JUDUL BUKU
PELAKSANAAN EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN
Oleh : Copyright © 2014 by Miftahul Fikri
Penulis : Miftahul Fikri, Neni Hastuti, S.Pd.I, M.Pd &
Sri Wahyuningsih, M.Pd, Desain Sampul : Neni Hastuti & Sri Wahyuningsih Editor : Miftahul Fikri
Cetakan pertama, Oktober 2019 Cetakan kedua, Desember 2019 Diterbitkan oleh www.nulisbuku.com
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbayak buku ini sebagian atau seluruhnya, dalam bentuk dan cara apapun juga, baik secara mekanis maupun elektronis, termasuk potokopi, rekaman, dan lain-lain tanpa izin tertulis dari penerbit.
Website
https://independent.academia.edu/miftahulfikri45 Email
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan i
Kata Pengantar
Buku yang berjudul Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan ini dipersiapkan sebagai bahan kajian bagi para akademisi, praktisi, dan pimpinan lembaga pendidikan.
Evaluasi merupakan proses sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan menyajikan informasi untuk dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan, menyusun kebijakan ataupun menyusun program pada masa yang akan datang.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan ii Adapun tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi yang akurat dan objektif tentang suatu program.
Informasi tersebut dapat berupa proses pelaksanaan program, dampak atau hasil yang dicapai, efisiensi serta pemanfaatan hasil evaluasi yang difokuskan untuk program, yaitu untuk mengambil keputusan dilanjutkan atau dihentikannya suatu program.
Selain itu, juga dipergunakan untuk kepentingan penyusunan program berikutnya ataupun penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan program. Dalam melakukan evaluasi, perlu dipertimbangkan model evaluasi yang akan dibuat. Model evaluasi merupakan suatu desain yang dibuat oleh para ahli atau pakar evaluasi. Umumnya model evaluasi ini dibuat berdasarkan kepentingan seseorang, lembaga atau instansi yang ingin mengetahui program yang telah dilaksanakan dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan iii Evaluasi merupakan kesatuan kegiatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang merealisasikan atau mengimplementasikan kebijakan tertentu, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang untuk pengambilan keputusan.
Evaluator harus orang-orang yang memiliki kompetensi, diantaranya mampu melaksanakan, cermat, objektif, sabar dan tekun, hati-hati, dan bertanggung jawab. Evaluator dapat berasal dari kalangan internal (evaluator dan pelaksana program) dan kalangan eksternal (orang di luar pelaksana program, tetapi orang yang berkaitan dengan kebijakan dan implementasi program).
Oleh sebab itu, betapa berharganya kehadiran buku ini karena menjadi literatur yang semakin memudahkan mahasiswa untuk memperdalam ilmu pengetahuan berkaitan dengan pendidikan dan keguruan.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan iv
Buku ini disusun untuk memberikan pemahaman dan manfaat tidak hanya pada para pendidik atau akademis, melainkan juga dapat menambah wawasan bagi khalayak umum yang berminat. Semoga bermanfaat!.
Jakarta, Oktober 2019
Miftahul Fikri, dkk - Neni Hastuti, S.Pd.I M.Pd - Sri Wahyuningsih, M.Pd
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan v
Daftar Isi
HALAMAN JUDUL
Kata Pengantar --- i Daftar Isi --- v
BAB 1
PENDAHULUAN --- 1
BAB 2
MEMAHAMI EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN --- 7 A. Pengertian Program & Evaluasi Program --- 7 B. Ciri-Ciri, Komponen, Tujuan & Manfaat Evaluasi
Program --- 9
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan vi
BAB 3
PERENCANAAN EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN ---16A. Konsep Perencanaan Evaluasi Program --- 17
B. Analisis Kebutuhan Evaluasi Program --- 28
BAB 4
EVALUATOR PROGRAM PENDIDIKAN --- 30A. Evaluator Program --- 30
B. Jenis-Jenis Evaluator --- 31
C. Pertimbangan dalam Penentuan Evaluator --- 40
D. Peranan Evaluator --- 46
E. Syarat-Syarat Evaluator --- 48
F. Kompetensi Evaluator Program --- 53
BAB 5
MODEL-MODEL EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN --- 56A. Ruang Lingkup Model Evaluasi Program --- 56
B. Model-Model Evaluasi Program --- 58
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan vii
BAB 6
PELAKSANAAN EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN --- 93
A. Pelaksanaan Evaluasi Program --- 93 B. Konsep Pelaksanaan Evaluasi
Program --- 97
BAB 7
FORMAT PROPOSAL EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN --- 114
A. Proposal Evaluasi Program ---114 B. Rancangan Proposal Evaluari
Program ---116
BAB 8
FORMAT LAPORAN EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN ---134
A. Laporan Evaluasi Program ---134 B. Menyusun Laporan Evaluasi
Program ---137
C. Tata Tulis Laporan Evaluasi ---139 D. Format Penulisan Laporan ---141
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan viii
BAB 9
KESIMPULAN & REKOMENDASI ---150A. Penyusunan Kesimpulan dan Rekomendasi ---151
B. Konsep Penyusunan Rekomendasi ---153
Daftar Pustaka ---156
Tentang Penulis ---159
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 1
BAB
1 PENDAHULUAN
Berdasarkan tujuan pendidikan nasional yang termuat dalam UU No 20 tahun 2003 pasal 3 yakni pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 2 Usaha untuk mencapai tujuan pendidikan di atas bukanlah sesuatu yang mudah, namun diperlukan upaya yang optimal dalam penyelenggaraan pendidikan agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas. Kualitas dan kuantitas pendidikan yang dilakukan pada saat ini akan menentukan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) di masa datang.
Di era persaingan dunia yang semakin tajam, bangsa Indonesia dituntut untuk dapat mencapai keunggulan menuju tingkat produktivitas nasional yang tinggi. Agar dapat memenangkan persaingan tersebut setiap masyarakat harus menguasai berbagai bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi (Iptek) dan keterampilan serta keahlian professional yang dibutuhkan untuk memacu peningkatan nilai tambah berbagai sektor industri dan pemerataan ekonomi secara berkelanjutan.
Penekanan yang amat kuat terhadap pengembangan sumber daya manusia, sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 yakni pendidikan berorientasi pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mempunyai komitmen yang sangat besar untuk mengejar
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 3 ketertinggalan dari bangsa lain di dunia. Pendidikan diyakini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Berbagai program yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, baik melalui pemberian bantuan dana, sarana dan prasarana, peningkatan kualitas proses pendidikan, peningkatan kualitas pendidik, dan tenaga kependidikan, maupun peningkatan kualitas peserta didik.
Untuk mengetahui keberhasilan program pendidikan yang dilaksanakan, diperlukan suatu evaluasi, yang disebut dengan evaluasi program. Karena khusus mengevaluasi program pendidikan, maka sering disebut dengan evaluasi program pendidikan. Pelaksanaan program pendidikan dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang. Sudut pandang tersebut diantaranya dari pemerintah selaku pembuat kebijakan, dari masyarakat sebagai pengguna, dari pendidik, misalnya ditinjau dari sisi efektivitas program, kebermanfaatan program, hasil dan dampak program, dan lain-lain.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 4 Namun, dari berbagai sudut pandang tersebut, satu hal yang menjadi kata kunci yakni harapan akan perubahan dan perkembangan ke arah yang lebih baik.
Agar memenuhi harapan tersebut, kegiatan pemantauan dan evaluasi program perlu dilakukan secara objektif, reliabel, dan menghasilkan laporan yang bermanfaat dalam rangka perbaikan dan membuat keputusan yang lebih baik. Harus diakui kritik sering muncul tebtang sistem pendidikan yang sering berubah dan tidak seimbang, kurikulum yang tidak tepat dengan mata pelajaran yang terlalu banyak dan tidak terfokus pada hal-hal yang seharusnya diberikan dan sebagainya.
Akan tetapi masalah yang paling serius pada sistem pendidikan kita adalah kurangnya evaluasi. Sehingga sering terjadi perubahan dalam sistem pendidikan yang mungkin disebabakan oleh kurangnya informasi dan kurangnya suatu sistem standar untuk memperoleh informasi tersebut.1
1Dedi Lazwardi, Implementasi Evaluasi Program Pendidikan di Tingkat Sekolah Dasar & Menengah, (Jurnal: Kependidikan Islam Volume VII No. 2, Desember 2017), hal, 143.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 5 Evaluasi pendidikan selalu dikaitkan dengan hasil belajar, namun konsep evaluasi mempunyai makna yang sangat luas. Menurut Stufflebeam dalam Sudjana dikutip Dedi Lazwardi, rumusan evaluasi pendidikan sebagai berikut yaitu, educational evaluation is the process of delineating, obtaining and providing usefull information forjudging decisionalternatives. Menurut rumusan ini evaluasi pendidikan merupakan proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan informasi yang berguna untuk menentapkan alternatif keputusan.
Menurut Mugiadi dalam Sudjana dikutip Dedi Lazwardi, menjelaskan bahwa evaluasi program adalah upaya mengumpulkan informasi mengenai suatu program, kegiatan atau proyek. Informasi tersebut berguna untuk mengambil keputusan, antara lain untuk memperbaiki program, menyempurnakan kegiatan program lanjutan, menghentikan suatu kegiatan atau menyebarluaskan gagasan yang mendasari suatu program atau kegiatan.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 6 Sedangkan menurut Maclcolm dan Provus dalam Tayibnapis dikutip Dedi Lazwardi mendefinisikan evaluasi sebagai perbedaan apa yang ada dengan suatu standar untuk mengetahui apakan ada selisih.2
Berdasarkan beberapa pembahasan tentang teori evaluasi maka dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu kegiatan mengumpulkan informasi yang berguna untuk mengambil keputusan dan sebagai tolak ukur sejauhmana tujuan dapat dicapai.
2 Ibid., hal. 144
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 7
BAB 2
MEMAHAMI
EVALUASI PROGRAM PEDIDIKAN
A. Pengertian Program & Evaluasi Program
Program adalah suatu rencana yang melibatkan berbagai unit yang berisi kebijakan dan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
Evaluasi program adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan yang bertujuan mengumpulkan informasi tentang realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 8 yang melibatkan sekelompok orang guna pengambilan keputusan. Kaitan antara penelitian dengan evaluasi program, dalam kegiatan penelitian peneliti ingin mengetahui gambaran tentang sesuatu kemudian dideskripsikan, sedangkan dalam evaluasi program, pelaksana atau evaluator ingin mengetahui seberapa tinggi mutu atau kondisi sesuatu sebagai hasil pelaksanaan program, setelah data terkumpul dibandingkan dengan kriteria atau standar tertentu.
Dalam kegiatan penelitian, peneliti dituntun oleh rumusan masalah, sedangkan dalam evaluasi program, pelaksana/evaluator ingin mengatahui tingkat ketercapaian program, dan apabila tujuan belum tercapai pelaksana/evaluator ingin mengetahui letak kekurangan dan sebabnya. Hasilnya digunakan untuk menentukan tindak lanjut atau keputusan yang akan diambil.3
3 Suharsimi Arikunto & Cepi Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009). Diakses, http://anan-nur.blogspot.com/2012/01/evaluasi-program- pendidikan-prof-dr.html. (akses 17 November 2019).
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 9 B. Ciri-Ciri, Komponen, Tujuan & Manfaat Evaluasi
Program
Ciri dan persyaratan evaluasi program mengacu pada kaidah yang berlaku, dilakukan secara sistematis, teridentifikasi penentu keberhasilan dan ketidak berhasilan program, menggunakan tolok ukur baku, dan hasil evaluasi dapat digunakan sebagai tindak lanjut atau pengambilan keputusan.
Program merupakan satu kesatuan dari beberapa bagian atau komponen yang saling berkait untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh sistem tersebut. Komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Masing-masing komponen terdiri atas beberapa subkomponen dan masing-masing subkomponen terdapat beberapa indikator. Dalam kegiatan evaluasi program, indikator merupakan petunjuk untuk mengetahui keberhasilan atau ketidakberhasilan suatu kegiatan.
Perlu diketahui bahwa ketidakberhasilan suatu kegiatan dapat juga dipengaruhi oleh komponen atau subkomponen yang lain.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 10 Evaluasi program bertujuan untuk mengetahui pencapaian tujuan program yang telah dilaksanakan.
Selanjutnya, hasil evaluasi program digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan tindak lanjut atau untuk melakukan pengambilan keputusan berikutnya.
Manfaat evaluasi program, evaluasi sama artinya dengan kegiatan supervisi. Kegiatan evaluasi/supervisi dimaksudkan untuk mengambil keputusan atau melakukan tindak lanjut dari program yang telah dilaksanakan. Manfaat dari evaluasi program dapat berupa penghentian program, merevisi program, melanjutkan program, dan menyebarluaskan program.
Evaluator program, evaluator program harus orang-orang yang memiliki kompetensi yang mumpuni, diantaranya mampu melaksanakan, cermat, objektif, sabar dan tekun, serta hati-hati dan bertanggungjawab.
Evaluator dapat berasal dari kalangan internal (evaluator dan pelaksana program) dan kalangan eksternal (orang di luar pelaksana program tetapi orang yang terkait dengan kebijakan dan implementasi program).
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 11 Hakikat antara tujuan program dengan tujuan evaluasi program. Program adalah suatu rencana yang melibatkan berbagai unit yang berisi kebijakan dan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu untuk diimplementasikan di lapangan.
Sedangkan evaluasi program bertujuan untuk mengumpulkan informasi berkenaan dengan implementasi program yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan tindak lanjut atau pengambilan keputusan.
C. Evaluasi Program
Melakukan evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksud untuk mengetahui seberapa tinggi tingkatan keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan. Apabila kita membatasi pengertian “program” sebagai kegitan yang direncanakan, maka program program tersebut tidak lagi disebut demikian jika kegiatannya sudah selesai dilaksanakan.4
4 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, Edisi ke-2, 2016), hal. 324
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 12 Namun, jika kita amati dari kehidupan kita sehari- sehari ada pula kegiatan yang dilaksanakan tanpa rencana. Mungkin kegiatan tersebut sudah terlalu biasa, misalnya makan sehingga tidak pernah ada orang yang sebelum memulai makan merencanakannya, bagaimana makan akan dilakukan. Mungkin juga kegiatan tersebut terlalu sederhana sehingga tidak perlu rencana.5
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa, suatu kegiatan perlu direncanakan apabila kegiatan yang bersangkutan memang dipandang penting sehingga apabila tidak direncanakan boleh jadi akan menjumpai kesulitan atau hambatan.
Penyelenggraan pendidikan bukan sederhana, penyelenggaraan pendidikan meliputi banyak orang dan menyangkut banyak aspek. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan harus dievaluasi agar dapat dikaji apa kekurangan dan kekurangan tersebut akan dapat dipertimbngkan untuk pelaksanaan pendidikan pada waktu lain. sebetulnya yang menjadi titik awal dari kegiatan evaluasi program adalah keingintahuan
5 Ibid., hal. 325
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 13 penyusunan program untuk melihat apakah tujuan program sudah tercapai atau tidak. Jika tercapai, bagaimana kualitas pencapaian kegiatan tersbut. Jika tidak tercapai, bagaimanakah dari rencana kegiatan yang telah dibuat dan bagian manakah yang tidak tercapai, apa sebab bagian rencana kegiatan tersebut tidak tercapai.
Dengan kata lain, evaluasi program dimaksudkan untuk melihat pencapaian target program. Untuk menentukan seberapa jauh target program sudah tercapai, yang dijadikan tolak ukur adalah tujuan yang sudah dirumuskan dalam tahapan perencanaan kegiatan.
Sebagai contoh, misalnya seorang guru mentargetkan sekurang-kurangnya ada tujuh orang siswa yang dapat memperoleh nilai 10, dan setelah hasil ulangan diperiksa ternya ada tiga orang yang memperoleh nilai 10. Dengan demikian maka tingkat keberhasilan guru tersebut hanya 3/7 x 100% yaitu lebih kuarang 47%.6
6 Ibid., hal. 326
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 14 Apa perlunya mengadakan evaluasi program?
Evaluasi program biasanya dilakukan untuk kepentingan pengambil kebijaksanaan untuk menentukan kebijaksanaan selanjutnya. Dengan melalui evaluasi program, langkah evaluasi bukan hanya dilakukan serampangan saja tetapi sistematik, rinci, dan menggunakan prosedur yang sudah diuji secara cermat.
Dengan metode-metode tertentu maka akan diperoleh data yang andal dan dapat dipercaya. Penentuan kebijaksanaan akan tepat apabila data yang digunakan sebagi dasar pertimbangan tersebut benar, akurat, dan lengkap.7
Ada empat macam kebijaksanaan lanjutan yang mungkin diambil setelah evaluasi program dilakukan yaitu:
1. Kegitan tersebut dilanjutkan karena dari data yang terkumpul diketahui bahwa program ini sangat bermanfaat dan dapat dilaksanakan dengan lancar tanpa hambatan sehingga kualitas pencapaian tujuannya tinggi.
7 Ibid., hal. 326
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 15 2. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan
penyempurnaan karena dari data yang terkumpul diketahui bahwa hasil program sangat bermanfaat tetapi pelaksanaannya kurang lancar atau kualitas pencapaian tujuan kurang tinggi yang perlu mendapatkan perhatian untuk kebijkasanaan berikutnya adalah cara atau proses kegiatan pencapaian tujuan.
3. Kegiatan tersebut dimodifikasi karena data yang terkumpul dapat diketahui bahwa kemanfaatan hasil program kurang tinggi sehingga perlu disusun lagi perencanaan lebih baik. Dalam hal ini mungkin tujuannya yang perlu diubah.
4. Kegiatan tersebut tidak dapat dilanjutkan (dengan kata lain dihentikan!) karena dari data yang terkumpul diketahui bahwa hasil program kurang bermanfaat, ditambah lagi didalam pelaksanaan sangat banyak hambatannya.8
8 Ibid., hal. 327
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 16
BAB 3
PERENCANAAN
EVALUASI PROGRAM PEDIDIKAN
Evaluasi merupakan dimensi penting dari pendidikan. Evaluasi program pendidikan dapat dikatakan sebagai proses monitoring dan penyesuaian yang dikehendaki oleh para evaluator dalam menentukan atau meningkatkan kualitas pendidikan. Evaluasi menunjukkan seberapa baik program pendidikan berjalan dan menyediakan cara untuk memperbaikinya. Mengacu pada konsep manajemen, proses evaluasi pendidikan dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu, perencanaan/planning, implementasi/implementing, dan evaluasi/evaluating.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 17 Dengan demikian, dalam proses ini dimulai dengan merencanakan evaluasi, mengimplementasikan evaluasi, dan mengevaluasi evaluasi. Kita perlu merencanakan dan melaksanakan evaluasi secara sistematis dengan cara mengidentifikasi kebutuhan, memilih strategi yang tepat dari berbagai alternatif, memonitor perubahan yang muncul, mengukur dampak dari perubahan tersebut. Dengan perencanaan yang baik, implementasi evaluasi diharapkan akan berjalan lancar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.9
A. Konsep Perencanaan Evaluasi Program 1. Pengertian Perencanaan Evaluasi Program
Kegiatan evaluasi program yang efektif harus melalui perencanaan program evaluasi pendidikan yang baik. Dengan kata lain, evaluasi yang baik harus direncanakan sebaik-baiknya. Adanya suatu perencanaan evaluasi program pendidikan akan memberikan kerangka kerja yang dapat dijadikan acuan oleh para evaluator
9 A. Rusdiana, Manajemen Evaluasi Program Pendidikan, Konsep, Prinsip, dan Aplikasinya di Sekolah/Madrasah, (Bandung: Pustaka Setia, Cet-1, April 2017), hal. 53
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 18 dan semua pihak yang terlibat (termasuk pendidikan) untuk mengambil keputusan tentang kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilaksanakan demi tercapainya tujuan evaluasi program pendidikan yang diinginkan. Pada pihak lain, setiap program evaluasi pendidikan harus dirancang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh lembaga pendidikan dan kegiatan yang menurut mereka paling efektif demi tercapainya tujuan-tujuan tersebut.10
Menurut Venugopal dikutip A. Rusdiana, mendefinisikan perencanaan program sebagai prosedur kerja sama masyarakat dalam upaya merumuskan masalah/keadaan yang belum memuaskan, dan upaya pemecahan yang dapat dilakukan demi tercapainya tujuan dan penerima manfaat yang ingin dicapai.
Selanjutnya menurut Mueller mengartikan perencanaan program sebagai upaya sadar yang dirancang atau dirumuskan untuk tercapainya tujuan/kebutuhan, keinginan, dan minat.
10 Ibid., hal. 54
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 19 Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam merencanakan suatu evaluasi yaitu:
a) Menentukan tujuan evaluasi, b) Merumuskan masalah,
c) Menentukan jenis data, d) Menentukan sampel evaluasi,
e) Menentukan model evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi,
f) Menentukan alat evaluasi, g) Merencanakan personal evaluasi, h) Merencanakan anggaran, dan i) Merencanakan jadwal kegiatan.
Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi diperlukannya perencanaan program dapat dikemukakan sebagai berikut:
a) Memberikan acuan dalam mempertimbangkan secara saksama tentang apa yang harus dilakukan dan cara melaksanakannya. Oleh sebab itu, dengan adanya acuan yang sudah terpilih akan memudahkan semua pihak untuk mengambil keputusan yang sebaik-baiknya.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 20 b) Tersedianya acuan tertulis yang dapat digunakan
oleh masyarakat/umum. Dengan adanya acuan tertulis, diharapkan dapat mencegah terjadinya salah pengertian (dibandingkan dengan pernyataan tertulis) dan dapat dikaji ulang/dievaluasi setiap saat, sejak sebelum, selama, dan setelah program tersebut dilaksanakan.
c) Sebagai pedoman pengambilan keputusan terhadap adanya usul/saran penyempurnaan yang baru.
Sepanjang perjalanan pelaksanaan program, muncul perlunya revisi penyempurnaan perencanaan program. Oleh karena itu, dengan adanya pernyataan tertulis, dapat dikaji seberapa jauh usulan revisi tersebut dapat diterima/ditolak agar tujuan yang diinginkan tetap dapat tercapai, baik dalam arti jumlah, mutu, maupun waktu yang telah ditetapkan.
d) Memantapkan tujuan-tujuan yang ingin dan harus dicapai, yang perkembangannya dapat diukur dan dievaluasi. Untuk mengetahui seberapa jauh tujuan telah dapat dicapai, diperlukan pedoman jelas yang dapat diukur dan dapat dievaluasi setiap saat.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 21 e) Memberikan pengertian yang jelas terhadap
pemilihan tentang kepentingannya dari masalah- masalah insidental (yang dinilai akan menuntut perlunya revisi program) dan pemantapan dari perubahan-perubahan sementara (jika diperlukan revisi terhadap program).
f) Mencegah kesalahartian tentang tujuan akhir, dan mengem bangkan kebutuhan yang dirasakan ataupun yang tidak dirasakan.
g) Memberikan kelangsungan dalam diri personel selama proses perubahan berlangsung. Artinya, setiap personel yang terlibat dalam pelaksanaan dan evaluasi program selalu merasakan perlunya kontinuitas program sampai tercapainya tujuan yang diharapkan.
h) Membantu pengembangan kepemimpinan, yaitu dalam menggerakkan semua pihak yang terlibat dan menggunakan sumber daya yang tersedia serta dapat digunakan untuk tercapainya tujuan yang dikehendaki.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 22 i) Menghindarkan pemborosan sumber daya/tenaga,
biaya, dan waktu, dan merangsang efisiensi pada umumnya.
j) Menjamin kelayakan kegiatan yang dilakukan didalam masyarakat dan yang dilaksanakan sendiri oleh masyarakat setempat.11
2. Ukuran Perencanaan Program yang Baik
Untuk mengetahui seberapa jauh perencanaan program yang dirumuskan itu telah baik, berikut ini disampaikan beberapa acuan tentang pengukurannya.
a. Analisis fakta dan keadaan
Perencanaan program yang baik harus mengungkapkan hasil analisis fakta dan keadaan yang lengkap, yang menyangkut keadaan sumber daya alam, sumber daya manusia, kelembagaan, tersedianya sarana/prasarana, dan dukungan kebijaksanaan, keadaan sosial, keamanan, dan stabilitas politik.
11 Ibid., hal. 55-56
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 23 Untuk keperluan tersebut, pengumpulan data dapat dilakukan dengan menghubungi beberapa pihak seperti lembaga/aparat pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, organisasi profesi, dan lain-lain) dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data.
b. Pemilihan masalah berlandaskan kebutuhan Hasil analisis fakta dan keadaan umumnya menghasilkan berbagai masalah (baik masalah yang telah dirasakan maupun belum dirasakan masyarakat setempat). Sehubungan dengan hal ini, perumusan masalah perlu dipusatkan pada masalah-masalah nyata atau real-problems yang telah dirasakan masyarakat atau felt-problems.
Artinya, perumusan masalah hendaknya dipusatkan pada masalah-masalah yang dinilai sebagai penyebab tidak terpenuhinya kebutuhan-nyata/real needs masyarakat, yang telah dapat dirasakan/felt needs oleh mereka.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 24 c. Merumuskan tujuan dan pemecahan masalah yang
menjanjikan kepuasan
Tujuan yang ingin dicapai harus menjanjikan perbaikan kesejahteraan atau kepuasan masyarakat penerima manfaatnya. Jika tidak, program semacam ini tidak mungkin dapat menggerakkan motivasi masyarakat untuk berpartisipasi didalamnya. Dengan demikian, masyarakat harus mengetahui manfaat setelah tujuan program tersebut tercapai.
d. Menjaga keseimbangan
Setiap perencanaan program harus mampu mencakup kepentingan sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu, setiap pengambilan keputusan harus ditekankan pada kebutuhan yang harus diutamakan, yang mencakup kebutuhan orang banyak. Efisiensi harus diarahkan demi pemerataan kegiatan dan waktu pelaksanaan harus dihindari kegiatan yang terlalu besar menumpuk pada penyuluh atau ada masyarakat penerima manfaatnya.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 25 e. Pekerjaan yang jelas
Perencanaan program harus merumuskan prosedur dan tujuan serta sasaran kegiatan yang jelas, yang mencakup masyarakat penerima manfaatnya, tujuan, waktu, dan tempatnya, metode yang akan digunakan, tugas dan tanggungjawab tiap-tiap pihak yang terkait (termasuk tenaga sukarela), pembagian tugas atau kegiatan yang harus dilaksanakan oleh setiap kelompok personel, dan ukuran-ukuran yang digunakan untuk evaluasi kegiatannya.12
f. Proses yang berkelanjutan
Perumusan masalah, pemecahan masalah, dan tindak lanjut (kegiatan yang harus dilakukan) pada tahapan berikutnya harus dinyatakan dalam suatu rangkaian kegiatan yang berkelanjutan. Termasuk didalam hal ini adalah perubahan yang perlu dilakukan, selaras dengan perubahan kebutuhan dan masalah yang akan dihadapi.
12 Ibid., hal. 57
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 26 g. Proses belajar dan mengajar
Semua pihak yang terlibat dalam perumusan, pelaksanaan, dan evaluasi program perlu mendapat kesempatan belajar dan mengajar. Artinya, warga pendidikan harus diberi kesempatan untuk belajar mengumpulkan fakta dan keadaan serta merumuskan sendiri masalah dan cara pemecahan masalahnya.
Sebaliknya, evaluator dan aparat pemerintah yang lain harus mampu memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai upaya belajar dari pengalaman setempat.
h. Proses koordinasi
Perumusan masalah, tujuan, dan cara mencapai tujuan harus melibatkan dan mendengarkan kepentingan semua pihak yang terkait. Oleh sebab itu, penting adanya koordinasi untuk menggerakkan semua pihak agar berpartisipasi di dalamnya. Pada pihak lain, koordinasi juga sangat diperlukan dalam proses pelaksanaan kegiatan. Tanpa adanya koordinasi yang
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 27 baik, tujuan kegiatan tidak akan dapat tercapai seperti yang diharapkan.13
i. Memberikan kesempatan evaluasi proses dan hasil Evaluasi sebenarnya merupakan proses yang berkelanjutan dan melekat/built-in dalam perencanaan program. Oleh sebab itu perencanaan program harus memuat dan memberi kesempatar untuk dapat dilaksanakannya evaluasi, baik evaluasi terhadap proses maupun hasilnya.
Dari beberapa pokok ukuran tersebut, secara ringkas dapat dikemukakan beberapa karakteristik perencanaan program yang baik meliputi, (1) mengacu pada kebutuhan masyarakat, (2) bersifat komprehensif, (3) luwes, merupakan proses pendidikan, (5) beranjak dari sudut pandang masyarakat, (6) memerlukan kepemimpinan lokal yang andal, (7) menggunakan teknik-teknik dan penelitian untuk memperoleh informasi, (8) mengharapkan partisipasi masyarakat, agar mereka dapat membantu diri mereka
13 Ibid., hal. 58
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 28 sendiri, dan (9) menerapkan evaluasi secara berkelanjutan.
B. Analisis Kebutuhan Evaluasi Program
Suharsimi Arikunto dikutip A. Rusdiana, menyatakan bahwa analisis kebutuhan merupakan sarana atau alat yang konstruktif dan positif untuk melakukan sebuah perubahan, yakni perubahan yang didasarkan atas logika yang bersifat rasional sehingga perubahan ini menunjukkan upaya formal yang sistematis menentukan dan mendekatkan jarak kesenjangan antara "seperti apa yang ada" dan
"bagaimana seharusnya" dengan sasarannya adalah siswa, kelas, dan sekolah.
Menurut Suharsimi Arikunto dikutip A. Rudiana, ada dua cara yang lazim dilakukan dalam melakukan analisis kebutuhan, yaitu secara objektif dan subjektif.
Kedua cara tersebut dimulai dari:
1) Identifikasi lingkup tujuan penting dalam program, menentukan indikator dan cara pengukuran tujuan.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 29 2) Menyusun kriteria atau standar untuk tiap-tiap
indikator dan membandingkan kondisi yang diperoleh dengan kriteria.14
Ciri khas dalam cara melakukan analisis kebutuhan secara subjektif adalah mengumpulkan semua evaluator untuk menentukan skala prioritas kebutuhan. Selain dua cara tersebut, evaluator dapat juga menggunakan gabungan dari keduanya, yaitu sebagian menggunakan cara objektif, sebagian yang lain menggunakan cara subjektif.
Di samping itu, seorang evaluator dapat juga menambahkan bahan lain yang diambil dari pihak luar dirinya. Pihak luar adalah kawan-kawan dekat atau anggota keluarga lain dari responden yang diperkirakan pihak tersebut diperlukan dan data yang diberikan dapat dipercaya.
14 Ibid., hal. 59
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 30
BAB
4 EVALUATOR PROGRAM PENDIDIKAN
A. Evaluator Program
Feuerstein dikutip Rusdi Ananda & Tien Rafida memaparkan evaluator program adalah seseorang yang melakukan evaluasi atau yang memungkinkan terjadinya evaluasi. Hal senada dijelaskan oleh Purwanto dan Suparman, bahwa evaluator program orang yang dipercaya oleh pemilik program dan orang-orang yang berkepentingan dengan program/stakeholder untuk melaksanakan evaluasi.
Berdasarkan pemaparan di atas maka dapatlah dimaknai bahwa evaluator program adalah pihak dalam hal ini individu (biasanya berupa tim) yang melakukan evaluasi terhadap suatu program yang tersebut
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 31 bertanggungjawab secara penuh terhadap hasil penilaian terhadap program yang dievaluasi.
Namun perlu diingat bahwa evaluator program tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan tentang program, tetapi sekedar memberikan rekomendasi kepada pengambil keputusan, selanjutnya pihak pengambil keputusan itulah yang menentukan tindak lanjut.
B. Jenis-Jenis Evaluator
Apabila ditelisik berdasarkan asal atau dari mana evaluator program, maka dapat diklasifikasi atas 2 (dua) jenis yaitu:15
1. Evaluator Internal
Menurut Feuerstien dikutip Rusdi Ananda & Tien Rafida, evaluator internal adalah orang dalam program atau orang yang sangat mengetahui hal ihwal program yang dievaluasi.
15 Rusdi Ananda & Tien Rafida, Pengantar Evaluasi Program Pendidikan, (Copyright © 2017: Perdana Publishing, 2017), hal. 23
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 32 Selanjutnya dijelaskan oleh Feuerstein bahwa evaluator internal sudah mengetahui fungsi-fungsi, tujuan-tujuan, problem-problem, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan program. Menurut Arikunto dan Jabar, evaluator internal adalah petugas evaluasi program yang sekaligus merupakan salah satu dari petugas atau anggota pelaksana program yang akan dievaluasi.
Merujuk kepada penjelasan di atas dapatlah dimaknai bahwa evaluator internal adalah individu yang menjadi evaluator suatu program yang sekaligus merupakan salah seorang dari anggota dalam program tersebut. Indvidu yang berasal dari satuan program yang dievaluasi menjadi evaluasi internal memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri.
Feuerstein Rusdi Ananda & Tien Rafida, memaparkan kelebihan dan kekurangan evaluator internal sebagai berikut:
a) Terlalu banyak mengetahui program.
b) Sangat sulit untuk bersikap objektif.
c) Merupakan bagian dari struktur kekuasaan dan kewenangan yang ada
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 33 d) Mungkin didorong oleh harapan-harapan pribadi
yang akan diperoleh.
e) Mungkin tidak terlatih secara khusus dalam metode evaluasi. Tidak banyak (mungkin hanya sedikit lebih banyak) pengalaman mengikuti training dibanding orang lain yang terlibat dalam program.
f) Akrab dengan dan mengerti program tersebut dan dapat menafsirkan prilaku-prilaku dan sikap-sikap pribadi.
g) Sudah dikenal orang yang terlibat dalam program sehingga tidak menimbulkan gangguan atau hambatan. Rekomendasi-rekomendasi akhir mungkin kurang menimbulkan kekhawatiran.
Menurut Arikunto dan Jabar kelebihan evaluator internal adalah:
a) Evaluator internal memahami seluk-beluk secara baik program yang akan di evaluasi sehingga kekhawatiran untuk tidak atau kurang tepatnya sasaran tidak perlu ada, dengan kata lain evaluaasi tepat pada sasaran.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 34 b) Oleh karena evaluator adalah orang dalam,
pengambil keputusan tidak perlu banyak mengeluarkan dana/honor untuk membayar evaluator program.
Kelemahan dari penggunaan evaluator internal dalam mengevaluasi suatu program sebagai berikut:
a) Adanya unsur subjektivitas dari evaluator, sehingga berusaha menyampaikan aspek positif dari program yang dievaluasi dan menginginkan agar kebijakan tersebut dapat diimplementasikan dengan baik pula, dengan kata lain evaluator internal dapat dikhawatirkan akan bertindak subjektif.
b) Oleh karena sudah memahami seluk-beluk program, jika evaluator yang ditunjuk kurang sabar, kegiatan evaluasi akan dilaksanakan dengan tergesa-gesa sehingga kurang cermat.16
16 Suharsimi Arikunto & Cepi Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal. 23
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 35 2. Evaluator Eksternal
Evaluator eksternal adalah seseorang yang mampu mengamati sebuah program secara jelas karena dia tidak terlibat secara pribadi dan dengan demikian dia tidak akan memiliki sesuatu yang bersifat subjektif untuk diperoleh atau dibuang dari evaluasi.17
Menurut Arikunto dan Jabar evaluator eksternal adalah orang-orang yang tidak terkait dengan kebijakan dan implementasi program, mereka berada diluar dan diminta oleh pengambil keputusan untuk mengevaluasi keberhasilan program atau keterlaksanaan kebijakan yang sudah diputuskan.18
Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat dipahami bahwa evaluator eksternal atau evaluator luar adalah individu yang tidak terkait dengan kebijakan dan implementasi program. Individu tersebut berada di luar dan diminta oleh pengambil keputusan untuk mengevaluasi keberhasilan program atau keterlaksanaan kebijakan yang sudah diputuskan.
17 Rusdi Ananda & Tien Rafida, Op. Cit., hal. 25
18 Suharsimi Arikunto & Cepi Safrudin Abdul Jabar, Op. Cit., hal. 24
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 36 Penggunaan individu-individu yang menjadi evaluator ekternal dalam melakukan evaluasi suatu program memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri.
Feuerstein dikutip Rusdi Ananda & Tien Rafida memaparkan kelebihan dan kekurangan evaluator eksternal sebagai berikut:
a) Dapat melihat program dengan penglihatan segar.
b) Tidak terlihat secara personal, sehingga lebih mudah bersikap objektif.
c) Tidak termasuk dalam struktur kekuasaan yang ada.
d) Tidak memperoleh apa-apa dari program, tetapi mungkin memperoleh penghargaan dari evaluasi.
e) Terlatih dalam metode evaluasi. Mungkin sudah berpengalaman dalam melakukan evaluasi yang lain. Dianggap sebagai seorang ahli dalam program.
f) Mungkin tidak mengerti program dan orang yang terlibat di dalamnya.
g) Dapat menimbulkan kegelisahan karena staf program dan partisipan tidak mengetahui secara pasti motivasi seorang evaluator.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 37 Selanjutnya Arikunto dan Jabar memaparkan kelebihan dan kelemahan evaluator eksternal sebagai berikut:
a) Oleh dikarenakan tidak berkepentingan atas keberhasilan program maka evaluator eksternal dapat bertindak secara objektif selama melaksanakan evaluasi dan mengambil kesimpulan.
Apapun hasil evaluasi, tidak akan ada respon emosional dari evaluator karena tidak ada keinginan untuk memperlihatkan bahwa program tersebut berhasil. Kesimpulan yang dibuat akan lebih sesuai dengan keadaan dan kenyataan.
b) Seorang ahli yang dibayar, biasanya akan mempertahankan kredibilitas kemampuannya, dengan begitu evaluator eksternal akan bekerja secara serius dan hati-hati.19
19 Suharsimi Arikunto & Cepi Safrudin Abdul Jabar, Op. Cit., hal. 24
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 38 Kelemahan penggunaan evaluator eksternal dalam melakukan evaluasi suatu program adalah:
a) Evaluator eksternal adalah orang baru yang sebelumnya tidak mengenal kebijakan tentang program yang akan dievaluasi. Mereka berusaha mengenal dan mempelajari seluk-beluk program tersebut setelah mendapat permintaan untuk mengevaluasi. Mungkin sekali pada waktu mendapat penjelasan atau mempelajari isi kebijakan, ada hal- hal yang kurang jelas. Hal itu wajar karena evaluator eksternal tidak ikut dalam proses kegiatannya. Dampak dari ketidakjelasan pemahaman tersebut memungkinkan kesimpulan yang diambil kurang tepat.
b) Pemborosan, pengambil keputusan/kebijakan (dalam hal ini bertindak sebagai sponsor) harus mengeluarkan dana/honor yang cukup banyak untuk membayar evaluator eksternal tersebut.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 39 Berdasarkan pemaparan di atas dapatlah dimaknai bahwa evaluator program dapat berasal dari kalangan internal (evaluator dan pelaksana program) dan kalangan eksternal (orang diluar pelaksana program tetapi orang yang terkait dengan kebijakan dan implementasi program.
Selanjutnya mencermati kelebihan dan kelemahan evaluator internal maupun evaluator eksternal di atas, maka timbulkan pertanyaan bagaimanakah yang lebih baik dalam melaksanakan evaluasi suatu program?
Apakah menggunakan evaluator internal atau evaluator eksternal? Menurut hemat penulis, sebaiknya dalam melakukan evaluasi terhadap suatu program maka lebih tepat dan baik mengkombinasikan penggunaan evaluator internal dan evaluator eksternal.
Dengan demikian evaluator internal sebagai pihak yang telah mengenal secara mendapat tentang program yang dievaluasi dapat menjelaskan kepada pihak evaluator eksternal sehingga diperkirakan tidak akan terjadi manipulasi hasil. Hal ini menguntungkan bagi pengambil keputusan atau pelaksana program yang dievaluasi.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 40 C. Pertimbangan dalam Penentuan Evaluator
Terdapat berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan oleh pemilik program dalam menentukan evaluator program apakah evaluator internal, evaluator eksternal ataupun kombinasi dari evaluator internal dan evaluator eksternal.20
Pertimbangan yang harus diperhatikan tersebut dijelaskan oleh Purwanto dan Suparman dikutip Rusdi Ananda & Tien Rafida sebagai berikut:
1. Pertimbangan antara evaluator orang dalam dan orang luar
Sebaiknya evaluator berasal dari orang dalam atau orang luar. Apakah kelebihan dan kekurangan masing- masing? Orang dalam adalah orang yang berasal dari bagian atau institusi penyelenggara program dan biasanya telah ikut dalam proses pengembangan dan pelaksanaan program. Sedangkan yang dimaksud orang luar adalah mereka yang berperan sebagai evaluator berasal dari luar bagian atau institusi penyelenggara program.
20 Rusdi Ananda & Tien Rafida, Op. Cit., hal. 27
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 41 Apabila evaluator ditentukan berasal dari orang dalam, kelebihannya adalah evaluator tersebut sudah mengetahui organisasi dengan baik dan mengetahui reputasi, status, kredibilitas organisasi tempatnya bekerja. Orang dalam juga memiliki hubungan yang baik dengan staf, memahami saluran komunikasi dalam organisasi, telah memahami program dan telah memiliki minat terhadap keberhasilan program.
Apabila evaluator orang dalam maka kelemahannya adalah terjadinya bias karena konflik kepentingan, mungkin evaluator tidak memiliki keterampilan evaluasi atau pekerjaan evaluasi yang dilaksanakan terganggu oleh tugas lain dan akibatnya tidak dapat menempati waktu.
Sebaliknya apabila evaluator ditentukan berasal dari orang luar maka kelebihannya adalah tidak mempunyai pendapat tentang organisasi tersebut sebelumnya (netral) dan bisa bertindak sebagai pengamat independen, objektif sebagai pengamat, dan lebih kompeten dalam teknik evaluasi. Sedangkan apabila evaluator dari orang luar maka kelemahannya adalah kurang akrab dengan kebiasaan organisasi, tidak
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 42 mengenal tatacara yang ada diorganisasi yang dievaluasi, bahkan mungkin ada yang berlawanan dengan kebiasaannya, memerlukan waktu untuk memahami program dan pemilihan biasanya hanya berdasarkan pada rekomendasi.
2. Pertimbangan antara evaluator tim dan individual Manakah yang lebih baik, evaluator terdiri dari beberapa orang yang bekerja dalam tim atau masing- masing bertanggungjawab secara individual? Bagaimana sebaiknya evaluator bekerja dalam tim atau secara individual? Apa masalahnya jika evaluator adalah suatu tim atau jika individual? Apakah evaluator adalah individu atau perorangan maka kelebihannya adalah adanya kejelasan tentang siapa yang harus bertanggungjawab. Sedangkan kelemahannya evaluator individual adalah keberhasilan atau kegagalan evaluasi tergantung pada satu orang.
Sebenarnya hampir mustahil pekerjaan evaluasi program hanya diselesaikan oleh satu orang tanpa bantuan orang lain. Apabila evaluator ditentukan tim maka kelebihannya adalah adanya pembagian
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 43 tanggungjawab yang jelas dan evaluator terdiri atas gabungan orang dengan berbagai keahlian sehingga saling melengkapi. Sementara itu kelemahannya adalah perlu waktu untuk pembentukan tim, peralatan dan pertimbangan politis dan dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
3. Pertimbangan antara evaluator bekerja penuh dan bekerja paruh waktu
Sebaiknya evaluator ditugaskan secara penuh ataukah bekerja secara paruh waktu? Bagaimana dengan masalah hubungan atau kontrak kerja evaluator?
Manakah yang lebih baik, evaluator yang bekerja penuh/full time ataukah bekerja paruh waktu/part time? Masing-masing pilihan ada kelebihan dan kelemahannya. Kelebihan apabila evaluator bekerja penuh adalah pekerjaan teroganisir dan terkait dengan logis, dan ketepatan dan arus informasi tidak tergantung pada evaluator. Kelemahan dari evaluator apabila bekerja penuh adalah mahal, mengurangi partisipasi dalam kegiatan evaluasi dan evaluator tampak seperti orang luar.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 44 Apabila evaluator bekerja paruh waktu, kelebihannya adalah dapat melibatkan berbagai keahlian dalam waktu tidak terlalu lama dan dimungkinkannya penggunaan tenaga ahli dari luar. Sementara itu kelemahannya adalah kunjungan yang singkat tidak memungkinkan untuk mempelajari permasalahan secara menyeluruh dan perlu biaya dan peralatan yang cukup banyak untuk penjadwalan.
4. Pertimbangan antara evaluator amatir dan profesional
Apakah evaluator tenaga amatir atau profesional?
Apakah kelebihan dan kelemahannya masing-masing?
Terakhir, masalah pilihan antara tenaga amatir dan profesional dan bagaimana resikonya? Perlu ditekankan disini bahwa yang dimaksud dengan profesional adalah mereka yang menjadikan pekerjaan evaluasi atau penelitian sebagai pekerjaan pokok sehari-hari dan telah menekuni pekerjaan evaluasi dalam waktu yang cukup lama. Orang-orang diluar kriteria tersebut dianggap sebagai amatir.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 45 Apabila kita memilih tenaga amatir sebagai evaluator maka kelebihannya adalah meskipun amatir evaluator biasanya dapat memahami isi dan objek evaluasi dengan baik dan dapat memilih berbagai keterampilan evaluasi berdasarkan pengalaman.
Kelemahannya, evaluator amatir karena kurangnya pengetahuan tentang objek akibatnya menurunkan objektivitas evaluasi, kemampuan evaluasinya terbatas dan memiliki keterbatasan dalam pilihan rancangan evaluasi.
Sebaliknya apabila menggunakan tenaga profesional maka kelebihannya adalah evaluator dapat menjalankan evaluasi berdasarkan pengalaman dan keterampilan teknis dan evaluator memiliki berbagai pilihan cara evaluasi berdasarkan pengalaman.
Sedangkan kelemahannya adalah tenaga profesional (biasanya orang luar) tidak dapat diterima oleh orang dalam, keterampilan evaluator dalam mengevaluasi tidak dihargai, kecenderungan menggunakan metode tertentu, dan menghalangi pemilihan metode atau rancangan lain.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 46 D. Peranan Evaluator
Evaluator program memiliki berbagai peran yaitu sebagai hakim, terdakwa, juri, pengacara, saksi ahli, detektif, pekerja sosial atau reporter keadilan. Tentu saja pengambilan peran harus disesuaikan dengan waktu, tempat dan jenis tindakannya dalam suatu kegiatan evaluasi yang utuh.21
Evaluator sebagai hakim, peran ini relatif pasif, evaluator tidak aktif mengembangkan rancangan evalusi dan tidak mengumpulkan data. Evaluator lebih banyak melihat pada informasi yang disajikan orang lain kepadanya, sehingga yang dilakukannya adalah menganalisis dan memikirkan ulang evaluasi yang telah dilaksanakan berdasarkan itu dibuat suatu kesimpulan.
Evaluator yang mengasumsikan diri sebagai hakim harus menghindari kesan gegabah atau congkak, ia harus tetap hati-hati, dan tidak membuat orang lain tersinggung dan kurang terhormat. Terkadang evaluator berperan bagaikan detektif pada saat ia melakukan kegiatan pengumpulan data, misalnya dengan cara
21 Ibid., hal. 30
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 47 mengadakan pengamatan partisipatif. Bahkan evaluator harus bertindak adil dan objektif bagaikan peran seorang hakim atau juri dalam pengadilan, terutama ketika evaluator harus mengemukakan dan melaporkan penilaiannya.
Evaluator program menurut Tayibnapis dikutip Rusdi Ananda & Tien Rafida memiliki peranan strategis sebagai berikut:
1) Sebagai penolong dan penasehat terhadap perencana dan pengembang program. Pada waktu program baru mulai dikerjakan, mungkin evaluator akan dipanggil untuk menerangkan dan memonitor kegiatan program. Memeriksa kemajuan dan pencapaian program, perubahan sikap, melihat masalah-masalah yang potensial, dan melihat bagian-bagian yang memerlukan perbaikan. Dalam hal ini evaluator progam berperan sebagai evaluator formatif.
2) Mungkin evaluator bertanggungjawab dan bertugas membuat pernyataan singkat tentang pengaruh umum dan pencapaian program. Dalam hal ini evaluator harus menyiapkan laporan tertulis yang
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 48 harus diserahkan kepada pemimpin atau direktur program. Laporan berisi tentang penjelasan program, pencapaian tujuan umum program, pencatatan hasil-hasil yang diharapkan, dan pembuatan perbandingan dengan program-program alternatif. Dalam hal ini evaluator berperan sebagai evaluator sumatif.
E. Syarat-Syarat Evaluator
Untuk dapat menjadi evaluator program haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan yang ketat.22
Menurut Schnee dikutip Arikunto dalam Rusdi Ananda & Tien Rafida, menyebutkan karakteristik evaluator program sebagai berikut:
1) Evaluator hendaknya merupakan otonom. Evaluator hendaknya orang luar yang sama sekali tidak ada ikatan dengan pengambil kebijakan maupun pengelola dan pelaksana program. Di samping itu juga harus lepas dari tekanan politik.
22 Ibid., hal. 31
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 49 2) Ada hubungan baik dengan responden dalam arti
dapat memahami sedalam-dalamnya watak, kebiasaan dan cara hidup klien yang akan dijadikan sumber data evaluasi.
3) Tanggap akan masalah politik dan sosial karena tujuan evaluasi adalah pengembangan program.
4) Evaluator berkualitas tinggi, dalam arti jauh dari keahlian biasa. Evaluator adalah orang yang mempunyai konsep diri/self concept yang tinggi, tidak mudah terombang-ambing.
5) Menguasai teknik untuk memilih desain dan metodologi penelitian yang tepat untuk program yang dievaluasi.
6) Bersikap terbuka terhadap kritik. Untuk mengurangi dan menahan diri dari bias, maka evaluator memberi peluang kepada orang luar untuk melihat apa yang sedang dan telah dilakukan.
7) Menyadari kekurangan dan keterbatasannya serta bersikap jujur, menyampaikan atau menerangkan kelemahan dan keterbatasan tentang evaluasi yang dilakukan.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 50 8) Bersikap pasrah kepada umum mengenai penemuan
positif dan negatif. Evaluator harus berpandangan luas dan bersikap tenang apabila menemukan data yang tidak mendukung program dan berpendapat bahwa penemuan negatif sama pentingnya dengan penemuan positif.
9) Bersedia menyebarkan hasil evaluasi. Untuk program yang penting dan menentukan, hasil evaluasi hanya pantas dilaporkan kepada pengambil keputusan dalam sikap tertutup atau pertemuan khusus. Namun untuk program yang biasa dan dipandang bahwa masyarakat dapat menarik manfaat dari penilaiannya, sebaiknya hasil evaluasi disebarluaskan, khususnya bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
10) Hasil penilaian yang tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai informasi terbuka, sebaiknya tidak disebarluaskan (merupakan sesuatu yang konfidensial).
11) Tidak mudah membuat kontrak. Evaluator yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah disebutkan sebaiknya tidak dengan mudah
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 51 menyanggupi menerima tugas karena secara etis dan moral akan merupakan sesuatu yang kurang dapat dibenarkan.
Persyaratan untuk menjadi seorang evaluator yang kompeten dan dapat diandalkan menurut Tayibnapis dikutip Rusdi Ananda & Tien Rafida, mempunyai kombinasi berbagai ciri antara lain:
1) Mengetahui dan mengerti teknik pengkuran dan metode penelitian,
2) Mengerti tentang kondisi sosial dan hakikat objek evaluasi,
3) Mempunyai kemampuan hubungan manusia/human relation,
4) Jujur, dan
5) Bertanggungjawab.
Selanjutnya persyaratan untuk menjadi evaluator dijelaskan oleh Arikunto dan Jabar sebagai berikut:
1) Mampu melaksanakan, persyaratan pertama ini harus dipenuhi oleh evaluator adalah individu yang
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 52 memiliki kemampuan untuk melaksanakan evaluasi yang didukung oleh teori dan keterampilan praktek.
2) Cermat, dalam hal ini individu yang menjadi evaluator dapat melihat celah-celah dan detail dari program serta bagian program yang akan dievaluasi.
3) Objektif, tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadi, agar dapat mengumpulkan data sesuai dengan keadaannya, selanjutnya dapat mengambil kesimpulan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang harus diikuti.
4) Sabar dan tekun, agar didalam melaksanakan tugas dimulai dari membuat rancangan kegiatan dalam bentuk menyusun proposal, menyusun instrumen, mengumpulkan data dan menyusun laporan, tidak gegabah dan tergesa-gesa.
5) Hati-hati dan bertanggungjawab yaitu melakukan pekerjaan evaluasi dengan penuh pertimbangan, namun apabila masih ada kekeliruan yang
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 53 diperbuat, berani menanggung resiko atas segala kesalahannya.23
F. Kompetensi Evaluator Program
Evaluator program sebagai orang yang melakukan evaluasi terhadap suatu program, maka sudah barang tentu haruslah memiliki kompetensi untuk melakukan evaluasi.24
Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang evaluator program menurut Purwanto dan Suparman dikutip Rusdi Ananda & Tien Rafida sebagai berikut:
1. Kompetensi Manajemen
Kompetensi manajemen merupakan keterampilan dalam mengelola dan mengendalikan seluruh kegiatan evaluasi sehingga dapat berlangsung sebaik-baiknya, secara efektif dan efisien. Keterampilan manajemen itu terdiri atas sub-sub kompetensi yaitu melakukan supervisi, menjelaskan wawasan politik, menerapkan etika profesi, keterampilan berkomunikasi, keterampilan
23 Suharsimi Arikunto & Cepi Safrudin Abdul Jabar, Op. Cit., hal. 22- 23
24 Rusdi Ananda & Tien Rafida, Op. Cit., hal. 34
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 54 interpersonal, analisis sistem, membuat perjanjian atau kontrak, membuat pembiayaan, dan menentukan tujuan.
Selain itu, masih ada keterampilan tambahan yang perlu juga dikuasai seperti keterampilan mengorganisir, memimpin, menggarahkan dan membimbing staf, terutama untuk kegiatan-kegiatan yang memerlukan tim.
2. Kompetensi Teknis
Kompetensi teknis yaitu ketrampilan melakukan kegiatan evaluasi langkah demi langkah, dari perencanaan sampai selesai tuntas. Keterampilan ini meliputi sub-sub kompetensi yaitu, memilih atau mengembangkan instrumen, mengadministrasikan tes, melakukan analisis statistik, menerapkan metode survey, menerapkan teknik pengamatan, menerapkan psikometri, menerapkan rancangan eksperimen, melakukan kendali mutu data, menggunakan aplikasi komputer, menerapkan metodologi studi kasus, melakukan analisis biaya, membuat intrepretasi,
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 55 membuat rekomendasi dan menulis laporan serta mempresentasikan laporan.
3. Kompetensi Konseptual
Kompetensi konseptual adalah keterampilan tingkat tinggi yang berkaitan dengan kemampuan menganalisis, dan pemecahan masalah. Keterampilan konseptual yang harus dikuasai evaluator meliputi sub- sub kompetensi yaitu menentukan pilihan/alternatif, menyusun rencana awal, mengkategorikan dan menganalisis masalah, melihat dan menunjukkan hubungan dan membuat kesimpulan.
4. Kompetensi Bidang Ilmu
Kompetensi bidang ilmu merupakan keahlian dan kemampuan dalam bidang disiplin ilmu yang terkait dengan evaluasi. Keahlian itu meliputi berpengalaman kerja di bidang yang dievaluasi, berpengetahuan tentang sumber literatur, memahami pentingnya konsepsi dalam bidang yang relevan dan mengenal pakar-pakar di bidangnya.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 56
BAB
5 MODEL - MODEL EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN
A. Ruang Lingkup Model Evaluasi Program
Terdapat model-model evaluasi program yang dikembangkan oleh para ahli yang dapat dipakai untuk mengevaluasi sebuah program. Model evaluasi merupakan desain evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli evaluasi, yang biasanya dinamakan sama dengan pembuatnya atau tahap evaluasinya.
Menurut Arikunto & Jabar dikutip Darodjat dan Wahyudhiana, meskipun terdapat perbedaan pendapat tentang model-model evaluasi, namun maksudnya sama yaitu kegiatan pengumpulan data yang berkaitan dengan objek yang dievaluasi sebagai bahan bagi pengambilan
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 57 keputusan dalam menentukan tindak lanjut suatu program.
Beberapa model yang banyak dipakai untuk mengevaluasi program pendidikan antara lain, model evaluasi CIPP, model evaluasi ini banyak dikenal dan diterapkan oleh para evaluator. Konsep evaluasi model CIPP (Context, Input, Process and Product). Model ini pertama kali dikenalkan oleh Stufflebeam pada 1965 sebagai hasil usahanya mengevaluasi ESEA (the Elementary and Secondary Education ACT).
Menurut Madaus, Scriven, Stufflebeam dikutip Darodjat dan Wahyudhiana, tujuan penting evaluasi model ini adalah untuk memperbaiki, dikatakan the CIPP approach is based on the view that the most important purpose of evaluation is not to prove but to improve.
Evaluasi model Stufflebeam terdiri dari empat dimensi yaitu; context, input, process, and product, sehingga model evaluasinya diberi nama CIPP.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 58 Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP tersebut merupakan sasaran evaluasi, yaitu komponen dan proses sebuah program kegiatan.25
B. Model-Model Evaluasi Program 1. Evaluasi Konteks
Banyak rumusan evaluasi konteks yang dinyatakan oleh para ahli evaluasi, diantaranya adalah menurut Sax dikutip Darodjat dan Wahyudhiana, Sax menjelaskan bahwa evaluasi konteks adalah context evaluation is the delineation and specification of project’s environment, its unmet needs, the population and sample of individuals to be served, and the project objectives.
Context evaluation provides a rationale for justifying aparticular type of program intervention.
Maksud dari kutipan di atas yaitu evaluasi konteks adalah kegiatan pengumpulan informasi untuk menentukan tujuan, mendefinisikan lingkungan yang relevan.
25 Darodjat & M. Wahyudhiana, Model Evaluasi Program Pendidikan, (Jurnal Islamadina, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Volume XIV, Nomor 1, Maret 2015), hal. 4-5
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 59 Sejalan dengan Sax, Stufflebeam & Shinkfield, lebih lanjut menjelaskan bahwa evaluasi konteks adalah to assess the object’s overall status, to identify its deficiencies, to identify the strengths at hand that could be used to remedy the deficiencies, to diagnose problems whose solution would improve the object’s well-being, and, in general, to characterize the program‟s environment. A context evaluation also is aimed at examining whether existing goals and priorities are attuned to the needs of whoever is supposed to be served.
Maksud dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa, evaluasi konteks berusaha mengevaluasi status objek secara keseluruhan, mengidentifikasi kekurangan, kekuatan, mendiagnosa problem, dan memberikan solusinya, menguji apakah tujuan dan prioritas disesuaikan dengan kebutuhan yang akan dilaksanakan.
a. Evaluasi masukan
Menurut Stufflebeam & Shinkfield dikutip Darodjat dan Wahyudhiana, orientasi utama evaluasi masukan/input adalah menentukan cara bagaimana
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 60 tujuan program dicapai. Evaluasi masukan dapat membantu mengatur keputusan, menentukan sumber- sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai tujuan, bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya. Komponen evaluasi masukan meliputi sumber daya manusia, sarana dan peralatan pendukung, dana/anggaran, dan berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan.
b. Evaluasi proses
Menurut Stufflebeam & Shinkfield dikutip Darodjat dan Wahyudhiana, esensi dari evaluasi proses adalah mengecek pelaksanaan suatu rencana/program.
Tujuannya adalah untuk memberikan feedback bagi manajer dan staf tentang seberapa aktivitas program yang berjalan sesuai dengan jadwal, dan menggunakan sumber-sumber yang tersedia secara efisien, memberikan bimbingan untuk memodifikasi rencana agar sesuai dengan yang dibutuhkan, mengevaluasi secara berkala seberapa besar yang terlibat dalam aktifitas program dapat menerima dan melaksanakan peran atau tugasnya.
Pelaksanaan Evaluasi Program Pendidikan 61 Senada dengan Stufflebeam & Shinkfield, Worthen
& Sanders, menjelaskan bahwa evaluasi proses menekankan pada tiga tujuan yaitu, (1) do detect or predict in procedural design or its implementation during implementation stage, (2) to provide information for programmed decisions, and (3) to maintain a record of the procedure as it occurs.
Evaluasi proses digunakan untuk mendeteksi atau memprediksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi selama taha