Tesis Diploma yang berjudul “TANGGUNG JAWAB HUKUM PENILAIAN PUBLIK TERHADAP LAPORAN PENILAIANNYA DALAM KEGIATAN PEMBELIAN TANAH UNTUK PENGEMBANGAN KEPENTINGAN MASYARAKAT (STUDI KANTOR TOTO SUHARTO PUBLIK) Sesi Bulanan Fakultas Syariah dan Hukum Program Studi Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, pada bulan Januari 15, 2020. TANGGUNG JAWAB HUKUM PENILAIAN PUBLIK TERHADAP LAPORAN PENILAIAN DALAM KEGIATAN PEMBELIAN TANAH UNTUK LAYANAN PEMBANGUNAN PUBLIK (AL).
Latar Belakang Masalah
Dasar hukum pembelian tanah untuk kepentingan umum di Indonesia mengacu pada ketentuan undang-undang no. 2 Tahun 2012 tentang pembelian tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum. 8 Oloan Sitorus dan Dayat Limbong, Pembebasan Lahan untuk Kepentingan Umum (Yogyakarta: Indonesia Land Policy Partners, 2004) hal.
Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah
Penelitian ini berfokus pada tanggung jawab dan kewajiban hukum Asesor Publik terkait dengan hasil penilaiannya dalam kegiatan pengadaan tanah oleh Negara untuk pembangunan untuk kepentingan umum. Apa tanggung jawab hukum Penilai Publik atas laporan penilaiannya dalam kegiatan pengadaan tanah menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Untuk kepentingan umum dan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 56/PMK.01/2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 101/PMK.01/2014 tentang penilai publik. Bagaimana Kantor Penilaian Publik Toto Suharto dan Rekan menyikapi laporan penilaiannya jika terjadi perselisihan.
Metode Penelitian
13 Rahayu Subekti, Kebijakan Kompensasi Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Yustisia. Pada tahun 2012, pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2014. Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
14 Rahayu Subekti, Kebijakan menjamin ganti rugi dalam pembelian tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum, Keadilan. Hasil penilaian yang dinyatakan dalam kegiatan pengadaan tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum harus dalam mata uang Rupiah sebagaimana tercantum dalam Ruang Lingkup Penugasan. Peranan Laporan Penilaian Penilai Publik dalam Pembahasan Kegiatan Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
TANGGUNG JAWAB HUKUM LAYANAN PENILAIAN PUBLIK TOTO SUHARTO UNTUK MELAKUKAN PENILAIAN DALAM KEGIATAN PEMBANGUNAN PEMBELIAN LAHAN. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 101/PMK.01/2014. Pada tahun 2012 telah diundangkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang menjelaskan secara rinci terkait kegiatan pengadaan tanah.
Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan untuk Kepentingan Umum, hanya dijelaskan bahwa penilai publik wajib mempertanggungjawabkan penilaiannya. Klarifikasi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan untuk Kepentingan Umum mengenai pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan dalam usaha pengadaan tanah untuk kepentingan umum. Subekti, Rahayu Kebijakan ganti rugi pengadaan tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum, Yustisia.
Sistematika Penulisan
TINJAUAN PUSTAKA TANGGUNG JAWAB HUKUM PENILAI PUBLIK
Kerangka Konseptual
- Pengadaan Tanah
- Kepentingan Umum
- Profesi Penilai Publik
- Penilaian
- Laporan Penilaian
Pengadaan tanah untuk kepentingan umum bertujuan untuk memperoleh tanah guna melaksanakan pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, negara, dan masyarakat dengan tetap menjamin kepentingan hukum pihak yang berhak. Dalam undang-undang sendiri, istilah pengadaan tanah pertama kali digunakan dalam Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Penyelenggaraan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Pembebasan tanah adalah kegiatan perolehan tanah dengan memberikan ganti rugi yang cukup dan adil kepada pihak-pihak yang berhak.”
Pengadaan tanah di Indonesia ada dua jenis, yang pertama adalah pengadaan tanah untuk kepentingan umum dan yang kedua adalah pengadaan tanah untuk kepentingan swasta yang mencakup kepentingan komersial dan non-komersial. Jadi, pengertian pengadaan tanah untuk kepentingan umum menurut Keputusan Presiden nomor 55 tahun 1993 adalah kegiatan pengadaan tanah yang dilakukan untuk melaksanakan pembangunan yang ditujukan untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat. Istilah kepentingan umum merupakan titik sentral dari kegiatan pengadaan tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum.Yang dimaksud dengan kepentingan umum menurut S.W Sumardjono adalah kepentingan seluruh lapisan masyarakat, adapun mengenai kegiatan pembangunan yang dilakukan dan kemudian dimiliki oleh pemerintah. pemerintah, dan tidak digunakan untuk mencari keuntungan.17.
Pengadaan tanah dilakukan oleh pemerintah dengan memberikan ganti rugi yang memadai dan adil kepada pemilik tanah.18. Penilai harus mempunyai kualifikasi untuk melakukan pekerjaan penilaian pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum sesuai dengan persyaratan Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI) dan Standar Penilaian Indonesia (SPI).
Kerangka Teoritis
- Teori Tanggung Jawab Hukum
- Teori Kekuasaan Negara
- Teori Tanggung Jawab Hukum
Terdapat perbedaan karena tesis ini hanya berfokus pada mekanisme pemberian ganti rugi kepada pemilik hak atas tanah atas kegiatan pengadaan tanah sesuai dengan UU No. 2 Tahun 2012. Terkait kegiatan pengadaan tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum, Kantor Penilaian Pelayanan Publik Toto Suharto dan Rekan yang sering dipercaya oleh pemerintah untuk melakukan penilaian ganti rugi atas tanah masyarakat yang terkena dampak kegiatan tersebut. Kantor Pelayanan Penilaian Publik Toto. Penerima manfaat adalah orang yang mempunyai hak milik atas tanah yang menjadi obyek pengadaan tanah.
Dalam menilai ganti rugi, penilai publik harus menggunakan Petunjuk Teknis Standar Penilaian Indonesia (SPI) 306 dan mengikuti peraturan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan untuk Kepentingan Umum dan peraturan Menteri Keuangan Republik. Peraturan Pemerintah Nomor 101/PMK.01/2014 tentang Asesor Publik sebagai acuan. Penilai publik wajib menilai seluruh benda yang berada di atas tanah pemilik hak atas tanah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 101/PMK. 01 Tahun 2014 tentang Asesor Publik untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pelaksanaan penilaian tersebut. Oleh karena itu, dalam musyawarah penetapan ganti rugi kegiatan pengadaan tanah, dasar musyawarahnya adalah hasil laporan penilaian yang dilakukan oleh Penilai Publik.
45 Abdurrahman, Permasalahan Pencabutan Hak Atas Tanah, Pengecualian Pembebasan Tanah Bagi Penyelenggaraan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum di Indonesia (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995) hal.Berdasarkan pasal di atas, nampaknya pihak yang melakukan penilaian ganti kerugian dalam usaha pengadaan tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum, penilai umum yang ditunjuk oleh pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Badan Pertanahan untuk menilai besarnya per tanah. ganti rugi atas tanah yang diperoleh untuk kegiatan pengadaan tanah. Hal tersebut di atas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan untuk Kepentingan Umum, yang menegaskan bahwa penilai publik yang melakukan penilaian dalam usaha pengadaan tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum harus dapat mempertanggungjawabkan hasil penilaiannya.
Abdurrahman. Permasalahan perampasan hak atas tanah, pengecualian pengadaan tanah untuk pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum di Indonesia.
Tinjauan (Review) Studi Terdahulu
Profile Kantor Jasa Penilai Publik Toto Suharto dan Rekan
Ganti Kerugian Dalam Kegiatan Pengadaan Tanah Untuk
Tanggung Jawab Hukum Penilai Publik Menurut Hukum Positif
Dalam hal ini, Pemohon berpendapat hasil evaluasi kompensasi yang dilakukan oleh Asesor Publik tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan transparansi. Kantor Pelayanan Penilaian Publik Toto Suharto (Termohon 2) dalam perkara ini juga menolak keberatan yang diajukan Pemohon dengan alasan. Dalam hal ini Kantor Jasa Penilai Publik Toto Suharto memenuhi salah satu kewajiban penilai publik yaitu kewajiban mempertanggungjawabkan hasil penilaian yang dilakukan.
49 Hasil wawancara dengan Wakil Kepala Bagian Penilaian Kantor Pelayanan Penilaian Publik Toto Soeharto pada 19 November 2019. Selain itu, laporan penilaian yang dibuat Kantor Pelayanan Penilaian Publik Toto Soeharto juga dinilai tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. prinsip keadilan dan transparansi. Dalam penilaiannya, Kantor Pelayanan Penilaian Publik Toto Suharto melaksanakan penilaian sesuai prosedur yang diatur dalam Petunjuk Teknis Standar Penilaian Indonesia (SPI) 306.
Kantor Pelayanan Penilaian Masyarakat Toto Suharto melakukan penilaian ganti rugi kerugian fisik dan non fisik sesuai dengan prosedur yang diatur dalam Petunjuk Teknis Standar Penilaian Indonesia (SPI) 306. 51 Hasil wawancara dengan Wakil Kepala Divisi Penilaian Toto Suharto Kantor Pelayanan Penilaian Publik pada tanggal 19 November 2019. Kantor Pelayanan Penilaian Publik Toto Suharto mempertanggungjawabkan penilaiannya yang menimbulkan perselisihan.
Kantor Pelayanan Penilaian Publik Toto Suharto menjelaskan secara rinci faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi hasil akhir evaluasi kompensasi mereka.
Hasil Laporan Penilaian Jasa Penilai Publik Toto Suharto Yang
Analisis Atas Penilaian Yang Dilakukan Kantor Jasa Penilai Publik
Seperti contoh di atas, dalam sengketa pertanahan, besaran nilai ganti rugi atas tanah para pemilik hak yang terkena dampak pengadaan tanah seringkali menjadi bahan sengketa.Mereka berpendapat bahwa nilai ganti rugi yang terkandung dalam hasil masyarakat penilaian penilai tidak akurat dan tidak lagi mencakup kerugian yang dimilikinya. Selain memenuhi asas kemanusiaan dan asas keadilan dalam kegiatan pengadaan tanah untuk konstruksi untuk kepentingan umum, pemberian ganti kerugian non fisik ini juga dapat menghindari perselisihan akibat pemilik hak atas tanah yang meyakini bahwa harga tanahnya telah diganti. Selain itu, Kantor Penilai Publik Toto Suharto melakukan penilaian terhadap kasus-kasus sengketa tersebut di atas dengan menggunakan data pemerintah daerah dan badan pertanahan.
Padahal Kantor Jasa Penilai Publik melakukan penilaian sesuai prosedur yang diatur dalam Petunjuk Teknis Standar Penilai Indonesia (SPI) 306 dan mengikuti peraturan yang diatur dalam undang-undang nomor 2 tahun 2012 tentang pengadaan tanah untuk pembangunan untuk kepentingan umum dan Menteri. Peraturan Keuangan Republik Indonesia Nomor 101/PMK.01/2014 tentang Penilai Publik, pemilik tanah masih sering mempermasalahkan hasil penilaian yang dilakukan karena merasa hasil penilaian tersebut tidak akurat. 51 Hal ini tentu saja sangat menghambat kelancaran kegiatan pengadaan tanah. Setelah diteliti, sering terjadi perselisihan dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum karena kurangnya komunikasi antara Pemerintah dan pemilik tanah yang menyebabkan perbedaan pendapat tidak mencapai titik temu sehingga menimbulkan perselisihan. Pemerintah dan Lembaga Pertanahan harus menjangkau dan meningkatkan komunikasi dengan pemilik hak atas tanah sebelum dan selama pembahasan mengenai jumlah kompensasi atas tanah mereka yang terkena dampak kegiatan pengadaan tanah.
Sitorus, Oloan dan Dayat Limbong. Pembelian tanah untuk kepentingan umum Yogyakarta. Mitra Kebijakan Pertanahan Indonesia. 2004. Nadia Luthfiyah, Mekanisme Kompensasi Pengadaan Tanah Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Untuk Kepentingan Umum (kajian Putusan Pengadilan Negeri Tangerang Nomor 129/Pdt.P/2017/PN .TNG.) http: //repositori .uinjkt.ac.id/dspace/handle diakses 15 November 2019.
PENUTUP
Kesimpulan
Penjelasan lebih lengkap diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.01/2014 tentang Penilai Publik yang menjelaskan, terdapat 3 jenis pelanggaran yang dilakukan oleh penilai publik. Pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan pelanggaran ringan yang tidak menyebabkan perubahan nilai penilaian akhir, dan pelanggaran berat dan sangat berat yang menyebabkan perubahan nilai penilaian akhir. Meskipun telah ditetapkan bahwa dalam setiap pengadaan tanah untuk kepentingan umum harus selalu ada pertimbangan, namun pertimbangan tersebut seringkali tidak dijadikan titik temu bagi pihak-pihak yang berbeda pendapat.
Rekomendasi
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.01/2014 tentang Peraturan Penilai Publik Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 56/PMK.01/2017. Toto Soeharto dan Rekan. Layanan dan Layanan. https://www.tnr.co.id/ diakses 20 September 2019. Mohamad Fahmi Burhanudin, Mekanisme Pengadaan dan Konsinyasi Kompensasi Lahan oleh Pemerintah Terkait Pembangunan Jalan Umum (Studi Kasus Pelebaran Jalan Ciater-Rawa Mekar Jaya ) http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle diakses 15 November 2019.