Nama : Renilza Nurshiyam (A61124118) Kelas : C
Bidang Studi : Pendidikan Guru Kelas SD Mata Kuliah : Filosofi Pendidikan Nasional
Dalam perjalanan pribadi saya, saya merenungkan pengalaman bersekolah yang telah membentuk dan menginspirasi saya untuk memilih karier sebagai seorang guru. Saat ini, sebagai seorang calon guru dalam program PPG Prajabatan, saya mengikuti langkah-langkah konkret untuk mewujudkan panggilan saya menjadi pendidik yang berdedikasi. Saya yakin bahwa menjadi guru berarti menjadi agen perubahan dalam pendidikan. Saya percaya bahwa melalui pendidikan, saya dapat berkontribusi dalam membentuk generasi muda yang cerdas, kreatif, dan berintegritas, serta menjadi bagian dari solusi dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
Namun sampai saat ini dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia masih banyak sistem yang membelenggu dan mempersulit pengaplikasiannya di sekolah. Seperti pempelajaran dengan gaya bank dimana dalam proses pengajaran dan pembelajaran guru berperan sebagai “pengirim”
informasi dan siswa sebagai “penerima” yang pasif. Kurangnya interaksi diskusi sehingga membuat siswa memiliki peran yang terbatas dalam mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi aktif. Ketidakmerataan akses pendidikan disparitas akses pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Menjadikan kesenjangan antara pendidikan di pulau-pulau besar dan pulau-pulau terpencil. Perluasan akses terhadap teknologi dan internet untuk mendukung pembelajara adalah Tantangan untuk mengatasi kesenjangan digital di antara siswa. Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) disajikan dalam bentuk angka-angka, di mana setiap siswa harus memenuhi standar angka tersebut. Batas angka tersebut akan menjadi batas minimal yang harus dicapai siswa. Dengan adanya batas minimal tersebut akan dapat diperoleh data mengenai persentase data siswa yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan siswa yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) tersebut. Perubahan sistem kurikulum yang begitu cepat membuat tenaga pendidik dan perserta didik mengalami kesuitan dalam pengimplementasian di sekolah.
Mengatasi belenggu pendidikan yang terjadi pendekatan yang lebih progresif dan berpusat pada siswa. Dengan melakukan implementasi pendekatan pembelajaran aktif. Memanfaatkan teknologi pendidikan untuk meningkatkan interaktivitas dan aksesibilitas pembelajaran.
Menekankan kolaborasi antar siswa dan mendorong pembelajaran tim. Menggantikan penekanan pada penilaian sumatif dengan penilaian formatif yang memberikan umpan balik dan melibatkan siswa dalam proses penilaian.
Metode pembelajaran yang berpusat pada perserta didik mencerminkan kebebasan pendidikan di Indonesia, Kemendibud dengan masalah-masalah tersebut membuat kurikulum yang pembelajarannya berpusat pada siswa yaitu kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka yang di terapkan dalam model pembelajaran saat ini juga di ambil dari ide-ide pemikiran Ki Hajar Dewantara. Prinsip program kurikulum merdeka ini di harapkan terbentuknya kebijakan merdeka belajar yang berkarakter fleksibel, mudah dipahami, fokus pada kompetensi dan karakter perserta didik, bergotong royong dan memperhatikan hasil umpan balik. Tujuan dari kurikulum merdeka ini memadukan kemampuan kognigtif, kecerdasaan emosional-sosial, kemauan belajar, bersikap, dan mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Tujuan dan prinsip kurikulum merdeka ini mengarah pada pengembangan kemampuan untuk pembelajaran sepanjang hayat yang memiliki kemampuan untuk mengatur diri dan menentukan arah belajar perserta didik.
Perjalanan Pendidikan Nasional
Transformasi Pendidikan sebelum Kemerdekaan
Pada masa kolonialisme Belanda, pendidikan di Indonesia bersifat elitis dan diskriminatif. Hanya kaum elit Belanda dan pribumi tertentu yang berhak mendapatkan pendidikan berkualitas. Ki Hadjar Dewantara menentang sistem ini melalui berbagai kritik dan gagasannya. Salah satu kritiknya tertuang dalam tulisannya "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda), yang membuatnya diasingkan ke Belanda. Kritiknya menyoroti sistem pendidikan kolonial yang bertujuan untuk menciptakan "kelas terdidik" yang tunduk pada penjajah. Sebagai bentuk perlawanan, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922.
Taman Siswa menerapkan sistem pendidikan yang berpusat pada anak (student-centered) dan menekankan pada pengembangan karakter dan kemerdekaan berpikir.
Transformasi Pendidikan setelah Kemerdekaan
Pasca kemerdekaan, pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi landasan bagi pengembangan sistem pendidikan nasional Indonesia. Prinsip-prinsipnya, seperti "Tut Wuri Handayani", "Ing Ngarsa Sung Tulodho", dan "Kodrat Alam", menjadi filosofi pendidikan yang dianut hingga saat
ini. Namun, terdapat beberapa kritik terhadap implementasi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan Indonesia. Salah satu kritiknya adalah adanya kesenjangan antara idealisme dan realitas praktik pendidikan.
Kritik dan Analisis
Meskipun gerakan transformasi Ki Hadjar Dewantara membawa perubahan positif pada pendidikan Indonesia, terdapat beberapa kritik yang perlu dikaji:
1. Kesenjangan Implementasi: Terdapat kesenjangan antara idealisme pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan realitas praktik pendidikan di lapangan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan infrastruktur, kualitas guru, dan kurikulum yang belum sepenuhnya mendukung.
2. Relevansi di Era Modern: Di era globalisasi dan digitalisasi, muncul pertanyaan mengenai relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Ada kekhawatiran bahwa pemikirannya kurang adaptif terhadap perubahan zaman.
3. Kurangnya Evaluasi Dampak: Diperlukan penelitian dan evaluasi yang lebih mendalam untuk mengukur dampak nyata transformasi pendidikan yang digagas Ki Hadjar Dewantara.
Hal ini penting untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi sistem pendidikan yang diterapkan.
Meskipun terdapat beberapa kritik dan tantangan gerakan transformasi Ki Hadjar Dewantara telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pendidikan di Indonesia.
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara masih relevan dengan pendidikan masa kini, karena menekankan pada pengembangan karakter dan kemerdekaan belajar serta tetap relevan dan menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan pendidikan Indonesia yang lebih baik di masa depan.
Refleksi tentang Perjalanan Pendidikan Nasional
Berdasarkan berbagai hal yang telah asaya pelajari pada topik satu mata kuliah Filosofi Pendidikan, terdapat pengetahuan baru yang saya peroleh sehingga memberikan pandangan yang lebih baik terhadap pendidikan nasional yang akan membantu saya untuk menjalankan profesi sebagai guru yang profesional dimasa mendatang. Beberapa contoh yang menurut sya sangat
penting yang saya dapatkan dari materi tentang Perjalanan Pendidikan Nasional adalah sebagai barikut :
a. Saya memperoleh pengetahuan tentang berbagai pandangan Ki Hadjar Dewantara terkait pendidikan yang kemudian pandangannya diimplementasikan dalam pendidikan nasional bahkan hingga saat ini.
b. Saya memperoleh pandangan bahwa menjadi seorang guru berarti harus siap menjadi role model bagi peserta didik yang nantinya akan hidup dalam suatu masyarakat, sehingga harus baik dalam sikap, tutur kata, dan perilaku yang mendukung proses pembelajaran dalam hal ini pendidikan karakter. Sehingga proses pengajaran yang berlangsung harus memberikan kemerdekaan bagi peserta didik, memberikan kesempatan dan kebebasan untuk menentukan apa yang ingin dipelajari, diminati serta menjadi potensi dalam dirinya agar dapat memberikan pengalaman yang bermakna dan dapat menunjang kehidupannya dimasa mendatang.
c. Sebagai seorang guru saya menjadi paham bahwa pendidikan bukan hanya proses belajar dan mengajar, melainkan terkait dengan kebutuhan hidup setiap manusia yang sangat beragam yang berarti juga bahwa setiap peserta didik memiliki kebutuhan yang bervariasi dalam proses belajar.