• Tidak ada hasil yang ditemukan

hr - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "hr - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR PEMBENTUKAN PERILAKU MAtrASISWA ANGKATAI\i

2014

PROGRAM BK STKIP PGRI SUMATBRA BARAT

JURNAL

lte )hr

I}EVI MAYTISAH

-

r{PM.

110601s7

PROGRAM STUDI BIMBINGATI DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGI]RUATi DAN ILMU PENDIDIKAI{

(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADAI\TG

2017

i

i;

I

ij

.j I

i

I

1

j

I

!

I{

i

i

I I

I

I

i i

I

I

L I I

I I I

i

I

I

t

t I t I I

i

i It

t

I i I I

i

I I

i

i;

V

t

(2)

Faktor Pembentukan Perilaku Mahasiswa Angakatan 2014 Program BK STKIP PGRI Sumatera Barat

Oleh:

Devi Maytisah*

Weni Yulastri, M.Pd**

Joni Adison, S.Pd.I, M.Pd,**

*Student

**Lecturers

Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

Devi Maytisah, (NPM:11060157), factor that shaped Behavior university student 2014 BK STKIP PGRI program, West Sumatera, Final Exam, guidence and counseling departement, STKIP PGRI West Sumatera, Padang, 2017.

Problem concern on phenomena on field which student often distrubing, hit and joke each other.

Based that phenomena resercher make “factor that shaped Behavior university student 2014 BK STKIP PGRI program, West Sumatera” as main subject researching. Purpose this researching are : 1. Internal factor that shaped behavior. 2. External factor that shaped behavior. This researsching used deskriptif kuantitatif method. Populasi this reseraching are entire 215 student, guidence and counseling departement STKIP PGRI generation 2014, west sumatera. Sampling this reshearcher to 68 student. Sampling method that used are cluster random sampling. Data collected by questioner. Result of this research show that external factor more influential than internal factor. Based on this research, writer recomendation to student : 1. Breakfast before go to the campus in order that student can consentration and can accept subject of lecturer. 2. Wear a propper clothes following guidence & counseling departement rule and become role model student for other student and become good generation for next generation.

Keyword : forming-factors of behavior Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Karena manusia diberikan akal dan pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya.

Manusia sebagai individu selalu berada di tengah- tengah masyarakat. Hal tersebut dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial yang tidak lepas dari peran serta bantuan orang lain. Sebagai makhluk sosial, individu akan menampilkan suatu perilaku dalam interaksi dengan lingkungan fisik dan sosialnya. Menurut kulsum dan Jauhar, (2014:61) perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.

Semua individu haruslah dapat menampilkan perilaku yang baik di hadapan orang sekitarnya. Setiap orang akan menampilkan perilaku atau tindakan yang berbeda apabila bertemu dengan orang disekitarnya. Menurut Rita (1983:351) orang yang sama akan bertindak lain dalam situasi yang berbeda. Setiap situasi

mengandung seperangkat kekuatan unik yang menunjang perilaku individu tersebut.

Kehidupan manusia, ia akan mengalami perubahan baik secara fisik maupun psikis.

Perubahan tersebut akan menimbulkan perubahan pada perkembangan pribadi dan sosialnya. Apalagi ketika seseorang telah beranjak remaja. Masa remaja akan dipenuhi dengan banyaknya masalah baik pribadi, sosial, keluarga, dan masih banyak masalah lainnya. Seorang remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar dan rasa ingin mencoba-coba sesuatu yang baru. Remaja cenderung berperilaku buruk dan tidak disenangi masyarakat. Masa remaja juga suka bertindak tanpa pikiran yang matang, ia akan berpikiran pendek atas segala hal yang akan ia lakukan. Maka dari itu remaja ditempatkan pada posisi yang rawan. Namun jika ia dapat mengelola masa remajanya dengan baik, mampu menempatkan mana hal yang baik dan buruk baginya, maka hal negatif lainnya tidak akan terjadi padanya. Masa remaja seharusnya menjadi masa untuk mengembangkan potensi dan mengukir

1

(3)

prestasi. Maka dari itu, untuk mewujudkan masa remaja yang baik agar dapat menempuh masa berikutnya dengan lebih baik lagi, seorang remaja harus tahu tugas perkembangan yang harus dilaluinya. Tugas perkembangan tersebut haus dapat dicapai pada periode remaja. Mudjiran , (2007:12) menjelaskan sembilan tugas perkembangan yang seharusnya dicapai pada periode remaja, yaitu :

1. Menguasai kemampuan membina hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya atau berbeda jenis kelamin

2. Menguasai kemampuan melaksanakan peranan sosial sesuai jenis kelamin

3. Menerima keadaan fisik dan mengaktualisasikan secara efektif

4. Mencapai kemerdekaan emosional dari orang tua dan orang dewasa lannya

5. Memiliki kemampuan untuk mandiri secara ekonomi

6. Memiliki kemampuan untuk untuk memilih dan mempersiapkan diri untuk karier

7. Berkembangnya keterampilan intelektual, dan konsep-konsep yang perlu untuk menjadi warga negara yang baik

8. Memiliki keinginan untuk bertanggung jawab terhadap tingkah laku sosial

9. Memiliki perangkat nilai dan sistem etika dalam bertingkah laku

Para guru dan orangtua hendaknya memahami tugas-tugas perkembangan ini, agar mereka menyadari bahwa pendidikan bagi remaja adalah untuk mencapai tugas-tugas perkembangan tersebut. Remaja yang menjadi mahasiswa akan diarahkan. Menurut Sukardi (2008:2) bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, agar individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri. Sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar. Konseling menurut Sukardi ( 2008:4) adalah satu jenis pelayanan yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Sementara Prayitno (2004:92) berpendapat bahwa :

Proses bimbingan dan konseling melibatkan manusia dan kemanusiaannya sebagai totalitas yang menyangkut segenap potensi-potensi dan kecenderungan-kecenderungannya, perkembangannya, dinamika kehidupannya, permasalahannya, dan interaksi dinamis antara berbagai unsur yang ada.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling dapat mengarahkan individu tertentu untuk memahami dirinya dan dapat mengembangkan potensi agar ia mampu bertindak

secara wajar. BK akan merespon segala masalah perilaku mahasiswa menyangkut dalam proses pembelajaran. BK akan membimbing mahasiswa agar berperilaku yang wajar dan dapat diterima oleh semua orang disekitarnya. Sebagai BK, haruslah mengetahui bahwa perilaku yang ditampilkan oleh setiap mahasiswa akan berbeda- beda. Hal tersebut dikarenakan perilaku dapat dibentuk dari beberapa faktor. Menurut kulsum dan Jauhar (2014:62) ada dua faktor pembentuk perilaku yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal dibentuk dari insting biologis, kebutuhan psikologis, dan pikiran. Sedangkan faktor eksternal terbentuk dari lingkungan keluarga, lingkungan sosial, dan lingkungan pendidikan.

Seorang remaja berperilaku karena berbagai hal seperti adanya dorongan dalam dirinya dan karena lingkungan sekitar yang membentuknya. Keluarga memiliki peranan penting bagi remaja. Melalui didikan dari keluarga perilaku dapat dibentuk sedari ia kecil. Remaja yang sedari kecil kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga akan cenderung berperilaku negatif. Hal tersebut terjadi karena keluaga jarang dan justru tidak mengajarkan nilai- nilai berperilaku yang baik.

Adanya model atau contoh yang baik dalam lingkungan sekitar juga akan dapat membentuk perilaku seseorang. Remaja yag hidup di tengah-tengah anggota masyarakat yang selalu menanamkan nilai-nilai tegur sapa, maka anak- anak ataupun remaja juga akan suka tegur sapa dengan orang di lingkungannya. Adanya perilaku yang suka tolong-menolong dan gotong royong di masyarakat, akan membuat remaja menanamkan perilaku tolong-menolong di dalam dirinya dan akan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Berdasarkan observasi yang dilakukan pada bulan Maret 2015 sampai dengan bulan April 2015, didapatkan masalah bahwa adanya mahasiswa yang tidak menghargai orang lain karena orangtua jarang di rumah, adanya mahasiswa yang suka memukul teman karena orangtua juga sering memukulinya di rumah, adanya mahasiswa yang memiliki sifat egois karena terbiasa dimanjakan oleh orangtua di rumah, mahasiswa yang suka mengganggu teman karena kurang perhatian dari keluarga dan orangtua, mahasiswa yang berkata kasar kepada teman karena terbiasa berbicara kasar di rumah, adanya nahasiswa yang suka mengolok-olok teman karena teman juga suka mengolok-olok dirinya, mahasiswa bersikap minder karena sering ditertawakan teman, mahasiswa yang mudah tersinggung sesama teman sebaya karena teman yang sering mengganggu, adanya perselisihan antara mahasiswa karena saling cemooh antar teman, mahasiswa yang memiliki sifat pendendam dengan teman karena tidak suka dengan perlakuan

(4)

teman di kelas. Berdasarkan identifikasi masalah di atas, masalah penelitian ini dibatasi dengan:

1. Faktor internal pembentukan perilaku mahasiswa

2. Faktor eksternal pembentukan prilaku mahasiswa

Metode Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti, maka penelitian ini dikategorikan pada jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Menurut . Muri (2005:82) yaitu:

Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan dapat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi lainnya. Penelitian dengan menggunakan pendekatan deskriptif dilakukan jika penelitian ingin mengarah persoalan- persoalan tentang fenomena yang dilakukan sekarang.

Waktu penelitian dilakukan pada Bulan Febuari tahun 2017. Penelitian ini dilaksanakan di STKIP PGRI sumatera barat. penelitian ini adalah seluruh mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PGRI sumatera barat. Teknik pengambilan sampel adalah cluster random sampling. Menurut Riduwan (2010:60) “cluster random sampling digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu melainkan terdiri dari kelompok- kelompok individu atau cluster. Selanjutnya untuk menentukan sampel penelitian menggunakan cluster random sampling, pemilihan sampel dilakukan secara acak kelas. Untuk menentukan kelas mana yang akan dijadikan sampel peneliti menggunakan cara undian, di mana pada setiap kertas kecil kita tuliskan nama kelasnya. Sehingga kelas yang tertera pada gulungan tiap kertas yang dipilih, itulah yang dijadikan subjek untuk sampel.

Instrumentasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu angket. Suharsimi (2012:128) menyatakan angket adalah “Sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui”.Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik deskriptif, yang artinya statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Penelitian yang dilakukan pada populasi (tanpa diambil sampelnya) jelas akan menggunakan statistik deskriptif dalam analisisnya (Sugiyono, 2013:147).

Setelah semua data yang diperlukan diperoleh, langkah selanjutnya adalah menganalisis data tersebut sehingga dapat diinterpretasikan.

Setelah data dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah mengolah data. adapun kriteria yang digunakan untuk menafsirkan penelitian ini adalah kriteria yang digunakan Riduwan (2010:89) sebagai berikut:

81% - 100% = Sangat Banyak 61% - 80% = Banyak 41% - 60% = Cukup Banyak 21% - 40% = Sedikit 0% - 20% = Sangat Sedikit Pembahasan dan Hasil

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, berikut ini dikemukakan pembahasan hasil penelitian sesuai dengan batasan masalah. Pada pembahasan ini faktor pembentukan perilaku mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PGRI sumatera barat dikelompokkan pada lima kategori yaitu sangat banyak, banyak, cukup banyak, sedikit, dan sangat sedikit.

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan maka dalam bagian ini akan dilanjutkan dengan pembahasan terhadap hasil temuan penelitian secara umum dari angket yang telah diberikan kepada 68 orang responden dengan faktor pembentuk perilaku mahasiswa dengan 60 item pernyataan. Secara umum diperoleh hasil dari pengolahan instrumen, bahwa faktor pembentukan perilaku mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PFRI sumatera barat, terungkap bahwa mahasiswa yang dikategorikan sangat banyak faktor pembentukan perilakunya yaitu 36,76%, mahasiswa yang dikategorikan banyak faktor pembentuk perilakunya yaitu 42,65%, mahasiswa yang cukup banyak faktor pembentuk perilakunya yaitu 14,71%, dan mahasiswa yang sedikit faktor pembentuknya yaitu 5,88%.

Hasil temuan di atas, terlihat bahwa faktor internal sangat banyak membentukan perilaku mahasiswa, sedangkan dilihat dari faktor eksternal banyak membentukan perilaku mahasiswa.

Berdasarkan hasil tersebut, orangtua dan guru pembimbing hendaknya dapat membimbing dan mengarahkan perilaku peserta didik agar dapat berperilaku yang sesuai dengan nila dan norma yang ada di masyarakat.

Adapun subvariabelnya adalah faktor internal dan faktor eksternal pembentukan perilaku mahasiswa sebagai berikut:

1. Faktor Internal Pembentukan Perilaku mahasiswa

Berdasarkan hasil temuan dari angket yang telah diberikan kepada 68 orang responden dengan 60 item pernyataan. Secara umum diperoleh hasil mengenai faktor pembentukan perilaku mahasiswa, dapat diketahui bahwa faktor internal pembentukan perilaku mahasiswa berada pada kategori sangat

(5)

banyak dengan persentase 23,53%, pada kategori banyak dengan persentase 50,00%, pada kategori cukup banyak dengan persentase 19,12%, dan kategori sedikit dengan persentase 7,35%, kemudian yang Hal ini mengungkapkan bahwa faktor internal cukup banyak membentukan perilaku mahasiswa. Berikut diuraikan keterangan berdasarkan masing- masing indikator:

a. Faktor internal pembentukan perilaku mahasiswa dari aspek insting biologis

Berdasarkan hasil temuan dari angket yang telah diberikan kepada 68 orang responden dengan indikator insting biologis, dengan 8 item pernyataan. Dapat diperoleh hasil mengenai faktor insting biologis pembentuk perilaku mahasiswa yang diketahui berada pada kategori sangat banyak dengan persentase 32,35%, banyak dengan persentase 38,24%, cukup banyak dengan persentase 22,06%, dan sedikit dengan persentase 7,35%.

Berdasarkan hasil temuan di atas, terlihat bahwa banyak faktor insting biologis yang membentukan perilaku mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PGRI sumatera barat . Hal ini sejalan dengan pendapat Walgito (2003:20) bahwa insting merupakan perilaku yang innate, perilaku yang bawaan. Insting disebut sebagai sifat bawaan seseorang yang dibawa dari ia lahir.

Menurut Kulsum dan Jauhar (2014:65) determinasi genetis adalah sifat-sifat bawaan dari sejak lahir. Orang yang mempunyai sifat keras yang dibawa secara genetis, suatu saat tidak akan bisa menjadi lembut. Tiap- tiap orang akan menampilkan perilaku yang berbeda-beda di dalam kehidupannya. Sifat bawaan yang dimiliki seseorang mungkin bisa menetap di dalam dirinya, namun akan dapat berubah karena pengalaman yang dimilikinya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku mahasiswa timbul karena bawaan dari lahir. Jika sudah memiliki perilaku yang negatif sejak ia lahir, maka ia akan membawanya sampai dewasa. Namun sifat bawaan dari lahir dapat diubah dengan pengalaman. Oleh karena itu orangtua seharusnya dapat melakukan tindakan dengan mengajarkan dan melatih perilaku positif pada diri peserta didik dengan beberapa pengalaman-pengalaman untuk memacu perilaku positif tersebut kepada peserta didik.

b. Faktor Internal Pembentukan Perilaku mahasiswa dari aspek Kebutuhan Psikologis

Berdasarkan hasil temuan dari angket yang telah diberikan kepada 68 orang responden dengan indikator kebutuhan

psikologis dengan 70 item pernyataan, dapat diketahui hasil mengenai faktor internal pembentukan perilaku mahasiswa dilihat dari segi kebutuhan psikologis berada pada kategori sangat banyak dengan persentase 22,06%, pada kategori banyak dengan persentase 50,00%, pada kategori cukup banyak dengan persentase 14,71%, pada kategori sedikit dengan persentase 13,24%.

Berdasarkan hasil temuan tersebut, terlihat bahwa cukup banyak kebutuhan psikologis yang membentukan perilaku mahasiswa angkatan 2014program BK STKIP PGRI sumatera barat.

Menurut Willis (2010:46) Kebutuhan psikologis (psikis) adalah segala dorongan kejiwaan yang menyebabkan orang bertindak mencapai tujuannya.

Kebutuhan ini bersifat individual.

Kebutuhan psikis diantaranya adalah kebutuhan beragama, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial seperti kebutuhan untuk dikenal, kebutuhan berkelompok, habit (kebiasaan), dan aktualisasi diri.

Sementara itu menurut Sunarto dan Agung Hartono (2002:61) Kebutuhan psikologis mencakup kebutuhan untuk memiliki sesuatu, kebutuhan akan rasa cinta dan kasih sayang, kebutuhan akan keyakinan diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Masing-masing kebutuhan akan melahirkan perilaku yang berbeda-beda.

Tergantung masing-masing individu dalam menyikapinya dengan secara wajar.

Kebutuhan beragama didasarkan atas asumsi bahwa setiap orang cenderung untuk mengungkapkan kekuasaan Yang Maha Kuasa. Pada masa remaja kebutuhan beragama ini juga menonjol.Akan tetapi beragamanya didasarkan atas didikan dari kecil Willis (2010:46). Jika seseorang sedari kecil kurang didikan agama, maka ketika ia memasuki masa remaja ia mungkin akan menjauhi diri dari agama, seperti malas untuk beribadah.

Kebutuhan akan rasa aman merupakan kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman dari lingkungannya, jaminan keamanan, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan Desmita, (2014:63). Individu yang terlalu memiliki kebutuhan rasa aman, maka akan tertanam dalam dirinya perilaku penakut. Karena ia akan cenderung memiliki perasaan cemas, dan pada akhirnya akan menimbulkan ketakutan.

Menurut Desmita, (2014:64) cinta dan kasih sayang merupakan sesuatu yang hakiki dan sangat berarti bagi manusia,

(6)

karena ia merupakan prasyarat bagi terwujudnya perasaan yang sehat.

Sedangkan kebutuhan akan harga diri merupakan kebutuhan individu untuk merasa berharga dalam hidupnya.

Kebutuhan akan rasa cinta dan kasih sayang bisa didapat dari keluarga, teman dan orang- orang sekitar. Begitu pula dengan kebutuhan harga diri, akan membuat seseorang merasa penting dan bahagia karena ia merasa berharga dalam hidupnya.

Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan untuk memenuhi dorongan hakiki manusia untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan potensi dirinya Desmita, (2014:65). Kebutuhan-kebutuhan tersebut pada masa remaja sangat berpengaruh pada pembentukan perilaku mahasiswa. Karena melalui kebutuhan tersebut, seseorang akan dapat melahirkan perilaku yang akan berlangsung lama dan pada akhirnya menciptakan suatu karakter pada diri individu.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa faktor internal pembentukan perilaku mahasiswa dari aspek kebutuhan psikologis sangat banyak membentukan perilaku mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PGRI sumatera barat. Karena dengan adanya kebutuhan psikologis (psikis) mahasiswa cenderung akan mendapatkan kebutuhan psikologis tersebut dengan cara apapun.

Adakalanya peserta didik yang memiliki kebutuhan untuk dikenal melakukan perilaku negatif seperti merusak sesuatu dan berbuat kenakalan lainnya agar semua orang tahu akan dirinya. Ataupun mahasiswa yang memiliki kebutuhan akan rasa aman di kelas, karena suasana yang meribut di kelas ia harus keluar masuk kelas. Hal tersebut akan memunculkan perilaku negatif pada diri peserta didik tersebut.

Oleh karena itu orangtua haruslah paham dan tahu kebutuhan apa yang diinginkan oleh peserta didik dan tahu cara mengarahkan peserta didik untuk mendapatkan kebutuhannya tersebut sesuai dengan aturan dan nilai-nilai yang berlaku.

Agar kebutuhan tersebut nantinya akan menjadi suatu kebutuhan yang dapat dipenuhi dengan cara yang baik.

c. Faktor Pembentukan Perilaku mahasiswa dari Aspek Pikiran

Berdasarkan hasil hasil temuan dari angket yang telah diberikan kepada 68 orang responden dengan indikator pikiran dengan 60 item pernyataan, dapat diketahui faktor internal pembentukan perilaku mahasiswa dilihat dari segi pikiran berada pada kategori sangat banyak dengan persentase

29,41%, kategori banyak dengan persentase 30,88%, dan pada kategori cukup banyak dengan persentase 33,82% dan kategori sedikit 5,88%. Berdasarkan hasil temuan tersebut terlihat bahwa sangat banyak kebutuhan psikologis yang membentukan perilaku mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PGRI sumatera barat.

Menurut Kulsum dan Jauhar (2014:64) pikiran adalah akumulasi informasi yang membentuk cara berpikirnya. Seseorang dalam hidupnya akan memilih perilaku yang mana akan membawa manfaat yang besar bagi yang bersangkutan.

Menurut Walgito (2003:21) dengan kemampuan berpikir seseorang akan dapat melihat apa yang telah terjadi sebagai bahan pertimbangannya disamping melihat apa yang dihadapi pada waktu sekarang dan juga melihat ke depan apa yang akan terjadi dalam seseorang bertindak.

Jadi, disimpulkan bahwa faktor iternal pembentuk perilaku mahasiswa pikiran sangat banyak membentuk perilaku mahasiswa. Karena dimasa remaja mahasiswa dapat berpikir antara perilaku yang baik dan perilaku yang tidak baik yang harus ditampilkannya di kehidupan sehari- hari. Dimasa remaja, mereka hanya akan berpikir mana perilaku yang mendatangkan manfaat untuk mereka sendiri tanpa melihat bagaimana orang disekitarnya.

Maka dari itu, orangtua harus dapat membimbing meningkatkan pikiran mahasiswa agar dapat berperilaku yang tidak hanya bermanfaat dan menguntungkan dirinya sendiri, tapi juga bermanfaat untuk orang-orang disekitarnya.

2. Faktor Eksternal Pembentukan Perilaku mahasiswa

Berdasarkan hasil temuan dari angket yang telah diberikan kepada 68 orang responden dengan 60 item pernyataan. Secara umum diperoleh hasil mengenai faktor pembentuk perilaku mahasiswa, dapat diketahui bahwa faktor eksternal pembentukan perilaku mahasiswa berada pada kategori sangat banyak dengan persentase 55,88%, pada kategori banyak dengan persentase 23,53%, pada kategori cukup banyak dengan persentase 14,71%, dan pada kategori sedikit dengan persentase 5,88%. Hal ini mengungkapkan bahwa faktor eksternal banyak membentukan perilaku mahasiswa. Berikut diuraikan keterangan berdasarkan masing-masing indikator:

(7)

a. Lingkungan Keluarga

Berdasarkan hasil hasil temua dari angket yang telah diberikan kepada 68 orang responden dengan indikator lingkungan keluarga dengan 60 item pernyataan, dapat diketahui faktor eksternal pembentukan perilaku mahasiswa dilihat dari segi lingkungan keluarga berada pada kategori sangat banyak dengan persentase 39,71%, kategori banyak dengan persentase 29,41%, kategori cukup banyak dengan persentase 16,18%, kategori sedikit dengan persentase 14,17%. Berdasarkan hasil temuan tersebut terlihat bahwa banyak faktor lingkungan keluarga yang membentukan perilaku mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PGRI sumatera barat.

Menurut Desmita (2014:219) keluarga merupakan unit sosial yang terkecil yang memiliki peranan terpenting dan menjadi dasar bagi perkembangan psikososial anak dalam konteks sosial yang lebih luas. Sementara itu menurut Sofyan (2010:99):

Keluarga merupakan sumber utama atau lingkungan yang utama penyebab kenakalan remaja. Hal ini disebabkan karena anak itu hidup dan berkembang permulaan sekali dari pergaulan keluaga yaitu hubungan antara orangtua dengan anak, ayah dengan ibu, dan hubungan anak dengan anggota keluarga yang lain yang tinggal bersama-sama.

Peranan keluarga yang paling penting adalah mengajarkan nilai dan moral bagi anak. Keluarga hendaknya menjadi teladan perilaku yang baik sepertidisiplin dan moral anak. Karena anak dari ia dilahirkan sampai akhir hayatnya akan menghadapi masyarakat. Tentunya harus bisa mempertajam pemahamannya terhadap tuntutan masyarakat yang akan dihadapinya.

Di dalam masyarakat, anak harus mengetahui perilaku mana yang dapat diterima oleh masyarakat dan mana yang tidak dapat diterima. Seseorang haruslah dapat membedakan antara perilaku yang positif dan negatif agar dapat menjadi manusia yang tahu akan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Selain itu perhatian dan kasih sayang dari keluarga amatlah penting bagi seorang remaja. Karena remaja merupakan masa yang bergejolak dengan masalah-masalah yang dialami. Maka dari itu perhatian dari keluarga sangatlah dibutuhkan oleh remaja.

Orangtua yang sibuk dengan pekerjaannya sehingga kurang memperhatikan anak

remajanya, akan menimbulkan remaja banyak mengalihkan perhatian yang tidak ia dapat di rumah kepada hal lain. Hal tersebutlah yang kemudian membuat remaja yang terjerumus ke dalam perilaku negatif.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa faktor eksternal pembentukan perilaku mahasiswa dari aspek lingkungan keluarga banyak membentukan perilaku mahasiswa. Karena dari keluargalah seorang anak belajar tentang nilai dan norma kehidupan.

Keluarga pula tempat seorang anak banyak menghabiskan waktunya.

Oleh karena itu, orangtua harus dapat membimbing anaknya untuk berperilaku yang dapat diterima oleh masyarakat. Selain itu perilaku yang positif dapat diciptakan dengan beberapa cara diantaranya seperti menciptakan kehidupan keluarga yang beragama (religius), menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis, memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak.

Kehidupan yang tidak harmonis di dalam keluaga dapat menyebabkan remaja berperilaku yang negatif. Karena remaja akan mencari kasih sayang dan perhatian di luar rumah. Jika kasih sayang yang mereka cari itu mereka dapat dari orang atau lingkungan yang salah, maka mereka juga akan terjerumus dan melakukan perilaku yang negatif.

Orangtua haruslah melakukan pengawasan secara wajar kepada anak remajanya karena bila pengawasan yang berlebihan akan menyebabkan remaja menjadi tidak nyaman dan menganggap merekadiperlakukan seperti anak-anak.

Pengawasan secara wajar akan dapat membuat remaja tahu bahwa bagaimana ia harus berperilaku. Selain orangtua memiliki peranan dalam membimbing dan memberikan arahan kepada anaknya.

b. Lingkungan Sosial

Berdasarkan hasil temuan angket yang telah diberikan kepada 68 orang responden dengan indikator lingkungan sosial dengan 9 item pernyataan, dapat diketahui faktor eksternal pembentukan perilaku mahasiswa dilihat dari segi lingkungan sosial berada pada kategori sangat banyak dengan persentase 33,82%, pada kategori banyak dengan persentase 33,82%, pada kategori cukup banyak dengan persentase 19,12%, pada kategori sedikit dengan persentase 11,76% dan kategori sangat sedikit 1,47%. Berdasarkan hasil temuan di atas, terlihat bahwa banyak faktor lingkungan sosial yang membentukan perilaku peserta mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PGRI sumatera barat.

(8)

Menurut Elly (2006:66) lingkungan sosial merujuk pada lingkungan di mana seorang individu melakukan interaksi sosial.

Kita melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial lain yang lebih besar.

Sementara menurut Mudjiran (2007:129) lingkungan sosial seperti orangtua, guru, dan teman mempengaruhi perkembangan sosial remaja, karena orang-orang ini dijadikan model-model dan pembentukan kebiasaan dalam bertingkah laku mulai dari masa bayi sampai remaja. Lingkungan sosial adalah tempat di mana seorang individu melakukan interaksi sosial. Interaksi sosial dapat dilakukan dengan keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial lain yang lebih besar. Setiap orang akan mengenal orang lain dalam lingkungan sosialnya. Oleh karena itu perilaku seseorang selalu terkait dengan orang lain. Perilaku seseorang haruslah dapat tunduk pada aturan, tunduk pada norma masyarakat, dan lain sebagainya.

Jadi, disimpulkan bahwa faktor eksternal pembentukan perilaku mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PGRI sumatera barat dari aspek lingkungan sosial banyak membentukan perilaku mahasiswa.

Karena lingkungan sosial merupakan tempat mahasiswa bergaul dan melakukan interaksi.

Peserta didik sebagai seorang remaja akan mudah meniru sesuatu yang ada pada diri orang-orang sekitar yang ia kagumi, seperti teman. Lamanya seseorang menjalin hubungan pertemanan akan membuat ia terbawa dengan hal yang ada pada diri temannya tersebut seperti sikap, gaya bicara, gaya berpakaian, dan lain sebagainya. Cara berperilakupun akan mudah terbentuk dari hubungan persahabatan.

Oleh karena itu, orangtua harus bisa mengawasi pergaulan remaja. Karena remaja melalui masa transisi dan cenderung akan mencoba sesuatu yang ingin ia ketahui.

Harus ada bimbingan dari orangtua untuk mengarahkan anaknya ke dalam perilaku yang sesuai dengan nilai di masyarakat.

c. Lingkungan Pendidikan

Berdasarkan hasil temuan dari angket yang telah diberikan kepada 68 orang responden dengan indikator lingkungan pendidikan, dengan 60 item pernyataan, dapat diketahui faktor eksternal pembentuk perilaku mahasiswa dilihat dari segi lingkungan pendidikan berada pada kategori sangat banyak dengan persentase 26,47%, pada kategori banyak dengan persentase 41,18%, pada kategori cukup banyak dengan persentase 25,00%, dan sedikit

dengan persentase 7,35%. Berdasarkan hasil temuan tersebut, terlihat bahwa banyak faktor lingkungan pendidikan yang membentukan perilaku mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PGRI sumatera barat.

Menurut Mudjiran (2007:127) sekolah merupakan lembaga pendidikan resmi yang bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan kepada siapapun yang berhak. Sekolah memberikan pengajaran dalam berperilaku kepada mahasiswa. Sofyan (2010:113) mengemukakan bahwa sekolah bertanggung jawab dalam kepribadian anak. Dalam hal ini peranan guru sangat diperlukan sekali. Ji

Di sekolah banyak dilakukan beberapa kegiatan dalam proses belajar mengajar. Mahasiswa akan menampilkan berbagai macam perilaku di dalam dan di luar kelas, baik kepada teman maupun pada guru. Guru sebagai tenaga pendidik memiliki tugas dan tanggung jawab mengajarkan perilaku-perilaku yang dapat baik.

Jadi, disimpulkan bahwa faktor eksternal pembentukan perilaku mahasiswa dari aspek lingkungan pendidikan banyak membentukan mahasiswa. Karena semua orang akan menjadi teladan dalam berperilaku oleh peserta didik. Maka dari itu, tenaga pendidik harus bisa menjadi contoh dan teladan dalam berperilaku oleh mahasiswa.

Adanya jam pelajaran yang panjang membuat peserta didik merasa bosan di kelas, ada diantaranya yang keluar masuk kelas dan bahkan cabut ketika jam pelajaran berlangsung. Oleh karena itu, guru sebagai tenaga pendidik haruslah dapat mengganti metode pengajaran yang dapat membuat peserta didik semangat dan tidak bosan belajar di kelas. Selain itu guru juga tidak boleh memberikan hukuman dengan cara kekerasan kepada mahasiswa karena hal tersebut akan membuatnya melakukan hal yang sama kepada siapapun termasuk pada temannya.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan, Faktor Pembentukan Perilaku mahasiswa angkatan 2014 program BK STKIP PGRI sumatera barat dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Faktor Internal pembentuk perilaku mahasiswa termasuk pada kategorani sangat banyak.

2. Faktor Eksternal pembentukan perilaku mahasiswa termasuk pada kategori banyak.

(9)

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti ingin mengajukan saran kepada:

1. mahaiswa, agar lebih memperhatikan faktor internal pembentukan perilaku seperti: sarapan pagi terlebih dahulu agar saat mengikuti proses perkuliahan dapat berkonsentrasi.

2. Prodi BK, agar dapat memberikan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dapat membentuk perilaku yang baik pada dari mahasiswa

3. Peneliti selanjutnya, agar dijadikan pedoman bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian pada aspek yang lain.

Kepustakaan

A. Yusuf, Muri. 2005. Metodologi Penelitian Dasar-dasar Penyelidikan Ilmiah.

Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar).Yogyakarta: Andi.

Desmita. 2014. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja.

Sukardi, Ketut, Dewa Kusmawati, Nila. 2008.

Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Hakam, Kama, Elly, dan Ridwan Effendi. 2006.

Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.

Jakarta: Erlangga.

Mudjiran, dkk. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Padang: UNP Press.

Prayitno dan Amti, Erman. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:

Rineka Cipta.

Atkinson, Richard, Rita dan Ernest Hilgard, Emest.

1983. Pengantar Psikologi. Rosdakarya.

Sofyan S.Willis. 2010. Remaja &

Masalahnya. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Arikunto, Suharsimi. 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Sunarto dan Hartono, Agung. 2002.

Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:

Rineka Cipta.

Kulsum, Umi dan Jauhar, Mohammad. 2014.

Pengantar Psikologi Sosial. Jakarta:

Prestasi Pustakarya.

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi Lingkungan Pertama, Daya dukung potensi sumber daya wilayah di tempat pelelangan ikan TPI Gaung bagi sosial ekonomi masyarakat nelayan di Kelurahan Gates Nan XX Kecamatan