang mana harus dikombinasikan dengan teknologi seni dan matematika. Model project Based learning merupakan suatu model pembelajaran, yang mentransfer

pengetahuan dan keterampilan dengan penugasan proyek terkait kehidupan siswa sehingga mudah dipahami(Isrok’atun and Amelia 2018). Pada penugasan proyek memperoleh hasil akhir berupa produk atau karya siswa. Bentuk karya siswa bisa berbeda-beda sesuai dengan kreativitas siswa tersebut.

Langkah pembelajaran project-based learning sebagai berikut;

a. Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek.

Tahap ini sebagai langkah awal agar peserta didik mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang ada.

b. Mendesain perencanaan proyek.

Sebagai langkah nyata menjawab pertanyaan yang ada, disusunlah suatu perencanaan proyek bisa melalui percobaan.

c. Menyusun jadwal sebagai langkah nyata dari sebuah proyek.

Penjadwalan sangat penting agar proyek dikerjakan sesuai dengan waktu yang tersedia dan sesuai dengan target.

d. Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek.

Guru memonitoring terhadap pelaksanaan dan perkembangan proyek. Peserta didik mengevaluasi proyek yang sedang dikerjakan.

e. Menguji hasil.

Fakta dan data percobaan atau penelitian dihubungkan dengan berbagai data lain dari berbagai sumber.

masalah,

3) Memberikan

pengalaman kepada peserta didik dalam mengorganisasikan proyek, mengalokasikan waktu, dan mengelola sumber daya, seperti peralatan dan bahan untuk menyelesaikan tugas, dan

4) Melibatkan peserta didik untuk belajar mengumpulkan

informasi dan

menerapkan

pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata.

Kelemahan model

pembelajaran project based learning menurut Sani dalam Paramita dkk (2019:7) yaitu:

1) Membutuhkan banyak

waktu untuk

memecahkan

masalah dan

menghasilkan produk,

2) Membutuhkan

(16)

n

f. Mengevaluasi kegiatan/pengalaman.

Tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi kegiatan sebagai acuan perbaikan untuk tugas proyek pada mata pelajaran yang sama atau mata pelajaran lain. Mutiani (2020:60)

pendidik yang terampil dan mau belajar,

3) Membutuhkan

fasilitas, peralatan,

Hasil Wawancara

dengan Kepala

Sekolah :

1. Model pembelajaran PjBL dapat dilaksanakan

dan lebih bagus

dibandingkan dengan ceramah. Akan Tetapi membutuhkan banyak waktu.

Hasil Wawancara

dengan Rekan

Sejawat :

1. Pembelajaran berbasis proyek sangat baik,

namun dalam

pelaksanaannya tergolong agak rumit.

Kesimpulan

Model pembelajaran PjBL tergolong sesuai dan dapat dilaksanakan

(17)

n

KAJIAN LITERATUR DISCOVERY LEARNING

Permendikbud No. 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses

Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa pembelajaran kurikulum 2013 menekankan prinsip pembelajaran yang awalnya siswa diberi tahu menuju siswa mencari tahu konsep

keilmuannya sendiri. Menurut Rafianti, Yani, dan Novaliyosi (2018:64), dalam kurikulum 2013 terdapat aspek penguatan pada pendidikan karakter atau PPK (Penguatan Pendidikan

Karakter) dan 4C yaitu creative, critical thinking, communicative, collaborative dan HOTS (Higher Order Thinking Skill). Salah satu tuntutan kurikulum 2013 adalah siswa memiliki keterampilan berpikir kritis karena siswa dituntut aktif mencari konsep keilmuannya

untuk mengatasi masalah ketuntasan belajar pada mata pelajaran muatan MTK meskipun agak rumit dadn menyita waktu.

(18)

n

sendiri. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk memecahkan masalah kehidupan dengan berpikir serius, aktif, teliti dalam menganalisis semua informasi yang diterima dengan

menyertakan alasan yang rasional (Liberna, 2012: 192).

Menurut Asriningtyas, Firosalia, dan Indri (2018: 25) kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan yang dimiliki seseorang agar dapat berpikir tingkat tinggi terutama dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan yang logis dan tepat untuk menyelesaikan masalah. Kemudian Haryani (2011: 122) menjelaskan bahwa berpikir kritis adalah suatu proses yang bertujuan untuk membuat keputusan rasional yang diarahkan untuk memutuskan apakah meyakini atau melakukan sesuatu yang dikenali dari

karakteristik-karakteristik kemampuan berpikir kritis yang dimiliki seseorang. Dari pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis adalah suatu proses untuk membuat keputusan untuk dapat berpikir tingkat tinggi dalam memecahkan suatu

masalah dengan cara berpikir serius, aktif, teliti dalam menganalisis semua informasi yang diterima dengan menyertakan alasan yang rasional. Keterampilan berpikir kritis siswa akan berdampak pada hasil belajar siswa. Hasil belajar ialah suatu pernyataan spesifik yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menyatakan perilaku dan penampilan sebagai gambaran hasil belajar yang diharapkan (Numayani, 2018: 37). Menurut Setyorini, Sulasmono, dan Koeswanti (2013: 60), hasil belajar adalah proses kemampuan yang

didapatkan siswa setelah melalui kegiatan belajar dalam waktu tertentu. Sedangkan menurut Karo-Karo, hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar mengajar. Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu pernyataan spesifik dalam bentuk tulisan sebagai hasil pencapaian tujuan pendidikan yang didapatkan siswa setelah melalui kegiatan belajar dalam waktu tertentu. Salah satu muatan pelajaran yang menuntut siswa untuk berpikir kritis adalah

Model Discovery

Learning memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari tahu tentang suatu permasalahan dan menemukan solusinya berdasarkan kepada hasil pengolahan informasi yang dicari dan dikumpulkannya sendiri, sehingga peserta didik memiliki pengetahuan baru yang dapat digunakannya dalam memecahkan persoalan yang relevan. Mutiani (2020:57)

Kebaikan-kebaikan yang

terdapat dalam

penggunaan metode discovery adalah

(19)

n

matematika. Dalam pembelajaran matematika, siswa dituntut untuk dapat menggali dan menunjukkan keterampilan berpikir kritis melalui memahami masalah, merencanakan pemecahan,

melaksanakan rencana pemecahan, dan melihat kembali/mengevaluasi kembali pemecahan masalah yang telah dilaksanakan (Haryani, 2011: 121). Menurut Supriyanto (2014: 166), matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur,

menemukan, dan menggunakan rumus matematika yang menunjang pemahaman konsep siswa yang berkaitan dengan kehidupan sehari- hari.

Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan

keterampilan berpikir kritis adalah model Discovery Learning. Model Discovery Learning merupakan proses pembelajaran yang

merangsang kemampuan peserta didik untuk memecahkan permasalahan melalui pengolahan data yang terkumpul untuk membuktikan suatu konsep yang terdapat dilingkungan belajar (Ishak, Dwi dan Nyoman, 2017: 6). Dalam proses pembelajaran Discovery Learning, siswa dituntut untuk aktif dalam mencari

konsep keilmuannya sendiri sehingga siswa memerlukan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Dengan demikian, ada

keterkaitan antara pembelajaran yang menggunakan model Discovery Learning dengan berpikir kritis yang berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa.

Langkah-langkah metode discovery antara lain : 1) menilai kebutuhan dan minat siswa,

2) menyiapkan suatu situasi yang mengandung suatu masalah yang akan dipecahkan,

3) mengecek pengertian siswa terhadap masalah yang digunakan, 4) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan data, 5) memberikan

mengutamakan siswa dalam pembelajaran.

Sehingga guru tidak lagi menjadi sunber belajar satu-satunya bagi siswa dan siswapun

dapat mengembangkan pembelajaran sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Panjaitan,

Simarmata,Sipayung, &

Silaban dalam Marlini (2022:4).

Disamping kebaikan, metode discovery memiliki kekurangan atau kelemahan antara lain: perubahan

cara belajar siswa membutuhkan waktu yang lama dalam menyesuaikannya. Siswa akan kesulitan jika guru

kurang memiliki

kemampuan dalam

pembimbingan

menggunakan alat dan bahan pembelajaran untuk

melakukan penemuan.

(20)

n

kesempatan kepada siswa untuk melanjutkan pengalaman belajarnya, 6) memberi jawaban dengan cepat dan tepat bila ditanya,

7) memimpin analisisnya sendiri melalui percakapan dan eksplorasi, 8) merangsang interaksi antara siswa dengan siswa,

9) mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupun pertanyaan tingkat sederhana,

10) bersikap membantu jawaban siswa, 11) memberikan pujian

Buaton et al. dalam Marlini (4:2022).

Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah : MAKIYAH,S.Pd Tanggal : 24 Mei 2023 / 09.00

1. Model pembelajaran inovatif Discovery Learning dapat dilaksanakan dengan dukungan fasilitas dan sumber belajar yang dimiliki oleh sekolah.

Hasil Wawancara dengan Rekan Sejawat : SUGIARTI, S.Pd Tanggal : 24 Mei 2023 / 10.45

1. Discovery Learning sangat bagus untuk melatih berpikir kritis peserta didik.

Kesimpulan

Model pembelajaran Discovery Learning sesuai dan dapat dilaksanakan untuk mengatasi masalah ketuntasan dan miskonsepsi peserta didik pada pelajaran muatan MTK.

Di samping itu metode

discovery yang

memberikan kebebasan kepada siswa untuk menemukan tidak akan menjamin siswa belajar dengan tekun. Guru harus membimbing dengan baik pada

kegiatan menemukan pada siswa. metode ini menuntut perubahan cara belajar yang selama ini berlangsung

secara tradisional atau guru menjadi sumber belajar satu-satunya

menjadi suatu

pembelajaran yang

mengharuskan siswa

aktif dalam

pembelajaran. Metode ini kemungkinan akan sulit diterapkan dalam kelas

yang jumlah siswanya besar, tetapi tergantung pada kebijaksanaan guru sebagai pengelola pembelajaran

dikalas untuk

meminimalisir berbagai

(21)

n

macam kelemahan-

kelemahan dari

penggunaan metode tersebut

Yontri dalam Marlini (2022:4).

Keterangan:

Akar Penyebab masalah (bersumber dari LK 1.3)

Referensi

Dokumen terkait

Metode pembelajaran brainstorming diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis oleh peserta didik karena peserta didik diberikan kesempatan untuk

Belajar matematika menuntut kita untuk berpikir secara kritis dan kreatif sehingga dapat membantu peserta didik dalam pengembangan nalar, berpikir logis, sistematik, dan

Berdasarkan hasil eksplorasi alternatif solusi kajian literatur dan wawancara maka kemungkinan solusi yang akan diterapkan untuk memecahkan masalah yang terjadi dengan melakukan

merupakan contoh LK untuk kegiatan PPG DALJAB ANGKATAN 2 TAHUN

Dalam Pemebelajaran Atletik Pada Materi lari jarak pendek 60 meter Sejumlah Peserta Didik Masih Kurang pengetahuan mengenai teknik lari Sprint Dalam Mempraktekkannya Pada SD Inpres 1

Menyebutkan factor – factor yang dapat mempengaruhi keaktifan peserta didik yaitu; 1 menarik perhatian siswa dan memotivasi sehingga siswa ikut serta aktif dalam kelas pembelajaran, 2

Untuk mengatasi kelemahan berdiskusi dan berbagi pengalaman pembelajaran inovatif dengan teman sejawat yaitu dapat menggunakan media sosial yang dapat digunakan kapan

Langkah-langkah model Discovery Learning dalam penelitian Mubarok 2014 antara lain 1 guru mengajukan pertanyaan yang memicu peserta didik berpikir dan mendorongnya agar mencari tahu